[Freelance] Eotthokkae? 3/3

Title : Eotthokkae? | Author : kawaiine | Genre : Family, Romance | Rating : PG-17 Main Cast: Bae Soo Ji, Kim Myungsoo | Other Cast : Park Jiyeon, Nam Woohyun, Lee Jong Suk, Son Na Eun, Lee Min Ho, eTc

“Hello, I’m back with new ff, kkk… sorry for typos and bad poster… don’t be a siders and plagiator, happy reading^^”

***
“Igeo—bukankah pria berambut sarang lebah ini adalah ayah temanku?” ujar Seoyeon sembari mengeluarkan dua lembar foto dari saku dalam jaket berwarna pink kesayangannya. Sooji membulatkan matanya tak percaya—anaknya lancang.

“Apa yang kau lakukan—Seoyeonie?” tanya Sooji sedikit memajukan tubuhnya untuk menggapai dua buah foto di tangan putrinya. Tapi—gadis muda ini dengan cepat menyembunyikan kembali foto tersebut.

“Kau menyukai Ayah Kim Joowon?” tanya Seoyeon penuh selidik, Sooji menghela nafasnya kasar.

“Kau tidak mengerti apapun—Seoyeonie. Diamlah, dan kembalikan foto itu.” ujar Sooji, wajahnya kini berubah menjadi menyeramkan, membuat Seoyeon sedikit takut namun keberanian Seoyeon terlalu kuat.

“Mengapa kau tidak berkata jujur padanya bahwa kau menyukainya?”


Rembulan dengan keanggunan cahayanya menutup langit malam, gemerlap bintang dan lampu-lampu di jalanan meramaikan kota. Malam  ini, di halaman belakang rumah mewah keluarga pemilik Maskapai Penerbangan ini—pria bermata tajam hanya mengharapkan bahwa putra semata wayangnya  dapat mengerti.

“Karena, aku tahu dia adalah bintang yang tak mungkin aku gapai.” ujarnya dengan suara yang sedikit lemah.

“Kau seharusnya menjadi matahari atau bulan yang mendampinginya—bukan sebagai hal yang meninggalkannya begitu saja.” jawab putranya dengan nada menenangkan.

“Aku tidak yakin—dan pada saat itu…Aku memutuskan untuk melupakannya—aku terlalu sakit untuk menggambarkan apa yang terjadi padanya terakhir kali—dan aku, hanya memikirkan ibumu yang ketika itu membantuku berdiri dari efek  alkohol yang sangat melumpuhkan segala sistem di tubuhku, termasuk akal sehatku—“

“Maafkan aku, Joowon.” Sambungnya dengan nada sedikit menyesal. Joowon mengulurkan tangannya, menyentuh dan menggenggam tangan ayahnya—ayah yang ia cintai—meskipun ayahnya sedikit bodoh dan aneh—ayahnya adalah sahabat tak kenal waktu untuknya…

Dan rupanya, jawaban itu sama—sama-sama dilontarkan kedua orang tua ini untuk anaknya…

Bel sekolah sudah berbunyi lebih dari 2 kali, tandanya pelajaran berhenti dan ini adalah waktu istirahat. Joowon ini sama seperti sang ayah—hobinya bertengger di atap gedung sekolah. Ia kini terduduk di sebuah kursi kayu dengan meja kecil di hadapannya—dan gadis cantik juga. Gadis ini terdiam cukup lama. Ia menyeka kedua sudut matanya, air mata berada disana—Joowon menyerahkan sapu tangan kepadanya, dengan cepat gadis ini menyambarnya lalu mengusapkannya pada ujung mata yang basah.

“Mereka melahirkan kita karena kesalahan.” ujar Seoyeon, Joowon hanya mengangguk.

“Aku tahu—itu adalah kesalahan terbesar mereka. Mereka memiliki masa lalu yang cukup sama. Dan aku juga tak mengerti dengan surat yang ditulis ayahku untuk terakhir kalinya—“ Seoyeon mengerutkan dahinya,bingung.

“Ia menulis—ia akan melupakan ibumu dan membencinya. Dan  kau tahu, ia menggambar wajah seorang perempuan dengan tanduk iblis. Aku pikir itu ibumu—tapi tak seburuk itu—ibumu cantik.”

“Wae? Yaa! Berhati-hatilah jika berbicara. Aku akan mengutukmu!” Joowon tertawa lebar.

“Karena ayahku melihat ibumu bersama pria lain—ayahmu.” jawab Joowon , Seoyeon mengangguk mengerti.

“Aku tahu—ayahku itu adalah pria yang sangat menyebalkan, ia berselingkuh dengan wanita lain disaat ibu mengandungku.” Joowon membulatkan matanya.

“Ibumu sangat menyedihkan.” Seoyeon lagi-lagi mengangguk.

“Lalu, apa yang kau ketahui soal ibumu?” tanya Seoyeon penasaran.

“Ah—ayahku bilang ia adalah wanita yang bisa dikategorikan sebagai wanita cantik yang tergila-gila pada ayahku. Tapi—pada faktanya ibuku tak mencintai ayahku—ia lebih mencintai pria tua yang menjanjikan kehidupan lebih baik untuknya. Pada akhirnya—setelah ia melahirkanku, ia pergi bersama pria itu ke Amerika. Meninggalkan ayahku. Ayahku juga tak mencintainya—karena memang ini suatu kesalahan.” tutur Joowon.

“Ibuku mencintai ayahku—tapi ia menyukai pria lain.”

“Ibumu serakah.”

“Bukan—kau tahu, cinta itu bisa saja dipaksakan. Tapi—rasa suka adalah naluri yang alami dari dalam jiwa kita sendiri.” tutur Seoyeon sembari bangkit dari duduknya.

“Maksudmu? Ibumu mencintai ayahmu karena keterpaksaan?”

“Ya, bisa dibilang seperti itu, dan keterpaksaan itu pula yang mengantarkan ibuku pada cinta yang sebenarnya.” Joowon kini berdiri disamping Seoyeon yang menatap kedepan—gedung-gedung pencakar langit yang kokoh berdiri.

“Ibuku mencintai ayahku—namun pada akhirnya, ia juga membencinya. Cinta itu bisa merubah kata indah menjadi benci.”

“Jelas saja, ayahmu berselingkuh.” Seoyeon mengangguk.

“Benar sekali.”

“Apakah kau terpikir untuk memiliki seorang ibu?” tanya Seoyeon penuh dengan hati-hati pada Joowon.

“Aku sangat ingin memiliki seorang ibu—yang dengan tangan halusnya menyentuh rambutku ketika aku hendak tertidur. Atau sekedar menciumku, dan menjagaku layaknya harta paling berharga untuknya. Bagaimana denganmu?” Seoyeon tersenyum, Joowon sedikit berkaca-kaca jika berkata tentang seorang ibu.

“Aku ingin seorang ayah yang melindungiku. Melindungiku layaknya seorang putri raja.”

