[Freelance] We Are Not King and Queen Chapter 5

Title : We Are Not King and Queen | Author : kawaiine | Genre : Historical, Marriage-Life, Romance | Rating : PG-17 Main Cast : Bae Soo Ji as Queen Soo Ji,Kim Myungsoo as Kim Myung Soo | Other Cast : Kim Do Yeon as Hee Bin (Selir Tk.1), Lee Min Ho

“This plot and story is pure from my mind. Sorry for typos, don’t be a siders and plagiator. Happy reading :*”

***

“Jungjeon Mama, mungkin dengan datangnya surat ini kepada tangan lembutmu ini menjadi tulisan terakhir dalam hidupku. Aku, dayang yang tidak berguna. Aku yang tidak berani mengungkapkan kebenaran, aku menjadi lebih jahat dari orang yang melakukan kejahatan tersebut. Jungjeon Mama, pada malam itu… aku di perintahkan untuk membawakan makan malam untuk Yang Mulia Raja. Dan pada saat itu juga, Dayang itu masuk untuk memberikan penawar mabuk karena dia mendengar bahwa Yang Mulia mabuk berat. Aku mendengarnya di balik pintu yang dikawal ketat oleh pelayan kamar Yang Mulia. Para pelayan tersebut mengatakan bahwa aku ada di dalam. Aku tahu bahwa Dayang itu menyukai Yang Mulia Raja. Setiap kau berjalan berdampingan bersama Yang Mulia, ia selalu menggambarkan wajah yang penuh dengan bulan kebencian… Aku sering berbincang dengannya, aku mengenal suaranya. Aku tahu bahwa Dayang seperti dia belum boleh berhadapan dengan Yang Mulia. Dan Dayang Dam juga ada di dapur. Aku yakin berita Yang Mulia mabuk belum sampai di kediaman Yang Mulia karena para pelayan kamar justru bertanya kembali “Apakah Yang Mulia mabuk? Benarkah? Mengapa aku tak tahu?” begitu yang aku dengar. Aku langsung bersembunyi di balik tirai pembatas kamar Yang Mulia, menyadari ada hal yang tak beres. Tak lama kemudian ia masuk, dan pada saat itu pula Yang Mulia masuk kedalam bersama Pangeran Hyeosang… Jungjeon Mama, pada malam itu aku dapat melihat dengan jelas bahwa dayang itu bukan memberi penawar pada Yang Mulia, ia memberikan arak dengan tingkat paling tinggi, seperti arak di rumah para gisaeng istana. Yang Mulia sangat tidak sadar pada malam itu. Dan mataku menangkap yang seharusnya tak aku lihat. Aku melihat mereka dengan jelas melakukannya di depan mataku, bukan… Bukan Yang Mulia Raja, tapi Pangeran Hyeosang dan Dayang Kim. Pangeran Hyeosang lalu keluar setelah itu dan dayang itu membuka baju yang dikenakan Yang Mulia agar terlihat lebih nyata. Yang Mulia, ku mohon jangan simpan kebencian terhadap Yang Mulia Raja, ia tidak bersalah. Dayang itulah dan Pangeran Hyeosang yang bersalah banyak. Aku juga tak mengerti mengapa dayang itu tak bertanya kemana aku sewaktu ia masuk kedalam, padahal pelayan kamar memberitahunya bahwa aku sedang berada di dalam, mungkin karena tak melihatku di dalam ia berpikir bahwa aku sudah keluar. Pemikirannya sangat dangkal, aku yakin kau lebih cerdas Yang Mulia, kau mampu mengatasi masalah ini dengan benar. Yang Mulia, hiduplah dengan baik. Berbahagialah bersama Yang Mulia Raja, dan bersama anak-anak kalian yang akan tumbuh dengan baik di pangkuan kedua orang tua yang sangat menakjubkan seperti kalian berdua. Yang Mulia, meskipun aku tak berada lagi di dunia ini, aku selalu mendoakan kalian agar selalu hidup bahagia selamanya. Maafkan aku dayang yang lancang menuliskan ini padamu.”

Kehamilan Soo Ji kini masuk kedalam usia ke delapan. Ia sangat mengharapkan suaminya berada di sampingnya. Tapi ia tak mungkin gegabah, Myungsoo tak akan pulang sebelum tugasnya selesai. Soo Ji terduduk di ruangannya, hari ini ia malas melakukan apapun. Sudah sebulan semenjak surat itu berada di tangan Soo Ji, Soo Ji tak tahan jika ia harus berdiam diri, ia ingin…Mengunjungi Myungsoo. Tiba-tiba dayang diluar mengumumkan bahwa ibu suri datang, Soo Ji mempersilahkannya masuk.  Soo Ji memberi hormat pada ibu suri, Ibu suri pun tersenyum lalu duduk.

“Duduklah… Jungjeon Mama…” ujar Ibu Suri, Soo Ji lalu duduk.

“Apa yang membawamu kesini, Daebi Mama?” tanya Soo Ji. Ibu Suri tersenyum. Senyumnya mirip sekali dengan suaminya, batinnya, ini membuat Soo Ji semakin merindukan Myungsoo.

“Aku hanya ingin melihat perkembangan cucuku. Apakah dia baik-baik saja? Ku dengar belakangan ini kau jarang keluar kamar. Apa yang terjadi?” tanya Ibu Suri.

“Dia sangat baik, aku baru saja memeriksakannya kemarin kepada tabib istana. Ia sangat lincah, kakinya mulai menendang kesana kemari. Jika Yang Mulia ada disini ia mungkin akan tertawa melihat tingkah anaknya. Aku hanya sedang menjahit pakaian untuk anakku, Daebi Mama.”

“Kau merindukan suamimu?” tanya Ibu Suri, Soo Ji tersentak.

“Itu—Aku—“

“Kau sangat bersemangat jika membicarakan tentangnya. Aku juga sama merindukannya. Aku tahu kau di tinggalkan untuk waktu yang lama. Aku tahu pedih sekali menahan kerinduan itu, Jungjeon Mama.”

Soo Ji terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa di hadapan ibu mertuanya. Soo Ji mengusap perutnya dengan lembut. Ia kemudian memberanikan menatap Ibu mertuanya yang kini berada di sampingnya, ibu suri meraih kedua pipi Soo Ji. Ia juga mengusap perut buncit Soo Ji.

