[Oneshot] 25

25

Title: 25 | Author: Macchiato

Genre: Romance| Rating: G | Length: Oneshot

Main Cast: Bae Sooji, Kim Myungsoo

Awesome poster by Selviakim @Poster Channel

I don’t own anything besides the storyline

25

Twenty five visits: The end and also the beginning.

“Have you tried the new cafè at the Euclid Ave, Suez?”

Sooji atau Suez-gadis berkebangsaan Korea yang sedang melanjutkan studinya di London, mendongakkan wajahnya dari buku yang sedang ditekuninya.

“Not yet. Why?”

Jessi menggeleng dan tersenyum kecil.

“Tidak ada apa-apa sih, hanya saja banyak yang membicarakan baristanya. Kau tahu, mereka bilang salah satunya bahkan sangat tampan”

Sooji terkikik mendengar jawaban Jessi.

“Apa itu kode agar aku menemanimu ke sana Jess?”

Pipi Jessi sedikit memerah, “Yeah aku sedikit penasaran, sejujurnya. Lagi pula bertemu orang baru tidak buruk juga.”

Sooji lagi-lagi terkekeh, “Sudah kuduga kau akan bicara begitu.”

Jessi mendengus mendengar ucapan Sooji, tangannya dengan sigap menggulung majalah yang sedang dipegangnya kemudian mengetuknya ke kepala Sooji.

Yya, appo!”

Kini giliran Jessi yang tertawa mendengar pekikan Sooji yang terdengar asing di telinganya dan pelototan tajam dari gadis itu.

And here it goes, screaming with unindentified language. Speak english, please.”

Sooji mendengus kemudian menjitak temannya itu dengan tangannya.

“Yya! It’s not an unindentified language! It’s Korean!”

Jesi kembali terkikik mendengar nada bicara Sooji yang terdengar sangat tersinggung, ditangkupkannya tangannya di depan dada kemudian dipandanginya Sooji dengan pandangan memelas.

Min-he Sue, min-he. Tetap temani aku ke cafè itu ya?”

Sooji sontak tertawa mendengar ucapan Jessi yang berusaha meminta maaf dengan bahasa Korea.

“Okey. Tenang saja Jess, kita akan ke sana besok”

Yes!!! Thank you, sweetheart

Lagi-lagi Sooji tertawa melihat tingkah Jessi. Sahabat californianya yang tekesan preman tapi sebenarnya berhati lembut.

It’s not a big deal. Dan yang benar itu mi-an-hae Jessi, bukan min-he.”

Jessi hanya menunjukkan senyum dua jarinya ketika Sooji membetulkan pelafalan ucapan bahasa Koreanya. Berteman dengan Sooji selama nyaris dua tahun Jessi sedikit-sedikit tahu beberapa kosakata sederhana bahasa Korea. Namun tetap saja mengucapkannnya sangat sulit bagi lidahnya.

Min-he, Sue.”

It’s mi-an-hae, Jessi.”

1st

Do we really need to skip class just to visit this cafè?”

Sooji sedikit mendongak melihat papan nama café yang bertuliskan Breeze&Hazel. Nama yang aneh untuk ukuran café. Jesi mendorong pintu masuk cafè dengan satu sentakan.

“Yes. Kita bisa mengambil kelas pengganti Professor Harold besok. Sedangkan menurut Bree, barista tampan yang ingin kutemui hanya mengambil shift sore di hari Senin hingga Rabu. Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktuku.”

Sooji mendengus namun tetap mengikuti jejak Jessi mendekati counter. Seorang barista mendekati mereka. Sooji dapat melihat dari sudut matanya wajah Jessi yang terlihat tidak puas. Bukan barista yang ini yang ingin Jessi lihat. Sooji sendiri yakin selera Jessi pasti bukan pria berwajah Asia dengan kulit putih dan iris berwarna cokelat gelap. Tidak. Selera Jessi pasti pria dengan iris kelabu dan berkulit kecoklatan. Sudah jelas bukan pria yang kini berdiri di depan mereka dengan kaku.

Sooji tertawa kecil ketika melihat Jessi yang menghela nafas.

Espresso for me, please. Sitting in. Dan kau, Sue?”

Hot chocolate.”

With whipped cream?”

Sooji menimbang-nimbang sebentar kemudian mengangguk.

