Between Dream and Future — Chapter 4

between-dream-and-future-copy

poster by americadoo

–Between Dream and Future–

flcevtp

Bae Suzy | Kim Myungsoo | Kim Jongin | Park Chanyeol | Jung Soojung

General Audience — School Life

Previously: Teaser | 1 | 2 | 3

Jika ditanya ingin berubah menjadi binatang apa, dirinya akan langsung menjawab burung elang. Mata yang tajam guna mempertampan wajah dan memperhatikan baik-baik ‘sasaran’nya, sayapnya yang lebar juga gagah membawanya terbang menyusuri sudut dunia dan akan disegani oleh binatang lain bila sang elang itu mendekatinya.

Ketiga hal itulah yang diinginkan Myungsoo dari dulu. Tetapi yang ia inginkan detik ini adalah sayapnya saja. Melarikan diri sejauh mungkin dari perjodohan dini ini. Dirinya dengan Krystal? Big no. Sama seperti mimpi buruk jika itu menjadi kenyataan. Namun mimpi itu memang sudah berubah menjadi realita yang ia hadapi tiap hari. Ocehan, kritik, rayuan, kemanjaan, semua milik Krystal sudah ia hadapi dan ia dengarkan dengan berlapang dada.

“Appa, bisa kau jelaskan kembali kenapa aku harus dipasangkan dengan Soojung?”tanya Myungsoo dengan paksa.

Pertanyaan Myungsoo sudah merusak makan malam bersama yang mewah ini. Tenderloin steak ayahnya yang terlihat menggiurkan sudah dianggapnya makanan basi. Nafsu makannya telah hilang saat diungkit kembali masalah itu. Ibunya pun memberikan tatapan yang mengatakannya untuk berhenti menanyakan hal tersebut.

“Kau tentu sudah tahu ekonomi kita sedang menurun. Bisnis ayah sedang turun drastis, dan satu-satunya cara untuk memperbaiki ekonomi kita adalah kau dijodohkan dengan Soojung,”jawab ayahnya dengan wajah malas.

Satu-satunya cara? Karena perjudian ayah bersama temannya saja yang menganjlokkan bisnisnya. Dirinya merasa dipermainkan. Dirinya merasa dijadikan boneka.

“Tentu ada cara lain jika kau ingin mengembalikan ekonomi kita. Berhentilah berjudi,”jawab Myungsoo tak peduli.

Ayahnya mendaratkan tangannya dengan kencang hingga membuat meja makan mereka bergetar. Terlihat kobaran api dibalik bola matanya yang mulai rabun. Semuanya bergidik ketakutan jika sang tuan rumah meledakkan amarahnya, kecuali Myungsoo.

“Kau masih kecil, tidak tahu apa-apa tentang urusanku!”seru ayahnya lantang.

Ibunya pun langsung mengelus pundaknya pelan menandakan untuk bersabar, lalu menghardik Myungsoo yang sedang mengaduk bibimbap dengan tatapan maut ala sang ibu. Myungsoo yang merasa dilihat pun langsung menghentikan kegiatannya.

“Jika aku dijodohkan dengan Soojung, perusahannya akan bekerja sama dengan perusahaanmu? Ayolah, appa. Aku tentu menyayangimu, tetapi jangan mencari kesempatan dalam kesempitan.”

Itulah kalimat terakhir sebelum Myungsoo membawa mangkuk bibimbapnya ke kamar untuk melanjutkan kegiatan mengisi perut. Meninggalkan ayahnya yang berteriak seperti orang tidak waras dan ibunya yang seperti kelimpungan memikirkan dirinya harus berada di pihak siapa.

