With You

lost

Title : With You | Genre : Fantasy | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Sooji

Disclaimer:

Beside the story, i own nothing. All cast belongs to God and their family

-dina-

.

.

“Apakah sudah saatnya?”

“Belum..”

“Kapan?”

“Mengapa kau sangat tertarik?”

“Tidak..”

“Lalu? Sudah dua puluh satu kali kau menanyakan kapan ia akan pergi.”

“Aku hanya menanyakannya, bukankah tertulis di bukumu?”

“Katakan sejujurnya? Apa yang ada di pikiranmu saat ini?”

“Entahlah, aku juga tidak mengerti.”

Hening.

“Mungkinkah, kau..menyukainya?”

~~

Sooji mengamati dalam-dalam pria berwajah semakin tirus yang tengah tertidur pulas setelah semalam ia –sang pria, kembali merasakan sakit luar biasa di bagian kepalanya. Berhasil melalui masa kritisnya, kejang akibat panas tinggi.

“Bagaimana dokter?”

“Kami hanya bisa mengobservasinya, semoga akan terjadi keajaiban. Jangan lelah berdoa Nyonya..”

“Ne, algeseumnida! Saya berharap yang terbaik untuknya..”

“Apakah masih sakit? Seperti apa rasa sakitmu?” Sooji mendekatkan jemari lentiknya di pipi pria yang bergeming di tengah-tengah tidur lelahnya. Perlahan Sooji mengamati lekat, rasa penasaran yang tidak pernah ia alami sebelumnya.

Sooji masih ingat betul ketika lelaki itu datang di rumah besar yang cukup asri, jauh dari hiruk pikuk kebisingan kota. Sebuah keputusan yang diambil keluarga besar pria itu untuk memberikan tempat yang cukup baik menjelang detik-detik penantian panjang hidupnya setelah sebuah virus mematikan dinyatakan positif bersarang di otaknya.

Sooji ingin sekali mengulurkan tangannya, menolong ketika sang pria mengejan kesakitan hingga sarung bantal yang ia sandari basah. Atau jika lelaki itu hanya diam menatap langit senja di balik jendela sambil memainkan kotak musik yang mengalunkan sebuah lagu yang untuknya sangat asing.

Seumur-umur ia menjadi dirinya sekarang ini, Sooji tidak pernah melihat benda aneh berputar mengeluarkan suara yang cukup merdu. Suara yang menggelitik telinganya hingga terkadang jemarinya terasa gatal untuk tidak memutarnya.

Suatu ketika, pria yang disebut dokter sedang sakit parah itu keluar dari kamar, Sooji dengan leluasa memainkan benda bernada –sang kotak musik– di tengah-tengah sunyinya rumah besar yang hanya dihuni empat orang saja.

“Kau suka?”

“Siapa namamu?”

“Kau sedang apa?”

“Welcome!”

Kata-kata pendek yang sering Sooji dengar keluar dari mulut sang pria yang tidak sungkan memperlihatkan senyum tulusnya ketika Sooji berkeliling menjelajah kamar luas dengan tampilan sederhana namun hangat. Kamar yang dipenuhi buku-buku yang Sooji yakin betul ia tidak mengerti. Hanya buku besar berwarna hitam milik Peter yang ia kenal.

Pernah suatu ketika sang pria memintanya, “mendekatlah!” ucapnya ketika Sooji sedang asik memainkan kakinya di atas kursi baru yang diantar petugas meubel pekan lalu.

Sooji tidak ambil pusing, toh ia tidak akan menganggu sang pemilik kamar. Cukup melihat sang pria sesekali tersenyum membuat Sooji ikut tersenyum. Sebuah perasaan yang ia tidak tahu dan tidak dipahami.

