[Freelance] Eotthokkae? 2/3

Title : Eotthokkae? | Author : kawaiine | Genre : Family, Romance | Rating : PG-17 Main Cast: Bae Soo Ji, Kim Myungsoo | Other Cast : Park Jiyeon, Nam Woohyun, Lee Jong Suk, Son Na Eun, Lee Min Ho, eTc

“Hello, I’m back with new ff, kkk… sorry for typos and bad poster… don’t be a siders and plagiator, happy reading^^”

***

“Kim Myung—Myungsoo?” yeoja ini kini hampir saja memuntahkan minuman yang ia minum.

“Ya, aku bertemu lagi dengannya. Eotthokkae Jiyeon-ah?”

“Kim Myungsoo—igeo—igeo” ujar Jiyeon sembari meletakkan tangan di atas rambutnya dan menarik tangannya keatas.

“Ya! Rambutnya sekarang sudah merunduk dan dia memang tampan, apakah kau tidak melihatnya di televisi? Dia cukup terkenal dan berbakat dalam menciptakan lagu dan acting.”

“Mian, aku tidak menonton TV. Aku sibuk mengurus Hayoung. Kau tahu sendiri, pekerjaanku benar-benar seperti ibu rumah tangga. Pagi,malam, siang, aku sibuk. Seung Ho Oppa hanya menayangkan channel anak-anak di TV.”

“Lalu, apa yang kalian bicarakan kemarin?” sambung Jiyeon.

“Aku dan Myungsoo hanya bercerita tentang anak-anak.”

“Parahnya, aku dan Myungsoo bernasib sama. Kami single parents.”

“Mwo? Bukankah dia menikah dengan Na Eun?”

“Mereka menikah tapi hanya sampai Na Eun melahirkan Joowon, sesudah itu—Na Eun dan Myungsoo bercerai, lalu ia menikah dan menetap di Amerika, dan sebuah virus mematikan menyerangnya, dan ia meninggal.” jelas Sooji, Jiyeon hampir kembali memuntahkan orange juice yang ia minum.

“Aish, gadis itu—aku tak menyangka ia memiliki riwayat hidup yang sangat singkat. Hem, Sooji-ah…bukankah ini sama-sama kesempatan yang bagus?”

“Apa maksudmu?”

“Seoyeon dan Joowon sama-sama membutuhkan ayah dan ibu…”

“Ya! Itu tidak mungkin.”


Myungsoo berada di ruangannya yang penuh dengan alat-alat musik. Woohyun mendengus kesal melihat Myungsoo yang sedari tadi berjalan bolak-balik sembari memainkan jari-jarinya di dagunya.

“Myung, bisakah kau duduk?”

“Aku tidak bisa—dan ini sangat mengejutkan. Aku dan dia di pertemukan dalam kondisi yang sama.”

“Dan aku sedikit bertengkar dengannya. Eotthokkae Woohyun-ah?”

“Bertengkar?”

“Ya, karena anak-anak kami.”

“Aish, kalian ini. Kau lebih baik meminta maaf.”

“Untuk apa? Aku tak bersalah…dan dia juga salah mengajarkan anaknya.”

“Kau salah mendidik Joowon, kau bahkan memberinya video Hyuna setiap hari. Itu meracuni pikiran anakmu. Dia bisa menjadi pervert di kemudian hari. Myung, bukankah ini kesempatan yang bagus? Lebih baik kau tuntaskan apa yang tak sempat kau katakan padanya dahulu.”

“Aku tak yakin—Woohyun-ah.”


Sooji berjalan ke perpustakaan hendak mengembalikan buku yang Sooji pinjam beberapa waktu lalu, semenjak masuk ke sekolah ini ia harus belajar lebih banyak untuk mengejar pelajaran yang berbeda. Di ujung sana seorang pria berambut tinggi tengah berlari kencang Sooji terdiam bingung, pria itu masih berlari cepat hingga ia tak melihat orang-orang di depannya, dan—


BRUKK! buku-buku yang Sooji bawa kini berhamburan ke samping.

Sooji memekik kesakitan pada sekitar punggungnya, matanya yang tadi terpejam kini terbelalak sempurna melihat siapa yang di depannya—tepatnya yang berada di atas tubuhnya. Pria itu juga sama membelalakkan matanya, namun detik berikutnya pria ini mengulas senyumnya.

“Kau cantik sekali jika dilihat sedekat ini. Kau mengingatku, bukan?”  bukan mendorong atau memukul pria itu, Sooji malah balik bertanya.

“Nugu?”

“Kita bertemu kemarin di halte bus. Kau cantik sekali…”

“Gomawo…” ucap Sooji ragu, tiba-tiba dua orang pria menarik pria yang menindih Sooji, Sooji kini sadar, ia kemudian bangkit lalu mengambil buku-bukunya dan membereskannya.

“Ya! Kau memang anak jahil, apa yang kau masukkan kedalam baju olah raga Dong Mun? Sekarang kau tidak bisa lari kemana-mana lagi!” ujar kedua pria yang kini tengah memposisikan dirinya seperti polisi yang menangkap penjahat.

“Dong Mun kemarin mengerjaiku, aku juga tidak mau kalah!”