“Kita bersama-sama kesana.” ujar ibu suri. Soo Ji terkejut mendengarnya.

“Tapi, Yang Mulia Raja belum tentu mengizinkanmu Daebi Mama…”

“Dia akan mengerti karena aku melakukan hal ini dahulu, sewaktu ia di tugaskan di pertengahan kota, aku mengunjunginya karena aku juga merindukannya…Jangan khawatir.”

“Daebi Mama…” lirih Soo Ji, Ibu Suri kemudian memeluk menantu kesayangannya.

“Kita hanya mengunjunginya sebentar saja. Aku khawatir perihal bayimu dan usia kandunganmu yang sudah memasuki usia ke delapan.” Soo Ji mengangguk.

Ibu Suri dan Soo Ji memasuki ruangan bagian militer, dengan lembut ibu suri menjelaskan maksud dan tujuannya, namun dengan keras para pengawal dan tentara di bagian militer menolak keras, termasuk Tuan Bae yang kala itu sedang melihat pelatihan militer, Tuan Bae juga melarang Soo Ji untuk ke perbatasan. Hal ini juga membuat Raja Kim turun tangan, ia juga sama tak mengizinkan menantunya untuk pergi mengunjungi Myungsoo.

“Yang Mulia, ku mohon…” ujar Ibu Suri, namun dengan keras Raja menolak permintaan Ibu Suri.

“Baiklah, tidak apa-apa… jika aku tidak di perbolehkan kesana. Daebi Mama, sebaiknya kita tak perlu memohon lebih keras lagi… Aku rasa sudah cukup, biarkan saja aku menunggu Yang Mulia sampai ia menyelesaikan tugasnya. Kalau begitu, aku akan kembali ke paviliun.” ujar Soo Ji, ia kemudian membungkukan dirinya memberi hormat pada semua orang di ruangan militer. Ia dan rombongan dayangnya berjalan menuju paviliun miliknya, sepanjang jalan Soo Ji hanya berusaha menahan tangisnya, menjadi seorang ratu ternyata sesulit ini, ia harus menahan mati-matian kerinduannya pada suaminya sendiri.

1 Bulan kemudian…
Ini sudah memasuki bulan dimana Soo Ji seharusnya melahirkan, Ia kini sedang berjalan-jalan di sekitar istana, tabib mengatakan bahwa untuk memperlancar persalinan harus banyak berjalan-jalan seperti ini. Tiba-tiba Soo Ji merasakan sakit di sekitar perutnya, Dayang Jo dan dayang yang lain menopang tubuh Soo Ji.

“Sakit sekali, Jo Sanggung—“ ujar Sooji, Jo Sanggung panik, ia dengan cepat menyuruh dayang-dayang kerajaan untuk memanggil dan menyiapkan ruang persalinan untuk Soo Ji. Soo Ji menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan perlahan-lahan, ini sakit sekali.


Myungsoo berbincang dengan pengawal Mun, proyek di berbatasan ini sudah hampir selesai. Kasim Chun berlari ke arahnya, Myungsoo melihatnya dengan penuh keheranan.

“Yang Mulia! Yang Mulia! Yang Mulia Ratu hendak melahirkan sekarang!”

“Benarkah?! Aku harus kembali ke Istana, Pengawal Mun… Aku menyerahkan semuanya kepadamu.” ujar Myungsoo, Myungsoo dengan cepat menghampiri kudanya, ia kemudian menunggangi kudanya dengan hati-hati, rasa khawatir juga bahagia bercampur dalam hatinya. Pengawal-pengawal Myungsoo mendampinginya. Hingga ia tiba di sebuah hutan—sebuah panah menancap tepat di pohon tinggi dekat Myungsoo, dengan cepat para pengawalnya memborder Myungsoo.

“Siapa kau? Keluar!” ujar Pengawal Hong, tiba-tiba 10 orang pria dengan perlengkapan panah di punggungnya keluar dari balik semak dan pohon. Myungsoo terdiam kebingungan.

“Cheona, kau tenang saja.” ujar pengawal Hong pada Myungsoo.

“Aku akan kembali ke perbatasan. Kau harus mengecoh mereka, setelah mereka terkecoh aku akan berlari kesana.”

“Cheona, ini berbahaya. Kau tunggu sebentar saja disini. Jangan kemana-mana.”

“Semua akan baik-baik saja, Pengawal Hong. Soo Ji, Yang Mulia Ratuku akan melahirkan. Aku tak mungkin berlama-lama disini.” Myungsoo turun dari kudanya, ia membuka baju yang membalutnya. Pengawal Hong berbisik kepada semua pengawal yang melingkar di sekitar hutan. Pengawal Hong dan pengawal yang lain saling menyerang, dengan cepat Myungsoo berlari ke belakang menuju perbatasan, untung saja jaraknya masih tidak terlalu jauh. Pengawal Mun menoleh ke  arah belakang, di lihatnya Myungsoo yang tengah berlari. Pengawal Mun menghampirinya.

“Cheona, apa yang terjadi?”

“Pengawalku, mereka semua di serang, kalian sebaiknya hadapi mereka, aku akan kembali ke istana memakai kuda.” Pengawal Mun kemudian memerintahkan semua anak buahnya untuk memasuki hutan. Myungsoo dengan cepat menyambar kuda yang berada di belakangnya, ia segera menungganginya lalu berjalan menuju istana.

Pangeran Hyeosang dan Kim Musuri tengah terdiam di paviliun Kim Musuri. Tidak lupa dengan Menteri Yoon. Kim Musuri terlihat sedikit cemas.

“Apakah kau mencemaskan Yang Mulia?”

“Tidak—“

“Aku pastikan mereka hanya menghalangi jalan yang mulia, tidak lebih dari itu. Hanya sampai Ratu selesai melahirkan.” ujar Menteri Yoon.

