[Freelance] Kwajangnim Chapter 6

Title : Kwajangnim | Author : kawaiine | Genre : Angst, Family, Romance | Rating : PG-17 Main Cast: Kim Myungsoo, Bae Soo Ji, Choi Minho, Son Na Eun | Other Cast : Kim Soo Hyun,Lee Hyuk Jae [Eunhyuk] , Cho Kyuhyun,Choi Sulli, Kim Yoo Jung, Kim So Hyun, eTc

“This plot and story is pure from my mind. Sorry for typos, don’t be a siders and plagiator. Happy reading :*”

***

Seorang wanita paruh baya memasuki kantor polisi, ia tersenyum pada semua anggota kepolisian yang tengah sibuk memandangnya, ia kemudian menarik nafasnya ketika berada di hadapan pintu kepala instruktur kepolisian. Dengan segala keberaniannya ia masuk kedalam.

“Nyonya.” ujar kepala polisi tersebut.

“Aku ingin… kejadian kecelakaan di Gwangju yang menimpaku, kembali di selidiki. Berapapun akan ku bayar untuk ini.”

“Tapi…” wanita itu kini mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Kepala polisi itu terdiam.

“Maaf Nyonya, kami tidak bisa menerima ini.” ujar sang kepala polisi sembari menyerahkan amplop cokelat itu kembali ke tangan pemiliknya.

“Kami pasti menyelesaikannya untuk anda.” tambah polisi tersebut. Wanita itu tersenyum.

“Yeobo, kau sudah pulang? Ini masih terbilang siang.” Ibu Kim yang sedang menonton TV sontak menoleh pada suaminya yang kini melangkah masuk kedalam apartemen. Dilihatnya wajah suaminya yang sangat lelah, entah lelah—entah apa.

“Apa yang terjadi?” Ayah Kim hanya menggeleng. Memejamkan matanya.

Ibu Kim membulatkan matanya dengan sempurna, punggungnya yang masih terbilang kokoh untuk usianya kini terhempas ke sandaran sofa. Ia menghela nafasnya kasar, lalu menatap wajah suaminya dengan lamat-lamat.

“MWO? KAU?—“ Eunhyuk dan Kyuhyun berteriak kesetanan mendengar penjelasan Myungsoo, ya—Myungsoo yang kini tengah melipat kedua tangan di dadanya dengan sombong.

“Aisssh—ini tidak benar!” gumam Kyuhyun.

“Yaa! Hyung, apanya yang tidak benar? Jelas-jelas aku dan dia sadar saat melakukannya.” ujar Myungsoo.

“Kau berciuman dengan Kwajangnim, sedangkan aku belum pernah mencium Mi Ah—“ tutur Eunhyuk.

“Bagaimana rasanya?” tanya Eunhyuk penasaran. Myungsoo mendekatkan wajahnya ke  arah keduanya.

“Tidak dapat terdefinisikan, terlalu menyenangkan!”

“Dia tidak menolak?” tanya Kyuhyun. Myungsoo menggelengkan kepalanya.

“Berarti, dia menyukaimu sejak lama. “

“Ya, Kwajangnim memang menyukaiku sejak lama.Mungkin dia yang menggilaiku sekarang.” ujar Myungsoo. Kyuhyun dan Eunhyuk semangat memberikan ucapan selamat kepada Myungsoo.


Tuan Choi memasuki ruangannya, ini sudah satu minggu setelah perjanjian dengan HyunSteel, ia menutup pintu dengan kasar, tak lama kemudian putra berbaktinya masuk kedalam.

“Berapa banyak lagi yang belum terselesaikan?” tanya Tuan Choi dengan wajah murka.

“Sekitar 65% lagi, Appa.”

“Sulli, dimana anak itu?”

“Sebentar lagi dia akan kemari.”

Dan benar saja—yang diceritakan kini datang.

“Appa! Appa aku merindukanmu. Oppa, aku juga merindukanmu!” ujar Sulli dengan nada manja, Tuan Choi hanya menatap geram pada putrinya, Minho juga. Adiknya ini sangat kekanakan, dan pantas saja semua orang menilainya tidak baik untuk mengurus perusahaan, benar saja—disaat suasana genting seperti ini ia baru kembali dari liburannya.

“Kau tau? Kita sedang dibuat genting oleh HyunSteel. Dan  kau malah asyik dengan liburanmu. Keterlaluan.”

“Aku hanya refreshing, jadi apa yang harus aku lakukan? Appa memanggilku kesini karena aku harus melakukan sesuatu kan?” tanya Sulli.