“Kau harus merasakan balasannya.” ujar salah satu pria itu, Sooji masih berdiri di tempatnya dan melihat Myungsoo. Sooji menggelengkan kepalanya, ia kemudian melanjutkan kembali langkahnya yang terhenti.

Para siswa kini tengah makan siang di kantin sekolah, Sooji dan Jiyeon duduk berdua di ujung ruangan, tiba-tiba dua orang pria memasuki kantin, pria yang satu tengah memapah pria yang sepertinya terluka cukup berat.

“Jiyeon-ah, apakah kau mengenal namja itu? Namja berambut tinggi.” Jiyeon menahan tawanya, tapi ia juga akhirnya tertawa lepas karena Sooji.

“Panggilanmu bagus juga, Sooji-ah… Oh, itu adalah Kim Myungsoo. Pria paling jahil di sekolah ini. Dia selalu membuat masalah. Dan pria di sebelahnya adalah Nam Woohyun, sahabatnya.”

“Oh, begitu…”

“Dia juga satu kelas dengan Min Ho Sunbae. Jadi, mengapa kau bertanya tentangnya?”

“5 hari yang lalu—apakah kau ingat yang aku ceritakan? Ada seorang namja yang menabrakku sewaktu aku hendak ke perpustakaan, dia orangnya…Kim Myungsoo.” Jiyeon membelalakkan matanya.

“Dia benar-benar cari masalah, jika Min Ho Sunbae tahu, dia akan segera di selesaikan olehnya.”

“Wae?”

“Dulu, ada seorang gadis yang dekat dengan Min Ho Sunbae, gadis itu kemudian di dekati oleh Myungsoo sunbae dan pada akhirnya, Myungsoo sunbae di pukuli habis-habisan.”

“Apakah Min Ho Oppa pria yang kasar jika di sekolah?” tanya Sooji.

“Ya, terlebih urusan wanita…dia adalah rajanya.” jawab Jiyeon. Sooji terdiam.

“Kau tidak tersinggung dengan ucapanku kan?” tanya Jiyeon. Sooji menggeleng.


Sooji melangkahkan kakinya masuk kedalam apartemen, dilihatnya Seoyeon yang tengah menonton televisi. Ia sengaja pulang lebih awal, ini masih jam 7 malam, pemotretan untuk iklan terbarunya memang menyita waktu dan tenaga. Tapi, untuk kali  ini ia izin pulang terlebih dahulu. Ia khawatir jika Seoyeon sendirian di rumah.

“Hello, Princess.

“Eomma sudah pulang? Tumben sekali.”

“Apakah aku tidak boleh pulang terlebih dahulu? Aku ingin sekali melihat wajah putriku yang sudah dewasa.” ujar Sooji, ia kemudian memeluk Seoyeon.

“Aku lapar.”

“Baiklah, kau tahu kan aku tak mungkin memasak?” Seoyeon mengangguk.

“Eomma akan mandi dulu.”

Myungsoo memasuki kamarnya—tepatnya kamar Joowon juga. Myungsoo kemudian melihat Joowon yang sedang menonton sesuatu di laptopnya, dengan cepat Myungsoo menutup laptop itu.

“Ya! Jangan menonton lagi. Kau hanya akan jadi pervert!”

“Kau yang mengajariku, hyung.” jawab Joowon ringan, Myungsoo menatap Joowon tajam kemudian mengusap perutnya.

“Ahjumma sudah pulang, Halmeoni sedang ke Ulsan, tidak ada yang memasak. Bagaimana jika kita ke restoran. Ayolah hyuuung.” ujar Joowon memohon pada ayahnya, Myungsoo kemudian beranjak lalu segera menuju kamar mandi.

Seoyeon menatap malas pada wanita di sampingnya—ini seperti ia berjalan bersama gadis SMA yang culun dan bodoh. Bayangkan saja, Sooji memakai rok pendek diatas lutut dipadukan dengan kemeja berwarna biru cerah, rambutnya dikepang menjadi dua bagian, tak lupa dengan kacamata besar yang Sooji pakai. Seoyeon kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan Sooji.

“Seoyeonie!” ujar Sooji menyusul langkah Seoyeon.

“Aku seperti berjalan dengan orang bodoh, Eomma!” tutur Seoyeon, Sooji tertawa tanpa dosa.

“Jika wartawan mengejarku, kita tak bisa makan.” jawab Sooji. Seoyeon kemudian sedikit berjinjit dan membuka kepangan di rambut Sooji.

“Begini saja, lebih baik.” dumel Seoyeon. Sooji tersenyum.

Joowon berjalan cepat tanpa memperdulikan buronan—Myungsoo di belakangnya, Myungsoo mengejar Joowon yang jalannya lebih cepat darinya, ia kemudian menarik Joowon. Joowon sedikit menginjak kaki Myungsoo.

“Aku seperti berjalan dengan buronan polisi, Appa!”

“Arraseo, Arraseo, aku akan membukanya.” ujar Myungsoo sembari membuka masker dan topi miliknya. Ya, Myungsoo terlihat seperti buronan tadi, ia memakai masker dan topi, dan topi tersebut hampir menutupi mata Myungsoo.

“Lepas jaketmu, ini musim panas.” ujar Joowon, Myungsoo mengangguk kemudian membuka jaketnya.