With whipped cream.”

Good choice,” Barista itu tersenyum dan menampilkan lesung pipinya.

Dan Sooji tiba-tiba merasakan jutaan kupu-kupu beterbangan di perutnya.

4th

Ini keempat kalinya Sooji ke cafè inii, dengan dan tanpa Jessi. Nyatanya Jessi menyerah mendatangi tempat ini setelah kunjungan ke 3 karena tak kunjung bertemu dengan barista beriris kelabu. Entah kenapa Sooji malah keranjingan pergi ke café ini. Mungkin karena suasananya yang nyaman yang dipadukan dengan alunan musik jazz. Mungkin Sooji yang tergila-gila dengan hot chocolatenya. Atau mungkin itu semua hanya alasan Sokji untuk kembali melihat si barista.

Barista bermata tajam yang berhasil menggelitik rasa penasarannya.

Baristanya.

Sooji terkikik dalam hati mendengar klaim kepemilikan pada barista yang namanya saja tidak Sooji ketahui. Sooji tentu saja yakin bahwa barista itu adalah seorang Asia dan Sooji juga hampir yakin pria itu keturunan Korea sama seperti dirinya. Sudut mata Sooji sedikit melirik sang barista yang sibuk mengelap counternya.

Sooji menghela nafas kemudian menyesap kembali cokelat hangatnya.

Lain kali Sooji harus menanyakan namanya.

7th

Sooji melangkahkan kakinya dengan cepat menuju cafè yang kini menjadi langganannya.

Dengan bahunya, Sooji mendorong pintu cafè agar terbuka, tangannya penuh dengan buku-buku sastra dan literatur yang Sooji harap dapat membantunya menyelesaikan tugas akhirnya.

Sooju tersenyum kecil begitu sampai di counter. Barista yang kerap memenuhi pikirannya kini berdiri di depannya.

Hi” sapa Sooji. Tangannya secara spontan menyentuh beberapa helai rambutnya yang tergerai bebas dan menyelipkannya di belakang telinganya. Gesture andalan Sooji ketika sedang gugup.

Hi. How was your day?”

It’s been great, thank you. Yours?”

Great.” Jawab pria itu singkat sambil tersenyum. Menampilkan lesung pipi yang membuat Sooji menahan diri untuk tidak menyentuhnya dan membuatnya tersenyum bodoh selama beberapa waktu.

Pria itu berdeham pelan. Sooji mengerjapkan matanya dan menggelengkan kepalanya pelan berusaha mengembalikan kewarasannuya.

“Hot chocolate, please.”

With whipped cream.”

Sooji tersenyum mendengar ucapan pria itu yang lebih terdengar sebagai pernyataan bukan pertanyaan.

Yes, with whipped cream, please.”

Pria itu kemudian tertawa membuat Sooji kembali tersenyum bodoh.

Are you Korean?”

Sooji tersenyum pertanyaan yang diajukan kepadanys. Akhirnya Sooji mendapat pertanyaan ini. Di kunjungan ke-7 Sooji ke cafè ini.

Sooji mengangguk, “Ne, Chonenun Hanggugieyeo. Bae Sooji imnida.

Pris itu mengulurkan tangannya, “Myungsoo. Kim Myungsoo”

Semenjak Sooji mengetahui nama barista itu, semenjak Sooji mengenal Myungsoo, frekuensi kunjungan Sooji ke cafè itu semakin meningkat. Myungsoo teman yang menyenangkan. Myungsoo selalu memberinya semangat pada Sooji untuk menyelesaikan kuliahnya secepatnya. Myungsoo selalu mengatakan Sooji beruntung karena dapat kuliah sementara dia harus meneruskan jejak samchonnya mengelola cafè kecilnya. Sooji selalu merasa bersalah setiap Myungsoo mengatakan hal tersebut namun hanya ditanggapi Myungsoo dengan tawa kecil karena nyatanya Myungsoo menikmati pilihannya. Myunsoo menikmati menjadi seorang barista dan Myungsoo berkeinginan untuk memiliki cafènya sendiri nanti.

13th

Kali ini Sooji datang tidak sendiri. Sooji datang bersama temannya Josh. Sooji memang merekomendasikan tempat ini sebagai tempat mereka mengerjakan tugas kuliah mereka.

Hot chocolate for me, please.”

“With whipped cream.”

