#5: Night Talks

59-night-talks

NIGHT TALKS

featuring Soloist/Actor Wu Yifan and Miss A Bae Suzy

Alternate-Universe, Astronomy-ish, Fluff(?), Historical, Sci-Fi, slice of Life, slight!Romance | PG 15 | vignette

September, 2015© 

The magical yet so beautiful poster belongs to Miss of Beat R @ The Angel Falls

.

“Apa yang bisa kaulihat dari kedua bola mataku? Konjungsi antara bulan dan matahari?”

.

Check out another Talk from: Rain, Sweet, Grumble, Sister

‘Tring!’

‘Tras!’

‘Tring!’

“Tangkap penyusup itu sekarang!!!!!!!!”

Bunyi gesekan antara kedua bilah pedang beradu tiba-tiba membangunkan Yifan yang sedang terlelap di alam mimpi. Terdengar suara keributan yang berasal dari halaman kerajaan, tepat di depan ruang kerja yang merangkap sebagai kamar tidur.

Ia melihat ke luar melalui jendela yang ia sibak sedikit tirainya. Betapa kagetnya lelaki tersebut ketika mendapati keadaan di luar. Halaman dipenuhi oleh para prajurit yang tumbang. Sebagian dari mereka berguguran. Tidak lebih dari selusin prajurit yang tersisa. Mereka semua mengepung satu orang berpakaian seperti penyusup dari berbagai sisi. Mereka pun nampak kewalahan menghadapinya.

Seketika, Yifan segera bangkit dari kasur. Kemudian ia bergegas membenahi manuskrip dan catatan penanggalan yang ia buat bersama salah satu ahli astronom misionaris Jesuit asal Jerman. Beberapa lembar suhuf berisi catatan serupa juga dimasukkan ke dalam wadah berbentuk tas yang terbuat dari bahan goni. Raut wajah sang pria tiba-tiba menegang tatkala merasakan ujung belati yang dingin menempel tepat di bagian lehernya.

Ia pun menyadari bahwa si penyusup telah berhasil mengalahkan penjaga kerajaan dengan cepat sehingga ia bisa berada di sini. Keringat dingin mengucur dengan deras dari dahinya. Yifan yang tidak ingin mengambil risiko memilih untuk bersifat kooperatif. Ia tidak melawan dan membiarkan sang penyusup berkuasa sejenak, tentunya.

“Kalau kauingin tetap hidup, berikan tas yang kaupakai kepadaku.” tegas si penyusup kepada Yifan tanpa melonggarkan belati yang ditempelkan ke atas batang leher miliknya.

“S-siapa kau?”

“Itu bukan hal yang penting, Tuan Astronom,” jawabnya.

Dia masih mengacungkan belati ke arah Yifan. Sang penyusup mengubah posisi yang sedari tadi berdiri di belakang hingga berada di depan Yifan. Kedua mata mereka pun bertemu. Anehnya ia malah merasakan ketertarikan yang begitu kuat terhadap sepasang mata tersebut hingga Yifan merasa tertarik untuk menatap lebih lama. Tanpa menyadari bahaya yang akan dilaluinya kelak.

“Apa yang bisa kaulihat dari kedua bola mataku? Konjungsi antara bulan dan matahari?”

Ucapan sarkatis sang penyusup mengaburkan lamunan sejenak Yifan hingga si pria menjadi agak salah tingkah. Sekali lagi, Yifan mengamati wajah penyusup yang dibungkus oleh kain hitam hingga hanya memerkan sepasang mata yang indah tersebut.

“Lihat bahkan kau tidak bisa menjawab dan lebih memilih menikmati kedua mataku. Kau tertangkap basah, tahu.”

Pertahanan yang dibangun oleh sang penyusup yang belum diketahui identitasnya oleh Yifan perlahan melonggar. Dirasa inilah waktu yang cukup tepat untuk meloloskan diri, Yifan pun melakukan manuver yang tiba-tiba. Ia menarik lengan sang penyusup, sebelum membuang belati dahulu hingga tercecer lumayan jauh di lantai. Kemudian ia mengunci pergerakan si penyusup di dinding.

Sang penyusup memicingkan mata dengan sengit sambil berkata, “boleh juga pergerakkanmu, Tuan. Apa sebelum menjadi seorang ahli astronomi, kau mantan atlit wushu?”

“Sekali lagi aku bertanya, siapa kau? Mau apa kau ke mari?” tanya Yifan, mengabaikan ancaman si penyusup.

“Kaupikir aku akan dengan mudahnya memberitahumu? Mimpi saja kau!”