Sementara di ruang persalinan kerajaan…
Tangan Soo Ji di ikat keatas dengan kain, sementara di mulut Soo Ji terdapat seperti gumpalan kain putih yang ukurannya tidak terlalu besar. Soo Ji berteriak, disana Dayang Jo dan Nyonya Bae terus menyemangati Soo Ji. Soo Ji dengan sekuat tenaga mendorong keluar bayi yang ada di perutnya. Para dayang-dayang dan pelajar bagian istana sedang berdo’a di kuil. Tentu saja untuk kelancaran persalinan Ratu mereka. Myungsoo dengan cepat memacu kudanya, hingga ia kini tiba di belakang kerajaan, dengan cepat pula Myungsoo turun dari kuda, ia berlari kedalam ke ruang persalinan kerajaan.

“Yang Mulia.” kedua dayang yang berjaga di pintu ruang persalinan memberikan hormat.

“Bagaimana? Apakah Ratu baik-baik saja?” tanya Myungsoo.

“Ini merupakan pertama kalinya ia melahirkan, wajar jika itu sangat sulit Yang Mulia. Ibu dari Ratu ada di dalam.”

“Baiklah, aku akan menunggu disini. Soo Ji-ah, aku disini!” teriak Myungsoo dari luar. Soo Ji yang sedang berteriak refleks menghentikannya.

“Cheona…” lirihnya, ia dengan cepat mengambil nafasnya lalu mendorong kembali bayinya dari dalam, dengan tenaganya, dengan tangannya yang mengepal kuat dan mata yang berlinang Soo Ji terus berjuang untuk mengeluarkan bayinya.

“Eoh, kepalanya sudah terlihat. Jungjeon Mama, ku mohon bertahanlah sedikit lagi.” ujar seorang dayang yang membantu kelahiran Soo Ji.

“Sayang, ibu ada disini… Yang Mulia Raja ada di luar. Kau harus berjuang sedikit lagi.” timpa Nyonya Bae. Soo Ji kemudian menarik kembali nafasnya. Matanya semakin berlinang mengeluarkan air mata, ini menyakitkan…

Myungsoo memejamkan matanya, ia menempelkan salah satu tangannya di pintu ruang persalinan. Ia sangat terharu mendengarkan teriakan Soo Ji dari dalam, ini pasti menyakitkan untuk istrinya.Tiba-tiba Tuan Bae datang bersama Pengawal Hong dan Pengawal Mun. Tandanya mereka berhasil menyelesaikan orang-orang yang menyerang tadi.

“Cheona, bagaimana—“

“Dia masih berjuang, Menteri Bae…” ucap Myungsoo. Tuan Bae terdiam, ia menepuk pundak Myungsoo.

“Soo Ji kami, dia anak yang kuat… Aku yakin dia pasti selamat bersama bayinya…Kau jangan cemas. Semua dayang bagian dan pelajar Kerajaan sedang berdo’a bersama di kuil. Mereka juga di dampingi para Shaman.”

“Aku tahu, ia pasti selamat. Aku tidak tahu pengaruh Soo Ji begitu besar disini.”  Tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi dari dalam. Myungsoo dan Menteri Bae membelalakkan matanya terkejut sekaligus bahagia, Myungsoo tersenyum.

Soo Ji menghela nafasnya, keringat dan air mata membasahi wajah dan tubuhnya. Soo Ji kembali menangis saat bayinya berhasil keluar dari dalam dirinya. Dengan cepat para dayang membersihkan Soo Ji. Tak lupa dayang lain juga membersihkan bayi Soo Ji. Nyonya Bae dan Dayang Jo tersenyum bahagia dan menangis haru.

“Ia seorang laki-laki, Jungjeon Mama.” Soo Ji yang kini tengah terduduk membuka tangannya, menyambut sang putra yang ia lahirkan, Soo Ji mencium dan mengusap pipi putranya, dia betul-betul mirip dengan Myungsoo. Tidak lama kemudian Myungsoo datang bersama Tuan Bae, disusul oleh Raja terdahulu dan Ibu Suri.

“Soo Ji-ah!” ujar Myungsoo menghampiri Soo Ji yang tengah menggendong putranya. Myungsoo menatap Soo Ji dengan wajah yang berbinar.

“Selamat, Cheona. Dia seorang laki-laki, seperti yang kau inginkan…” ujar Soo Ji. Soo Ji kemudian menyerahkan bayinya kepada Myungsoo, Myungsoo dengan hati-hati menggendong tubuh mungil dirinya dan diri Soo Ji.  Ia kemudian menatap dalam wajah bayinya, dilihatnya anak ini tengah memainkan bibirnya ketika ditatap Myungsoo.

“Lihatlah, matamu seperti mataku, tapi pipi dan bibirmu sangat mirip dengan Ibumu, Dae Jun-ah…” ujar Myungsoo, Soo Ji tersenyum, tapi kemudian ia menatap Myungsoo, merasa sesuatu yang aneh di dalam perkataan Myungsoo. Myungsoo yang menyadari pandangan Soo Ji hanya tersenyum.

“Wonja, Kim Dae Jun.” timpa Myungsoo, ia kemudian menatap Soo Ji.

“Cheona…” Myungsoo tersenyum,semua dayang mengucapkan selamat kepada Myungsoo dan Soo Ji, termasuk pada dayang dan pelajar yang kini sudah berdiri di depan Ruang Persalinan, mereka semua kini tersenyum bahagia menyambut kelahiran Putra Mahkota dari Raja dan Ratu.

“Selamat Yang Mulia Raja, Yang Mulia Ratu…” suara itu masih setia menyelimuti Kerajaan.

Kim Musuri mengusap perutnya perlahan-lahan, ia menitikkan air matanya. Ia menangis. Ia cemburu karena Rajanya mampu mengunjungi Ratu ketika melahirkan, padahal kedua pria yang selalu mengunjunginya ini berjanji bahwa akan membuat Raja tidak datang ke istana.

Jungjeon Mama melahirkan seorang putra, tentu saja ia akan menjadi Putra Mahkota.” ujar Menteri Yoon, Kim Musuri meremas hanboknya.

“Aku akan mengunjunginya.”

“Yang Mulia sedang bersamanya.”

==
Soo Ji tersenyum bahagia melihat Myungsoo yang tengah menimang bayinya. Ia bahagia melihat wajah Myungsoo, pria yang ia rindukan selama berbulan-bulan ini ada di hadapannya. Soo Ji dan Myungsoo kini berada di paviliun milik Soo Ji.

“Cheona, apakah kau bahagia?”

