[Freelance] Windmill Chapter 1/3

Poster

Title : Windmill | Author : kawaiine | Genre : Angst, Family, Marriage-Life, Romance | Rating : PG-17 Main Cast : Bae Sooji, Kim Myungsoo | Other Cast : Bae Irene, Aleyna Yilmaz a.k.a Han Areum (OC)

“Hello, I’m back with new ff, kkk… sorry for typos,bad story,and bad poster. Don’t be a siders and plagiator. Happy reading guys, hope you like it. Enjoy^^,”

Inspired by K-Drama Yong Pal.

 

Author POV
Siapa yang tak menyukai tempat ini? Bukit angin yang begitu luas dan hijau. Siapapun merasakan—disini tempat untuk berbagi ketenangan,ditemani semilir angin yang lembut dan udara yang sangat sejuk. Terlebih jika datang bersama orang yang dicintai—atau…jatuh cinta ditempat ini.

Seorang wanita muda turun dari mobilnya, ia kemudian membukakan pintu di sampingnya—dan turunlah seorang anak perempuan dengan anggunnya. Wanita itu kini menuntun putrinya untuk memasuki kawasan bukit angin, setelah sampai di spot yang menurut mereka adalah spot terbaik, mereka berdua sama-sama merentangkan tangannya,saling memejamkan mata,merasakan semilir angin yang menembus dan menggerakkan anak-anak rambut.

“Eotte?” tanya wanita ini—Sooji.

“Aku menyukainya, Eomma.” jawab putrinya, ia kemudian menampilkan senyum manisnya.

“Bagaimana jika setelah ini kita ke peternakan disana? Aku selalu mendengar dari teman-temanku disana bahwa banyak sekali kambing dan sapi.” Sooji mengangguk, menyetujui permintaan putrinya. Putri kecilnya—Han Areum, putri yang sangat ia cintai meski lahir bukan dari rahimnya.

Sooji dan Areum kini berjalan menuju peternakan, mereka diajarkan bagaimana caranya berternak kambing,memberi makan dan memandikannya. Areum anak yang cukup aktif dalam bidang ini, Sooji tak henti-hentinya memotret putrinya,ekspresi Areum benar-benar lucu saat memandikan kambing dan terkena cipratan air disana. Ini benar-benar menyenangkan—Sooji dan Areum setidaknya bisa terlepas dari belenggu yang selalu mengikuti mereka—yaitu para bodyguard yang selalu menjaga mereka dan mengikuti kemanapun Sooji dan Areum pergi, bodyguard yang tak terhitung berapa jumlahnya, Areum pengingat yang baik, tapi ia tak mampu mengingat siapa saja nama bodyguardnya. Siapa yang tak kenal dengan Gutamyeo Group, pemilik sahamnya adalah wanita ini—Sooji. Ia dilahirkan dari keluarga kaya raya, ayahnya pemilik Gutamyeo Group, ibunya merupakan orang yang menjadi alasan dibalik suksesnya setiap perusahaan yang Tuan Bae pimpin. Nyonya Bae merupakan orang yang penuh strategi,cerdas dan pandai mencari solusi. Tetapi mereka berdua sudah empat tahun lamanya meninggalkan dunia ini—meninggalkan Sooji bersama kakaknya—Bae Irene. Kedua orang tua Sooji mewariskan Gutamyeo Group pada Sooji, karena tahu bahwa Sooji bisa mengelolanya dengan baik. Potensi Sooji tidak perlu diragukan lagi, ia menjadi alasan dimana Gutamyeo Electric menjadi perusahaan listrik kedua terbesar di Asia. Berbeda dengan Irene yang kerap kali selalu mengalami kegagalan dalam bisnisnya, Gutamyeo Hospital, Irene tidak mengelolanya dengan baik sehingga Tuan dan Nyonya Bae lebih mempercayai Sooji—dan siapa sangka kepercayaan itu pada akhirnya akan berakhir dengan kejahatan.

“Yeoboseyo?” handphone Sooji berbunyi sedari tadi, Sooji yang tengah asyik bermain bersama Areum lupa mematikan ponselnya, sejujurnya hari ini ia tak mau diganggu oleh pekerjaannya yang sangat melelahkan. Sooji melirik Areum yang tengah menatap padanya, Areum kemudian menggerakkan tangannya, menyuruh Sooji pergi. Sooji kemudian menerima teleponnya tidak jauh dari kawasan peternakan.

