[Freelance] Eotthokkae? 1/3

Poster Eotthokkae by Drani

Title : Eotthokkae? | Author : kawaiine | Genre : Family, Romance | Rating : PG-17 Main Cast: Bae Soo Ji, Kim Myungsoo | Other Cast : Park Jiyeon, Nam Woohyun, Lee Jong Suk, Son Na Eun, Lee Min Ho, eTc

“Hello, I’m back with new ff, kkk… sorry for typos and bad poster… don’t be a siders and plagiator, happy reading^^”

***

Author POV

Pagi hari di Seoul sangat—sangat cerah sekali. Ini masih terbilang pagi untuk beraktivitas, namun masyarakat pengguna jalan raya telah memadati kota Seoul. Ya, ini adalah tahun ajaran baru. Tahun dimana para murid memasuki sekolah barunya, atau murid yang naik tingkat dan meneruskan pendidikannya. Seorang gadis muda—mungkin, dengan tangannya menyingkirkan halus tangan yang memeluknya sedari tadi malam. Ia menuruni ranjang lalu mengambil handuk miliknya. Gadis ini, dengan rambut bergelombang panjang yang di milikinya, mata indah yang selalu menjadi peneduh bagi siapapun yang melihatnya, ya—siapa yang tidak akan jatuh cinta jika melihatnya. 10 menit kemudian ia keluar dari kamar mandi di kamarnya—tidak, ini kamar ibunya. Ia melangkahkan kakinya menuju kamar miliknya. Semalam tadi—ibunya memaksa ingin tidur dengannya, sehingga dengan terpaksa ia tidur di kamar ibunya.

Gadis ini membuka lemari berwarna pastel miliknya, ia meraih seragam sekolahnya yang hanya terdiri dari kemeja dan rok—ini memang pakaian sekolah yang di desain khusus untuk musim panas. Dengan cepat ia melekatkan pakaian sekolah di tubuhnya. Kini ia terduduk di hadapan meja rias, wajahnya terlihat samar karena rambut yang sedikit menutupi wajahnya. Dengan jemari-jemari lentiknya, ia meraih sisir yang berbentuk boneka di ujungnya, dengan lembut ia merapikan helai demi helai rambutnya, seharusnya ini menjadi tugas seorang ibu yang mendampinginya. Tapi, ibunya masih terbelai dalam mimpi indahnya, ya—semenjak sekolah dasar ia memang anak yang mandiri. Jemari lentik gadis ini ini membenarkan posisi name tag yang tertera di seragam sekolahnya, lalu ia mengambil pita berwarna pink di atas meja riasnya lalu memasang pita tersebut di rambutnya. Dengan semangat ia menaikkan kepalanya, wajahnya kini terlihat dengan jelas—Lee Seoyeon.

Di  rumah yang terbilang mewah itu, dua orang namja tengah tertidur lelap, mereka menghiraukan bunyi alarm di handphone mereka masing-masing, suara dengkuran masih terdengar jelas memenuhi sudut ruangan ini. Matahari pagi menampakkan sinarnya, namun kedua namja ini masih saja tak bergeming, hingga suara gebrakan pintu terdengar.

BRAKK!

“Apa yang sebaiknya aku lakukan pada mereka? Hhh, kedua namja ini sama saja.” ujar wanita paruh baya yang tengah berkacak pinggang dan menggelengkan kepala karena melihat kelakuan dua orang pria di hadapannya. Dengan sigap ia menghampiri mereka, dan menarik selimut yang tengah membalut tubuh keduanya.

“Hei, kau… bangun! Ini hari pertamamu di sekolah! Kau tak boleh terlambat, ppali, ppali!!” pekik wanita paruh baya ini—Nyonya Kim.

“Hem…Hyuna Noona…” gumamnya tak jelas, sementara sang nyonya besar ini menggoyangkan tubuh pria yang terlihat lebih dewasa dari pria di sampingnya.

“Bangun,bangun! Aku sudah lelah mengurusi kalian! Sebaiknya kau menikah agar ada yang mengurusimu!”