“Jika ayahku menyukai ibumu—masih menyukai ibumu, apakah kau akan menerima ayahku?” tanya Joowon, Seoyeon mengangguk mantap.

“Bagaimana denganmu?”

“Siapa yang tidak ingin memiliki ibu seperti ibumu—aku sangat ingin Lee Seoyeon!”


Sooji merebahkan dirinya diatas sofa rumah Jiyeon, Sooji meneguk jus jeruk yang diberikan Jiyeon beberapa saat lalu. Jiyeon hanya menatap sendu pada sahabatnya.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan? Setelah bertemu dengannya, dan anakmu tahu bahwa kau menyukai Myungsoo Sunbae?”

“Aku tidak tahu—Aku juga tidak tahu apakah Myungsoo Sunbae masih menyimpan rasa yang sama seperti dulu—arrgh!” jawab Sooji sembari mengacak frustasi rambut sebahunya.

“Tapi—Sooji-ah, mengingat kau mencintai Min Ho sunbae dahulu—“

“Itu dahulu, dan aku sudah melupakannya.”

“Baguslah—lalu bagaimana? Apakah Seoyeon menyetujui jika kau menikah lagi?”


“Aku tak masalah jika kau menikah lagi… Asalkan itu dengan pria yang kau cintai dengan hatimu. Kau sukai dengan akal sehatmu, Eomma.”

“Benarkah?”

“Ya, benar…Tanpa kau sadari mungkin ada orangnya…”


“Bukankah itu sinyal yang baik dari Seoyeon? Mungkin saja Seoyeon berharap bahwa Myungsoo lah yang pantas untukmu.” tutur Jiyeon, Sooji memijat dahinya pelan.

“Entahlah, aku tak terpikir untuk menikah lagi. Aku sudah nyaman berdua bersama Seoyeon.”

“Setidaknya, kau merasa ada yang melindungi dan mendekapmu.” ujar Jiyeon, Sooji menghela nafasnya berat.

“Jadi Joowon tahu kau pernah menyukai Sooji?” Myungsoo mengangguk menanggapi pertanyaan Woohyun.

“Lalu bagaimana responnya? Apakah ia membencimu? Apakah ia marah?”


“Bohong jika aku tak membutuhkan ibu.” ujar Joowon, membuat Myungsoo menatapnya dalam.

“Kau menyuruhku menikah lagi?” tanya Myungsoo pada putranya.

“Secara tidak langsung—bukankah begitu? Kau juga membutuhkan teman hidup untuk berbagi—dan untuk mengurusimu, tak mungkin nenek terus-terusan mengabdikan hidupnya untukmu. Hyung.”

“Yaa! itu sangat bagus, Joowon secara tidak langsung membuka kesempatan untukmu.”

“Tapi, aku tidak terpikir kesitu—“

“Yaa! apakah selama ini tidurmu enak jika sendiri? Kau harus merasakan bagaimana tenangnya mendekap seorang istri ketika kau tertidur.”

“Ya, karena dulu aku tak pernah mendekap Na Eun. Aku hanya menjadi orang lain baginya—bukankah begitu?”

“Betul sekali. Tapi—Myung, apakah kau mencintai Na Eun?”

“Tidak—aku tidak mencintainya. Tapi, alasan aku menghamilinya—kau tahu kan di dunia ini ada yang namanya sebab-akibat?” tanya Myungsoo pada sahabat karibnya yang sudah memiliki 5 orang anak tersebut. Woohyun mengerutkan dahinya—bingung dan ingin tahu.

“Karena Sooji…” jawab Myungsoo dengan nada sedikit menyesal—Woohyun mengangguk mengerti.

Sooji kini terduduk di ruangan make-upnya, ini sudah menjelang pukul 6 sore. Ia masih harus pemotretan untuk majalah edisi bulanan. Sooji mematut dirinya di cermin, ia jadi teringat percakapannya dengan Seoyeon dan Jiyeon tadi, Seoyeon dan Jiyeon ini sama—sama-sama menyuruhnya untuk menikah lagi. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, dilihatnya seorang pria yang kemarin menemuinya—Lee Jongsuk masuk kedalam.

“Sooji-ssi…”

“Aku tidak ingin berbicara apapun denganmu.” jawab Sooji dengan nada ketus. Sooji bangkit dari kursinya lalu segera keluar, tapi Jongsuk menahannya.

“Ibu ingin bertemu denganmu—dengan Seoyeon juga.” ujar Jongsuk, Sooji mendelikkan matanya—ia tidak mau bertemu mantan mertuanya yang seperti macan itu.

“Ada apa? Ah, pasti membicarakan tentang kau yang ingin menikahiku.”

“Tidak—aku sudah tidak ingin menunggumu lagi.” Jongsuk menatap dalam mata Sooji.

“Baguslah.” jawab Sooji singkat.

“Tapi—ibuku ingin bertemu denganmu, ia ingin membicarakan sesuatu yang penting. Ini untuk masa depan Seoyeon.”  Sooji malas berdebat, ia kemudian menghela nafasnya kasar.

“Baiklah. Dimana?”

“Di Hotel Gung—ibuku kebetulan sedang ada acara disana. Kau tahu ia semakin tua—“

“Dan menyebalkan” potong Sooji, Jongsuk tersenyum.

“Ia semakin tua dan ia ingin kau yang menemuinya.” Sooji mengangguk.

“Pukul 8 malam, aku akan kesana.”


Seoyeon baru saja pulang dari kegiatan lesnya—ia kemudian berjalan sendirian di sekitar jalanan besar. Ia menyukai ini—menyukai musim panas ini. Ia sangat suka berjalan kaki. Seoyeon berjalan dengan sedikit pelan—meskipun ini sudah terbilang malam, untuk apa ia dengan cepat pulang kerumah—tak ada yang dijumpainya, ibunya pulang larut malam—dan itu pasti.

BRUKKK!

Seoyeon meringis kesakitan—tangannya sakit, ia terhempas. Seorang wanita berperawakan tinggi dan langsing itu sontak membuka masker yang menutupi mulutnya, ia mengenakan jaket yang kebesaran dan memakai topi berwarna hitam.

“Maafkan aku, agasshi… Kau baik-baik saja?” Seoyeon membalikkan telapak tangannya yang sedikit berdarah.

“Ah—kau berdarah! Maafkan aku, sebagai gantinya aku akan membawamu ke klinik dekat sini. Ayo!” Wanita ini kini membimbing Seoyeon untuk berdiri. Seoyeon hanya terdiam meringsis kesakitan. Wanita itu tampaknya terburu-buru.

“Aku di klinik—Oppa, aku tak sengaja menubruk seorang anak-anak, tangannya berdarah dan aku harus cepat mengobatinya.” Seoyeon yang baru saja keluar dari ruang pengobatan hanya menatap wanita itu dalam-dalam, sepertinya ia seorang artis.

“Oh—kau sudah selesai?”