Sooji tersenyum kecil dan mengangguk, percakapan mereka yang sumpah mati Sooji hapal di luar kepalanya.

Americano for me.”

Myungsoo kemudian beralih pada mesin kopinya kemudian meletakkan dua gelas pesanan Sooji dan Josh di meja.

Sooji kembali tersenyum, “Thank you.”

Gadis itu kemudian mengajak Josh duduk di meja yang biasa dia tempati. Meninggalkan Myungsoo yang masih setia dengan counternya dan dengan kedua alis yang bertaut.

14th

Hot chocolate with whipped cream.”

Sooji tertawa kemudian mengagguk. Bahkan sebelum Sooji menyebutkan pesanannya, Myungsoo sudah menyebutkannya terlebih dahulu. Ini hal baru yang terjadi di kunjungannya yang ke-14. Yeah, Sooji memang menandai setiap kunjungannya ke cafè ini. Konyol dan sedikit berlebihan memang. Tapi salahkan Myungsoo mengapa pria itu bisa membuat seorang Bae Sooji penasaran sejak pertemuan pertama.

“Itu saja?” Tanya Myungsoo lagi.

Sooji tersenyum, “Thank you.”

Saat Sooji hendak berjalan ke mejanya yang biasa, suara Myungsoo menahnnya.

Chakkaman,

Alis Sooji bertaut. Tidak biasanya pria itu mengajaknya bicara dengan bahasa Korea.

Ne?”

“Pria itu, pria yang kemarin, neo namjachingu?”

Sooji terkekeh, membuat matanya membentuk rainbow arc.

Ani. Chingu, geunyang chingu.”

17th

“Hi”

“Hey”

“Hot chocolate with whipped cream?”

Sooji menggeleng dan mengerucutkan bibirnya “Aku sedang tidak ingin cokelat. Apa ada yang bisa kau rekomendasikan untukku?”

Myungsoo tertawa, “Sudah mulai bosan dengan cokelat rupanya, agashi?

Sooji menggeleng, “Ani, hanya sedang ingin mencoba yang lain. Jadi, apa yang harus ku coba, Barista-nim?”

Myungsoo tersenyum mendengar panggiln Sooji untuknya, “Frappucino. Aku jamin kau akan menyukai frappucino kami.”

Geurae, aku pesan itu kalau begitu.”

Myungsoo mengangguk kemudian berlalu untuk membuat pesanan Sooji.

Gomapseumnida,” ucap Sooji begity menerima gelasnya.

Myungsoo mengangguk, matanya masih belum lepas dari Sooji. Pria itu memperhatikan bagaimana rambut yang diikat asal membentuk bun, kemeja putih kebesaran yang dipadu dengan shredded jeans hitam.

Penampilan Sooji memang terbilang asal namun tetap terlihat menarik di mata Myungsoo.

Myungsoo berdeham pelan, membuat Sooji lagi-lagi menghentikan langkahnya menuju mejanya. Kedua alis Sooji terangkat.

“Sooji,” panggil Myungsoo

Sooji kembali mendekatkan kakinya menuju counter. “Ne?

“Apa kau kosong minggu sore?”

Sooji tertawa melihat wajah Myungsoo yang tiba-tiba terlihat gugup.

“Apa itu ajakan kencan, Barista-nim?”

18th

“Kukira kau mengajakku kencan.”

“Kupikir ini bisa disebut kencan.”

“Kau bercanda? Ini di cafèmu dengan segelas hot chocolate with whipped cream di mejaku. Bagian mananya yang berbeda?”

Myungsoo tersenyum, “Ini cafè samchonku, Sooji.”

Sooji memutar bola matanya malas, “Tetap tidak membuat perbedaan bahwa aku duduk di sini, di meja yang memang biasa aku tempati dengan segelas hot chocolate.”

Myungsoo tertawa, “Tentu saja berbeda, Sooji. Kali ini aku pelanggan bukan pelayan. Kali ini aku duduk di depanmu bukan berdiam diri di counter dan memandangimu dari jauh.”

Cheesy,” kekeh Sooji. Dia tidak menyangka akan menemui sisi ini dari Myungsoo.

Myungsoo tersenyum. Lagi. Menampilkan lesung pipinya yang nyatanya berhasil menyita pikiran Sooji.

“Memang. Dan kuharap kau menyukainya.”

