#2: Sweet Talks

51-sweet-talks

SWEET TALKS

Miss A Bae Suzy and EXO Kai | AU, Fluff, Romance, slight!Sci-fi | vignette | PG 15 |

inspired from Agus Noor’s short-fict Kunang-kunang di Langit Jakarta

Sweet poster belongs to Miss of Beat R @ The Angel Falls <3

September, 2015©

.

Agak menjengkelkan baginya, ketika istilah semenjana ‘bawa perasaan’ yang tengah tren di kalangan para anak tanggung kota Seoul seperti adik perempuannya, juga menghampiri sanubarinya sebagai seorang laki-laki.

.

check out another talks from: #1:Rain

Kai sudah menandaskan iced green tea latte keduanya. Waktu pada jam kontemporer di sudut kafe sudah berdentang sebanyak enam kali. Ia sudah begitu banyak berharap kalau pertemuan akhir pekan kali ini akan dihabiskan untuk bertukar obrolan atau sekedar saling tatap menggoda dengan gadis di depannya. Nyatanya? Uh, jangan ditanya, please.

Bae Suzy, seorang zoologist dari KAIST. Bisa dipastikan adalah wanita paling cantik juga cerdas sejagat buana–sekaligus kekasih, justru lebih memasang atensi pada layar berpendar di genggaman, menyibukkan diri dengan tablet dan hewan-hewan aneh nan langka. Tanpa menyadari betapa Kai juga ingin dientuh atau digeser oleh jemari lentik sang gadis.

Dalam setiap kesempatan, tanpa sadar Suzy dengan sukarela akan berceloteh tentang aktivitas sehari-harinya. Kautahu, bagaimana rupa dan suara burung bulbul yang didongengkan dengan apik oleh HC Andersen? Berani taruhan, kau pasti tidak tahu dan tidak berpikir sampai ke situ.

Seekor burung bulbul langka pernah ditemukan oleh Suzy bersama rombongan peneliti Worldwide Conservation Society di perbukitan kapur dataran rendah Laos; penemuan yang menurut Suzy begitu menakjubkan, karena belum pernah dalam 100 tahun terakhir ditemukan spesies baru di Asia. Suzy bilang kalau kicau burung bulbul begitu merdu; dia bahkan merekamnya untuk kemudian disetel sebagai nada dering alarm. Bulu-bulu hijaunya mengilap, bagai di-furnish seperti meja makan cendana. Suzy bahkan pernah bertemu dengan hewan misterius yang tidak mungkin dijumpai. Yakni, ketika Suzy dan rombongan penelitinya berkemah di pegunungan di Tibet, dia menemukan seekor kucing berbulu emas, sedang melompat dari satu dahan ke dahan yang lain, bagai memiliki sayap rahasia di tubuhnya.

Ada benarnya juga kelakar rekanannya. “Kautahu, Kai, itulah konsekuensi berpacaran dengan Suzy. Kau mesti menjadi primata yang langka dahulu baru bisa menarik perhatiannya.”

“Justru itu bagusnya. Kutahu dia akan selalu fokus pada penelitiannya dan bukan dengan pria yang lain, jadi aku tidak perlu khawatir.”

“Rasio wanita berpasangan yang berselingkuh itu jauh lebih kecil, Kai. Kau seharusnya tidak berkata seperti itu.” ia mengangkat sebelah alisnya kemudian tertawa hambar: guyonan yang berakhir sindiran.

Menjadi seorang kekasih zoologist yang lebih banyak menghasibkan waktu pada tablet dan sampel hewan aneh terkadang menjadi berkah tersendiri baginya. Pada suatu ketika Suzy akan melakukan pengamatan di luar Seoul, gadis itu pasti akan mengajaknya, alih-alih sekuriti bukan kekasih. Meskipun dia pernah berhadapan dengan harimau albino Himalaya, toh Suzy tetaplah seorang wanita yang mesti dilindungi.

Pada setiap kesempatan, Suzy–dibandingkan membunuh menit bersama dengan bercumbu–akan lebih banyak bercerita soal katak berwarna ungu yang ditemukannya di Suriname, kumbang tahi, kadal tanpa kaki, duiker merah, galago kerdil, mokole mbembe di Sungai Zambeze, sejenis tikus bermoncong panjang yang disebutnya Zanzibar, burung Akalat Ukwiva—dan entah nama-nama aneh apa lagi— sampai obsesinya menemukan putri duyung yang diyakini masih hidup di perairan Kiryat Yam, Israel. Aku akan membenarkan bahwa kartun Disney dengan putri duyung bersurai merah itu bukanlah khayalan fiksi belaka, katanya.