“Seperti yang kau lihat. Terimakasih sudah membawaku kemari.” jawab Seoyeon.  Wanita ini kini keluar dari klinik bersama Seoyeon, arah jalan yang akan mereka tuju itu sama—hasil dari perbincangan singkat tadi di ruang tunggu klinik.

“Oh—Oppa!” pekik wanita ini, Seoyeon mengarahkan pandangannya pada seorang lelaki yang sedang berlari cepat hendak menghampiri wanita di sampingnya. Ia sedikit memicingkan matanya—melihat lamat-lamat siapa pria ini—dan ia tampak mengenalnya. Dan itu…

“Aku duluan! Ibuku pasti mencariku!” Seoyeon berpamitan dan meninggalkan tempat berdirinya setelah mendapat anggukan dari wanita di sampingnya, Seoyeon dengan cepat melangkahkan kakinya meninggalkan jalanan besar ini. Ia benci melihat pria tadi—ia benci—sangat.

Malam  ini Joowon mencari-cari makanan untuk mengganjal perutnya—ayahnya yang bodoh itu tidak bisa memasak, ahjumma yang menjadi asisten di rumahnya juga tidak bisa datang karena ia sakit—neneknya sibuk mengurusi bisnis yang tak berujung. Joowon betul-betul kesal jika mengingat itu—dan ini yang ia inginkan, memiliki seorang ibu yang setidaknya bisa menemaninya. Joowon menghentikan langkahnya tepat di sebuah kios kecil di dekat Hotel.

“Pesananmu, Tuan Muda.” ujar penjual tersebut, Joowon meraih sekantong makanan yang diserahkan penjual tersebut dan menukarnya dengan sejumlah uang. Joowon melanjutkan langkahnya. Tapi ia terpaksa menghentikan langkahnya setelah melihat seorang wanita—yang ia harapkan menjadi ibunya turun dari sebuah mobil mewah dengan seorang pria berperawakan tinggi—dan—masuk kedalam hotel.

Dan pada saat itu—Joowon berusaha untuk menghentikannya—mengurungkan semua niatnya untuk mempersatukan kembali cinta pertama ayahnya—ia tak mungkin memberikan ayah kesayangannya itu pada wanita yang salah.

“Oppa, berapa jam lagi aku harus menunggu? Go Sajangnim sepertinya belum datang. Aku bosan.” ujar wanita tersebut—Dasom.

“Bersabarlah sedikit lagi—aku juga selalu kesal jika ia terlambat.” jawab Myungsoo. Tiba-tiba seorang pria paruh baya masuk kedalam caffe tertutup tersebut, ia sedikit meminta maaf karena keterlambatannya.

“Jadi, untuk konsep video klipmu, kami sepakat untuk menjadikan Myungsoo sebagai modelnya. Bagaimana?” Dasom mengangguk, Myungsoo juga mengangguk.

“Baiklah, aku harap kalian bisa bekerja sama dengan baik.”


Sooji sama sekali tidak menyentuh orange juice di hadapannya, ia terlalu benci melihat wanita tua di hadapannya, ia hanya menampilkan ekspresi datar untuk membalas tatapan dan raut wajah wanita itu. Pria disamping wanita tua itu hanya menyenggol lengan wanita yang berstatus sebagai ibunya tersebut—tanda bahwa ia harus memulainya. Nyonya Lee kini mendengus sebal.

“Bagaimana kabar Seoyeon?” tanyanya dengan mata yang menatap wanita di hadapannya—wanita yang ia sebut sebagai pelacur rendahan karena menggoda putra kesayangannya—bahkan, kematian putra kesayangannya itu juga ia sempat menyalahkan wanita ini. Tanpa ia tahu wanita ini sangat terluka kala itu, dan bodohnya—Nyonya Lee ini tidak tahu.

“Baik.” jawabnya singkat. Nyonya Lee ini wanita terhormat, dan ia harus merendahkan dirinya di hadapan wanita ini—wanita yang ia benci tapi wanita ini juga yang melahirkan cucunya—cucu pertamanya.

“Syukurlah. Sejujurnya—Sooji-ssi…Aku ingin membawa Seoyeon ke Amerika. Aku ingin memperluas pendidikannya. Aku ingin mengurusnya dan aku merindukannya.” jawab Nyonya Lee tertunduk, Sooji merasa ada yang ganjal dari ucapan wanita tua ini, ia kemudian menatap wanita tua itu dengan tatapan tajamnya. Tatapan mata yang diselimuti oleh amarah.

“Dua belas tahun lalu—kau tak menginginkannya. Kau malah menyuruhku untuk membunuhnya—karena ini adalah aib keluargamu. Jongsuk Oppa, kau tak mengetahui masalah ibumu yang menyuruhku mengugurkan kandunganku kan?” tanya Sooji pada pria yang berada di hadapannya juga. Pria itu menggeleng pelan. Ia tak menanggapi ucapan Sooji dengan jawaban dari mulutnya—ia ingin tahu lebih jelas.

“Dan sekarang, kau khawatir masalah pendidikannya, jika memang kau khawatir—mengapa tidak saat dulu pada saat ia mulai masuk ke taman kanak-kanak? Kenapa? Kau malu? Menanggung aib yang putramu sendiri torehkan—dan aku sepertinya salah mendengar perkataanmu tadi. Kau merindukan Seoyeonku? Kau merindukannya? Kau merindukan putri dari seorang pelacur rendahan?” tanya Sooji, air matanya kini lolos membasahi pipinya. Sakit mengenang masa-masa itu. Sakit.

“Maafkan aku yang tak sempat memperhatikannya dahulu—aku sangat merindukannya Sooji-ssi. Bagaimanapun dia adalah cucuku. Itu kesalahanku tidak melihatnya tumbuh besar—di tanganmu.”

“Maafkan aku juga, karena aku tak akan pernah bersedia menyerahkan putriku padamu, kau seorang ibu, Nyonya Lee. Kau berpengalaman mengandung dan melahirkan bukan? Sama-sama terjaga ketika kita sedang tidur karena tendangannya—sama-sama tersenyum bahagia karena perkembangannya, dan sama-sama sakit ibaratkan semua tulang yang patah dalam satu detik pada saat melahirkannya. Kau tentunya tahu proses itu. Aku membesarkannya tidak mudah—aku merepotkan ibuku yang sudah di masa senjanya untuk mengurus Seoyeon, aku juga merepotkan ayahku untuk menjemput Seoyeon ketika ia mulai sekolah, karena aku tak punya siapa-siapa. Kau bahkan tak tahu itu! KAU TAK TAHU!” ucapan Sooji kini beranjak naik menjadi intonasi yang tinggi. Nyonya Lee menitikkan air matanya, jujur bukan ini yang ia harapkan—makian dari mantan menantunya. Jongsuk tertunduk bodoh—ya ia memang bodoh, ia hanya ingin Sooji, ia terlalu fokus untuk mengejar ambisinya memiliki Sooji sehingga ia tak tahu perjuangan hidup Sooji yang begitu berat.