“Mengapa kau bertanya seperti itu, Soo Ji-ah… Jelas aku sangat bahagia. Sangat.” Soo Ji tersenyum manis memandang wajah Myungsoo, Myungsoo sangat terkagum-kagum melihat bayi dipangkuannya, bayinya bersama Soo Ji. Bayi yang ia nantikan. Merasa ada yang memperhatikannya, Myungsoo dengan cepat menatap Soo Ji.

“Wae? Mengapa kau menatapku seperti itu Soo Ji-ah?” Soo Ji menggelengkan kepalanya lalu mengambil alih Dae Jun yang berada di pangkuan Myungsoo, lalu Soo Ji menidurkan Dae Jun.

“Apakah aku boleh memelukmu?” tanya Soo Ji dengan malu-malu. Myungsoo tertawa.

“Tentu, kemarilah…” jawab Myungsoo, Myungsoo membuka tangannya, Soo Ji dengan cepat menghampiri Myungsoo dan memeluknya dengan erat. Soo Ji tersenyum, lalu menangis di pelukan Myungsoo, sepintas bayangan surat dari Dayang Yin hinggap kembali di atas kebahagiaannya sekarang. Soo Ji benar-benar merindukan Myungsoo. Merasa ada yang tak beres, Myungsoo melepaskan pelukannya.

“Kau menangis? Mengapa kau menangis Soo Ji-ah?”

“Aku merindukanmu—Cheona…” jawab Soo Ji dengan gugup. Myungsoo tersenyum lalu kembali memeluk Soo Ji.  Myungsoo mengusap punggung milik istrinya, bermaksud menenangkan Soo Ji. Dalam pikiran Soo Ji, ia tak mungkin memberitahu Myungsoo disaat Myungsoo masih bertugas, ia tak ingin membebani Myungsoo.

==
Soo Ji melangkahkan kakinya ke ruang persalinan kerajaan, siapa lagi yang akan melahirkan di kerajaan jika bukan Kim Musuri.

“Apa yang terjadi? Ini sudah satu jam mengapa bayinya belum keluar juga?” tanya Soo Ji panik pada dayang yang bertugas menangani persalinan Kim Musuri. Soo Ji melirik pada Kim Musuri yang tengah berteriak kesakitan.

“Kim Suk-Won, berjuanglah, jangan pikirkan apapun selain fokus dengan persalinanmu.” ujar Soo Ji menyemangati Suk Won.

“Yang Mulia, Jungjeon Mama. Yang Mulia.” Kim Suk Won berkata dengan nafas terengah-engah Soo Ji melirik pada Jo Sanggung yang berada di belakang.

“Jo Sanggung, kemana Yang Mulia? Mengapa dia belum datang?”

“Maafkan aku, Jungjeon Mama… Yang Mulia masih di perbatasan, permasalahannya belum selesai.” jawab Jo Sanggung, Soo Ji terdiam, ia melirik Kim Musuri.

“Tapi, Jungjeon Mama…Pangeran Hyeosang tengah berada di depan.Ia baru saja tiba.” ujar Jo Sanggung. Kim Musuri membelalakkan matanya, detik berikutnya ia kembali berjuang mendorong bayinya keluar.Dan entah keajaiban darimana, suara bayi itu kini memenuhi sudut ruangan persalinan. Soo Ji tersenyum bahagia. Ia melirik Kim Musuri.

“Bayimu sangat tampan.” Kim Musuri tersenyum dengan paksa ke  arah Soo Ji.

“Bok Sang-ah…” lirih Soo Ji sembari menggendong bayi mungil Kim Musuri , Kim Musuri melirik kepada Soo Ji.

“Jungjeon Mama, aku ingin Yang Mulia yang memberi nama untuk putraku.”

“Ini adalah nama yang aku berikan untuknya.” jawab Soo Ji, Kim Musuri mendelik.

“Kim Bok Sang, Yang diberkati, dan Mulia. Nama yang sangat indah dan penuh arti.” ujar Soo Ji.

“Jika aku mengandalkan kesakitan hatiku, aku ingin mengatakan ini padamu, Kim Suk Won, berani sekali kau menginginkan Yang Mulia memberi nama untuk anakmu dan anak Pangeran Hyeosang. Tapi, bayi di gendonganku ini makhluk kecil dan tak berdosa, aku menyayanginya…tanpa melihat siapa ibu dan ayahnya.” batin Soo Ji.

Soo Ji keluar dari ruang persalinan, di depan…Pangeran Hyeosang tengah berdiri gelisah, Soo Ji memberikan hormat padanya.

“Kau ingin mengunjungi Kim Suk Won? Kemana Menteri Yoon? Silahkan kedalam, bayinya sangat tampan. Sekilas ia mirip sekali denganmu.” ujar Soo Ji. Pangeran Hyeosang terkekeh.

“Menteri Yoon sedang di perjalanan, Ah, Yang Mulia Ratu… Aku dan Yang Mulia adalah adik dan kakak berbeda ibu. Wajar jika terjadi seperti itu.” jawab Pangeran Hyeosang, Soo Ji tersenyum.

“Bukankah Bok Sang adalah putramu…” batin Soo Ji


Kim Musuri tengah terdiam di ruangannya, kabar kepulangan Yang Mulia hari ini begitu cepat menyebar. Ia tersenyum pada pangeran Hyeosang yang berada di hadapannya.

“Aku ingin mengusir Yang Mulia Ratu secepatnya, ia sangat memuakkan.” ujar Kim Musuri.

“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Pangeran Hyeosang. Kim Musuri tersenyum.

“Bagaimana dengan shaman yang kemarin kita hubungi? Apakah ia sudah memulainya?”

Paviliun Soo Ji kini tengah diributkan oleh sesuatu, Soo Ji dengan khawatir menenangkan Putra Mahkota Dae Jun yang menangis sedari tadi. Ia menggendong bayinya namun Dae Jun hanya menangis keras. Jo Sanggung juga tak kalah sibuk menenangkan Dae Jun. Soo Ji membuka baju yang membalut tubuh Dae Jun, dan Jo Sanggung terkejut melihat apa yang ada di tubuh Dae Jun.

