END (6/)

end-mybabysuzy-copy

END

BAE SOOJI | KIM MYUNGSOO

KANG SORA

SAD. HURT. MARRIED LIFE

Poster by rosaliaocha@ochadreamstories
Story by mybabysuzy

*********************************************************

Myungsoo menghembuskan nafasnya kasar sembari mendudukan dirinya di atas ranjang miliknya. Dengan kasar pria itu mengulurkan tanganya untuk mengusap wajah tampannya. Sekali lagi pria itu menghembuskan nafasnya sekasar mungkin. Pria itu lelah setelah menghabiskan tenanganya untuk berdebat dengan Sooji.

Myungsoo masih ingat dengan jelas kejadian satu jam yang lalu. Dirinya dan Sooji bertengkar karena permintaan Sooji untuknya melepasnya. Myungsoo jelas tidak mengizinkannya, bagaimana pun hatinya tetap menyalahkan Sooji atas kematian Soojung. Hatinya terus menyangkal dan terus berlari dari kenyataaan. Tetapi, satu hal yang membuat Myungsoo terkejut. Wanita itu, Sooji…

FLASHBACK

“Ne, oppa. Aku ingin mengakhiri hubungan ini, aku sudah lelah, oppa.”

Nampak Myungsoo membulatkan kedua maniak hitam yang tajam miliknya. Apa kata wanita ini? Bercerai? Atas hak apa wanita ini mengajaknya untuk bercerai? Bukankah sudah ia peringatkan bahwa dirinya takkan pernah melepaskan wanita itu dari nerakanya?!

“Mwo? Kau lupa bahwa kau yang menghancurkan hidupku, Sooji-ssi?”

Sooji nampak begitu tenang. Senyum manisnya terulaskan begitu cantik, membuat wajahnya tampak berseri seperti bidadari. Sementara itu, sang suami hanya menatapnya tajam.

“Jika memang itu salahku, apa tidak cukup semua penderitaan yang kurasakan sebagai balasan perbuataanku terhadapmu, oppa? Aku juga ingin merasakan kebahagaian meski tanpa-mu dan bukan disamping-mu. Apa belum cukup aku menderita seperti ini?”

Tidak. Jika Sooji berharap pria ini akan dnegan mudahnya mengizinkannya dan memberinya belas kasihan, Myungsoo terlihat sangat marah. Kilat kemarahan dan kebencian terpancar begitu jelas di kedua maniak hitamnya. Pria itu bangkit dari duduknya dan menggebrak meja makan miliknya.

“Ck, kau pikir itu cukup karena kau yang membuat Soojung meninggal, eoh?! Kau pikir itu cukup untuk membalasmu yang membuat oksigenku meninggalkan diriku, eoh?! Kau pikir semua itu cukup?!”

Sooji terperanjat, tangannya mengepal dengan kuat. Tidak. Soojung meninggal bukan kesalahannya, melainkan kesalahan lelaki itu yang mencoba terus untuk mengelak kenyataan. Bukan. Bukan salahnya. Jelas bukan kesalahannya atas kejadian itu, karena Myungsoo-lah yang memulainya. Bukan salah sooji!

“Oppa! Sadarlah! Kaulah yang membuatnya meninggal, Myungsoo! Kaulah yang memulainya waktu itu! aku hanya seorang gadis yang tak tahu apa- apa dan pasrah menerima semua perbuatanmu! Bukan salahku! Seharusnya kau jangan berlari dari kenyataan, Tuan KIM!”

Amarah Myungsoo semakin memuncak. Dengan kesal pria itu menarik paksa lengan Sooji dan mendorong Sooji hingga suara ringisan dari bibir Sooji terdengar. Sooji merasakan nyeri di daerah punggungnya. Myungsoo mendorongnya begitu kasar!

“Mwo? Mworago? ULangi perkataanmu, Bae Sooji!”

Sooji semakin mengepalkan kedua tangannya. Rencana awalnya untuk berbicara dengan Myungsoo secara baik- baik lenyap begitu saja. Emosinya telah terpancing yang selama ini ia pendam. Tanpa merasa takut Sooji menatap balik kedua maniak Myungsoo yang menatapnya sangat tajam.

“JANGAN BERLARI DARI KENYATAAN, TUAN KIM! APA KAU DAPAT MENDEGARNYA DENGAN JELAS, EOH?!”

