#6: Morning Talks – End of Talk

68-morning-talkss

END OF TALK:

MORNNG TALKS

Featuring Actor/Soloist Wu Yifan and miss A Bae Suzy

Alternate-Universe, slight!Angst, Hurt/Comfort, Romance, slice of Life | ficlet | general | disclaimer beside the story-line, I own nothing!

September 2015©

Beautiful poster belongs to Miss of Beat R @ The Angel Falls

.

Check out another Talk from: Rain, Sweet, Grumble, Sister, Night

..

.

Sekembalinya berkelana dari alam mimpi, sosok pertama yang hadir di saat ku membuka mata untuk mengawali hari adalah Bae Suzy.

Sosok ramping nan menawan itu kini tengah tersenyum kepadaku, memamerkan deret gigi putih berseri miliknya karena rajin sikat gigi. Surai legam sebahunya dibiarkan tergerai. Piyama kotak-kotak yang dikenakannya semalam sudah berganti dengan kemeja lengan panjang polos berwarna krem yang dilesakkan ke dalam rok landung berwarna hitam. Tangannya terjulur ke wajahku, mengusapnya pelan sebelum bibirnya mendaratkan kecupan selamat pagi di atas pipiku.

“Aku membuatkanmu bubur ginseng dengan suwiran ayam di atasnya, lho.” ucapnya dengan nada yang riang.

Mendengar salah satu menu sarapan favoritku disebut, bibirku berkedut. Gumpalan kegembiraan perlahan memuncak. Tentu saja karena aku sangat senang lantaran seminggu sebelumnya menu sarapanku hanya bubur yang hambar rasanya. Ia menyadari senyumanku yang tak kunjung luruh. Lengkungan mirip bulan sabit terekspos di atas kedua matanya.

Lesatan jemari Suzy yang lembut perlahan turun ke atas selimut yang menggelung tubuh kurusku. Sinar matahari pagi berhasil mencapai permukaan kulitku yang sepucat porselen, yang sebelumnya dikurung oleh selimut sutera berwarna hijau kelabu.

 “Aku tahu kalau kamu sudah bosan makan makanan yang hambar.” tutur Suzy tanpa mengalihkan fokusnya menyandarkan punggungku di kepala kursi.

Wajahnya yang hanya berjarak sekitar lima sentimeter dariku sontak membuatku lupa akan degenerasi yang perlahan menggerogoti tiap syaraf dalam tubuhku. Tautan kedua alis mata Suzy yang tebal seperti dua mata pisau yang siap mengiris apa saja. Kedua bola mata cokelat terangnya selalu menghipnotis agar aku tak lepas pandang darinya. Hidungnya yang bangir, bibirnya yang tipis, senyum matahari paginya; aku suka semua yang ada pada Suzy.

Kepada matras tak berpenghuni di sisi kananku yang kelewat empuk dan lembut, Suzy mendudukkan bokongnya. Kepala plontos yang sudah ditinggal pergi oleh anak-anak rambut milikku dibawa menuju pelukannya. Sekedar info saja, hal ini termasuk rutinitas pagi kami; merileksasi segala beban dengan bertukar obrolan–lebih tepatnya sepihak, sih–atau sekedar menghunus kesunyian dengan saling berpelukan seperti ini.

Suzy meletakkan jeda di kala ia sedang melenturkan otot lengan atas kananku. “Sesuai permintaanmu, hari ini semua jadwal kunjungan sudah dialihkan. Kunjungan anak-anak panti pun terpaksa dialihkan menjadi akhir pekan nanti.”

Sehabis ini, dia pasti akan bertanya mengapa. Yakin.

“Mengapa tiba-tiba seperti itu?” tanyanya tanpa melepaskan titik terapi yang ditujukan pada sendi-sendi tubuhku yang terasa kaku karena tidur tanpa pergerakkan semalam. Tunggu, agak aneh. Biasanya aku tidak merasakan sesuatu yang terjadi pada tubuhku. Ya, kecuali luapan emosi macam kupu-kupu renda yang menari salsa di dalam perut; setiap bersama dengan Suzy, aku sering merasa begitu.

Aku hanya ingin saja, tidak bolehkah?” jawabku melalui tatapan mata.

“Oh, begitu.”

Tentu saja bukan begitu, Suzy. Mengapa kamu tidak mengerti, sih? Juga, mengapa kamu tidak menanggapi kode–satu-satunya hal–yang hanya bisa kulakukan untukmu? Atau mungkin kamu memang tidak menyadarinya. Ah, itu mungkin benar. Ya Tuhan, apalah dayaku yang hanya bisa memberikan kode kepadanya?

