Oh My Ghost! Chapter 3

©Carissa Story

Title : Oh My Ghost!  | Author : dindareginaa | Genre : Comedy, Fantasy, Romance | Rating : Teen | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Suzy | Other Cast : Find by yourself!

Inspired by K-Drama Oh My Ghost and 49 Days

“Baiklah. Untuk hari ini sampai disini saja penjelasan saya. Sampai jumpa minggu depan.”

Sooji menghembuskan nafasnya lega. Akhirnya selesai juga mata kuliah dari dosen paling mengerikan di kampus Sooji. Gadis itu segera merapikan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas. Baru saja ia berniat pergi, suara Choi Jinri menghentikannya.

“Kau tidak ikut dengan kami makan?”

“Tidak usah. Hari ini aku harus cepat pulang,” tolaknya halus.

“Apa kau sudah dapat pekerjaan?”

Sooji menoleh ke arah Mark yang kini berdiri disamping Jinri. Gadis itu menggeleng. “Belum.”

“Bagaimana kalau kau bekerja di restoran cina milik kenalanku? Kebetulan mereka sedang membutuhkan karyawan.”

“Benarkah?” tanya Sooji antusias. Dipegangnya kedua tangan Mark erat.

“I… Iya,” jawab Mark gugup.

“Kalau begitu aku akan kesana. Kirim saja alamatnya padaku. Terimakasih, Markeu!”

Mark memandangi punggung Sooji yang mulai menghilang dalam diam. Disampingnya, Choi Jinri menyikut lengannya.

“Ch! Baru dipegang saja tidak bisa berkata-kata, apalagi dicium!”

Mark membulatkan matanya mendengar ucapan Jinri. “A… Apa yang kau bicarakan?”

“Lupakan. Sekarang aku mau makan. Kau jadi ikut atau tidak?” tanyanya meninggalkan Mark.

“Tu… Tunggu aku!”

Sooji menarik nafasnya panjang seraya menatap lekat layar laptopnya. Ia lupa bahwa ada ratusan rumah sakit di Seoul. Kalau begini, bagaimana caranya menemukan tubuh L? Lelaki itu bahkan tak tahu nama dan alamatnya!

“Omong-omong, apa kau dekat dengan Jung Soojung?”

Pertanyaan L sontak membuat gadis itu menoleh. “Kenapa kau terus bertanya tentangnya? Kau benar-benar menyukainya?” tanya Sooji tak percaya.

“Tidak. Aku tidak menyukainya. Aku hanya penasaran dengannya. Sungguh!” jawab lelaki itu jujur. “Oh ya, lelaki yang tadi mengantatnya siapa? Kekasihnya?”

“Aku tidak tahu. Yang jelas lelaki itu bukan kekasihnya karena kudengar Soojung sudah bertunangan dengan pewaris tunggal dari pemilik perusahan terbesar di Korea. Dan tolong jangan bertanya tentang Soojung lagi padaku,” geram Sooji.

L mengangguk mengerti. Ia kembali memperhatikan Sooji yang kini sibuk mengutak-atik laptopnya. L dapat mendengar desahan panjang keluar dari bibir tipis gadis itu.

Ya! Kenapa susah sekali menemukan tubuhmu?” gerutu Sooji kesal.

“Kalau mudah, aku tidak akan meminta bantuanmu, bodoh!” dengus L.

Sooji melirik L kesal. Apa? Bodoh? Sooji sudah menolong L dan lelaki itu malah mengatakannya bodoh? Tak bisa dipercaya! Kalau Sooji tak punya rasa keprimanusian, gadis itu pasti tak akan sudi menolong lelaki kasar sepertinya.

“Jadi, sekarang bagaimana?” tanya Sooji.

“Tidak ada cara lain selain mendatangi rumah sakit yang ada di Seoul satu-persatu.”

Mata Sooji membulat. Apa? Lelaki ini gila! Benar-benar gila! Tapi, Sooji terlalu lelah untuk berdebat dengannya. Gadis itu akhirnya mengangguk. “Kita harus memulai dari mana?”

L tersenyum, menampilkan smirk-nya. “Kau tidak lihat wajahku?” L menaik-naikkan alisnya.

“Ada apa dengan wajahmu?” tanya Sooji bingung.

Lelaki itu sontak menggeleng-gelengkan kepalanya. Gadis ini benar-benar bodoh! “Wajahku ini tampan. Dengan wajah seperti ini, aku tidak mungkin berasal dari keluarga tidak mampu. Kau mengerti maksudku bukan?”