Sial. Myungsoo hampir saja terpental begitu Sooji mengeluarkan suara pekikan yang begitu keras. Selama ini wanita itu tidak pernah memekik hingga seperti itu. Well, sepertinya Sooji telah kehabisan kesabarannya.

“Berlari dari kenyataan katamu?! Ck, semua ini salahmu, nona! Bukan salahku! Seharusnya kau tidak pernah measuk kedalam kehidupanku! Semua ini salahmu! Seharusnya kau menolak perjodohan itu! SEMUA INI SALAHMU!”

Sooji terdiam. Benar. Seharusnya dirinya tidak pernah mencoba untuk masuk kembali ke dalam kehidupan Myungsoo. Ego-nya lah yang membuatb=nya terjebak dalam jurang ini. Tetapi, apa Sooji tidka perlu berusaha untuk mendapatkan cinta? Saat itu, Sooji juga tidak tahu menahu tentang kekasih Myungsoo sebelum menikah. Sooji tak tahu menahu. Apa semua ini salahnya?

“Kau sadar sekarang?! Ck!”

Sooji tertunduk. Tubuhnya bergetar menahan cairan bening yang siap untuk membanjiri pipinya. Jika semua ini salahnya…. Apa semua penderitaan itu belum cukup? Orang yang ia sayangi telah pergi meninggalkannya seorang diri,.. apa itu belum cukup? Seharusnya jika Myungsoo adalah seorang manusia, setidaknya pria itu akan mengasihaninya meski hanya sedikit. Mengapa dirinya bisa mencintai sosok iblis seperti Myungsoo?

“N..nan.. aku tahu itu. Seharusnya aku tidak pernah memasuki ke dalam kehidupanmu, oppa. Seharusnya aku tidak pernah memiliki ambisi untuk membuatmu mengingatku lagi. Akulah yang menyebabkan semua ini dan membuat luka yang tersimapn didalam hatiku. Aku salah, arra.” Ujarnya pelan.

Myungsoo sontak tediam. Bukan.. bukan.. dia tidak kasihan mendnegar lirihan wanita itu. Tetapi apa katanya? Mencoba untuk membuatnya mengingatnya? Memangnya siapa wanita ini sebenarnya?

“Geundae, oppa. Tak bisakah kau melepaskan aku sekarang? Aku sudah sangat lelah saat ini. Semuanya terlalu menyakitkan untukku. Jika saja pria itu tak menyadarkanku dari aksi konyolku, mungkin aku akan bisa tenang bersama kedua orang tuaku di surga. Oppa, ayah dan ibuku akan sedih jika aku terus hidup seperti ini. Mereka tidak akan tenang disana, dan aku akan menyadi anak mereka yang bodoh, oppa.”

Sooji mengusap air matanya kasar. Lantas Sooji mendongakkan kepalanya, menatap memohon pria berambut hitam itu. Pria yang dicintainya, teramat dicintainya. Pria yang membuat hatinya berdetak cepat pertama kali. Pria ini…. Hanya pria inilah yang mampu membuatnya jatuh hati. Myungsoo, suaminya.

“Saat aku mengetahui bahwa orang tuaku akan menjodohkanmu denganku, aku sangat senang oppa. Akhirnya, aku bisa memilikimu seutuhnya, sang pahlawanku. Ah maaf, aku berbicara seperti ini kau juga tidak akan pernah mengingatku. Aku seharusnya sadar sejak awal hingga aku takkan tersakiti seperti ini.”

Soooji mengulum senyum tipisnya. Terlihat begitu miris dan menyedihkan, wanita ini terlihat begitu rapuh. Myungsoo jelas bisa melihat tatapan kesedihan yang terpancar dari sepasang maniak berwaena coklat itu. Hatinya hampir bergetar melihat kedua maniak Sooji yang begitu sendu. Wanita ini, meski selalu ia sakiti pada akhirnya hanya tersenyum manis kepadanya. Bersikap ceria dan mencoba untuk menjadi istri yang baik.

“Maaf, maafkan aku yang mementingkan egoku untuk memiliki-mu. Seharusnya, aku berpikir lebih bijak. Tapi, sungguh sebelum aku menikah denganmu aku tak tahu menahu tentang kekasihmu, Soojung. Jika saja aku mengathuinya lebih awal, aku akan membuang egoku ini. Maaf, maaf karena membuat seseorang yang teramat kau cintai meninggalkanmu. Mungkin memang benar jika aku pantas mendapatkan semua ini, tetapi bisakah kau membuatku terlepas dari luka ini, oppa? Aku mohon….”

