[Sadness on Monday] Chasing

aeroplane-day-end-flight-Favim.com-1479459Chasing

Little Thief proudly present  

{Kris Wu and Bae Suzy} {guest: Yook Sungjae}    oneshot (2,6k+ words)

Romance, Angst // PG

disclaimer: big love to George Ezra’s song, Cassy’O, yang jadi plot dasar untuk cerita ini

3rd story of Sadness on Monday.


“Suzy?” alis Kris bertaut selagi mengucapkan namanya. “Prancis? Aku tak habis pikir. Dia saja tak bisa mengucapkan bonjour dengan benar.”

“Itu dia masalahnya, hyungnim!” ucap Sungjae semangat melihat kekhawatiran pacar sepupunya itu. “Aku cukup senang kau khawatir. Masalahnya, aku tak yakin pada Sue. Dia tak akan tahan kalau melanglang dunia. Tunggu saja sampai dia akan kembali ke sini.”

“Maksudmu…dia pergi begitu saja? Tanpa persiapan atau apapun?” tanya Kris dengan suara parau.

“Persiapan itu jelas. Kurasa dia pun sudah beritahu orangtuanya akan hal ini. Tapi kau tahulah, paman dan bibiku itu, mereka menganggap Suzy seperti tidak ada…dan buruknya, di saat aku satu-satunya anggota keluarga yang dia punya, dia tak mau cerita padaku,” keluh Sungjae. Anehnya, dia tak merasa sedih.

Melihat ekspresi Sungjae membuat Kris merasakan sesuatu yang salah.

“Hei, Sepupu. Kau tak merasa sedih si Suzy ini pergi entah ke mana? Kalau ada yang terjadi dengannya, bagaimana? Kalau dia tak bisa kembali ke sini lagi bagaimana?” gertak Kris jengkel.

Satu tepukan kecil melayang di bahunya, seolah sepupu Suzy itu berusaha membuatnya tegar. “Pikirkan saja. Aku merasa tak ingin bertanggungjawab, atau khawatir, entah kenapa. Kalau kau masih tanya padaku kenapa? Mungkin karena dia adalah Suzy. Dia Sue, bukan yang lain. Aku mengenalnya dengan baik. Dan ini semua pasti ada sebabnya. Dia punya alasan tertentu kenapa menghilang. Mungkin, kalian berdua yang harus bertanggungjawab masing-masing.”

Dia belum pernah merasa seterkejut itu sebelumnya. Ucapan Sungjae menohok hatinya. Belum selesai kagetnya, tiba-tiba Sungjae bangkit dari kursi. “Oh, ya, aku ada kursus siang ini, jadi tak bisa lama-lama. Semoga harimu menyenangkan. Dah, hyungnim!

Selanjutnya, anak itu menghilang dari balik pintu kayu miliknya. Meninggalkan Kris yang masih terpana. Debaman pintu terdengar ke seluruh penjuru rumah.

Sue. Menghilang. Ke Prancis. Tidak, bukan menghilang. Dia berkelana.

Bukan berarti apa-apa. Hanya saja, pria itu sudah tiga tahun bersamanya selama ini. Dia tahu bahwa Suzy begitu takut datang ke tempat baru tanpa siapapun. Dan kini, kenyataan bahwa Suzy justru malah berani pergi ke Prancis, mengarungi samudra dan benua, menusuk jantungnya.

Sebegitu bencikah kau padaku, Sue, sampai-sampai keberanian tak terduga itu muncul?, batinnya perih.

Kris menutup wajah pucatnya dengan kedua telapak tangan. Dia bangkit dari kursi duduknya, berjalan menuju dapur apartemennya. Membuat teh, rutinitas pagi yang biasa ia jalankan. Namun rasanya ia ingin memuntahkan kembali cairan pekat kecokelatan tersebut.

Semuanya terjadi begitu saja. Dia bahkan masih bercakap dengan Suzy kira-kira kurang dari dua belas jam yang lalu, saat waktu makan malam. Lalu pagi ini, semuanya sungguh terbalik. Saat bangun tidur, Sungjae bertamu ke rumahnya dan memberitahu berita menggemparkan itu.