“Eoh, itu bukannya noona yang bertengkar denganmu?” tanya Joowon pada Myungsoo, Myungsoo kemudian menyipitkan matanya melihat wanita yang tak jauh di hadapannya.

“Eomma, bukankah itu Ahjussi yang kemarin bertemu di sekolah? Dan itu adalah namja mesum temanku?” ujar Seoyeon, Sooji kemudian melihatnya dengan jelas,ya—itu benar-benar Myungsoo.

“Oh, benar!” Sooji dengan cepat melangkah kedalam dengan angkuh dan sedikit menaikkan dagunya, Seoyeon juga melakukan hal yang sama.

“Aish, wanita sombong!” desis Joowon.

“Ayo, kita masuk. Aku ingin melihatnya!” ujar Myungsoo.

“Yaa! Melihat apa maksudmu? Kau menyukai Noona itu, Hyung?”

“Aish, Joowon, aku ayahmu! Ayo cepat.” ujar Myungsoo menarik Joowon. Sooji kemudian duduk di kursi yang berada di ujung, restoran ini sangat ramai malam  ini. Para artis yang menyamar juga banyak. Seoyeon melirih ke semua arah, dilihatnya banyak artis juga seperti ibunya yang sedang makan malam bersama keluarganya.

“Hyung, restoran ini penuh.” ujar Joowon, Myungsoo kemudian mengedarkan pandangannya. Tapi tiba-tiba seorang pelayan yang mendengar ucapan mereka segera menarik mereka masuk.

“Di ujung sana masih ada bangku yang tersisa, silahkan Tuan.” ujar pelayan tersebut, Myungsoo kemudian melangkahkan kakinya.

“Chakkaman, bukankah di dekat bangku itu adalah Noona yang kemarin? Ah, aku tak ingin melihat putrinya.Ia sangat sombong hyung.”

“Aku ingin melihat ibunya.” ujar Myungsoo jujur, Myungsoo kemudian menghampiri kursi yang kosong di sebelah kursi yang Sooji duduki. Myungsoo dan Joowon sedikit berdeham, membuat pandangan Sooji dan Seoyeon bertemu, lalu dengan kompak Sooji dan Seoyeon mendelik ke  arah mereka.

“Chogiyo…Sooji-ssi.” ujar Myungsoo dengan hati-hati dan sedikit gugup. Sooji melirik pada Myungsoo.

“Wae? Apakah kau akan mengatai anakku lagi?” tanya Sooji, Myungsoo dengan cepat menggerakkan tangannya untuk berkata tidak.

“Ah, tidak…tidak…Aku hanya ingin meminta maaf atas masalah kemarin.” Sooji memutar bola matanya.

“Lupakan saja.” jawab Sooji dengan malas.

“Oh…Ne.” tutur Myungsoo. Makanan yang Sooji pesan datang diikuti dengan makanan Myungsoo. Sooji menatap makanan  Myungsoo, begitu pula dengan Myungsoo. Mereka makan dengan tenang, tanpa dirasa—atau karena lapar—acara makan malam itu selesai dalam keheningan dan kecanggungan.

“Seoyeonie, kau tunggu disini…Eomma akan membayar terlebih dahulu.” Seoyeon mengangguk, Sooji kemudian membuka tasnya dan sedikit mengaduk-aduk isi tasnya, dan benda itu tak ditemukan.Sooji kebingungan, Seoyeon menatap tajam pada Sooji, Myungsoo dan Joowon yang menyadari hal itu menoleh pada Sooji.

“Wae…Sooji-ssi…?”  tanya Myungsoo sembari menatap intens pada Sooji.

“Aku sepertinya lupa membawa dompet. Sunbae, bolehkah aku meminjam uangmu? Aku akan membayarnya besok.” jawab Sooji sedikit meng-aegyo-kan wajahnya. Myungsoo tersenyum lalu mengangguk.

“Pasti, aku akan meminjamkannya. Aku juga akan membayar. Tunggu” ujar Myungsoo sembari merogoh saku celananya, ia kemudian menoleh pada Joowon.

“Hyung, jangan bilang kau juga sama tak membawa dompetmu. Wajahmu, wajahmu! Akan disimpan dimana?” tutur Joowon, Myungsoo sedikit meringis lalu menatap Sooji.

“Sooji-ssi… Aku juga lupa membawa dompetku.” ujar Myungsoo sembari menggaruk tengkuknya, Sooji membelalakkan matanya.


Sooji dan Myungsoo sama-sama berdiri di hadapan washtafel,tangan mereka sama-sama terbungkus oleh sarung tangan untuk mencuci piring. Sooji menatap malas pada tumpukan piring di hadapannya. Begitu pula Myungsoo, ini bukan keahliannya.

“Sooji-ssi…”

“Jangan berbicara Sunbae, lakukan saja.” jawab Sooji dengan malas.

“Oh tidak—tanganku…aish, makanan ini menjijikkan…” ujar Sooji sembari meraih satu-satu piring dihadapannya dan menggerakkan spons di permukaan piring.

“Aku yang akan membersihkannya, Sooji-ssi.” tutur Myungsoo, Sooji bergumam mengiyakan.