Myungsoo, pria ini hanya terdiam. Lidahnya terlalu kelu. Wanita ini terlihat begitu menyedihkan dan membuatnya iba. Tetapi, satu hal yang mengusik pikiranya. Sebenarnya siapa wanita ini? Pahlawan? Astaga, apa ia pernah berbuat sebaik apa hingga dia menyebutkan dirinya pahlawan? Siapa wanita ini?

“Pahlawan? Kau siapa sebenarnya?”

*********************************

Sooji tersenyum hangat begitu melihat Sora yang tengah tersenyum hangat kepadanya dari kejauhan. Setelah mengakhiri perdebatannya dengan suaminya, Sooji memutuskan untuk menjemput Sora di bandara. Hari ini, Sora telah kembali dari seminarnya di luar negeri.

“Eonnie, bogosippeo!”

Sooji sontak berlari kecil menghampiri Sora, kemudian memeluk erat tubuh Sora. Senyum Sora mengembang melihat Sooji yang memeluk tubuhnya dengan erat. Sooji sangat menggemaskan menurutnya, meski umur wanita itu sudah cukup matang. Tetapi, tingkah Sooji terlihat seperti anak SD. Sangat menggemaskan.

“Omo, sebegitu rindunya-kah kau kepadaku, hm?”

Sooji hanya mengangguk sembari tersenyum ketika melepaskan pelukannya. Memang itu kenyatannya, Soooji sangat merindukan sosok Sora yang selalu menaminya kapan-pun. Sooji akan menarik ucapannya bahwa dia membenci sikap over Sora, Sooji sadar dia membutuhkan perhatian lebih Sora. Ah, masih banyak cerita yang harus Sooji sebar luaskan kepada Sora.

“Kajja, eonnie. Ah, kita mampir ke café disebrang sana dulu ya.”

Sora hanya mengangguk menanggapi permintaan Sooji. Setelah itu Sora hanya membiarkan Sooji yang membawa koper besar miliknya. Namun, Sora hampir saja tertawa begitu melihat Sooji yang melangkah ringan menabrak tubuh seseorang dan membuat Sooji limbung dan terjatuh.

“Aish, appo. Eooniie bantu aku berdiri.”

Sora hanya mengangguk kemudian membantu Sooji untuk berdiri. Sooji masih tisak sadar siapa orang orang yang ditabraknya itu. Namun, beberapa detik kemudian kedua bola mata Sooji melebar melihat sosok yang ditabrkanya itu.

“Annyeong, Sooji-ya!”

Senyum Sooji seketika mengembang, kemudian beranjak dari duduknya dan memeluk seklias pria yang ditabrkannya. Sora yang melihatnya hanya melongo tak percaya. Hei, siapa pria ini? Mengapa begitu akrab dengan Sooji?

“Ahya, Jongsuk oppa perkenalkan ini Sora eonnnie. Bisa dikatakan dia seperti kakak kandungku. Sora eonnie, perkenalkan ini Jongsuk oppa. Seseorang yang aku kenal, begitulah.”

Sora dan Jongsuk kemudian berjabat tangan dan mengumbar sneyum ramah mereka. Sepertinya Jongsuk mengerti mengapa Sooji memperkenalkannya begitu, pasti Sooji tidak ingin bahwa Sora mengetahui hal konyol yang ia lakukan.

“Ah, bagaimana jika kita pergi ke café dan berbincang sejenak? Kau tidak sedang sibuk kan, oppa?”

Jongsuk tersenyum simpul kemudian menggeleng sebagai jawaban darinya, kemudian ia mengacak gemas rambut Soooji. Sementara Sooji hanya mengerucutkan bibirnya kesal karena rambutnya dibuat berantakan oleh Jongsuk. Jangan heran, semalam mereka telah bercerita satu sama lain dan menjadi dekat seperti ini.

“Assa, kajja oppa, eonnie!”

Sooji kemudian berjalan senang yang kemudian diikuti oleh Jongsuk dan Sora yang menggelengkan kepalanya melihat tingkah Sooji,

************************

“Jadi, kau sudah memutuskannya?”