Sooji mengerjapkan matanya. Pipinya terasa terbakar. Sooji bukan gadis yang mudah tersipu dan malu-malu, Sooji malah cenderung maju dan mengutarakan pikirannya secara frontal -termasuk soal hati- tapi ucapan Myungsoo sungguh membuatnya terkejut. Dan…. melayang.

Ne?”

Myungsoo tertawa lagi, “Kau lucu. Mukamu merah, agashi.

Sooji mendelik mendengar ucapan Myungsoo, “Yya! Jangan berkata yang tidak-tidak.”

“Memangnya apa yang tidak-tidak?”

“Ucapanmu, Myungsoo-shi.”

“Ucapanku yang mana, nona Bae?”

“Soal kau yang berharap aku menyukaimu.”

Myungsoo tersenyum, “Aku memang berharap kau menyukaiku”

Kini gilaran Sooji yang tertawa. Sooji kemudian mecondongkan tubuhnya ke depan dan menopang dagunga, menatap Myungsoo lekat-lekat di manik matanya.

“Kalau aku sudah menyukaimu, bagaimana?”

Myungsoo pun ikut mencondongkan tubuhnya dan menopangkan dagunya di tangan kirinya. Matanya menatap mata gadis yang menarik perhatiannya semanjak gadis itu melangkahkan kaki melewati pintu cafènya.

“Menurutmu?” Bisik Myungsoo pelan.

“Haruskah yeoja yang mengatakannya, Baristanim?”

Myungsoo terkekeh, tangan kanannya kemudia terulur menyentuh pipi Sooji pelan.

Would you be mine, Sue?”

Sooji tersenyum lebar, tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya, menampilkan rona merah di kedua pipinya, membuat matanya melengkung layaknya bulan sabit.

Dan Myungsoo harus bersusah payah untuk menahan dirinya untuk tidak mencium Sooji saat itu juga.

I’m yours, barista-nim.”

Dan hari itu, di kunjungan ke 17 Sooji, Sooji memenangkan hati Myungsoo.

Myunggsoo menceritakan banyak hal. Mengenai hidupnya dan bagaimana keluarganya. Bagaimana Myungsoo menyesali keputusannya untuk tidak segera kembali menemui ibunya. Bagaimana dia sangat ingin kembali ke Korea seperti harapan terakhir ibunya. Bagaimana sosok samchonnya yang menginspirasinya dan bagaimana Myungsoo tidak ingin lagi menyusahkan beliau. Myungsoo ingin sukses. Myungsoo ingin berdiri dengan kedua kakinya sendiri sebelum bertemu dengan keluarganya di Korea. Myungsoo ingin menunjukkan bahwa keputusannya untuk pergi ke London bukan suatu kesalahan meskipun nyatanya membutuhkan waktu yang lebih lama dari Myungsoo perkirakan. Myungsoo menyatakan keinginannya untuk memiliki café nya sendiri. Café kecil yang hangat. Dengan buku-buku dan kursi kayu juga sentuhan cherry blossom.

Sooji berbagi banyak hal. Kisahnya dan mimpinya. Bagaimana keluarganya yang sangat mendorongnya untuk kuliah dan beasiswa ke Universita Brown adalah suatu keajaiban. Bagaimana ibunya single parent dan berjuang untuk dirinya dan dua adiknya. Bagaimana dirinya merindukan keluarganyam dan keresahannya tidak lulus tepat waktu dan kehabisan beasiswanya. Sooji menceritakan kecintaaannya pada buku dan keinginannya untuk menjadi penulis yang dapat menyalurkan harapan.

Myungsoo selalu mendengarkan dan Sooji selalu menyimak. Mereka menyadari pertemuan mereka dapat dihitung jari tapi nyatanya mereka saling mempercayai. Myungsoo mendukung Sooji dan Sooji menyemangati Myungsoo. They are longing to come home yet they have to chase after their dreams.

20th

“Hey. Kau terlihat berantakan.”

Sooji tersenyum tipis, “Revisi”, jawabnya singkat.

Myungsoo tersenyum kemudian meyeojanya singkat tak peduli meskipun ada meja counter yang menghalanginya. Tak peduli meskipun mereka berdua ada di muka cafè.