“Jadi?” tanya Sooji lagi, masih tak mengerti dengan ucapan L yang panjang lebar.

L mendengus pasrah. “Kita mulai dari rumah sakit yang besar!”

“Ah…” Sooji membuka mulutnya lebar. Benar juga! Kenapa tak terpikir olehnya? “Ternyata kau pintar juga!”

“Bukan aku yang pintar. Tapi kau yang tidak berpikir! Ayo!”

Sooji mempoutkan bibirnya mendengar ucapan L. “Hei, tunggu aku!” serunya seraya mengejar L.

“Kau yakin tubuhmu ada disini?” tanya Sooji ragu seraya menatap bangunan megah yang kini berdiri kokoh dihadapannya. Sooji yakin hanya orang dari golongan atas saja yang bisa berobat disini.

“Kita tidak akan tahu selama belum mencoba. Ayo!”

“Ada yang bisa saya bantu, Nona?”

Sooji tersenyum kearah wanita yang mungkin lebih tua beberapa tahun darinya itu. Wanita itu memang bertugas sebagai receptionist di rumah sakit ini. Bagaimana Sooji harus memulai pertanyaannya? “Apa dirumah sakit ini ada seorang lelaki yang kecelakaan dan mengalami luka parah bahkan koma?”

“Sepertinya tidak ada,” jawab wanita tersebut. “Siapa nama pasiennya?”

“Aku tidak tahu. Informasi yang aku tahu hanya itu. Dia kecelakaan seminggu yang lalu.”

“Maaf,” ujar wanita itu menyesal. “Kami tidak bisa banyak membantu kalau Anda hanya memiliki informasi yang minim.”

“Ah, begitu?” Sooji mengangguk mengerti. “Kalau begitu saya permisi dulu.”

Sepeninggal Sooji, seorang perawat menghampiri wanita tersebut. “Hei, bukankah maksud gadis itu lelaki tampan yang dirawat diruang VIP? Bukankah lelaki itu juga dirawat seminggu yang lalu?”

“Ah, benar juga!” ujar wanita tersebut mulai teringat. Rumah sakit mereka memang menerima pasien yang koma seminggu lalu.  “Bagaimana ini?”

“Tidak apa. Kalau memang lelaki itu yang dimaksudkan gadis itu, dia pasti kembali lagi.”

“Sekarang kita kemana?” tanya Sooji begitu ia dan L sudah berada di luar gedung rumah sakit.

“Bukankah disimpang jalan ini juga ada rumah sakit besar? Sebaiknya kita kesana.”

Sooji mengangguk mengerti. Baru saja ia ingin melangkahkan kakinya, suara L sudah terlebih dahulu menghentikannya.

“Bukankah gadis itu Jung Soojung? Apa yang ia lakukan disini?”

Sooji melirik ke arah yang ditunjuk L. Ah, benar. Gadis itu Jung Soojung. “Mungkin dia mau menjenguk temannya. Ya! Lagipula, itu bukan urusan kita! Ayo!”

L mengangguk. Benar juga. Kenapa dirinya begitu tertarik terhadap Soojung?

Mobil berwarna hitam tersebut berhenti tepat disebuah rumah sakit besar yang berada di pusat kota Seoul. Jung Soojung segera menoleh ke arah si pengemudi.

‘Minho Oppa, untuk sekarang sebaiknya kau tidak usah menjenguknya. Mereka akan curiga kalau kita datang bersama-sama.”

Lelaki itu  Choi Minho – mengangguk mengerti mendengar ucapan Soojung.

“Kalau begitu aku pergi dulu.”

“Hubungi aku kalau kau sudah selesai.”

“Baiklah,” Soojung mencium pipi Minho sebelum pergi meninggalkan lelaki itu. Sedangkan Minho, lelaki itu hanya menarik nafasnya panjang. Sampai kapan mereka harus sembunyi-sembunyi begini?

Soojung tersenyum ke arah beberapa perawat yang menyapanya. Ia memang selalu datang kesini seminggu belakangan ini. Maka dari itu, tak heran bahwa hampir seluruh perawat dan dokter mengenalnya. Lagipula, siapa yang tidak mengenal calon menantu Kim Group, salah satu pemilik saham terbesar di rumah sakit ini?

Soojung kemudian berjalan ke arah sebuah ruang rawat VIP. Diluar ruangan, ia bisa melihat sepasang orangtua sedang terduduk lemas di kursi yang berada didepan ruangan tersebut. Soojung menarik nafasnya panjang sebelum akhirnya menghampiri sepasang orangtua tersebut.