“Mama…Putra Mahkota…”

“Jo Sanggung, apa ini? Apa yang terjadi dengan putraku?” Soo Ji hampir menangis melihat putranya, ia melihat tubuh putranya yang kini berbintik-bintik banyak di sekujur tubuhnya.

“Aku akan memanggil tabib Jungjeon Mama. Tunggu sebentar.” ujar Jo Sanggung, Ia kemudian keluar dari paviliun Soo Ji, Jo Sanggung dan dayang yang lain berlari menuju tabib istana, di kejauhan, seseorang tertawa.

Jungjeon Mama, Yang Mulia Putra Mahkota terkena cacar air.” ujar tabib, para dayang yang berada di ruangan Soo Ji terkejut.

“Kami akan rutin mengobati Yang Mulia, jangan khawatir Jungjeon Mama.” tutur tabib yang kedua, Soo Ji menangis mendekap putranya.

“Tapi, Mama… Ini menular.”

“Aku tak peduli, dia putraku… Bahkan jika aku harus mati untuk kehidupannya, itu semua tak masalah.” ujar Soo Ji. Semua yang berada di paviliun Soo Ji memandang Soo Ji haru bahkan tak sedikit yang menangis.

Soo Ji keluar dari paviliunnya, dilihatnya Pangeran Hyeosang yang tengah berada di depan paviliunnya, Soo Ji memberikan hormat.

“Apa yang terjadi pada Yang Mulia?”

“Dia cacar.” jawab Soo Ji dengan raut wajah sedihnya, ia kemudian berjalan hendak menuruni tangga, namun dengan pikirannya yang gelisah dan bercampur aduk, Soo Ji terjatuh, dengan cepat Pangeran Hyeosang menangkap tangan Soo Ji. Dan dengan cepat itu pula Soo Ji melepaskan tangannya, dengan cepat juga Myungsoo, Yang Mulia Raja yang hendak masuk ke halaman pavilun Soo Ji meninggalkan paviliun Soo Ji.

“Kita kembali saja.” ujar Myungsoo pada Kasim Chun.

“Tapi, Yang Mulia… Putra Mahkota sakit cacar dan anda belum mengunjunginya…”

“Aku bilang kembali saja! Aku akan mengunjungi Kim Suk Won, tidak—Kim Hee Bin.”


Kim Musuri kini tertawa bahagia melihat Myungsoo yang berada di hadapannya yang sedang menggendong bayinya dan mengajak bayi tersebut bercanda. Namun Bok Sang hanya menangis keras, Myungsoo terdiam.

“Yang Mulia Ratu yang memberinya nama.”

“Itu nama yang sangat bagus, aku menyukainya.” ujar Myungsoo.

Soo Ji menatap Dae Jun yang sedang tertidur dibawah pengaruh obat yang diberikan tabib. Ia memandang haru putranya, hati Soo Ji sedikit sakit mendengar bahwa Myungsoo sudah kembali tetapi Myungsoo tak mengunjunginya—dan ia lebih memilih mengunjungi Kim Suk Won yang baru melahirkan.

Pagi hari ini Soo Ji mengunjungi daerah memanah di Kerajaan, dilihatnya Myungsoo yang tengah berlatih, Soo Ji tersenyum melihatnya. Myungsoo benar-benar gagah dan tampan. Soo Ji sedikitnya bersyukur Myungsoo dalam keadaan yang sehat. Soo Ji kembali melanjutkan langkahnya, Myungsoo menoleh ke  arah dimana Soo Ji tadi berada, Kasim Chun kebingungan…apa yang terjadi pada keduanya.

“Cheona, Jungjeon Mama baru saja pergi…”

“Biarkan saja.”

Soo Ji menghembuskan nafasnya kasar, ia tersenyum ketika melewati paviliun Kim Sukwon. Ia tahu rumor dimana Kim Sukwon akan naik tingkat menjadi Hee Bin. Soo Ji mendengar Bok Sang yang sedang menangis di dalam. Dayang di paviliun Kim Sukwon dengan cepat menghampiri Soo Ji.

Jungjeon Mama, putra Sukwon Mama menangis sedari tadi. Sukwon Mama sedang ke bagian Jimbang.” ujar salah satu dayang tersebut. Soo Ji dengan cepat berlari ke paviliun Kim Sukwon. Lalu Soo Ji menggendong Bok Sang.

“Bok Sang-ah… Apa yang terjadi padamu?” Soo Ji menidurkan Bok Sang kembali, Soo Ji terdiam sejenak, ia kemudian teringat pada Dae Jun, Dae Jun juga menangis seperti Bok Sang pada saat menjelang cacar. Soo Ji kemudian membuka selimut bayi yang membalut tubuh Bok Sang, dengan cepat pula ia melihat tanda-tanda di tubuh Bok Sang, Soo Ji menahan leher Bok Sang, dan ia menempelkan tangannya yang lain di sekitar leher Bok Sang yang lainnya ketika menyadari leher Bok Sang terluka seperti bekas tancapan kuku. Soo Ji terkejut, tapi yang tak kalah mengejutkan adalah kehadiran Kim Sukwon dan Yang Mulia Raja. Soo Ji kemudian mendongak menoleh kepada Sukwon.

“Jungjeon Mama, apa yang kau lakukan pada anakku?” tanya Sukwon panik, ia dengan cepat menyingkirkan tangan Soo Ji yang berada di leher Bok Sang dan sedikit mendorong Soo Ji. Soo Ji sedikit bergetar.

“Kau hendak mencekik putraku, Jungjeon Mama, kau mengerikan.” teriak Kim Sukwon, Myungsoo menoleh pada Soo Ji. Ia kemudian mengalihkan pandangannya.

“Apa yang kau lakukan pada anakku? Jungjeon Mama?” tanya Myungsoo, Soo Ji tersentak, hatinya sakit. Itu bahkan bukan putra kandung suaminya.  Ya, kebenaran yang Soo Ji sembunyikan dari Myungsoo membawa penyakit pada hatinya.

“Cheona, aku tidak melakukan itu. Aku hanya memeriksa keadaan Bok Sang, aku melihat bekas tancapan kuku disana.” jelas Soo Ji. Myungsoo menggeleng.