Mungkin, kalian berdua yang harus bertanggungjawab masing-masing. Kata-kata itu melayang di pikirannya. Kata paling bijak yang pernah diucapkan Sungjae seumur hidupnya, menurutnya. Namun Kris malah menggerutu.

“Idiot itu berkata demikian seperti aku ini tersangka kasus pembunuhannya saja,” gumamnya sebal.

Namun dia ingat. Mungkin dia tak jadi kasus tersangka untuk pembunuhan kali ini. Tapi dia jelas jadi kasus tersangka menghilangnya seseorang; dan tersangka melukai hati.

***

Suatu ketika,

“Sue!” panggil Sungjae saat melihat Suzy baru saja keluar dari lobi apartemen. Sepupunya itu menoleh, dan terkaget melihat Sungjae berdiri di depan bumper mobilnya sambil melipat lengan di depan dada.

“Sungjae?” tanyanya, seraya menghampiri Sungjae. “Kenapa di sini? Ada perlu?”

“Kau mau ke mana?” tanyanya.

Suzy menoyor kepalanya. “Kuliah, Bodoh. Ke mana lagi? Pasti kau minta aku bolos hari ini.”

“Tidak. Kau boleh kuliah kali ini. Tapi, temani aku cari sarapan pagi,” bujuknya. Dia menggamit lengan sepupunya, menyeretnya dan menyuruhnya masuk ke kursi sebelah stir. Suzy tak protes. Dia juga akan mencari sarapan sebelum kuliah paginya, jadi semakin baik waktu tahu Sungjae mengajaknya.

“Mau cari sarapan ke mana?” tanya Suzy, sambil merapikan rambut panjangnya..

“Ada restoran zuppa soup dekat sini. Aku mau coba,” tegasnya lagi, dan menyalakan gas mobil.

“Oh, begitu. Karena sudah terjadi penculikan semacam ini, kau bayari aku, ya,” ujar Suzy. Sungjae membalasnya dengan satu anggukan kecil; tak masalah.

Saat itu, ponsel di dalam tas Suzy bergetar. Dia segera mengaduk isi tasnya demi meraih ponselnya. Setelah ketemu, dia melihat nama penelepon yang tertera.

Terdiam sejenak. Lantas, dengan gerutu pelan, Suzy memasukkannya kembali ke dalam tas. Tangan Sungjae tiba-tiba menahannya, namun matanya fokus pada jalanan di depan.

“Angkat teleponnya,” perintahnya.

“Tidak mau.”

“Tidak baik tak mengangkat telepon, Sue,” ujarnya lembut. “Sini, biar aku saja.”

Dengan kilat, tangannya berhasil meraih ponsel Suzy dan membaca nama penelepon yang tertulis. Ketika dia hendak membalas panggilan itu, si penelepon sudah memutuskan hubungan karena putus asa.

“Wu Yifan?” gumam Sungjae, masih berkutat dengan ponsel Suzy. “Kenapa kau menolak teleponnya? Ada masalah, Sepupu?”

“Bukan urusanmu,” tandas Suzy.

“Oh, ayolah.” Sungjae berkata dengan nada bosan. Seolah dia sudah ratusan kali dilempari ucapan ‘bukan urusanmu’.

“Serius. Ini bukan apa-apa. Kau tak harus mengawasi atau mengurusinya,” Suzy berdalih, berusaha membuat tatapan meyakinkan.

“Melewatkan satu panggilan dari hyungnim? Aku jelas harus mengurusnya.” Sungjae berujar tegas.

“Yook! Kau kira hubungan kami ini semulus yang kau kira? Ini jelas bukan masalah besar. Ini sudah biasa. Kau tak bisa terus-terusan damai dengan seseorang yang hidup bersamamu tiga tahun. Pasti ada saja kendala. Tolong, deh, jangan berlebihan.”

“Bisa saja kalian tiba-tiba terjadi sesuatu!” Sungjae cemberut. “Kau tak baca pengalamanku dua bulan lalu? Dia menganggap pertengkaran ini enteng saja sampai egonya mengatakan dia bahwa dia tak perlu lagi bersamaku.”