Seoyeon berdiri di samping pintu restoran, ia menatap malas pada pria di sampingnya yang sedang berjongkok entah memainkan apa. Yang sangat terpampang jelas Seoyeon dan Joowon sama-sama memegang kertas brosur.

“Aish, lama sekali mereka…” gumam Joowon, Seoyeon menatapnya tajam.

“Ya! Berdirilah, cepat berikan ini kepada orang-orang yang lewat. Jangan hanya berdiam diri seperti itu.”

“Arraseo…” Joowon berdiri dengan malas lalu berjalan ke  arah orang-orang yang melintasi mereka. Lalu memberikan selembaran, begitu juga dengan Seoyeon.

“Ini semua—gara-gara orang tua bodoh itu.” ujar Seoyeon.

“Meskipun dia ayahku, tapi aku mengakui kalau ia bodoh. Kali ini aku setuju denganmu.” tutur Joowon sembari memposisikan tangannya untuk berhigh-five dengan Seoyeon. Seoyeon pun menempelkan telapak tangannya di telapak tangan Joowon—sinyal persahabatan.

Keheningan menyelimuti sudut-sudut ruangan tempat mencuci piring ini, Sooji terdiam menatap Myungsoo, begitu pula dengan Myungsoo, tapi dengan cepat mereka mengalihkan pandangan mereka, Myungsoo sedikit berdeham untuk memecah kecanggungan.

“Sunbae, bolehkah aku bertanya?” tanya Sooji pada Myungsoo yang kini tengah sibuk menata piring-piring yang sudah bersih.

“Tanyakan saja, Sooji-ssi.”

“Mengapa kau bercerai dengan Na Eun selepas Na Eun melahirkan Joowon?”  tanya Sooji dengan hati-hati, takut Myungsoo tersinggung dengan pertanyaannya.

“Ah—itu…”


“Aku tak mencintaimu, Na Eun-ah…Mianhae…”

“Tapi, Oppa… Apakah kau tak ingat peristiwa itu? Kau harus bertanggung jawab—aku tak peduli kau mencintaiku atau tidak, aku mendatangimu hanya ingin menyampaikan ini…”

“Aku mabuk dan tak sadar, lagipula itu juga bukan kesalahanku semata. Kau juga sama halnya denganku, mabuk.”

“Tapi, Oppa… Aku seorang wanita dan aku memiliki perasaan, aku yakin kaupun sama halnya denganku, kau pria dan memiliki perasaan, aku tak mungkin membunuh anak ini, ia tak berdosa.” tutur Na Eun, Myungsoo menjambak rambutnya frustasi.

“Jadi, apa yang kau inginkan?”

“Aku ingin kau menikahiku, Oppa… Kau bertanggung jawab tentang ini semua, dan selepas aku melahirkan, aku akan meninggalkan Korea, aku ingin kita bercerai. Karena, aku akan segera melanjutkan kuliahku di Amerika.” Myungsoo memejamkan matanya lalu menghembuskan nafasnya kasar.

“Baiklah.” jawab Myungsoo.

Sooji berjongkok dengan Myungsoo di bawah washtafel cuci piring. Sooji menatap Myungsoo dengan mata indahnya. Myungsoo kemudian menatap Sooji.

“Bagaimana denganmu?” tanya Myungsoo pada Sooji.

“Kau beruntung sekali, Sunbae…Setidaknya kau tidak mencintai Na Eun. Kau tak perlu merasakan sakitnya mencintai dan dikhianati begitu saja.” ujar Sooji. Myungsoo tersenyum.

“Tidak. Aku bahkan pernah merasakan itu. Dan itu sakit sekali.” tutur Myungsoo. Sooji kemudian menghela nafasnya.

“Sejujurnya, Sooji-ah… Kesakitan itu yang membuatku menjadi seperti itu pada Na Eun.” batin Myungsoo.

“Bagaimana denganmu , Sooji-ah? Min Ho pria yang baik, ia pasti memperlakukanmu dengan baik pula.” Sooji kemudian tersenyum getir. Ia tak ingin menceritakan kepedihannya pada Myungsoo, ini harus di alihkan.

“Apakah kau menceritakan Na Eun pada Joowon?” tanya Sooji.

“Tidak, Joowon belum bertanya. Kau juga belum menceritakan pada Seoyeon?” Sooji menggeleng.

“Aku takut Seoyeon akan terluka karena memiliki ayah seperti Min Ho Oppa.” tutur Sooji.

“Ah, sunbae…ini sudah malam, kita juga sudah selesai mencuci piringnya. Aku khawatir Joowon dan Seoyeon berada diluar seperti ini.” Sooji kini bangkit dari tempatnya, Myungsoo kemudian menarik tangan Sooji.

“Kau masih cantik seperti dahulu…Sooji-ah…” Sooji tersenyum.

“Dan aku masih menyukaimu Sunbae…” batin Sooji berbicara

“Ini sama seperti rasanya pertama kali bertemu denganmu, Sooji…” kali ini batin Myungsoo menjawab.
Myungsoo dan Sooji bertatapan, mata mereka tak berkedip sedikitpun. Terpesona, mungkin. Ada rasa rindu dibalik tatapan itu. Ada rasa cinta yang penuh makna dibalik hati yang sama-sama terluka.

“Seoyeon lebih cantik dariku.” jawab Sooji, pipinya memerah dan memanas.

