The Memories Chapter 5

© Rosaliaaocha

Title : The Memories  | Author : dindareginaa | Genre : Angst, Married Life, Romance | Rating : PG-15| Main Cast : Bae Suzy, Kim Myungsoo | Other Cast : Find by yourself!

Sooji tak henti-hentinya menangis. Disampingnya, Myungsoo menepuk-nepuk pelan pundaknya. Hari ini adalah hari pemakaman neneknya. Selain dengan orangtua dan juga sahabatnya serta dengan Myungsoo – mereka sudah berkencan sekitar dua bulan – Nenek Bang adalah orang yang paling dekat dengan Sooji. Wanita yang baru saja menginjak usia delapan puluh tahun itu meninggal karena penyakit jantung yang memang sudah lama dideritanya.

“Sooji-ah, berhentilah menangis. Nenek Bang sudah tenang ditempatnya yang sekarang,” Soojung ikut menenangkan Sooji.

Sooji masih saja tak bergeming ditempatnya. Ia bahkan tak sadar air matanya sudah kering akibat terlalu lama menangis.

Myungsoo menghela sebelum akhirnya berkata,”Menangislah sepuasmu, Bae Sooji. Bahkan sampai kau tak bisa mengeluarkan air matamu lagi. Karena setelah ini, aku tidak akan pernah membiarkanmu menangis. Tidak akan pernah.”

Myungsoo menghela nafasnya panjang begitu kilasan masa lalunya dengan Sooji kembali berputar di benaknya. Ini sudah tiga bulan semenjak Sooji mengatakan bahwa Myungsoo adalah orang asing baginya. Semenjak hari itu, hubungan Sooji dan Myungsoo kian memburuk. Mereka sudah jarang menghabiskan waktu di rumah. Myungsoo terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan Sooji… entahlah. Lelaki itu tak tahu pasti dengan apa yang Sooji lakukan.

Hari ini pun masih sama. Saat ini Myungsoo sibuk dengan beberapa dokumen pekerjaannya yang kini sedang menanti untuk dikerjakan oleh Myungsoo. Hingga Myungsoo tersentak begitu seseorang mengetuk pintu ruangannya.

“Masuk,” titahnya.

Myungsoo mengernyit begitu melihat seorang gadis masuk kedalam ruangannya. Gadis itu cantik, tubuhnya ramping dan kulitnya putih mulus.

“Siapa?” tanya Myungsoo heran.

Gadis itu tersenyum kikuk lalu membungkukkan badannya. “Annyeonghaseyo. Aku Irene Bae, sekretaris baru Kim sajangnim.”

Ah… Myungsoo mengangguk mengerti. Ia baru ingat bahwa ia menyuruh Sehun untuk mencarikannya sekretaris baru, berhubung sekretarisnya yang lama mengundurkan diri karena masalah keluarga.

Sedetik kemudian, Myungsoo menggeleng-gelengkan kepalanya. Dasar Oh Sehun! Lelaki itu selalu memilih sekretaris berdasarkan penampilannya saja. Tapi, sama sekali tidak bisa bekerja. Myungsoo masih ingat bahwa Sehun pernah memilih seorang model sebagai sekretarisnya. Dan bisa ditebak, yang dilakukan oleh gadis bernama Kang Jiyoung itu hanyalah berdandan!

Ah, lebih baik ia uji saja sekretaris barunya ini. Kalau gadis ini juga sama dengan sekretaris-sekretaris yang biasa dipilih Sehun, maka Myungsoo akan segera memberhentikannya.

“Catat apa saja yang akan aku lakukan dalam seminggu ini.”

Gadis bernama Irene itu mengernyit mendengar ucapan Myungsoo yang secara tiba-tiba itu. “Ya?”

“Aku bilang catat. Kau membawa buku dan juga pena bukan? Atau jangan-jangan isi tasmu itu hanyalah sekumpulan make up?”

“Ah…” Irene mengangguk mengerti. Ia segera mengeluarkan buku kecil dan juga pena berwarna pink dari dalam tasnya.