Sooji mengendus senyum tipisnya sebagai jawaban atas pertanyaan yang Jongsuk lemparkan untuknya. Sejujurnya Sooji menyadari tatapan heran yang tersirat jelas di kedua maniak milik Sora, tetapi Sooji sengaja hiraukan. Ya, Sooji belum menceritakan perihal keputusannya mengenai kehidupan di masa depannya kelak.

“Apa maksudmu, Sooji?” Ujar Sora.

Well, sepertinya ini saat yang tepat bagi Sooji untuk sedikit mengerjai Sora. Setidaknya hal itu bisa membuat kegundahannya sedikit menipis, meski tak sepenuhnya menghilang. Bersama kedua makhluk adam yang di sayaanginya membuat hati Sooji sedikit lebih tenang. Meski baru kemarin malam bertemu dengan Jongsuk, hatinya tidak dapat membohongi diri Sooji. Sooji nyaman dan sayang kepada Jongsuk, terlebih rasa percayanya kepada Jongsuk untuk menceritkan segudang penderitannya.

“Yah, mengenai sesuatu hal, begitulah. Eonnie tak perlu tahu, bukankah ini rahasia kita, oppa?”

Jongsuk mengangguk seraya tersenyum simpul. Rasanya melegakan melihat Sooji- wanita yang baru dikenalnya- tersenyum cerah dan ceria seperti ini. Entah apa alasan pastinya, Jongsuk merasa seperti menemukan sosok adik perempuan yang memang selama ini ia harapkan. Tunggu, adik? Mungkin lebih.

“Majayeo, Sora-ssi kau tidak perlu tahu.” Kekeh Jongsuk.

Kedua maniak hitam milik Sora membulat seraya amarahnya yang mulai terpancing. Hei, hei! Sejak kapan sebenarnya mereka dekat?! Mengapa kompak sekali sepasang makhluk adam ini untuk mengerjainya?!

“Yya! Kenapa kalian mengerjaiku, eoh?!”

Sooji dan Jongsuk sontak tertawa lepas, membuat Sora merenggut kesal karena ulah keduanya. Sora tak habis pikir bagiamna bisa Sooji sekompak itu dengan pria berbibir tebal itu. Tunggu, sepertinya Sora harus menarik perkataannya. Well, harus Sora akui meski tebal tetapi kesan seksi di bibir ranum itu tidak hilang sedikit pun.

“Calm, eonnie. Hanya memutuskan untuk masa depanku. Yah, aku telah memutuskan untuk membuka lembaran baru. Begitulah.”

*********************************

“Sajangnim?”

Kedua maniak Myungsoo yang tertutup oleh sepasang kelopak perlahan terbuka, membuat pria itu bisa melihat dengan jelas sosok wanita yang bertugas menjadi sekertarisnya. Sejenak pria itu menghembuskan nafasnya kasar. Jujur saja, perkataan Sooji membuat tenaganya terkuras habis karena memikirkan teka- teki itu.

“Mwo?”

Sang sekertaris bukannya menjawab memilih untuk meletakkan sebuah plastic bening berukuran besar yang berisi beberapa benda. Pria itu mengeryit, apa isinya? Dan milik siapa plastic itu memang?

“Ini beberapa benda yang Tuan Bae dan Nyonya Bae tinggalkan sebelum mereka meninggal. Maksud saya, saat itu anda menyuruh saya untuk menyimpan ini sementara waktu. Dan sudah saatnya saya kembalikan kepada anda, sajangnim.”

Myungsoo menganggukkan kepalanya beberapa kali. Sekarang Myungsoo ingat isi dan pemilik benda- benda tersebut. Ya, pihak rumah sakit-lah yang memberinya benda- benda yang dibawa oleh sepasang suami istri yang terenggut nyawanya dalam kecelakaan pesawat itu.

“Kau boleh pergi.”

“Ye, sajangnim.”

*****************************

Sepasang kaki jenjang itu berhenti tepat di sebuah pintu yang tercetak ‘VIP’, setalah sepasang kaki jenjang itu ikut meramaikan lorong –lorong panjang yang disediakan gedung yang dikunjunginya itu.