“Aha, pipimu…Sooji-ah.” Sooji tertawa diiringi tawa Myungsoo.

“Jadi, kapan kau akan menceritakan Min Ho padaku?” Sooji membulatkan matanya. Myungsoo ternyata mengingatnya.

“Ne? Ah—itu mungkin lain waktu.” ujar Sooji.

“Baiklah, anak-anak mungkin menunggu.” Myungsoo kemudian menatap tangannya yang melingkar sempurna di tangan Sooji, Sooji menatap Myungsoo, seperti meminta tangan itu melepaskannya, tapi—Myungsoo lebih memilih menarik tangan Sooji dan berjalan keluar.


Sooji masuk kedalam apartemennya bersama Seoyeon, Sooji seperti orang bodoh—tersenyum-senyum sendiri yang membuat Seoyeon heran dan penuh tanya.

“Apa yang terjadi padamu dan Ayah Joowon Eomma? Semenjak keluar dari dalam kau tampak berseri-seri.”

“Apakah aku dan Ayah Joowon tidak boleh berteman seperti kau dan Joowon? Hem?” tanya Sooji pada putrinya. Seoyeon menggeleng.

“Oh—ya itu terserah padamu—Eomma.” Seoyeon kemudian masuk kedalam kamarnya. Ia membersihkan dirinya lalu naik ke tempat tidur. Berbeda dengan si ibu, Sooji. Sooji membuka lemari besarnya, ia kemudian menyeret keluar kotak besar yang berada didalam. Dibukanya kotak tersebut. Ia tersenyum memandang kamera digital yang berada disana, dan beberapa lembar foto yang tercetak.

“Aku bodoh sekali waktu itu.”—Akhirnya ia mengakui.


Sooji melangkahkan kakinya ke lapangan sekolah, disana banyak sekali orang-orang yang berolah raga. Khususnya kelas 3-2, dimana Myungsoo dan Min Ho juga ada disana. Sooji dan Jiyeon masing-masing mengalungkan kamera digital di lehernya. Sooji dan Jiyeon memotret pemandangan dan aktivitas para siswa yang berada disana untuk memenuhi jurnal ilmiah mereka—dan sejujurnya mereka bukan hanya memotret di lapangan. Sooji mengarahkan lensa kameranya ke lapangan, ia kemudian memotretnya, tapi—sesuatu mengharuskannya menghentikan aktivitas saat ini.

“Oh, pria itu—“ Sooji kemudian dengan senyumannya kembali mengarahkan lensa kameranya kea rah—dimana Myungsoo berada.

“Kau memotret Min Ho Sunbae?” tanya Jiyeon. Sooji terpaksa mengiyakan.

“Aku sudah selesai. Bagaimana dengan kau?” Sooji mengangguk.

Dan dimulai hari itu—kamera tak berdosa ini lebih senang mengarahkan lensanya pada pria berambut tinggi itu. Bukan kamera yang mengarahkan lensa—tapi tangan halus dan lembut gadis cantik ini yang mengarahkannya, mengarahkan juga pada hatinya.

Myungsoo melangkahkan kakinya menuju lemari yang menyimpan kopernya, dengan cekatan ia membuka koper tersebut. Ia melihat banyak sekali amplop surat berwarna merah muda dan merah darah disana, dengan bunga mawar yang mengering di dalamnya. Joowon sudah tertidur, Myungsoo kemudian membuka surat tersebut, ini bukan surat dari para gadis yang mengaguminya—karena memang tak  ada yang mengaguminya di SMA—pikirnya.

“Ah, surat dan bunga ini…”


Myungsoo dengan tas di punggungnya menatap loker berstiker hati dan bunga-bunga di hadapannya. Myungsoo hendak membuka loker tersebut, ia menoleh ke sekeliling sekolah, sekolah memang sudah sepi karena ini sudah jam pulang sekolah. Tapi—suatu suara derap langkah kaki seseorang menghentikan aktivitasnya, ia kemudian dengan cepat berlari ke belakang pintu.

“Kau gagal lagi?” tanya Woohyun. Myungsoo mengangguk.

“Ah, Eotthokkae? Sampai mati sepertinya aku tak akan pernah bisa mengungkapkan perasaan ini. Gara-gara penjaga sekolah sialan itu aku batal menempatkan surat dan bunga ini di lokernya.”

“Hari ini kelas 1-1 olah raga, kau bisa mengirimkan surat itu dan memasukkannya kedalam tasnya langsung.”

“Itu sulit—Woohyun-ah, karena aku tak tahu tasnya yang seperti apa… Dan  kau tahu? Ia selalu memakai barang yang sama dengan gadis perangkonya, aku hanya takut salah memberikannya.”

“Ya, benar juga Myung—Kau harus memikirkan sebelum bertindak.”

Dan pada saat itu—Myungsoo lebih memilih menuliskan isi hatinya untuk gadis itu—Sooji dalam bentuk sebuah kertas yang akan ia simpan sendiri sampai akhirnya ia bertemu kembali dengannya. Myungsoo yang saat itu seperti seorang gadis—karena menulis isi hatinya di kertas putih layaknya diary—hanya berharap suatu saat dipertemukan lagi dengannya—tapi, karena peristiwa itu—yang menyakitkan hatinya, ia terpaksa memberhentikan penulisan suratnya—diakhiri dengan kekesalan dan amarah yang memuncak.