Matahari masih semangat ber-marathon hingga sinarnya menyelusup ke dalam lapisan kaca jendela Kona Bean Café di Apgujeong. Lalu-lalang para pejalan kaki dengan segala atribut pakaian musim panas mewarnai salah satu distrik elit di Seoul. Suzy sesekali menyesap segelas iced frappucino tanpa menghindahkan tatapan dari tablet di hadapannya. Ia juga ikut menarik sedotan iced green tea latte yang tinggal separuh isinya dan masih menatap Suzy yang sesekali mengernyitkan dahi.

“Kyungsoo benar, aku harus berubah menjadi platypus albino untuk bisa menarik perhatianmu, “ ujarnya memecah riuh-rendah para pengunjung kafe yang sibuk berceloteh mengenai si empunya Kona Bean cabang Apgujeong.

“Aku sudah pernah bertemu mereka di Sulawesi, mereka cukup imut sebenarnya. Aku harap kau benar-benar bisa berubah menjadi salah satu dari mereka kalau begitu.”

“Ayolah, aku sedang tidak bergurau. Singkirkan dulu gadget dan pekerjaanmu di saat kita sedang berdua,” cetusnya. “SNS-ku saja kunon-aktifkan semua, demi mengobrol denganmu tetapi nyatanya kau?”

“Maaf, tapi aku sedang tidak meng-update SNS, Kai. Aku justru sedang mengoreksi beberapa laporan dari anak buahku mengenai anaconda anggrek yang ada di Borneo.”

Plak! Kai sengaja menepuk dahi keras-keras. Entah ini karena Suzy yang terlalu pintar atau sebaliknya. Sebagai seorang wanita sekalipun, intuisinya sudah tumpul oleh air liur komodo. Kepekaan yang seharusnya dimiliki oleh wanita rupanya tidak dimiliki oleh Suzy. Ia sadar, gadisnya bukanlah tipikal wanita kebanyakan. Dibanding intuisi, Suzy lebih mengandalkan logika. Dibanding menangis kalau sedang kesal, Suzy lebih menyalurkannya dengan bermain skuat ataupun bercengkerama dengan objek penelitiannya di laboratorium.

Harus diakui pula, untuk meng-confess kepada Suzy, ia harus sampai bertapa di gunung. Ini bukan lelucon tetapi sungguhan. Ia sampai harus pergi ke Gunung Jinri di Yongsan untuk berfoto bersama luwak dan membawa lemur balita sebagai syarat Suzy untuk menjadi kekasihnya. Bisa jadi, Kai sudah hampir gila!

Agak menjengkelkan baginya, ketika istilah semenjana ‘bawa perasaan’ yang tengah tren di kalangan para anak tanggung kota Seoul seperti adik perempuannya, juga menghampiri sanubarinya sebagai seorang laki-laki. Ia meragu. Mungkinkah Suzy justru merasa tidak nyaman dengan sikapku yang terlalu melankolis? Ya, mungkin saja. Naluri lelaki bukan hanya ingin melindungi pujaan hati. Ada kalanya mereka membutuhkan perhatian dari kekasih namun tidak berlebihan dan secukupnya saja.

Itulah sebabnya dalam hati ia merasa nyinyir ketika melihat rekanan sekantor yang setiap jam istirahat selalu disambangi sang kekasih atau sebaliknya. Menghabiskan jam makan siang berdua, sambil bertukar cerita mengenai pekerjaan atau hal-hal sepele yang tetap mengundak topik lain untuk diobrolkan. Sementara dirinya, harus bersyukur bisa melakukan face-time bersama Suzy yang bertahan tidak lebih dari lima menit. Oh, frustasi memang namun sekali lagi kekuatan cinta berbicara.

Waktu sang surya untuk kembali ke peraduan terhitung mundur dari satu jam ke depan. Begitu pula dengan gulita yang perlahan memangkas sinar di atas wajahnya. Ia membiarkan agoni membungbung di dalam hati, kata lainnya, menyuruh agar egonya sebagai pria sesekali berkuasa.

“Kai, apa kaumau melihat kunang-kunang bersamaku nanti?”

Suara renyah Suzy memecah hening. Ia mendongak lantas menaikkan satu alis, kemudian membebaskan tangan yang bersedekap layaknya tokoh antagonis dalam film mafia. Raut wajahnya kelihatan sedang menimang tawaran Suzy.

“Apa bagusnya kunang-kunang, memang?” balasnya dengan nada yang tidak begitu  tertarik.

Suzy tahu kalau pria manis berhidung lancip di hadapannya ini sedang melakoni drama melankolis.

“Mana kutahu, lebih baik kau menilainya sendiri, “ ujarnya diselingi secarik senyum.

Senyuman tipis Suzy yang jarang diberikan kepadanya sontak membuatnya sedikit lumer. Ia menarik badan ke depan, meminta penjelasan lebih dari Suzy.

“Apa dia lebih cantik darimu?”

“Hm, aku tidak tahu, “

“Dia lebih pintar darimu?”

“Tentunya, tidak.”

