The Memories Chapter 6

© Rosaliaaocha

Title : The Memories  | Author : dindareginaa | Genre : Angst, Married Life, Romance | Rating : PG-15| Main Cast : Bae Suzy, Kim Myungsoo | Other Cast : Find by yourself!

Myungsoo melirik ke arah Sooji sejenak. Sedari tadi, yang dilakukan gadis itu hanya diam. Ya, Myungsoo tahu sebelumnya Sooji juga bukanlah orang yang banyak bicara – maksudnya, selama ia kehilangan ingatannya. Tapi, Myungsoo yakin ada yang aneh dengan gadis itu. Apa gadis itu sakit?

Myungsoo menekan password apartemennya dengan ragu. Setelah pintu terbuka, bukannya masuk, ia malah bertanya pada Sooji,”Sooji-ah, apa kau sakit?”

Myungsoo dapat melihat Sooji tersentak mendengar pertanyaannya. Sepertinya pikirannya sedang tak berada pada tempatnya.

Gadis itu menarik kedua ujung bibirnya, memaksakan seulas senyuman. “Aku baik-baik saja,” jawabnya. Ia segera masuk bahkan sebelum disuruh Myungsoo.

Myungsoo hanya mengidikkan kedua bahunya. Ia berusaha untuk tidak ambil pusing. Mungkin saja Sooji sedang banyak pikiran. Myungsoo kemudian mengikuti langkah Sooji dari belakang. Sooji segera masuk ke kamar mereka, sedangkan Myungsoo memutuskan untuk meminum bir sebelum tidur. Sudah lama sekali ia tidak minum-minum sendiri.

Myungsoo membuka kaleng bir yang diambilnya dari kulkas beberapa saat lalu. Dengan segera diminumnya bir tersebut. Myungsoo tersenyum memandangi pemandangan dari balkon apartemennya. Gedung-gedung pencakar langit bisa terlihat dari sini. Lampu-lampu yang berada di pinggiran kota Seoul menambah keindahan malam itu. Jalanan juga sudah mulai dipenuhi oleh salju.

“Salju…”

“Selamat hari natal!”

Myungsoo dan Sooji tersenyum lebar seraya meniupkan terompet yang sudah Myungsoo siapkan sebelumnya. Namun sedetik kemudian, Sooji merengut. “Sayang sekali tidak turun salju.”

“Tidak apa. Selagi ada dirimu, natal kali ini tetap indah.”

Gadis itu mendesis mendengar ucapan Myungsoo. “Padahal aku ingin melihat salju pertama bersamamu.”

“Bukankah kita bisa melakukannya lain kali? Sekarang, ini.” Myungsoo memberikan sebuah kotak segi empat berwarna soft pink dengan pita diatasnya.

“Apa ini? Hadiah natal? Ya! Aku bahkan tak memberimu apapun!”

“Bukankah sudah aku bilang, asalkan kau ada disini, semuanya baik-baik saja.”

Sooji lagi-lagi mendesis. Ia kemudian membuka kotak tersebut. “Oh…” Sooji menatap kagum kalung liontin hati berwarna perak itu. “Cantik sekali,” gumamnya.

“Itu… Ada sesuatu didalamnya. Kau bisa membukanya,” jelas Myungsoo.

“Apa?” tanya Sooji. Baru saja ia bersiap untuk membuka liontin tersebut, Myungsoo sudah terlebih dahulu menghentikannya.

“Bukanya jangan sekarang!”

Sooji mengernyit. “Jadi, kapan aku harus membukanya?”

“Saat kau memutuskan untuk berpisah denganku.”

Sooji memajukan bibirnya “Kalau begitu aku tidak akan pernah membukanya. Tidak akan.”

Ya! Kau benar-benar mau pergi?!”

Myungsoo yang baru saja ingin melangkahkan kakinya sontak mengurungkan niatnya begitu Sooji menarik ujung jacket-nya.

Myungsoo tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mengusap lembut pipi bulat Sooji yang mulai basah. “Jangan menangis. Orang-orang sedang melihat kita. Mereka akan berpikir aku mencampakkanmu nantinya.”

Sooji melihat ke sekelilingnya. Dan benar saja. Semua orang yang berada di bandara tersebut memang tengah menatapnya kebingungan. “Aku tidak peduli! Asalkan kau tidak pergi!”

“Aku hanya pergi dua bulan. Setelah itu aku akan kembali padamu. Aku berjanji.”

Soojung yang sedari tadi hanya menjadi obat nyamuk di antara keduanya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Astaga, Bae Sooji! Myungsoo pergi hanya dua bulan dan itu untuk pekerjaannya, bukan untuk perang atau semacamnya.” Gadis itu mendesis. “Dulu, waktu Myungsoo mendekatimu, kau jual mahal sekali. Sekarang, saat kau sudah berkencan dengannya, kau merengek seperti anak kecil. Dasar!”

