[OS] EX

ex

Title: EX | Author: Macchiato

Genre: ?| Rating: PG – 17 | Length: Oneshot

Main Cast: Bae Sooji, Kim Myungsoo, Lee Howon

Awesome poster by Peaxhy @HSG

I don’t own anything besides the storyline

EX

“Myungsoo!”

Seorang namja dengan plaid shirt berwarna hijau menenggakkan kepalanya begitu mendengar namanya dipanggil. Mata tajamnya sedikit menyipit dengan sebelah alisnya yang terangkat ke atas. Mata elangnya senantiasa mengikuti gerakan seorang namja jangkung yang tadi berlari ke arahnya dan memanggil namanya.

Senyum tipis tersungging di bibirnya ketika melihant Sungyeol – namja jangkung itu – terengah-engah begitu duduk di hadapannya.

Igeo.” Myungsoo menyodorkan minumnya kepada sungyeol.

Dengan cepat Sungyeol meminum jus segar itu seperti orang yang tidak pernah melihat air sebelumnya.

Myungsoo mendengus melihat gelas jusnya yang kini terisi tidak sampai setengahnya, “Yya! Kau menghabiskan minumku!”

Sungyeol meringis kecil, sedikit merasa bersalah karena meminum sebanyak itu. Tapi mau bagaimana lagi, dirinya benar-benar kehausan.

Mian. Berlari sungguh membuatku haus.”

Myungsoo berdecak, “Memangnya apa yang membuatmu berlari seperti itu? Kau tidak dikejar anjing, wanita gila, atau Professor Ham kan?”

Sungyeol sedikit bergidik membayangkan jika benar Professor Ham mengejarnya. Professor wanita paruh baya yang galak namun genit, dengan lipstick tebal berwarna merah menyala.

“Bukan..tentu saja aku tidak dikejar Professor Ham, astaga jangan sampai itu benar-benar terjadi.”

Myungsoo tertawa, “Lantas karena apa kau berlari Lee Sungyeol?”

Sungyeol menunjukkan senyum gusinya kemudian menggaruk pipinya salah tingkah membuat Myungsoo menghela nafas sebal.

“Kukira ada sesuatu yang pen-“

“Myungsoo-ah! Sungyeol-ah!”

Suara bass seorang namja memutus ucapan Myungsoo. Namja yang bertubuh sedikit gempal namun atlestis itu berjalan tergesa menghampiri Myungsoo dan Sungyeol. Senyum lebar tercetak di bibirnya.

Sungyeol menatap Hoya dengan tatapan heran. Bingung menagapa temannya itu terlihat sumringah padahal Sungyeol tahu kelas Hoya baru saja selesai mengadakan kuis.

Neo gwenchana?” Tanya Sungyeol khawatir. Khawatir temannya tiba-tiba mengalami kegilaan atau kehilangan kewarasan.

Hoya tersenyum kemudian menepuk pipi Sungyeol pelan, “Nan gwenchana, Sungyeol-ah.”

Myungsoo bergidik mendengar jawaban Hoya yang bernada menjijikan.

“Yya! Ada apa denganmu?”

Hoya mengerjap genit kemudian menggenggam tangan Myungsoo, “Aku bertemu bidadari.”

Myungsoo menyentakkan tangannya, kali ini benar-benar merasa takut dengan Hoya.

“Yya! Jangan pegang-pegang! Bidadari atau bidadara?”

Mendengar pertanyaan Myungsoo sontak Sungyeol tertawa yang dibalas dengan pelototan tajam Hoya.

“Tentu saja bidadari bodoh! Kenapa jadi bidadara?!” Pekiknya tidak terima.

“Soalnya kau bersikap menjijikkan padaku dan Myungsoo, Lee Howon. Aigoo, apa kau tak sadar?”

Hoya mengerjapkan matanya. Sedetik kemudian senyum lebar kembali tercetak di wajahnya.

“Yya… kalian tidak dengar aku bertemu bidadari…”

Myungsoo mendengus, “Bidadari nugu?”

“Mahasiswa tingkat awal yang jadi bahan pembicaraan hangat jurusan kita, Myung! Jinjja, jeongmal yeoppo.”

