Oh My Ghost! Chapter 4

© Carissa Story

Title : Oh My Ghost!  | Author : dindareginaa | Genre : Comedy, Fantasy, Romance | Rating : Teen | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Suzy | Other Cast : Find by yourself!

Inspired by K-Drama Oh My Ghost and 49 Days

Angin malam mulai bertiup. Jalanan juga mulai sepi. Wajar saja. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas tepat. Siapa yang ingin membiarkan tubuhnya membeku di malam yang dingin seperti ini?

Dipinggir jalan, Sooji dan Mark berjalan beriringan. Sebenarnya Sooji merasa tidak enak karena harus merepotkan Mark untuk mengantarnya. Tapi, lelaki itu bersikeras. Ia mengatakan bahwa tak baik bagi gadis seperti Sooji untuk berkeliaran malam-malam. Heol! Sejak kapan Mark menganggapnya sebagai seorang gadis?

“Hatchi…” Sooji mengusap-usap kedua tangannya. Kenapa malam ini dingin sekali? Sepertinya ia mulai terkena flu.

“Kau kedinginan?” tanya Mark padanya.

“Tidak,” bohong Sooji.

Mark hanya tersenyum simpul. Ia kemudian segera melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Sooji.

“Oh.” Sooji tersentak begitu melihat perlakuan Mark padanya. Ditatapnya Mark lekat. “Ternyata Mark Tuan orangnya sangat lelaki sekali ya.”

Mendengar perkataan Sooji, lelaki itu sontak menoleh. Matanya membulat begitu menyadari jarak antara ia dan Sooji hanya tinggal beberapa inci lagi. Dan untuk kesekian kalinya, jantungnya berdetak cepat. Mark segera mengalihkan pandangannya dari Sooji, berharap gadis cantik itu tak menyadari semburat merah dipipinya.

Ya! Memangnya selama ini aku tidak seperti lelaki?” dengus Mark berpura-pura kesal.

Sooji terkekeh begitu melihat raut wajah Mark. “Bukan begitu. Hanya saja kau kini seperti tokoh utama dalam drama yang sering di tonton Sangmoon.”

“AWAS!” Mark tiba-tiba menarik lengan Sooji, masuk ke dalam pelukan lelaki tampan itu begitu dilihatnya sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi dari arah yang berlawanan dengan mereka.

Sooji berusaha mengatur deru nafasnya yang kian memburu. Ia kemudian mendongakkan kepalanya, menghadap Mark. “Terimakasih, Markeu.”

Mark hanya diam. Ditatapnya gadis itu lekat. Mungkin, inilah saatnya.

“Sooji-ah…”

Sooji hanya menggumam pelan.

Mark menarik nafasnya panjang sebelum akhirnya berkata. “Bolehkah aku menjadi tokoh utama dalam drama percintaanmu?”

Nafas Sooji tercekat. Apa yang baru saja ia dengar? Yang ia tahu, hubungannya dengan Mark tak akan pernah bisa sama lagi seperti sebelumnya.

L sedari tadi sibuk melirik jam yang tergantung di dinding rumah Sooji. Ia kini berjalan bolak-balik bak setrika. Pasalnya, ini sudah hampir tengah malam dan Sooji belum juga pulang! Apa terjadi sesuatu dengan gadis itu?

Ya! Kenapa Sooji belum juga pulang?” tanya L pada Sangmoon yang kini sibuk memainkan playstation-nya tanpa sedikitpun khawatir dengan keadaan kakak tunggalnya itu.

Sangmoon menoleh sebentar pada L. Ia kemudian mencomot keripik kentang yang ada dihadapannya.

“Mungkin pekerjaannya belum selesai. Tunggu saja,” jawab lelaki yang beberapa tahun lebih muda dari L itu.

“Kenapa kau bisa tenang begitu? Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan kakakmu?”

Mendengar pertanyaan L, Sangmoon malah terkekeh. “Memangnya siapa yang mau melakukan sesuatu padanya? Dada rata begitu.”

L hampir saja tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Sangmoon kalau saja ia tidak ingat bahwa ada hal yang lebih penting dari ini. Ah, sudahlah! Lebih baik ia tunggu saja gadis itu diluar.