“Bibi… Paman…”

Keduanya sontak mengangkat kepala mereka. Mereka tersenyum lirih melihat siapa yang kini berada dihadapan mereka. “Soojung-ah, kau sudah datang?”

Gadis itu mengangguk kecil. “Bagaimana keadaannya? Apa ada perkembangan?”

Wanita paruh baya itu menggeleng lemah.

“Kalau begitu aku masuk dulu,” pamit Soojung. Dibungkukkannya tubuhnya sebelum akhirnya masuk ke ruangan tersebut.

Begitu masuk ke dalam ruangan tersebut, Soojung menghembuskan nafasnya perlahan. Ia menatap miris ke arah seorang lelaki yang kini terbaring lemah diranjangnya. Ia berjalan mendekati si lelaki. Ia lalu duduk di kursi yang ada disamping ranjang Myungsoo. Lagi-lagi ia mendesah. Andai saja malam itu lelaki ini tak mengikutinya, andai saja rasa ingin tahunya tidak tinggi, ia pasti tidak akan begini.

“Kumohon, jangan pernah bangun, Kim Myungsoo.”

Sooji mendengus kesal. Pasalnya, ini sudah rumah sakit ke-10 yang mereka kunjungi tapi hasilnya sama saja. NIHIL. Kemana lagi mereka harus mencarinya? Sooji kemudian melirik ke arah arloji berwarna putih miliknya yang bertengger manis di pergelangan tangannya. Oh, Tuhan! Ia terlambat! “L-ssi, kau pulang saja lebih dulu. Aku baru ingat kalau aku ada janji. Sampai jumpa dirumah.”

L hanya menatap kepergian Sooji dalam diam. Sekarang apa yang harus ia lakukan?”

“Kau sudah bisa bekerja mulai hari ini,” ujar sang kepala restoran pada Sooji.

Sooji menatap tak percaya. Benarkah? Padahal sedari tadi yang Tuan Bang lakukan hanyalah menanyakan nama dan alamatnya saja. “Jadi, aku sudah boleh bekerja hari ini?”

Lelaki itu mengangguk. Ia kemudian memanggil salah seorang karyawannya untuk menjelaskan pada Sooji apa saja yang harus gadis itu lakukan. Sepeninggal Sooji, lelaki yang umurnya sudah menginjak setengah abad itu segera mengambil ponselnya dan menekan nomor seseorang.

“Tuan Muda, gadis itu sudah bekerja disini seperti yang kau perintahkan.” Lelaki itu kemudian mengangguk. Sadar bahwa anggukannya mungkin tak terlihat oleh lawan bicaranya, lelaki itu segera berkata,”Baik, Tuan Muda.”

“Sooji-ah!”

Sooji menatap tak percaya dengan apa yang ada dihadapannya kini. “Mark? Apa yang kau lakukan disini?”

“Aku juga bekerja disini,” jawab lelaki tampan itu seraya tersenyum lebar. “Kau pikir kau saja yang butuh uang tambahan? Aku juga! Belakangan ini aku kekurangan uang jajan karena tukang makan itu!”

Sooji tertawa mendengar Mark menyebut Jinri sebagai tukang makan. Ya, walaupun gadis itu kurus, tapi jangan salah! Kau akan terkejut melihat porsi makan Choi Jinri!

“Baguslah kalau begitu,” ujar Sooji lega. “Kalau begini aku jadi punya teman. Ayo kita bekerja yang giat, Mark!”

Mark hanya tersenyum kecil. Ia kemudian menoleh pada Tuan Bang yang membungkukkan badannya dari jauh. Melihat itu, Mark mengangguk kecil.

“Jadi, dari mana kita mulai?”

L berjalan lunglai. Ia menarik nafas panjang. Sepeninggal Sooji tadi, L memutuskan untuk mengunjungi beberapa rumah sakit lagi. Ia masuk ke semua ruangan kecuali kamar mayat.

Tapi hasilnya tidaklah lebih baik dari Sooji. L kemudian menendang batu. Tapi karna wujudnya yang berbentuk roh, tentu saja membuat batu tersebut berada tetap pada tempatnya.