Ya! Jung Soojung! Itu karena kau belum pernah berkencan sebelumnya. Sudahlah! Terima saja si Kang Minhyuk itu! Kau tidak tahu kalau dia sudah lama menyukaimu?”

Mendengar perkataan Sooji, Soojung melipat kedua tangannya di depan dada. “Apa? Berkencan dengan orang gila itu? Tidak akan!”

Sooji terkekeh pelan. Ia kemudian mengembalikan pandangannya pada Myungsoo. “Hanya dua bulan. Tidak lebih. Kau harus meneleponku setiap hari. Mengerti?”

“Siap, bos!” seru Myungsoo. Lelaki tampan itu memberi hormat kepada Sooji seolah-olah ia sedang diberikan tugas oleh kepala militer. “Kau juga! Jangan tebar pesona dengan lelaki lain! Mengerti?”

Sooji mengangguk pasti.

“Tunggu aku, Bae Sooji. Setelah aku pulang, ada yang ingin ku berikan padamu. Aku mencintaimu.” Myungsoo mencium lembut kening Sooji.

“Selamat pagi, Kim Sajangnim.”

Myungsoo mengangguk kecil begitu melihat Irene masuk keruangannya – setelah sebelumnya mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Ini kopi untuk Anda. Saya sendiri yang membuatnya.”

“Hmm…” gumam Myungsoo pelan seraya memperhatikan Irene yang meletakkan kopinya di atas meja.

Untuk beberapa detik, keduanya sama-sama terdiam hingga akhirnya Myungsoo membuka suara. “Apa ada lagi yang ingin kau katakan?”

“Ya?” Irene tersentak, sedikit bingung dengan pertanyaan Myungsoo “Tidak.”

“Kalau begitu, kau boleh pergi.”

Irene mengangguk begitu mengerti maksud perkataan lelaki itu. Ia merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia bisa terlihat seperti orang bodoh begini?! “Ah, ya. Kalau begitu, saya pemisi dulu,” Irene membungkukkan badannya.

Setelah Irene keluar dari ruangan Myungsoo, ia langsung dihentikan oleh salah seorang karyawati Myungsoo.

“Jangan terlalu perhatian dengannya. Dia sudah menikah.”

Irene mendesis lalu menjawab,”Aku tahu.”

Sooji menarik nafasnya panjang. Sedari tadi yang dilakukan gadis itu hanyalah menukar channel televisi. Pikirannya memang sedang tidak ada disana. Kilasan bayangan semalam masing terngiang dibenaknya.

Sebenarnya sedalam apa perasaannya terhadap Myungsoo? Benarkah ia menikah dengan Myungsoo tanpa adanya paksaan? Sooji tersentak begitu ponselnya berdering. Ia menghela begitu membaca nama Minho di layar ponselnya. Ini adalah panggilan Minho yang ke sepuluh. Dan Sooji tetap bersikeras untuk tidak mengangkatnya.

Entahlah, Sooji sekarang sedang dilema. Memilih antara Minho dan Myungsoo. Ponsel Sooji kembali berdering. Ia lalu mendengus kesal Kenapa Minho tak lelah meneleponnya?

“Oh…” Sooji mengernyit begitu melihat kini nama Myungsoo yang tertera. Ada apa Myungsoo menghubunginya? Tanpa menunggu lebih lama lagi, gadis itu segera menyentuh layar ponselnya.

“Ya?”

“Maaf karena menyuruhmu membawa dokumenku tiba-tiba,” ujar Myungsoo menyesal begitu Sooji tiba di ruangannya

Gadis itu tersenyum simpul lalu menjawab,”Tidak masalah. Lagi pula, aku juga sedang tidak ada kerjaan. Kalau begitu, aku pulang dulu.”

“Kau mau kemana, Sooji-ssi?”

Sooji menoleh ke arah Sehun yang baru saja masuk ke ruangan Myungsoo.

“Aku? Tentu saja pulang.”

“Kenapa terburu-buru sekali? Bagaimana kalau kau ikut dengan kami? Setelah ini kami akan makan ke luar bersama para karyawan Kau tidak sibuk bukan?”

Sooji melirik ke arah Myungsoo sekilas Lelaki itu hanya tersenyum kecil lalu mengangguk. “Kalau begitu, baiklah.”

Irene mendengus kesal. Diliriknya Myungsoo yang kini duduk bersebelahan dengan Sooji. Ia kemudian melirik ke arah Sehun yang kini duduk disampingnya. Gadis itu mendesis. Kenapa ia malah duduk bersama lelaki ini?