Melihata gadis itu sudah siap, Myungsoo mulai membacakan jadwalnya. Lelaki tampan it tersenyum begitu melihat Irene dengan sigap mencatat apa saja yang diucapkannya. Sepertinya kali ini Sehun tak salah pilih.

Sooji kini sibuk membaca buku diatas paha Minho, sedangkan lelaki manis itu kini sibuk menonton pertandingan bola dari layar televisi. Ya, benar. Sooji dan Minho memang menjalin kasih selama dua bulan belakangan ini. Awalnya, Sooji ragu menerima pernyataan cinta Minho, karena ia tahu ia kini sudah memiliki Myungsoo. Namun, melihat perjuangan Minho yang tak henti-hentinya membuat jantungnya berdetak cepat, membuat Sooji akhirnya luluh.

“Omong-omong, Sooji-ah…” Minho mulai memfokuskan diri pada Sooji setelah terdiam cukup lama. “… kapan kau kan mebicarakan hubungan kita?”

Sooji terdiam sejenak, lalu mulai beranjak duduk disebelah lelaki itu. “Untuk sekarang, aku belum bisa. Kita harus merahasiakannya. Lagipula, aku harus mengingat masa laluku dulu, ntuk melihat apa yang terjadi denganku dan Myungsoo.”

Minho mendengus kesal. Kalau sampai Sooji mengingat masa lalunya, rencananya bisa kacau! Ia tak bisa menunggu lebih lama lagi! Apa lagi kondisi keuangannya sangat memprihatinkan karena pekerjaannya yang sebagai karyawan biasa. “Aku harus menunggu sampai berapa lama lagi?”

“Aku berjanji kalau aku tidak juga mengingat masa lalu dalam waktu enam bulan ini, aku akan segera memutuskan hubunganku dengan Myungsoo. Sekarang, tersenyumlah. Kau terlihat sangat jelek kalau seperti ini,” Sooji tertawa kecil seraya mencubit kedua pipi Minho.

Tiba-tiba saja, ponsel Sooji berdering, menandakan adanya panggilan masuk. Sooji segera meraih ponselnya yang diletakkannya di atas meja, tepat dihadapannya. Oh, ini dari ibunya. Setelah menyentuh layar ponselnya, gadis cantik itu segera mendekatkan ponselnya tepat di telinga kanannya.

“Ya, bu? Ya?”

Minho mengernyit heran begitu elihat ekspresi wajah Sooji. Sepertinya ia cukup terkejut dengan apa yang ibunya katakan dari seberang telepon.

“Kenapa harus kami?” desahnya. “Baiklah, aku mengerti.” Sooji segera mengakhiri panggilannya dengan sang ibu.

“Ada apa?” tanya Minho penasaran.

Sooji menggeleng pelan. “Tidak ada. Sebaiknya aku pergi. Ada sesuatu yang harus kulakukan,” Sooji segera beranjak berdiri.

“Biar kuantar,” tawar Minho seraya mengikuti langkah Sooji yang kini berjalan ke arah pintu.

“Tidak usah,” tolak Sooji halus. “Aku bisa sendiri. Lagipula, aku tidak mau merepotkanmu. Sampai jumpa besok,” Sooji melambaikan tangannya lalu mulai pergi meninggalkan Minho sendirian.

Sooji turun dari taxi yang dinaikinya ketika benda tersebut berhenti tepat di sebuah gedung pencakar langit yang sangat megah. Sooji menghembuskan nafasnya perlahan. Semenjak ia membuka matanya, tak pernah sekalipun ia mendatangi tempat kerja suaminya itu. Karena ia benar-benar tak tertarik.

“Oh, Sooji-ah…”

Sooji menoleh ketika mendengar seseorang memanggilnya. Ia sedikit bingung melihat seorang lelaki tampan berjalan kearahnya dengan senyum melebar. Oh, bukankah ini Oh Sehun? Kalau tidak salah, lelaki ini sempat menjenguknya di rumah sakit.

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Aku? Aku ingin bertemu dengan Myungsoo.”

“Oh, kebetulan sekali. Aku baru saja ingin menemuinya. Kalau begitu, biar ku antar. Kau pasti sudah lupa tempat ini bukan?”