L kemudian berjalan ke luar rumah. Namun, langkahnya terhenti begitu melihat Sooji baru saja sampai. Namun gadis itu tak sendiri. Ia bersama seorang lelaki yang wajahnya tak asing bagi L. Oh, bukankah lelaki itu teman kuliah Sooji? L menatap raut wajah keduanya dalam diam. Sepertinya terjadi sesuatu di antara mereka. L dapat melihat kecanggungan di antara keduanya.

Sooji kemudian mengucapkan sesuatu kepada lelaki tersebut. Sepertinya ucapan perpisahan atau semacamnya. Setelah itu, barulah lelaki tersebut pergi.

“Kenapa lama sekali kau pulang?”

Sooji tersentak begitu menyadari L sedari tadi berdiri ditempatnya. “Apa yang kau lakukan disini?” Bukannya menjawab, gadis itu malah balik bertanya.

“Jawab pertanyaanku dulu.”

“Aku sudah mulai bekerja malam ini. Maka dari itu, mulai sekarang aku akan sering pulang malam. Dan kau? Apa yang kau lakukan disini selarut ini? Apa… kau menungguku?” tebak Sooji.

Mendengar pertanyaan Sooji, L sontak saja terbatuk-batuk. “Menunggumu? Yang benar saja! Memangnya aku tidak punya pekerjaan yang lebih penting? Aku kesini karena ingin mencari udara segar,” bohongnya.

Sooji kemudian menggidikkan kedua bahunya tak peduli. Ia kemudian bergegas masuk ke dalam rumah. Ia tak mau mati beku disini!

L mendengus kesal begitu Sooji menutup pintu kamarnya. Harusnya ia tak perlu khawatir pada gadis itu. Benar kata Sangmoon. Memangnya siapa yang mau berbuat sesuatu pada gadis berdada rata sepertinya? L kemudian beringsut duduk disamping Sangmoon yang masih sibuk bermain dengan playstation-nya. Tapi… entah kenapa pikiranntnya tidak pada tempatnya. Ia masih penasaran dengan hubungan Sooji dan teman kuliahnya itu.

L kemudian berdeham. Tak ada salahnya bertanya pada Sangmoon. “Omong-omong, tadi Sooji diantar oleh seorang lelaki. Kau tahu siapa dia?” tanya L. Ia berusaha mengatur nada bicaranya agar tak membuat adik Sooji itu curiga.

“Lelaki?” tanya Sangmoon tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya pada layar televisi. “Di hidup Sooji noona, hanya ada dua lelaki. Yang pertama, tentu saja aku. Dan yang kedua…” Sangmoon memberikan jeda pada ucapannya sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya. “Mark Tuan, sahabatnya sejak SMA.”

Oh, jadi nama lelaki itu Mark Tuan? “Sedekat apa Sooji dengan lelaki bernama Mark itu?”

Mendengar pertanyaan yang dilontarkan L, sontak saja Sangmoon menoleh pada lelaki tampan itu. “Kenapa kau ingin tahu sekali?” tanya Sangmoon. Ditatapnya L curiga. “Jangan-jangan, kau menyukai kakak?!”

Pertanyaan Sangmoon membuat L membulatkan matanya. Menyukai Sooji? Yang benar saja! Lebih baik L menyukai Damon, anjing betina kepunyaan tetangga Sooji dari pada dengan gadis bar-bar sepertinya. “Jangan konyol,” sanggah L. “Aku hanya penasaran. Sepertinya mereka memiliki hubungan yang dalam.”

Sangmoon kembali memfokuskan pandangannya pada layar televisi. “Setahuku, mereka hanya berteman. Tapi, aku sangat yakin bahwa Mark hyeong menyukai kakak.”

L mendengus. Apa yang Mark sukai dari gadis itu? Ia kemudian beranjak berdiri, bersiap meninggalkan bocah itu.

“Kau mau kemana?” tanya Sangmoon pada L.

“Mencari udara segar!”

Sooji menghembuskan nafasnya perlahan. Pernyataan cinta Mark yang tiba-tiba itu kembali terngiang dibenaknya.