“Kau harus mendekati Pemilik Hyunsteel, dengan begitu ia akan luluh dan tidak akan berani mengambil lagi dana yang ia berikan.”

“Tidak segampang itu, masalahnya… Sooji tahu Sulli dan tahu bagaimana kau mengendalikan perusahaan. Kau harus berhati-hati pada Soo Ji, ayah…” ujar Minho, Tuan Choi seketika terdiam dan mengangguk—benar juga. Bukankah Sooji yang membuat perusahaannya kebingungan seperti ini.

“Tapi apa salahnya mencoba terlebih dahulu, siapa tahu Kim Soo Hyun tertarik pada Sulli.”

Sulli tersenyum penuh arti—aku bisa melakukannya,Ayah.

Sooji terduduk di ruangannya sembari memeriksa berkas-berkas menumpuk di atas meja. Waktu sudah menunjukkan pukul 12, jam makan siang. Sooji melirik jam tangan perak di pergelangan tangannya, ia tersenyum lalu merogoh tasnya—handphone yang berdering.

“Aku baru saja akan turun kebawah. Jangan lupa makan siang, Oppa.” ucap Sooji sembari memainkan ballpointnya diatas meja. Sooji kemudian melanjutkan percakapan bersama siapa lagi jika bukan Myungsoo. Terdapat lengkungan senyum di wajahnya—gurat bahagia.

“Sooji-ssi—ayo kita—Oh, maaf.”

Soo Hyun, yang baru saja memasuki ruangan Sooji sontak menghentikan ucapannya ketika dilihatnya Sooji tengah menelpon seseorang. Sooji dengan cepat mematikan sambungannya lalu menoleh pada Soo Hyun.

“Oh—sajangnim.”

“Maaf aku mengganggumu.”

“Tidak—Ada apa kau kemari? Apakah masih banyak pekerjaan lain yang dikhususkan untukku?”

“Lupakan saja masalah pekerjaan—kita makan siang bersama. Bagaimana? Kau tidak akan menolakku kan? Seperti tawaranku ketika kau akan pulang.” Soo Hyun tertawa—bergurau. Sooji juga tertawa lalu keluar dari balik mejanya, ia kini berjalan menuju daun pintu diikuti Soo Hyun.

“Porsi makanmu sedikit sekali.” Soo Hyun menatap aneh pada makanan Sooji yang kini berada diatas meja.

“Aku tidak terbiasa makan banyak. Perutku sangat sensitif. Bagaimana denganmu, Sajangnim? Disini menyediakan banyak sushi dan sayur-sayuran. Tapi kau hanya memakan sedikit daging.”

“Aku tidak begitu menyukai sushi, ikan mentahnya—“ Soo Hyun mengerutkan wajahnya—tidak suka.

“Aku juga tak menyukai sayuran.” Soo Ji mengangguk.

“Sama sepertiku—Aku juga tak menyukai sayuran.” Soo Hyun mengangguk, ia dan Sooji kemudian memakan makanan diatas meja.

“Myungsoo akan menjemputmu lagi?” tanya Soo Hyun disela-sela kegiatan makannya. Sooji mengangguk.

“Apakah ia sangat peduli padamu?” Sooji kembali mengangguk.

“Ia terlalu khawatir terhadapku. Selalu khawatir.”

“Bagaimana bisa? Apakah kalian sudah berpacaran?” tanya Soo Hyun penasaran. Sooji mengangguk malu.

“Sudah seminggu yang lalu.” jelas Sooji, gerakan tangan Soo Hyun yang sedari tadi sibuk menggenggam sedotan dan mengaduk minuman di gelasnya mendadak terhenti—sama seperti dunianya,waktunya, terhenti.

 

“O—Oh, Chukkae.” Soo Hyun menatap kedua manik mata Sooji. Sooji hanya tersenyum malu. Soo Hyun tersenyum.

“Pipimu merah sekali.” gumam Soo Hyun,Sooji dengan cepat menempelkan kedua telapak tangannya di pipi kanan kirinya. Panas.

“Semoga kalian selalu bersama-sama.” ujar Soo Hyun.

“Terimakasih, Sajangnim.”

Minho mendesahkan nafas bosannya untuk kesekian kali setelah dirasa seseorang yang ia tunggu tak kunjung datang. Ia kini menyeruput mocha float miliknya. Diusapnya dahi yang berkeringat karena suasana panas—entah di hati—entah di bumi.