“Itu, ‘kan, tergantung bagaimana mereka mengatasinya, Yook. Kalian menanganinya dengan kurang baik,” cecar Suzy dengan ekspresi meledek. Dia kemudian menepuk pundak sepupunya itu. Namun, Sungjae malah menepikan mobilnya ke pinggir jalan raya. Setelah menginjak rem, dia menatap Suzy dengan pandangan sulit diartikan.

“Ya sudah, aku ‘kan memang egois dan tak berpengalaman, jadi rasanya aku tak pantas memiliki siapapun di sisiku. Ya sudah sana, kau boleh pergi. Maaf mengganggu jadwal kuliahmu yang padat itu. Aku mau makan sarapan sendiri saja,” usir Sungjae halus, ekspresinya terluka.

“Sungjae, jangan marah…” Suzy mendadak jadi salah tingkah.

“Iya, aku tak akan marah. Kau boleh pergi, deh, maaf mencampuri urusanmu pagi ini,” balasnya dengan ekspresi dingin.

Mau tak mau Suzy harus keluar dari mobil. Meskipun Sungjae baru saja berkata dia tak marah, namun dia tampak begitu sakit hati atas apa yang baru saja Suzy katakan. Bibirnya cemberut.

“Beli makanan yang sehat!” pesan Suzy, sebelum mobil Sungjae kembali melaju ke jalan raya.

Sungjae hanya mendengar pesan tadi sebagai angin lalu. Cih, dia tak bisa menangani dengan baik, katanya. Padahal, dia sudah mengorbankan apapun, tapi Suzy membuatnya seolah jadi orang yang bersalah.

“Suzy dan Wu Yifan itu. Lovebirds yang aneh,” gumamnya sambil geleng-geleng kepala. “Diberi saran tidak mau. Seolah mereka yang paling bertahan saja.”

Mobil tersebut membelok ke kiri, ke arah tujuan restoran Sungjae. Setelah menuju tikungan, pikiran Sungjae kosong sudah.

***
Suatu malam,

Suji: Sungjae masih marah atas kata-kataku tadi?

Suzy membaca ulang pesan yang baru saja dikirimkan ke sepupunya itu. Menggigit bibir, berharap Sungjae akan segera membalasnya. Seolah doanya terkabul, pesan Sungjae langsung muncul, namun jauh dari ekspetasi yang ia harapkan.

Sungjae: Gak tahu.😛

Suji: Wah, jangan marah begitu, dong…aku tak bermaksud demikian…

Sungjae: Pantas Kris hyung bosan denganmu. Kau menyebalkan begitu, sih, Sue.

Suzy memutar bola mata, kesal. Dia muak kalau mengingat Sungjae memuja kekasihnya itu.

Suji: Jangan sebut namanya lagi di pesanmu ini, tahu!

Ketika itu, telepon rumahnya berdering. Suzy segera bangkit dari sofa, dan berjalan menuju telepon. Barangkali itu adalah orang yang menawarkan jasa pembangunan rumah atau bimbingan konseling, seperti yang biasa dia terima. Namun, justru suara serak dan berat yang menyapanya.

“Sue,” cetus orang di seberang langsung tanpa basa-basi. “Puh, untung aku meneleponmu lewat sini. Kalau tidak, bisa mati aku karena hampir empat hari kau tak mau bicara padaku.”

“Siapa yang mau bicara padamu?” tanya Suzy ketus. “Yifan, ada masalah apa lagi?”

“Kau berkata begitu, seolah masalah yang lalu sudah selesai saja,” gurau Kris, mengucapkannya dengan nada kecewa. “Begini, begini…aku hanya tak mengerti. Apa teleponmu mati? Aku meneleponmu ratusan kali, tak diangkat, jadi aku putus asa dan menelepon ke nomor ini.”

Suzy baru ingat bahwa tadi siang, di kampus, dia memblokir nomor Kris karena pemuda itu berisik sekali.

“Oh, ya…teleponku mati. Dan aku tak bisa mengisi bateraiku karena kabelnya rusak.”

“Begitu, ya. Hm, begini, soal beberapa tempo lalu, kau itu hanya salah paham, Sue…” Kris mulai merujuk kepada alasan kenapa dia menelepon hari ini.