Ia melontarkan kuesioner layaknya menginvestigasi seseorang tersangka. Memasang wajah seperti detektif penjara meski jatuhnya terlalu tampan untuk menjadi nyata. Suzy mengeluarkan suara kekehan sebelum menon-aktifkan tablet 7 incinya dan meletakkannya dengan sembarangan.

“Kalau dia tidak lebih cerdas, cantik, memesona, mandiri, menawan, mengaggumkan, dan sedikit menyebalkan darimu, aku tidak mau bertemu dengannya. Buang-buang waktuku saja. Sudah jelas, aku ingin selalu bersama denganmu. Dengan melihat kau yang menggerakan kelopak mata atau menguap saja, aku sudah merasa bahagia, sangat bahagia.”

“Sudah selesai merajuknya, Sayang?”

Oh, apa barusan ia menggombal? Suzy tertawa di balik telapak tangan yang menutupi permukaan wajahnya, menahan malu. Begitu juga dengan dirinya yang terlihat seperti perayu ulung tingkat provinsi. Laki-laki pun terkadang juga memerlukan filter di tenggorokan untuk menyaring tiap kata sebelum berbicara–semua orang juga begitu–tetapi untuknya tentu saja spesial. Lagipula ia terlalu sering membawa perasaan di setiap momen bersama Suzy yang begitu jarang dihabiskan untuk bercinta ataupun hal-hal roman picisan lainnya.

Posisinya berpindah, mengambil space kosong di sebelah Suzy. Ia menggenggam jemari halus Suzy tanpa berkata-kata. Ia merelakan seluruh waktu yang dipinjam dari Tuhan untuk ditukarkan dengan posisi absolut di sebelah Suzy. Hanya memandangnya tanpa berkedip. Hanya menikmati tiap lekuk wajah bak lukisan anyar Michelangelo yang menghiasi lelangit gereja terbaik sebenua biru. Hanya merasakan tiap sentuhan lembut tangan yang menjamah wajahnya setiap pagi. Hanya mencium satu bibir untuk satu ikatan sepanjang masa. Hanya untuk mencintai Suzy dan dicintai kembali–well, yang ini harus–olehnya tanpa ada campur tangan orang lain, kecuali keturunan mereka kelak.

“Maaf, aku terlalu membawa perasaan. Tidak seharusnya aku bersikap macam bocah playgroup di depanmu, “ akunya, sembari membawa telapak tangan Suzy menuju kecup bibirnya.

“Tidak apa, aku mengerti. Astaga, kaubicara apa, sih? Memangnya hubungan kita selama ini tidak menyangkut perasaan?” Suzy menahan telapak tangannya untuk menyentuh dagunya dan mengusap rahang tegasnya.

Ia tersenyum untuk kemudian menyandarkan lengan di bahu Suzy. Membawanya ke dalam pelukan absolut yang hangatnya melebihi matahari musim panas di Seoul sepanjang hari. Perkataan Suzy barusan seperti Muhammad Ali yang menjotos ulu hatinya dengan satu jab keras; begitu tepat sasaran. Yakni, tentang perasaan yang tak terdefinisikan secara hakiki namun saling dimengerti oleh keduanya.

TAMAT


a/n:

yosh, setelah hampir sebulan fokus sama playlist-fict yg notabenenya tidak semua memakai chara suzy di setiap ff, i’m back with my eternal muse!! so,  karena saya sudah memasuki fase libur saya akan aktif meng-update di sini lagi dan menyelesaikan The London’s Journal(emang pada tau?ngehahaha) dan GOEZ series(masyaallah ini series udah kadaluars T_T) secepatnya!🙂

dan yeah, Sweet Talks ini adalah bagian dari fiksi berseri terbaru: Talk’s Series yang jumlahnya tidak lebih dari 6 buah so please wait and give a lot of support ^^❤

12 responses to “#2: Sweet Talks

  1. Keren… detail banget penjabaran semua primata yang di sebutkan… karakter yang berbeda dari sosok suzy yang biasanya.. suka dengan tingkah jongin..
    Nice story Authornim…
    Ditunggu karya selanjutnya…
    Fighting…😀

  2. Wiii mantaaab!!
    Duh ini ff nya bikin dag dig dug wakakakak
    Manisnya pas
    Ga lebay
    Dan so sweet
    Kai begitu memuja suzy ne,, aigo senengnya jadi suzy hahaha
    Udah punya namja yang baik perhatian tampan pula wakakak
    Nice ff!!!
    Ditunggu next

  3. Aku akan menunggu kelanjutannya dengan sabar, kl bs yg london journal dlnjutin dan cepet dipost oke!!!! Fighting!!!

  4. Karakter baru suzy n jongin?
    Suka,beda dari yg lain…
    Jalan ceritanya jga menarik…
    Menyelam sambil minum air…
    Baca ff sambil belajar tentang hewan2 langkh di seluruh dunia….

    Di tunggu seri berikitnya ya…
    Fighting💪💪💪💪💪

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s