[Freelance/Vignette] Kencan?

11

Picture by Pratawild

Title : Kencan? | Author : Atma Aulia | Genre : AU, Fluff, Humor | Main Cast : Oh, Sehun, Bae Suzy, Kim Myungsoo

Ekspetasinya benar-benar jatuh.
Masih tergiang pula dendengan bangga sang ibu kala menceritakan sosok rupawan yang ia damba-dambakan. Tak pelik, Sehun sudah kepalang muak dengan segala guyonan yang berakhir paksaan dari sang ibu, memaksanya menikah cepat padahal usianya baru genap seperempat abad bulan lalu, mengatur kencan buta yang berakhir Sehun mengurung dirinya dikamar karena memberontak, lalu menyakiti telinga Sehun karena berceramah hingga subuh menjelang dan itu berulang kali terjadi sejak sebulan yang lalu. Sehun muak sekali.
Hampir menjelang ujung batas sabarnya, satu nama membuat Sehun berpaling dan untuk pertama kalinya sisi keras dalam hatinya sejenak melunak. Sehun tidak cukup mengerti dengan itu, namun dia mengambil jalan tengah agar selamat hidupnya dari ocehan tak berakhir yang disuguhkan sorok bibir keriput sang ibu. Lagipula setidaknya cerita yang di suguhkan cukup membuat Sehun tertarik akan rupa yang tertera dari bahasa verbal andalan sang ibu yang memang biasanya memuji para perempuan yang akan dijadikan pasangan kencan buta Sehun, tapi entah kenapa untuk perempuan yang satu ini, Sehun menyakini bahwa untaian konyol sang ibu benar-benar nyata bukan main-main.
Perempuan yang cantik. Anggun. Berkelas. Cerdas luar biasa. Sopan. Menghargai waktu.
Itu yang dikatakan ibunya.
Namun nyatanya? Ugh.. Telah hampir menyentuh menit keenam puluh kurang semenit lebih dua sekon Sehun menunggu perempuan itu dengan menghabiskan hampir tiga gelas Americano kesukaannya juga mondar-mandir ke kamar mandi, perempuan itu baru muncul saat jarum jam tepat menyentuh angka delapan padahal waktu janjian sudah ditetapkan pukul tujuh tepat tak kurang dan tak lebih.
Sehun nyata mendengus, rupanya dia terlalu membenturkan imajinasi juga realita yang kadang-kadang menimbulkan problematika berkepanjangan bagi dirinya sendiri. Semua ekspetasi juga asa yang diyakini hatinya malah membuat pening datang begitu saja, dia tidak yakin bahwa mata setara batu obsidion milik ibunya masih berfungsi dengan baik, setidaknya untuk ukuran mata tua yang masih normal, penggambaran yang ibunya sajikan begitu berlebihan sampai Sehun merinding sendiri di buatnya.
Perempuan ini memang cantik, sih dan Sehun tak menyangkalnya bahkan dia berkeyakinan bahwasanya setiap mata pasti akan tertuju pada perempuan itu, namun untuk beberapa hal yang Sehun garis bawahi dan menjadikannya point dari setiap kalimat yang dilantunkan sang ibu, semuanya nol besar. Anggun. Berkelas. Cerdas luar biasa. Sopan. Menghargai waktu. Hanya untaian kosong tanpa bukti. Dan itu menyebalkan, semua pengharapannya jatuh terinjak-injak.
