[Freelance] Kwajangnim Chapter 5

Title : Kwajangnim | Author : kawaiine | Genre : Angst, Family, Romance | Rating : PG-17 Main Cast: Kim Myungsoo, Bae Soo Ji, Choi Minho, Son Na Eun | Other Cast : Kim Soo Hyun,Lee Hyuk Jae [Eunhyuk] , Cho Kyuhyun,Choi Sulli, Kim Yoo Jung, Kim So Hyun, eTc

“This plot and story is pure from my mind. Sorry for typos, don’t be a siders and plagiator. Happy reading :*”

***

Author POV

Hawa dingin dan sejuk masih menyelimuti kota Yeongju di pagi hari, sebuah mobil melaju kencang membelah jalanan kota Yeongju. Keheningan bercampur kebencian mewarnai perjalanan mobil ini menuju Seoul.

“Mianhae, Jeongmal Mianhae Myungsoo-ssi.” Gadis cantik ini berbicara dengan batinnya. Ia hanya menatap kosong kepada jendela mobil, ia benci melihat pria di sampingnya.

“Lebih baik kita sarapan dulu.” ujar Minho, ia memberhentikan mobilnya tepat di sebuah toko roti.

“Lebih baik kau lanjutkan saja perjalanannya. Atau aku akan turun dan kembali lagi ke Seonbichon.” jawab Soo Ji dengan nada khasnya. Dingin, datar. Minho menghembuskan nafasnya kasar, ia kemudian memfokuskan kembali dirinya untuk menyetir.


Myungsoo membelalakkan matanya ketika menerima telepon dari neneknya di Seonbichon. Jantungnya serasa tak berdetak. Ia mengacak rambutnya frustasi. Menghembuskan nafasnya dengan berat.

[FLASHBACK]

“Kapan kau akan pulang Kwajangnim?”

“Aku tak tahu, aku sangat betah disini.”

“Oh, syukurlah jika kau betah di tempat Nenek. Kwajangnim, bolehkah aku meminta sesuatu?”

“Katakanlah.”

“Jangan pulang sampai aku menjemputmu. Okay? Kau harus berjanji. ”

“Hanya itu? Baiklah, aku berjanji.”

[FLASHBACK END]

Percakapan itu masih tertanam jelas di memori otak Myungsoo. Ia hanya berpikir bagaimana bisa Soo Ji mengingkari janjinya yang ia buat dengannya. Perdebatan antara logika dan perasaan menyelimuti jiwa Myungsoo. Ia tak mungkin berpihak pada sisi-sisi perasaan dirinya, namun juga ia tak dapat mengingkari perasaannya. Terlebih ketika Nenek Kim berkata bahwa Soo Ji di jemput oleh seorang pria misterius. Dan pada saat yang bersamaan, Na Eun mengirimkan foto Soo Ji dengan pria itu, ya… Pria yang keluar dari ruangan Soo Ji, dan ketika itu Soo Ji menangis.

Soo Ji kini tiba di Rumah Sakit Seoul tempat dimana Nyonya Bae di rawat. Dengan langkah cepat Soo Ji menelusuri setiap jalan rumah sakit dengan Minho yang berada di belakangnya. Jangan khawatir, Minho sudah memberitahu ruangan Nyonya Bae pada Soo Ji. Soo Ji membuka pintu kamar VIP rumah sakit, dilihatnya ibunya yang sedang tertidur.

“Eomma.” ucapnya lirih, air mata telah siap turun dari kedua ujung matanya. Ia menghampiri ibunya lalu menggenggam erat tangan Nyonya Bae, sudah lama tidak seperti ini. Batinnya.

Nyonya Bae membuka kedua matanya, di usapnya kepala putrinya dengan penuh kasih sayang, sudah lama ia tak membelai Soo Ji. Ia hampir tak mengingat kapan terakhir kali ia memeluk Soo Ji, memanjakan Soo Ji.

“Kau kemana saja, sayang?”

“Aku hanya berlibur beberapa hari, Eomma. Eomma, Maafkan aku.”

“Aku sudah membaik sayang, energiku seolah kembali setelah kau datang. Minho merawatku, ayahmu juga.” Soo Ji mengarahkan pandangannya kepada orang menyebalkan yang berada di ujung sana, Tuan Bae dan Minho.

“Kau kemana saja?” tanya Tuan Bae, Soo Ji hanya tersenyum dingin.

“Aku sudah bilang bahwa aku berlibur.”

“Kerja bagus, Choi Minho.” ujar Tuan Choi yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan, membuat Soo Ji mengernyit heran, namun tak lama kemudian ia menemukan jawabannya.

“Oh, kau hebat sekali. Choi Minho.” timpa Soo Ji, Minho hanya menghembuskan nafasnya kasar, ia kemudian menunduk dan meraih tangan Soo Ji, namun Soo Ji menghempasnya.

“Suzy-ssi, lebih baik kau kembali ke perusahaan.” ujar Tuan Seo. Soo Ji tersenyum geli.

“Ah, apakah aku hanya di butuhkan ketika perusahaan mengalami kesulitan seperti ini?”

“Aku tidak mau.”

“Baiklah, kami tidak bertanggung jawab apa yang terjadi selanjutnya dengan ibumu. Tuan Seo, tolong panggilkan saja dokter yang bertugas menangani Nyonya Bae.” ujar Tuan Choi.

“Tuan Choi, ku mohon… Jangan lakukan ini pada istriku.” Tuan Bae mengeluarkan segala ekspresi memohonnya, Soo Ji hanya mendelik sebal, sandiwara macam apa ini. Tuan Choi melirik kepada Soo Ji.

“Soo Ji-ssi, bagaimana? Kau tahu kan penyakit kanker lambung yang di derita ibumu selama ini biaya perawatannya sangat banyak? Maka dari itu, pikirkan lagi dengan baik.” ujar Tuan Choi dengan nada sedikit santai, Soo Ji menghembuskan nafasnya kesal, dilihatnya Nyonya Bae yang kini meneteskan air mata, Soo Ji juga menahan air matanya, penyakit ibunya kini di jadikan senjata untuk mengancam Soo Ji. Soo Ji memikirkan Nyonya Bae jika ia tak kembali lagi ke perusahaan, bagaimana nasib ibunya selanjutnya? Dan ia juga memikirkan nasibnya sendiri jika kembali kesana, ia harus siap menjadi buah bibir panas keluarga Choi. Dan itu sungguh menyiksa hatinya.

“Kami tidak akan memaksamu menjawabnya hari ini, Soo Ji-ssi. Kau bisa memikirkannya terlebih dahulu.” Soo Ji terdiam mendengar ucapan Tuan Seo, ia kemudian keluar dari ruangan tersebut, Minho dengan cepat menyusulnya.

“Soo Ji-ah, lebih baik kau memikirkan ini kembali. Kau harus kembali ke perusahaan.”

“Bukankah perusahaan memecatku?” tanya Soo Ji, membuat Minho gelagapan, ia tak tahu harus menjawab apa pada gadis ini.

“Tapi kau—“

“Kalian membutuhkanku kembali, kan? Untuk kerjasama dengan HyunSteel? Sungguh keterlaluan.”