Myungsoo mengernyitkan dahinya, bingung. Semester baru memang baru dimulai dan tentu saja ada banyak mahasiswa dan mahasiswi baru di jurusan mereka namun jangan salahkan Myungsoo jika tidak tahu salah satunya. Jurusan Bisnis memang memiliki banyak kelas dan tentunya memiliki banyak mahasiswa. Ditambah lagi Myungsoo sudah tingkat tiga, hoobaenya yang berada setahun di bawahnya saja dia tidak tahu apalagi yang berjarak dua tahun. “Nugu?”

Hoya tersenyum bodoh.

“Bae Sooji.”

Mata Myungsoo melebar sedangkan Sungyeol sedikit terkejut mendengar Hoya meyebut nama itu.

Nugu?”

“Sooji. Bae Sooji.”

Hoya memandang punggung seorang yeoja dari kejauhan. Begitu yeoja itu memalingkan wajahnya dan menghadap padanya, jantungnya seakan melompat. Paras cantiknya begitu menyilaukan. Senyumnya terkembang begitu melihat Sooji yang mengipas-ngipas dirinya dengan tangannya. Siang ini memang sedang terik-teriknya tak heran jika sooji kepanasan. Namun perlahan senyum Hoya mengendur begitu teringat ucapan Myungsoo dan Sungyeol kemarin.

“Bae Sooji? Bae Sooji, katamu?”

Sungyeol menepuk-nepuk pundak Myungsoo agar namja itu tenang.

“Tenang, Myung!”

“Untuk apa dia ke sini?”

“Untuk kuliah tentu saja” Jawab Sungyeol kalem.

Myungsoo menggertakkan giginya, “Sial. Aku tidak mau bertemu dengannya.”

“Seharusnya dia yang tidak ingin bertemu denganmu. Aku hampir yakin kau membuatnya trauma..”

“Aku tidak ingin dihabisi oleh kedua temannya lagi.”

“Memangnya kau yakin mereka masih bersama-sama?”

“Yakin 100%. Mereka sudah seperti kembar siam, neo arra? Tak terpisahkan. Jadi kalau Sooji ada di sini, kedua yeoja bar-bar itu juga pasti ada di sini”

Hoya menatap kedua temannya itu dengan bingung. Bingung kenapa Myungsoo tiba-tiba marah. Bingung kenapa mereka seolah mengenal Sooji.

Hoya menekuk alisnya, tidak suka dengan pemikiran bahwa Myungsoo dan Sungyeol mengenal Sooji terlebih dulu darinya.

“Kalian mengenal Sooji?”

Myungsoo menggebrak meja membuat Sungyeol, Hoya dan beberapa orang yang berada di sekitar mereka terlonjak kaget.

Lagi-lagi Myungsoo menggertakkan giginya, “Kenal? Cih, aku tidak kenal dengannya.”

Hoya melongo, tidak mengerti dengan sikap Myungsoo yang benar-benar aneh.

“Mantan.”

Satu kata dari Sungyeol sukses membuat mulut hoya kembali melongo. “Mantan? Maksudnya?” Ketakutan mulai merasuki kepalanya.

“Sooji. Dia mantannya Myungsoo saat SMA.”

Dan langit serasa runtuh di pikiran Hoya. “Jinjja?”

Sungyeol mengangguk pasti. Hoya mendesah. Tapi tunggu, mantan kan katanya? Berarti tidak apa jika Hoya mendekati Sooji sekarang kan?

“Mantan?”

“Iya mantan,” jawab Sungyeol tak sabar. Kesal dengan otak Hoya yang seakan sulit sekali mencerna.

“Berarti tak ada salahnya jika aku mendekatinya kan?”

Myungsoo mendengus, “Tidak, tidak salah. Palingan kau akan menyesal.”

Hoya kembali melongo, “Maksudnya?”

Sungyeol menepuk pundak Hoya pelan, “Jangan didengarkan. Dia memang akan membodoh jika ada sesuatu terkait Sooji. Yah, walaupun sebenarnya bukan salah Sooji”

“Menurutmu dia cantik?” Tanya Myungsoo tiba-tiba.