“Dan sekarang kau meminta Seoyeon untuk ikut serta bersamamu? Dengan janji pendidikan luas untuknya? Satu hal yang perlu kau tahu—aku tidak akan pernah menyerahkan Seoyeon kepada siapapun.” Sooji menyambar tas brandednya yang kini tergeletak di kursi samping miliknya, ia menghapus kasar air matanya.

“Maafkan aku—Sooji-ssi. Wanita tua tak berguna ini.” ujar Nyonya Lee.

“Aku akan pulang, Seoyeon menungguku!” Sooji kini berdiri, ia melangkahkan kakinya hendak keluar, tapi—orange juice itu sepertinya mampu meredakan kehausannya, ia sejujurnya haus ketika berbicara panjang lebar dengan Nyonya Lee. Sooji berbalik, ia kemudian meneguk orange juice itu tak bersisa, ia juga tak menghiraukan pandangan kedua manusia ini. Sooji melanjutkan langkahnya, tapi ia terenti seketika.

“Sejujurnya—Seoyeon menjadi ahli warisku, itu sudah kutetapkan dan suratnya berada di tangan pengacaraku, surat itu akan sampai ke apartemenmu besok pagi.” tutur Nyonya Lee. Sooji sedikit tersenyum, tapi demi harga dirinya ia kembali melanjutkan langkahnya dan menuju keluar hotel.


Joowon masuk kedalam rumahnya lalu membanting pintu dengan keras, ia kemudian meletakkan kantong berisi makanan itu dimeja makan. Ia dengan cepat menyambar ponselnya, ia menelpon ayahnya.

“Kau dimana?” Tanya Joowon pada pria di dalam teleponnya.

“Cepat!” ujar Joowon. Ia kemudian menutupnya kasar.

“Aku melihat Ayah Joowon masuk kedalam caffe bersama seorang wanita. Lebih baik kau menjauhinya.” tutur Seoyeon, Sooji membulatkan matanya.

“Mwo?”

“Ya, kau jauhi saja dia Eomma, jika kau bertemu dengannya, usahakan kau jangan berbincang dengannya.” Sooji menyandarkan tubuhnya dengan lemas kedalam sofa, ya—ia sudah menduga, Myungsoo sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya, terbukti—Seoyeon menemukan buktinya. Ia juga tak terpikir akan menikah lagi, satu-satunya alasan ia menikah lagi adalah cintanya, kemana hatinya berlari menyukai seorang namja. Hatinya sedikit sakit. Sooji mengangguk mengiyakan usul Seoyeon.

“Sudahlah, aku tak ingin mengingatnya lagi.” ujar Myungsoo setelah mendapat penjelasan dari Joowon. Ia melemas seketika, ia memang tidak tahu apa yang terjadi dan dilihat oleh Joowon, tapi anaknya ini tak berbohong.

“Mungkin aku tak akan pernah bisa merasakan memiliki seorang ibu…” batin Joowon.

Seoyeon memasuki kelasnya, dilihatnya Joowon yang sedang duduk di kursinya, ia dengan cepat menarik tangan Joowon untuk segera ke atap. Joowon hanya pasrah diperlakukan seperti ini oleh Seoyeon. Joowon juga ingin mengatakan sesuatu hal pada Seoyeon.

“Aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Aku menyerah untuk mempersatukan mereka.” ujar Joowon, tak ada raut keheranan dari Seoyeon, karena kata-kata itu juga yang akan Seoyeon lontarkan jika Joowon tak membuka percakapan. Seoyeon mengangguk.

“Aku juga menyerah, sepertinya mereka sudah tak menyukai lagi. Maafkan aku Joowon.” Seoyeon menjawab dengan sedikit parau, Joowon terdiam.

“Tapi—Seoyeonie… Aku melihat ibumu masuk kedalam hotel kemarin bersama seorang namja.”

“Aku juga melihat ayahmu berjalan bersama seorang wanita.”

Seoyeon sengaja pulang ke apartemen pukul setengah Sembilan malam, hari ini Sooji sedikit lengang jadwalnya, Seoyeon dengan cepat masuk kedalam lalu masuk kedalam kamarnya—tanpa melihat Sooji yang sedang menyapanya di ruang tv. Seoyeon hanya mendelik sebal pada Sooji. Sooji segera meluncur ke kamar putrinya, mungkin putrinya sedang dalam mood tidak baik.

“Seoyeonie—“ Sooji berusaha meraih bahu kecil milik putrinya, tapi putrinya ini tidak mau sedikitpun di sentuh oleh ibunya. Sooji mendengus kesal, disisi lain ia juga sebal karena mendengar soal Myungsoo kemarin.

“Kemarin kau bersama seorang namja memasuki hotel. Apa yang kau lakukan Eomma?” tanya Seoyeon penuh selidik.

“Dengan samchon-mu, wae? Kau melihatnya?” tanya Sooji balik pada Seoyeon, Seoyeon menggerakkan bibirnya tanda benci pada Sooji.

“Aku membencimu.” gumam Seoyeon tak jelas yang masih dapat terdengar oleh Sooji, Sooji menarik kasar bahu putrinya, ditatapnya putrinya itu dengan tatapan yang tak biasa, pikiran Sooji kalut, matanya diselimuti amarah yang memuncak. Ia betul-betul sebal mendengar Myungsoo kemarin, dan saat ini putrinya tidak mengerti perasaannya.

“Tatap aku!” ujar Sooji, ia dengan keras mencengkram bahu Seoyeon, Seoyeon sedikit meringis.

Bae Halmeoni…” lirih Seoyeon.

“Kau jangan terlibat lagi dengan urusan percintaanku, Seoyeonie. Kau terlalu jauh. Biarkan saja aku dengan siapapun, dengan pria yang sekalipun tak aku cintai. Kau masih terlalu kecil untuk  mengerti cinta. Kau masih terlalu kecil!”

“Wae? Apakah aku tak boleh mengenali cinta? Aku bahkan dilahirkan karena cinta, dibesarkan juga karena cinta. Cinta dari siapa? Jika bukan darimu!” ternyata ucapan itu juga bukan hanya keluar dari mulut Seoyeon—Joowon juga berkata seperti itu.

“Aku dan Joowon sepakat untuk menyatukan kembali kalian berdua, tapi sepertinya kau terlalu dewasa untuk mengerti rencana anak-anak seperti kami.”

“Tapi, disaat Joowon melihatmu bersama pria itu, ia jadi mengurungkan niatnya untuk menyatukanmu kembali dengan ayahnya, ia merasa bahwa ia hanya akan menyerahkan ayahnya pada orang yang salah!”
Sooji menitikkan air matanya, ia melepas kedua tangannya yang daritadi setia menumpu di bahu Seoyeon, Seoyeon juga menangis, ini pertama kali ibunya membentaknya dengan keji. Seoyeon dengan cepat keluar dari apartemennya, meninggalkan Sooji yang terdiam mematung di kamarnya.