Yifan tahu cara ini tidak berhasil. Si penyusup pun meronta, berusaha membebaskan diri namun Yifan menahannya. Hanya saja ia tidak bisa menahan si penyusup dalam keadaan yang seperti ini untuk waktu yang lama. Yifan pun melihat masker yang menutup sebagian wajah si penyusup. Tanpa ancang-ancang ia pun menariknya. Menyibak misteri di balik pemilik manik yang di matanya penuh magis tersebut.

“K-kau?!!!!!”

Teriakan Yifan justru timbul setelah kain berwarna hitam yang membungkus sebagian wajah si penyusup terlepas dari tempatnya. Wajahnya memancarkan ekspresi terkejut yang luar biasa. Juga rasa tidak percaya yang mendominasi air muka Pemuda Wu.

.

.

“Iya ini aku, Yifan.”

“Suzy?!”

.

.

“Ricci menugaskanku untuk mengambil arsip lama miliknya yang diicuri oleh anak buah Xu Guang Qi. Sayangnya mantan kepala Biro Astronomi tersebut sudah wafat. Kemudian setelah diselidiki kembali, arsip lamanya sekarang berada di tanganmu. Oleh sebab itu aku – “

“– kau menumbangkan ratusan prajurit kerajaan, mengancamku dengan sebilah belati untuk mengambil manuskrip tua ini. Begitu, ‘kan?” potong Yifan terhadap perkataan Suzy.

Mereka berdua kini berada di sebuah kedai arak yang masih disesaki oleh para warga nokturnal kota Nanjing. Suzy memainkan jarinya, membuat gestur berputar pada permukaan bibir cangkir. Enggan membayar atensi pada Yifan yang mengamatinya lekat-lekat tanpa menurunkan barang seinci pandang.

“Berhenti menatapku, bisa tidak?” tukas Suzy agak kesal.

“Aku masih tidak mengerti. Mengapa Guru Xu mencuri arsip milik Matteo Ricci, rekan ilmuwan di Biro Astronomi saat itu. Apa beliau memberitahukanmu alasannya?”

Reformasi terakhir kalender Cina diawali oleh misionaris Jesuit yang menggunakan pergerakan benar Matahari, yang disetujui oleh Dinasti Qing. Matteo Ricci adalah yang pertama yang datang ke Cina. Bersama dengan Guru Xu mereka menerjemahkan Euclid. Pada saat tersebut almanak Cina dapat dibilang kurang akurat, ini ditunjukkan dengan kesalahan perhitungan gerhana Matahari 15 Desember 1610 yang lebih dari satu setengah jam. Kejadian tersebut dianggap sebagai aib yang sangat memalukan.

Wu Yifan adalah astronom handal yang berangkat sebagai murid dari Guru Xu. Meski tidak menghabiskan waktu yang begitu banyak dengan ahli astronomi terbaik Dinasti Qing, sedikit banyak ia mengenal sifat alami yang dimiliki beliau. Begitu juga dengan rumor mengenai beliau yang mengkhianati rekanan kerjanya sendiri. Banyak sekali informasi simpang-siur yang bukan berarti tidak ikut melintasi Yifan. Namun karena ingin menghormati privasi sang guru, Yifan memutuskan untuk berlakon netral dan selalu berdiri di dalam zona abu-abu. Alih-alih menghindari konflik yang terlalu malas untuk diselesaikan bila ia ikut terseret ke dalamnya.

“Dengar, “ Suzy berujar dalam suara yang pelan. Sekilas memandang sekitar sebelum melanjutkan. “aku sudah bosan mengulang kalimat dengan makna yang sama kepadamu selama dua kali. Jadi, lebih baik kauserahkan saja gulungan itu kepadaku. Dengan begitu, kau bisa bebas tanpa syarat dariku.”

Yifan menatap lekat lembaran yang tersimpan dengan rapi di dalam tas yang tergeletak di atas meja tanpa bersuara. Kemudian melempar pandang pada gadis yang memangku tangan di atas dada. Arak yang tinggal setengah dihabiskan oleh Yifan. Kepalanya terasa pening. Bukan karena efek memabukkan dari arak tersebut melainkan hal-hal di luar kepala yang masih sulit untuk dimengerti.

“Ya, aku tahu tetapi apa masalahnya?” tanya Yifan tak mengerti.

“Kau pintar tapi bodoh, ya,” cibirnya. “hingga lupa kalau Ricci diasingkan oleh kerajaan ke Guangzhou akibat pengkhianatan Guru Xu hingga akhir hayatnya.” lirih Suzy dengan nada yang prihatin. “Tentu saja Guru Xu sampai berbuat sejauh itu karena ingin memiliki gulungan perhitungan Euclid seorang diri.”