“Oh, kau mengetahui semuanya. Pria sialan itu yang memberitahumu, kan?” tanya Minho, Soo Ji menatap Minho dengan tatapan membunuhnya.

“Kau seharusnya mengatakan itu pada dirimu sendiri. Kau pria yang lebih menyeramkan dari itu.” jawab Soo Ji dengan ketus, ia kemudian melangkahkan kakinya menuju keluar rumah sakit. Ia teringat Myungsoo, bagaimanapun ia tak memberitahu Myungsoo terlebih dahulu tentang kepulangannya,ia hanya pamit kepada nenek Kim. Dan untuk janji yang ia buat dengan Myungsoo, ia baru mengingatnya, ini membuat pikiran Soo Ji semakin bingung.

Myungsoo melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan, di lihatnya Eunhyuk dan Kyuhyun yang tengah memperbaiki printer dan komputer. Myungsoo dengan langkah yang lemas mendudukkan dirinya di kursinya, ia kemudian menundukkan kepalanya. Eunhyuk dan Kyuhyun bertatapan penuh tanya.

“Myungsoo-ah, kau kenapa? Apakah kau tidak melihat kami sedang sibuk? Ayo cepat bantu kami mengerjakan ini.” ujar Kyuhyun.

“Kwajangnim—“ jawab Myungsoo, Eunhyuk dan Kyuhyun kemudian menghampiri Myungsoo.

“Wae? Wae? Apakah terjadi sesuatu dengan Kwajangnim? Apakah ia? Omo, apa ku bilang, kau jangan berlibur berdua dengannya. Jika seperti ini, apa yang akan kau katakana pada ayahmu? Ayahmu pasti akan membunuhmu! Tuan Bae, ya, Tuan Bae pasti akan memotong mayatmu! Myungsoo-ah, aish…Kau ternyata.” ujar Eunhyuk dengan tangan yang berkacak pinggang dan menggelengkan kepalanya, Myungsoo hanya menatapnya dengan tatapan galak.

“Kwajangnim, ia pergi dari rumah nenekku, ia telah di temukan. Oleh pria itu.” jawab Myungsoo, Eunhyuk dan Kyuhyun membelalakkan matanya terkejut.

“MWO? Mereka menemukan Kwajangnim? Apakah ini karena percakapan kita? Tapi aku yakin ketika menelpon tak  ada orang yang mendengar selain kita.” tutur Kyuhyun.

“Sepertinya seseorang memberitahu salah satu dari mereka. Myung, kau harus menemui Kwajangnim. Ia pasti sedang tertekan sekali.” papar Eunhyuk. Myungsoo menggelengkan kepalanya, sementara Eunhyuk dengan kasar memukul kepala Myungsoo.

“Aish, Sunbae!!”

“Kau sudah gila? Huh? Kau bilang akan melindungi Kwajangnim, ini cara perlindunganmu?”

“Jika ia tak kembali kesini, ia menepati janjinya.” ujar Myungsoo yang membuat Kyuhyun dan Eunhyuk berpikir keras. Janji apa?

“Dan aku akan tetap melindunginya jika ia tak kembali kesini.”


Soo Ji melangkahkan kakinya kedalam rumah mewahnya yang sama sekali tak ia rindukan, ia benci kembali kesini. Soo Ji kemudian masuk kedalam kamar, ia duduk di atas ranjangnya, dilihatnya handphone miliknya yang berada disana, ia kemudian mengambilnya. Pukul 12 siang, jika ia berada di Seonbichon, jam seperti ini adalah jam makan siang para pekerja Nenek Kim. Mereka akan makan bersama dan bercanda bersama Soo Ji, tak sedikit yang memuji pekerjaan Soo Ji. Soo Ji melakukannya dengan sangat baik. Bahkan, para pekerja ikut menilai Soo Ji. Bedanya, jika Nenek Kim menilai dengan angka, para pekerja ini menilai dengan bintang. Soo Ji tertawa lirih, air matanya turun kembali membasahi pipinya, jika air mata ini turun, seseorang biasanya dengan sigap menghapusnya, atau memberikan pelukan hangat menenangkan yang membuat tubuh Soo Ji seakan menegang, Ia rindu pria itu, Myungsoo. Ingatan tentang ibunya dan tentang kenangannya di Seonbichon menempel jelas di memori otaknya. Namun , Soo Ji bukanlah gadis bodoh. Ia tahu harus melakukan apa. Ia kemudian mengetikkan sesuatu di ponselnya.

Yun Chae memasuki ruangan Soo Hyun yang terkesan dingin, dilihatnya Soo Hyun yang tengah melakukan kebiasannya itu. Ya, kertas foto tua yang berada di genggamannya. Yun Chae sudah mengetahuinya. Ia hanya tersenyum dan menghampiri Soo Hyun.

“Sajangnim, ada yang ingin bertemu dengan anda pada pukul 3 sore nanti.”

“Siapa?”


Hari sudah memasuki waktu malam, dimana banyak orang berlalu lalang melintasi jalanan. Myungsoo melangkahkan kakinya lemas menuju jalan pulang ke apartemennya, dengan pikiran yang kosong, tepatnya hanya berisi, Soo Ji. Myungsoo mengacak rambutnya frustasi.

“Gadis pembohong, mengapa aku harus mempercayai gadis sepertimu.” gumamnya pelan. Tak lama kemudian, dua orang pria berbadan besar menghampirinya.

“Hei, kalian siapa?”

“Jelaskan pada Tuan kami nanti.” jawab kedua pria itu, sementara pria ini memegang kuat tangan Myungsoo, kemudian mereka membawa Myungsoo kedalam mobil, Myungsoo meronta, tapi kata percuma lebih tepat untuk menunjukkan keadaan.

Mobil ini menepi di sebuah bangunan tua, kedua pria ini menyeret Myungsoo untuk masuk kedalam. Myungsoo kemudian membelalakkan matanya ketika melihat siapa yang berada di hadapannya, pria ini yang waktu itu berpapasan dengannya di dekat ruangan Soo Ji, yang membuat Soo Ji menangis.

“Senang berjumpa denganmu, Myungsoo-ssi.”

“Oh, kau.”

“Dengar,Sekali lagi ku temukan kau menyembunyikannya lagi, kau akan tahu akibatnya.” ujar Minho, disinilah sisi kejahatan Minho terpancar, ketika menghadap Myungsoo, dengan segala rasa kesal dan cemburu.

“Aku hanya berbuat untuk kebaikannya. Kau bahkan tak pernah memikirkannya, kau mengaku mencintainya tapi tak  ada pembelaan sedikitpun darimu untuk ia yang kerap kali merasakan sakitnya hinaan yang keluargamu berikan. Kau bahkan tak pernah tahu ia menangis, kau bahkan tak pernah menghapus air matanya, kau pria yang jahat.” tutur Myungsoo dengan segala emosi yang meledak tiba-tiba. Ia bahkan tak menyadari bagian dari tangan polosnya itu kini menunjuk-nunjuk Minho. Minho hanya terkekeh geli mendengar pernyataan dari Myungsoo. Ia kemudian melangkah mendekat pada Myungsoo.