Dikatakan sopan saja bilangan nol mungkin masih bagus untuk dihadiahi sebagai penghargaan, mungkin minus dua cukup untuknya. Bayangkan saja, perempuan itu datang bagaikan peragai preman pasar, menarik kursi secara kasar hingga beberapa orang menoleh tak nyaman, perempuan itu membanting dirinya pada kursi yang untungnya cukup empuk untuk ukuran kursi restoran biasa. Dia menyilangkan kakinya hingga sobekan-sobekan pada jeans yang ia kenakan semakin besar dan juga menganga, rambutnya diikat satu dengan asal-asalan, memakai topi yang beberapa tempat terdapat noda, bajunya tipis dan longgar, dengan sepatu kets kusam yang membungkus kakinya.
Ya Tuhan, masih adakah perempuan seperti ini pada era modern? Sehun tidak yakin bahwa perempuan ini berkamuflase guna menipunya, semuanya terlihat nyata dan itu membingungkan. Sejenak Sehun berdalih dari adat-berpakaian perempuan itu, menoleh sebentar untuk membuang nafas kesal, dan kembali memperhatikan mimik perempuan itu. Demi kaos kaki Jongin-sepupunya- yang teramat amis, perempuan itu mengunyah permen karet dan sesekali meniupnya menjadi balon, bibirnya merah merona meminta dipanggil, matanya tajam apalagi dipertegas dengan adanya eyeliner membungkus mata sipitnya, dia berlangak seperti bukan perempuan baik-baik, itu menjengkelkan. Sehun bersumpah akan balik memarahi ibunya setelah kencan buta tanpa arti ini berakhir.
Alih-alih mendengus bukan tersenyum, Sehun mencondongkan wajahnya, tak mau peduli dengan meja bundar pembatas ataupun perutnya yang tertekan ujung meja kayu oak itu, bibirnya tertarik sinis, mendengus lagi. “Jadi namamu Bae Suzy, ya?”
Sehun memang terlahir dengan sikap sakarsme yang cukup tinggi, dia kadang tak menyukai type perempuan macam orang di depannya, dia tak cukup pusing untuk memikirkan bagaimana mendapat teman atau sosok yang berjalan dibelakangnya, popularitas sudah digenggamnya sejak dulu, dia hanya harus mensyukuri kenyataan bahwa memiliki intelegensi yang tinggi juga kekayaan setidaknya harus sedikit di tunjukan pada khalayak. Sehun tidak sombong, hanya saja dia berfikir bahwa dia terlalu sempurna untuk sekedar bersikap baik pada perempuan seperti Suzy. Mungkin itu salah satu hal mengapa ia kurang betah berhubungan lama dengan para perempuan sehingga ibunya harus dengan susah payah turun tangan.
Perempuan bernama Suzy itu tertawa sinis, “Jadi kau Oh Sehun? Cukup menarik” Ucapnya. Nadanya tetap mempertahankan aroganisme diselingi dengan kekehan mencemooh dalam volume rendah. Dia sekejap membanting diri kembali pada sandaran kursi, melipat tangan diatas dada seraya menyambung tatapan mata pada Oh Sehun.
Sejenak hening, tanda-tanda bahwa mereka mengakui keberadaan hanya lewat komunikasi non-verbal yang kadang menimbulkan percikan api menjengkelkan. Tak terkira berapa detik berlalu menjadi menit yang menegangkan. Sepertinya maupun Sehun dan Suzy sadar jikalau mereka merasakan sesuatu yang memicu adrenali, dan meraka tidak tau hal seperti apa itu.