Han Areum—putri dari Jibsa (pelayan) yang melayani Sooji sedari kecil, Jibsa Jung meninggal saat hendak pulang ke Tongyeong,daerah asalnya. Ia meninggalkan putrinya yang masih kecil—masih berusia 10 bulan. Sooji sangat prihatin dengan kejadian ini—hingga ia memutuskan untuk mengadopsi Areum. Berharap bahwa masa depan Areum akan baik di tangannya, dan benar saja—di usia Areum yang ke Sembilan ini Areum selalu menjadi juara kelas, ia pengingat yang baik, ia sangat suka hal-hal berbau buku, ia sangat suka membaca, terlebih dengan buku komik. Areum kini menatap sekelilingnya, dilihatnya Sooji yang masih menelpon dengan siapalah—entah—yang Areum tahu selama ini Sooji berbisnis. Bisnis yang memusingkan. Areum membulatkan matanya lalu tersenyum ketika melihat sesuatu yang sangat menarik perhatiannya. Ini adalah bulan berlibur—dimana anak-anak sekolah banyak mengunjungi bukit angin untuk belajar berternak, dan disana—di dekat kincir angin—Areum berlari lalu menepi.

“Chaa~ jadi disini aku akan mendongeng tentang buku ini.” ujar seorang pria berjas putih—seperti seorang dokter. Areum memasuki celah-celah kesempatan dimana ia bisa duduk dan mendengarkan dengan baik, Areum kini duduk di barisan paling depan. Di belakangnya terdapat anak-anak lain yang juga penasaran. Suara tawa dan canda terdengar jelas disana, terdengar pula tawa dari Areum—tanpa ia sadari sang Eomma tengah kebingungan mencarinya.

“Benarkah Ahjussi tidak melihat putriku?” tanya Sooji penuh selidik pada Ahjussi yang tadi mengajarkan Areum memandikan kambing-kambing.

“Maafkan kami, Nyonya… Tapi kami benar tak melihatnya.” Sooji mendengus kesal, ia kemudian berjalan-jalan menelusuri bukit angin, mencari putrinya yang menghilang, berteriak dengan lantang nama putrinya, bertanya pada setiap orang tentang ciri-ciri putrinya, siapa tahu saja ada yang melihat. Sooji mencari ke  arah timur, Sooji tahu bahwa Areum sangat menyukai juga hal-hal berbau ski. Disini ada rumah ski yang cukup terkenal, tapi nihil—Areum tak  ada disana. Ini sudah hampir memasuki waktu senja, Sooji terus mencari ke arah terakhir—arah barat. Dilihatnya banyak anak-anak yang tengah berkumpul—Sooji tersenyum, menyimpan harapan semoga saja Areum berada disana.

“Ahjussi, sebenarnya Ahjussi adalah dokter atau guru? Jika Ahjussi memang seorang dokter, mengapa sangat pandai bercerita seperti ini?” tanya seorang anak laki-laki, Areum memutar otaknya, ia ingin menjawab. Pria itu kini terlihat kebingungan—Areum mencoba membantu menjawab setelah dilihatnya raut wajah pria tadi yang sangat bingung.

“Itu sama saja ibarat kau bisa menulis tapi kau juga bisa membaca. Seorang dokter harus pandai bercerita dan menjelaskan. Terlebih lagi jika ia menangani pasien anak-anak. Betul kan, Ahjussi?” ujar Areum, pria ini tersenyum, mengangguk. Bangga sekali pada anak perempuan berusia Sembilan tahun ini. Anak-anak yang tadi berkumpul kini meninggalkan kumpulan satu persatu, terkecuali Areum. Ia berdiri tapi kebingungan.

“Kau tidak pulang?” tanya pria itu pada Areum. Areum menggeleng.

“Aku sepertinya kehilangan Eomma. Eomma pasti mencariku, tapi aku tak tahu harus kemana Ahjussi.”

“Baiklah, kita cari bersama Eomma-mu. Siapa namamu?” Areum mengangguk.

“Han Areum. Kau?”

“Kim Myungsoo.” jawab Myungsoo dengan senyumannya, ia kemudian menuntun Areum untuk kembali ke peternakan, dimana terakhir kali Areum bersama ibunya. Tapi tak lama—seseorang memanggil Areum.

“Han Areum.” pekik wanita itu yang kemudian langsung berlari menghampiri Areum. Areum tersenyum, menghampiri sang Eomma, Myungsoo juga mengikuti langkah Areum.

“Eomma mencarimu. Kau kemana saja?” tanya Sooji penasaran, Areum menunduk—takut ibunya akan marah.

