The Memories Chapter 8

© Rosaliaaocha

Title : The Memories  | Author : dindareginaa | Genre : Angst, Married Life, Romance | Rating : PG-15| Main Cast : Bae Suzy, Kim Myungsoo | Other Cast : Find by yourself!

Irene Bae menatap lelaki yang ada dihadapannya lekat. Ia bahkan tak menyentuh hot americano yang mungkin kini tak lagi panas. Gadis itu menarik nafasnya panjang sebelum akhirnya bertanya,”Apa maumu sebenarnya?”

Irene mengernyit heran karena bukannya menjawab, lelaki itu malah tersenyum penuh arti.

“Pertanyaanmu salah,” jawabnya kemudian setelah terdiam beberapa saat. “Yang akan aku diskusikan sekarang bukanlah mauku, tapi…”

Irene mengernyitkan keningnya begitu lelaki tersebut menggantung ucapannya.

“… mau kita.”

“Kita?”

Lelaki itu mengangguk. “Pertama-tama, aku Choi Minho. Dan kau tak perlu tahu bagaimana aku mengenalmu. Yang perlu kau tahu adalah aku tahu kau menyukai lelaki itu, Kim Myungsoo.”

Irene membulatkan matanya. Bagaimana lelaki ini bisa mengenal Kim sajangnim? “Kau mengenal Kim sajangnim?” tanyanya masih tak percaya.

Choi Minho mengangguk. Ia kemudian menyesap latte-nya kemudian berkata,”Kita punya banyak kesamaan. Kau tahu?”

Irene mengepalkan kedua tangannya. Cukup sudah! Sepertinya lelaki ini ingin bermain-main dengannya. “Kalau kau hanya ingin mempermainkanku, aku pergi!” Irene menggebrak meja. Baru saja gadis itu berniat meninggalkan Minho, namun Irene sontak menghentikan langkanya begitu medengar perkataan Minho selanjutnya.

“Aku akan membantumu mendapatkan Kim Myungsoo. Tapi kau juga harus membantuku mendapatkan Bae Sooji.”

Irene sontak membalikkan badannya, menghadap pada Minho. “Bagaimana?”

Lelaki itu tak menjawab. Ia hanya tersenyum seraya menatap lekat Irene.

Sooji segera berjalan menuju pintu begitu bel apartment-nya berbunyi. Jam masih menunjukkan pukul delapan pagi tepat. Siapa yang bertamu jam segini?

“Soojung?”

Gadis yang dipanggilnya itu tersenyum. “Ya! Apa begitu caramu menyambut teman yang sudah lama tak kau temui?” Soojung mempoutkan bibirnya, membuat Sooji sontak tertawa.

“Maafkan aku. Ayo masuk. Apa kau sudah sarapan? Aku membuat kimchi tadi. Kau mau?”

Soojung menyantap kimchi buatan Sooji dengan lahap. Sooji sendiri sampai heran dibuatnya. Sudah berapa lama sebenarnya Soojung tidak makan?

“Omong-omong, kemana saja kau selama ini? Aku sudah lama tidak mendengar kabarmu. Aku pikir kau kabur dengan Kang Minhyuk,” canda Sooji.

Mendengar gurauan Sooji, Soojung sontak tersedak. Sooji segera memberikan minum pada Soojung.

“Aku ada acara fashion week di Paris dan baru pulang semalam. Maaf tidak memberitahumu. Kau pasti kesepian tanpaku.”

Hampir saja Sooji memuntahkan sarapannya tadi pagi begitu mendengar ucapan Soojung. Temannya ini memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Mungkin itu yang membuat Minhyuk tergila-gila padanya.

Keduanya kemudian terdiam. Soojung hanya menikmati sarapannya tanpa mempedulikan Sooji, sedangkan Sooji hanya menatap Soojung.

“Sooji-ah,” panggil Soojung setelah menghabiskan sarapannya.