“Jangan pernah berkata seperti ini lagi di hadapanku, atau tak akan  ada ampun lagi untukmu.” jawab Minho, ia kemudian mengepalkan tangannya dan mulai memukul Myungsoo, Myungsoo yang hendak membalas kemudian dipukul kembali di bagian perutnya. Myungsoo tersungkur.

“Sekali lagi ku peringatkan padamu, aku dulu mungkin mencintainya dengan segala kegilaanku. Namun, tidak untuk sekarang. Semakin ia tumbuh, sikap kurang ajar juga tumbuh semakin banyak pada dirinya. Aku telah berhenti mencintainya. Ia hanyalah keperluan bisnis kami. Perlu kau tahu itu.” tutur Minho, Myungsoo yang hendak terbangun kemudian mendapat tendangan tepat di kakinya oleh Minho.

“Selesaikan ia.” ucap Minho pada pria-pria preman ini, pria-pria ini kemudian menghampiri Myungsoo, dan memukulinya kembali. Minho keluar dari bangunan tua ini. Dilihatnya seorang gadis yang bertemu dengannya baru-baru ini.

“Apa yang kau lakukan pada Myungsoo Oppa? Kau berjanji tak akan melakukan apapun padanya!” pekik gadis itu, emosi menyelimuti jiwanya, penekanan juga hinggap pada setiap perkataannya.

“Tanganku hanya gatal, ia menyembunyikan Soo Ji. Kau datang di saat yang tepat, bantulah ia sebelum maut menghampirinya.” ujar Minho, Na Eun masuk kedalam bangunan tua ini, kemudian ia menarik Myungsoo yang tengah menjadi sasaran preman-preman berbadan besar khas Seoul ini. Ia memeluk Myungsoo.

“Jangan pukul Myungsoo Oppa, jangan sakiti ia. Kumohon!” tutur Na Eun , pria-pria ini sudah cukup puas dengan memukuli Myungsoo, mereka kemudian melangkahkan kakinya keluar. Na Eun memandang Myungsoo yang sudah kacau di hadapannya, hatinya sangat teriris melihat Myungsoo yang seperti ii karena gadis itu, Soo Ji.

“Oppa, aku akan mengantarmu ke rumah sakit. Bertahanlah!” ujar Na Eun, Myungsoo tersenyum, ia menatap gadis di hadapannya, ia hanya memikirkan Soo Ji, alhasil gadis yang di hadapannya juga ia mengira bahwa itu Soo Ji. Myungsoo mengulurkan tangannya menyentuh pipi Na Eun, ia mengusapnya pelan. Na Eun yang tengah membantu Myungsoo berdiri refleks terdiam karena sentuhan Myungsoo, sentuhan dari tangan ini yang ia rindukan.

“Oppa…”

“Kwajangnim—“ ujar Myungsoo, ia kemudian pingsan. Na Eun memekik kesal, jika Myungsoo tidak dengan keadaan kacau ini ia akan meninggalkannya. Namun Na Eun dengan berhati-hati sekaligus kesulitan memapah namja ini.


Soo Hyun tersenyum bodoh dalam perjalan pulangnya, senyumannya mengembang lebih dari biasanya. Mobil Soo Hyun terhenti ketika lampu merah , ia mengedarkan pandangan matanya kekiri dan kekanan, ia kemudian membuka kaca mobilnya, dilihatnya namja yang tak  asing baginya sedang berjalan dipapah oleh seorang gadis, ia kemudian membuka pintu mobilnya, dengan sedikit berlari ia menghampiri gadis itu.

“Myungsoo-ssi!”

“Chogiyo, Tuan apakah kau mengenalnya? Bisakah kau membantu kami? Ia harus mendapat perawatan secepatnya.” Soo Hyun kemudian berdiri di depan Myungsoo, ia kemudian mengisyaratkan Na Eun untuk menempatkan Myungsoo di punggungnya, Soo Hyun kemudian melangkahkan kakinya ketika dirasa Myungsoo sudah tepat berada di punggungnya. Soo Hyun memasuki mobilnya.

“Apa yang terjadi dengannya?” Na Eun hanya menggelengkan kepalanya. Soo Hyun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi ketika lampu merah telah berganti.


“Ia baik-baik saja,tapi mungkin karena ia shock, ia harus beristirahat dahulu. Luka-lukanya hanya luka kecil saja.” tutur Dokter paruh baya tersebut, Soo Hyun hanya menggelengkan kepalanya.

“Mana mungkin kau mengatakan luka kecil pada luka lebam seperti ini?”

“Ia hanya perlu di oleskan beberapa obat saja agar lukanya cepat membaik.”

Soo Hyun dan Na Eun masuk kedalam ruangan Myungsoo, ketika Myungsoo membukakan matanya perlahan, ia terkejut mengetahui bahwa Soo Hyun dan Na Eun yang berada di hadapannya. Dengan refleks Myungsoo terbangun dan ia meringis kesakitan.

“Hei, Myungsoo-ssi… Kau tak perlu banyak bergerak dahulu.”

“Tuan Kim?”

“Ya, aku menemukanmu dengan gadis ini.”

“Na Eun? Kau berada di Seoul?”

“Aku membuka les ballerina disini Oppa.”

“Aku ingin pulang.” ujar Myungsoo, namun Soo Hyun dan Na Eun mencegahnya, pasalnya kaki Myungsoo sudah turun.

“Kau harus mendapat perawatan lagi disini.”

“Aku ingin pulang, ibu dan ayah pasti mencariku, aku tak apa-apa.”

“Baiklah, aku akan mengantarmu.”

Soo Ji melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, dilihatnya Tuan Bae dengan tatapan malasnya, ia kemudian naik keatas tangga yang menghubungkan kamarnya dengan ruang tamu.

“Kau harus memikirkannya lagi.”

“Aku sudah memikirkannya.” jawab Soo Ji dengan santai, ia kemudian turun kembali kebawah setelah isyarat tangan dari Tuan Bae menjelaskannya.

“Pikirkan kesehatan ibumu.”

“Pikirkan saja jabatanmu, tentunya setelah kau mendengar keputusanku.” ujar Soo Ji dengan tatapan membunuhnya. Ia kemudian beranjak dari tempatnya dan melanjutkan kembali langkahnya yang tertunda.

“Ku harap kau akan mengerti, Myungsoo-ssi.” batinnya.


Ibu Kim dengan sabar mengompreskan sapu tangan basah di sekitar luka Myungsoo. Myungsoo meringis kesakitan. Ayah Kim mengoleskan salep obat yang diberikan dokter untuk menyembuhkan luka Myungsoo.

“Kau tidak boleh berkelahi lagi seperti ini.” Myungsoo mengangguk, kemudian iapun di papah untuk segera masuk kedalam kamarnya, sementara Na Eun meminta izin untuk menginap disini sehari pada Ibu Kim. Dan mana mungkin penolakan di dengar di malam hari untuk gadis seperti Na Eun. Na Eun kini duduk di ranjang setelah mengganti bajunya dengan piyama So Hyun.

“Mengapa Eonni ke Seoul?” tanya So Hyun, Na Eun tersenyum.

“Aku membuka les ballerina disini, dan aku sebenarnya sudah menyewa apartemen di suatu tempat.”

“Oh, Bukan karena Myungsoo Oppa kan?”