“Bolehkah aku menjadi tokoh utama dalam drama percintaanmu?”

Sooji menatap Mark tak percaya. Berharap apa yang baru saja didengarnya salah. Bagaimana mungkin Mark yang selama ini telah ia anggap seperti kakak lelakinya ini menyukainya?

“Aku menyukaimu.”

Perkataan Mark selanjutnya membuat Sooji kembali tak bisa berkata-kata. Karena Sooji tak juga membuka suaranya, Mark memutuskan untuk mendekatkan wajahnya pada Sooji. Ba… Bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan?

“Ah, aku baru ingat aku harus segera pulang! Sangmoon pasti sedang mengkhawatirkanku karena aku tidak menghubunginya. Sebaiknya kita segera pulang. Ayo!”

Mark hanya memandang Sooji yang sudah berjalan mendahuluinya. Ia kemudian tersenyum simpul. Sepertinya sikap Sooji sudah menunjukkan jawaban untuknya. Jadi, dia ditolak, huh? Mark kemudian menyusul Sooji yang mulai menjauh.

“Sudah sampai,” seru Sooji saat ia dan Mark sudah berada tepat di rumah gadis itu.

Mark hanya menggumam kecil seraya mengangguk. “Kalau begitu, aku pulang dulu. Sampai jumpa besok.”

“Tunggu, Mark!”

Baru saja lelaki itu melangkahkan kakinya, suara nyaring Sooji menghentikan langkahnya. Ia sontak membalikkan tubuhnya, menghadap Sooji.

“Ya?”

Sooji menundukkan kepalanya. Ia tak mampu menatap mata besar milik Mark.

“Maaf,” gumam Sooji.

Mendengar itu Mark sontak tersenyum. Ia kemudian mengusap lembut puncak kepala gadis itu. “Tidak apa. Anggap saja kau tidak mendengar pernyataanku hari ini. Tapi, itu tidak berarti bahwa aku menyerah. Aku akan membuatmu tidak bisa menolakku. Kalau begitu, masuklah. Kau bisa sakit jika berdiri terus disini.”

“Aku akan masuk setelah kau pergi.”

Mark mengangguk mengerti. “Kalau begitu, aku pergi.”

L terduduk lemas di sebuah bangku taman yang letaknya hanya beberapa blok dari rumah Sooji. Ia menarik nafasnya panjang. Entah kenapa ia malah memikirkan kata-kata Sangmoon beberapa saat lalu.

Oh. L membulatkan matanya. Apa yang baru saja ia pikirkan? Lagipula, kalau pun lelaki itu memang menyukai Sooji, itu bukan urusannya. Atau jangan-jangan… ia memang menyukai Sooji? L kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak mungkin!”

“Apa yang sedang kau pikirkan?”

L hampir saja terlompat ke belakang begitu mendengar suara berat seseorang tepat ditelingnya. L mendengus kesal begitu menyadari siapa yang mengagetkannya malam-malam begini. Siapa lagi kalau bukan si malaikat maut?

“Hei, malaikat maut! Kenapa baru sekarang kau muncul?”

Mendengar panggilan L, Baekhyun berdecak kesal. “Tidak sopan! Sudah ku bilang, aku ini scheduler! Lagipula,  panggil aku hyeong! Bagaimanapun juga, aku sudah menjadi scheduler jauh sebelum kau lahir.”

“Terserah,” jawab L tak peduli.

Baekhyun hanya tersenyum. Ia beranjak duduk disamping lelaki tampan itu.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” Baekhyun mengulangi pertanyaannya.

Hyeong.”

Baekhyun kembali tersenyum begitu mendengar panggilan L padanya. “Apa?”

“Apa yang terjadi kalau aku tidak menemukan tubuhku dalam waktu 30 hari?”

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau bahkan masih memiliki waktu sebanyak 24 hari lagi. Gunakan waktumu sebaik mungkin.”

“Aku hanya bertanya,” gumam L. Matanya memandang lurus ke depan.

Baekhyun terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata,”Kalau kau tak berhasil menemukan tubuhmu, tentu saja kau akan segera menghilang. Dan juga tubuhmu yang kini sekarat akan segera meninggal.”