Nyatanya, semenjak Myungsoo dan Sooji resmi menjadi sepasang kekasih intensitas pertemuan mereka tidak berubah. Sooji yang sibuk dengan kuliah dan tugas akhirnya sedangkan Myungsoo sibuk dengan cafè(samchon)nya. Komunikasi mereka hanyalah dengan telfon ataupun chat.

“Jadi? Mau memesan apa, agashi?

Sooji tersenyum, “hot chocolate with whipped cream, please

Myungsoo kemudian pergi ke mesin kopinya dan membuatkan pesanan Sooji. Begitu selesai, diletakkannya segelas hot chocolate di meja counter.

“Duduklah, aku akan menyusulmu sebentar lagi.”

Sooji mengangguk kemudian mengangkat pesanannya dan melangkahkan kakinya menuju meja langganannya.

Tak lama, Myungsoo pun menyusul Sooji dan duduk di hadapan gadis itu.

Sooji menyesap minumannya kemudian membuka laptopnya.

“Tidak apa kau menemaniku?”

Myungsoo tersenyum kemudisn mengangguk. Tangannya terjulur merapihkan untaian rambut Sooji yang diikat asal.

“Tidak apa.”

“Tapi kau baristanya.”

“Aku managernya, Sooji.”

Sooji mengerutkan dahinya bingung, “Tapi kau selalu berada di belakang counter.”

Myungsoo mengangkat bahunya, “Aku tidak terlalu sibuk dan kurasa dengan aku menjadi barista dapat menghemat pengeluaran dari gaji pegawai.”

“Dasar pelit.”

Myungsoo tertawa, “Itu prinsip dasar berbisnis, Sooji. Jika bisa menekan pengrluaran, kenapa tidak?”

“Kau menyebalkan. Bagaimana bisa kau tidak memberitahuku?”

“Dan bagaimana cara memberitahumu? Dengan ‘hey, Sue. Aku seorang manager’?”

Sooji mendengus mendengar ucapan Myungsoo yang terkesan penuh sarkasme.

“Tidak harus begitu juga, sih. Seharusnya kau mengkoreksiku saat aku memanggimu barista-nim.”

“Tapi aku memang barista, Suez.”

“Kau juga manager.”

“Lantas? Kau mau memanggilku Kwajang-nim?

Sooji tertawa kali ini. Mrmbayangkan dirinya memanggil Myungsoo dengan sebutan Kwajang-nim membuat perutnya geli. Tidak, tidak cocok sama sekali.

Myungsoo tersenyum melihat Sooji tertawa. Kedua tangannya kemudian menangkup pipi Sooji.

“Nah, begitu. Kau jauh kebih cantik saat tertawa.”

Sooji tersenyum kemudian melepaskan tangan Myungsoo dari pipinya dan melanjutkan mengedit tugas akhirnya di laptopnya.

Cheesy

“Biar”

Greasy

“Yang penting kau menyukaiku”

Sooji tertawa lagi, “Benar, aku memang menyukaimu.”

Mendengar ucapan Sooji Myungsoo menghela nafas membuat Sooji melepaskan pandangannya dari layar laptopnya.

Wae?

“Biasanya bila namja seperti itu, yeojanya akan tersipu.”

Sooji tertawa lagi. Kali ini ditepuknya lengan Myungsoo membuat namja itu sedikit mengaduh.

“Aku bukan yeoja seperti itu”

“Tapi aku menyukainya. Pipimu saat merah sangat menggemaskan.”

Sooji tersenyum, “Jangan mulai lagi, Myungsoo. Kau dan gombalanmu itu ya”

Myungsoo menatap lekat Sooji yabg kini sudah kembali sibuk dengan laptopnya.

“Tapi aku tidak bohong.”

“Hmm?” Sooji mengangkat kepalanya dan memutus pandangannya dari layar laptop.

Myungsoo meletakkan kedua tangannya di atas meja kemudian memajukan tubuhnya.

“Aku tidak bohong soal aku menyukai pipi merahmu. Membuatku ingin menciummu, Suez.”

Dan kali ini Sooji kalah, rona merah menjalar di pipinya membuat yeoja itu menunduk malu dan senyum lebar muncul di bibir Myungsoo.

24th

“Astaga, kau pucat sekali, Suez.”

Myungsoo menari kursi di depan Sooji dengan satu sentakan dan langsung mendudukinya dengan cepat. Gadis di hadapannya ini benar-benar terlihat kacau dan mengkhawatirkan.