“Oke, oke, ini dia intinya. Misunderstanding. Kau ngapain sih dengan Liel, sampai-sampai peristiwa ‘salah paham’ itu membuatku hampir menangis?” tukas Suzy sensitif.

“Astaga, bukan Liel!” elak Kris dengan sabar. Dia sudah menduga Suzy akan mengungkit masalahnya dengan Lilo—cewek asal Inggris yang akrab dipanggil Liel   seorang native speaker yang datang ke kampus mereka.

Pada saat itu, beberapa native speaker tersebut diundang datang oleh fakultas bahasa, tempat Kris bernaung. Kris ditugaskan sesuatu, dan dia dibantu Liel dalam menyelesaikan tugas ini. Liel sebagai narasumber dan akar informasi langsung, dan juga partner kerjanya, jadi mereka sempat dekat beberapa waktu. Gosip itu cukup fenomenal juga akhir-akhir ini.

“Sana, sana,” Suzy mengusir halus, kemudian tertawa kecil. “Lilo memang jauh lebih baik.”

Kris menghela napas, menyerah. “Kita bicarakan baik-baik, ya, besok? Kau mau tahu tidak? Aku saja tak pernah menyapa Liel lagi sekarang.”

“Hah, siapa yang peduli, Yifan. Baiklah. Ketemu, ya, kalau kita berdua masih punya waktu. Kopi-kopi sedikit, mungkin lebih baik,” tukas Suzy tenang.

Secercah senyum pengharapan terbit di wajah Kris. Dia senang sekali, setidaknya, dia akan bisa membuktikan bahwa dia masih berpegang teguh pada gadis itu. “Oke. Kau tahu, Sue…”

“Tapi aku tak janji, ya, masalah ini bisa selesai,” potong Suzy langsung sebelum Kris diterbangkan oleh harapan kosong.

Glek. “Kenapa?” tanya Kris dengan perasaan kacau.

“Karena aku sudah capek. Aku mau…bebas. Ah, ya, mungkin masalahnya bisa selesai, tapi jalan keluarnya tidak seterang yang kamu bayangkan, Kris. Pokoknya kita lihat saja nanti, ya. Selamat malam.”

“Sue?” Kris menahan Suzy untuk menutup telepon rumahnya. “Kau tahu aku berpegang peguh padamu, bukan?”

“Hm, mungkin,” balas Suzy singkat. Namun takut hati Kris lama-lama jadi terluka (atau mungkin sudah terluka), dia segera menyambung ucapannya. “Eh, aku hendak tidur. Sepertinya kalau tidak, Sungjae akan membombardir rumah karena dia minta aku untuk temani dia makan. Sampai bertemu besok, ya, terserah mau di mana. Kabari saja aku. Dah.”

Kris tertawa. “Dah, Sue.”

Klik. Telepon dimatikan.

Dimatikan.

Suzy duduk lemas, menyadari bahwa ponselnya sudah dikirim ratusan pesan tak penting dari si sepupunya yang idiot. Suzy menatap koper yang sudah siap seminggu yang lalu, paspor dan tiket di nakasnya, dan juga sebuah tas ransel yang siap menemaninya esok pagi.

Dia menatap pigura fotonya dengan Kris yang berada di sebelah paspor dan tiket. Itu foto beberapa bulan yang lalu, saat Suzy merasa semuanya masih begitu sempurna. Sebenarnya mukanya sangat jelek di situ, karena Sungjae—orang yang memfoto mereka, menjepret saat waktu yang tidak pas demi keisengan saja, karena katanya muka Suzy lucu sekali.

Saat itu mereka bertiga duduk di bangku taman kota sambil makan kentang goreng yang dijual di pinggir taman dan minum soda. Di foto itu, Suzy sedang tersedak dan Kris di sebelahnya. Wajah Kris lebih lucu lagi, dia menatap Suzy khawatir dengan tangan menggenggam tisu dan gelas soda. Suzy masih ingat saat itu, Kris sedang bertanya, “Sue? Kok bisa tersedak, sih? Makanya hati-hati kalau makan!”

