[Ficlet] Rite of Spring

ros

miss A Bae Suzy

| AU, Semi-supernatural, Slice of Life, Surrealism | ficlet | general | beware of an undefinable-plot  | disclaimer beside the poster and storyline I own nothing! 

September, 2015©

.

Diadaptasi dari puisi karangan Gunawan Muhammad dengan judul yang sama.

.

Tari itu melintas pada cermin:

bagian terakhir Ritus Musim.

Gerak gaun — paras putih –

tapak kaki yang melepas lantai…. — Rite of Spring oleh Gunawan Muhammad

.

picture credited to Pcapture941010 for Suzy x ELLE October 2015 Issue screen-cap

Cermin yang retak sedang memandang paras putih pucat milikku. Mungkin, dia sedang berpikir mengapa semakin hari semakin kaku pula aku menari. Gerakanku seperti robot rematik, pikirnya. Tidak memiliki jiwa dan konteks berarti. Terlalu berhati-hati, mengabaikan keluwesan yang seharusnya terkandung dalam definisi tari.

Ritus musim yang beredar di negeri ginseng ini seperti rantai yang mencengkeram pergelangan kakikku. Rincing dari besi-besi berkarat mengiris kesunyian dalam ruang latihan. Gaun putih yang kupakai, ujungnya menggesek lantai. Gesekannya pula yang membebaskan tiap helai benang sehingga ekornya mengikutiku di belakang. Tak pelak mendulang dugaan bagi siapa saja yang melihatku sebagai pengantin wanita yang kabur dari acara pernikahannya.

Pada retakan cermin yang menjamur di dinding ruang latihan, aku mematutkan pandang. 21 tahun yang lalu, aku kembali ke zaman itu. Kembali pada masa di mana diriku pertama kali melepaskan tapak kaki pada lantai kayu yang baru selesai diplitur. Segenap jiwa melepaskan beban melalui bahasa tubuh yang baru kupahami. Gerakannya menggila tak beraturan namun berjiwa. Muda, bebas, dan bercerita. Untuk pertama kalinya aku merasa bebas seperti koloni burung nuri yang berimigrasi.

21 tahun setelahnya, masih di kaca itu aku justru menemukan wajah yang berbeda. Masih diriku, yang terpisah dari ruang. Tiba-tiba sendiri, lepas dari catatan waktu. Atau ikut melekang, seperti warna waktu pada cat dinding yang mengelupas.

Tapi aku masih ingin meliukkan tangan midasku….

“Aku tidak seperti dulu.”

….menggambar ekspresi lewat tari. Mencuci duka menjadi suka lewat bahasa non-verbal yang begitu memesona. Aku masih ingin tampil begitu menawan layaknya seekor Burung Galapagos betina yang mengepakkan sayap. Aku masih ingin membenturkan imajeri pada realita yang suka menenggelamkanku di dalam lautan problematika.

Selanjutnya, aku tersadar bahwa aku hampir lupa pada satu fragmen yang begitu membekas di dalam relung hatiku. Sesuatu yang dulu sempat hilang namun sekarang malah memintaku kembali. Aku tahu, suatu saat dia pasti akan membutuhkanku.

“Tapi di fragmen ini kau memerlukan aku.”

Rumpun melodi dari musik hip-hop tiba-tiba berceloteh lewat radio tape yang disetel nyaring. Seolah menyatakan betapa dia cinta mati pada setiap koreografi yang kucatat pada secarik kertas putih. Bagai hantu salju yang tengah merebak, aku mulai menembakkan gerak mengikuti irama. Kaki kuentakkan dengan kuat hingga timbul bunyi bedebam pada lantai kayu. Tangan kuempaskan dengan lantang mengikuti aroma musim bersalju yang menggugus hawa di ruangan latihan saat itu. Tubuh kugoyangakn ke sana-ke mari mengikuti alunan musik, menciptakan koreografi tingkat tinggi.

Kemudian aku tertawa setelah lagu selesai dimainkan. Derai tawaku berbunyi pelan. Seperti derak tulang ketika di ruang latihan itu tidak ada lagi adegan. Irisku kembali kulekatkan pada sepotong cermin retak yang tersisa. Sekilas nampak raut kelelahan di paras pucatku.

Sejenak hening. Tak terhitung beberapa detik kemudian, aku mendengar napas yang menderu. Mungkin, aku memang masih di sini; tempat di mana separuh jiwaku berlabuh. Dan belum mampu beranjak dari alam fana yang kusinggahi sementara, menuju barzah yang sudah memanggil namaku.[]

.

.

TAMAT


a/n:

ceritanya aneh seperti biasa di tengah word-vomit yang mendera. alhamdulillah.

4 responses to “[Ficlet] Rite of Spring

  1. Aku kurang mengerti, tapi semoga pemahamanku ini benar…
    Sooji sudah meninggal, akan tetapi jiwanya tetap tinggal di tempat tersebut.. sooji menari disana, Karna semasa hidup itulah yang selalu dikerjakannya… sooji belum bisa lepas dari kegemarannya tersebut… dia mengenang kisah 21 tahun lalu, dan mengulanginya 21 tahun kemudian?
    Maafkan diriku Authornim jika pemahamanku salah..
    Tapi aku menikmati serial kalimat…
    Jhoa…
    Ditunggu karya selanjutnya Authornim…
    Fighting…😀

  2. Huweeeee… Awal memang tak paham… Tapi pas menjelang akhir cerita *klik! bang bang bang!!! Itu dia! Terjawab pertanyaanx.

    RT nayuLee…

    Maaf baru buka email n baru baca ya Xia.

    SEMANGAT!!!

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s