“Yifan, “ Suzy berujar sembari mengibaskan selimut dari atas tubuhku kemudian melipatnya menjadi satu. Matanya pun mengunci aku yang lekat mengamatinya. “bolehkah aku juga mengosongkan jadwalku hari ini?”

Udara di dalam tubuhku menguap dan berubah bentuk menjadi cair kemudian mencuat dari pori-pori dahiku yang terpapar sinar mentari pagi. Aku meragukan keinginan Suzy melalui mataku. Kemudian, keraguan itu perlahan meredup lantaran Suzy yang melanjutkan dengan:

“Aku ingin menghabiskan satu hari penuh denganmu saja. Boleh tidak?”

Untaian alphabet selalu tercekat di ujung tenggoranku. Jadinya, kata-kata yang sudah kususun sedemikian rupa tidak pernah tersalurkan, yang ujung-ujungnya selalu tersimpan di dalam hati.

Memangnya aku seperti orang yang melarangmu, Sue? Tentu saja kamu boleh melakukannya, tidak, kamu malah wajib untuk melakukannya.

Suzy terlonjak senang. Kasur yang kami tumpangi berdua jadi bergoyang ke sana-ke mari. Begitupun tubuhku yang seperti agar-agar, ikut terbawa arus kebahagiaan gadis Bae tersebut. Sadar, ia telah melewati batas euphoria, Suzy pun menghentikan laju gempita dalam tubuhnya. Ekspresi yang tergaris di wajahku seolah frasa yang melafalkan kalau tubuhku merasa agak ngilu lantaran guncangan yang disebabkan olehnya membentur tubuh ringkih ini.

“Oh Yifan, maafkan aku. Tubuhmu pasti jadi agak nyeri karena ulahku yang berlebihan ini, sekali lagi maaf,” ungkapnya seraya menunjukkan ekspresi penuh sesal di atas wajah ovalnya.

Karena aku tidak bisa mengibaskan tangan, aku pun menjengit dengan susah payah; menandakan kepada Suzy kalau aku baik-baik saja. Entahlah. Maksudku, apa menurunkan kepala barang satu milimeter dapat dikatakan menjengit, sedangkan definisinya sendiri adalah tentang kepala yang bergerak-gerak turun naik.

“Yakinlah, kamu akan jadi seratus kali lebih baik daripada ini, Yifan. Kamu pantas mendapatkah lebih dari ini jadi bertahanlah.”

Apa ada yang lebih baik daripada kehadiranmu di sisiku setiap waktu tanpa harus kupinta?

Dekapan lagi-lagi menyelimuti ragaku. Epidermis kami saling bersentuhan, menimbulkan gesekan romansa yang hanya bisa dirasakan oleh kami berdua. Hangatnya menembus sampai ke tulang-tulang. Setiap sentuhannya, meresap hingga bertahan di setiap susunan neuron tubuhku.  Suzy menyenderkan kepala di atas dadaku. Lengan kanannya melingkari pinggangku.

“Kamu itu pemuda yang kuat, Yifan.”

Kurasa juga begitu, Sue. Dari luar penampilanku memang mirip agar-agar tetapi jika dilihat dari dalam, hatiku bisa dikatakan tergolong kuat.

Aku memang tidak bisa membalas setiap pelukan Suzy secara harfiah tetapi aku bisa membalasnya dengan cara lain; memberikan seluruh hatiku kepadanya. Aku pun sendiri tidak yakin kalau rasa cintaku bisa membalas segala kebaikan yang telah Suzy perbuat untukku. Hanya karena aku tidak yakin bukan berarti aku tidak mampu. Lagipula, Suzy bukanlah tipe wanita yang menganggap penampilan di atas segalanya–sungguh, penampilanku sebenarnya tidak buruk-buruk amat, kok.

Seperti pagi kesekian kali ini, yang tidak terhitung oleh waktu, dan kuhabiskan hanya dengan bersama seorang Bae Suzy.

TAMAT


a.n:

uwaaaah!!! alhamdulillah akhirnya talk series kelar ^^ terimakasih kepada teman-teman yang sudah mendukung dan menyukai series gaje ini🙂 terimakasih buat my lovely artworker, my ardani, atas kesediaannya menjadi sponsor utama poster2 Talk Series yang beautiful to the max :* :*

well, sampai ketemu di series selanjutnya ^^

 

2 responses to “#6: Morning Talks – End of Talk

  1. Cerita nya keren, bahasanya bagus, alurnya bagus… hoho…
    Ditunggu karya selanjutnya Authornim…
    Fighting…😀

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s