Dan peristiwa ini menyadarkan Myungsoo juga Sooji, pasalnya bukan hanya Seoyeon yang sakit karena cengkraman tangan orang tua bodoh itu di bahunya—tapi Joowon juga. Seoyeon pergi dari rumahnya—bukan hanya ia satu-satunya—Joowon juga. Joowon berbicara hal yang sama pada Myungsoo—sama seperti yang Seoyeon katakan.

“Seoyeonie!” pekik Sooji sembari mengitari apartemennya, Seoyeon tidak ada.
Sooji memutuskan untuk keluar apartemen.

“Joowonie! Kim Joowon!” Myungsoo berteriak kesetanan diantara kerumunan para warga yang kini sedang berjalan-jalan di keramaian kota. Ia mencari putranya yang kabur. Kabur membawa dua buah surat miliknya.

Seoyeon menghapus air matanya kasar, ia kemudian menelusuri jalan yang tak pernah ia jumpai sebelumnya. Ia sejujurnya sedikit takut ketika melihat jalanan sempit yang gelap dan dipenuhi dengan warga-warga aneh di sekitarnya. Seoyeon tahu—ini terlalu jauh dari apartemennya. Ia hendak berbalik dan pergi—Tapi…

“Mau kemana kau Nona Manis?” ujar seorang Ahjussi yang kini memegang tangan Seoyeon, Seoyeon meronta. Ia sedikit memekik.

“Lepaskan!”

“Sekali kau masuk kesini, kau tidak akan pernah bisa keluar kecuali aku yang mengeluarkanmu.” ujar Ahjussi tersebut. Seoyeon kemudian ditarik mengikuti Ahjussi itu, Seoyeon berteriak cukup keras.

“Joowonie! Kim Joowon! Mianhae!” teriak Myungsoo, ia kini tiba di jalanan sempit dan gelap. Ia melihat seorang gadis muda tengah diseret dan dipaksa—ini seperti sebuah penculikan!

BRUKKK!

Myungsoo mengatur nafasnya, ia kemudian memandang remeh pada kedua pria paruh baya di hadapannya yang terjatuh dan tergeletak dijalan. Seoyeon berlari menjauh. Ia tak ingin melihat Myungsoo berkelahi menghabiskan kedua Ahjussi tersebut.

“Gwenchana?” tanya Myungsoo sembari menggenggam tangan Seoyeon, menatap mata Seoyeon dalam-dalam, memastikan bahwa semua baik-baik saja. Seoyeon mengangguk dan sedikit lagi  ia akan menangis.

“Aku akan melindungimu, tenanglah. Kau kenapa? Mengapa malam-malam seperti ini kau masih diluar? Sooji tidak pulang?” tanya Myungsoo, Seoyeon menangis, Myungsoo mendekapnya, Seoyeon merasakan sebuah kehangatan dan perlindungan yang kuat kini tengah berpihak padanya, ia belum pernah merasakan hangatnya pelukan seperti ini—seorang ayah.

“Aku kesal pada Eomma.” jawab Seoyeon, akhirnya ia membuka mulutnya setelah lama berdiam dengan Myungsoo. Myungsoo memandangnya. Astaga—gadis ini betul-betul cantik dan sama seperti Sooji.

“Mengapa?”

“Eomma berkata bahwa aku terlalu jauh ikut campur dalam percintaannya. Aku kesal, Myungsoo Ahjussi, kemarin kau mendengar dari Joowon tentunya bahwa Eomma berjalan ke hotel bersama seorang pria?” Myungsoo mengangguk.

“Itu pamanku.” tutur Seoyeon.

“Ah—pamanmu…”

“Jadi jangan berpikiran yang macam-macam.”  Myungsoo mengangguk, detik berikutnya ia mencari Joowon kembali bersama Seoyeon, tapi—yang dicari ini sedang terdiam di sebuah kursi taman dekat apartemen Seoyeon. Ia merasa pusing, tubuhnya juga sedikit panas, wajahnya pucat. Tak lama kemudian—ia pingsan.
Semua orang yang berada di taman sontak terkejut melihat seorang anak lelaki yang terbaring lemah di kursi taman, Sooji yang putus asa menghampiri kerumunan tersebut—takut bahwa itu anaknya yang hilang.

“Joowonie!” pekik  Sooji.

Sooji kini tengah mengganti kompresan di dahi Joowon, ia mengusap dan merapikan rambut Joowon. Ia mengusap pipi Joowon, ia melihat Myungsoo disana. Sooji tersenyum. Kini Joowon sedang berada di apartemennya. Ia lalu hendak melangkah untuk memasak bubur. Tapi, tangan Joowon ini menahan langkahnya, ia terkejut—dan ia semakin tersentuh melihat Joowon.

“Eomma…” Joowon mengigau. Sooji tersenyum lalu menggenggam tangan Joowon.

“Kau disini bukan…” sambung Joowon, Sooji kemudian mendudukkan dirinya kembali di sisi ranjangnya. Ia mengusap dahi Joowon.

“Aku disini—aku akan merawatmu hingga kau sembuh.” ucap Sooji, Sooji tanpa sadar mengucapkannya, tapi ini memang impiannya. Ia kemudian mencium dahi Joowon sayang. Joowon kini kembali tertidur. Sooji sedikit membuka jaket Joowon, dilihatnya dua buah amplop surat terselip. Sooji dengan cepat mengambilnya. Ia tersenyum ketika membacanya.

Myungsoo dengan cepat berjalan bersama Seoyeon menuju apartemen Seoyeon setelah 5 menit yang lalu Sooji mengatakan bahwa Joowon bersamanya dan dalam keadaan sakit.

“Seoyeonie!” pekik Sooji ketika melihat Seoyeon yang kini tengah berdiri bersama Myungsoo. Sooji memeluknya.

“Terimakasih, sunbae.” tutur  Sooji. Myungsoo mengangguk lalu segera masuk kedalam kamar dimana Joowon berada.

“Joowonie, Mianhae… Aku janji akan memberikan dia untukmu—tepatnya lebih banyak untukku.” batin Myungsoo sembari mengusap tangan putranya. Sooji yang melihatnya dari luar bersama Seoyeon hanya terdiam. Sooji kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur, ia membuatkan bubur untuk Joowon.


“Sooji-ssi terimakasih banyak—aku akan membawa Joowon pulang.” tutur Myungsoo, Sooji melirik jam dinding putih yang berada di atas lemari tingginya.

“Malam  ini, biarkan saja Joowon disini. Ia butuh beristirahat sunbae.” jawab Sooji. Sooji kemudian membangunkan dan membenarkan posisi duduk Joowon untuk makan.

“Baiklah, kau harus makan. Sesudah itu minum obatmu. Okay?” ujar Sooji pada Joowon yang kini mengangguk menatapnya, Seoyeon tersenyum, Myungsoo juga tersenyum. Joowon kemudian makan dengan lahap meskipun rasa bubur itu hambar, tapi setidaknya cinta seorang ibu yang ditambahkan di bubur tersebut menambah berjuta rasa.