“Hmm,” gumam gadis itu.

“Apa ingatanmu sudah kembali?” tanya Soojung hati-hati. Ia takut membuat suasana hati Sooji berubah.

“Tidak juga,” jawab gadis itu lesu. “Semuanya masih seperti rangkaian puzzle yang belum tersusun rapi.”

“Tidak apa,” Soojung mengelus tangan Sooji lembut, berusaha menghibur Sooji. “Bagaimana dengan hubunganmu dengan Myungsoo? Apa sudah mulai membaik?”

Kali ini, Sooji menaikkan kedua ujung bibirnya tinggi. Gadis itu tetsenyum lebar.

“Kalau melihat raut wajahmu seperti itu, aku sudah tenang. Aku sempat berpikir bahwa kau berhubungan dengan Minho dibelakang Myungsoo,” Soojung tertawa.

Rasanya seperti ada beban berat yang jatuh ke pundak Sooji begitu Soojung menyelesaikan kalimatnya. Ia benar-benar tersindir dengan gurauan gadis itu.

“Sooji-ah, kenapa terdiam?”

Sooji tersentak begitu Soojung menyikut lengannya. “A… apa?”

“Aku tanya kenapa kau diam?”

Sooji hanya tersenyum tipis. “Tidak. Tidak ada. Bagaimana kabar Minhyuk?” tanya Sooji kemudian, berusaha mengalihkan pembicaraan.

Kali ini, gadis itu tersenyum. Ia menarik nafas panjang sebelum akhirnya bercerita panjang lebar dengan Sooji.

Myungsoo sedang serius membaca beberapa laporan kantornya saat pintu ruangannya diketuk.

“Masuk,” seru Myungsoo tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya.

Irene Bae segera berjalan ke arah Myungsoo. Ia hanya tersenyum lirih melihat Myungsoo tak sedikitpun meliriknya. Tapi, tenang saja. Sebentar lagi lelaki itu akan menjadi miliknya seutuhnya.

“Kim sajangnim, hari ini kita ada rapat dengan klien dari Jepang jam 3 untuk membicarakan cabang yang akan kita bangun di Jepang.”

Myungsoo sontak mendongakkan kepalanya, menoleh pada Irene. “Benarkah?” Ia kemudian melirik arlojinya sekilas. Oh, ternyata sudah jam 2. Kenapa waktu cepat sekali berlalu?

“Baiklah. Sebaiknya kita berangkat sekarang. Kita tidak ingin membuat klien menunggu bukan? Ayo.”

“Terima kasih atas kerja samanya, Pak.”

Myungsoo segera menjabat tangan lelaki paruh baya dihadapannya seraya membungkukkan badannya. Akhirnya setelah pembicaraan yang panjang selama kurang lebih tiga jam, kesepakatan mereka tercapai juga.

“Bagaimana kalau hari ini kita makan diluar untuk merayakannya?”

Myungsoo melirik ke arah Irene. Gadis itu hanya mengangguk tanda tak keberatan dengan tawaran klien mereka dari Jepang. Myungsoo segera tersenyum. “Tentu saja.”

Sooji baru saja selesai menata meja makan untuk makan malamnya dengan Myungsoo saat ponselnya berdering. Ada pesan masuk. Gadis cantik itu segera meraih ponselnnya yang ia letakkan tepat dihadapannya. Dari Myungsoo. Lelaki itu mengatakan bahwa ia tak bisa makan malam dirumah karena masih ada urusan.

Sooji menarik nafasnya panjang lalu segera menatap hidangan yang sudah dengan susah payah ia masak. Sepertinya ia harus menghabiskan semuanya sendirian.

“Kenapa tidak ikut bergabung?”

Myungsoo tersentak begitu mendengar suara sayu Irene tepat ditelinganya. “Apa?” tanyanya, meminta Irene mengulangi pertanyaannya. Jujur saja, saat ini yang terdengar olehnya hanyalah alunan musik abstrak dengan volume tinggi. Kenapa mereka malah merayakan proyek mereka di klub malam seperti ini?