L tak membalas ucapan Baekhyun. Ia sudah bisa menduga bahwa hal itu yang terjadi jika ia tak bisa menemukan tubuhnya. Kemungkinan ia bisa menemukan tubuhnya adalah 0,0000001%. Sekarang, bisakah L mengubah 0,0000001% itu menjadi 100%?

Sooji mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelasnya dari balik pintu. Ia tersenyum lega begitu tak menemukan sosok lelaki itu. Siapa lagi kalau bukan Mark? Jujur saja, karena pernyataan cinta Mark yang secara tiba-tiba, Sooji sampai tak bisa tidur dibuatnya! Bagaimana ia bisa menghadapi lelaki itu sekarang?!

“Sooji-ah, apa yang kau lakukan disini?”

Sooji tersentak kaget begitu mendengar suara Jinri tepat ditelinganya. Dengan perlahan tapi pasti, gadis itu segera menoleh ke belakang. Ia terperanjat kaget begitu melihat Mark Tuan berdiri disamping Jinri sambil tersenyum, seolah-olah bahwa kejadian semalam itu tidak benar-benar terjadi.

“Kenapa malah diam? Ayo masuk,” seru Jinri kemudian berjalan mendahului Sooji dan Mark.

“Ah, ya.” Sooji mengangguk lalu segera mengikuti langkah Jinri. Namun perkataan Mark selanjutnya sontak menghentikan langkah gadis itu.

“Jangan menghindariku, apapun yang terjadi. Bukankah sudah kubilang bahwa kau bisa msnganggap apa yang terjadi semalam itu hanya angin lalu. Maka dari itu, ku mohon bersikaplah seperti sebelum kau tahu perasaanku.”

Sooji tiba-tiba saja merasa bersalah pada Mark. Lelaki itu benar. Tak seharusnya ia menghindari Mark hanya karena kejadian semalam.

Sooji kemudian membalikkan tubuhnya, menghadap pada Mark. Ia tersenyum. “Ya! Siapa yang menghindarimu?” bohong gadis itu. “Ayo! Sebaiknya kita masuk sekarang! Aku tidak mau diusir lagi oleh dosen killer itu!” Sooji menggandeng lengan Mark.

Melihat itu, Mark tersenyum. Benar. Harusnya begini sifat Sooji terhadap dirinya.

L menghembuskan nafasnya perlahan. Ia sudah menghampiri hampir seluruh rumah sakit di Seoul. Namun, tetap saja ia tak bisa menemukan  titik terang dimana tubuhnya sebenarnya berada. Tiba-tiba saja  perkataan Baekhyun terngiang dibenaknya.

“Kalau kau tak berhasil menemukan tubuhmu, tentu saja kau akan segera menghilang. Dan juga tubuhmu yang kini sekarat akan segera meninggal.”

Bagaimana ini? Waktunya masih 20 hari lagi. Tapi harapannya benar-benar tidak ada. Apa ia memang ditakdirkan untuk mati seperti ini?

Mark kini sibuk membersihkan meja restoran kepunyaan ayahnya. Ia membersihkan peluh yang bercucuran dari keningnya dengan lengannya. Sejujurnya, ia lelah. Lahir ditengah-tengah keluarga kaya, tentu saja membuat Mark hidup tanpa kekurangan. Ia bahkan tak perlu merepotkan dirinya seperti ini. Tapi, tidak apa. Selama ia bisa berada disisi Sooji, apapun akan Mark lakukan.

Setelah selesai dengan pekerjaannya, Mark kemudian pergi ke loker tempat barang-barangnya disimpan. Namun, ia tersentak begitu mendapati Sooji tengah tertidur pulas di atas meja.

Mark tersenyum simpul. Ia kemudian berjalan mendekati Sooji. Ditatapnya gadis itu lekat. Sooji pasti lelah sekali karena harus bekerja sambil kuliah. Apalagi ia harus menyekolahkan adik lelakinya, Sangmoon.

Mark lalu menyingkirkan anak-anak rambut Sooji yang menutupi wajah cantik gadis itu. Mark membulatkan matanya begitu melihat Sooji tiba-tiba saja membuka matanya. Hal itu sontak saja membuat Mark terjengkang ke belakang.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Sooji seraya mendudukkan dirinya di atas meja.