Senyum bodoh Hoya kembali muncul, “Cantik. Sangat cantik malah menurutku.”

“Kau tahu Howon-ah, dia oplas.”

Plak

Sungyeol memukul kepala Myungsoo dengan tangannya, membuat Myungsoo mengaduh.

“Bohong. Jangan percaya dengannya, Lee Howon. Bae Sooji tidak oplas. Semua yang ada pada dirinya itu natural bukan hasil bedah.”

Hoya memandangi wajah Sooji yang begitu sempurna. Tidak heran memang jika banyak yang menyangka dia oplas. Bae Sooji terlalu cantik untuk menjadi nyata.

Ani, Myungsoo pasti berbohong dan Sungyeol jujur. Walaupun kecantikannya sedikit tidak masuk akal tapi jelas terlihat bahwa wajahnya itu bukan hasil operasi.” Hoya berbicara pada dirinya sendiri.

Hoya kembali memandangi Sooji yang sedang berkumpul dengan teman-temannya. Yeoja itu terlihat diam dan tak banyak bicara. Lag-lagi percakapannya dengan Myungsoo dan Sungyeol kembali tereka di kepalanya.

“Oke, aku akui dia memang cantik. Tapi kau tahu, dia itu berisik dan hobi tebar pesona.”

Plak

Lagi-lagi Sungyeol memukul kepala Myungsoo, “Yya, jangan suka berbohong dan menjelekkan orang lain.”

“Ani, Sooji itu yeoja yang manis. Terlalu manis malah, dia selalu tersenyum. Maka dari itu banyak yang beranggapan dia tebar pesona padahal tidak.”

Hoya mengerutkan dahinya. Senyum? Yeoja itu bahkan memasang wajah datar dan tidak ada senyum sama sekali di bibirnya. Matanya saja terlihat bosan menatap orang-orang di sekelilingnya.

Hoya mengikuti gerombolan Sooji berjalan menuju kafetaria kampus. Sepanjang perjalanan, Hoya menyaksikan bagaimana Sooji hanya tersenyum kecil kepada orang-orang yang menyapanya. Hoya jadi ragu apa Bae Sooji yang dia maksud dan Bae Sooji yang Myunngsoo dan Sungyeol maksudkan adalah orang yang sama.

Begitu sampai di kafetaria, Hoya memlilih duduk tepat di meja belakang gerombolan Sooji. Hoya memasang telinganya rapat-rapat berusaha menguping pembicaraan yang dia yakini semua adalah hoobaenya.

“Aku mau jus sirsak. Pesankan juga sandwich tuna dan crepes coklat untukku. Ah iya, aku tidak keberatan jika kau membelikanku egg roll.”

Mata Hoya seakan mau keluar begitu mendengar pesanan yang keluar dari bibir Sooji. Aigoo, Hoya benar-benar terkejut mendengar porsi makan Sooji. Hoya tersenyum. Sepertinya Bae Soojinya berbeda dengan Bae Sooji mantan Myungsoo.

“Kau tahu apa yang lebih menyebalkan? Dia kalau makan pilih-pilih sekali. Sok higinis! Bikin repot saja!”

Ketika tangan Sungyeol terangkat hendak memukul Myungsoo tangan Myungsoo sudah bergerak terlebih dahulu melindungi kepalanya.

“Apa? Aku tidak berbohong kali ini DAN berhenti memukulku, Lee Sungyeol!”

Sungyeol menghela nafas melihat kelakuan Myung kemudian menatao Hoya, “Tidak. Sooji bukan sok higinis tapi memang keluarganya sangat ketat mengenai makanan putri semata wayang mereka. Sooji lebih sering membawa bekal. Yah meskipun porsinya memang sangat sedikit. Sepertinya Sooji memang tidak terbiasa makan banyak.”

Hoya menopang dagunya dengan tanganyya, Memandangi Sooji yang berhadapan dengannya – meskipun berbeda meja. Wajahnya benar-benar seperti bidadari, meskipun terkesan agak dingin dan datar.

Brak

Hoya sedikit terlonjak begitu melihat seorang yeoja yang menggebrak meja Sooji. Hoya melongo. Bukankah itu Park Jiyeon? Salah satu hoobae di jurusannya dan merupakan mahasiswi hits kampus.