Sooji tersenyum lemah, “Dosen pembimbingku membuatku gila.”

Myungsoo mengelus pipi Sooji perlahan. “Kau seharusnya pulang dan beristirahat, Suez, bukan ke sini.”

Sooji menngeleng pelan, tangannya kemudian menggenggam tangan Myungsoo yang masih berdiam di pipinya.

“Aku merindukanmu.”

Myungsoo menghela nafas, “Kita bertemu 2 hari yang lalu, Suez. Di kampusmu, ingat?”

“Itu terlalu sebentar.”

“Kita akan bersenang-senang setelah kau lulus. Aku janji.”

Sooji menggigit bibirnya membuat Myungsoo tahu ada sesuatu yang membuat Sooji tidak tenang.

Myungsoo melpaskan tangannya dari pipi Sooji kemudian berpindah dan duduk di sebelah Sooji. Diraihnya gadis itu dalam pelukannya.

Wae?”

Ani”

Wae? Jangan berbohong padaku, Sooji.”

“Ibu memintaku untuk…. pulang”

Myungsoo menahan nafasnya, tahu yang dimaksud dengan ‘pulang’ oleh Sooji adalah kembali ke Korea.

Myungsoo mendekap Sooji lebih erat, mennggelamkan wajahnya pada puncak kepala Sooji. Dia tahu kejadian ini tidak bisa dihindari, cepat atau lambat.

“Kalau begitu cepat selesaikan kuliahmu dan pulang, Suez.”

Sooji menghela nafas mendengar ucapan Myungsoo.

“Kau tidak ingin menahanku?” Bisik Sooji parau.

Myungsoo merasakan pasokan oksigennya tiba-tiba menipis.

“Aku… tidak akan menahanmu. Ini ibumu, Suez. Ingat yang aku katakan?”

Sooji terdiam. Tentu saja Sooji tahu mengenai penyesalan Myungsoo pada ibunya. Penyesalannya tidak dapat menemui ibunya di penghujung umurnya. Tapi tetap saja, Sooji ingin Myungsoo di sisinya.

“Ini Korea, Myungsoo.” Bisik Sooji lagi, suaranya kini terdengar mulai bergetar.

“Aku tahu”

“Korea… jauh..”

“Aku tahu”

“Bagaimana….dengan kita?”

Myungsoo memejamkan matanya erat-erat namun tidak menjawab pertanyaan Sooji ataupun melepaskan pelukannya.

Sooji menghela nafas, “Kau menyerah”

Bukan pertanyaan melainkan pernyataan.

“Kau menyerah soal kita. Kau bahkan tidak menahanku.” Bisik Sooji lagi, kali ini Myungsoo dapat mendengar isakan kecil dari yeoja yang berada di pelukannya itu.

25th

“Frappucino, please”

Sooji mendongakkan kepalanya. Matanya mencari Myungsoo karena barista di hadapannnya bukanlah orang yang sangat ingin dia temui.

Semenjak pertemuan terakhirnya dengan Myungsoo, Sooji tidak menggubris pesan-pesan dan telfon dari Myungsoo. Sooji benar-benar tidak menyangka Myungsoo akan melepasnya begitu saja. Sooji kira namjanya itu akan menahannya dan berusaha sekuat tenaga agat Sooji tetap di sini, di London, di samping Myungsoo. Namun kenyataannya adalah sebaliknya.

Sooji sudah duduk di tempatnya yang biasa saat melihat Myungsoo berjalan keluar dari ruangan khusus pegawai.

Sooji dapat melihat bahwa Myungsoo juga menyadari kehadirannya dan berjalan ke arahnya.

Myungsoo kemudian duduk di hadapan Sooji.

“Hey”, Myungsoo menyapa Sooji canggung.

Sooji menganggukkan kepalanya singkat.

“Apa kabar?”

Sooji tersenyum tipis mendengar sapaan basa-basi Myungsoo.

“Aku akan ujian akhir besok”

Myungsoo tidak mengatakan apapun hanya mengangguk.

“Aku memutuskan untuk tidak mengikuti wisuda dan langsung pulang begitu aku dinyatakan lulus”

Myungsoo tetap bungkam. Kenyataan bahwa Sooji akan secepatnya pergi menghantamnya.