Pun ketika seorang wanita paruh baya bersama beberapa pria sibuk hilir mudik membangunkan sang pria dengan peralatan yang berbunyi aneh, sampai-sampai sebuah benda berwarna putih dengan lampu warna-warni menyala di atasnya beserta bunyi sirine datang dan tergeletak di depan rumah mereka. Sooji hanya bisa mengamati ketika sang pria dibawa menuju benda putih besar tadi kemudian menghilang.

Saat itulah Sooji menyadari jika ia merasakan sesuatu yang tidak nyaman, menunggu.

Satu hari.

Dua hari.

Tiga hari.

Empat hari.

Lima hari.

Enam hari.

Tujuh hari.

Delapan hari.

Ceklek!

Sooji menolehkan kepalanya tatkala melihat pria tua membuka pintu kamar, raut wajahnya berubah berhias senyum. Sooji tersenyum untuk kesekian kalinya ketika ia melihat sang pria duduk di kursi roda memasuki kamar kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling. Menyusuri setiap jengkal benda yang ia tinggalkan lebih dari satu minggu.

Sooji masih dengan cueknya berdiri di depan sang pria, mengamati betapa wajah yang beberapa hari tidak dilihatnya berhasil membuatnya ingin berjingkrak senang. Bukankah menyenangkan jika mendengarkan alunan musik bersama, menatap kembali sang pria yang dengan tenang akan membuka buku demi buku mungkin. Sebuah kegemaran baru Sooji.

Kling..kling..kling..

Kotak musik berputar mengisi keheningan.

“Kau masih di sini?”

Sooji menatap lebih dalam tanpa berkata apapun, karena dia ditakdirkan untuk tidak diperkenankan berbicara dengan seseorang yang tidak sekufu dengannya.

“Kau suka?” Jemari sang pria meraih kotak musik, memutarnya kembali. Mengalunkan nada-nada cantik yang sangat Sooji sukai.

“Aku lelah…” sebuah ungkapan terucap dari bibir sang pria untuk kesekian kalinya. Dan untuk kali ini Sooji ingin mengulurkan jemarinya tatkala pria tadi meneteskan air mata.

Sooji tidak cukup mengerti benda cair yang mengalir keluar dari mata sang pria, ia hanya merasa risih sehingga lagi-lagi jemarinya terasa gatal untuk segera menyingkirkannya.

“Kau mau menjadi temanku ‘kan?” Pinta sang pria yang tidak digubris oleh Sooji, karena dia tidak pernah dan tidak ingin merasakan kontak apapun dengan penghuni kamar tempat ia ditinggalkan sampai saat ia dijemput nantinya oleh Peter.

——

Hari-hari Sooji berjalan selayaknya rutinitas, membuka mata di pagi hari dan bertanya-tanya apa yang akan ia dapatkan hari itu dari sang pria. Terkadang ketika ia membuka mata, ia menyaksikan sang pria tampak menatapnya. Sooji buru-buru menegakkan tubuhnya, jemarinya ia kibaskan di depan wajah sang pria namun tidak menghasilkan efek apapun karena sang pria tidak akan pernah bisa melihat kehadirannya.

Terkadang Sooji mendengarkan berbagai untaian kalimat yang seakan-akan ditujukan padanya, kalimat yang sangat berbeda dengan isi buku milik Peter yang berisi daftar panjang nama-nama beserta tanggal yang tidak ia mengerti.

“Kali ini aku akan memperkenalkan lagu menyenangkan untuk merayakan kesehatanku!”

Lagi-lagi kalimat yang terucap dari bibir tipis sang pria ketika ia merasa lebih segar, namun akan menjadi kebalikan jika ia kembali rapuh. Sooji hanya akan mendengar musik lambat di samping ranjang yang diputar oleh wanita paruh baya yang selalu telaten merawat sang pria.

Sooji terkadang heran dengan pemandangan di hadapannya ketika suatu saat wanita paruh baya tadi memeluk sang pria, membisikkan kata-kata yang bisa kembali menghadirkan senyum.