Airmatanya hampir jatuh melihat jepretan momen itu. Dia mendekap pigura itu erat-erat, lalu merebahkan dirinya di kasur. Airmatanya langsung berderai dan dia terisak.

“Maaf, ya, ini sama sekali bukan tentang Liel…bukan juga kau…ini semua salahku. Aku hanya begitu lelah dan ingin pergi…sejauh mungkin, sejauh mungkin sampai namamu tak berkecamuk lagi di kepalaku…aku minta maaf…”
***
Kris menatap lemas kamar apartemen Suzy.

Kosong ompong. Tampaknya barang-barang yang merupakan kepentingan pokok Suzy sudah dikepak entah ke mana. Bahkan Suzy menitipkan kunci apartemennya pada seorang petugas keamanan. Dia bertingkah seolah tidak pergi jauh. Padahal…

Pandangannya teralihkan pada nakas kecil di sebelah tempat tidur, meja rias dan meja belajar gadis itu. Juga di atas televisi, di meja telepon, atau meja tamu. Masing-masing memiliki minimal satu pigura berisi fotonya dengan Suzy, dengan berbagai pose. Kris tak menyangka Suzy meninggalkan foto-foto kebersamaan itu begitu saja.

Padahal, dia berharap Suzy dapat membawanya sebagai kenang-kenangan.

Namun ada satu pigura yang tergeletak di atas tempat tidur. Piguranya kosong, tidak ada fotonya. Kris mendekat, dan mengamati pigura itu. Pigura dengan ukiran bunga dan dedaunan di sisi tepinya. Kris baru sadar, pigura ini adalah hadiah yang diberikan padanya saat dia kalah taruhan. Pigura ini ia berikan karena ia kalah bertaruh dengan Suzy, atas kekalahan tim kesayangannya, Manchester United dengan tim kesayangan Suzy, Bayern Munchen, setahun lalu.

Baru juga dia sadar, Suzy pernah menyelipkan sebuah foto konyol di pigura ini. Sekarang, foto ini entah ke mana. Apakah Suzy membawanya?

“Bae Suzy,” bisik Kris lemah. “Kau membuatku gila. Sepanjang hari.”

***

Bonjour, sir,” seseorang menyapanya saat Kris sedang menatap dengan pandangan kosong. “Ne pas reverie. Kau jadi terlihat menakutkan.”

Kris mengalihkan pandangannya dari menara Eiffel yang menjulang tinggi di hadapannya, kemudian tersentak melihat seorang pria muda yang kelihatan berkharisma di hadapannya. Dia tertawa hangat. “Ah, je suis bon. Aku hanya terpukau sedikit.”

Tu sais, di depan ini, aku sudah menyaksikan jutaan orang pria berlutut di depan untuk melamar jodoh mereka masing-masing. Hal yang biasa tapi sungguh romantis. Belle! Indah sekali. Nah, daripada kau melamun seperti itu, lebih baik cari gadismu agar kau bisa berlutut di hadapannya sekarang,” sambut pria itu ramah.

“Seorang femme dari sini? Ah, mungkin bisa kucari. Terimakasih sarannya,” Kris tertawa renyah. “Oh, ya, kau sendiri? Sudah punya seorang wanita untuk diajak, monsieur?”

“Tentu sudah,” pemuda itu mengangguk. “Kau tahu sesuatu tentang calon istriku ini?”

“Apa?”

Pemuda berkharisma itu berbisik sedikit. “Elle est bien! Seorang engelana. Dia meninggalkan negara asalnya, lalu ke sini dan mengganti kewarganegaraan. Dulu pertama kali bertemu, dia bahkan tak berani berbicara padaku, karena tak bisa mengucapkan bonjour dengan benar. Hahaha! Lucu sekali. Tapi itu yang membuatku jatuh cinta. Segala hal kecil yang dia lakukan, aku sangat menyukainya. Saranku, sebaiknya kau jangan pulang dalam waktu cepat. Aku akan undang kau ke pernikahanku beberapa bulan lagi, kau akan lihat betapa cantiknya dia.”

