What if..

myungsoojii

Title : What if.. | Genre : Friendship | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Sooji

Disclaimer:

Beside the story, I own nothing. Picture taken from Google’s images.

-dina-

.

.

Sooji berlari menerobos hujan yang kian deras selepas ia turun dari bis, tidak lagi mempedulikan kaos berbalut mantel yang ia kenakan mulai basah.

“Cepatlah!” Sooji bergumam tidak sabar tatkala lampu merah bagi pejalanan kaki menyala. Tinggal 2 blok lagi ia akan segera mengakhiri kesendiriannya, mungkin. Akibat sebuah permintaan yang seharusnya ia sadari sedari dulu.

“Hijau!” Sooji serta merta mempercepat langkahnya. Awan yang seakan mengerti keresahan Sooji, perlahan mengecilkan volumenya hingga tersisa rintikan. Di tengah perjuangannya mengikis jarak antara dirinya dan sahabat yang sabar menemaninya selama ini, Sooji masih terngiang voice note yang ia terima ketika ia meninggalkan kota Seoul. Dan hari ini, tepat satu bulan sudah seharusnya ia memberikan jawaban.

Coba dengar.

Selama ini kau bercerita uring-uringan dihadapanku. Tentang perasaanmu yang kalang kabut setiap kali bertemu. Tentang rindu-rindumu yang tertahan. Tentang keinginanmu yang tak bisa tertuang, sebab kau perempuan. “Tidak dan jangan memulai duluan,” katanya.

Kau berharap dia memiliki perasaan yang sama denganmu sehingga perasaanmu tidak perlu kau bunuh satu persatu. Kau berandai bisa menjadi pendamping hidup yang menguatkannya bersandar dan bergantung kepadanya.

Coba dengar.

Harapanmu sungguh setinggi langit. Kau tidak takut jatuh? Padahal dia atas awan sana sama sekali tidak ada pegangan.

Coba dengar.

Bila rasamu itu begitu jauh, bagaimana bila kau membuatku jatuh cinta? Dan aku memiliki perasaan yang mirip seperti yang kau miliki kepada orang lain. Apa kau juga akan diam saja? Selalu sulit memahami posisi diri kita bukan? Bila kita tidak pernah mengalami keadaannya.

Bagaimana? Aku membutuhkan jawabanmu..

Sooji memasuki gedung, kakinya berjalan lebih lambat sembari mengatur nafasnya yang mulai naik turun akibat kencangnya ia berlari.

“Dimana?” pandangannya ia edarkan ke sekeliling lobi.

“Ji?” suara berat menghentikan langkah Sooji, perlahan ia membalikkan tubuhnya yang tampak basah kuyup tertimpa air hujan.

“Kau kenapa?” tanya lelaki yang ingin sekali Sooji peluk.

“Heh…” Sooji berjalan mendekati lelaki tersebut, dadanya berdegup lebih kencang setelah beberapa saat yang lalu kembali berdetak normal.

“Kapan kau datang? Begaimana bisa kau di sini?”

Sooji berhenti tepat di hadapan sahabat tengilnya, sahabat yang selama ini tidak tampak menyukainya atau mungkin perasaannya yang tidak peka. Melihat jauh ke segala arah tanpa menyadari jika yang ia cari –lelaki yang tulus menyayanginya– justru berada di dekatnya selama ini.

Eottoke..” mata Sooji mulai memerah, air mata hampir lolos, bersiap mengalir melewati pipinya hingga tangannya dengan cepat mengusap kasar.

“Kau kenapa?”

Mianhe..” Sooji terisak, kedua tangannya menutup wajahnya.

Uljima..” tangan sahabatnya terulur mendekap erat tubuh Sooji yang mulai dingin, percampuran udara dingin AC dengan baju basah Sooji.

“Kau akan meninggalkanku?” tanya Sooji.

“Hem?”

“Kata Hunboo kau akan pergi jauh..”

“Memang kenapa jika aku pergi jauh?”

“Aku baru saja mendengar voice note darimu, aku bodoh keutchi?”

Lelaki itu, Kim Myungsoo tersenyum kecil, menyadari jika Sooji lagi-lagi ceroboh, melewatkan pesan suara yang ia kirim satu bulan yang lalu.

“Kau baru saja mendengarnya?”

“Hem…aku sengaja tidak mengaktifkan ponsel itu.”

“Karena kau mendapatkan ponsel baru dan nomor baru?” balas Myungsoo lagi.

Paboya, kau pasti menganggap alasanku aneh..” sungut Sooji.

Myungsoo melepas pelukannya, kemudian menggandeng tangan Sooji keluar dari gedung.

“Kita mau kemana?” Sooji menurut saja tatkala Myungsoo menuntunnya menuju mobil.

“Mengantarmu pulang, kau tinggalkan dimana kopermu?”