Sooji tersenyum kikuk. Ia tak menyangka bahwa teman Myungsoo ini ramah sekali terhadapnya. Apa sebelum ia kehilangan ingatannya, ia juga dekat dengan lelaki tinggi ini?

Sooji lalu mengikuti langkah Oh Sehun. Selama dalam perjalanan menuju kantor Myungsoo, tak henti-hentinya karyawan Myungsoo menyapanya dengan senyum ramah mereka, baik itu lelaki maupun wanita. Sooji jadi penasaran, apa ia memang seterkenal ini? Atau mungkin dulu Sooji sering berkunjung ke tempat ini?

Samar-samar, Sooji melihat bayangan dirinya tengah tersenyum seraya bercengkrama dengan beberapa karyawan Myungsoo.

“Sooji-ssi, sepertinya kau rajin sekali mengantar bekal Myungsoo. Betapa beruntungnya dia.”

Sooji bisa melihat dirinya tertawa mendengar perkataan karyawan Myungsoo tersebut.

“Manajer Oh, annyeonghaseyo.”

Lamunan Sooji buyar ketika mendengar seseorang memanggil Sehun. Oh Sehun tersenyum simpul begitu seorang gadis cantik menyapa dirinya seraya membungkukkan badannya. “Oh, Irene-ssi, ternyata kau sudah mulai bekerja. Sooji-ah, perkenalkan. Ini sekretaris baru Myungsoo. Irene Bae. Dan Irene, ini istri Kim Myungsoo, Bae Sooji.”

Gadis bernama Irene itu tersenyum simpul lalu membungkukkan badannya – lagi. “Annyeonghaseyo.”

Sooji hanya tersenyum kecil. Ia kemudian bertanya. “Myungsoo…”

“Dia ada diruangannya,” tunjuk Sehun kesebuah ruangan. “Kau bisa menemuinya terlebih dahulu.”

Soojipun segera melangkah menuju tempat yang ditunjuk oleh Sehun.

“Jadi, Kim sajangnim sudah menikah?” gumam Irene pelan, sehingga hanya dapat didengar oleh dirinya sendiri.

“Apa?” tanya Sehun karena tak begitu mendengar gumaman Irene.

“Tidak ada,” Irene hanya tersenyum simpul.

Myungsoo sedikit terkejut begitu mendapati Sooji kini berada dihadapannya. Awalnya, ia pikir ia bermimpi melihat bayangan Sooji karena dirinya begitu merindukan gadis itu. Tapi, ternyata yang dihadapannya ini nyata.

“Hai,” sapa Myungsoo canggung. Jelas saja! Myungsoo bahkan tak ingat sudah berapa lama ia tak bertatap muka sedekat ini dengan Sooji.

“Omong-omong, apa yang kau lakukan disini?”

Bodoh! Myungsoo merutuki dirinya sendiri. Harusnya, hal yang pertama ia lakukan adalah menawarkan Sooji minuman. Kenapa ia jadi seperti orang bodoh begini?!

“Sebelum itu, apa yang ingin kau minum? Soda? Susu? Teh? Atau kopi?”

“Tidak usah. Aku hanya sebentar disini.”

“Oh…” Suara Myungsoo melemah mendengar jawaban Sooji. Lagi-lagi, ia merutuki dirinya. Memangnya apa yang diharapkannya dengan kedatangan Sooji? “Kalau begitu, duduklah dulu.”

Sooji menganguk kecil. Ia segera duduk di kursi yang berada dihadapan Myungsoo.

“Jadi…”

“Ah, sebenarnya aku kesini karena ibuku menyuruh kita untuk datang ke acara pernikahan sepupuku. Lee Ji Eun. Kau mengenalnya bukan?”

Myungsoo mengangguk kecil. Ya, Myungsoo tahu pasti siapa itu Jieun. Seperti yang Sooji katakan, ia adalah sepupu Sooji dari ibunya. Myungsoo sempat bertemu dengan Jieun beberapa kali sebelm menikah dengan Sooji dulu. Gadis itu bahkan datang ke acara pernikahan mereka.

“Jadi, kau bisa bukan?”

“Tentu saja.”