Hari ini Joowon bangun lebih awal dari biasanya. Ia duduk di tepi tempat tidur sembari meneguk segelas susu putih miliknya. Di tangannya beberapa lembar kertas berhasil ia baca dan ia sedikit tersenyum geli. Ayahnya benar-benar puitis dan berlebihan di waktu yang bersamaan. Myungsoo mengerang dalam tidurnya, ia kemudian membuka matanya, dilihatnya Joowon yang sedang meneguk susu di gelasnya dan membaca Koran—tidak—koran tidak sekecil itu. Ia kemudian teringat sesuatu—Surat itu!

“Ya! Anak nakal!” Myungsoo menyambar surat di tangan Joowon lalu memasukkannya kedalam koper kembali.

“Hyung—Aissssh!” Joowon mendesis.

“Mwoya? Ini barang milikku! Kau tak boleh membukanya.”

“Aku terlanjur membukanya, Hyung…Oh—aku mengerti sekarang mengapa aku tak memiliki ibu.”
Myungsoo mengernyit heran.

“Karena kau tak bisa romantis, yang ada hanyalah berlebihan.”

“Aku tak berlebihan, Joowonie!”

“Wajahmu seperti bulan tertutup awan, gelap jika kau bersedih. Matamu seperti kerlip bintang—yang berkedip-kedip. Itu tak romantis Appa!” ujar Joowon sembari tertawa, Myungsoo mengacak rambutnya frustasi. Ia ceroboh tidak menaruh kembali koper itu kepada tempatnya. Joowon meninggalkan Myungsoo yang masih terduduk diranjang, sebuah nama yang ia kenal—melintas di pikirannya—wanita yang ayahnya sukai,dan surat itu untuk wanita itu—Sooji—Ibu dari Lee Seoyeon.


Seoyeon tengah bercengkrama dan tertawa bersama teman-temannya, Seoyeon menoleh pada Joowon yang berada di sampingnya. Joowon memandangi Seoyeon sedari tadi, seperti ada yang ingin ia sampaikan pada Seoyeon. Ya—memang, ia hanya ingin bertanya hubungan apa yang dimiliki ayahnya dengan ibu Seoyeon—tak tahan dengan pikiran yang mengganggunya, Joowon menarik tangan Seoyeon dan membawa gadis itu keluar.

“Wae? Kau bisa berbicara denganku baik-baik, tidak dengan menarik tanganku seperti ini.” ujar Seoyeon marah. Joowon hanya terdiam memandang Seoyeon.

“Ada sesuatu yang aneh, kau harus tahu ini.” Joowon kemudian menarik Seoyeon dan membawa Seoyeon berlari.

Sooji tengah bersiap-siap untuk pulang ke apartemennya, di kejauhan—seorang pria tinggi,berkulit putih dan tampan hendak berlari menuju ke padanya. Sooji menyipitkan matanya memastikan siapa yang datang menghampirinya.

“Sooji-ssi!” pekik namja itu sembari melambaikan tangannya pada Sooji.

“O—Oh, Oppa!” jawab Sooji. Ia menatap namja yang kini berdiri di hadapannya. Ia memandangnya malas.

“Lama tak bertemu, bagaimana kabarmu?” tanya pria itu—Lee Jong Suk, kakak dari Lee Min Ho.

“Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?” tanya Sooji.

“Seperti yang kau lihat, hemm—bagaimana kabar Seoyeon? Ia pasti sudah besar.” ujar Jong Suk, Sooji mengangguk

“Kau ini bodoh atau bagaimana, 11 tahun di Amerika dan tak bertemu dengan keponakanmu yang pasti keponakanmu tumbuh besar—apakah Seoyeon akan tetap menjadi bayi kecil selama 11 tahun? Yang benar saja.” batin Sooji.

“Kau mau pulang?: tanya Jong Suk. Sooji mengangguk.

“Ya, Seoyeon pasti menungguku, ini sudah jam 7 malam.”

“Baiklah, apakah aku boleh mengantarmu?”


Sooji kini berada di apartemennya bersama Jongsuk dan Seoyeon, Seoyeon sedikit heran dengan kehadiran Jongsuk. Terlebih Jongsuk yang memandangnya penuh dengan mata yang berbinar.

“Seoyeonie, ini adalah pamanmu. Jongsuk Samchon. Ia kakak dari ayahmu.” ujar Sooji,  Seoyeon memberikan hormat dan memperkenalkan diri pada Jongsuk.

“Sooji-ah, Seoyeon sangat sangat sangat mirip denganmu.” Sooji mengangguk.

“Semua orang berkata seperti itu.” jawab Sooji datar—ya jangan tanyakan mengapa Sooji bersikap sedikit tak suka pada Jongsuk, pria ini menyukainya—pria ini mengajak menikah padanya setelah kematian Min Ho—pria ini yang selalu memaksanya untuk tinggal bersama mertuanya yang seperti macan. Sooji lebih baik hidup berdua bersama Seoyeon daripada harus mengambil resiko lebih menyakitkan seperti itu.

“Sooji-ah, aku ingin berbicara denganmu…” ujar Jongsuk, Sooji lalu menyuruh Seoyeon masuk kedalam kamarnya.