“Aku mohon doamu. Doakan aku sukses”

Myungsoo tersenyum tipis, “Tentu saja, Suez.”

Sooji menghela nafas.

“Kau tahu, Myungsoo? Ini kunjunganku ke-25 ke café ini.”

Myungsoo tersenyum kecil, “Kau menghitungnya.”

Sooji ikut tersenyum kecil, “Tentu saja. Semua karenamu, kau tahu?”

Myungsoo terdiam mendengar jawaban Sooji.

Sooji menghela nafas kemudian menatap Myungsoo tepat di manik matanya, “Aku ingin mengucapkan selamat tinggal…. ini mungkin terakhir kalinya kita bertemu, Myungsoo.”

Bibir Myungsoo terasa kelu. Dia sangat ingin menahan Sooji, membuat yeoja itu tetap bersamanya. Tapi Myungsoo tahu, dia tidak bisa dan tidak mau. Ingatan terakhirnya untuk tidak menuruti permintaan ibunya untuk menemuinya menyebabkan Myungsoo tidak bisa bertemu lagi dengan ibunya selama-lamanya. Tidak, Myungsoo tidak mau Sooji menyesal seperti dirinya.

Dan meminta Sooji untuk menunggunya? Tentu saja itu sebuah kenaifan. Myungsoo mungkin tidak bisa kembali ke Korea. Tidak saat kondisi ekonominya masih luntang-lantung tergantung pada cafè samchonnya.

Myungsoo mengangguk, “Hati-hati.”

Sooji tertawa miris melihat respon Myungsoo.

“Hanya itu?”

Myungsoo tersenyum tipis, “Lantas aku harus apa?”

“Kau bisa menahanku. Aku akan bilang iya jika kau memintanya, Myungsoo.”

Myungsoo menghela nafas, “Kita sudah membicarakan ini, Sooji. Ini ibumu. Aku tidak mau kau menangguhkan kepulanganmu karena aku.”

“Aku bisa pulang setelah aku sukses di sini.”

“Tidak ada yang tahu umur seseorang, Sooji. Pulanglah saat ibumu memintamu.”

Sooji menggigit bibirnya, matanya menatap Myungsoo lekat-lekat, “Aku ingin bersamamu, Myungsoo. Ini terlalu….sebentar”

Myungsoo tersenyum kecil, tangannya menggapai tangan yeojanya.

It was short but it won’t change the fact that I love you, Suez.”

Sooji mulai terisak.

“Kalau begitu ayo ke Korea bersamaku” bisik Sooji.

Myungsoo mengakup kedua pipi Sooji, tak tahan melihat Sooji yang berurai air mata.

“Aku tidak bisa, Suez. Maaf.”

“Kau akan menyusulku kan, Myungsoo?” Bisik Sooji lagi penuh harap.

Myungsoo menyelipkan untaian rambut Sooji ke belakang telinga gadis itu agar Myungsoo dapat lebih jelas wajah gadis yang dicintainya.

“Aku tidak mau menjanjikan apapun, Suez.”

“Aku akan menunggumu kalau kau-”

“Aku tidak akan memintamu menungguku. Kau layak mendapat yang lebih baik.”

“Kau menyebalkan” isak Sooji.

Myungsoo tersenyum sedih, jarinya-jarinya menghapus buliran air mata yang turun di kedua pipi Sooji.

Arra

“Kau brengsek”

“Aku tahu”

“Aku mencintaimu”

Na do, Sooji-ah. Na do

Dua puluh lima kunjungan dan Sooji merasakan segalanya. Jatuh cinta dan patah hati. Sooji yakin Myungsoo mencintainya tapi tetap tidak mengurangi kekecewaannya bahwa Myungsoo membiarkannya pergi. Sooji tahu, Myungsoo loves her enough to let her go. Sooji juga tahu kemungkinannya untuk bertemu dengan Myungsoo lagi sangat kecil. Alasan ekonomi adalah yang utama, jika bukan karena beasiswanya Sooji tidak akan menginjakkan kakinya di tanah London dan Sooji tahu butuh kerja keras, keberuntungan, dan -tentu saja- uang untuk kembali ke sana. Dan Myungsoo untuk kembali ke Korea? Sooji tahu kembali ke Korea adalah keinginan terbesar Myungsoo tapi Sooji juga tahu, pria itu tidak akan kembali dalam waktu dekat, tidak sebelum Myungsoo dapat berdiri dengan kakinya sendiri.