Sooji segera turun dari mobil Merci hitam milik Myungsoo begitu mobil tersebut terparkir rapi didepan sebuah hotel berbintang. Myungsoo lalu menyerahkan kunci mobilnya pada seorang bellboy, agar pemuda tersebut memarkirkan mobilnya. Kemudian Myungsoo mengulurkan tangannya pada Sooji.

Mengerti maksud Myungsoo, Sooji tersenyum kikuk. Namun, ia tetap menggandeng lengan Myungsoo. Jujur saja, ini pertama kalinya bagi mereka untuk melakukan kontak fisik.

Didalam ruangan, Sooji dan Myungsoo bisa melihat banyaknya tamu yang hadir. Bahkan dari kalangan selebritis. Karena Jieun kebetulan menikah dengan seorang idol, Jang Wooyoung, salah satu personil 2PM.

“Selamat!” Sooji segera memeluk sepeupunya hangat begitu ia sudah berada dihadapan gadis itu. “Wah, kau cantik sekali! Pantas saja Wooyoung memilihmu!”

Sooji dapat melihat semburat berwarna merah di kedua pipi Jieun. Jieun hanya tertawa.”Omong-omong, kapan kau memberikanku keponakan? Jangan sampai, aku mengalahkanmu!”

Kali ini, giliran wajah Sooji yang memanas. Tak pernah seklaipun ia berpikir untuk memiliki anak dengan Myungsoo.  Apalagi dengan kondisinya sekarang.

“Tenang saja. Kami akan segera memberikanmu keponakan yang lucu!” Kali ini Myungsoo yang bersuara, membuat Sooji bertambah malu.

“Kalau begitu, kami tinggal dulu. Kami tidak ingin membuat antrian bertambah panjang,” ujar Sooji akhirnya, berusaha mengalihkan pembicaraan.

Keduanya kemudian pergi menjauh dari mempelai pengantin. Setelah menghabiskan waktu sekitar satu jam diacara pernikahan Jieun, Sooji dan Myungsoo memutuskan untuk pulang.

“Tunggu sebentar. Aku akan mengambil mobil dulu.”

Sooji mengangguk. Ia hanya tersenyum memandangi punggung Myungsoo yang mulai menjauh. Tiba-tiba saja, ia teringat perkataan Jieun beberapa saat lalu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Anak? Dasar!

Sooji tersentak begitu menyadari salju perlahan mulai turun. Matanya berbinar-binar menatap pemandangan tersebut. “Indah sekali,” gumamnya.

“Aku ingin melihat salju pertama denganmu, Kim Myungsoo!”

Sooji tertegun begitu sebuah suara muncul dalam benaknya. Sedetik kemudian, Sooji bisa melihat kilasan-kilasan seperti sebuah film terputar dibenaknya. Saat Myungsoo menciumnya, saat Myungsoo mengusap lembut puncak kepalanya, saat ia tertawa bersaa Myungsoo, saat Myungsoo bernyanyi dengan menggunakan gitar hanya untuknya. Semuanya…

“Sudah lama menunggu?”

Sooji tersentak begitu melihat mobil Myungsoo terparkir tepat dihadapannya. Didalamnya, Myungsoo tersenyum manis. Sooji bahkan tak pernah menyadari bahwa senyuman Myungsoo bisa membuatnya hangat. Kenapa jantungnya berdebar-debar seperti ini? Apa yang terjadi sebenarnya?

TO BE CONTINUED

67 responses to “The Memories Chapter 5

  1. suzy ud ad tnda tnda merecall memorynya, dan sepertinya dia juga ud mulai memahami perasaannya,,, pkoknya ff ini bikin perasaan campur aduk

  2. Dasar Minho nappeun.. Sooji juga nappeun. Harusnya dia gak termian Minho, secara statusnya istri Myungsoo. Minimal dia harus ingat dulu..
    DUh kalu liat cuplikan2 kisah mereka, rasnya gimana gt. Pengen sooji cpt2 ingat Myung..

    Pertanda bagus… Sooji berdebar melihat senyuman Myungsoo. Senyuman yang menghangatkan.. ayo Myung, lebih gencar lagi..

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s