Joowon kini tertidur lelap, hanya ada Sooji disampingnya yang sedang duduk di sisi ranjang dan tertidur sembari menggenggam tangan Joowon. Sooji kelelahan—mungkin saja. Dan Seoyeon, Seoyeon juga duduk di kursi sebelah Sooji, ia juga tertidur. Myungsoo? Myungsoo yang menyaksikan kejadian ini. Ia merasakan hangat disekitar hatinya. Myungsoo menutup pintu kamar Sooji perlahan. Ia takut bunyi yang ditimbulkan pintu ini mengganggu tidur lelap kedua malaikat dan satu bidadarinya. Myungsoo duduk di seberang Sooji dan Seoyeon, ia menggenggam tangan putranya. Dilihatnya Joowon yang pucat, dilihatnya wajah Sooji dan Seoyeon bergantian. Entah mengapa damai sekali melihat manusia-manusia ini tertidur lelap. Dan malam itu—Myungsoo menghabiskan malamnya hingga sepertiga malam memandang mereka—ditemani rembulan dan gemintang yang meruah…

—-
Pagi hari menjelang—ini hari minggu. Terik matahari mulai muncul melalui celah-celah gorden samar berwarna putih gading milik Sooji. Burung-burung berkicauan riang menyambut pagi yang cerah. Embun-embun sisa semalam membasahi bunga-bunga yang bermekaran. Dan ini—seorang namja mengerang dalam bangun tidurnya. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia masih ingat semalam menggenggam tangan putranya. Tapi ia sadar kini yang digenggam hilang—tidak ada diatas tempat tidur.

“Kim Joowon!” pekiknya, ia kemudian membalikkan selimut tebal di atas ranjang. Tapi putranya ini tidak ada. Myungsoo terdiam—ia kini mengalihkan pandangannya—dilihatnya Sooji yang masih tertidur pulas di tempat yang sama. Sooji tidak terbangun—dan Seoyeon juga tak ada disana.

“Kemana anak-anak itu?” gumam Myungsoo pelan, ia dengan langkah tenangnya menghampiri Sooji.


Joowon terbangun dari tidurnya, ia merasakan badannya sedikit membaik setelah peristiwa kemarin. Ia tersenyum melihat orang-orang disekitarnya. Tapi—pikiran Joowon ini sedang kalut karena masalah ayahnya dan seorang wanita disampingnya. Joowon melepaskan genggaman kedua orang tua ini dengan hati-hati. Ia kemudian membangunkan Seoyeon.

“Wae?” Seoyeon masih dengan khas mengantuknya bertanya pelan pada Joowon. Joowon hanya menjawab dengan isyarat “ Ayo cepat kita keluar!” Seoyeon dengan cepat mengendap-endap keluar dari kamar, bersama Joowon. Seoyeon kemudian mengunci pintu kamar tersebut setelah Joowon mengatakan…

“Kita harus memberi waktu untuk mereka berdua.”

Sooji terbangun dari tidurnya. Ia mengusap matanya yang setengah mengantuk. Ia sadar tangan putra seniornya ini sudah tak ada di genggamannya. Sooji terkejut, tapi dengan cepat Myungsoo menyuruhnya untuk tidak panik.

“Joowon dan Seoyeon kemana?” tanya Sooji, Myungsoo menggeleng.

“Mereka mungkin sudah bangun dan mengunci kita didalam sini.” jawab Myungsoo. Sooji menghembuskan nafasnya kasar.

“Apa sebenarnya maksud mereka?” tanya Sooji pada dirinya sendiri. Myungsoo hanya tersenyum.

“Sooji-ssi…” panggil Myungsoo pelan. Sooji menoleh pada Myungsoo.

“Bolehkah aku mengatakan ini?”

“Mengatakan apa?”

“Aku menyukaimu—dari dulu.” tutur Myungsoo dengan jujur. Tatapannya hangat dan dalam.

“Aku sudah kebingungan dengan cara apa aku harus mengungkapkannya padamu. Joowon dan Seoyeon tak mungkin selamanya jadi perantara cintaku denganmu. Cinta pertamaku—yang membuat jantungku berdegup kencang pertama kali.” Myungsoo menunduk, Sooji juga menunduk.

“Sejujurnya—sunbae, aku juga menyukaimu. Kau yang selalu memperhatikanku di atap itu. Maafkan aku yang membuatmu kesal untuk terakhir kali. Maafkan aku.” tutur Sooji, Myungsoo kini menggenggam tangan Sooji.

“Aku melihatmu bersama Min Ho pada saat perayaan kelulusanmu—aku hendak mengucapkan selamat. Tapi—karena melihatmu seperti itu,aku mengurungkan niatku. Oleh sebab itu—aku memutuskan untuk melupakanmu, aku memutuskan untuk membencimu. Tapi aku tak bisa.” Sooji kini menangis.

“Maafkan aku sunbae…” lirih Sooji.

“Kaulah alasan mengapa malam itu aku memutuskan untuk mabuk—dan membuat Joowon bersama wanita yang sama sekali tak aku harapkan.” Sooji kembali terisak—tapi Myungsoo mendekapnya erat.

“Dapatkah kita memulainya lagi dari awal? Memulai cinta yang sempat tak tersampaikan? Kau menyukaiku kan? Sehingga foto-foto ini berada di tanganmu?” ujar Myungsoo sembari memperlihatkan dua buah foto yang Seoyeon berikan tadi malam.

“Sunbae—“ Sooji menunduk, malu. Ia kemudian mengangguk.

“Aku ingin memulainya kembali bersamamu. Memulai kehidupan yang baru, menjemput kebahagiaan yang sebenarnya—hanya bersamamu. Dan kedua malaikat kita. Aku ingin kita sama-sama melupakan masa lalu. Jangan mengingatnya lagi. Hem? Eotte?” tanya Myungsoo. Sooji mengangguk—hatinya ini mudah tersentuh, ia sedikit menangis lalu mendekap Myungsoo erat-erat.

“Seoyeon butuh seorang ayah untuk melindunginya—Joowon butuh seorang ibu untuk merawatnya.  Aku membutuhkanmu untuk melakukan semuanya, bernafas untuk hidup—aku membutuhkanmu, Oppa.” tutur Sooji, Myungsoo mengusap punggung ‘gadis’nya ini dengan lembut.

“Maukah kau menikah denganku?” tanya Myungsoo pada Sooji.

“Aku tahu itu terlalu cepat—tapi, aku ingin juga cepat merubah kehidupanku.” Sooji tak bisa berkata apapun—pria ini melumpuhkan akal sehatnya, memabukkan. Ia hanya mengangguk seperti orang bodoh. Tapi ia tahu pria ini lah yang akan mengubah kehidupannya. Pria ini—yang menatapnya dengan tatapan menghargai, dengan tatapan tulus dipenuhi cinta yang tak kalah tulus. Berbeda dengan mantan suaminya atau pria lain yang hanya bisa merendahkannya—menginginkannya dengan ambisi yang menggebu. Hanya pria ini yang mengerti dirinya.