“Hem…Hyuna…” gumamnya, wanita paruh baya ini kemudian menghela nafasnya kasar, ia muak dengan keduanya. Hingga ia harus mengeluarkan kekuatan terakhirnya—lebih tepat—andalannya.

“KIM MYUNGSOOOOOOOO!!! KIM JOOWOOOOOOONNNN!!! IREONAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!” teriaknya dengan nada yang begitu—errr—menyeramkan, dengan teriakannya ia mampu membangunkan kedua namja ini, yang kini tengah meloncat karena menyadari teriakan dari wanita tua yang menjadi pemilik besar rumah ini. Mereka berdua kini berlari kedalam kamar mandi.

Assisten rumah tangga keluarga Kim, kini tengah menata rapi makanan yang ia masak, Nyonya Kim mendengus kesal, harus berapa lama lagi ia menunggu kedua namja yang tak lain—anak dan cucunya. Dengan langkah penuh ketakutan, kedua namja ini duduk di kursi makan, dan dengan hato-hati menatap wanita paruh baya di hadapannya.

“Makanlah, Jowoonie…hari ini hari pertamamu sekolah, jangan membuat ulah seperti 6 tahun lalu. Dan  kau, antarlah anakmu ke sekolah, hari ini jangan mengunjungi stasiun-stasiun tv yang telah mengontakmu. Kalian mengerti?”

Myungsoo dan Jowoon mengangguk bersamaan.

“Ne, kami mengerti.”

Jowoon kini mengerlingkan matanya keatas, ia mati-matian menahan tawanya. Karena ucapan neneknya, ia jadi teringat kejadin 6 tahun lalu saat ia masuk ke sekolah dasar. Ya, ia tak mungkin mengulanginya lagi. Memasukkan minyak angin kedalam aquarium besar di sekolahnya karena ia takut ikan-ikan di dalam air akan masuk angin karena terlalu lama berenang, ya—itu baru salah satu kejadian aneh yang dilakukan Jowoon saat masuk ke sekolah dasar.

Seoyeon dengan usaha sabarnya membuka lemari yang berisi makanan di dapurnya, ya—saat ini Seoyeon terlihat seperti seorang ibu—dibandingkan seorang gadis. Seoyeon dengan sabar mengoleskan selai strawberry di lembar rotinya—ini untuk ibunya, dan ia kemudian mengoleskan selai coklat pada rotinya—dan ini untuknya. Oh, Sooji…lihatlah anak ini, yang begitu peduli padamu meskipun kau lebih peduli dengan karirmu.

Sooji mengerang dalam bangun paginya, ia melirik jam di handphonenya. Ia membulatkan matanya lalu melihat gadis di sebelahnya—oh, gadis ini tak ada. Ia menuruni ranjang besar miliknya lalu dengan cepat berlari ke kamar putrinya. Tanpa ia melihat bahwa sang putri kini tengah sibuk menyiapkan sarapan untuknya. Seoyeon yang menyadari ibunya tengah berlari menuju kamarnya, hanya menghembuskan nafas pelan lalu kembali berkonsentrasi pada roti di tangannya, sementara Sooji…

“Oh, Seoyeonku…Maafkan ibu sayang… Ibu tahu ibu salah karena tak menepati janji untuk mengajakmu bermain ke taman. Tapi, jangan seperti ini…Kau meninggalkanku begitu saja. Bahkan aku tak sempat melihat senyummu untuk terakhir kalinya.” Sooji berbicara pada foto Seoyeon yang ada di meja riasnya.

“Ia pasti kabur ke rumah neneknya, aku harus menghubunginya.” ucapnya, ia meraih handphonenya. Namun dengan cepat tangan halus gadis di belakangnya merebut handphone miliknya. Sooji terkejut—tapi…

“Apa yang kau lakukan? Aku disini!” ujar gadis manis ini, Sooji memandangnya dengan pandangan yang sulit di artikan. Dengan cepat ia memeluk Seoyeon.