***

Jam digital yang tertempel erat di dinding menunjukkan pukul 1 lewat 28 menit tengah malam. Masih terdengar suara alunan lagu yang sama dari ruang latihan sekolah. Seram? Tentu tidak. Masih ada 2 sosok yang setia dengan ruangan tersebut. Satu orang memperlihatkan kepiawaiannya dalam meliukkan setiap sudut tubuhnya, satu lagi sedang berlatih menyesuaikan musik untuk acara penyambutan murid baru dalam hitungan jam lagi.

Satpam sekolah itu tentu ingin mengusir 2 orang tersebut. Namun apa daya, justru sosok mereka termasuk anak dari orangtua yang termasuk orang penting di sekolah tersebut. Jadi mereka bisa menikmati akses sekolah tersebut sesuka mereka – asal tidak membuat keributan.

Jari Chanyeol terus menari di atas tuts piano itu dengan sangat lincah, seakan jari itu melompat kesana-kemari tanpa henti. Bola matanya pun mengikuti kemanapun jarinya menari. Tubuh Jongin pun terus menunjukkan liukan badan dan atraksi di dalam koreografi ciptaannya sendiri. Seperti ular kobra, tubuhnya bergerak sesuai musik membawanya ke mana. Peluh keringat dan penampilan mereka yang sudah semrawut pun memperjelas bahwa mereka sudah latihan semalam suntuk demi performa yang sempurna.

“Jongin, kau tidak ingin pulang? Sudah subuh, ayolah, aku lelah,”ajak Chanyeol dengan menahan rasa kantuknya.

“Pulang saja sendiri. Aku masih ingin latihan,”jawab Jongin ketus sambil meliukkan badannya.

“Justru kita harus istirahat supaya nanti kita bisa maksimal.”

“Aku bilang aku masih mau latihan. Jika kau mau pulang, pulanglah sendiri!”

Chanyeol cukup kaget dengan jawabannya. Biasanya Jongin paling malas jika bicara soal latihan seperti ini. Namun untuk akhir-akhir ini termasuk pengecualian. Jongin menjadi lebih giat dan sering marah kepadanya jika Chanyeol tidak bisa bermain dengan benar.

“Dasar aneh,”ketus Chanyeol sambil membereskan barang-barangnya, kemudian pulang tanpa pamit kepada Jongin.

Jongin hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh dengan nanar. Tentu dia merasa bersalah saat dirinya melontarkan perkataan seperti tadi. Dia ingin menampilkan penampilan terbaik untuk siapapun, terutama untuk keluarganya yang nanti akan datang, dan juga seseorang.

“Aku melakukan ini untuk membuatnya kagum,”ucapnya dalam hati.

Kemudian Jongin kembali melanjutkan latihannya lebih keras.

***

Jam meja di meja sebelah ranjangnya sudah menunjukkan pukul 4 lewat 3 menit. Dirinya baru saja sampai di rumah, tentu dengan mengendap-endap dan bantuan para pelayannya untuk menjaga kesunyian supaya orangtuanya tak terbangun. Jongin langsung menghempaskan badannya ke ranjang queen sizenya kelelahan. Nafasnya masih terengah-engah sejak dirinya menyelesaikan latihan semalam suntuknya itu. Seluruh badannya basah karena keringatnya saat istirahat.

Dirinya melirik jam di sebelah ranjangnya. Jika acaranya dimulai pukul 12 siang dan dirinya harus sampai di sekolah pukul 10 untuk persiapan acaranya, mungkin dia bisa beristirahat sekitar 4-5 jam. Cukup, pikirnya. Seolah-olah lupa jika dirinya sudah memiliki sifat yang susah untuk dibangunkan.

Kemudian Jongin membalikkan badannya, merangkak sedikit menuju meja di sebelah ranjangnya. Membuka laci dengan urutan paling atas, lalu mengeluarkan sebuah bingkai foto kecil berwarna abu-abu. Tersimpan sebuah foto yang memperlihatkan 2 orang yang melakukan piggyback, dirinya menggendong seorang perempuan. Senyuman mereka lebar menunjukkan rentetan giginya yang rapi dan perasaan bahagia. Jongin pun memandangi foto tersebut cukup lama sambil memperlihatkan senyuman bodohnya. Tidak tahu dirinya sedang berkhayal atau terdapat momen spesialnya dulu.

