The Memories Chapter 7

© Rosaliaaocha

Title : The Memories  | Author : dindareginaa | Genre : Angst, Married Life, Romance | Rating : PG-15| Main Cast : Bae Suzy, Kim Myungsoo | Other Cast : Find by yourself!

Sooji mengambil celemek yang digantungnya didekat kulkas lalu segera dipakainya. Rambut panjangnya ia gulung ke atas agar tidak mengganggu aktivitasnya. Saat ini ia berencana memasak sarapan untuk Myungsoo. Ini adalah kali pertama baginya memasak sarapan untuk Myungsoo setelah kecelakaan waktu itu.

 “Sedang apa?”

Sooji yang sedang sibuk memotong wortel sontak menoleh. Ia tersenyum mendapati Myungsoo kini sudah berada disampingnya Rambut lelaki itu sedikit berantakan pertanda ia baru bangun dari tidurnya.

“Sedang memasak sarapan untukmu. Sekarang, cepatlah mandi! Kau bau!” Sooji menutup hidungnya seraya mendorong pelan tubuh Myungsoo

Myungsoo hanya terkekeh. “Baiklah,” ujarnya seraya berlalu ke kamar mandi.

“Selamat makan!” Myungsoo segera menyantap sarapan yang sudah dihidang Sooji dihadapannya. Gadis itu pasti bangun pagi-pagi sekali untuk membuat berbagai macam masakan ini.

“Bagaimana rasanya?”

Myungsoo terdiam sejenak seraya menikmati kunyahannya, memikirkan kata apa yang cocok untuk menggambarkan masakan Sooji. “Enak.”

“Benarkah?” tanya Sooji sedikit tak percaya. Karena Sooji yakin kalau sedari dulu ia sangat membenci yang namanya pelajaran memasak ketika sekolah dulu. Meskipun sudah dibujuk Soojung berkali-kali, tetap saja Sooji menolak untuk ikut masuk ke klub memasak. Mungkin setelah ia menikah, Sooji memutuskan untuk belajar memasak.

Tiba-tiba saja ponsel Sooji bergetar. Ada pesan masuk. Sooji segera meraih ponsel tersebut. Ia tertegun membaca nama si pengirim pesan.

“Dari siapa?” tanya Myungsoo. Lelaki itu masih asik menyantap sarapannya.

“Tidak. Bukan siapa-siapa,” jawab Sooji cepat. “Cepat habiskan sarapanmu. Kau bisa terlambat kerja nanti.”

Minho menyesap coffee latte yang telah dipesannya beberapa saat lalu. Sesekali ia melirik ke arah arlojinya. Ia menghembuskan nafasnya perlahan. Kenapa gadis itu belum datang juga? Sedetik kemudian, ia tersenyum melihat seorang gadis yang sedari tadi ditunggunya masuk ke dalam cafe. Minho melambaikan tangannya ke arah si gadis. “Sooji-ah, disini!”

Gadis itu – Bae Sooji – menoleh. Namun, tak seperti biasanya, gadis itu tak membalas senyum Minho. Ia segera menghampiri lelaki itu.

“Kenapa kau tidak mengangkat teleponmu? Kau tidak tahu kalau aku khawatir?” Minho mengelus kedua pipi bulat Sooji. Namun, Sooji segera menangkap tangan Minho dan menghentikan aksi lelaki itu. “Ke… kenapa?” tanya Minho bingung.

“Aku kesini karena ada hal penting yang ingin ku biarakan padamu.”

“A… apa?” Minho tertegun. Ditatapnya Sooji lekat. Ini adalah pertama kalinya bagi Minho melihat ekspresi serius gadis itu setelah terakhir kali Sooji memutuskan hubungannya dengan Minho. Jangan-jangan…

“Aku rasa aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita lagi.”

Tepat seperti yang telah Minho duga. Gadis itu memutuskannya? Lagi? Kenapa? Apa gadis itu sudah ingat semuanya? “Ke… Kenapa?” tanya Minho setelah terdiam beberapa saat.