“Rumah Soojung..”

Arra, kuantar. Aku tidak ingin kau sakit Ji..”

Kedua mata Sooji mengerjap, menatap wajah Myungsoo yang lagi-lagi terlihat tenang.

Hening. Mobil melaju menerobos jalanan yang menyisakan air hujan di atas aspal. Sooji terserang virus dadakan, virus bisu yang berhasil membuatnya hanya mengatupkan bibirnya, padahal sedari tadi ketika ia berlari, banyak kata yang ia susun untuk mendapatkan kembali kepastian apakah voice note untuknya masih berlaku atau tidak.

“Sudah sampai..” Myungsoo menghentikan mobilnya di halaman depan kediaman keluarga Jung, rumah Bibi Sooji.

Sooji membuka pintu mobil, perasaannya masih tidak karuan, berada di persimpangan dilema. Haruskah ia mengklarifikasi atau diam saja hingga Myungsoo peka dengan apa yang ada di pikirannya saat ini.

“Myungsoo-ya..” lirih Sooji yang telah berdiri berhadapan dengan Myungsoo.

Wae? Sebegitu senangnyakah kau bertemu denganku?” Myungsoo membalas tatapan Sooji dengan senyuman.

“Bisakah kau mengulang kalimatmu?”

“Kalimat?”

“Agar aku bisa menjawab iya..” Demi apapun, wajah Sooji berubah memerah, mempertaruhkan harga dirinya di hadapan lelaki Kim yang ia yakini tercipta untuknya.

“Kalimat mana?” Myungsoo menggoda Sooji, ide jahilnya kambuh ketika melihat pipi Sooji yang merona karena malu.

Sooji menatap Myungsoo, ia benar-benar gagu mengatakan kalimat apa yang ingin ia dengar. Jika ia mengatakannya, bukankah justru dirinya yang akan mengutarakan cintanya pada Myungsoo. Padahal yang ia inginkan, Myungsoo mengatakan langsung kalimat yang ia dengar tempo hari dari ponsel lamanya.

“Kenapa diam?”

“Aku…tidak bisa mengatakannya!” tangan Sooji semakin dingin, kegugupan yang tidak pernah sekalipun ia rasakan ketika berada di dekat Myungsoo menguasainya, tiba-tiba.

Myungsoo tertawa kecil, kali ini ide Hunboo ada benarnya. Mengatakan jika dirinya akan pergi jauh padahal sejatinya ia hanya akan pergi karena tugas kantor selama 1 minggu, itupun di negara tetangga yang cukup menghabiskan jarak tempuh selama 4 jam dari Seoul.

“Bagaimana bila kau yang membuatku jatuh cinta?” ucap Myungsoo yang berhasil membuat Sooji mendongak, menatap takjub Myungsoo yang kali ini berhasil mewujudkan keinginannya sedari tadi.

Eoh?”

Myungsoo menyipitkan kedua matanya mendengarkan jawaban terkejut Sooji.

Pabo yeoja!” Myungsoo menyentil kening Sooji.

“Iya..” Sooji menjawab dengan mantap, sepertinya sentilan jari Myungsoo di keningnya membuat kesadarannya kembali berkumpul.

Aigoo..” Myungsoo meraih jemari Sooji, menggenggamnya erat, menjalarkan kehangatan di kulit dingin Sooji.

“Kita masuk, harusnya kau meneleponku tadi…” Myungsoo berubah seperti Myungsoo yang Sooji kenal, lelaki yang menyerupai sosok almarhum appa-nya, menceramahinya ketika dirinya berbuat hal bodoh, menyemangatinya ketika mengalami kegagalan, menjadi eomma kedua ketika ia mencoba diet cantiknya.

“Aku boleh memanggilmu oppa?”

Geurom!”

Senyum menghiasi wajah sayu Sooji, perasaan bahagia yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. “Aku akan memarahi Hanboo habis-habisan setelah ini oppa!”

Aigoo Ji..” Myungsoo mengusap puncak kepala Sooji, jemarinya memencet bel pintu yang sesaat kemudian terbuka. Tampak Soojung terkejut sekaligus tertawa geli melihat Sooji yang tersenyum bak orang gila yang bahagia, bersanding dengan lelaki Kim yang kata orang cukup tampan untuk dijadikan kekasih.

“Jadi?” tanya Soojung.

“Ini..” Sooji mengangkat tangan kanannya yang masih bertaut dengan jemari Myungsoo.

Chukkae!”

**

Source: cerpen Bagaimana Bila Kamu Yang Membuatku Jatuh Cinta by Gunadi Kurniawan.

Ghamsahamnida!

41 responses to “What if..

  1. Heh sweet…cie myungsoo ada aja. ahh sue gagap tuh dideket myungsoo. Dari sahabat jadi cinta ahh cukhae..

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s