Sooji pernah sangat penasaran hingga ia ikut mendekati keduanya ketika sang pria tampak kembali lunglai di atas ranjang. Wanita tua yang disebut –eomma– oleh sang pria tersenyum sembari mengatakan, “Kau kuat Soo! Bertahanlah sayang..”

Sooji tampak berpikir ketika sang pria telah terlelap, maka buliran air yang sama halnya pernah mengalir dari kelopak mata sang pria juga hadir di kelopak mata wanita tadi.

“Maafkan eomma..” Sebuah kata yang membuat Sooji juga merasakan dadanya tidak nyaman. Dan kali itu ia juga ingin melakukan hal yang sama, meyingkirkan dengan jemarinya buliran air yang tidak ia sukai. Namun Sooji tidak bisa.

——

Mendung menggelanyuti langit, hujan angin menghantarkan suasana mencekam. Sama mencekamnya dengan keadaan di dalam rumah besar yang selalu dijelajahi Sooji hingga tidak tersisa satu sudutpun. Pria itu terbujur kaku dengan sebuah benda yang menancap di punggung tangganya menuju sebuah benda menggantung.

Lagi-lagi benda putih yang hampir dua bulan ini tidak dilihat Sooji menghampiri rumah mereka. Berbondong orang lari ke arah kamar sehingga mau tidak mau membuat Sooji menggeser jauh ke satu sudut kamar.

“Ireona!” Suara tertahan keluar dari bibir wanita paruh baya yang masih terlihat anggun di usia senjanya kembali menghiasi keheningan malam.

Sooji tidak habis pikir mengapa kali ini semua orang tampak tergesa-gesa, padahal menurut jadual tidak ada gempa bumi atau badai yang membahayakan umat-Nya.

Sooji masih menatap dari kejauhan hingga sang pria kembali diletakkan dalam sebuah ranjang kecil beroda, sesaat matanya membuka sekuat tenaga. Dan pada saat itulah Sooji merasakan sesuatu berdetak di dadanya ketika sang pria berhasil menatapnya, mengunci pandangannya dua detik.

“Gomawo..” Sebuah gerakan bibir yang Sooji yakini ditujukan untuknya meskipun ia tidak mengerti apa yang dimaksud dengan ucapan tersebut.

——

“Peter..”

“Hem?”

“Mengapa baru sekarang kau menjemputku?” Tanya Sooji.

“Karena kau tidak perlu lagi berada di sana..”

“Mengapa?”

“Karena waktumu telah selesai!”

“Tapi, aku tidak mengerti..” Sooji menggelengkan kepalanya perlahan.

“Kau suka berada di sana?”

“Apa itu suka?”

“Rasa yang membuatmu tersenyum?”

“Apa kau pernah merasakannya?” Sooji balik bertanya.

“Tidak..” Jawab Peter dengan cepat dan penuh keyakinan. “Aku tidak merasakan apapun ketika melihat mereka, bukankah Dia ingin kita seperti itu?”

“Tapi, kurasa aku pernah merasakannya..” lirih Sooji.

Hening, Peter menatap Sooji dengan pandangan bertanya-tanya.

“Peter..”

“Hem?”

“Aku juga pernah merasakan sakit dan tidak nyaman di sini, di dada sebelah kiriku..”

“Kapan?”

“Ketika aku melihat pria itu mengeluarkan cairan bening seperti setetes embun dari kelopak matanya, lalu aku juga merasakannya ketika ia meremas benda-benda di sekitarnya lalu semua orang berlarian menuju kamarnya. Dan satu lagi, ketika dia tidak lagi datang seperti saat ini, aku merasakan aneh di sini..”

Peter menatap Sooji tanpa ekspresi. “Bagaimana jika kukatakan jika pria itu telah pergi? Kau tidak akan pernah bisa melihatnya lagi.”

“Hem?” Sooji menatap lekat manik mata hitam milik Peter.

“Apa yang kau rasakan?”