Sejenak, Sooji menarik nafasnya dalam- dalam sebelum menghembuskannya kembali. Berusaha untuk mengurangi keraguan dan kegugupan yang malanda dirinya. Ya, menurut Sooji, apa yang akan dilakukannya ini merupakan salah satu dari sekian banyak hal yang membuatnya sangat ragu.

‘Srek’

Sooji menggeser pintu berwarna coklat itu. Wanita itu bernafas lega begitu melihat sosok wanita yang tengah memejamkan matanya. Setidaknya, jika wanita itu tertidur dirinya tidak perlu melihat raut wajah yang

“Eommeonim, annyeong.”

Sooji tersenyum tipis. Melihat wajah tenang sang ibu mertuanya membuat dirinya teringat akan wajah lembut ibunya yang telah meninggalkannya itu. Ibunya yang selalu memberikan kasih sayang kepadanya, ibunya yang selalu merawatnya dengan baik. Ibunya yang amat Sooji cintai. Sosok ibu yang selalu Sooji rindukkan.

“Maaf, maaf jika aku membuat keputusan ini, eommeonim. Aku sudah lelah dengan semua ini. Sekeras apapun usahaku untuk membuat Myungsoo oppa mencintaiku, aku tidak akan berhasil… Yang dilihatnya adalah Sooji sosok pembawa sial, Sooji sosok yang ia benci… yah, terdengar menyedihkan memang. Tetapi… aku cukup senang bisa menamaninya selama dua tahun ini… terimah kasih telah memberikan kesempatan berharga itu untukku, eommeonim.”

Sejenak… Sooji menarik nafasnya dalam… Sekuat tenaga Sooji menahan air mata yang sudah bersiap membasahi kedua pipinya… tidak! Sooji tidak boleh manangis meski sang mertuanya tengah tertidur. Bisa saja isakan bodohnya itu membuat ibu mertuanya itu terbangun dan membuat kondisinya menjadi rumit. Sooji tidak mampu mengeluarkan semua kesahnya jika ibu mertuanya terbangun. Sooji takkan mampu.

“Ani, bukan Myungsoo oppa yang harusnya disalahkan atas semua ini. Bukankah semua ini kesalahanku? Geutchi? Seharusnya aku tidak terobsesi dengan pernikahan hanya karena rasa cintaku ini. Bukankah aku begitu bodoh? Jika saja aku tidak memisahkan Myungsoo oppa dengan wanita yang ia cintai, mungkin luka ini takkan kudapatkan. Aku sangat bodoh, bukan?”

Bodoh. Sooji terlihat sangat bodoh sekarang. Di samping gelak tawanya yang memecahkan keheningan di ruangan itu, setetes demi setetes air mata mulai berjatuhan membahasahi kedua pipi tirus milik Sooji. Bodoh. Bahkan isak tangis kecil itu mulai terdengar.

“Ah.. maafkan aku menjadi menantu yang cengeng seperti ini, eommoenim. Maafkan aku juga yang telah membuat putramu terluka dan tertimpa takdir buruk karenaku. Maaf.. maafkan aku yang terlalu egois…. Maafkan aku yang terlalu bodoh… maafkan aku yang tak mampu menjaga anakku dengan baik… maafkan aku…. Dan sampaikan maaf ini kepada ahbeonim, eommoenim. Maaf… Maafkan aku… Mianhae…”

Sebuah kata maaflah yang mengakhiri keluh kesah wanita itu, Sooji. Setelah mengatakan semuanya, Sooji berbalik… mengakhiri semuanya yang telah terjadi…. Meninggalkan ruangan tersebut. Tanpa menyadari kedua mata sayu itu terbuka, tanpa menyadari ada sosok ayah mertuanya yang termenung di dalam kamar mandi ruangan tersebut,

Ya, mereka mendengarnya dengan jelas. Semua luka yang Sooji miliki selama ini.

*************************************

“Myungsoo-ssi..”

Sooji menyerukan nama pria itu begitu dilihatnya sosok suaminya melangkah memasuki area ruang tamu. Senyum Sooji terdengus tipis melihat sepasang maniak milik Myungsoo yang menatapnya tajam. Entahlah, Sooji tak mengerti arti tatapan yang selalu diberikan untuknya itu. Tapi, Sooji yakin akan satu hal. Suami yang sangat dicintainya memiliki rasa benci yang begitu besar kepadanya.

“Ada yang ingin aku bicarakan, Myungsoo-ssi. Duduklah.”