Dan di luar kamar—kedua anak jahil ini… Berhigh-five ria… Mereka juga tak kalah senang

 


Sooji menghembuskan nafasnya—gugup. Ia mematut dirinya yang kini berbalut gaun putih panjang di hadapan cermin. Rambutnya sedikit disanggulkan dan dikepang dengan rapi. Hari ini—hari pernikahannya bersama pria yang sebulan lalu menjanjikan kehidupan yang lebih baik untuknya. Dan disebelahnya, dua orang wanita paruh baya mengusap pundaknya yang terekspos bebas.

“Kau masih cantik seperti dahulu. Sooji-ah…” tutur Nyonya Bae. Nyonya Kim yang berada di sampingnya juga mengusap pundak Sooji lembut, sebulan yang lalu ia berkenalan dengan Sooji dan ia langsung memberi sinyal suka ketika melihatnya, ditambah melihat Joowon dan Myungsoo juga yang sangat menyukai wanita ini. Nyonya Kim tersenyum.

“Kau ini masih seperti seorang gadis.Kau tidak pantas dikatakan sudah memiliki seorang anak.”—Nyonya Kim berbicara. Sooji tertunduk malu.

“Eomma! Ayo!” Seoyeon menyembulkan kepalanya dibalik pintu, bersama kakeknya. Sooji sekali lagi menatap cermin dengan percaya diri. Ia kini melangkahkan kakinya keluar. Menjemput kebahagiaan yang sebenarnya…

Para wartawan sibuk memotret prosesi pernikahan seorang model dan aktris terkenal di korea dengan aktor dan model tampan ini. Kilatan kamera memenuhi setiap prosesi yang berlangsung. Kini proses pernikahan itu sudah di ujung, tapi para wartawan yang meliput  ini tidak hentinya mengambil gambar. Pernikahan ini menjadi pernikahan yang paling heboh sepanjang masa, karena beritanya mengejutkan dan tidak mampu diterima dengan akal publik. Pasalnya Sooji dan Myungsoo ini tak pernah dekat. Tapi—siapa yang tahu. Mereka sudah dekat semenjak SMA dan sudah saling menyukai dalam waktu yang sama.


Sooji dan Myungsoo kini sudah berada di rumah yang disediakan Nyonya Kim untuk Myungsoo jika Myungsoo menikah lagi. Rumahnya besar dan mewah—cukup untuk hidup berempat bersama Joowon dan Seoyeon. Tapi—pada faktanya Joowon dan Seoyeon sedang tidak bersama mereka, mereka ini cukup mengerti.

“Aku mandi dulu.” ujar Sooji pada Myungsoo yang kini sibuk melepas baju yang membalutnya sedaritadi pagi. Myungsoo bergumam mengiyakan. Sooji kemudian masuk kedalam kamar mandi, ia bercermin, ia gugup. Ini bukan pertama kalinya—tapi ini pertama kalinya ia bersama pria yang ia cintai. Dan pasti—itu berbeda.

Myungsoo menggosok giginya cepat dan berkali-kali—entah ia terburu-buru atau gugup. Yang pasti ia gugup. Ia kini berhadapan dengan cintanya yang sebenarnya. Myungsoo kini hanya memakai kaos putih yang dipadukan dengan celana piyama. Ia sudah membersihkan dirinya daritadi, semenjak Sooji masuk kedalam kamar mandi. Dan Myungsoo berada di kamar mandi bawah.

Myungsoo memasuki kamarnya, dilihatnya Sooji yang tidak ada disana. Myungsoo mendudukkan dirinya diranjang dan sedikit menepuk ranjang tersebut. Ia tersenyum bodoh-bagaimanapun ruangan ini akan menjadi saksinya.
Sooji membuka pintu kamar mandi dengan baju berbahan sedikit tipis miliknya yang berwarna hitam. Sooji sedikit malu sebenarnya. Ia menatap Myungsoo yang kini terduduk diranjang—yang sedang menunggunya mungkin. Myungsoo menatap Sooji yang kini sedang menyimpan barangnya entah apa—ia memperhatikan gadis itu dengan seksama. Jantungnya kembali berdegup kencang. Sooji kini terduduk di hadapan meja rias, ia menyisir rambutnya perlahan. Ia dengan lambat menyisirnya. Dan disinilah—naluri Myungsoo muncul.

“Kau cantik sekali, yeobo…” ujar Myungsoo mengusap pundak istrinya yang hanya terbalut tali tipis disana. Ia jahil sesekali mencium rambut Sooji. Sooji yang merasakan hembusan nafas Myungsoo kala itu hanya meremas tangannya gugup, Myungsoo kemudian menggenggamnya.

“Kemarilah, tatap aku…” Sooji memberanikan diri menatap suaminya.

“Aku tak akan memaksamu—jika kau tak mau…katakan saja. Aku tak ingin kau melakukannya karena terpaksa atau apa—aku ingin kau dan aku—kita—melakukannya karena cinta.” Myungsoo kini berlutut dihadapan Sooji, ia menggenggam tangan Sooji, Sooji tersenyum.

“Lakukan saja, Oppa… Aku juga tak mungkin menahannya lebih lama.” ucap Sooji, membuat pipinya merah dengan ucapan yang sedikitnya menggoda tersebut, Myungsoo mengerling nakal, ia kemudian dengan cepat menggendong Sooji dan menghempaskannya diatas ranjang.

Dan malam itu—bintang membentuk formasi yang indah dilangit sana—berkelip riang dan terang benderang belum lagi—bulan yang bersinar penuh. Menemani persatuan cinta antara kedua manusia yang kini melebur menjadi satu. Cinta yang dahulu sempat tersendat dan tak terungkapkan, kini menjadi lebih indah. Dan juga jangan lupakan angin yang berbisik lembut—yang membuat darah diantara mereka berdesir dengan lembut dan—hangat—malam yang indah.


Ini sudah seminggu semenjak Sooji dan Myungsoo menikah, rumah mewah mereka kini dipenuhi canda tawa dari anak-anak. Hari ini hari minggu, Sooji sedang menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya. Ia belajar memasak semenjak menjadi seorang istri, meskipun masakannya agak sedikit aneh.

“Eoh, Oppa…” Sooji menghentikan aktivitasnya yang sedang memotong wortel untuk dijadikan campuran nasi goreng setelah dirasa sepasang tangan kekar melingkar hangat di pinggangnya, Myungsoo.

“Kau memasak apa?” tanya Myungsoo jahil, ia sedikit mencium leher jenjang Sooji. Tapi Sooji hanya terdiam. Ia meletakkan pisaunya.