Jongin mencium bingkai foto tersebut sebentar sebelum dirinya benar-benar mengistirahatkan diri secara sempurna.

Welcome back, Bae,”ucapnya dalam hati.

***

Entah sudah ke berapa kalinya alarm handphonenya berdering, anak itu masih dengan setengah sadar mematikan peringatan itu lalu tertidur kembali. Pengaturan snooze nya hanya berjangka waktu 10 menit, coba saja sudah ke berapa kalinya jika dia telah menunda waktu untuk bangun selama 2 jam.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 lewat 27 menit, dan anak itu masih saja menggulingkan tubuhnya kemana saja dia mau di ranjangnya. Terkadang bibirnya berkicau sendiri, mungkin karena dirinya sedang mengigau. Atau terdengar suara dengkuran halus dari dirinya yang berarti dia sudah tertidur pulas.

Tidak tahu apa yang menyetrumnya, secara refleks dirinya bangkit dari kuburan mimpinya. Menggaruk tengkuknya—yang sebenarnya tidak gatal—dan melirik sebentar jam di dindingnya. Awalnya anak itu memejamkan matanya sebentar, lalu membelalakkan matanya langsung.

“12 kurang seperempat?!”seru anak itu.

Anak itu langsung lari menuju kamar mandi hanya untuk menyikat gigi dan mencuci muka saja. Lalu segera mengganti piyamanya menjadi seragam sekolah barunya, memakai bedak asal untuk menutup wajah pucatnya, mengambil barang yang diperlunya, lalu segera berangkat ke sekolah.

Untungnya apartment di mana dia tinggal cukup dekat dengan sekolah barunya, dia masih keburu untuk menghindari momen upacara penerimaan siswa baru yang bisa dibilang epic. Akan sayang bagi murid yang tidak ikut upacara ini. Dirinya menganggap upacara tersebut adalah upacara yang paling meriah sepanjang hidupnya. Sampai dirinya merelakan untuk berlari dari tempat tinggalnya menuju sekolah barunya.

Kebiasaan nomor satu gadis ini adalah kecerobohan kelas kakap. Seperti biasa, Suzy harus meminta beribu maaf di dalam hatinya kepada setiap orang yang ia tabrak – khususnya hari ini. Hingga ia harus menabrak seorang gadis sebaya dengannya.

“Jeongmal mianhae,”ucapnya berkali-kali sambil menundukkan kepalanya, lalu lekas meninggalkan gadis tersebut.

“Hei, kau yang tidak punya mata! Lihat, rambutku sudah berantakan! Kau tidak ingat hari ini hari apa?! Dasar anak kampung!”seru si korban sambil menarik rambut Suzy.

Suzy tentu merasa tidak senang. Dirinya sudah meminta maaf kepada gadis itu dan malah gadis itu menarik rambutnya dengan kencang dan mengejeknya dengan sebutan anak kampung. Kemudian dia menendang perut gadis itu dengan jurus taekwondo nya cukup keras. Gadis tersebut berteriak kesakitan, namun tidak digubris oleh Suzy. Si korban hanya bersumpah serapah kepada Suzy.

“Cari tahu tentang dia. Dia pikir dia siapa? Dasar jalang tidak tahu diri!”teriaknya kepada ‘guard’nya.

***

Suzy mengambil tempat duduk nomor ke 6 dari depan. Cukup depan, pikirnya. Dirinya mengintrogerasikan dirinya kenapa untuk duduk di sini saja begitu repot, sampai harus ribut dengan gadis yang tak dikenalnya.  Dia kemudian membenarkan rambutnya yang berantakan karena ditarik tanpa ijin tadi dengan jemarinya kesal.