Sejenak Myungsoo mendengus, maniak hitam miliknya yang setajam elang itu menatap sepasang maniak coklat milik Sooji yang menatapnya teduh. Sepasang mata yang selalu menatap lembutnya dua tahun belakangan ini.

“Mwo?”

Myungsoo berucap dingin seraya mendudukkan dirinya di samping Sooji yang telah mendudukan dirinya di sofa panjang berwarna merah itu. Sooji hanya mengulum senyum tipisnya mendengar nada dingin yang terlontar dari bibir milik pria itu.

“Aku hanya ingin memberikan ini.”

Sekali lagi senyum tulus tercipta di wajah cantik milik Sooji, tangan kananya terulur memberikan sebuah map berwarna coklat yang akan menjadi bukti dari akhir cerita cinta mereka. Ralat, cintanya yang hanya dipandang sebelah mata oleh suaminya. Ya, sebuah surat cerai terdapat di map tersebut.

“Apa ini?”

“Tentu saja, surat cerai kita. Kau bisa menandatanganinya disini.”

Sejenak… hanya sejenak, Myungsoo tertegun. Pria itu pikir Sooji hanya bermain kata dengannya, atau setidaknya pernikahan ini berakhir tidak secepat ini. Tidak! Myungsoo bukan tidak ingin kehilangan istrinya itu, ya.. menurutnya semua ini terlalu terburu- buru dan cepat.

“Sooji-ssi, bukankah aku harus menyetujuinya terlebih dahulu?”

Sekali lagi, senyum manis yang membuat wajah Sooji semakin terlihat cantik itu terulas. Namun, Myungsoo dapat melihatnya dengan jelas. Senyum manis yang Sooji ulaskan menyimpan luka yang berusaha wanita itu tutupi.

“Setuju atau tidak, aku akan tetap mengakhiri pernikahan ini. Aku sudah lelah, Myungsoo-ssi. Lagipula pernikahan ini hanya dijalani oleh satu pihak, yaitu aku. Bukankah selama ini kau tidak pernah mengakui keberadaa pernikahan ini?”

Sekali lagi, pria bermata tajam itu tertegun. Sooji benar. Selama ini dirinya tak pernah mengakui adanya pernikahan yang terjalin dua tahun ini. Selama ini dirinya memperlakukan Sooji layaknya seorang pelacur. Jadi, bukankah benar jika perceraian ini tidak membuatuhkan persetujuannya?

“Baiklah.”

***************************

Seminggu sudah sebuah pernikahan yang selalu menjadi impian Sooji telah hancur di meja hijau. Sebuah pernikahan yang menjadi pondasi dari kesedihan yang melanda hidup Sooji dua tahun belakangan ini. Meski Sooji tak yakin kebahagian akan menimpanya setelah ia mengambil keputusan ini, tetapi.. setidaknya diriniya telah terlepas dari dunia kelamnya.

Ya… Sooji harus melupakan semuanya. Melupakan segala luka yang Myungsoo ciptakan untuknya, melupakan cintanya yang entah kapan bisa menghilang dari lubuk hatinya, melupakan pria yang ia cintainya. Sooji harus bisa. Bagaiamana pun caranya, Sooji harus mampu membuka lebaran baru hidupnya.

Meski sulit untuk membuka hatinya kembali untuk pria lain, atau bahkan pada akhirnya hatinya tak mampu berpaling kepada pria lain. Tetapi, baginya hidup sendiri tanpa pendamping bukanlah masalah untuknya. Ya, setidaknya jika Sooji hidup sendirian, tidak akan mampu yang membuat luka baru dihatinya.

“Are u ready?”

“Sure, sir.”

********************************

Sebelumnya aku mau mengucapkan beribu kataa maaf karena telah terlalu lama gak update!!!! MAafkan aku ya readersss…. semenjak aku masuk SMK terlebih jurusan akuntansi, aku dilimpahkan dengan berbagai macam tugas yang bikin kepala aku mumeet… maaf yaaa… dan untuk chapter selanjutnya aku gak tau bakal kapan bisa post… maaf yaaa readersss. jongmal mianhaeeee:( Dan maaf kalo kurang memuaskan karena ada beberapa adegan yang aku paksa:(

  1. Jangan lupa comment dan likenya ya, j!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KAN

Advertisements

53 responses to “END (6/)

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s