“Kau—gadisku yang manis. Kau tak mungkin meninggalkanku kan? Aku mengira kau pergi dan meninggalkanku.” ucap Sooji, Seoyeon tersenyum malas lalu melepaskan diri dari pelukan ibunya.

“Kau bau, Eomma! Mandilah, bukankah kau akan mengantarku ke sekolah hari ini? Jika kau berbohong lagi, aku benar—benar—akan—per—gi!” ucap Seoyeon, Sooji hanya tersenyum lebar. Ya, Seoyeon memiliki ibu yang sangat sempurna jika berada di hadapan kamera, namun sangat aneh jika bersamanya.

“Baiklah, Princess!” Oh, Seoyeon kini benar-benar terlihat seperti seorang ibu. Ia bahkan memerintah ibunya untuk mandi.
Setelah semuanya siap, Sooji dan Seoyeon memasuki mobilnya. Sooji berhenti sejenak, ia memandang putri cantik di sampingnya.

“Seoyeonie, kau sangat cantik sekali.”

“Aku berdandan sendiri.”

“Karena kau sudah dewasa, Eomma tak mungkin terus menerus menyisir rambutmu.”

“Itu hanya alasan saja. Eomma selalu bangun terlambat karena pulang larut malam.”

Bae Sooji, seorang artis dan model Korea Selatan,berusia 30 tahun. Siapa yang tak mengenalnya? Bahkan orang yang tidak memiliki televisi sekalipun tahu. Sooji menikah di usia muda, yaitu 18 tahun. Bukan maunya menikah di usia muda seperti ini, tapi ini karena—ke—ce—la—ka—an yang di alaminya dengan mantan suaminya. Mantan suami Sooji, yang tak lain adalah Lee Min Ho, senior Sooji ketika di SMA. Lalu, apa yang membuat Sooji seperti ini? Seorang diri mengurus putrinya? Min Ho, pria itu kecelakaan ketika berselingkuh dengan sekretarisnya di dalam mobil. Sooji bingung entah ia harus bahagia atau sedih karena ini. Sooji melahirkan seorang putri cantik dari hubungannya bersama Min Ho. Seoyeon, gadis berusia 12 tahun yang memasuki usia Sekolah Menengah Pertama. Gadis ini sangat cantik, wajahnya sangat—sangat mirip dengan Sooji bahkan nyaris tak  ada bedanya. Hanya sifat yang membedakan mereka. Wajah Sooji masih sangat muda untuk diartikan sebagai seorang ibu, ia bahkan menjadi duta besar perkumpulan ibu-ibu muda di Seoul. Sooji sangat muda, sehingga teman-teman Seoyeon lebih sering mengira bahwa Sooji adalah kakak Seoyeon.

“Jowoonie, hari ini aku ada jadwal di sebuah Variety Show. Sejujurnya aku ingin—“

“Gwenchana, hyung. Aku bisa pulang sendiri. Kau shooting saja dengan tenang. Aku akan menunggumu di TV.” ujar Jowoon sembari melepas seatbeltnya.

“Aish, berhentilah memanggilku Hyung. Aku ayahmu, bukan kakakmu.”

“Kau seperti kakakku. Selalu tak ada di sampingku. Ah, bahkan seperti orang lain. Baiklah, aku akan segera masuk.” tutur Jowoon keluar dari mobilnya, Myungsoo hanya menatap pada putranya. Ia memang seorang actor dan composer, ini membuat waktunya banyak tersita dan ia tak memiliki waktu bersama Joowon, putranya dari Son Na Eun. Myungsoo, berusia 32 tahun. Siapa yang menyangka pria ini berusia 32 tahun dan memiliki seorang putra yang berusia 12 tahun. Semua pasti mengira ia adalah kakak Joowon, meskipun Joowon bersikeras menjelaskan pada teman-temannya bahwa Myungsoo adalah kakaknya, teman-teman Joowon pasti tak percaya. Myungsoo memiliki wajah yang sama dengan Jowoon, sifatnya juga hampir sama. Wajah mereka sangat-sangat sama.