“A—Ah, bukan…”

“Baguslah, Myungsoo Oppa sepertinya sudah memiliki yeojachingu. Jadi, ku harap Eonni tak mengganggu kembali Myungsoo Oppa. Jika Eonni ingin tahu, penyebab kami pindah ke Seoul dan meninggalkan segala kenangan di Yeongju, adalah Eonni. Myungsoo Oppa yang mengatakannya sendiri. Ah, sudah malam sekali, sebaiknya aku tidur.” Na Eun menghembuskan nafasnya kasar, dalam hati ia mengumpat kesal, oh… Adik Myungsoo yang ini memang berbeda dan berbahaya. Perkataannya sangat pedas, berbeda dengan Yoo Jung yang lembut. Tetapi, So Hyun adalah gadis yang sangat banyak menggunakan perasaan meskipun perkataannya selalu pedas.

Na Eun keluar dari kamar, mana bisa ia tidur dengan So Hyun jika keadaan hatinya seperti ini. Ia mendudukkan dirinya di sofa. Myungsoo juga keluar dari kamar, ia mengambil air minum. Dengan segala rasa penasarannya ia menghampiri Na Eun.

“Oppa—“

“Dapatkah kau ceritakan padaku tentang yang terjadi sebenarnya? Kau mengirimkanku foto itu.”

“O—Oh, ya… Waktu itu,  Aku akan masuk kedalam mengembalikan beberapa piring milik Nenek. Tapi, aku melihat Soo Ji yang sedang berbicara dengan pria itu. Aku penasaran, lalu aku memotret dan mengirimkan fotonya kepadamu. Aku hanya ingin mencari tahu apakah pria itu kakaknya atau—“

“Pria itu sangat hebat, ia menemukan Soo Ji dengan cara yang instan sekali. Seperti ada yang memberitahunya.” Na Eun meremas tangannya yang bergetar, Myungsoo menyunggingkan senyumnya, ia kemudian hendak kembali lagi kedalam kamar, namun Na Eun menahannya.

“Wae?”

“Alasan Oppa pindah dari Yeongju… itu karenaku?” Myungsoo menoleh ke belakang, dilihatnya Na Eun yang menatapnya dalam.

“Jika memang benar karenaku, aku meminta maaf… “

“Sebaiknya kau menjaga jarak dariku. Aku khawatir kecemburuan kekasihmu membuat segalanya kacau.”

“Ia sudah tak lagi disini, ia memutuskan hubungan kami dan meninggalkanku. Oppa, apakah benar yang di bilang oleh So Hyun bahwa kau memiliki yeojachingu?”

Myungsoo memilih tak menjawab, ia kemudian melangkahkan kakinya ke kamarnya. Na Eun terdiam, ia merutuki kebodohannya. Mengapa ia bertanya seperti itu.


Pagi ini merupakan pagi yang sangat berbeda di Choi Cooporation, bayangkan saja… kini mobil mewah terparkir tepat di depan gedung perkantoran tersebut, ini sudah memasuki pukul 9 pagi, para karyawan tentunya sudah melaksanakan pekerjaanya masing-masing. Kim Soo Hyun dari HyunSteel, sepatu hitam mengkilap itu kini mendarat diatas permukaan tanah setelah supirnya membukakan pintu untuknya, ia keluar dari mobil mewahnya. Ia sempat merapikan jasnya terlebih dahulu. Senyum manis terpatri di wajahnya. Ini yang ia tunggu.

Tuan Bae dan Tuan Seo segera keluar dari ruangannya, mereka tahu bahwa Soo Hyun akan datang dan melanjutkan kerjasama yang mereka tawarkan, tepatnya yang Soo Ji tawarkan. Mereka berbaris di ruang kepegawaian, pasalnya Soo Hyun sudah tiba disana. Tuan Seo berbisik pada Mi Ah, dan jawaban dari Mi Ah membuat Tuan Seo terkejut, ia kemudian mengestafet jawaban Mi Ah pada Tuan Bae. Tuan Choi dan Choi Minho datang bersamaan, mereka kemudian mengucapkan selamat datang pada Soo Hyun, Myungsoo,Eunhyuk,dan Kyuhyun yang sedang berada di ruang kepegawaian saat itu hanya melihat kejadian ini dengan heran.

“Sebaiknya kita masuk ke ruanganku, Soo Hyun-ssi.” ujar Tuan Choi, Soo Hyun tersenyum dan menolak halus.

“Aku tidak akan berlama-lama, jadi… dimana Soo Ji?”

“Dia belum datang, ku harap kau bersabar sedikit lagi. Ia pasti akan datang.” ujar Tuan Bae, Tuan Choi melirikkan matanya pada Tuan Bae, memastikan bahwa Soo Ji benar-benar akan datang. Ketiga namja ini, Myungsoo, Eunhyuk dan Kyuhyun terperangah, Eunhyuk menyenggol lengan Myungsoo.

“Kwajangnim akan datang kesini? Aish, ia tak mungkin masuk lagi ke neraka dunia.” ujar Eunhyuk.

“Aku merasa ada sesuatu yang sedang direncanakan Kwajangnim…” gumam Kyuhyun, Myungsoo memilih diam, dalam otak dan hatinya ia berharap Soo Ji tidak kembali kesini, meskipun ia sendiri tak tahu Soo Ji ada dimana sekarang. Myungsoo menarik nafasnya dalam, tapi… harapannya hancur seketika.

Pertemuan antara high heels dan lantai kantor ini menjadi awal permasalahan yang akan timbul. Dengan arogansinya ia melangkahkan kaki memasuki ruang kepegawaian. Ia kembali, Soo Ji. Ia kemudian berdiri di samping petinggi Choi Cooporation. Soo Hyun tersenyum puas.  Tentu saja, pemandangan ini menjadi tontonan gratis para karyawan, tepatnya suara menegangkan gratis untuk para karyawan yang berada di ruang kepegawaian, Tuan Seo sudah mengisyaratkan semuanya agar tak melihat. Namun, ketiga namja ini diliputi rasa penasaran yang tinggi.

“Itu, Itu Kwajangnim!!” pekik Eunhyuk.

“Tidak, ini tidak mungkin.” ujar Myungsoo. Eunhyuk memukul bahu Myungsoo pelan.

“Bagaimana kau bilang tidak mungkin, itu jelas Kwajangnim. Wanita itu.” ujar Eunhyuk,sementara Kyuhyun menempelkan jari telunjuknya di bibirnya. Mengisyaratkan kedua orang ini untuk, Diam.

“Jadi, bagaimana Soo Ji-ssi?” tanya Soo Hyun.

“Kita akan melanjutkan kerja sama ini, tentunya. Bukankah kita sudah memulainya?” jawab Soo Ji dengan senyuman indahnya. Soo Hyun kemudian mengisyaratkan Yun Chae untuk mengambil map di dalam tasnya, Yun Chae dengan cekatan mengambil map berlogo Hyunsteel tersebut. Soo Hyun kemudian menyerahkannya kepada Tuan Choi. Tuan Bae, Tuan Seo, dan Minho terdiam kebingungan. Tuan Choi membuka map itu, kemudian ia terkekeh pelan.

“Kita belum memulainya, tapi mengapa kau sudah mengirimkan pembayaran proyeknya?” tanya Tuan Choi, Soo Hyun tersenyum.