“Yya Nona genit! Jangan sok kecantikan! Siapa yang mengizinkanmu mendekati Seungho oppa?”

Hoya memperhatikan bagaimana Sooji menatap Jiyeon dan bagaimana kedua teman Sooji yang sedang memesan makanan berlari secepatnya menghampiri Sooji.

Tunggu, apa kedua orang yang sedang berlari itu dua orang yang dikatakan Myungsoo sebagai bodyguard Sooji? Jika benar begitu berarti Sooji di depannya ini adalah Sooji mantan Myungsoo. Jika benar begitu berarti yeoja itu akan menangis. Tidak, lee Howon tidak bisa membiarkan Bae Sooji menangis.

Brak

Lagi-lagi Jiyeon memukul meja Sooji.

“Yya! Siapa yang mengizinkanmu menatapku. Kau tidak tahu sopan satun ya.”

Hoya hampir menjerit begitu melihat tangan Jiyeon yang bergerak hendak menampar Sooji. Namun teriakannya kembali tertelan begitu melihat Sooji yang menangkap tangan Jiyeon kemudian menatap yeoja itu dengan padangan meremehkan.

Hoya mengernyitkan dahinya bingung. Myungsoo dan Sungyeol bilang Sooji tidak bisa dibentak.

“Yya.. Lee Howon. Kuyakinkan dirimu untuk tidak pernah berurusan dengan Bae Sooji itu. Dia itu menyusahkan. Kau akan menyesal menyukainya. Dia itu cengeng dan manja sekali, aigoo. Kalau mengingatnya kupingku suka tiba-tiba berdenging.”

Sunyeol menggertakkan gigimya,”Yya, Kim Myungsoo! Kenapa kau seakan mengubah kepribadian Sooji. Kau jelas tahu dia tidak seburuk itu.”

Myungsoo mendengsu, “Molla. Di mataku dia seperti itu,”

Sungyeol menghela nafas kemudian meminum jusnya sebelum kembali menatap Hoya.

“Dia sensitive. Sooji itu yeoja yang sensitive. Dia tidak terbiasa dibentak. Dia bisa menangis jika ada seseorang yang membentaknya. Tapi bukan berarti dia manja dan cengeng.”

Hoya mengingat dengan jelas ucapan Myungsoo dan Sungyeol. Namun, yang berada di hadapannya kini adalah seorang Bae Sooji yang mencengkram tangan Park Jiyeon dengan tatapan mata meremehkan.

Sooji memandang Jiyeon sinis dan bahkan Hoya dapat merasakan kemarahan gadis itu. Benar-benar luar biasa.

“Yya! Jaga ucapanmu, sunbaenim. Aku bahkan tidak tahu yang mana Seho-“

“Seungho” Koreksi salah satu teman Sooji.

Sooji berdeham kecil, “Maksudku Seungho oppamu itu yang mana. Geokjongma.”

Selesai berkata begitu, Sooji melepaskan genggamannya kemudia berjalan melewati kerumunan.

“Yya, Sulli-ah, Soojung-ah. Selera makanku hilang. Kajja, kita ke kelas saja.”

Hoya memperhatikan bagaimana kedua yeoja yang dipanggil Sulli dan Soojung itu menatap Jiyeon prihatin. Kedua yeoja itu juga sedikit membungkuk memohon maaf pada kerumunan karena membuat keributan.

Lagi-lagi Hoya mengernyitkan dahinya.

“Tapi Howon-ah, kelakuan Sooji belum ada apa-apanya jika dibandingkan kedua temannya. Kedua temannya itu seperti satwa liar. Cerewet dan bar-bar. Benar-benar mengesalkan.”

Sungyeol tertawa mendengar penuturan Myungsoo. Tentu saja Myungsoo tidak akan melupaka perlakuan kedua teman Sooji itu pada dirinya. Myungsoo nyaris tak berbentuk akibat amukan kedua yeoja teman Sooji itu. Semua dilakukan karena Myungsoo memutuskan Sooji tanpa sebab.