“Aku akan memasak nasi goreng—Oppa, bisakah kau lepaskan tanganmu? Seoyeon dan Joowon akan segera bangun. Jika mereka tahu—“ Ucapan Sooji terpotong seketika Myungsoo membalikkan tubuhnya lalu mencium bibirnya sebentar.

“Mereka tidak akan tahu.” tutur Myungsoo, ia menatap Sooji—Sooji ini memang cantik dalam bentuk apapun. Myungsoo kemudian menggendong Sooji ke atas counter. Sooji sedikit memukul bahu Myungsoo pelan.

“Oppa—“ Myungsoo mendekat pada Sooji, perlahan ia mendekatkan wajahnya, Sooji menutup matanya yang diikuti oleh Myungsoo, Myungsoo mencium bibir Sooji sembari memeluknya—seakan takut kehilangan istrinya. Perlahan ciuman itu menjadi sedikit panas, wajah Sooji sedikit memerah, ia tak diberikan kesempatan bernafas oleh Myungsoo yang menjadi pengendalinya.
“Ck, mereka benar-benar tidak tahu tempat.” gumam Joowon yang kini sedang duduk di anak tangga .

“Mereka benar-benar bodoh bukan? Merasa dunia ini milik berdua.” jawab Seoyeon, Joowon mengangguk.

Joowon dan Seoyeon kini duduk di ruang makan, mereka menyantap masakan Sooji. Meskipun nasi goreng buatan Sooji masih sedikit aneh, tapi ini lebih baik dibandingkan sup kentang keasinan yang Sooji buat kemarin.

“Eomma, Appa… Besok kami ada Study Tour ke Tongyeong.” ujar Joowon.

“Tongyeong?” tanya Sooji terkejut.

“Ya, Tongyeong.” jawab Seoyeon, Sooji segera menatap Myungsoo.

“Oppa, pemandangan disana sangat bagus, udaranya sejuk. Aku juga ingin ikut kesana.” tutur Sooji yang membuat kedua anaknya protes.

“Tidak!”

“Wae? Eomma-mu ini hanya ingin ikut berjalan-jalan, lagipula kami bosan berada di Seoul, sesekali juga kami ingin kesana.” jawab Myungsoo, Sooji sedikit memajukan bibirnya.

“Tidak boleh! Lagipula ini acara study tour, orang tua tidak boleh ikut.”

Hari yang dinantikan Seoyeon dan Joowon (juga Sooji dan Myungsoo) pun tiba, Sooji kini tengah memasukkan bekal makanan kedalam tas anak-anaknya, ia sebenarnya sudah kelelahan semalam mempacking barang-barang Seoyeon dan Joowon.

“Hati-hati di perjalanan. Okay?” ujar Myungsoo sembari mengecup putra-putrinya. Sooji tersenyum. Joowon dan Seoyeon mengangguk mengerti.

“Maaf kami tak bisa mengantar. Oh Ahjussi akan mengantar kalian hari ini.” tutur Sooji, Seoyeon dan Joowon kini mengangguk mengerti dan segera memasuki mobil. Mereka melambaikan tangan pada ayah dan ibunya lalu mobil itu hilang dari halaman rumah. Sooji menatap Myungsoo penuh arti.

“Come On!”
Mereka kemudian dengan bahagia saling merangkul masuk kedalam, sementara Myungsoo mengganti pakaian, Sooji kini mengeluarkan dua buah koper besar dibalik lemari pajang di ruang tamu.

“Oppa, ppaliiii.” teriak Sooji dari bawah, Myungsoo dengan cepat menuruni anak tangga, mereka kemudian segera memasuki mobil.  Dan Tongyeong menjadi tujuan utama mereka.

Seoyeon dan Joowon menuruni bus yang kini sudah terhenti di tempat tujuan mereka. Seoyeon merentangkan tangannya.

“Ah, indah sekali. Sejuk!” ujar Seoyeon, Joowon mengangguk.

“Yaa! Seoyeon, apakah kau tidak merasa bahwa Eomma dan Appa sedikit aneh? Mereka tampak berseri-seri tadi pagi.”

“Entahlah, aku berharap mereka tidak menimbulkan masalah.” Joowon mengangguk. Mereka kemudian melangkah bersama ketika mendengar perintah dari gurunya untuk pergi ke padang rumput luas untuk berpiknik, disana mereka akan belajar sembari berpiknik, Seoyeon dan Joowon kini terduduk di barisan depan. Dengan seksama mereka memperhatikan gurunya yang sedang menerangkan…

WUUUUUSSSHHHH~

Seoyeon dan Joowon juga murid yang lain terdiam ketika melihat sepasang kekasih—tua—sedang mengendarai sepeda tepat di jalanan yang membentang di sekeliling padang rumput. Mungkin mereka hanya orang yang tak sengaja lewat.

HAHAHA~

Joowon dan Seoyeon tersentak, mereka saling menatap. Bukankah itu suara—ayah dan ibunya?

“Seoyeonie? Itu suara mereka kan?” tanya Joowon, Seoyeon berpikir keras, ia memang tak yakin.. tapi ada satu hal yang membuat ia yakin—ibunya ini memaksa ingin ikut.

BRUUUK~

Semua perhatian murid-murid termasuk Guru Lee kini terpecahkan, pasalnya sepeda yang tadi tenang berkendara kini sepeda tersebut masuk kedalam sebuah kolam buatan di ujung dekat pohon besar. Guru Lee dan murid yang lain termasuk Seoyeon dan Joowon berlari kesana.

“Aiiish—Oppaaaa! Bajuku jadi basah!” ujar Sooji sembari mengusap tubuhnya yang sudah basah.

“Mianhae chagi… Aku tak berhati-hati.” jawab Myungsoo menyesal.

“Tapi—itu menyenangkan Oppa.” Sooji tersenyum. Myungsoo kemudian menarik Sooji.

“Pemandangannya sangat indah, kan?” tanya Myungsoo, mereka kini memandang gunung-gunung dan pepohonan yang menjulang di depan sana. Sooji mengangguk.

“Eomma! Appa! Kaliankah itu? Apa yang kalian lakukan disini? Apa?!” Oh—Ini suara Joowon dan Seoyeon, Sooji dan Myungsoo tercengang begitu mendengar suara mereka.

“Jangan menoleh ke belakang—jangan!” ujar Myungsoo berbisik. Sooji mengangguk pelan.

“Apa yang harus kita lakukan Oppa? Eotthokkae? Eotthokkae?”

_END_
Ahaaay, akhirnya ff ini end juga hihi… Gimana endnya? Pada suka? Pada puas engga? Hihihi… Jangan lupa comment dan like yaaa🙂 terimakasih loh🙂

44 responses to “[Freelance] Eotthokkae? 3/3

  1. Uuuwaaaahh…baaguusss bgt ff nya
    pi sayang kurang..kurang…kurang…kurang pNjang..hehe..
    mereka bloom punya aegy alangkah lbh bagus jika smpe sana.. hehe
    author daebak..
    #b0w ^^

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s