“Lebih baik kau keluar—Aku—Tak ingin melihatmu lagi—“ Myungsoo berkata datar—sekali. Soo Ji hendak menangis, dayang-dayang yang mengiring Soo Ji terkejut mendengar penuturan Myungsoo. Kim Sukwon tersenyum. Soo Ji bangkit dari duduknya, ia kemudian melangkahkan kakinya keluar dari paviliun Suk Won.

“Yang Mulia…Apa yang terjadi padamu—Aku merindukanmu.” lirih Soo Ji.


Hari ini Myungsoo mengadakan pertemuan di Aula Pertemuan Kerajaan, para menteri dari Fraksi Selatan mengusulkan agar Soo Ji di gulingkan, selain penyakit Putra Mahkota Dae Jun yang menular—pasalnya sudah ada 2 dayang yang berjaga di paviliun Soo Ji yang tertular. Soo Ji juga melakukan percobaan pembunuhan pada Bok Sang.

“Harap pertimbangkan kembali Yang Mulia.” ujar Menteri Yoon. Myungsoo memijat kepalanya, ia pusing. Dilihatnya sekilas ayah mertuanya, Menteri Bae hanya terdiam—Fraksi barat tidak bisa melakukan apa-apa. Ini diluar kendali mereka, bukti sudah ada di depan mata.

“Baik, aku akan mempertimbangkan kembali. Sesuai janjiku, Suk Won akan diangkat menjadi Hee Bin.” jawab Myungsoo.

“Ini tidak adil, Yang Mulia… Yang Mulia Ratu akan di gulingkan, siapa yang akan menjadi ibu dari Negara ini?” ujar Menteri Yoon.

“Yang Mulia…” Menteri Bae berdiri dari tempatnya.

“Aku izin mengunjungi putriku.” ujar Menteri Bae. Myungsoo mengiyakan. Menteri Bae dengan langkah cepatnya mengunjungi paviliun putrinya.

“Abeoji…” lirih Soo Ji.

“Maafkan aku… Aku yang membawamu kesini, dan aku tak bisa menolongmu sekarang…” ujar Menteri Bae.

“Tidak apa-apa, aku tahu ini akan terjadi. Aku akan kembali ke rumah bersama Dae Jun.” jawab Soo Ji. Menteri Bae dengan cepat memeluk putrinya, ia tahu semenjak Soo Ji menikah dengan Raja, Soo Ji selalu menyembunyikan air matanya. Soo Ji kemudian menangis di pelukan ayahnya. Pelukan yang menenangkan dari laki-laki lain selain Myungsoo.

“Aku menunggumu di rumah.” ujar Menteri Bae, Soo Ji mengangguk tersenyum.

Myungsoo mengeluarkan perintah dimana Ratunya akan di gulingkan dan Suk Won yang kini menjadi Hee Bin akan menjadi Ratu. Tapi Myungsoo belum menobatkan Bok Sang sebagai Putra Mahkota. Putra Mahkota tetap berada di genggaman Dae Jun, meskipun Dae Jun akan ikut dengan Soo Ji keluar dari istana, tapi Dae Jun tetaplah anaknya, Dae Jun adalah Putra Mahkota, Putra Mahkota haruslah dari hubungan Raja dan Ratu—Ibu suri yang mengatakan ini.

Soo Ji sudah siap dengan hanbok putihnya, ia keluar dari paviliun, dilihatnya tak ada tandu yang akan mengantarnya, Soo Ji melirik Jo Sanggung yang berada di sampingnya.

“Dia yang memerintahkan, Jungjeon Mama.

“Baiklah, kita berjalan kaki saja.” jawab Soo Ji. Pakaiannya kini berubah menjadi pakaian yang sederhana, tak ada Binyeo emas yang menghiasi rambutnya, tak ada juga hiasan di rambutnya—ini benar-benar menyedihkan. Dayang-dayang bagian istana melihat Soo Ji dari kejauhan. Mereka bersedih. Soo Ji melihat sekelilingnya, disini ia tumbuh menjadi seorang istri—dan seorang ibu. Jo Sanggung menyerahkan Dae Jun ke pangkuan Soo Ji. Soo Ji mencium putranya. Jo Sanggung kemudian mengikuti langkah Soo Ji ketika Soo Ji mulai berjalan, tak lama kemudian Ratu yang baru memasuki paviliun dengan langkah angkuhnya, Soo Ji memberi hormat lalu berjalan melewati Ratu Kim.

Myungsoo, menyaksikan kejadian ini dari atas paviliunnya. Ia juga tersentak, sakit hatinya. Tapi, ia tak bisa berbuat apa-apa karena di matanya Soo Ji sudah salah, menyalahi aturan sebagai seorang ratu. Kasim Chun menunduk, ia sesekali melemparkan pandangannya kepada Soo Ji yang kini berjalan bersama Dae Jun dan Jo Sanggung.

Cheona,malam ini—“

“Aku tidak ingin mengunjungi Ratu. Aku ingin diam dikamar saja. Aku butuh waktu untuk berpikir kembali. Lagipula, ibuku tidak menginginkan ini semua terjadi, kan? Begitu juga dengan ayahku?” Kasim Chun mengangguk.

Soo Ji keluar istana dengan langkah perlahan-lahan, pengawal Hong dan Pengawal Mun mengawalnya. Ia tahu bahwa ini adalah utusan Yang Mulia Raja. Soo Ji berjalan dengan langkah ringan, identitasnya sebagai ratu akan diketahui seluruh masyarakat hari ini.

“Bersihkan jalan—Ratu yang di gulingkan akan lewat.” ujar Pengawal Mun, sebetulnya ia tak tega mengatakan ini pada Ratu Soo. Para warga yang berada di jalanan sekitar istana menyamping, mereka berbisik. Soo Ji sudah siap, jika ada yang melemparinya dengan sesuatu—apapun itu.

“Ratu yang baru sengaja tak memberikan anda tandu karena ia ingin mempermalukan anda disini, Yang Mulia.” ujar Jo Sanggung. Soo Ji tersenyum.

“Aku tak pernah malu berjalan disini, karena aku pernah menebar kebaikan disini.”

Rumor Soo Ji yang hendak membunuh Bok Sang menyebar di masyarakat, dan tentang sakitnya Putra Mahkota, semua masyarakat sudah mengetahuinya. Tapi, rumor dimana Soo Ji hendak membunuh Bok Sang dengan cepat di sterilkan oleh Jo Sanggung yang kemarin-kemarin berjalan di sekitar pasar.