“Maaf aku terlambat.” Seorang gadis kini duduk di hadapan Minho, dengan tas dan baju berwarna senada, putih biru—Son Na Eun.

“Tidak apa-apa. kau sudah makan? Atau kau ingin memesan minum?” Na Eun menggeleng.

“Jadi, darimana kau mengetahui kabar itu?”

“Aku bertemu dengan adik Myungsoo. Ia berkata bahwa Myungsoo dan Sooji kini berpacaran. Mereka sering menghabiskan waktu di apartemen Sooji.” tutur Na Eun.

“Keterlaluan!” Minho terdiam. Na Eun juga.

“Sepertinya aku tahu yang harus kita lakukan.” Minho kini membisikkan sesuatu di telinga Na Eun.

“Bagaimana Nona Son?” Na Eun mengangguk mantap.

“Selama itu tak membahayakan Myungsoo Oppa. Aku siap melakukannya.” Minho tersenyum.

Myungsoo berjalan menuju halaman parkir. Dinaikinya motor besar berwarna hitam miliknya. Dengan suara motor yang bahagia ia kemudian menuju tempat kerja Sooji. Ini menjadi kegiatan rutinnya selama satu minggu terakhir. Menjemput Sooji, menemani Sooji. Benar saja yang dikatakan Sooji—Myungsoo ini terlalu khawatir akan gadisnya.

Sooji menghela nafasnya bosan ketika dirasa sepuluh menit Myungsoo terlambat dari waktu biasanya. Soo Hyun yang melihat Sooji berdiri dengan mantel berwarna cokelat dengan tas di tangannya hanya tersenyum.

“Myungsoo belum menjemput?”

“Ya, dia sudah terlambat sepuluh menit.” jawab Sooji sembari mengerucutkan bibirnya, Soo Hyun tertawa—lucu sekali gadis ini. Soo Hyun memandang Sooji dari samping. Dilihat dari sudut manapun gadis ini memang cantik bukan? Soo Hyun berfantasi, andai saja—ia yang menjadi pemilik—pemilik hati gadis disampingnya. Andai saja—gadis ini menyukainya. Tapi—tidak-tidak, ini tidak benar. Soo Hyun kemudian mengalihkan pandangan—membuang jauh-jauh pikiran liciknya.

Sooji berteriak kecil ketika Myungsoo dan motor besarnya mendarat tepat di hadapannya. Myungsoo mematikan mesin lalu membuka helm yang membungkus kepalanya. Sooji tersenyum. Tapi tak lama kemudian ia memukul bahu Myungsoo pelan.

“Kau terlambat—Oppa!”

“Kau terlambat , Myungsoo-ssi. Gadismu hampir saja menjadi incaran mobilku jika kau tak kunjung datang.” Soo Hyun bergurau, Myungsoo tertawa lebar seraya sedikit membungkukan badan—minta maaf.

“Ayo!” Sooji kini beranjak naik keatas motor Myungsoo. Soo Hyun hanya tersenyum. Melihat pasangan muda ini—rasanya sangat bercampur.

“Oh—Sooji-ssi, Myungsoo-ssi chakkaman.” Soo Hyun kini menghentikan motor myungsoo yang hendak melaju.

“Ya, Sajangnim?” tanya Sooji.

“Lusa adalah akhir pekan, bagaimana dengan mengunjungi rumahku? Kau juga—Myung, kau bisa mengajak kedua temanmu yang sewaktu itu bertemu di seminar teknisi nasional. Bagaimana?”

Sooji melirik Myungsoo dengan sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan, Sooji mengangguk. Myungsoo hanya menjawab dengan anggukan lalu memberikan jempolnya pada Soo Hyun. Tanda setuju.

“Baiklah, hati-hati.” ujar Soo Hyun sebelum motor besar Myungsoo maju melesat menembus jalanan.

Myungsoo dan Sooji kini tiba di hadapan pintu apartemen masing-masing. Myungsoo menatap Sooji, Sooji tersenyum. Myungsoo dengan cepat menghampiri Sooji lalu memeluknya. Sooji merasakan ada sesuatu yang ganjil di pelukan Myungsoo yang semakin lama semakin erat. Seakan pelukannya hanya untuk hari ini saja. Sooji tersenyum kembali saat Myungsoo melepasnya.

“Wae?” tanya Sooji lembut. Myungsoo menggelengkan kepalanya pelan, tangannya terulur mengusap pipi Sooji.

“Aku hanya merindukanmu.” jawab Myungsoo. Sooji tertawa pelan.