“Myungsoo benar Howon-ah. Jika kau serius mendekati Sooji, kau juga harus menaklukan kedua temannya. Mereka bertindak seperti bodyguard Sooji. Mereka selalu melindungi Sooji. Jika ada yang mencari masalah dengan Sooji maka mereka yang akan maju meskipun Sooji sendiri tidak memintanya. Bahkan terkadang Sooji harus meminta maaf lagi pada orang-orang akibat kelakuan kedua temannya itu.”

“Dan yang lebih menggelikan adalah mereka selalu bersama! Bayangkan! Seorang putri manja cengeng dan dua pengawalnya yang hobi ikut campur! Bagaimana bisa aku berpacaran dengan tenang kalau begitu.”

Plak

“Yya! Kubilang berhenti memukulku!”

Myungsoo dan Sungyeol bilang yang bar-bar dan suka mencari ribut adalah kedua bodyguard Sooji. Kedua bodyguard itu juga yang melindungi Sooji tapi kenapa kelihatannya malah terbalik? Sepertinya Myungsoo dan Sungyeol meberinya info yang salah. Satu kesimpulan yang dapat Hoya Tarik: Bae Sooji bidadarinya adalah yeoja yang berbeda dengan mantan Myungsoo.

“Myung! Yeol!” Seru Hoya riang. Dengan langkah cepat didatanginya kedua temannya yang sedang duduk berdampingan itu.

“Mereka berbeda!”

Myungsoo mengernyitkan dahinya bingung.

“Siapa yang berbeda?”

“Bidadariku dan mantanmu!”

Myungsoo terbatuk.”Yya, memangnya penting ya mereka sama atau berbeda?”

“Tentu saja penting. Aku tidak enak jika harus mendekati mantanmu, Myung!”

“Sudah kubilang aku sudah tidak memiliki rasa padanya!”

“Eeey, jangan kesal begitu. Sudah kubilang mereka orang yang berbeda.”

Sungyeol menatap Hoya heran. Hoya yang menyadari tatapan Sungyeol mengangkat alisnya, “Wae?”

“Mereka orang yang sama.”

Ani. Mereka berbeda.”

“Mereka sama Lee Howon. Hanya ada satu Sooji di jurusan kita dan aku baru saja melihatnya pagi ini dan aku juga tahu bahwa yeoja itu adalah mantannya Myungsoo.”

“Tapi mereka berbeda Yeol-ah!”

“Mereka sam-“

“Mereka berbeda, aku sudah memastikannya sendiri. Sifat bidadariku jauh berbeda dengan sifat mantannya Myungsoo.”

“Mereka sam-“

“Kalau begitu ayo kita tanyakan langsung.” Ucap Hoya cepat.

“Bae Sooji-shi!” seru Hoya lagi.

Ne?”

Suara seorang yeoja yang sangat Myungsoo terdengar tepat dari belakang Myungsoo membuat Myungsoo menegang dan mendadak kaku sedangkan Sungyeol merasa tiba-tiba merinding, tahu bahwa posisinya juga tidak aman.

“Kau kenal namja ini?”

Sooji yang hanya melihat bagian punggung Myungsoo dan Sungyeol mengernyitkan dahinya.

Nuguseyo, sunbaenim?”

Hoya tersenyum penuh kemenangan.

“Tuh kan Myung. Mereka berbeda. Buktinya dia tidak mengenalimu.”

Entah Hoya bodoh atau sangat bodoh sehingga tidak menyadari bahwa Sooji tidak melihat wajah Myungsoo, tentu saja Sooji tidak mengenalinya dari belakang.

Sungyeol tiba-tiba bangkit dari kursinya. “Aku duluan teman-teman! Harus bertemu dengan Professor Kim untk bimbingan secepatnya.”

Sebelum dijawab oleh Myungsoo ataupun Hoya, Sungyeol sudah melesat bahkan tanpa menoleh ke belakang sekali saja. Myungsoo mengutuk dalam hati, mengerti bahwa yang dimaksud dengan bertemu Professor Kim secepatnya adalah alasan untuk kabur dari amukan dua ani tiga yeoja yang kini berada di belakangnya.