Kris menelan ludah, keringatnya mendadak jadi dingin. Tubuhnya sedikit limbung. Bayangan kejadian lima tahun lalu kembali membenak di pikiran, alasan sesungguhnya kenapa dia mengejar sampai ke depan menara ini. “Ah, pasti menyenangkan bisa berkenalan dengan dia. Aku yakin, dia gadis yang membuat kau hanya punya dia di sisimu, seolah dunia ini punya kalian berdua saja.”

“Tentu saja,” pemuda itu membalas dengan bahagia. “Hanya dia yang bisa. Tapi dia ada di sini, kok. Mau kukenalkan?”

“Boleh saja,” jawab Kris dingin, menunggu apa yang terjadi selanjutnya.

Pemuda itu menoleh ke belakang, ke arah seseorang yang sedang terduduk di tepi tiang menara Eiffel dengan beberapa teman wanita Prancisnya. Dia memanggil dengan bunyi yang cukup lantang.

“Sue? Pouvez-vous venir ici une minute?” tanyanya.

Tak lama kemudian, seseorang membalas dengan samar. Telinga Kris nyaman mendengarnya. “Attendez.”

Seseorang, dalam remang cahaya kekuningan lampu menara Eiffel, berjalan mendekati mereka. Kris bahkan mengenalnya dalam gelap. Mata, hidung, alis, bibir, rambut…bagaimana bisa Kris lupa pada gestur itu. Dia hapal semuanya di luar kepala.

“Nah, ini dia calon istriku yang cantik,” kata pemuda itu bangga. “Introduire soi, Suz.”

Wanita itu tersenyum menatapnya tanpa beban, seolah tidak mengenalnya. “Bonjour, jé Bae Suzy. Aku tadinya di Korea. Sepertinya aku mengenalmu.”

Savoir bien. Aku Kris. Kris Duizhang.”

Suzy tersenyum samar, berkata dengan suara parau, “Lama tidak bertemu, Yifan.”

***

untuk bahasa prancisnya, aku sama sekali nggak mahir. Itu juga pakai google translate kok hahaha…gak tahu deh benar atau nggak. Tapi aku memang pengen membuat kesan perancisnya lebih ril walaupun gak ada modalnya -_-v

well, di komentar, kalian bisa tanya apa aja kecuali: “kok suzy kenapa mendadak pergi gitu?”

Jawabannya banyak. Mungkin karena dia suka bertualang. Atau dia capek. Atau dia mau kabur. Cari jodoh. Drama queen. Terserah. Karena intiku bukan di situ, tapi pada bagaimana perasaan Kris saat dia menghilang.

RCL ditunggu, teman-teman!^^🙂

***

Arti:

(1) Ne pas reverie: jangan melamun.

(2) je suis bon: tidak apa-apa.

(3) tu sais: kau tahu.

(4) belle: indah sekali.

(5) femme: perempuan.

(6) elle est bien: dia hebat.

(7) Pouvez-vous venir ici une minute: bisakah kau ke sini sebentar.

(8) attendez: (ya), tunggu.

(9) introduire soi: perkenalkan dirimu.

(10) savoir ben: memang kenal.

7 responses to “[Sadness on Monday] Chasing

  1. Sequel juseyo Authornim…
    Pengen tau gimana perasaan suzy sebenarnya…

    Siapa calon suami suzy?

    Ditunggu karya selanjutnya Authornim…
    Fighting…😀

  2. huwaaaaaaaa T_T my favorite pairing ngapa jadi broken ginii??! huwaah, nad kamu tanggung jawab ini T__T
    bentar ya nad, aku atur napas(?) dulu, ya habis aku bener sesek napas baca SoM edisi kali ini, lebih sesek daripada COLOR😦

    dan bener ih, fokusku selama baca ff ini justru jatuh ke si fanfan, macam bagaimana cara dia bertahan di ambang ketidaktahuan yang penuh dengan ketidakpastian karena ditinggal suzy gitu aja. well, no comment for the plot, sukses mengubek-ubek hatiku yaa. gaya penceritaanmu yang ringan dan bersahabat(?) makin buat aku ga mau ketinggalan setiap tulisanmu, Nad🙂
    yo, semangat nulisnya, Nadiaaa😀😀

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s