“Aku tidak kemana-mana. Aku ada disini.” jawab Sooji. Myungsoo tersenyum.

“Masuklah, aku akan mengunjungimu setelah makan malam nanti.” ujar Myungsoo. Sooji mengangguk lalu memasuki apartemennya. Myungsoo tersenyum lalu melakukan hal yang sama. Dilihatnya apartemennya yang sepi, hanya suara tv yang memenuhi ruangan tapi seperti tak berpenghuni—ini kebiasaan buruk So Hyun dan Yoo Jung, menonton tv tapi tidak ada di tempat.

“Oppa kau sudah pulang?” tanya So Hyun yang kini sedang membereskan barang-barang entahlah.

“Kemana Ibu dan Ayah?” tanya Myungsoo.

“Ibu dan Ayah mengunjungi nenek ke Seonbichon. Oh ya, Oppa…Kami ada acara berkemah malam ini, lusa pagi kami pulang. Boleh kan? Eomma dan Appa saja sudah menandatangani suratnya.” ujar Yoo Jung, Myungsoo mengangguk.

“Baiklah. Tetapi—“

“Berhati-hatilah ketika malam menjelang, para laki-laki di acara perkemahan selalu mencuri kesempatan.” ujar So Hyun, Myungsoo terkekeh pelan.

“Kami pasti berhati-hati,Oppa. Seperti kalimat itu—yang selalu kau ucapkan ketika kami akan berkemah.” ujar Yoo Jung. Myungsoo mengacak kedua rambut adiknya gemas.

“Yeobo… Apakah Sooji tidak pulang?” tanya Nyonya Bae ketika dilihatnya Tuan Bae yang baru saja masuk kedalam rumah.

“Tidak, ia tidak mungkin akan pulang.” jawab Tuan Bae santai.

“Aku merindukannya.” ujar Nyonya Bae, ia menatap foto ceria Sooji di dinding kamarnya.

“Sooji itu gadis pintar, ia sedang mengatur rencana yang tidak kita ketahui.” Nyonya Bae mengerutkan dahinya bingung.

“Ia berhasil membuat perusahaan Tuan Choi genting.” jawab Tuan Bae setelah dirasa istrinya tak mengerti.

“Dengan deadline 2 minggu, itu sangat tidak mungkin dapat menyelesaikan proyek dengan mudah. Dan  kau tahu, pengobatanmu kemarin—Sooji yang menjebak Minho.” Nyonya Bae terdiam—sebenarnya terkejut.

“Sooji kini bekerja di Hyunsteel, kau tentu tahu kan?” Nyonya Bae mengangguk.

“Bagaimana bisa Sooji menjebak Minho?” tanya Nyonya Bae penasaran.

“Ketika ia dipaksa kembali, ia ingin Minho menjanjikan sesuatu untuknya, yaitu untuk membayar semua biaya pengobatanmu hingga akhir, jika kau kembali sakit lagi—kita tak perlu membayar. Karena semuanya sudah ditanggung Minho. Ia sangat tahu keadaan Ayahnya dimasa mendatang. Sebentar lagi perusahaan tuan Choi akan habis. Aku tak mungkin akan bekerja lagi.”

“Tapi—Sooji?”

“Dia akan baik-baik saja—bersama Kim Soo Hyun, pemilik Hyunsteel.”

Sooji kini sedang mencuci piring setelah makan malamnya bersama Myungsoo. Sooji melepaskan apron yang membalut tubuhnya lalu segera mengambil sapu. Myungsoo sedang membereskan buku-buku dan majalah.

“Oppa, jadi Ibu dan Ayah pergi untuk berapa lama?”

“Aku tidak tahu. Mungkin sekitar 3 atau 4 hari. Biasanya seperti itu.”

“Selama ibu tidak ada, biar aku saja yang menggantikan pekerjaan rumah.” ujar Sooji yang kini masuk kedalam kamar So Hyun dan Yoo Jung, untuk sekedar melihat kamar itu rapi.

“Jadi, kau akan menemaniku disini?” tanya Myungsoo, Sooji yang kini sedang masuk kedalam kamar Ibu dan Ayah Kim menyetujui. Sooji membereskan beberapa benda yang berserakan dilantai kamar. Dilihatnya sebuah gelang berwarna hitam dan abu-abu diatas ranjang, Sooji kemudian memasukan gelang itu kedalam laci.

“Baiklah, Sooji-ah, kemari.” Sooji kini menghampiri Myungsoo, duduk tepat di hadapan pria ini. Myungsoo menatapnya lamat.