“Oh, geurae. Semangat bimbingannya!” Dan seruan bodoh Hoya semakin membuat Myungsoo frustasi.

Hoya kembali menatap Sooji. “Kau tidak mengenalinya?”

Sooji kembali mengernyitkan dahinya, tidak mengerti dengan ucapan Hoya. “Memangnya aku harusnya mengenalnya, sunbaenim?”

Suara Sooji yang dingin berhasil membuat bulir-bulir keringat dingin muncul di dahi Myungsoo.

Nuguseyo?” Kali ini suara yeoja lainnya yang myungsoo yakini adalah suara Soojung. Bodyguard nomer wahid Sooji. Yeoja yang nyaris mematahkan hidungnya dua tahun lalu.

Myungsoo memberi kode pada Hoya agar mengehentikan pembicaraan bodoh ini dan menjauhkan Sooji dan bodyguardnya dari belakangnya. Namun sepertinya Hoya tidak menagkap kode yang diberikan Myungsoo.

“Ini temanku, Sooji-shi, Kim Myungsoo. Dia juga satu jurusan dengan kita tapi berbeda konsentrasi.

“Kim Myungsoo?”

Ne, Kim Myungsoo. Dia berkata bahwa mantannya dulu bernama Bae Sooji dan aku sempat mengira kau orangnya.”

Sooji mengamati punggung yang ada di depannya kemudian tersenyum kecil. Sooji akhirnya mengenali punggung namja di depannya itu. Kim Myungsoo.

“Ahh, jinjja?”

Myungsoo dapat merasakan suara Sooji yang tiba-tiba semakin mendingin dan tajam.

Ne, Sooji-shi. Tapi ternyata kalian orang yang berbeda.”

“Bagaimana sunbaenim tahu Bae Sooji ini dan mantannya Myungsoo sunbaenim adalah orang yang berbeda?”

Kali ini suara Sulli dan Myungsoo yakin Sulli menekankan kata Myungsoo sunbaenim. Myungsoo menelan salivanya dengan susah payah. Lindungi aku Tuhan.

“Karena sifat kalian berbeda.”

“aah geurae?”

“Ne. Sifat kalian terlalu berbeda, Myungsoo menceritakan padaku sifat mantannya dulu dan sifatnya itu jelas berbeda denganmu Sooji-shi”

“Memangnya sifat mantannya yang diceritakan oleh Myungsoo sunbaenim seperti apa?”

Suara Sooji. Dan Myungsoo merasakan nyawanya semakin terancam.

“Myungsoo bilang mantannya itu cerewet dan hobi tebar pesona.”

“Tebar pesona?”

“Iya, Myungsoo bilang mantannya itu terlalu sering tersenyum”

Geurae? Apalagi sunbaenim?”

“hmmm, Myungsoo bilang mantannya itu sok higinis.”

“Sok higinis?!” Pekik Sulli.

Ne, Myungsoo bilang sifatnya itu menyusahkan.”

“Selain itu, sunbaenim?”

“Myungsoo juga bilang mantannya itu manja dan cengeng. Merepotkan. Tapi katanya mantannya itu belum ada apa-apanya dibandingkan kedua bodyguardnya.”

Bodyguard?” Kali ini giliran Soojung yang memekik histeris.

Hoya mengangguk, “Bodyguard. Myungsoo bilang kedua bodyguardnya itu yeoja bar-bar.”

“Bar-bar?” Soojung dan Sulli berteriak bersamaan kali ini teriakan mereka benar-benar menyita perhatian kafetaria kampus.

Aigoo, reaksi kalian berlebihan sekali. Itu bukan kalian kan.”

Sooji berusaha menahan tawanya mendengar kedua sahabatnya disebut bar-bar.

“Tapi ada satu hal yang menbuatku yakin kau bukan mantannya Myungsoo, Bae Sooji-shi.”

“Apa itu sunbaenim?”

“Oplas.”

Mata Sooji melotot mendengar ucapa Hoya.

Mwo? Oplas

“Iya, oplas. Myungsoo bilang mantannya itu cantik karena operasi plas-“

“Yya! Kim Myungsoo. Bicara apa kau soal wajahku?!”