“Aku tanya, kenapa tidak ikut bergabung?” ulang Irene. Kali ini dengan volume suara yang lebih tinggi lagi dari sebelumnya.

Ah. Myungsoo mengangguk mengerti dengan pertanyaan Irene. “Tidak. Aku tidak tertarik.”

Lelaki tampan itu segera menoleh pada para kliennya yang kini sedang bersenang-sedang dengan gadis-gadis yang berpakaian mini. Ia sontak menggeleng-gelengkan kepalanya. Bagaimana bisa lelaki yang umurnya sudah tidak lama lagi itu masih bersikap seperti itu? Berbanding terbalik dengan Myungsoo, lelaki itu malah merindukan istrinya. Sekarang apa yang sedang dilakukan Sooji? Apa gadis itu masih menunggunya? Sepertinya tidak. Jam bahkan sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat beberapa menit.

“Mau ikut turun denganku?”

“Tidak usah.”

Gadis itu hanya mengangguk mengerti lalu meninggalkan Myungsoo sendirian di tempatnya.

“Ini pesanan anda, Nona.”

Seorang pelayan segera menyerahkan gelas yang berisi vodka pada Irene. Sepeninggal pelayan tersebut, Irene segera merogoh sakunya, mengeluarkan seplastik kecil bubuk dari dalam sana. Irene tersenyum tipis. Kata-kata Minho beberapa saat lalu terngiang dibenaknya.

“Masukkan ini ke dalam minuman Myungsoo dan jadikan ia milikmu.”

Tidak ingin membuang waktunya, Irene segera menuangkan bubuk tersebut ke dalam minuman milik Myungsoo. “Kim Myungsoo, jadilah milikku malam ini,” lirihnya.

Myungsoo masih memandang malas ke arah orang-orang yang asik bergoyang di lantai dansa. Ia tersentak begitu merasakan sentuhan dingin di pipinya. “Oh, apa yang kau lakukan?” tanya Myungsoo pada Irene yang meletakkan minuman tepat dipipinya.

“Untukmu,” seru Irene. Ia segera menyerahkan gelas tersebut pada Myungsoo dan duduk disamping lelaki itu.

Kening Myungsoo berkerut. “Apa ini? Kau tahu, aku tidak minum.”

“Ini hanya minuman non-alkohol,” bohongnya. “Jangan khawatir. Kau akan pulang dengan selamat.”

Myungsoo mengangguk mengerti. Ia kemudian teringat sesuatu. “Sepertinya kau tidak memanggilku ‘sajangnim‘ lagi seperti yang biasa kau lakukan.”

Mendengar itu, Irene hanya tertawa kecil. “Kenapa? Bukankah kita sudah berada diluar kantor? Kau bukan bosku lagi sekarang.”

Myungsoo mengangguk kecil mengerti. Sebenarnya ia juga sedikit lega bahwa Irene tak begitu canggung padanya. Ia juga tak ingin dikenal sebagai atasan yang gila hormat. Myungsoo kemudian meneguk salivanya. Kenapa tenggorokannya terasa kering? Ia kemudian segera meneguk minuman yang Irene berikan beberapa saat lalu tanpa ragu.

Irene tersenyum begitu Myungsoo menghabiskan minumannya dala sekali teguk. Dari raut wajah Myungsoo saja, ia tahu bahwa lelaki itu mulai merasa pusing. Sepertinya obat dari Minho bekerja dengan baik.

“Kalau begitu, aku akan turun dulu.”

Baru saja Irene melangkahkan kakinya, tangannya sudah terlebih dahulu ditahan oleh Myungsoo. Gadis itu sontak menoleh pada Myungsoo.

“Aku ikut.”