“Terimakasih telah peduli padaku maupun keluargaku.” Sooji tersenyum mendengar pernyataan Myungsoo. Myungsoo mendekat pada Sooji, mata mereka bertemu. Jantung masing-masing berdegup kencang. Myungsoo semakin mendekatkan wajahnya pada Sooji, Sooji memejamkan mata setelah dirasa sesuatu seperti malam kemarin menempel di bibirnya. Dan mereka kembali—kembali masuk kedalam dunia cinta berdua.

Na Eun memasuki ruangan kelas mengajarnya dengan sedikit cemas. Pikirannya kalut, pertanyaan-pertanyaan muncul begitu saja ketika Minho kemarin membicarakan sesuatu padanya. Ini sudah pukul 3 sore, artinya satu jam lagi ia harus memulainya.

Myungsoo melirik jam tangan di pergelangan tangannya, ia tersenyum dan segera melangkah menuju lapangan parkir, tiba-tiba handphone-nya berdering—ia tersenyum, tapi sedetik setelah melihat siapa yang meneleponnya ia melipat dahi, siapa?

 

“Myung—Oppa—hhh…” terdengar suara gadis yang Myungsoo kenali, nafas yang terengah-engah seperti sesak, Myungsoo mencoba bersikap biasa—melawan egonya. Ia tidak mau mengkhianati Sooji.

“Wae? Apa yang terjadi padamu?” tanya Myungsoo—nada khawatirnya memang tidak dapat di hilangkan.

“Aku terkunci di tempat les—dan api—api itu…” Naeun berbicara semakin pelan—nafasnya tercekat. Caranya ini salah—membahayakan dirinya, terlebih jika Myungsoo tidak datang dan membantunya.

Sooji mendengus kesal, akhir-akhir ini Myungsoo sangat suka terlambat. Tapi ini adalah keterlambatan yang paling menyebalkan. Myungsoo terlambat satu jam—satu jam Myungsoo yang seharusnya untuk Sooji. Sooji berjalan hendak keluar dari kawasan kantor, ia sangat membutuhkan Soo Hyun sore ini, ya—andai saja bosnya itu tidak ke Ulsan untuk pertemuan bisnis—mungkin saja ia bisa menumpang untuk pulang. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di hadapan Sooji, Sooji yang mengetahui pemiliknya hanya terdiam, sebal. Mengapa harus ada manusia bernama Choi Minho dengan sifat yang menyebalkan.

“Sooji-ah, ibumu!” teriak Minho ketika keluar dari mobil, Sooji membelalakan matanya. Sama seperti Myungsoo, ia juga mencoba bersifat seadanya—tapi ini ibunya.

 

Myungsoo dengan cepat mengumpat pada sopir ambulance yang menyetir dengan sangat lambat. Ia hanya peduli sebagai seorang teman—seorang adik. Bagaimanapun Naeun adalah gadis desa yang tiba-tiba berada di kota. Naeun kini tampak terbatuk-batuk, Myungsoo memperhatikan wajah gadis itu sekilas—wajah yang menyimpan seribu rahasia.

Sooji berlari kedalam koridor rumah sakit tanpa memikirkan Minho yang kini sibuk meminta maaf pada siapapun yang Sooji tabrak. Minho harus menahan rasa malunya ketika ia meminta maaf pada seorang kakek di kursi roda yang pegangannya terlepas dari sang cucu karena ditabrak Sooji, alhasil kakek tersebut berteriak kesetanan. Sooji memasuki ruangan VIP untuk kesekian kalinya—tapi suster yang menjaga hanya menyuruhnya untuk diam di luar—ibunya sedang di periksa. Penyakit kanker lambungnya benar-benar membuat Nyonya Bae setiap kali harus mengalami ini—mual-mual, Nyonya Bae sebetulnya diperbolehkan makan,tetapi makanan khusus. Nyonya Bae hanya ingin makan—jika ia bersama Sooji.

“Kau cepat sekali.” ujar Minho yang kini ambruk di kursi sebelah Sooji. Sooji memilih diam—ia malas berurusan kembali dengan pria ini.

“Kau sangat beruntung dapat bekerja disana.” Sooji menatap Minho, namja ini sangat berisik.