“A… Aku… Aku tentu saja ingin membangunkanmu! Bahaya kalau sampai Tuan Bang melihatmu tertidur disini,” jawab Mark gelagapan.

“Oh, sudah jam berapa ini? Sebaiknya aku mencuci piring dulu. Terimakasih, Markeu!”

Mark menghembuskan nafasnya lega begitu Sooji pergi meninggalkannya. Hampir saja ia ketahuan memandangi Sooji. Bisa-bisa, Sooji akan menghindarinya lagi nanti!

Sooji baru saja pulang kerumahnya. Jam menunjukkan pukul sepuluh lewat beberapa menit. Ia pulang sedikit lebih cepat dari semalam. Sooji memegang keningnya dengan tangan kirinya, sedangkan tangannya yang satu lagi ia gunakan untuk membuka pintu rumahnya.

Kenapa kepalanya pusing sekali? Ah, mungkin karena ia kelelahan. Sebaiknya ia segera tidur. Ia tidak mau absen kerja maupun kuliah besok. Apalagi ini belum sampai seminggu ia bekerja di restoran cina itu. Karena sudah tak sanggup berjalan lagi, Sooji akhirnya memutuskan untuk tidur di atas sofa.

L mendengus kesal. Sepertinya ini memang sudah menjadi takdirnya. Menjadi roh gentayangan dengan tujuan yang tidak jelas. L kemudian segera menembus pintu rumah Sooji. Namun, lelaki tampan itu terperanjat kaget begitu mendapati Sooji tertidur pulas di sofa.

“Kenapa dia malah tidur disini?” gerutu L. “Hei, bangun! Tidur dikamarmu sana!”

L menggelengkan kepalanya. Dasar kerbau! Bagaimana bisa ia tak terbangun mendengar teriakan L? Tak bisa dipercaya!

Namun, sedetik kemudian, lelaki tampan itu membulatkan matanya begitu melihat keringat Sooji bercucuran.

“I… Ibu…” igaunya.

Sepertinya gadis itu demam. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Ah, sebaiknya ia bangunkan saja Sangmoon!

L kemudian bergegas ke kamar adik lelaki Sooji. Ia menggelengkan kepalanya begitu melihat kamar Sangmoon yang seperti kapal pecah. Dasar gamer!

“Hei, bangun! Kakakmu sakit!” teriak L tepat di telinga Sangmoon.

L menatap Sangmoon tak percaya. Daebak! Sangmoon terlihat seperti mayat saja karena tak bisa mendengarkan teriakan L. Sekarang, apa yang harus ia lakukan? Ia tak mungkin membiarkan Sooji begitu saja.

Ah! L kemudian tersenyum begitu menemukan ide yang menurutnya cukup cemerlang. Kenapa tidak terpikir dari tadi? Bukankah ia seorang roh? Harusnya mudah bagi L untuk memasuki tubuh Sangmoon. Ya! Sebaiknya ia coba saja.

L kemudian menghembuskan nafasnya perlahan. Ia lalu mulai masuk ke dalam tubuh Sangmoon.  Sedetik kemudian, dibukanya matanya perlahan. Diliriknya tubuhnya sekilas. Berhasil! Ia kini berada di dalam tubuh Sangmoon!

L tersenyum puas. Ia kemudian beranjak berdiri dan berjalan menghampiri Sooji yang masih tertidur di sofa. L menjulurkan tangannya ke kening Sooji. Matanya membulat. Panas sekali! Sebaiknya ia segera membeli obat untuk Sooji. Lelaki itu segera pergi setelah sebelumnya mengambil dompet Sooji terlebih dahulu. Bukankah L adalah seorang roh? Bagaimana bisa ia memiliki uang?!

L mengatur deru nafasnya yang kian memburu. Akhirnya! Setelah menghabiskan waktu kurang lebih satu jam dengan berjalan kaki, L dapat menemukan apotik yang buka 24 jam.