“Bukankah itu wanita yang sering mengunjungi perpustakaan?”

“Ah, kau benar. Ia juga yang sering mengunjungi Rumah Penampungan Warga.” ujar salah satu warga.

“Dia seorang ratu. Dia selama ini menyamar untuk melihat kelangsungan hidup warganya. Bukankah begitu?” timpa warga yang lain.

“Oh—Ratuku yang malang.”
Ketika Soo Ji melanjutkan langkahnya, Soo Ji terkejut ketika melihat dua orang pria yang kini bersujud di hadapannya. Tepat di depan kakinya. Pengawal Hong dan Pengawal Mun menyingkirkan kedua pria ini, tapi Soo Ji menghentikannya. Warga yang lain yang melihatnya saling berbisik penasaran.

“Jungjeon Mama, aku sudah tahu kau adalah Ratu. Kau yang membantu pembangunan perpustakaan. Kau juga yang membangun rumah penampungan. Kau yang memberikanku sepotong baju dan sepuluh koin. Kami pantas mati karena tak mengetahui kebaikan anda.” ujar pria tersebut, Soo Ji terdiam, ia kemudian tersenyum.

“Tidak apa-apa. Lagipula aku yang menyembunyikan identitasku.” ujar Soo Ji.

“Kau yang memberikan sepatu kepada putriku.” ujar pria yang berada di samping pria tadi, lalu dengan cepat seorang wanita juga melakukan hal yang sama.

“Kau yang membantu anakku yang sakit sewaktu itu, Yang Mulia Ratu—kebaikanmu tak terhingga.”

“Kau yang memberiku 5 koin untuk makan. Yang Mulia Ratu—apa yang terjadi padamu sekarang?”

“Kau wanita yang memiliki hati yang luas, kau sangat rendah hati—Yang Mulia Ratu.”
Soo Ji terharu, tersenyum bahagia diatas sakit hatinya karena pria yang ia cintai. Semua warga memanggil namanya, tak  ada yang membencinya atau melemparinya seperti yang ia bayangkan. Jo Sanggung juga terharu, kebaikan Soo Ji dikenang baik di sini, di Negara ini.

“Izinkan kami mengantarmu sampai ke rumahmu, Yang Mulia Ratu. Kami tahu kau bukan orang jahat seperti rumor yang beredar.” Pengawal Hong dan Pengawal Mun melirik pada Soo Ji. Soo Ji menganggukkan kepalanya.

==
Soo Ji kini tiba di halaman rumahnya—ini rumah masa kecilnya, disana—Nyonya dan Tuan Bae, Heo Ahjumma, Shiyoung, Da Ra, Yeol sudah berdiri menyambutnya dan memberikan hormat kepadanya. Soo Ji tersenyum.

“Eommoni…” Soo Ji melangkahkan kakinya menghampiri Nyonya Bae, Soo Ji memeluk Nyonya Bae, Soo Ji menangis. Jo Sanggung yang sedang berada di dekat pintu dan menggendong Dae Jun menjadi sasaran pertanyaan para warga.

“Mama-nim… Apakah Putra Mahkota kami sakit cacar?”

“Ya, bukankah kalian mengetahuinya?”

“Malam  ini Kami ingin berdo’a untuk kesembuhan Putra Mahkota, bolehkah? Kami juga akan mengundang cenayang-cenayang kota. Kami akan melakukan ini di halaman rumah Yang Mulia Ratu. Bolehkah?” tanya seorang warga.

“Aku akan menanyakan ini terlebih dahulu pada Tuan Bae.” tutur Jo Sanggung, ia kemudian membisikkan sesuatu pada Heo Ahjumma. Tuan Bae kemudian mengangguk setelah mendapat pernyataan dari Nyonya Bae yang berasal dari Heo Ahjumma.

“Tuan Bae mengizinkannya.” ujar Jo Sanggung. Pengawal Mun tersenyum, para warga bersorak sorai.

“Jangan lupakan juga shaman yang akan datang dari istana.” ujar Pengawal Mun.

===
Malam  ini adalah malam yang ditunggu-tunggu para warga, mereka melangkahkan kakinya masuk ke halaman rumah Tuan Bae. Para warga telah duduk di halaman rumah Tuan Bae, Soo Ji duduk di kamarnya, ia menjaga putranya di dalam. Terkadang banyak pula warga yang berdo’a di halaman perpustakaan yang Soo Ji bangun, para warga yang tidak bisa hadir berdoa di rumahnya masing-masing.

Sementara di istana, Myungsoo meminum arak beras yang dipesannya dari bagian dapur. Ia sangat mabuk. Ini keputusannya yang paling bodoh mengeluarkan Soo Ji dari istana. Ratu Kim yang sedari tadi berdiam diri di kamarnya menunggu Myungsoo kini sudah tertidur bersama Bok Sang. Myungsoo berdiri dari tempatnya.

“Cheona, kau sangat mabuk…”

“Aku ingin bertemu Soo Ji…” ujar Myungsoo, ia membuka bajunya lalu meraih baju yang biasa ia pakai jika melakukan penyamaran keluar.

“Tapi, Yang Mulia Ratu sudah tidak disini…”

“Aku ingin menemuinya, aku akan ke rumahnya!” ujar Myungsoo, ini sudah larut malam. Myungsoo melangkahkan kakinya keluar, ia dengan cepat keluar dari istana, Myungsoo juga mengusir Kasim Chun agar tidak mengantarkannya, Myungsoo juga mendorong Pengawal Mun. Myungsoo melirik jalanan yang sudah sepi, tapi sebuah rumah di dekat pasar terlihat ramai—ya, ia tahu itu adalah rumah ayah dan Ibu mertuanya.

“Apa yang terjadi disini? Sangat ramai—Apakah Soo Ji menikah dengan Hyeosang—Arrgh” ucap Myungsoo tanpa sadar, Myungsoo kemudian menghampiri bangunan rumah tersebut, ia kemudian meloncat melewati benteng di belakang. Soo Ji yang kala itu sedang tersenyum memandangi Dae Jun terkejut, tapi ia memilih  membuka jendela, sinar rembulan memasuki ruangan Soo Ji, Soo Ji suka sekali sinar rembulan, ia biasa menatap ini bersama Myungsoo, Soo Ji kemudian kembali pada Dae Jun dan membiarkan jendela itu terbuka. Myungsoo dengan langkahnya yang terseok-seok menemukan jendela yang terbuka, ia kemudian teringat pada salah satu kebiasaannya dengan Soo Ji.