“Aku sudah menganggap ini selesai. Kalian harus bersyukur memiliki dia, dia gadis yang cerdik dan genius.” ujar Soo Hyun.

“Soo Ji-ssi, apa yang kau lakukan di belakang kami?” tanya Tuan Seo, Soo Ji menatap Tuan Seo tajam.

“Tentunya, menyelesaikan kerjasama dengan HyunSteel. Bukankah kalian membutuhkanku karena ini? Aku sudah menyelesaikannya, kalian yang mengurus kartu asuransi untuk HyunSteel. Dan kalian juga sudah mendapatkan biaya proyeknya terlebih dahulu, ku harap kalian tak mengecewakan kami.”

“Kami? Soo Ji-ah, apa maksudmu?” tanya Tuan Bae.

“Bae Soo Ji, mulai hari ini ia resmi menjadi manager di HyunSteel. Di perusahaanku.” ujar Soo Hyun, membuat semua orang yang berada di ruang kepegawaian terkejut, termasuk para karyawan yang sedang melakukan pekerjaan refleks berdiri menatap Soo Ji. Soo Ji mengedarkan pandangannya pada karyawan-karyawannya, hatinya tersentak melihat Myungsoo berada disana dengan raut wajah kecewa, dan apa yang terjadi dengan wajah Myungsoo? Apakah ia terluka? batin Soo Ji.

[FLASHBACK]

Soo Ji melangkahkan kakinya masuk kedalam cafetaria langganannya. Ia melirik sekelilingnya, dilihatnya seorang namja yang mungkin usianya tak terlalu jauh darinya sedang duduk memainkan ponselnya, sesekali tangannya mengaduk minuman di dalam gelas. Ia kemudian menghampirinya.

“Chogiyo, apakah kau Kim Soo Hyun, dari HyunSteel Cooporation?” tanya Soo Ji dengan hati-hati. Soo Hyun menolehkan wajahnya pada gadis di sampingnya, ia menatap gadis ini dalam-dalam. Gadis ini benar-benar cantik sekali. Matanya nyaris tak akan berkedip jika Soo Ji tidak mengulang kembali perkataannya. Soo Hyun mengangguk.

“O—Oh, apakah kau Bae Soo Ji? Y—Ya, aku Kim Soo Hyun.” ujar Soo Hyun dengan gugup, ia kemudian memperlihatkan kartu namanya kepada Soo Ji. Soo Ji tersenyum lalu duduk di hadapan Soo Hyun.

“Jadi, apakah kau akan meneruskan kerjasama yang kau tawarkan padaku?” tanya Soo Hyun, Soo Ji mengangguk.

“Tentu saja, aku akan melanjutkannya. Tapi, apakah kau bersedia membantuku?”

“Katakan saja.” jawab Soo Hyun dengan semangat.

“Aku ingin kerjasama ini selesai dengan cepat.” Soo Hyun mengernyitkan dahinya heran. Soo Ji menatap dalam mata Soo Hyun.

“Kau harus memberikan uang proyek pada mereka.”

“Tentu saja, aku akan memberikannya. Tapi, setelah kartu itu selesai dibuat.”

“Tidak, tidak seperti itu. Kau harus memberikannya sebelum kartu selesai.” Soo Hyun kembali menatap Soo Ji dengan heran.

“Agar aku cepat keluar dari perusahaan itu.” Soo Hyun kini mengerti maksud Soo Ji.

“Oh… Baiklah, aku akan mengusahakannya. Tapi, aku juga tak mau dirugikan Soo Ji-ssi. Aku ingin kartu asuransi itu terlaksana.”

“Kau hanya perlu menentukan batasan waktu,2 minggu.”

“Batasan waktu? 2 minggu?”

“Ya, jika dalam waktu 2 minggu kartu itu tak dapat terealisasi, kau bisa menuntut mereka dan mengambil alih uang yang kau berikan.”

“Jika seperti itu caranya, aku harus melakukan perjanjian dengan petinggi disana.” Soo Ji tersenyum.

“Kau lupa siapa aku? Aku yang akan menandatangani surat perjanjian tersebut. Jangan khawatir.” Soo Hyun tersenyum.

“Kau cerdas sekali. Lalu, mengapa kau ingin keluar dari sana?”

“Aku hanya ingin terbebas. Aku hampir melupakan masa mudaku karena masuk kedalam belenggu itu. Aku sudah memutuskan untuk kuliah.”

“Kuliah? Jadi, kau— Ya Tuhan.“

“Ya, setelah lulus SMA aku harus bekerja.”

“Tapi kau sangat cerdas, aku sangat bangga, Soo Ji-ssi.” Soo Ji tertawa pelan, diikuti tawa Soo Hyun.

“Kau tak perlu mengesampingkan kecerdasanmu dalam mengurus perusahaan karena kau berkuliah, kau bisa bekerja di perusahaanku. Tapi, aku akan memberikan kelonggaran untukmu. Aku tak akan mengekang dan memaksamu, meskipun jabatan yang aku tawarkan untukmu hanya sebagai middle manager, ku harap kau memikirkannya kembali.” Soo Ji termenung beberapa saat.

“Aku akan mengambil tawaranmu.” jawab Soo Ji mantap, bagaimanapun ia membutuhkan pekerjaan juga. Untuk biaya bertahan hidup ibunya.

“Baiklah. Mulai besok kau bisa bekerja, tahun ajaran baru masih lama, sehingga kau bisa bekerja terlebih dahulu untuk kami. Bukan?” Soo Ji mengangguk mengiyakan perkataan Soo Hyun, Soo Hyun menatap Soo Ji. Soo Ji berpamitan untuk pulang kepada Soo Hyun.

“Senang bertemu denganmu Soo Ji , kita memiliki mata yang mirip, Bukan?” Soo Ji tersenyum mengangguk, lalu pergi.

[FLASHBACK END]

Tuan Choi, Tuan Bae, dan Tuan Seo menggelengkan kepalanya tak percaya, mereka meninggalkan ruang kepegawaian. Myungsoo muak dengan pemandangan di hadapannya, ia memutuskan untuk pergi. Soo Ji yang melihatnya melangkahkan kaki menyusulnya, namun tangan Minho menahannya, Soo Ji dengan sedikit kesal melepas tangan Minho, tapi tangan Minho cukup kuat.

“Lepaskan!” bentak Soo Ji, Soo Hyun yang terdiam kini membantu melepaskan tangan Minho yang mencengkram tangan Soo Ji. Soo Ji berlari sekencang mungkin mengejar Myungsoo. Sementara Soo Hyun menatap Minho dengan tatapan garang.

“Kau sadar apa yang baru saja kau lakukan? Kau mencari masalah denganku.” ujar Soo Hyun.

“Ia bukan siapa-siapamu, gadis itu calon tunanganku!” jawab Minho dengan sedikit berteriak, para karyawan yang berada disitu saling berbisik, Soo Hyun menoleh sekelilingnya.

“Ia adalah bagian dari perusahaanku sekarang, dan siapapun yang bekerja di perusahaanku, dia adalah temanku, tidak—keluargaku.” ucap Soo Hyun dengan pelan, membuat Minho terdiam. Soo Hyun kemudian meninggalkan Minho yang berdiri mematung, Yun Chae mengekor di belakang Soo Hyun yang hendak keluar dari perusahaan ini.