Sooji menutup mulutnya dengan tangannya. Ini sudah kali ke sepeluh ia menguap namun ia memutuskan untuk tetap terjaga. Sooji kembali melirik ke arah jam yang tergantung kokoh di dinding berwarna coklat tersebut. Sudah jam sebelas. Kenapa Myungsoo belum pulang juga? Apa terjadi sesuatu dengannya? Kenapa perasaannya jadi tidak enak begini?

Irene Bae dengan susah payah memapah Myungsoo yang kini sudah tak sadarkan diri. Setelah membuat pemesanan kamar, gadis itu segera memapah Myungsoo berjalan kearah kamar “mereka”. Irene menggeleng-gelengkan kepalanya Ia tak menyangka bahwa Myungsoo lemah terhadap minuman keras.

Setelah berada didepan pintu kamarnya, Irene segera membuka pintu tersebut dan membaringkan Myungsoo di atas ranjang.

“Soo… Sooji-ah.”

Irene mendengus kesal begitu mendengar Myungsoo menyebut nama Sooji. Bahkan disaat ia kehilangan kesadarannya, hanya Sooji yang ia ingat. Lihat saja nanti, apakah Myungsoo masih bisa menyebut nama Sooji lagi atau tidak.

Ah, sebaiknya selagi menunggu tamu undangan mereka datang, alangkah baiknya ia mandi terlebih dahulu.

Sooji baru saja berhasil memejamkan matanya saat ponselnya berdering. Ada pesan. Dengan cepat, ia segera meraih ponselnya yang ia letakkan tak jauh darinya. Siapa tahu itu pesan dari Myungsoo yang mengatakan ia terlambat pulang karena lembur.

Namun Sooji mendengus begitu ia tak menemukan nama Myungsoo di layar ponselnya. Yang ada hanya sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Dengan malas, Sooji segera membaca pesan tersebut. Sedetik kemudian, ia membulatkan matanya. Setelah mengambil mantel dan juga tas tangannya,gadis itu segera pergi.

Choi Minho tersenyum begitu pesan yang baru saja diketiknya terkirim ke nomor Sooji. Ia kembali membaca pesan tersebut.

Terjadi sesuatu dengan Kim Myungsoo. Cepat temui dia sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Di Grand Hyatt Hotel nomor 1221.

Irene mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk berwarna merah muda. badannya kini dibaluti oleh kimono berwarna senada dengan handuknya. Ia kemudian duduk disamping Myungsoo yang masih tertidur lelap. Diusapnya pipi lelaki itu lembut. Seandainya ia bisa seperti ini lebih lama.

Irene kemudian menarik nafasnya panjang. Sebaiknya ia fokus. Gadis itu pasti sebentar lagi akan kesini. Irene segera melepaskan kemeja Myungsoo lalu menyelimuti tubuh lelaki itu.

“Oh.”

Irene tersentak begitu mendengar bel kamar mereka berbunyi. Ia tersenyum simpul. Sepertinya tamu yang ia tunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Irene segera membuka pintu tersebut.

“Soo… Sooji-ssi,” seru Irene dengan raut wajah yang dibuat-buat.

Sooji segera menghentikan taksinya tepat disebuah hotel mewah yang berada di pusat kota Seoul. Setelah memberikan beberapa lembar uang kepada supir, barulah gadis itu pergi

Ia kemudian menekan tombol 12 pada elevator. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Myungsoo? Setelah pintu elevator terbuka, Sooji kembali berlari.

 Ia kemudian berhenti tepat pada pintu dengan nomor kamar yang sesuai dengan pesan yang beberapa saat lalu diterimanya. 1221. Sooji menarik nafasnya panjang sebelum akhirnya menekan bel.

Tak ada jawaban. Sebaiknya ia kembali menekan bel. Baru saja Sooji ingin menekan bel, pintu tersebut sudah terlebih dahulu terbuka.

Sooji membulatkan matanya begitu melihat siapa yang muncul dari balik pintu. Irene?! Apa yang gadis itu lakukan disini? Dan kenapa Irene malah berpakaian seperti ini?