Sooji tidak tahu apa yang harus ia lakukan, “Apakah ini yang dinamakan kehilangan?” Tanyanya dengan wajah lugu.

“Iya, apakah kau merasakannya?”

“Apa kau tahu seperti apa rasanya Peter?”

“Tidak!”

“Aku, juga tidak..” Sooji menundukkan kepalanya, mengingkari jika ia merasakan sesak di dadanya mendengar jika ia selamanya tidak akan pernah melihat sang pria yang telah menemaninya akhir-akhir ini.

~~

“Aku akan duduk melihatmu dari jauh sambil mendoakanmu selama aku tidak bisa melakukan apapun saat ini. Bahkan untuk sekedar bertanya apa kau sudah makan atau apa kau baik-baik saja. Sekalipun kesempatan itu ada, aku merasa tidak semua kesempatan mesti diambil.”

“Aku akan duduk memperhatikanmu dari jauh-jauh sambil mendoakanmu. Sekalipun tangan dan kaki ini begitu ingin bergerak menolongmu ketika kau tersandung dan jatuh. Aku tahu kau bisa berdiri sendiri meski harus duduk sebentar untuk merasakan rasa sakit itu.”

“Aku akan berdiri dan memandangmu dari jauh sambil mendoakanmu. Aku akan memastikanmu baik-baik saja, setidaknya aku tahu apa kau bahagia atau bersedih hari ini. Sebab aku tidak bisa berada di dekatmu saat ini. Tuhan tidak menyukainya. Bahkan ketika aku bersembunyi-sembunyi seperti ini pun aku masih merasa takut bahwa Dia cemburu karena aku menduakan-Nya.”

“Lalu aku bersimpuh, menanyakan pada diri sendiri mengapa aku takut untuk melangkah lebih jauh. Aku tahu aku menginginkan berada di sana, berada di dekatmu saat suka dan duka. Orang yang akan menolongmu pertama kali saat jatuh, menjadi orang pertama yang akan menemuimu di pagi hari untuk menanyakanmu, apa kabar tidur malam tadi? Menjadi orang yang akan selalu berada di dekatmu dan menggandeng tanganmu saat kemana-kemana.”

“Aku bertanya, mengapa aku takut untuk melangkah lebih jauh? Aku terlalu takut pada kenyataan bahwa aku memang penakut. Aku ingin bertanya kepada Tuhan mengapa aku begitu takut. Apakah Tuhan cemburu karena aku lebih mencintai makhluk-Nya daripada dirinya sendiri. Aku takut Dia marah padaku dan mencabut keberanian itu dari dalam diriku, menggantinya dengan rasa takut dan khawatir..”

Suara alunan kotak musik mengisi kekosongan kamar sang pria yang telah mengakhiri masa sakitnya dengan tenang. Sooji merasakan kembali rasa tidak nyaman di dada kirinya, entah mengapa menyaksikan banyak orang berbaju hitam seperti dirinya membuatnya merasa aneh. Sebuah masa yang akhirnya akan ia temui tepat empat bulan setelah ia berhenti menanyakan kapan waktu itu tiba bagi sang pria.

“Selamat tinggal..”

Sooji terdiam menatap langit senja, gaun hitamnya berkibar, kedua matanya terpejam. Seolah alam ikut merasakan hatinya, perlahan tubuhnya terangkat, berpendar kemudian menghilang.

FIN

Source : Sajak Rasa Takut oleh Gunadi Kurniawan.

Lama sekali ga posting di wp ini, sepertinya sajak Gunadi Kurniawan menemani beberapa ff yang saya terbitkan akhir-akhir ini.

Sekedar pemberitahuan untuk Bolero series tidak saya lanjutkan tapi keseluruhan cerita saya jadikan satu dalam bentuk OS di ff Black Swan. Sebenarnya saya tidak keberatan kalian share ff saya, tapi alangkah lebih baik jika kalian juga meninggalkan apresiasi melalui komen.

Terima kasih!

23 responses to “With You

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s