“Myungsoo-ssi, tunggu!” Soo Ji dengan susah payah berlari mengejar Myungsoo, tapi pria itu sangat cepat. Soo Ji memutuskan untuk melepas high heels yang membalut kaki putihnya tersebut, ia kemudian berlari mengejar Myungsoo yang berjalan menuju atap, Myungsoo pernah memberitahunya bahwa ia pernah mengikuti Soo Ji ke atap, dan ia melihat Soo Ji tersenyum disini, seolah bernafas lega berada di atas sini. Kini mereka berdua berada di atap kantor, Myungsoo masih berjalan cepat, namun dengan cekatan Soo Ji menyusulnya dan menghentikan langkah Myungsoo.

“Hentikan langkahmu!” ujar Soo Ji, Myungsoo menatap pada gadis di hadapannya yang sedang merentangkan kedua tangannya yang bermaksud menghalangi Myungsoo. Soo Ji menatap dalam mata Myungsoo, ia kemudian mengulurkan tangannya hendak mengusap wajah Myungsoo yang sedikit lebam dan terluka. Tapi, tangan Myungsoo dengan cepat menepisnya.

“Apa yang terjadi padamu?! Huh? Apa yang terjadi padamu?!” tanya Soo Ji khawatir, Myungsoo mendekatkan wajahnya ke   arah wajah Soo Ji.

“Seharusnya aku yang bertanya padamu. Tidak, seharusnya aku yang bertanya pada diriku sendiri. Apa yang terjadi padaku? Mengapa aku mempercayai gadis sepertimu? Mengapa aku mempercayai janjimu?” ucap Myungsoo, matanya memerah menahan amarah yang bergolak di hatinya. Soo Ji menatap Myungsoo , matanya berkaca-kaca. Ia tak mampu menjawabnya.

“Mengapa kau melakukan itu? Kau bilang kau tak akan kembali kesini sebelum aku menjemputmu. Tapi kau melanggarnya. Kau pembohong.” tegas Myungsoo, Soo Ji tersentak, ia takut melihat Myungsoo seperti ini. Ia menangis.

“Bahkan dengan pertanyaan sederhana itu kau tak mampu menjawab, aku tak mengerti apa yang ada di dalam dirimu, Kwajangnim.” ujar Myungsoo, ia kemudian berbalik ke belakang dan melangkahkan kakinya hendak berjalan meninggalkan Soo Ji.

“Chakkaman, ada yang tak kau mengerti Myungsoo-ssi. Myungsoo Op—pa…” ucap Soo Ji dengan lirih, Myungsoo menghentikan langkahnya, sejujurnya ia tersentuh ketika Soo Ji kini mampu memanggilnya dengan sebutan itu.

“Aku menyayangi ibuku, aku tak mungkin membiarkan ibuku mati begitu saja dan aku tak mau hidup dengan penyesalan yang dalam. Aku kembali ke Seoul karena—karena ia mengancamku jika aku tak kembali, pengobatan ibuku dan perawatannya akan di cabut. Aku memang membenci orang tuaku, tapi—aku juga menyayanginya, aku harap kau mengerti…” Soo Ji berucap dengan menangis dan memandang Myungsoo yang membelakanginya, ia merasa sudah cukup.

“Maafkan aku.” ucapan Soo Ji tak terhenti begitu saja,  ia meminta maaf kepada Myungsoo, Myungsoo terdiam dibuatnya. Soo Ji kemudian hendak melangkah keluar, air matanya ia hapus dengan kasar. Ia berjalan lurus meninggalkan Myungsoo yang terdiam mematung, Soo Ji kini berada tepat di dekat pintu keluar, ia meneteskan air matanya kembali, entah mengapa ia merasa sangat bersalah pada Myungsoo. Ia melangkahkan kaki telanjangnya keluar, tapi langkahnya terhenti, setengah terkejut, ia merasakan sebuah tangan melingkar di bahunya, menahannya untuk pergi, ini pernah ia rasakan sebelumnya.

“Jangan mengulanginya lagi.” ucap Myungsoo lirih, Myungsoo juga meneteskan air matanya, Soo Ji menangis semakin dalam. Ia memutar tubuhnya, membuat Myungsoo melepaskan pelukan di bahunya. Soo Ji menatap Myungsoo, ia tersenyum, detik selanjutnya ia memeluk Myungsoo. Begitu pula dengan Myungsoo, ia memeluk erat Soo Ji. Myungsoo kemudian melepas pelukannya dan seperti biasa, ia menghapus air mata Soo Ji. Soo Ji tersenyum.


Tuan Choi mengeram di ruangannya, meraung-raung memanggil putra kesayangannya. Tuan Seo dan Tuan Bae memijat dahinya, kelakuan Soo Ji memang memusingkan pria-pria paruh baya ini.

“Perintahkan semua pegawai yang bertanggung jawab membuatkan kartu asuransi untuk membuatnya dengan teliti, pastikan semua teknisi siap jika ada kerusakan, dan hubungi Sulli agar cepat pulang dari Jeju. Dan Tuan Seo, kau kalkulasikan saja biaya yang kita butuhkan.” Tuan Seo mengangguk, ia kemudian kembali ke ruangannya. Minho juga keluar dari ruangan ayahnya.

“Aku tak bisa memaafkan anakmu kali ini. Sungguh keterlaluan. Ia mempermainkan kita.”

“Aku juga tak tahu apa yang pantas ku perbuat padanya.” jawab Tuan Bae.

Nenek Choi dan Nyonya Choi membelalakkan matanya mendengar penjelasan dari Tuan Choi yang kembali ke rumah dengan keadaan yang kacau, ia benar-benar marah pada Soo Ji.

“Gadis tak tahu malu, aku akan menyadarkannya.” ujar nenek Choi dengan urat tuanya yang melengking-lengking. Tuan Choi terdiam.

“Apakah perawatan dan pengobatan rumah sakit sudah kau bayarkan? Jika belum, lebih baik kau ambil kembali uangmu.” timpa nenek Choi.

“Aku sudah menandatangani perjanjian bersama Soo Ji dan pihak Rumah Sakit. Aku sudah membayar semuanya.” Nenek Choi menggelengkan kepalanya dan memijat pelipisnya. Soo Ji kembali memusingkan wanita ini.

“Sebaiknya Eomma jangan ikut campur dengan masalah ini, kita tahu bahwa HyunSteel,tuan Kim ayah dari Kim Soo Hyun adalah temanku sewaktu SMP dulu, ia benar-benar kaya raya dan semenjak ia meninggal, semua hartanya di berikan pada Soo Hyun. Dan mereka mampu menyewa bodyguard berpuluh-puluh untuk menjaga rumahnya.”

“Sebaiknya Sulli di jodohkan dengan Soo Hyun, bagaimana yeobo?” tanya Nyonya Choi yang dijawab oleh tatapan horror ibunya dan suaminya.

Soo Ji membereskan mejanya, senyuman bahagia terpancar di wajahnya. Hari sudah sore, Soo Hyun menghampiri Soo Ji yang tengah mengambil tasnya di atas meja untuk segera pulang.

“Soo Ji-ah, kau akan pulang?”