Dua puluh lima kunjungan dan Myungsoo merasakan segalanya. Mencintai dan merelakan. Myungsoo mencintai Sooji. Dan ada seribu jalan menunjukkan rasa cintanya. Membiarkan yeoja itu pulang dan sukses tanpa membebaninya adalah caranya. Myungsoo tidak ingin Sooji mengharapnya datang untuk menjemputnya. Tidak saat Myungsoo sendiri tidak yakin dengan nasibnya.

“Jangan berhenti bermimpi, Suez.”

“Kau juga.”

“Aku akan menunggu karya mu. Jadilah penulis hebat.”

“Aku akan menunggu kabar mengenai cafèmu, Myungsoo. Café kecil dengan coklat hangat.”

Letting go is hard but life must go on.

Years Later

Sooji menginjakkan kakinya dicafè yang disiapkan untuk acara launching bukunya.

Sooji memperhatikan bagaimana dindingnya yang berwarna mahogany dipadu coklat. Bagaimana ornamennya yang terkesan klasik denga kursi-kursi kayu dan sofa berwarna caramel. Sooji memperhatikan bagaimana ada banyak lukisan yang bertemakan cherry blossom.

Sooji teringat Myungsoo.

Soiji tersenyum. Sudah enam tahun Sooji meninggalkan London tapi bayangan Myungsoo tetap di sana.

“Kenapa Bae, tidak puas dengan lokasi kali ini?”

Sujeong, salah satu temannya menanyakan pendapatnya.

“Tidak. Tempat ini indah sekali. Nyaman.”

“Kau harus bertemu dengan pemiliknya kalau begitu. Dia bilang dia penggemarmu.”

Geurae? Dimana dia?”

“Dia baru saja masuk ruangannya setelah bicara dengan pihak penerbit.” Ucap Sujeong sambil menunjuk salah satu pintu di pojok cafè.

Sooji tersenyum kemudian melangkahkan kakinya.

Tok tok tok

Sooji membuka pintu di hadapannya dengan perlahan.

Dihadapannya kini berdiri seorang namja yang hanya hadir di mimpinya.

Sooji tertawa dan berjalan cepat menghampiri namja itu, “Aku tahu pasti akan seperti ini.”

Myunysoo ikut tertawa kemudian menyambut Sooji dalam pelukannya.

“Seperti ending novelmu bukan, Suez? 25?”

Sooji tersenyum dalam pelukan Myungsoo, “25. 25th visits when it ends yet it is the beginning. I love you.”

Myungsoo menciumi puncak kepala Sooji berkali-kali.

I love you more

-END-

Anyyeong! Aku bawain oneshot lagi. Pengennye sih cerita yang agak deep gitu ternyata gabisa dan malah gagal haha tapi semoga tetep enak dibaca ya

Jangan lupa comment yaa.

Gomawo :3

49 responses to “[Oneshot] 25

  1. how sweet :3
    setelah berpisah selama 6 tahun akhirnya mereka bisa kembali bersama dengan mimpi mereka yg telah terwujud ^^

  2. Wahhh ending nya aku suka… akhirnya myungzy bersatu! Walaupun udh pisah 6 tahun tpi ttp cinta mrk ga pudar #eeeaaakkkk wkwkwk

  3. Hanya dalam waktu 25 hri mereka mampu merasakan segalanya
    Wow luar biasa
    tpi mereka tetap menyimpan hati mereka masing2 sampe akhirnya mereka dipertemukan kembali
    Menarik kekeke~

  4. Ya ampun ini itu kece banget,sweet moment suez dan myungsoo. Gimana suez ngitung pertemuannya ma myungsoo, dan dengan terang”an myungsoo nembak suez. Haft mereka itu lho perjuangannya, disisi lain myungsoo pengen suez disisinya tapi disisi lain dia gak mau egois sama suez, nyesek banget pas mereka pisah.
    Yah walaupun pisahnya baik” sih, tapi pas tau suez dicafe dan inget myungsoo,,kek kebaca gitu kalau cafe itu emang punya myungsoo. Dan akhirnya happy ending…

  5. Pingback: 25 | Splashed Colors & Scattered Words·

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s