“Soo Ji…” lirihnya.

“Dae Jun-ah… kau tahu… Ibu sangat suka melihat ini bersama ayahmu…” Dae Jun yang membukakan matanya hanya menatap Soo Ji, sesekali ia tersenyum. Soo Ji aneh pada Dae Jun hari ini, Dae Jun sangat rewel jika berada di istana kemarin, bahkan tadi siang ia sangat rewel karena sedang sakit. Tapi, malam ini putranya begitu damai. Mungkin ini pengaruh dari para warga yang berdoa untuk kesembuhan Dae Jun.
Myungsoo meloncat meraih jendela yang terbuka, ia kemudian memasuki ruangan ini,menyusuri ruangan ini. Soo Ji terkejut, ia kemudian menyalakan lilin. Ia berjalan menuju jendela yang ia buka, jendela itu letaknya memang sedikit jauh dari tempat Soo Ji dan Dae Jun tadi. Soo Ji dapat melihat jelas seorang pria yang kini berjalan ke  arahnya.

“Siapa kau?” tanya Soo Ji, Soo Ji sedikit memundurkan tubuhnya. Myungsoo kemudian semakin mendekat,Myungsoo tahu betul siapa pemilik suara ini. Ia tersenyum.

“Soo Ji-ah… Ini aku… Aku merindukanmu.” ujar Myungsoo, Soo Ji mengernyit heran.

“Yang Mulia…?” Soo Ji kemudian mendekat pada pria ini. Dengan tangan yang bergetar memegang lilin, Soo Ji melihat jelas siapa di hadapannya, ini Myungsoo.

“Bagaimana bisa kau disini Yang Mulia…?” tanya Soo Ji. Soo Ji kemudian duduk seketika melihat Myungsoo mendudukkan dirinya, ia kemudian menyimpan lilin di sampingnya.

“Aku merindukanmu, aku bodoh—aku melihatmu bersama Pangeran Hyeosang, aku—sangat cemburu.” ujar Myungsoo , ia masih dibawah pengaruh arak beras yang ia minum tadi. Soo Ji tersenyum.

“Maafkan aku Yang Mulia, tapi—aku senang kau masih mengingatku.” Myungsoo mendekatkan dirinya dengan Soo Ji, ia kemudian meraih tangan Soo Ji.

“Bagaimana bisa aku melupakanmu disaat bayanganmu,senyummu, masih berada di ujung mataku, dan berada di otakku. Juga—disini.” ujar Myungsoo sembari meletakkan tangan Soo Ji di dadanya.

“Aku tahu kau tidak melakukan itu pada Bok Sang…” sambung Myungsoo, Soo Ji menunduk, Myungsoo kemudian meraih dagu Soo Ji dengan tangannya lalu mencium bibir Soo Ji perlahan.

“Kau mabuk, Yang Mulia…” ujar Soo Ji. Myungsoo menggeleng.

“Aku tidak mabuk,aku hanya merindukanmu…” itu menjadi ucapan terakhir Myungsoo, Myungsoo kemudian tersungkur di hadapan Soo Ji. hampir menindih tubuh Soo Ji. Soo Ji kemudian menidurkan Myungsoo didekat Dae Jun, ia mengerti mengapa Dae Jun sangat damai malam  ini, ayahnya datang.

Soo Ji kemudian melangkahkan kakinya keluar, dilihatnya para warga dan keluarganya yang masih berdo’a dengan mata terpejam. Soo Ji menuju dapur untuk membuatkan air madu. Ini untuk Myungsoo yang mabuk. Tak butuh waktu lama untuk membuatnya, Soo Ji kembali ke kamarnya. Ia kemudian membangunkan Myungsoo.

“Yang Mulia, minumlah ini…” Myungsoo mengerang, ia kemudian mendudukkan dirinya lalu Soo Ji membantunya untuk minum.

“Terimakasih… Soo Ji-ah… Aku merindukanmu…”

“Aku juga merindukanmu, Yang Mulia…” tutur Soo Ji, Myungsoo tersenyum lalu mengusap pipi Soo Ji.

“Yang Mulia…Sejujurnya… Tentang kematian Dayang Yin, dia meninggalkan surat untukku…”

“Surat?” Soo Ji mengangguk.

_TBC_
Musuri:Selir
Haiii readers, ada yg kangen ff ini gak yaa haha. Lama ga update yang ini, makin sini ceritanya mirip2 jang ok jung atau dong yi ya haha, emm nemuin komentar di chapter 4 gitu kalo ga salah, ada yang bilang ini terinspirasi dr Jang Ok Jung hehe kan udah author jelasin di chapter sebelum-sebelumnya heeu. Ok deh,  Jangan lupa RCL. Thanks🙂

58 responses to “[Freelance] We Are Not King and Queen Chapter 5

  1. Aku nangis haru baca part ini… kbaikan sooji diakui rakyatny…

    Myung cm gr2 jealous jd gk blain sooji.. bener2 dah.. tapi akhirnya nyariin jg..

    Bagus. doyeon, Bersiap2lah kena murka myungsoo..

  2. Huuuhhh kesel banget sma selir gk tau diri macam kim doyeon .. kapan sih kebohongannya terbongkar. Aku emosi baca part ini author hebat deh fell nya dpet banget… fighting ya author…

  3. aigoo.. myungsoo cemburu nya parah yaa… sampe suzy digulingkan jadi ratu… rakyat tteep menyayangi ratu mereka…
    doyeon menyebalkan.. minho jugaa.. semoga cepat terungkap

  4. Aku merasa sedih saat suzy difitnah, dan sempat kecewa juga dengan myungsoo karena begitu mudah percaya hasutan selir licik itu. Andai sooji dengan cepat memberikan surat peninggalan dari dayang yang menjadi saksi busuk selir dan pangeran itu.
    Tapi bersyukur juga karena myungsoo masih percaya pada akhirnya.

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s