Hoya bergidik ketika dilihatnya Sooji sedang menarik rambut Myungsoo dari belakang dan membuat namja itu berdiri dan menghadap ke arah Sooji.

“Yya! Habis kau di tanganku! Aku? Oplas? Yya! Kau mau ku cincang?”

Myungsoo berhengit begitu merasakan rambutnya ditarik dari belakang. Myungsoo tidak menyangka Sooji kini sudah tertular virus kedua bodyguardnya, menjadi bar-bar. Myungsoo sudah bersiap akan menerima omela ataupun pukulan tapi bukan dari Sooji. Sikap Sooji yang speerti ini tentu saja membuatnya shock.

“Ampun, Sooji-ah. Aaaa. Appo, mianhae, mian. Kau cantik dan aku tahu itu wajah aslimu dan bukan hasil oplas. Jebal, berhenti menarik rambutku. Aaaa appo. Kenapa kau jadi kasar begini, Sooji-ah..

Sooji melepaskan pegangannya pada rambut Myungsoo kemudian bersedekap.

“Yya! Apa yang kau bicarakan pada Hoya sunbaenim? Kau menjelek-jelekkanku, hah?”

“Aku tidak-“

Plak

Pipi kanan Myungsoo dipertemukan dengan tangan Sooji dengan kencang.

“Ini untuk menyebutku hobi tebar pesona dan sok higinis.”

Plak

Kali ini giliran pipi kiri Myungsoo yang terkena amarah Sooji.

“Ini karena menyebutku manja, cengeng, dan oplas.”

Bugh

Sooji menendang selankangan Myungsoo membuat Myungsoo spontan menekuk lututnya dan menjatuhkan dirinya ke lantai.

“Ini karena memutuskanku tanpa alasan yang jelas.”

Sooji mengatur nafasnya kemudian tersenyum kecil, “Aigoo, harusnya aku melakukan ini sejak dulu, saat kau memutuskanku tanpa sebab.”

Sooji memalingkan wajahnya dan menatap Hoya yang sedang menatapnya ketakutan. Senyum cantik tecetak di bibir merahnya. Dengan santai dilangkahkan kakinya mendekati Hoya kemudian ditepuknya singkat pundak namja itu,

Annyeong, sunbaenim. Aku ke kelas dulu. Terimakasih informasinya.”

Sooji kemudian menolehkan wajahnya pada kedua temannya yang masih saja tertawa menatapi Myungsoo yang masih mengaduh.

Kajja, Soojung-ah, Sulli-ah”

Sooji melangkah meninggalkan Myungsoo yang masih berlutut dan mengaduh, Soojung dan Sulli yang masih tertawa, dan  Hoya yag masih melongo bingung dan kerumunan yang menonton aksi ‘heroic’ Sooji.

Aigoo. Malang sekali nasibmu, sunbaenim.” Ucap Soojung sambil mengelap sudut matanya yang berair karena tawa yang tak kunjung berhenti.

Sulli terkekeh, “Kali ini kau kami maafkan meskipun telah menyebut kami bar-bar,”

Sulli berjongkok dan menepuk pundak Myungsoo pelan, “Semoga lekas sembuh, sunbaenim,”

Dengan itu duo bar-bar itu meninggalkan Myungsoo yang belum melepaskan pegangannya dari selangkangannya.

Hoya yang merasa telah aman dari bahaya dan telah tersadar dari kebodohannya mendekati Myungsoo.

“Yya, Myung, neo gwenchana?”

Yya, Lee Howon! Kucincang kau nanti!”

Hoya menelan ludahnya. Ya ini memang salahnya dan salah mulutnya Myungsoo jadi seperti ini.

Mianhae, Myung! Kau bisa jalankan?”

“AAA, oemma, manhi appo!”

FIN

—-

Annyeong! Aku bawain oneshot lagi kali ini.

Aku gatau ini genrenya apa, comedy kah?

Apapun itu semoga terhibur yaaaa

Comment juseyo supaya tulisan aku jadi lebih baik hehe.

Gomawo “3

 

42 responses to “[OS] EX

  1. Pingback: EX | Splashed Colors & Scattered Words·

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s