“Aku sadar dari awal kepuusanku salah. Hilang ingatan bukanlah alasan untuk berpaling dari Myungsoo. Apa yang terjadi dengan kita di masa lalu biarkan menjadi masa lalu. Entah apapun alasanku memutuskanmu dulu, aku yakin itu yang terbaik untuk kita. Masa depanku sekarang adalah bersama Kim Myungsoo. Aku minta maaf. Mulai sekarang, jangan hubungi aku lagi. Selamat tinggal.”

Sepeninggal Sooji, Minho mengepalkan kedua tangannya. Sial! Kenapa jadi begini? Rencananya berantakan! Ini tidak boleh dibiarkan! Ia… harus melakukan sesuatu. HARUS!

“Dari mana saja?”

Sooji tersentak kaget begitu melihat Myungso tiba-tiba muncul dihadapannya. Rasanya ia seperti tertangkap basah sedang mencuri. “Oh, aku… tadi bertemu Soojung sebentar di kantornya,” bohongnya. “Kenapa kau pulang cepat hari ini? Apa pakerjaanmu sudah selesai?” tanya Sooji. Sebetulnya hanya untuk mengalihkan pembicaraan saja. Jujur, ia merasa bersalah dan juga merasa bodoh karena harus berhubungan dengan Minho disaat ia sudah memiliki Myungsoo.

“Hari ini aku tidak terlalu banyak pekerjaan maka dari itu aku pulang lebih cepat dari biasanya. Lagipula, bukankah kau ingin aku membantumu mengingat masa lalumu? Bagaimana kalau sekarang?”

“Dulu, setiap kau ada masalah, kau selalu berlari kesini, Sungai Han. Menurutmu, ini adalah tempat yang paling damai, dimana kau bisa menenangkan pikiranmu.” Myungso mulai bercerita Digenggamnya tangan Sooji erat, ia tidak ingin kehilangan gadis ini lagi. Mereka mulai berjalan perlahan disisi Sungai Han.

Sooji mengangguk mengerti. Ia memandangi sekelilingnya. Ya, Sooji ingat tempat ini. Bahkan mungkin sebelum ia kenal dengan Mungsoo, ia sering ke tempat ini.

“Dan disini juga aku menyatakan cintaku padamu.”

Myungsoo menghentikan langkahnya. Ia lalu berdiri dihadapan Sooji. “Kau tidak tahu aku sempat frustasi mendekatimu? Kau itu sangat dingin dan ketus terhadapku. Tapi…” Myungsoo tersenyum seraya memegang kedua pundak Sooji. “… itu yang membuat aku menyukaimu. Aku tahu kau kesepian. Kau membutuhkan seseorang untuk menjagamu. Maka dari itu aku ingin menjadi orang itu.”

Sooji terdiam ditempatnya. Kenapa ini? Kenapa jantungnya berdebar begini? Bae Sooji, sadarlah!

“Kau… maukah kau menikah denganku?”

Sooji membulatkan matanya. “Hah? Apa?”

“Itu yang aku katakan saat aku melamarmu. Apa kau tidak ingat?”

“Ah…” Sooji mengangguk mengerti. Jadi, seperti ini Myungsoo melamarnya? Apa jantungnya juga berdebar-debar seperti sekarang waktu itu?

“Sebenarnya ada cincin. Cincin itu peninggalan nenekku. Nenekku memberikannya kepada ibuku, dan ibuku memberikannya kepadaku untuk kuberikan kepada gadis yang kucintai. Yaitu dirimu.”

Ba.. bagaimana ini? Apa wajahnya sudah berubah warna menjadi merah sekarang? Ah, memalukan!

“Kenapa diam? Ayo, masih banyak tempat yang harus kita kunjungi.”

“Ini tempat kencan pertama kita,” Myungsoo kembali bercerita. Saat ini mereka sedang berada di Namsan Tower.

“Kenapa tempat ini?” tanya Sooji.

“Kau tidak ingat? Kau merengek padaku kalau kau ingin datang ke tempat ini. Kau bilang kau ingin menuliskan nama kita di gembok cinta agar kita tidak pernah terpisahkan.”

“Benarkah?” tanya Sooji tak percaya membuat Myungsoo segera mengangguk. Apa yang ia pikirkan saat itu? Ia tidak menyangka gadis sepertinya bisa terus terang begitu terhadap lawan jenis.