Keheningan menyebalkan itu terpecahkan kala derai tawa mengalun kencang, jika saja ruangan ini kosong maka dapat dipastikan bahwa suara tawa Suzy akan memantul kemana-mana dan menjadi gema yang menyeramkan. Perempuan itu mencondongkan tubuhnya dengan cepat, hampir membentur kening Sehun, dan masing-masing siku Sehun juga Suzy kini menyokong dagu. Suzy membuka suara ketika dia melihat kening Sehun membentuk garis vertikal dengan alis hampir menyatu, “Kau sudah tahu siapa aku yang sebenarnya, jadi apa yang kau pikirkan?”
Dengan sikap tolol Sehun berpaling seraya berlagak terluka, melirik Suzy dari ujung matanya, “Apa yang bisa kupikirkan dari perempuan sepertimu selain Murahan?–“ Sehun berucap dengan mendengus, menyisipkan nada sakarsme andalan yang biasanya membuat siapapun ciut –mungkin tidak untuk perempuan itu –“Sepertinya ibuku salah menangkap perempuan kali ini, kurasa kau sangat jauh dari standar yang di tetapkan ibuku. Ya, kecuali rupamu yang memang teramat cantik,” Sehun kali ini memajukan wajahnya hingga jarak antara keduanya hampir tak ada, kening mereka menyatu, hidung keduanyapun bertenguran ringan. “Jadi, apa rahasiamu bisa membuat ibuku memilih wanita seperti dirimu yang gelandangan?”
Suzy kembali tertawa, bahkan kalimat tak sopan yang dilontarkan Sehun seolah tak ada gunanya untuk melukai perasaan Suzy, perempuan itu tertawa bagai kata-kata yang membentuk kalimat menusuk dari Oh Sehun adalah harapannya. “Baguslah jika itu yang kau pikirkan” Ujarnya merendah, berusaha tersenyum teduh namun sikap sinis malah lebih mendominasi. Ia menarik alisnya lantas berdiri hingga kembali menimbulkan decitan menggema. –“Ah, rahasia ya? Kupikir kau orang yang cukup sombong untuk peduli apa motive ku”
Suzy melangkah setelah mengatakan kalimat itu. Di bibirnya telah terlukis senyuman sinis penuh kemenangan, namun dia terhenti ketika satu kalimat meruntuhkan harapannya. “Jangan sombong, kurasa ibuku akan langsung menikahkanku denganmu jika aku mengatakan tertarik dengan Bae Suzy”
Kontradiksi justru terlihat dari wajah Suzy kala berbalik dan membalas tatapan Sehun, padahal hatinya meronta dan mengumpat dengan beribu kosa kata kasar yang mampu ia jangkau. Mampu membutakan mata Oh Sehun yang mengira bahwa Suzy kalah telak. “Coba saja, jika kau mampu, Oh Sehun”
Dan Suzy benar-benar pergi meninggalkannya dengan bibir menganga jengkel. Oh barangkali Suzy tak tahu bahwa dirinya adalah rajanya dalam bermain, jika saja sebuah tantangan sudah melayang-layang di depan muka Sehun, maka Suzy atau siapapun tak akan bebas dari jerat yang sudah ia rajut. Rupanya Bae Suzy sudah benar-benar mengangap remeh dirinya, lihat saja nanti.