“Sooji-ssi, sudah lama kau tidak makan bersama kami?”

Irene bisa melihat Sooji tersenyum canggung mendengar ucapan salah seorang karyawan Myungsoo. Apakah sebelumnya Sooji sering makan bersama dengan mereka?

Baru saja Irene berniat menyuap Myungsoo dengan daging panggang, suara salah seorang karyawan Myungsoo memotongnya.

“Sooji-ssi, kenapa kau tidak menyuapi Kim Sajangnim seperti terakhir kali?”

Sooji tampak tersenyum salah tingkah. Ia kemudian segera mengambil sumpit yang ada didekatnya dan segera menyuap Myungsoo.

Melihat itu, Irene mendengus kesal. Ia kemudian menoleh ke arah Sehun yang menyikut lengannya. “Ya?” tanyanya sedikit tak suka.

“Kau bisa menyuapiku,” Sehun tersenyum lebar, memamerkan gigi putihnya yang rapi.

“Baiklah,” Irene memaksakan senyumnya seraya merutuki nasib sialnya seraya menyuapi Sehun.

“Terimakasih atas makan malamnya,” ucap para karyawan Myungsoo serempak seraya membungkukkan badannya.

Myungsoo hanya menggumam. “Hati-hati di jalan,” seru Myungsoo pada mereka.

“Myungsoo-ya, kalau begitu aku pulang dulu. Aku harus mengantar Irene ke rumahnya. Dia sangat mabuk,” ujar Sehun pada Myungsoo. Lelaki tampan itu kini sedang kesusahan merangkul Irene yang kini sedang setengah tertidur.

Irene lalu membuka matanya perlahan. “Tidak bisakah Kim Sajangnim yang mengantarku?”

Sehun sontak membulatkan matanya. “Ya! Apa yang sedang kau bicarakan?! Sooji-ssi, jangan terlalu memikirkan ucapannya. Dia sedang mabuk makanya berbicara hal konyol seperti itu,” Sehun menatap Sooji dengan tatapan bersalah.

“Tidak. Tidak apa-apa.”

“Kalau begitu, kami pulang dulu. Sampai jumpa.”

Setelah bayangan Sehun dan Irene tak terlihat lagi, Myungsoo kemudian menoleh ke arah Sooji. “Sebaiknya kita juga pulang.”

“Hmm.”

“Sepertinya gadis itu menyukaimu,” ujar Sooji tanpa menoleh sedikitpun pada Myungsoo. Saat ini mereka sedang berada di mobil Myungsoo menuju perjalanan pulang.

“Siapa?” tanya Myungsoo sedikit bingung.

“Irene.”

“Ahh…” Myungsoo mengangguk mengerti seraya menahan senyumnya. “Kau cemburu? Kenapa Sooji-ku pencemburu sekali?”

Mata Sooji membesar. Apa yang dikatakannya tadi? Sepertinya ia sudah mendengar kata-kata itu sebelumnya. Tapi, dimana?”

“Kenapa Sooji-ku pencemburu sekali? Astaga…”

Itu! Kata-kata itu! Sooji tersentak begitu sebuah suara terdengar ditelinganya.

“Kau… apa yang baru saja kau katakan?”

“Hmm? Apa?” tanya Myungsoo seraya menoleh pada Sooji. Namun, ia tersentak begitu mobilnya tiba-tiba berhenti. “Oh, apa yang terjadi dengan mobil ini?”

Myungsoo lalu segera turun dari mobilnya. Ia kemudian membuka kap depan mobilnya. Lelaki itu sontak terbatuk-batuk begitu benda yang Myungsoo sendiri bahkan tak tahu apa namanya itu mengeluarkan asap.

Myungsoo mungkin memang pintar masalah bisnis, tapi dia akan mendapat nilai nol bila berurusan dengan mesin. Myungsoo merogoh saku celenanya, mengeluarkan ponselnya. Ia segera menekan nomor seseorang. Setelah tersambung, ia kemudian berkata,”Oh, ada masalah dengan mobilku. Bisakah kau kesini?” Myungsoo kemudian celingak-celinguk memandangi sekelilingnya. “Aku masih berada tak jauh dari tempat makan kita tadi. Tidak apa. Aku akan menunggumu.”

 “Apa yang terjadi?” tanya Sooji begitu Myungsoo masuk kembali ke dalam mobilnya.

“Ada yang salah dengan mobilnya. Tapi, tenang saja. Aku sudah menghubungi Sehun. Ia akan segera datang. Tapi mungkin sedikit lama karena jalanan mulai tertutup salju.” Myungsoo lalu menggosokkan kedua telapak tangannya. Kenapa mobilnya harus mogok disaat salju lebat begini?