Seoyeon turun dari mobilnya dengan Sooji. Ia dengan keras menentang tindakan Sooji kali ini. Sooji bilang bahwa ia ingin mengantar Seoyeon kedalam dan melihat Seoyeon belajar. Sooji, please…Seoyeon hanya akan menanggung malu jika itu terjadi. Seoyeon bukanlah seorang anak TK sekarang.

“Eomma! kubilang aku bisa sendiri dan aku akan baik-baik saja. Jangan seperti ini.” ujar Seoyeon, Sooji kemudian tersenyum pahit.

“Baiklah.” jawab Sooji singkat. Ia kemudian kembali kedalam mobilnya.

“Hhhh, karirku membuat aku menjadi seperti orang lain dimata anakku sendiri. Apa yang harus aku lakukan? Entahlah.” gumam Sooji, ia meletakkan kepalanya di stir mobilnya. Ia kemudian memundurkan mobilnya, di sisi lain Myungsoo belum beranjak dari tempatnya. Ia masih memandang sekolah ini, maklum…Ibunya yang memilihkan sekolah ini untuk Joowon, wajar jika ia tak tahu banyak.

“Omo!” Myungsoo memundurkan mobilnya dengan cepat ketika melihat mobil di hadapannya mundur ke belakang. Sooji memanyunkan bibirnya, ia masih kesal pada putrinya yang memperlakukannya seperti ini. Bahkan ia disuapi Seoyeon ketika di perjalanan tadi. Ia juga kesal karena Seoyeon tak mengizinkannya mengantar kedalam. Sooji memundurkan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tanpa ia sadari pengemudi mobil di belakangnya tengah berteriak protes.

“HEIII! Apa yang ada di pikiranmu? Jika kau ingin mundur lihatlah ke belakang!” ucap pengemudi itu, ia menyembulkan kepalanya keluar berteriak pada pengemudi di depannya. Ia juga memundurkan mobilnya, takut bahwa mobil mewahnya di tabrak oleh mobil di hadapannya. Tersadar oleh suara tersebut , Sooji mematikan mesin mobilnya. Ia dengan cepat keluar dari mobil yang ia tumpangi.
Dan Myungsoo juga keluar dari mobilnya.

“Jika kau ingin mundur, lihatlah ke belakang!” tutur Myungsoo dengan marah, ia kemudian mengusap mobil bagian depannya. Sooji mendengus kesal.

“Aku tahu! Lagipula mobilmu tak kenapa-kenapa! Kau namja bawel sekali!” ujar Sooji, Myungsoo dengan cepat menoleh pada wanita di hadapannya.

“Kau tak memiliki etika! Kau harusnya meminta maaf!” ujar Myungsoo. Sooji yang tak terima dengan perkataan Myungsoo refleks melemparkan sepatu yang membalut kakinya ke  arah Myungsoo. Myungsoo menghindar dengan cepat, ia beruntung tak terkena heels mematikan sepatu Sooji.

“HEI!” pekik Myungsoo. Ia melihat wajah Sooji sekilas. Begitu pula dengan Sooji

Sooji dengan cepat masuk kembali kedalam mobilnya. Myungsoo juga masuk kembali kedalam mobilnya

“Aku rasa aku pernah melihatnya. Siapa dia?” ujar keduanya, dari mobil yang tentu saja berbeda.

“Apakah aku harus turun?” masih dengan berbicara pada diri sendiri.

“TURUN!” ucap mereka berdua. Sooji dan Myungsoo kini menutup pintu mobil mereka dengan kasar, Sooji kemudian menoleh pada Myungsoo, ia berjalan ke  arah Myungsoo, tepatnya ke  arah sepatunya. Ia mengambil dan memakainya.

“Chakkaman.” ujar Myungsoo, Sooji menatap Myungsoo penuh keheranan.

“Wae?”

“Apakah kau Bae Sooji?” tanya Myungsoo penasaran. Sooji menatap Myungsoo dalam-dalam.

“Solma…Kau…” ujar Sooji, Myungsoo tersenyum melihat Sooji.