“Dimana ya kira-kira benda itu?” gumam Myungsoo. Ia berjalan mengitari ratusan – tidak – ribuan gembok pasangan itu. Kejadian itu sudah lama. Pasti tidak mudah menemukan gembok yang bentuknya hampir serupa dengan gembok lainnya. “Ini dia! Aku menemukannya!” Sooji segera berjalan menghampiri Myungsoo. Lelaki itu kini tengah memegang sepasang gembok berwarna biru muda dan juga pink. Tangan Sooji terulur ke arah gembok yang dipegang oleh Myungsoo. Ia tersenyum simpul membaca tulisan yang tertera diatas gembok tersebut.

Bae Suzy ❤  Kim Myungsoo

Dan saat ia membalikkan gembok tersebut, ia cukup terkejut membaca tulisan lain yang ada dibalik gembok tersebut.

Tetaplah disisiku, Kim Myungsoo

Sebenarnya seberapa dalam cintanya untuk Myungsoo?

“Apa yang kau baca?”

Pertanyaan Myungsoo membuat Sooji tersentak. Ia segera melepaskan gembok itu. “Tidak. Tidak ada. Sekarang, kemana lagi kita harus pergi?”

“Enak?”

Sooji mengangguk seraya melumat icecream yang tadi dibelinya dengan Myungsoo. “Bagaimana kau tahu aku suka icecream rasa strawberry?”

“Apa yang aku tidak tahu tentangmu? Aku tahu kau sangat menyukai iceream. Dan satu-satunya rasa icecream yang kau makan adalah strawberry. Dan kau bisa memaafkan kesalahan apapun jika dibelikan icecream strawberry.”

“Benarkah?”

Myungsoo mengangguk. “Waktu itu juga begitu. Kau mendiamiku seharian karena aku lupa hari jadi kita. Maka dari itu aku membelikanmu icecream. Dan benar saja! Kau langsung memaafkanku karena itu.”

“Benarkah? Apa aku tidak memutuskanmu karena hal itu?” tanya Sooji penasaran.

“Memutuskanku? Tidak. Kau tidak mungkin melakukan hal itu hanya karena aku lupa hari jadi kita.”

Sooji mengangguk mengerti. Benar bukan? Ia bukanlah tipe orang yang kekanak-kanakan yang akan memutuskan hubungannya hanya karena lelaki tersebut lupa hari jadi mereka. Tapi, kenapa ia memutuskan Minho hanya karena hal kecil tersebut?

“Oh, hujan!” Lamunan Sooji buyar ketika rintikan hujan mulai membasahinya.”Ayo cepat berteduh!” Baru saja Sooji ingin berlari dari tempat itu, Myungsoo segera menahan lengannya. Alis Sooji berkerut. “Kenapa?” tanya Sooji tak mengerti dengan sikap Myungsoo.

“Apa kau tidak ingat dengan ini?”

“A… apa?”

“Waktu itu juga turun hujan. Itu kencan kedua kita. Kau memelukku seperti ini,” Myungsoo menarik pinggangnya hingga jarak mereka kurang dari lima cm.

Nafas Sooji tercekat. Kenapa jantungnya berdebar-debar setia berdekatan dengan Myungsoo. Ditatapnya mata lelaki itu lekat. Gadis itu menemukan kehangatan dari sana, yang tidak akan pernah ia temukan dari Minho atau lelaki manapun.

“Dan setelah itu kau…”

Myungsoo menghentikan ucapannya ketika Sooji mencium lembut bibirnya. Myungsoo terdiam sejenak. Sedetik kemudian, dipejamkannya matanya lalu mulai meperdalam ciuman Sooji. Ya, benar. Dulu Sooji juga menciumnya seperti ini waktu itu.

Sooji membuka matanya perlahan. Ia tersenyum mendapati Myungsoo berada dihadapannya. Lelaki itu masih tertidur pulas. Sooji kemudian menggerakkan jemarinya ke wajah tampan Myungsoo. Mulai dari mata, hidung hingga… Bibir. Sooji kembali tersenyum. Ia tak menyangka ia menyerahkan semuanya semalam. Semuanya.

