#4: Sister Talks

wpid-58-sister-talks (1)

Featuring Red Velvet Bae Irene and Miss A Bae Suzy | Alternate-Universe,  Family, Fluff, slight!Comic-Strip, slice of Life | general | ficlet |

September, 2015©

The beautiful poster belongs to Miss of Beat R @ The Angel Falls

.

inspirasi datang bukan hanya karena kau sedang berada di tempat khusus. Inspirasi juga bisa datang saat kau sedang bersama dengan siapa sekarang, misalnya.”

.

Check out another Talk from: Rain, Sweet, Grumble,

Langit kelabu yang memayungi Seoul sepanjang Rabu ditatap malas oleh Suzy.

Di sebelahnya, sang kakak yang tengah menandaskan secangkir teh hijau justru tersenyum manis pada rintik hujan yang perlahan luruh dan membasahi trotoar jalan di luar kafe. Buku sketsa yang sedari tadi dianggurkan oleh Suzy didorong oleh Irene supaya lebih dekat kepada si empunya.

Irene melongok ke arloji yang melingkari lengan kirinya, “masih belum menemukan inspirasi, Sue? Kauingin kita bermalam di kafe ini, ya.”  

Setelah cibiran, Irene pun kembali mengulum seutas lekuk manis. Yang diperuntukkan sebagai penyemangat sang bungsu yang terkena art-block lantaran belum menelurkan satu pun komik strip setelah sebulan lamanya pada akun SNS miliknya.

Agak aneh memang, seseorang yang terkena art-block justru dibawa untuk singgah di kafe. Bukankah lebih baik jika mereka diajak untuk pergi ke pedesaan atau tempat yang lebih menonjolkan keindahan alam?

Seoul Forest sebagai paru-paru kota Seoul, misalnya. Atau menuju tempat yang sunyi, di mana tidak ada hiruk-pikuk kehidupan kota. Bukan diajak nongkrong di dalam ruangan 20 x 20 meter dengan jendela bergaya Victoria yang besar-besar. Plus, para pengunjung kafe yang tidak kenal lelah untuk berceloteh ataupun bersenda gurau.

“Kakak aneh, tahu.” tutur Suzy tanpa menoleh kepada Irene sembari memungut pensil mekanik yang tergeletak di dekat cangkir espresso yang tinggal setengah isi, miliknya. “Seharusnya aku dibawa ke Seoul Forest bukan ke sini.”

“Sepanjang hari ini, Seoul diguyur hujan. Kaumau menggelar tenda piknik di tengah derasnya hujan? Aku sih tidak mau,” jawab Irene, kemudian menepuk jemari sang bungsu. “inspirasi datang bukan hanya karena kau sedang berada di tempat khusus. Inspirasi juga bisa datang saat kau sedang bersama dengan siapa sekarang, misalnya.”

“Bersama denganmu, aku bisa mendapatkan inspirasi?” tembak Suzy langsung, memainkan tutup pensil mekaniknya kemudian membuka lembaran buku sketsa yang kini berada dipangkuannya. 

Well, mungkin saja.” pungkasnya.

Konfidensi tingkat tinggi yang tergambar secara gamblang dari ucapan sang kakak tak pelak membuat Suzy terkekeh geli.  Suzy pun segera mengakhiri gelak tawa kecil yang terpatri. Alih-alih, mulai menggoreskan pensil di atas kertas putih tanpa noda pada buku pamungkasnya. Sekonyong-konyong kemudian, sebuah ide melintasi sisi kiri otaknya dengan cepat, layaknya ekor komet yang menyenggol permukaan matahari.

“Jangan terlalu dipikirkan tentang apa hasilnya nanti, nikmati saja proses saat kau membuatnya. Aku yakin kalau para penggemarmu pasti selalu mendukungmu.”

Mendapati anggukan, Irene lantas mengamati sang bungsu yang mulai sibuk membawa garis fantasi pada kertas putih di pangkuannya. Dalam segenggam menit, keduanya hening. Irene tidak menggubris sang sunyi, lebih memusatkan irisnya pada lalu lalang warga yang tega menerobos hujan. Juga membiarkan Suzy terlarut dalam imajeri yang sempat hilang di dalam dunianya.

Selang beberapa menit kemudian, senyuman kembali terpatri di atas wajah Irene. Kedua jempol tangannya diangkat sebagai gestur mengapresiasi. Suzy mengangkat buku sketsanya, memamerkan satu episode komik strip yang baru selesai dibuat dengan perasaan puas luar biasa. Lantaran dirinya yang berhasil membebaskan diri dari kungkungan art-block yang paling dimusuhi oleh semua para kuli tinta teruntuk desain gambar seantero jagat.

“Terimakasih atas dukunganmu, ya. Kakak memang inspirasiku.” aku Suzy sembari menyodorkan sketsa komik strip buatannya pada Irene. Secangkir espresso dingin yang diseruput olehnya pun terasa macam bubble tea. Manakala ekspresi puas dan kegelian terpancar di atas wajah Irene.

“Wow, kau benar-benar menjadikanku sebagai inspirasi.” Irene kemudian tertawa dan menunjuk sketsa versi komikal dirinya. Dengan gerak-gerik lucu, sosok Irene seolah dibuat persis seperti nenek yang sedang memberikan petuah kepada cucunya–Suzy. Juga caption yang mampu menarik kedua sudut bibirnya terangkat sempurna. “Ah, aku memang pantas menjadi kakak paling bahagia sedunia.”

***

Dengan sepasang cokelat panas yang baru dipesan, Suzy dan Irene melintasi obrolan demi obrolan dengan santai tanpa beban. Mega mendung yang menaungi Seoul di penghujung musim panas pun tidak lagi terasa sendu. Lantaran Suzy dan Irene yang kompak menelaah ke atas langit sembari tersenyum berseri-seri. 

TAMAT


a/n:

btw,  Talk Series akan tamat dengan dua series lagi-sesuai dengan janji saya mengenai series ini yang berisi 6 buah cerita.  AND thank you so much untuk dani atas poster-posternya yang kece-kece❤

6 responses to “#4: Sister Talks

  1. Suka…
    Suka..
    Suka sekaliiiii…
    Simpel tapi berkesan…
    Nice story..

    ditunggu series selanjutnya.

    Fighting..😀

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s