“Dimana Myungsoo?” tanya Sooji langsung tanpa berbasa-basi.

“Dia…”

Belum sempat Irene menyelesaikan ucapannya, Sooji segera berjalan masuk ke dalam kamar tersebut tanpa memperdulikan Irene. Irene hanya tersenyum simpul melihat sikap Sooji.

Sooji membulatkan matanya begitu melihat melihat Myungsoo kini sedang tertidur pulas di ranjang dengan berbalutkan selimut.

“KIM MYUNGSOO!”

Mendengar namanya dipanggil dengan suara tinggi, lelaki tersebut segera membuka atanya perlahan. Ia mengernyit heran mendapati Sooji kini ada dihadapannya dengan wajah merah padam.

“Apa yang kau lakukan disini, Sooji-ah?”

“Apa yang kulakukan disini?” Bukannya menjawab, Sooji malah balik bertanya. “Harusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan dengan gadis itu  di sini?!”

Myungsoo masih tak mengerti dengan apa yang Sooji bicarakan. Ia kemudian menoleh pada Irene yang kini memandangnya tanpa rasa bersalah. Lalu ia melirik ke arah pakaiannya. Kenapa ia tidak memakai baju? Sepertinya ia mengerti kenapa Sooji menatapnya dengan murka.

“Sooji-ah, ini tak seperti yang kau lihat. Aku bisa menjelaskan semuanya.”

Baru saja ia berjalan mendekati Sooji, gadis itu segera memundurkan langkahnya.

“Tidak. Kau tidak perlu menjelaskan apapun padaku. Semuanya cukup jelas padaku, Kim Myungsoo.”

Sooji segera pergi meninggalkan Myungsoo. Melihat itu, Myungsoo segera menyusul Sooji setelah terlebih dahulu meraih kemejanya. “Tunggu!”

Melihat itu, Irene hanya tersenyum simpul. Semuanya persis seperti yang telah mereka rencanakan.

Myungsoo berlari menyusul Sooji yang kini sudah masuk kedalam elevator.

“Sial!” gerutu Myungsoo. Tidak ada jalan lain selain…

Lelaki tersebut segera berjalan menuju tangga darurat. Dari lantai dua belas hingga lantai satu. Myungsoo berusaha mengatur deru nafasnya yang berkejar-kejaran begitu ia sampai di lantai 1. Ia berusaha mengejar Sooji dengan sekuat tenaga. Namun terlambat. gadis itu sudah lebih dahulu masuk ke dalam taksi yang diberhentikannya.

Myungsoo menarik nafasnya panjang menatap kepergian Sooji.

“ARGH!” geramnya seraya mengacak rambutnya kesal.

TO BE CONTINUED

69 responses to “The Memories Chapter 8

  1. Yayayaya suzy harus denger apa kata myungsoo dulu, jinjja minho irene minta dilempar pake panci gosong ya

  2. aigooooo… myungsoo lari marathon d tngah malam… gag kkejar pula, myungsoo fighting

    suzy tau gag ya kalo minho yang pnya rncna itu, scra mrka gag brhbungan smnjak suzy mmtuskan untuk mngigt lgi brsma myungsoo

    oh… pdhal myungsoo baik sma irene, tapi kug irene gtu ya hm… minho jjjang, bsa ngbujuk irene…

  3. minho n irene, yaa merah padam nahan amarah,,, moga myungzy cpet bisa baikan,,,, myungsoo kerja keras lagi ya nglurusin masalahnya

  4. Irene kok jahat bgt yah. Myungsoo kan baik sama dia. Dasar rubah.. Bikin kesel.. Merencakan yang tidak baik ke Myungsoo..

    Apa Sooji bakalan lari ke Minho lagi?? Andwae… Gimana cara ngebuktiin kalo Myungsoo gak melakukan hal yang seperti Sooji pikirkan?

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s