[FLASHBACK]

“Myung, kau tahu? Gadis cantik murid baru itu bernama Bae Sooji.” ujar Woohyun.

“Kau harus melihatnya, dia benar—benar—benar cantik!” timpa Woohyun kembali. Myungsoo yang sedang duduk di atap gedung langsung berdiri menatap gadis cantik yang berada di bawah. Gadis itu yang diketahui bernama Bae Sooji menyita banyak perhatian para siswa, terlebih para namja. Myungsoo melipat tangannya di dada. Merasa ada yang memperhatikannya dari atas, Sooji dengan cepat mengedarkan pandangan matanya ke atas. Ia melihat Myungsoo dan tersenyum.

“Bae Sooji. Cantik juga.”  Batin Myungsoo.

Sudah sebulan semenjak Sooji bersekolah disini, banyak namja yang menggilai Sooji. Bunga dan Boneka selalu memenuhi loker milik Sooji. Namun hanya satu yang selalu bersama Sooji, yaitu seniornya yang bernama Lee Min Ho. Teman sekelas Myungsoo. Jujur saja ketika Myungsoo melihat mereka hatinya selalu terasa panas, namun ia tahu ia takkan bisa mendekati Sooji karena jika ia ketahuan oleh Min Ho, Ia pasti menjadi korban pukulan anak-anak buah Min Ho.  Hari ini hujan cukup deras, ini menjadi hari terbaik Myungsoo, ia bisa berada di dekat Sooji di halte bus. Dan ketidak hadiran Min Ho di sekolah menjadi kebahagiaan tak ternilai bagi Myungsoo.

“Kau menunggu bus?” ujar Myungsoo, Sooji mengangguk. Ia tersenyum pada Myungsoo.


Senyuman itu tak berubah, masih senyuman dan pemilik yang sama. Myungsoo dan Sooji kini terduduk di cafetaria dekat sekolah.

“Kau mengantar siapa?” tanya Myungsoo

“Anakku.” jawab Sooji singkat.

“Kalau begitu kita sama. Aku juga mengantar anakku.”

“Oh, bagaimana kabar Na Eun?” tanya Sooji. Ya, Sooji belum mengetahuinya.

“Na Eun, hem—ia menikah lagi dengan seorang pengusaha di amerika, dan belum lama ini ia terserang virus mematikan. Jadi—“

“Ia meninggal? Oh, maafkan aku sunbae, aku tak tahu.” ucap Sooji, Myungsoo menggelengkan kepalanya.

“Ah, gwenchana… Apa kabar Min Ho? Pasti ia telah menguasai seluruh perusahaan di korea bukan?”

“Dia sudah lama meninggal , semenjak Seoyeonie masih di dalam kandunganku.” ujar Sooji tersenyum. Myungsoo terkejut.

“Ah, aku tak tahu…Maaf, itu tak pernah kau bahas di media kan?” ujar Myungsoo, Sooji mengangguk.

“Kau masih sama dengan yang dulu, Sooji…”

“Ne?”

“Kau tampak seperti seorang gadis, siapa yang mengira kau memiliki seorang anak yang usianya 12 tahun.”

“Kau juga tak berubah, Sunbae. Kemana rambut menyeramkanmu?” tanya Sooji, Myungsoo tertawa.

“Aish, itu masa lalu. Lalu, kemana poni dan rambut panjangmu?” tanya Myungsoo, Sooji tertawa.

Myungsoo membatalkan semua jadwalnya hari ini untuk menemani Joowon, tidak—ini untuk menemani Sooji, seorang gadis yang membuat hatinya berdebar untuk pertama kali. Tapi, pada akhirnya ia tak mendapatkan apapun. Namun, bukankah kini status mereka sama-sama tak terkait apapun dengan orang lain?

Ini sudah jam 5 sore, Sooji dan Myungsoo berjalan keluar dari cafetaria. Sooji melihat Seoyeon , Myungsoo juga melihat Joowon. Jarak Seoyeon dan Joowon benar-benar jauh, bahkan Seoyeon terkadang memandang sebal pada Joowon. Seoyeon melihat dari kejauhan ibunya, ia tersenyum, namun senyumnya kembali memudar ketika menyadari ibunya bersama seorang pria. Sooji berlari ke  arah Seoyeon, Myungsoo berlari ke  arah Joowon.