“Ah, aku lupa kalau aku seorang roh,” geramnya kesal. Baru saja ia berniat pergi dari situ, lelaki itu mengernyit heran melihat siapa yang baru saja masuk ke dalam sebuah cafe yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Oh, bukankah itu Jung Soojung? Sedang apa gadis itu disini? Ya, Tuhan! L! Apapun yang akan dilakukan gadis itu sama sekali bukan urusanmu! L merutuki dirinya sendiri.

Tapi, entahlah. L juga tak tahu kenapa ia penasaran sekali dengan gadis yang bernama Jung Soojung itu. L kemudian memutuskan untuk mengikuti Soojung, masuk ke dalam cafe tersebut. Tak ada salahnya bukan? Lagipula ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.

L mengernyit begitu melihat Soojung melambaikan tangannya ke arah seorang lelaki yang sepertinya sudah sedari tadi menunggunya. Oh, bukankah lelaki itu yang tadi mengantarnya ke kampus Sooji?

“Minho Oppa!”

Soojung segera duduk dihadapan lelaki bernama Minho itu. Dari nada panggilannya, L yakin bahwa mereka bukanlah teman biasa.

“Sudah lama menunggu?” tanyanya pada Minho.

“Tidak juga.”

Soojung kemudian memanggil seorang waitress dan menyebutkan pesanan mereka. Selagi menunggu pesanan mereka datang, Minho membuka pembicaraan.

“Bagaimana keadaan Kim Myungsoo?”

L mengernyit mendengarkan pembicaraan mereka. Myungsoo? Sepertinya ia pernah mendengar nama itu sebelumnya. Tapi, dimana?

“Tidak ada perkembangan.”

“Baguslah. Kalau sampai Myungsoo bangun, rencana kita bisa berantakan!”

L lagi-lagi hanya menatap heran ke arah keduanya. Apa yang sedang mereka bicarakan? Tak ada satupun yang bisa L mengerti.

Soojung hanya menggumam. “Kalau saja Myungsoo tak melihatku bersamamu malam itu, ini semua tidak akan terjadi. Kecelakaan itu pasti tidak akan terjadi. Padahal rencana kita hampir berhasil.”

Oh, sepertinya L mulai mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Sepertinya gadis yang bernama Soojung itu dan lelaki yang ada dihadapannya ini punya niat buruk terhadap lelaki yang bernama Myungsoo. Mengerikan! L jadi semakin penasaran seperti apa Jung Soojung itu sebenarnya.

Minho kemudian menyesap hot americano-nya yang baru saja diantar sang waitress. Tiba-tiba saja ponsel lelaki itu berdering. Minho sontak merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya.

“Dari ayah Myungsoo,” seru Minho kemudian.

L merasa heran melihat perubahan ekspresi keduanya. Seperti mereka berdua telah tertangkap basah melakukan suatu kejahatan.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Minho segera mengangkat panggilan tersebut.

“Ya, paman? Ah, ya. Aku akan segera kesana.” Minho segera memutuskan panggilannya.

“Apa katanya?”

“Dia menyuruhku untuk datang ke kantor. Ada sesuatu yang harus ku urus. Maaf karena tak bisa mengantarkanmu pulang.”

Masih sempat lelaki itu mencium kening Soojung sbelum pergi meninggalkan gadis itu. Sekarang L yakin bahwa hubungan mereka memang lebih dari sekedar teman. Jika tebakan L tepat, gadis itu berselingkuh dengan Minho dibelakang lelaki bernama Kim Myungsoo itu. Ah, kalau tidak salah Sooji mengatakan padanya bahwa Soojung berpacaran dengan anak pengusaha terkenal. Berarti, lelaki itu Kim Myungsoo? Sepertinya teka-teki ini hampir terpecahkan.

L kembali menoleh pada Soojung. Gadis itu kini sedang menatap kosong ke arah minumannya. Ia menarik nafasnya panjang. Soojung kemudian mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Secarik foto. Soojung menatap lekat foto tersebut.

“Maafkan aku, Kim Myungsoo.”

Ah, sepertinya itu foto dirinya dan Kim Myungsoo. Baru saja L berniat mengintip foto tersebut, Soojung sudah terlebih dahulu memasukkannya kembali ke dalam tasnya. Gadis itu kemudian beranjak berdiri setelah sebelumnya meletakkan beberapa lembar uang diatas meja lalu berlalu pergi.

L hanya menatap kepergian Soojung dalam diam. Ia yakin ada sesuatu yang hebat yang terjadi antara Soojung, Minho dan juga… Kim Myungsoo!

TO BE CONTINUED

61 responses to “Oh My Ghost! Chapter 3

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s