“Lalu kauingin mengambil ini dariku? Saat ini juga?” tanya Yifan sambil meyakinkan gadis di hadapannya.

“Menurutmu?” balas Suzy dengan pertanyaan retoris seraya menegak habis arak kepunyaanya

“Tunggu sebentar, kurasa ini tidak benar.” Yifan berkata sambil mengangkat kedua telapak tangannya dari atas meja kemudian menautkannya. Tubuhnya pun digeser ke depan seraya berkata, “apa kau pantas berkata seperti itu sebagai alumni dari Akademi Cesi? Sebaiknya kaujaga ucapanmu, Nona. Dan aku tidak akan memberikan lembaran Euclid ini kepadamu. Titik.”

‘Brak!’

Bunyi gelas yang dibenturkan ke atas meja kayu sontak menghentikan kegiatan para pengunjung kedai. Semua mata tertuju kepada Yifan dan Suzy. Selanjutnya, mengabaikannya sebagai angin lalu dan kembali pada urusan masing-masing. Beberapa koin Yuan diletakkan begitu saja di atas meja oleh Suzy. Kemudian dia menyeret langkah untuk meninggalkan Yifan yang membisu.

.

.

“Kau memang tidak berubah, Yifan. Masih saja begitu mudah untuk diperdayai!”

.

.

Yifan mencegat langkah Suzy dengan menarik lengannya. Suzy menolak dengan mengentakkan lengan Yifan yang memenjara tangan kirinya. Namun Yifan bergeming dan malah semakin mengeratkan cengkeramannya.

“Lepaskan aku, Yifan!”

“Tidak akan sebelum kau memberi penjelasan dahulu kepadaku.”

“Tidak ada yang perlu dijelaskan, toh pada akhirnya kau tetap tidak akan mengerti karena kau bodoh. Terlalu bodoh!”

Suasana gang sempit yang melatarbelakangi fisikal keduanya nampak sepi. Terdengar pula decit tikus jalanan yang lewat melaului celah tumpukan peti tak terpakai yang tergeletak begitu saja. Lolongan dari anjing hutan pun juga mewarnai udara, menghadirkan suasana agak mencekam bagi keduanya. Kalaupun ada orang awam yang melihat mereka tanpa mengetahui biduk permasalahan sesungguhnya, keduanya pasti akan disangka sebagai pasangan kekasih yang sedang bertengkar.

Udara dingin kembali menyelimuti malam. Lengan Yifan yang mencengkeram Suzy dientakkan begitu saja. Namun hal itu justru tidak membuat Suzy segera beranjak pergi dan meninggalkan Yifan. Suzy terpaku dan mengamati sosok tinggi menjulang yang sempat melekang dari kehidupannya itu.

Pikiran keduanya saling berkecamuk. Melontarkan berbagai persepsi yang anehnya justru bermuara pada perasaan masing-masing. Baik Yifan dan Suzy, keduanya berbicara melalui tatapan mata yang saling bersua. Menjembatani kenangan semasa menjalani edukasi di akademi. Juga, saling mengingatkan luka yang sama-sama ditabur keduanya secara seimbang.

Tanpa adanya angin yang berhembus atau hujan yang berkumandang, Suzy tahu-tahu sudah memeluk Yifan. Diperlakukan secara tiba-tiba seperti itu, terlebih oleh Suzy, Yifan justru tidak tahu harus berbuat apa.

“Sudah berapa lama sih kita berpisah? Sepuluh tahun?”

“Sebelas tahun enam bulan, Sue.” ralat Yifan seraya membalas pelukan Suzy.

Ia mengusap punggung melengkung Suzy yang terasa dingin. Menyalurkan sedikit kehangatan di tengah gempuran embun beku yang perlahan luruh dari langit untuk turun ke bumi. Ia pun menyegarkan ingatannya. Pantas saja, rupanya hari sudah memasuki 24 Oktober. Di mana bumi belahan utara memasuki Descent of Frost atau yang lebih dikenal sebagai Shuang Jiang dalam ke-24 Jie Qi yang disusun oleh Biro Astronomi Dinasti Qing dua generasi sebelum Yifan.

“Apa kau tidak merindukanku?”

“Tidak tahu, Sue. Bagaimana denganmu?”

“Aku sendiri juga tidak tahu, Gege.” balas Suzy sambil menggumamkan panggilan yang sudah cukup lama absen selama sebelas tahun dari alat tuturnya.

Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk melonggarkan pelukan dan mengatur degup jantung masing-masing. Cahaya rembulan menyelimuti atmosfer langit di malam hari. Rasi bintang Orion bak kelambu, memayungi Yifan dan Suzy dengan jutaan bintang yang berkerlip. Kurasa juga tidak berlebihan jika mereka berdua terbawa perasaan masa lalu, mengingat Yifan dan Suzy dahulunya adalah sepasang kekasih.

“Maaf, aku sudah terlalu lancang. Seharusnya aku tidak memelukmu begitu saja. Sekali lagi, maaf.”

Yifan mengangkat kedua sudut dari ujung bibirnya, menghasilkan secarik senyuman simpul. “Tidak apa-apa.”

“Maafkan juga atas kelalaian dari sikapku. Tidak seharusnya aku mengatakan hal yang begitu dangkal mengenai Guru Xu di depanmu walaupun yang kukatakan memanglah sebuah fakta.” Suzy berkata tanpa menampik arah pandang dari dua bilah mata cokelat Yifan. Seakan membuktikan bahwa ia bersungguh-sungguh meminta maaf dan menyesali perbuatannya.

“Maaf, aku – “

“Sudah, cukup.” potong Yifan dengan segera. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya untuk meraup bahu Suzy yang seolah ingin turun tanah. “Apa kau akan terus berkata maaf hingga fajar menjelang? Apa kau tidak kedinginan?” tegasnya yang disertai kepulan asap dari mulutnya.

Wajah Suzy tiba-tiba merah, terlebih jarak antara mereka yang begitu dekat lantaran Yifan yang menyejajarkan pandang kepadanya. Dia segera mengatur ekspresi wajahnya setenang mungkin. Menenggelamkan berbagai bayangan liar mengenai wajah bak Dewa Langit yang terpatri secara kongkrit di depannya.

“Benar juga, “ gumamnya. Seketika Suzy menyadari betapa remuknya tulang-tulang di tubuhnya saat suhu udara semakin menurun akibat pengaruh musim. “baiklah kalau begitu, sebaiknya kita memang tidak perlu untuk bertemu lagi.”

“Maksudmu?”

Suzy membenarkan letak baju penyamaran yang dikenakan. Kedua tangannya pun mengepal, juga matanya yang tiba-tiba berubah menjadi begitu serius.

“Kau pasti mengerti, kau ‘kan tidak sebodoh yang aku kira, “ ucapnya. Senyuman sejenak bertengger di atas wajah Suzy. “Senang berjumpa lagi denganmu setelah sekian lama. Jadi, selamat tinggal, Yifan!”

‘Cup!’

Sebelum pergi, Suzy melepaskan kecupan perpisahan di atas pipi sebelah kiri Yifan. Kecupan singkat itu pun bertahan selama beberapa detik. Ia menatap lurus punggung sang gadis yang kini perlahan meninggalkan dirinya dan menghilang ditelan kabut malam kota Nanjing.

Jemarinya refleks terangkat, mengusap titik di mana Suzy mengecup pipinya. Senyuman jenaka namun sekaligus menyedihkan terpatri di atas wajah porselennya.

“Dia masih seperti dulu, “ ceplosnya seraya mengenang beberapa potong memori kecil bersama Suzy.

Pada tas yang sedari tadi disandangkan di bahu, ia menelusupkan jemari. Memastikan kalau lembaran-lembaran Euclid masih aman berada di tangannya. Setelah sekian lama tangannya menjelajah, ia justru tidak menemukan apa-apa. Perasaannya berkata ada yang tidak beres. Air mukanya pun mengeras. Terlebih setelah beberapa waktu terlewat dengan mengobrak-abrik dalam isi tas, Yifan benar-benar menyadari kalau isi tasnya sudah kosong melompong.

.

.

.

.

“masih licik dan cerdik persis seperti siluman ular dan rubah. Dasar wanita!!”

.

.

.

.

TAMAT.

Membaca Langit, halaman 135.

[1]. Euclid: jarak dari 2 buah titik dalam Euclidean Space.

[2]. 24 Jie Qi: is a calendar of twenty-four periods and climate to govern agricultural arrangements in ancient China and functions even now. More, click here.

2 responses to “#5: Night Talks

  1. Ini udah end?
    Suzy hebat banget ngadepin pengawal segitu banyak seorang diri…
    Jadi mereka dulunya sepasang kekasih, namun karna berbeda tujuan dan kepercayaan mereka berpisah.. Dan memperebutkan gulungan tsb…

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s