“Diamlah, lebih baik kau pikirkan hari senin yang akan datang. Deadline proyek itu, ku harap kau tidak lupa atau sengaja melupakannya.” Sooji bangkit dari duduknya, ia berjalan hendak keluar—untuk sekedar membeli makanan—pasalnya karena pekerjaan yang menumpuk ia tak semat makan siang. Tapi—Sooji menghentikan langkahnya. Minho di belakang tersenyum. Sooji melihat Myungsoo yang kini sedang berada disamping Naeun yang terbaring lemah. Jadi ini—apa sebenarnya? gumam Sooji dalam hati.

“Ku dengar dari Mi Ah, kau berpacaran dengan putra kepala polisi yang—hanya tinggal di apartemen sempit dan hidup seadanya—dan ia adalah teknisi kantorku bukan? Ia—yang sedang dibelakang menghianatimu.” Sooji menahan air matanya, matanya memerah. Hampir saja lolos, tapi Sooji memilih diam.

“Lebih baik kau pikirkan kembali jika akan bersama orang seperti itu. Teknisi hanya memiliki gaji yang rendah.” Sooji ini tidak suka jika ada orang yang menjelek-jelekan profesi orang lain. Ia geram, dilayangkannya tas hitam Sooji pada wajah Minho.

“Sekali lagi kau berbicara seperti itu, aku akan menyiksamu.” ujar Sooji, ia segera meninggalkan Minho setelah dilihat dokter keluar dari ruang dimana Nyonya Bae dirawat.

“Ia baik-baik saja, hanya ia susah sekali memakan sesuatu. Baik, kau boleh masuk.” Sooji tidak perduli dnegan ucapan dokter tersebut, Sooji kemudian menarik kakinya untuk melangkah kedalam, dilihatnya Nyonya Bae yang tertidur lemah.

“Eomma…Aku disini.” Nyonya Bae membuka matanya—ia tersenyum ketika dilihat siapa yang mengunjunginya. Ia mengulurkan tangan halusnya pada pipi Sooji, mengusap pelan pipi yang sedikit gembil tersebut.

“Aku akan menemanimu sampai sembuh. Maafkan aku…” Sooji berkata lirih—ia menangis keras—entah karena apa.Padahal ini hanya tentang kesehatan Nyonya Bae, tetapi tangisannya begitu luar biasa.

Myungsoo berkali-kali mendengus. Ia kini berjalan mundar-mandir di koridor ruangan perawatan Na Eun, dilihatnya namja mantan kekasih Sooji dari jauh, Ia mengenalinya—siapa lagi jika bukan Choi Minho.

“Kau mengenalku bukan?”

“Hem…ya.” Myungsoo hanya menjawab seperlunya.

“Jangan berharap Sooji akan kembali bersamamu. Ia sudah milikku. Sooji ada bersamaku, aku yang menjemputnya dan membawanya kemari.”

Myungsoo memukul dahinya pelan—ia lupa bahwa ia harus menjemput Sooji. Ia hendak menemui Sooji di ruang VIP, tapi dokter dengan cepat menembus kecepatan Myungsoo. Myungsoo terpaksa menghentikan langkahnya.

“Nona Son sudah membaik, ia hanya memiliki peradangan di pernafasannya, karena terlalu banyak asap yang ia hirup. Tapi jangan khawatir, ini tidak berbahaya dan ia akan segera pulih.” ujar sang dokter, Myungsoo hanya mengangguk ia lalu segera berlari keruang VIP, dilihatnya Sooji disana, sedang tertidur disamping ibunya. Matanya sedikit bengkak, Myungsoo tahu Sooji pasti sudah menangis. Nyonya Bae yang menyadari kehadiran Myungsoo melirik pada Myungsoo lalu tersenyum, mempersilahkan Myungsoo masuk.

“Apakah bibi sudah sedikit membaik?” tanya Myungsoo, ini pertemuan perdananya dengan Nyonya Bae.

“Terimakasih telah menjaga Sooji kami…Myungsoo-ssi.” Myungsoo tersenyum mengangguk, Nyonya Bae menatap putrinya yang sedikit bergerak, Sooji mungkin saja mendengar. Tak lama kemudian Sooji membuka matanya, Nyonya Bae tersenyum.

“Sooji-ah aku bisa—“ ucap Myungsoo, Sooji hanya memalingkan wajah. Myungsoo mendekatinya, namun Sooji memilih menjauh. Nyonya Bae merasa heran, ia hanya menyaksikan, dan Minho juga menjadi penonton yang tersenyum-senyum, merasa usahanya berhasil.

“Aku sedang tidak ingin mendengar apapun,Oppa. Pulanglah, ini sudah hampir malam.” Sooji dan Myungsoo kini berada di sudut ruangan. Menghindari Nyonya Bae yang sedang keheranan.