“Apa yang ingin kau bicarakan—Oppa?”

“Tentang Min Ho, apakah kau telah menceritakannya pada Seoyeon? Lambat laun—Seoyeon akan bertanya siapa ayahnya—dan—“

“Aku hanya akan menjelaskan padanya, bahwa ayahnya seorang laki-laki jahat—yang berselingkuh ketika istrinya sedang mengandung. Itu saja sepertinya cukup membuat Seoyeon mengerti,” ucap Sooji sembari melepaskan sepatunya. Sooji memang tak pernah serius jika diajak berbicara tentang Min Ho.

“Tapi—Sooji-ah… Seoyeon harus bertemu dengan neneknya—dengan ibuku. Bagaimanapun darah keluarga kami mengalir di tubuhnya—“

“Dan aku tak akan menghalangi darah yang mengalir karena aku tak mampu. Tapi—aku akan melindunginya, melindungi dan menjaga hatinya agar ia menjadi wanita yang benar dan baik, meskipun ia seorang perempuan aku akan mengajarkannya bertanggung jawab.”

“Kau seperti mendeskripsikan Min Ho juga ibuku.” tutur Jongsuk.

“Ya—lain kali aku akan mendeskripsikanmu juga—seorang pemaksa.”

“Pemaksa?”

“Aku tahu, kau akan mengajakku menikah lagi, dengan alasan Seoyeon pasti membutuhkan seorang ayah. Dan  kau akan memaksaku jika aku tidak mau.”  tutur Sooji dingin, Jongsuk mengepalkan tangannya.

“Aku menyukaimu, Sooji-ssi. Semenjak Min Ho mengajakmu ke rumah kami…”

“Tapi aku tak menyukaimu, maaf. Aku tak bisa membalas perasaanmu. Jika kau ingin memastikan apakah Seoyeon membutuhkan seorang ayah atau tidak—Kau tanyakan saja padanya.” Sooji bangkit dari duduknya, ia kemudian masuk kedalam kamarnya—tanpa disadar, putrinya ini daritadi menguping pembicaraannya,pikiran Seoyeon bingung, apakah ini alasan ibunya tak pernah membahas atau menceritakan ayahnya kepadanya? Karena ini hanya akan membuat pikiran Seoyeon bingung dan hati Sooji semakin sakit? Seoyeon memilih mengunci pintu kamarnya, lalu ia terduduk di ranjang sembari menggenggam 2 lembar foto pria berseragam SMA. Ia teringat kejadiannya bersama Joowon tadi siang.


“Seoyeon, nama ibumu…Sooji,kan?” tanya Joowon, Seoyeon mengangguk.

“Wae? Itu memang nama ibuku.”

“Aku menemukan surat ayahku sewaktu ia sekolah—dan surat itu semua untuk Sooji. Aku rasa ayahku pernah menyukai ibumu.”

“Benarkah?”

“Ini, buktinya!” Joowon menyerahkan selembar surat pada Seoyeon, Seoyeon membacanya.

“Ini belum seberapa, masih banyak yang lainnya.” papar Joowon.

“Aku rasa ibuku juga menyukai ayahmu, kemarin wajahnya sangat berseri sepulang dari restoran. Dan terakhir itu—bukankah ibuku bersama ayahmu?” Joowon mengangguk.

Seoyeon pulang ke apartemen dengan cepat lalu segera memasuki kamar ibunya—ia memang lancang—tapi ia juga penasaran, dan pada saat itu ia menemukan sebuah kotak besar di bawah ranjang ibunya, dan ini seperti yang baru saja dibuka tadi malam. Seoyeon kemudian melihat isi-isi kotak tersebut—hingga ia benar-benar menemukan foto seorang pria dengan rambut seperti sarang lebah—panggilan anak dan ibu ini benar-benar aneh.

Sooji mengunci pintu kamarnya, ia kemudian menyandarkan punggungnya di pintu kamar. Ia sakit melihat Jongsuk, ia juga sakit sekali mengingat ibu dari mantan suaminya tersebut—ibunya benar-benar mengerikan, tak Sooji sangka, ibu dari Min Ho yang notabene nya adalah teman orang tuanya mampu melayangkan kata-kata tak pantas saat mengetahui Sooji mengandung anak dari Min Ho. Meskipun itu diluar pernikahan, tapi—setidaknya ibu Min Ho tak perlu mengatakan kata-kata “pelacur rendahan” untuk Sooji. Jongsuk melangkahkan kakinya keluar apartemen Sooji, ini sudah berpuluh-puluh kali ia menyatakan perasaannya pada Sooji, tapi Sooji tak kunjung meresponnya—ia lelah.

Seoyeon membuka pintu kamarnya ketika dirasa Jongsuk sudah pergi dari apartemennya, ia kemudian mengetuk pintu kamar Sooji.

“Eomma…Ini aku…” Sooji membuka pintu kamarnya dengan mata yang sedikit sembab, Seoyeon masuk kedalam kamar Sooji dan duduk di ranjang milik Sooji.

“Eomma…Mengapa kau tidak pernah menceritakan tentang Appa kepadaku?”