Seorang perempuan kemudian duduk di sebelahnya secara tiba-tiba. Suzy tentu bergejolak kaget melihat orang yang tak dikenalnya. Mungkin anak baru, pikirnya.

“Kau tadi berani sekali melawan anak tadi!”seru perempuan tak dikenalnya itu.

Suzy pun kebingungan, “memangnya tadi anak itu siapa? Lagipula seenaknya menarik rambutku dan mengejekku segala.”

“Kau tidak tahu? Dia salah satu anak yang paling dihormati di sekolah ini karena orangtuanya termasuk orang penting disini!”jelas perempuan tadi.

Suzy yang mendengarkan penjelasan anak baru itupun hanya bisa menelan ludahnya, “orang penting? Siapa namanya?”

“Bahkan dirimu tidak tahu siapa namanya? Dia itu Jung Soojung, salah satu siswa yang cukup penting di sekolah ini!”

Suzy terdiam membisu setelah mendengar sebutan ‘siswa penting’ di sekolah ini. Sepenting apa memang dirinya tidak tahu, tetapi jika sudah memiliki sebutan seperti itu biasanya mendapat kehormatan yang—cukup—tinggi. Sekali kau terikat dengannya dalam hal yang tidak baik, kau tidak akan diperlakukan baik-baik selanjutnya.

Mati kau, Suzy.

***

Berbekal bakat martial arts yang bisa mencengangkan setiap orang yang menonton, mengharuskan Myungsoo untuk tampil di upacara penerimaan siswa baru tersebut. Semuanya terlihat gugup dan tidak karuan untuk mengurangi rasa tidak percaya diri mereka, kecuali dirinya sendiri. Hanya duduk berpangku tangan sambil melihat orang hanya berlalu lalang untuk menyiapkan properti acara.

“Kau tidak khawatir dengan performamu nanti? Duduk diam bukan solusinya jika kau merasa demikian,”senggol teman di sebelahnya sambil menawarkan sekaleng soda.

“Bukan Kim Myungsoo namanya jika aku harus memiliki perasaan gugup,”jawabnya santai sambil menerima tawaran soda dari temannya.

Percakapan mereka sudah tidak berlanjut setelah itu. Lebih dari 10 tahun, ini merupakan percakapan tersingkat yang mereka miliki. Entah mengapa itu bisa terjadi, mungkin mereka saja yang tidak memiliki bahan pembicaraan lain.

“Bagaimana latihanmu dengan Chanyeol? Berjalan lancar?”tanya Myungsoo guna melumer suasana.

Jongin yang sejak tadi di sebelahnya hanya tersenyum miris, “lancar, mungkin sangat lancar.”

Myungsoo menanggapi jawaban sahabatnya hanya dengan anggukan yang cukup canggung.

“Kau tidak ingin mengungkit tentang pelatih memintaku untuk membuat pertunjukan solo kan?”tanya Jongin.

Myungsoo hanya tertawa kecil mendengar pertanyaan Jongin, “aku tahu aku hanya tampil untuk bidang kegiatan ekstra saja. Memang kuakui kalau dirimu lebih berbakat dariku.”

Hendak Jongin ingin menjawab pendapatnya, panitia sudah memanggil Jongin lebih dulu untuk mempersiapkan dirinya. “Aku duluan,”pamit Jongin singkat.

“Tetapi tak akan kubiarkan kau untuk mendapatkan dia,”ucap Myungsoo pelan sambil melihat punggung Jongin yang semakin menjauh dan meremas kaleng soda pemberiannya kesal.

To Be Continued

–flcevtp’s storyline

37 responses to “Between Dream and Future — Chapter 4

  1. Huuu ada apa dg mereka bertiga?? Mereka semua pada naksir suzy?? Ighh apalagi itu soojung..bener bener keterlaluan..seenaknya ajah mentang2 anak petinggi sekolah?? Iuehww..

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s