Ia kemudian mengeluarkan termometer yang baru saja dibelinya, lalu diletakkan termometer tersebut di mulut Sooji. L membelalakkan matanya. 39 derajat! Panasnya tinggi sekali! Pantas saja rasanya tubuh Sooji seperti terbakar. L kemudian segera mengambil segelas air untuk Sooji. “Sooji-ah, minum obat dulu baru tidur,” suruh L setelah membuka bungkusan obat Sooji terlebih dahulu.

Sooji hanya membuka matanya sedikit. Entah sadar atau tidak, gadis itu kini mengangguk. Diminumnya obatnya tersebut dengan bantuan L. Setelah itu, gadis itu kembali tertidur.

L lalu mengambil kompres dan meletakkannya di atas kening Sooji. Semoga saja demam gadis itu akan segera turun. L kemudian menguap. Ia tak tahu bahwa ia bisa merasakan kantuk jika sedang berada di tubuh orang lain. Tak lama kemudian, L terlelap disamping Sooji dengan menggenggam tangan gadis itu.

L membuka matanya perlahan. Oh, sudah pagi ternyata. Ia segera melirik Sooji. Gadis itu masih tertidur pulas. L kemudian mengambil kompres yang ada di kening gadis itu dan segera memegang kening Sooji. Demamnya sudah turun.

L kemudian menatap Sooji lekat. Ia tersenyum simpul. Harus ia akui bahwa Sooji memiliki wajah yang cantik. Apalagi jika ia tak banyak omong seperti ini. Entah ada angin apa, L segera mendekatkan wajahnya dengan Sooji, bersiap mencium gadis itu.

Namun, niatnya terhenti begitu Sooji tiba-tiba membuka matanya, membuat L terjengkang ke bekakang.

Ya! Bae Sangmoon! Apa yang ingin kau lakukan? Sadarlah! Aku ini kakakmu!”

L meringis kesakitan begitu Sooji memukul kepalanya lumayan keras.

“Hei! Ini aku! L!”

Sooji baru saja berniat memukul kepala lelaki yang ia yakini sebagai adiknya ketika mendengar perkataan L. Sooji sontak membelalakkan matanya. “Ba… Bagaimana bisa kau ada di tubuh adikku?” tanyanya tak percaya.

“Kau sakit! Aku sudah berusaha membangunkan adikmu, tapi dia tak bangun juga. Maka dari itu aku berinisiatif untuk masuk ke dalam tubuh Sangmoon,” jawab L kesal. Siapa yang tak kesal jika diperlakukan seperti ini? Bukannya mendapatkan ucapan terima kasih, malah dipukul!

Ah… Sooji mengangguk mengerti. Jadi semalam ia sakit? Pantas saja rasanya kepalanya ingin pecah. Tapi, tunggu dulu! Sooji tiba-tiba saja teringat sesuatu.

“Berarti tadi kau yang ingin menciumku?!”

Sontak saja wajah L memanas mendengar pertanyaan Sooji. Ia sendiri tak sadar dengan apa yang ia lakukan tadi.

“Me… Menciummu?” jawabnya terbata. “Lebih baik aku mencium Damon, anjing Nyonya Han dari pada menciummu!” L segera beranjak berdiri.

Sooji menatap L kesal. Beraninya lelaki itu membandingkannya dengan seekor anjing! Tiba-tiba saja ponsel Sooji berdering. Gadis itu segera meraih ponselnya yang ia letakkan di atas meja. Oh, dari Choi Jinri. Tumben sekali gadis itu neneleponnya. Apa terjadi sesuatu?

“Oh, Jinri-ah…” seru Sooji seraya meletakkan ponselnya ke telinganya. Sedetik kemudian, gadis itu membulatkan matanya. “Apa? Baiklah. Aku akan segera kesana.”

“Apa? Ada apa?” tanya L begitu melihat perubahan ekspresi wajah Sooji.

” Mark kecelakaan! Aku harus segera pergi.”

L mendengus kesal begitu Sooji pergi meninggalkannya. Sebegitu khawatirnyakah ia pada lelaki itu? Sooji bahkan baru sembuh dari sakitnya. Memangnya apa arti Mark Tuan untuk Sooji?

“Hey, tunggu aku!” seru L seraya keluar dari dalam tubuh Sangmoon dan mengikuti langkah Sooji.