“Siapa dia?” tanya keduanya, Seoyeon menunjuk ke  arah Myungsoo, Joowon menunjuk ke  arah Sooji.

“Oh, dia seniorku sewaku di SMA. Ayo.” Sooji menarik tangan Seoyeon, Sooji menghampiri Myungsoo dan Joowon. Seoyeon dengan malas memberi salam pada Myungsoo.

“Joowonie, dia adalah juniorku sewaktu di SMA.” ujar Myungsoo, Joowon dengan malas memberi salam pada Sooji.

“Sooji-ssi, Seoyeon sangat mirip denganmu.” tutur Myungsoo. Sooji tersenyum.

“Joowon juga mirip sekali denganmu Sunbae, wajah kalian benar-benar mirip sekali.”

Tanpa mereka sadar, kedua anak mereka kini saling melemparkan pandangan tak suka. Pandangan yang sangat berbeda dengan kedua orang tua mereka.

“Kau! Aku malas melihat wajahmu! Kau mesum!” ujar Seoyeon, ucapan Seoyeon membuat pandangan Sooji dan Myungsoo yang sedari tadi saling bertatap menoleh kepada Seoyeon.

“Seoyeonie, jangan begitu…” ujar Sooji. Seoyeon meniupkan poninya ke atas, Myungsoo tersenyum , dia benar-benar photocopy Sooji.

“Hei! Hyung! Kau tersenyum? Aku dikatakan mesum dan  kau tersenyum?” ujar Joowon,Myungsoo terkejut.

“Aish, jangan panggil aku seperti itu Joowonie…”

“Dia memegang bokong sahabatku, Eomma! Dia mesum! Sama seperti Ahjussi ini! Dia berjalan denganmu!”

Tak terima dengan ucapan Seoyeon, Joowon dan Myungsoo saling menatap.

“Aku tak sengaja memegangnya! Aku terjatuh!” teriak Joowon.

“Dan agasshi, aku bukan namja mesum sama seperti anak ini! Aku hanya mengajak ibumu ke cafetaria dan mengenang masa lalu kami sewaktu di SMA.” ujar Myungsoo.

“Dan Noona ini yang menghampiriku terlebih dahulu, ia berarti yeoja yang terobsesi denganku dan Hyung ini!” timpa Joowon. Sooji tak terima, ia berdiri di samping Seoyeon, sama seperti posisi Myungsoo yang berdiri di samping Joowon.

“Sunbae, kau harus mengajari anakmu sopan santun! Anakmu tak memiliki kesopanan!” ucap Sooji. Myungsoo tak terima.

“Kau juga harus mengajari putrimu sopan santun. Err , dia yeoja mengerikan!” jawab Myungsoo.

“Kau mengatai anakku? Hah?” ujar Sooji mendekat pada Myungsoo. Joowon kemudian mundur, menyadari sesuatu yang tak di inginkan terjadi.

“Kau juga mengatai anakku! Bae Soo—“ ucapan Myungsoo terhenti, seketika Sooji menendang—daerah—sensitif Myungsoo. Myungsoo tersungkur. Sooji kemudian menarik Seoyeon dan masuk kedalam mobilnya. Joowon menghampiri Myungsoo, ia membantu Myungsoo berdiri.


Sooji mengetikkan sesuatu di ponselnya sebelum ia tidur. Di arah yang lain Myungsoo melakukan hal yang sama.

“Aku bertemu kembali dengannya. Eothokkae?”

_TBC_

Hai, kembali dengan ff baru… Semoga suka, maaf kalau absurd hehe. RCL please, thanks😀

53 responses to “[Freelance] Eotthokkae? 1/3

  1. Mereka bertemu kembali, setelah sama” mempunyai seorang anak… dan myungsoo, bagaimana bisa dia mnjadi mntan suami son naeun??

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s