“Aku takut kau menyesal memiliki ayah seperti dia…Seoyeonie—maafkan aku.” ttutur Sooji pada Seoyeon. Seoyeon tersenyum.

“Meskipun begitu—dia tetap ayahku kan? Dan—meskipun aku membencinya sekarang, bukankah itu percuma karena ia sudah tak  ada lagi? Jika ia masih ada—aku ingin menendangnya—karena ia menyakitimu.” Sooji membulatkan matanya ketika mendengar ucapan Seoyeon, bagaimana bisa Seoyeon mengetahuinya? Apakah Seoyeon mendengar ucapannya dengan Jongsuk?


Malam  ini Sooji dan Min Ho sangat mabuk—mereka baru saja pulang dari apartemen Jiyeon, Jiyeon ulang tahun—dan  ini adalah hari kelulusan Sooji dan Jiyeon. Pesta besar-besaran digelar di apartemen Jiyeon. Sooji kemudian melangkahkan kakinya masuk kedalam rumahnya setelah diantar oleh Jiyeon dan Seung Ho. Min Ho memutuskan untuk menginap dirumah Sooji.Dan dari kejauhan—pria ini—melihatnya dengan sesak di dalam hatinya, bunga mawar turun begitu saja dari tangannya.

“Oppa—aku pusing.” ucap Sooji sembari merebahkan dirinya di sofa. Malam  ini—hari ini, kedua orang tua Sooji sedang tidak di rumah. Min Ho sedikit sadar.

“Kau ingin suatu permainan yang menyenangkan?” tanya Min Ho sembari mengusap pipi Sooji. Sooji itu memang bodoh dari dulu—ia mengangguk.

“Ayo, kita selesaikan didalam—“ tutur Min Ho, ia menggendong Sooji kedalam kamar Sooji. Dan terjadilah—sesuatu yang sangat disesalkan untuk terjadi—

Min Ho membuka matanya saat dirasa seseorang memukulnya, ya—ia sangat tahu kejadian tadi malam. Ia tersenyum lalu menarik Sooji kedalam pelukannya, Sooji meronta meminta dilepaskan—tapi tangan Min Ho ini terlalu kuat.

“Aku akan bertanggung jawab—tenanglah.”

“Tapi—“

“Kau mencintaiku bukan? Kau harus percaya padaku.”

Ini sudah sebulan semenjak kejadian itu, sudah 2 minggu Sooji telat kedatangan teman bulanannya. Sooji harap-harap cemas saat menanti jawaban di benda berbentuk persegi kecil tersebut. Ini menentukan hidup dan matinya di hadapan kedua orang tuanya—dan ini menentukan masa depannya.

“Positif.” Sooji mengandung, mengandung anaknya bersama Min Ho—siapa lagi. Sooji memberanikan diri jujur kepada kedua orangtuanya—dengan segala amarah yang memuncak kedua orang tua Sooji memarahinya, Sooji juga memberanikan diri jujur pada orang tua Min Ho, tapi—hanya kata-kata “Pelacur Rendahan” yang keluar dari mulut wanita paruh baya tersebut, membuat Sooji semakin sakit. Sooji akhirnya memutuskan untuk bertemu dengan Min Ho.

“Aku hamil.”

“Aku akan secepatnya menikahimu.”

Seoyeon meraih tangan ibunya, diusapnya dengan lembut.

“Aku sudah tahu semuanya, Eomma…”

“Maafkan aku yang menyembunyikan ini semua.”

“Tidak—jangan meminta maaf—bernafas saja ada alasannya—“ Sooji kemudian memeluk putrinya.

“Lalu, apakah Eomma akan menikah lagi?”

“Tergantung padamu—Seoyeonie.”

“Sejujurnya, aku tak membutuhkan seorang ayah karena Eomma sudah mewakili itu…Tapi—“ Sooji menatap putrinya.

“Aku terkadang ingin memiliki seorang ayah—yang kau cintai—bukan atas dasar keterpaksaan. Ini karena Eomma menyukainya sedari dulu, hem? Eotte?”

_TBC_

Haii readers, gimana chapter 2? hehe… btw makasih yang selalu nungguin ff karyaku ya, hehe… oh iya, yang dicetak miring itu flashback. Disini agak rumit alurnya karena maju mundur maju mundur cantik, kkkk~ Yang lagi nungguin Kwajangnim, harap sabar yaa…lagi semedi dulu biar dapet inspirasi hihihi ok, jangan lupa RCL 🙂 terimakaaaasih~

Advertisements

40 responses to “[Freelance] Eotthokkae? 2/3

  1. Kkkkk.. kayaknya anak mereka msg2 akan jd cupid buat appa eommanya..
    Keren..
    Myungsoo ma sooji sm2 pny masa lalu kelam. Sma2 melakukan dlm keadaan mabuk..
    Smoga mereka bisa bersatu. Ternyata mereka slg menyukai satu sama lain..
    Ditunggu next partnya yah, author..

  2. sooji ternyata punya masa lalu yg kelam….sepertinya purti suzy dan putra myung lg berusaha menyatukan orang tua mereka….semoga suzy dan myung bs bersatu dan bahagia bersama….next min

  3. akhirnya seoyeon dan joowon tahu masa lalu ortu mereka, semoga myung suzy bisa bersatu dan bersama anak2 juga bahagia

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s