Sementara itu, Sangmoon yang tak tahu apa-apa cukup bingung mendapati dirinya tidur di sofa.

“Apa yang terjadi?” gumamnya.

Sooji dan L berlari kecil di lorong rumah sakit. Oh, bukankah ini rumah sakit yang pertama kali ia kunjungi bersama L? Sooji tahu pasti bahwa yang berobat disini bukanlah orang biasa. Sebenarnya siapa Mark? Bagaimana dia bisa berobat di rumah sakit megah seperti ini? Apalagi saat ia tahu bahwa Mark dirawat di ruang VIP! Kalian bisa bayangkan berapa banyak angka nol pada tagihan rumah sakit Mark nanti! Padahal, yang ia tahu, orangtua Mark hanya mempunyai restoran kecil.

“Mark! Bagaimana keadaanmu?” tanya Sooji langsung pada Mark yang kini sedang berbaring di ranjang dengan kaki kanan yang di perban. Disampingnya, sudah ada Jinri yang menemani.

Mark hanya tersenyum kecil. “Aku baik-baik saja. Hanya luka kecil. Jinri saja yang membesar-besarkan.”

“Syukurlah,” ujar Sooji lega.

“Kau mengkhawatirkanku?” tanya Mark penuh harap dengan senyum yang menggoda.

“Tentu saja! Bukankah kita teman?”

Senyum Mark langsung menguap begitu medengar ucapan Sooji. Sepertinya dimata Sooji, ia hanyalah sosok seorang teman.

“Omong-omong, bagaimana kau bisa dirawat disini? Kau tahu, berapa banyak uang yang dibutuhkan untuk rawat inap disini? Gaji kita selama setahun saja mungkin tidak akan cukup!” oceh Sooji tanpa menyadari perubahan wajah Mark.

“Oh, kebetulan pamanku bekerja disini,” bohong Mark – lagi.

Sooji hanya mengangguk mengerti. Disampingnya, L hanya menguap karena merasa tak dianggap. Tentu saja! Bukankah ia seorang roh? L kemudian memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut. Namun baru saja ia keluar dari ruangan tersebut, ia tersentak begitu melihat Jung Soojung berjalan melewatinya. Apa yang gadis itu lakukan disini? Oh, bukankah dulu L juga sempat bertemu dengan gadis itu disini?

Deringan ponsel Soojung membuat lamunan L buyar seketika. L dapat melihat gadis itu merogoh tas tangannya dan mengambil ponselnya dari dalam sana.

“Oh, oppa!” seru gadis itu begitu mendengar suara dari ujung telepon.

Sepertinya itu telepon dari Choi Minho.

“Aku? Aku sedang ada di rumah sakit. Bibi tiba-tiba saja menghubungiku dan memintaku untuk menjaga Myungsoo. Mayat hidup seperti itu kenapa harus dijaga?” gerutu Soojung.

Ah. L mengangguk mengerti. Jadi, kekasihnya itu dirawat disini?

Soojung kemudian mengangguk kecil lalu memutuskan panggilan Minho. Gadis itu lalu masuk ke dalam kamar yang berada tepat di samping kamar Mark.

L menarik nafasnya perlahan. Ia penasaran seperti apa sosok Kim Myungsoo itu sebenarnya? Baiklah, apa salahnya melihat sebentar bukan?

TO BE CONTINUED

60 responses to “Oh My Ghost! Chapter 4

  1. aihh mark kan emg ky. dia krja di restonya kan cuma modus biar bisa dkt sm sooji..
    astaga minho sm soojung jahat amat kali.
    jgn sampe L gagal liat tubuhnya lg..

  2. Mark lebih baik jujur daripada harus bohongi suzy terus2an, gimana jadinya kalo suzy tau nanti [?]

    ahh L bentar lagi bakal nemu badannya yaa >< apa gak jadi lagi —

  3. Wooooow smakin menarik, dan semakin penasaran smga cpat cpat ingat aja myungsoo,, supaya cpt iiiduup

  4. Liat myung… Ikutin..
    Aduh tapi kok rada gk rela ya? Apa kalau myung balik ke tubuhnya dia bakal gk inget suzy?

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s