“Ini tidak seperti yang kau lihat Sooji-ah…Aku tidak ingin pulang—aku akan pulang hanya bersamamu.” Sooji tertawa getir—tersenyum luka.

“Lalu, menurutmu siapa yang aku lihat tadi? Yang dengan penuh kecemasan mengantarkan mantan kekasihnya tadi…menurutmu itu siapa,Oppa? Aku akan disini menunggu ibuku hingga sembuh. Maaf, aku tak akan pulang bersamamu.” jawab Sooji, hatinya sakit mengingat kejadian tadi. Matanya tidak tahan lagi, tapi ia menahannya. Tangannya semakin bergetar. Myungsoo yang melihat tangan Sooji bergetar memilih menggenggam tangan Sooji—tapi Sooji menepiskannya dengan kasar.

“Pulanglah Oppa.” Sooji sebenarnya sakit harus mengusir Myungsoo, Myungsoo sudah membujuk Sooji untuk membicarakan ini kembali di luar, tapi Sooji memilih untuk tidak mendengar penjelasan apapun dari Myungsoo sekarang. Sepertinya kejadian tadi cukup jelas—dan tak ada penjelasan lain untuknya. Myungsoo menyerah, ini sifat keras kepala Sooji yang harus ia luntuhkan, ia memilih mengalah. Kini Myungsoo melangkahkan kakinya keluar, sebelum keluar ruangan ia berpamitan pada Nyonya Bae, dan jangan lupakan Sooji yang kini terisak di sudut ruangan. Minho tersenyum puas.

Malam semakin menuju penghabisannya, ini sudah tengah malam, tetapi Myungsoo belum kunjung tidur, ia masih setia bercerita pada kedua sahabatnya. Eunhyuk dan Kyuhyun hanya memandang Myungsoo haru.

“Ya! bukankah ini aneh?” ujar Kyuhyun, Eunhyuk dan Myungsoo menoleh pada Kyuhyun—maksudnya?

“Secara kebetulan—memang ini kebetulan yang aneh, Myungsoo bertemu kembali dengan Naeun dan Naeun masuk ke rumah sakit gara-gara kebakaran yang menyambar tempat lesnya. Minho mengabari Sooji bahwa ibu Sooji masuk ke rumah sakit. Dan waktunya juga tidak berbeda jauh.”

“Maksudmu, Naeun sengaja membakar tempat lesnya? Dan Minho sengaja membuat Nyonya Bae masuk ke rumah sakit? Sehingga Myungsoo dan Sooji bertemu di rumah sakit, lalu terjadilah salah paham seperti ini.” tutur Eunhyuk.

“Yaa! tapi Naeun bukan yeoja yang gila, ia sengaja membakar tempat lesnya untuk menarik perhatian Myungsoo. Tapi—bisa saja ini memang kebetulan penyakit Nyonya Bae sedang kambuh.”

“Kau tahu kan? Minho itu banyak uang. Ia bisa saja bertemu dengan Naeun terlebih dulu sebelum ini—dan sepertinya Minho akan mengganti kerugian finansial yang Naeun alami.” ujar Myungsoo, Kyuhyun mengangguk, Eunhyuk juga.

“Kita lihat 5 hari kedepan. Atau—disaat Naeun kembali membuka tempat lesnya.”

Sooji melangkahkan kakinya memasuki lift apartemen, ia membuka pintu apartemennya, jangan lupakan mata Sooji yang sempat melirik pada apartemen Myungsoo. Sooji memasuki apartemennya, ia segera mengemasi baju-bajunya. Hanya sedikit baju, ia hanya akan menginap beberapa hari di rumahnya menunggu Nyonya Bae membaik. Sooji melihat balkon yang terbuka, ia mengingat kejadiannya bersama Myungsoo beberapa minggu lalu. Membuatnya tersenyum lirih. Sooji dengan cepat keluar dari apartemennya, ia menutup pintu dengan sedikit kasar—lalu ia menghela nafas berkali-kali. Mengingat ucapan ibunya…

“Dengarkanlah penjelasan Myungsoo terlebih dahulu—kau jangan mau terkalahkan oleh emosi,sayang. Itu hanya akan membunuhmu sendiri,membunuh hatimu.”

Sooji kini hendak menghampiri pintu apartemen Myungsoo, namun sang pemilik kini sudah keluar dari balik pintu. Ia sempat melirik Sooji, Sooji terdiam kaku.