“Oh,” Sooji tersentak begitu Myungsoo mulai bergerak gelisah, sepertinya ia merasakan sentuhan Sooji. Tahu bahwa lelaki itu akan segera terbangun, Sooji segera memejamkan matanya, berpura-pura tidur.

Myungsoo membuka matanya perlahan. Lelaki itu tersenyum mendapati Sooji berada dihadaapannya. Ia segera mencium lembut kening gadis itu. “Jangan pernah tinggalkan aku lagi. Mengerti?” Myungsoo memeluk erat tubuh Sooji yang kini hanya berlapiskan selimut.

Minho memarkirkan mobilnya tepat diseberang sebuah gedung pencakar langit yang sangat megah. Dari dalam mobil, dipandanginya seorang lelaki yang baru saja masuk ke gedung tersebut. Lelaki itu disambut oleh seorang gadis cantik. Gadis itu membungkukkan badannya seraya berbincang dengan Myungsoo. Sedetik kemudian, Myungsoo tertawa mendengar ucapan sang gadis.

Kalau tebakan Minho tepat, gadis itu pasti menyukai Myungsoo. Sepertinya ia bisa meminta bantuan gadis itu. Minho tersenyum licik.

Myungsoo masuk ke dalam kantornya diikuti oleh Irene. Ini sudah tiga bulan semenjak Sooji memutuskan untuk mulai mengingat masa lalunya. Dan semenjak itu, hubungan Myungsoo dan Sooji mulai membaik. Meskipun Sooji belum mengingat masa lalunya.

“Irene-ssi, sampai jam berapa jadwalku hari ini?”

“Hari ini?” Irene segera melihat catatan kecilnya. “Sampai dengan jam 10 malam.”

“Kosongkan jadwalku jam 6 ke atas.”

“Y… ya? Tapi, mengapa?”

Myungsoo tersenyum simpul. “Hari ini aku ingin cepat pulang. Istriku memasak makan malam untukku.”

“Ah…” Irene mengangguk mengerti. “Baik, Kim Sajangnim.”

“Kalau begitu kau boleh pergi.”

Irene membungkukkan badannya lalu keluar dari ruangan Myungsoo.

Setelah keluar dari ruangan Myungsoo, Irene mendengus kesal. Sepertinya hubungannya dan Sooji semakin membaik. Kalau begini, ia tidak punya harapan lagi. Sekarang apa yang harus ia lakukan?

“Irene-ssi?”

Irene yang baru saja berniat membuka pintu mobilnya mengurungkan niatnya. Keningnya berkerut mendapati seorang lelaki kini tersenyum seraya berjalan kearahnya. Apa… lelaki ini punya niat buruk terhadapnya? Irene memandang sekelilingnya. Sial! Karena ini memang sudah lewat jam pulang kerja, yang ada ditempat itu hanyalah Irene dan juga si lelaki asing. “K… kau mengenalku?” tanya Irene dengan suara bergetar.

Menyadari ketakutan Irene, lelaki itu terkekeh.”Jangan khawatir. Aku tidak berniat jahat padamu. Aku malah akan menawarkan bantuan. Apa kau tertarik?”

“Bantuan?”

Minho mengangguk. “Kalau begitu, bagaimana kalau kita membicarakannya selagi minum kopi? Aku yang traktir.”

Irene menatap si lelaki lekat. Tak lama kemudian ia mengangguk. Tak ada salahnya mendengar tawaran si lelaki asing. Siapa tahu lelaki itu memang benar-benar membantunya.

TO BE CONTINUED

64 responses to “The Memories Chapter 7

  1. sooji sih bangunin harimau yang tidur (minho), tp klo g gitu gada konflik ya, dikit senyum dikit emosi bca ff ini,,, author jjang bikin reader baper.

  2. Duhh moment mereka sweet bgt.. Akus sampe snyum2 sendiri loh..
    Ingatan Sooji gak ingat Myungsoo, tapi hati Sooji ingat.. Gak nyangka perkembangannya secepat ini. Sooji memang belum ingat, tapi dia jatuh hati lagi sama suaminya..
    Myung sweet bgt dah..

    DUh Minho sm Irene yah, ganggu aja hub org. Irene tuh gak tahu diri jg, masa suami org dideketin. Ckckckkck..
    Apa yang bakal mereka rencanain yah?

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s