“O—oh, Ne sajangnim.”

“Kita pulang bersama, bagaimana?” tawar Soo Hyun, Soo Ji tersenyum.

“Mungkin lain waktu, Sajangnim. Aku sudah di jemput.” jawab Soo Ji dengan terburu-buru meninggalkan Soo Hyun. Soo Hyun mengikuti Soo Ji, dilihatnya Soo Ji yang tengah memakai helm dan ia bersama pria itu—Myungsoo. Membuat Soo Hyun tertawa, sepertinya mereka memiliki hubungan yang unik, batinnya.

“Kwajangnim, maaf aku menjemputmu memakai motor ini. Ayahku tak mengizinkan ku membawa mobil untuk bekerja.” ujar Myungsoo, Soo Ji meletakkan kedua tangannya di bahu Myungsoo kemudian ia naik keatas motor tersebut, ia memukul punggung Myungsoo pelan.

“Jangan memanggilku seperti itu, Oppa…”

“Baiklah aku mengerti, Soo Ji-ah… Ayo, Eomma bilang ia telah memasak banyak karena tahu kau akan kembali lagi ke apartemen.”

“Kau yang mengendarainya, Oppa. Aku sudah duduk sekitar 2 menit yang lalu.” ucap Soo Ji dengan sedikit tertawa, Myungsoo kemudian menyalakan mesin motornya dan menjalankan motornya dengan hati-hati, Soo Ji berpegangan erat pada Myungsoo, sesekali ia merentangkan tangannya merasakan kebebasan yang kini berada di pihaknya. Myungsoo tertawa melihat tingkah gadis ini.

Eunhyuk dan Kyuhyun berada dalam mobil hendak menuju apartemen Myungsoo. Pasalnya mereka berjanji pada kedua adik Myungsoo akan memberikan hadiah karena kedua adik Myungsoo mendapat nilai ulangan tertinggi di kelas.

“Aku akan memberikan ini pada Jungie, ah… Dia sangat cantik dan pintar.” ujar Kyuhyun sembari mengusap boneka berwarna pink yang berukuran kecil tersebut. Eunhyuk yang sedang menyetir mengangguk-angguk.

“Aku juga akan memberikan tas itu pada Hyunie agar ia semangat bersekolah.”

“Aish, hyung… yang benar saja… Ia hanya akan semangat berbelanja ke Mall menggunakan tas yang kau berikan.” timpa Kyuhyun, Eunhyuk memang memberikan tas selendang yang berukuran sedang dengan motif yang cocok untuk remaja sekarang, dan memang sangat popular di Korea untuk saat ini.

“Ah…biarkan saja, yang penting ia memakainya dan ia suka dengan tasnya, dan ia menyukaiku, Mi Ah mungkin hanya menganggap bahwa ia adalah ad—“ ucapan Eunhyuk terhenti ketika ia melihat pemandangan di sebelah kanannya, ya… itu Soo Ji dan Myungsoo. Ia mengerem mendadak, membuat Kyuhyun marah.

“Hyung! Aish!”

“Kau lihat mereka? Kau melihatnya?” tanya Eunhyuk masih dengan tatapan mata yang tak berkedip, ia menunjuk kepada motor besar di depannya. Kyuhyun terperanjat.

“Myungsoo sangat berani sekali. Kita salah mengajarkan ia Hyung!”

—-//—-

Soo Ji dan Myungsoo tiba di apartemen Myungsoo, Ibu Kim dan Ayah Kim menyambutnya hangat. Begitu juga kedua adik Myungsoo, mereka dengan gembira menyambut Soo Ji. Myungsoo menatap sekelilingnya, bersyukurlah Na Eun tidak ada disini.

“Eommonim, aku akan mandi terlebih dahulu di apartemenku. Aku akan kembali lagi setelah mandi.” ujar Soo Ji. Ibu Kim mengangguk, Soo Ji kemudian melangkah keluar menuju apartemennya.

“Apakah Na Eun sudah pulang?” tanya Myungsoo, Ibu Kim mengiyakan.

“Ia sudah pulang tadi pagi. Ia bilang bahwa ia sudah mulai mengajar les ballerina hari ini.”

“Baiklah, jangan pernah ada yang mengatakan pada Soo Ji bahwa Na Eun semalam menginap disini. Terutama kau dan kau.” ucap Myungsoo dengan penekanan di akhir kata, ia menunjuk pada kedua adiknya. So Hyun dan Yoo Jung menunjuk dirinya sendiri.

“Kami?”

“Ya, kalian.”
Tiba-tiba bel berbunyi, Ibu Kim membukakannya. Dilihatnya Eunhyuk dan Kyuhyun yang tersenyum manis di depan pintu. Ibu Kim mempersilahkannya masuk.

“Aigoo… Apa yang kau bawa?” tanya Ayah Kim. Kyuhyun memberikan bonekanya pada Yoo Jung, sementara Eunhyuk memberikan tas yang ia belikan untuk So Hyun. Kedua adik Myungsoo kegirangan.

“Gomawo Oppa.” ujar keduanya, Kyuhyun dan Eunhyuk mengangguk cool.

“Dan ini untuk Raja dan Ratu yang telah melahirkan putri secantik mereka.” ujar Kyuhyun, Eunhyuk memberikan sepatu pada Ibu Kim, Kyuhyun memberikan ikat pinggang kulit untuk Ayah Kim.
Myungsoo memandang keduanya, ia mencolek bahu Eunhyuk.

“Kalian tidak ingin memberikan sesuatu untukku?”

—-

Selepas acara makan malam, Soo Ji kembali ke apartemennya. Eunhyuk dan Kyuhyun juga kembali ke rumahnya. Soo Ji tersenyum bahagia, ia serasa hidup kembali jika bersama keluarga Myungsoo. Tiba-tiba bel apartemen Soo Ji berbunyi. Soo Ji tersenyum, ia memang memberitahu Myungsoo untuk datang ke apartemennya selepas makan malam. Myungsoo masuk kedalam apartemen Soo Ji berbekal salep luka yang ia bawa.

“Kwajang—“ Soo Ji langsung menatap horror pada Myungsoo. Myungsoo dengan cepat meralat ucapannya.

“Jadi, Soo Ji-ah… untuk apa aku harus membawa obat-obat ini?” tanya Myungsoo, Soo Ji tersenyum.

“Untuk mengobatimu. Tapi, aku harus tahu sebenarnya kau kenapa? Mengapa kau bisa terluka Oppa?” tanya Soo Ji, tangannya kini meraih kompresan air hangat di dalam wadah dan memerasnya, ia kemudian menempelkan kompresan tersebut di luka sekitar wajah Myungsoo. Myungsoo meringis.

“Apakah sangat sakit?” tanya Soo Ji. Myungsoo menggeleng.

“Jadi, bagaimana ini bisa terjadi? Apakah Choi Minho yang melakukan ini semua?” tanya Soo Ji penasaran, Myungsoo terdiam.

“Aku tahu dari So Hyun, So Hyun tahu dari Na Eun. Mengapa kau harus berbohong padaku?” ujar Soo Ji sembari membuka salep milik Myungsoo,Ia kemudian mengoleskannya perlahan pada wajah Myungsoo.