“Sooji-ah…” Sooji berusaha tersenyum, Myungsoo menghampiri Sooji. Tanpa pikir panjang kembali Sooji dan Myungsoo kini memasuki apartemen Myungsoo.

Sooji memberikan segelas cokelat panas untuk Myungsoo, kini mereka berdiri di balkon apartemen. Sooji memilih diam. Menunggu Myungsoo yang menjelaskannya terlebih dahulu.

“Sooji-ah…Aku,tidak bermaksud seperti ini—aku sebenarnya di telpon oleh Naeun pada saat aku akan menjemputmu. Jika kau mendengar Naeun di telpon saat itu—ia benar-benar menyedihkan, dengan nafasnya yang tercekat. Lalu aku memutuskan untuk meninjau tempat lesnya, tempat lesnya terbakar.”

Sooji menahan nafas, ia kemudian menghembuskannya pelan.

“Aku—Mungkin alasan Naeun ke Seoul adalah untukku, aku kasihan melihatnya, melihat Naeun yang hanya sendiri di Seoul. Ia tidak memiliki siapa-siapa. Maafkan aku, aku tidak dapat menyembunyikan rasa cemasku padanya. Maafkan aku Sooji-ah…” Sooji memilih tersenyum. Jadi seperti ini kejadian sebenarnya, ia kini paham, rasanya seperti puzzle yang lengkap.

“Maafkan aku yang terlalu cepat emosi kemarin, Oppa.” Myungsoo tersenyum, ia senang akhirnya gadisnya mau berbicara padanya.

“Gwenchana—aku mengerti.”

“Tapi—Sooji-ah, bisakah kau percaya padaku? Jangan pernah meragukanku kembali. Semenarik apapun wanita-wanita disana, hanya kau yang memiliki ini.” Myungsoo meraih tangan Sooji, lalu menempelkannya di dada bidang miliknya, Sooji mengangguk.

“Aku membenci Minho, kau tentunya tahu Oppa, aku tak akan mudah kembali jatuh kepadanya.” Myungsoo tersenyum. Sooji juga tersenyum. Myungsoo kemudian menatap lamat-lamat wajah cantik Sooji, Myungsoo kemudian mendekatkan wajahnya pada Sooji, Sooji hanya bisa memejamkan matanya. Myungsoo menarik Sooji mendekat padanya sebelum ia berhasil mencium bibir Sooji kembali. Ciumannya tampak berbeda—ciuman yang sangat menenangkan—ciuman kerinduan.

Sementara…
Yoo Jung dan So Hyun…

“Oppa, apakah kau benar-benar berniat meracuni pikiran kami?” gumam mereka berdua pelan.

-TBC-

Annyeong, ada yang kangen ff ini? Maaf ya, gara-gara semester 3 yang menjengkelkan aku jarang update lagi, tugasnya numpuk huhu ketambah aku jurusan teknik, sulit sih hehe…tapi ya gini, weekend curi-curi waktu nerusin ff. Makasih buat yang selalu nungguin ff ini yaa~ budayakan comment/like setelah membaca ya readers… hehe😀 See u in chapter 7😀

68 responses to “[Freelance] Kwajangnim Chapter 6

  1. adeknya myungsoo dijaga myungsoo banget biar gak ada racun dipikiran mereka, eh malah yang ngeracunin pikiran mereka myungsoo sendiri aigoo…
    seneng deh myungzy bisa berpikiran dewasa..
    sis oohyun suka sama suzy yaa

  2. Aduh sudah kuduga choi&son itu benar-benar licik. Heh untung saja myungzy bisa kembali berbaikan.

    Yaaa, tanpa disadari ternyata soohyun juga menyukai suzy. Tapi dia tidak licik untuk memiliki suzy, ia masih sadar bahwa suzy telah memiliki kekasih.

    Dan semoga soohyun tidak akan mudah jatuh pada perangkap keluarga choi melalui sulli, mengingat rencana picik mereka.

  3. Perasaan tiap kali myungsoo sama suzy kisseu ketahuan mulu sama adek-adeknya myungsoo wkwkww.

    Heishh si minho ga ada habisnya gangguin suzy sama myungsoo, dan sekarang dia manfaatin naeun buat bantu dia hancurin hubungan myungsoo sama suzy

  4. hahaha suzy myungsoo ke pergok muluuu..
    soo hyun disaat kau memiliki kesempatan jau malah menghilang.. hahah penasaran sama soo hyunnya masa hahahah..

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s