“Kenapa lama sekali?” gerutu Myungsoo. Pasalnya, ini sudah lebih dari dua jam mereka menunggu, tapi lelaki tampan itu tak juga menampakkan batang hidungnya. Ia kemudian menoleh ke arah Sooji. Gadis itu kini sedang sibuk menggosok-gosok kedua lengannya.

Myungsoo kemudian segera melepaskan mantelnya dan memakaikannya pada Sooji. “Kenapa kau memakai baju tipis seperti ini kalau tahu akan turun salju?”

Wajah Sooji memanas begitu Myungsoo memegang kedua tangannya. Ada apa dengannya? Kenapa jantungnya berdetak cepat seperti ini? Ini berbeda saat dirinya berada dengan Minho! Oh, sadarlah, Bae Sooji!

“Kau harus menggosok-gosokkan telapak tanganmu seperti ini,” ujarnya seraya mengoosok kedua tangan Sooji secara bersamaan “Dengan begini, dinginnya akan berkura…” Myungsoo menghentikan ucapannya begitu mendapati Sooji menatapnya lekat. Sudah lama sekali Sooji tak menatapnya seperti itu.

Sedetik kemudian, Myungsoo segera menepis jarak diantara mereka. Ia mencium bibir Sooji lembut. Sooji sontak memejamkan matanya perlahan begitu Myungsoo memperdalam ciumannya. Rasanya, ia pernah mengalami hal ini sebelumnya.

Keduanya tersentak begitu seseorang mengetuk jendela mobil mereka Dengan salah tingkah, Myungsoo segera menjauhkan wajahnya dari Sooji. Ia mendengus begitu melihat Sehun berada diluar dengan senyum bodohnya. Di depan mobilnya bahkan sudah terparkir rapi sebuah truk derek.

“Kenapa kau lama sekali?!” tanya Myungsoo langsung begitu keluar dari mobil.

Sehun hanya  terkekeh. Ia lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Myungsoo. “Sebenarnya, aku sudah sampai dari tadi. Aku hanya menunggu pertunjukannya sampai ke klimaks,” bisiknya.

“Apa?!” Myungsoo membulatkan matanya tak percaya. Ia hampir mati kedinginan hanya karena temannya yang kurang kerjaan ini? Tapi, sebenarnya ia merasa berterima kasih pada Sehun. Kalau tidak karena ide konyol Sehun, hubungannya dan Sooji mungkin masih canggung.

“Sehun-ssi…”

Myungsoo dan Sehun sontak menoleh ke arah Sooji yang baru saja ke luar dari mobil.

“Sooji-ssi, apakah kalian menunggu terlalu lama? Maaf baru tiba sekarang.”

“Tidak apa.”

“Kalau begitu, ayo. Aku akan mengantar kalian. Mobil ini biar mereka yang mengurusnya.”

Myungsoo dan Sooji masih terdiam di sepanjang lorong apartemen mereka. Saat sudah sampai didepan pintu apartemen mereka, Myungsoo segera menekan password. Baru saja ia akan masuk, Sooji sudah terlebih dahulu menahan lengannya. Ia mengernyit heran begitu melihat Sooji menundukkan kepalanya, tak berani menatapnya.

“Ada apa?”

Ia bisa mendengar Sooji menarik nafasnya panjang sebelum akhirnya berkata,”Myungsoo-ya, mungkin aku sedikit terlambat mengucapkannya. Tapi…” Sooji mengangkat kepalanya, menatap Myungsoo lekat. “… maukah kau membantuku mengingat masa laluku?”

Myungsoo tersenyum simpul. Akhirnya, kata-kata yang sudah lama ingin didengarnya dari Sooji terucap juga. “Tentu saja. Aku akan membantumu bahkan tanpa kau minta sekalipun.”

TO BE CONTINUED

66 responses to “The Memories Chapter 6

  1. aigoo, stelah bnyak hal yg mreka lewati sooji akhirnya berusaha mengembalikan ingatannya, betapa senengnya myungsoo sayapun juga seneng kkkkk, author bner bner hebt alurnya g terkesan dipaksakan,

  2. Irene ma Sehun aja.. Hahahaha.. Jangan gangguin suami orang..
    Akhirnya, Myungzy moment after Sooji amnesia.. Sweet bgt. N sooji gak menolak. Sooji juga mau ingatannya kembali, ia ingin tahu bagaiaman ia dan Myungsoo bisa bersama. wahhh.. keputusan yang tepat.. Myungsoo pasti bahagia bgt..

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s