“Na Eun menginap di apartemenmu Oppa, mengapa kau tak bercerita kepadaku? Mengapa kau tidak jujur bahwa Minho yang melakukan ini semua? Yang membuat wajahmu seperti ini?”

“Aku akan memukul Choi Minho lebih dari ini.” ujar Soo Ji, Myungsoo tertawa.

“Kau sangat galak.”

“Bukankah aku memang seperti itu?” Soo Ji beranjak dari tempat duduknya, ia kemudian membuka pintu menuju balkon tempatnya memandang langit Seoul di malam hari. Myungsoo kemudian mengikuti langkahnya.

“Aku hanya takut kau marah dan menimbulkan masalah baru.” ujar Myungsoo, Soo Ji menatap Myungsoo.

“Aku akan kecewa jika jalan pemikiranmu seperti itu, Oppa… Jangan pernah menyembunyikan apapun dariku, lagi.” tutur Soo Ji, Myungsoo mengangguk paham.

“Soo Ji-ah…” Soo Ji melirik pada Myungsoo, matanya sedikit mengerjap dan gugup dalam satu waktu ketika wajah Myungsoo mendekat padanya, ia meremas tangannya yang tergenggam, dan memejamkan matanya. Myungsoo semakin mendekat pada wajah Soo Ji.

CUP~

Myungsoo mencium pipi Soo Ji yang memerah, Soo Ji membuka matanya. Ia menatap Myungsoo. Myungsoo memeluknya, Soo Ji tersenyum, ia juga membalas pelukan Myungsoo. Myungsoo melepaskannya dengan perlahan. Tangan Myungsoo terulur menangkup wajah Soo Ji. Ia membelai pipi gadis ini yang memerah dengan sangat lembut.

“Soo Ji-ah… Aku menyukaimu. Sangat.” Soo Ji tak dapat menyembunyikannya lagi, wajahnya memerah seiring dengan sentuhan Myungsoo di pipinya. Matanya menatap pria ini dengan lekat. Soo Ji kemudian menundukkan wajahnya, ini tak beres. Perlahan Myungsoo melepaskan tangannya yang berada di kedua pipi Soo Ji.

“Maaf, ini mungkin terlalu cepat. Maafkan aku.” ujar Myungsoo , ia kemudian melangkahkan kakinya untuk keluar, tapi tangan Soo Ji menahannya. Soo Ji menarik Myungsoo sehingga kini tubuhnya hampir tak berjarak dengan Myungsoo, ia memegang tangan Myungsoo dengan kuat, ia menatap Myungsoo tanpa ragu. Detik selanjutnya, Soo Ji berjinjit untuk mensejajarkan tingginya dengan Myungsoo. Soo Ji kemudian menempelkan bibirnya tepat di bibir milik Myungsoo. Myungsoo terkejut. Soo Ji kemudian melepaskannya.

“Aku—Aku juga menyukaimu. Myungsoo Oppa.” tutur Soo Ji, Myungsoo menghembuskan nafasnya lembut, ia kemudian memeluk Soo Ji kembali. Pelukan ini yang Soo Ji rindukan. Myungsoo melepaskan pelukannya, ia kemudian mendaratkan tangannya di tengkuk Soo Ji, Soo Ji hanya bisa memejamkan mata ketika bibir Myungsoo menyentuh dan melumat bibirnya dengan lembut. Dan diatas sana bintang berkelip riang, menyaksikan kedua manusia ini.

Dan di saat yang bersamaan…
Soo Hyun merentangkan tangannya di balkon apartemennya yang bersebelahan dengan apartemen milik Soo Ji. Soo Hyun tak sendirian, ia ditemani Yoo Jung menikmati semilir angin malam yang berhembus lembut. Kerlip lampu di sekitar kota menemani kerlip bintang diatas sana.

“Eonni, boneka yang dibelikan Kyuhyun Oppa bagus bukan? Aku sangat menyukainya.” So Hyun mengangguk.

“Eonni, mengapa saat aku melihat Na Eun Eonni aku selalu teringat masa lalu Myungsoo Oppa? Terkadang aku ingin marah dan mencakar wajahnya.” ujar Yoo Jung.

“Ya, aku juga merasakan hal yang sama. Dia sangat menyebalkan. Berani sekali memunculkan wajahnya lagi ketika ia sudah membuat Oppa terpuruk. Tapi, aku sangat suka jika Oppa dekat dengan Soo Ji Eonni. Benarkan? Kau juga su—“ ucapan So Hyun terhenti ketika ia melihat ke balkon di sebelah kanannya, jantungnya berdegup kencang, nafasnya sedikit tercekat. Yoo Jung yang penasaran memiringkan kepalanya hendak menoleh ke samping kanan, namun tangan So Hyun dengan cepat menutup mata Yoo Jung. Tapi, tangan So Hyun tak sepenuhnya menutupi mata Yoo Jung, sehingga Yoo Jung juga tak kalah kaget.

“O—Oppa…” ucapnya, Yoo Jung kemudian melepaskan tangan So Hyun yang menutup matanya, mereka saling bertatapan.

“Eommaaaa!!! Appa !!!!” pekik mereka secara bersamaan sambil berlari masuk kedalam apartemen. Sementara ‘ pelaku’ yang meracuni pikiran mereka berdua masih terlena dengan suasana bersuhu sedikit panas itu.

_TBC_
Annyeong readersku tersayang :D… Maaf author kelamaan updatenya… Author lagi sakit😥 maaf ya.. Gimana chapter ini?, author sengaja kasih panjang di chapter ini karena author kelamaan update nya. Dan utk chapter selanjutnya kayanya agak lama. Berhubung author juga ngetik ini lagi sakit, author belum bisa lanjutin We Are Not King And Queen, tapi pasti di lanjut ko. Jangan lupa comment sama like ya… hehe. Btw, ada yg punya instagram kah? promote dikit gapapa ya, follow ig @sookawaiine1013 yaps😀 terimakasih~

96 responses to “[Freelance] Kwajangnim Chapter 5

  1. eyayy.. aku seneng banget sooji dan soohyun berhasil ngerjain tuan bae, tuan choi dan semuanya… dan seneng akhirnya myungzy bersatuu….
    finally first kisseu… daebak…
    adik2 myungsoo lucu… mereka ternoda aigoo

  2. Oh god ! Myungzy sekarang resmi menjadi sepasang kekasih kah? Ah senangnya😀 semoga orang2 seperti choi dan son itu tidak akan mengganggu hubungan mereka.

    Aku lega new sajangnim suzy ternyata baik pada suzy dan ia juga mendukung hubungan myungzy !

  3. Oh god ! Myungzy sekarang resmi menjadi sepasang kekasih kah? Ah senangnya😀 semoga orang2 seperti choi dan son itu tidak akan mengganggu hubungan mereka.

    Aku lega new sajangnim suzy ternyata baik pada suzy dan ia juga mendukung hubungan myungzy.

  4. Dari awal juga keluarga choi berengsek semua. Gak heran kalo minho juga termasuk sama orang2 licik yang manfaatin suzy-_-

    Untung kesalah pahaman anatar suzy sama myungsoo cpet kelar.. ohh nooo myungsoo udh ngeracuni pikiran adik-adiknya😭😭😭😭

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s