Perempuan itu berteriak kencang.
Marah. Kesal. Jengkel. Rasanya ingin membunuh saja.
Dia berpaling pada perempuan lain di sisinya, memberi tatapan mematikan. Terhitung beberapa detik dia bisa menangkap napas yang menderu. Selanjutnya, dia tersadar bahwa perempuan itu begitu rapuh, lantas mulutnya terbuka dan mengambil nafas banyak-banyak, berbalik dan memulai dengan sikap siap berdebat. “Sampai kapan kau akan menggunakan jasaku, Bae Suzy?”
Perempuan bernama Bae Suzy itu memincing dengan kepala dimiringkan, posisi sama, dan wajah yang sama pula membuat dia selalu luluh seketika. “Ada apa? Apa yang kali ini gagal?” Pertanyaan lembut juga menuntut penuh penekanan.
Dia memang mengenal perempuan itu mulai dari musim panas yang lalu, saat dirinya mencoba berlari dari kejaran penjual roti yang kerap kali ia curi dagangannya, ketika itulah perempuan itu muncul dikehidupannya, datang dengan sayap malaikat yang entah datang dari mana dia temukan di punggung Bae Suzy, membayar segala hasil curiannya. Sejak saat itu mereka dekat, Bae Suzy yang selalu memberikannya makanan, membiayai apartemen kecilnya, memberikan pekerjaan.
Namun kadang kala ia merindukan masa dimana adrenalinya terpacu ketika mencuri. Berjiwa, muda, bebas, dan berlari, seakan kepakan sayap elang yang bebas dan hidup ada disana.
Perempuan itu selalu memiliki sisi dimana membuat dia selalu tak tega menolak permintaannya. Ini bahkan keenam kalinya dia menggantikan posisi Bae Suzy untuk kencan buta yang tak berujung. “Gagal, lelaki itu keras kepala dan menyebalkan–“
Bae Suzy mengikik. “Benarkah? Sepertinya Oh Sehun adalah orang yang kebal–“
–“Dan juga sombong. Tingkahnya benar-benar melebihi Choi Seung Cheol si-Anak mentri padahal dia hanyalah seorang anak pengusaha yang masih berlindung di bawah ketek sang ibu. Menyebalkan”
Derai tawa terjadi ketika dia menyelesaikan ucapannya. Perempuan itu benar-benar menganggap semua ini lelucon. Oh Sehun benar-benar orang yang tak berakal dan tak memiliki budi, kendati posisinya yang memang menguntungkan hidup dalam keadaan bergelimang dibandingkan dirinya yang hanya menatih kesana-kemari demi sesuap nasi.
Dia menoleh ketika intensitas tawa Bae Suzy berkurang. Dia mendengus. “Mau sampai kapan kau menghindar seperti ini? Menggunakanku sebagai umpanmu. Jangan seperti itu, kau harus bisa berorasi ketika kau tidak suka, katakan tidak jika kau tak mau, hanya itu. Jangan pula karena nama kita sama, dan aku yang tak memiliki marga–“
–“Suzy”
“Tidak, dengarkan aku–“
Perempuan itu mendengus. –“Suzy maafkan aku, aku harus menemukan keberanianku terlebih dahulu jika harus menentang keinginan orang tuaku”
Suzy menggigit bibirnya kesal. Dia tak tega, namun dia bisa apa ketika Oh Sehun mulai menunjukan kisah konyol ini akan menjadi lebih panjang. Lelaki itu berbeda dari kebanyakan lelaki yang diatur kencan butanya dengan Bae Suzy, lelaki itu konyol dan idiot, dan sangat susuh menebak jalan pikirannya.
Namun jika Suzy berhenti, akan seperti apa Bae Suzy kelak. Perempuan itu sungguh anggun, menawan, dan cantik, namun yang benar-benar menjadi titik tolak ukur dimana dia hanyalah seonggok perempuan yang akan berkata iya jika diperintah, dia hanya diajarkan menuruti segala kuasa orang tuanya sejak lahir, dan itu sedikit susah jika Suzy harus merubahnya hanya dalam periode singkat.
Ini melelahkan, – batin Suzy

Yaa ampuuun, aku gak tau ini FF macam apa -_- Oke jangan protes, apalagi tentang QOA karena aku Cuma bisa nulis FF Drabble Ficlet ataupun Oneshot belakangan ini. Gak tau kenapa deeh yaa..
Review? Silakan^^
Koreksi apapun yang bisa dikoreksi hihi..

10 responses to “[Freelance/Vignette] Kencan?

  1. Jd yeoja yg menemui Sehun itu bukan Bae Suzy yg asli? tp namanya jg Suzy? apa Sehun akan benar2 tertarik dengan Suzy atau Bae Suzy setelah mengetahui yg sebenarnya?
    Ada sequelkah? sangat ditunggu, gomawo author🙂

  2. JADi yg tdi ketemuan sama sehun tuh bukan suzybyg bakalan dimjodohin ma dia? Aduhh ini ada lanjutanya kga sih tor ..yakin penasaran banget nih sama kelanjutannya

  3. Ada dua suzy? Satu bae suzy yang anggun, cantik dan sopan , dan suzy yang urakan ?
    Kisah yang complicated banget kayaknya…

    ditunggu karya selanjutnya…
    Fighting…😀

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s