“Chogi—Areum Eomma… Areum tadi mendengarkanku mendongeng disini. Sepertinya ia terlalu asyik mendengarkan hingga ia lupa waktu. Ini salahku, aku minta maaf. Jangan salahkan Areum.” Myungsoo membungkuk, meminta maaf. Ia tahu betul dari gerak-gerik Areum,Areum takut dimarahi.

“Ah—Gwenchana, uri Areum sangat menyukai hal-hal sastra. Jadi, aku sebagai ibunya selalu mendukung apapun yang ia sukai. Tak perlu meminta maaf, Euisanim.” Myungsoo kemudian tersenyum, ia memperhatikan garis-garis wajah wanita di hadapannya, masih terlalu muda untuk dikatakan telah memiliki seorang anak.

Malam hari menjelang, bintang-bintang berkelip telah datang. Sinar rembulan jelas diatas sana, menambah keindahan langit di malamnya. Bukit angin semakin terlihat mempesona, banyak sekali lampu lampu yang berkelip di sekitar bukit maupun di bawahnya. Lampu-lampu di sekitar kota terlihat dari atas bukit angin. Hal ini yang menjadikan Sooji masih duduk disini—menatap bintang, dengan Areum—tidak, dengan Myungsoo. Areum kini sedang bermain bersama putri pemilik peternakan.

“Jadi—kau adalah dokter?” tanya Sooji, Myungsoo mengangguk.

“Ya, aku adalah dokter, tetapi aku sangat suka mendongeng. Bagaimana denganmu? Apa kau bekerja Areum Eomma?” Sooji tersenyum.

“Ya, aku bekerja. Namaku Sooji, kau?”

“Oh—Kim Myungsoo. Jadi, Sooji-ssi… Apakah Areum Appa tidak bekerja sehingga kau harus bekerja?”

“Areum tidak memiliki ayah. Ayahnya sudah meninggal sewaktu ia berusia sepuluh bulan.” Myungsoo terkejut mendengar penjelasan Sooji. Ia kemudian menepuk bahu Sooji pelan.

“Aku tahu ini berat sekali untukmu mengurus Areum seorang diri. Kau harus bersabar Sooji-ssi.” ujar Myungsoo, Sooji tersenyum.

“Areum bukanlah putriku, tapi aku sangat menyayanginya. Aku mencintainya. Aku menyayangi keluarganya. Ia adalah anak yang malang, ibunya meninggal saat hendak pulang menemuinya di rumah bersama ayahnya—Ibunya adalah pelayan di rumahku. Aku mengenalnya dengan baik, sehingga aku juga mengenal Areum.” Myungsoo hanya mengangguk, dalam hati ia bersyukur Sooji ternyata bukanlah single parent yang Myungsoo sempat pikirkan tadi.

“A—Ah, pantas saja kau tak terlihat seperti seorang ibu—kau masih terlalu muda untuk memiliki seorang anak. Areum anak yang pintar dan cerdas, meskipun kau belum berpengalaman dan usiamu sangat muda, kau baik sekali dalam mendidik Areum.” papar Myungsoo, Sooji tersenyum. Myungsoo kemudian menatap langit—bersama Sooji, dan bintang jatuh melintas—menghasilkan pengharapan.

“Apakah kau melihatnya?” tanya Myungsoo, Sooji mengangguk. Ia tampak canggung berada dengan seorang pria, ini pertama kali seumur hidupnya berdekatan dengan seorang pria, duduk bersama, menatap langit bersama-sama.

“Sangat indah.” ujar Sooji, Myungsoo meraih cup kopi disampingnya. Lalu memberikannya pada Sooji.

“Gomawo.” Sooji dan Myungsoo kini menyesap kopi masing-masing. Myungsoo kini menatap Sooji, meliriknya.

“Oh—ada noda kopi di bibirmu.” tutur Myungsoo, Sooji kini menghapus sudut kanan bibirnya, Myungsoo menggeleng.

“Di sudut kirimu.” Sooji kini beralih pada sudut kiri, Myungsoo menyadari Sooji kesulitan, Myungsoo kini membiarkan jari tangannya menghapus noda kopi di sudut bibir Sooji. Sooji membulatkan matanya, ia sedikit tak nyaman ketika matanya bertemu dengan mata Myungsoo dengan jarak yang begitu dekat—sangat dekat. Myungsoo yang menyadari Sooji sedikit tak nyaman dan gugup, kini dengan cepat kembali pada posisi sebelumnya. Mereka terdiam. Dan Areum kini berlari ke  arah mereka, membuat Sooji dan Myungsoo menoleh.

“Eomma, hari sudah malam. Ayo kita pulang.” ujar Areum, Sooji mengangguk, tersenyum menanggapi ucapan putrinya, tak lama kemudian Sooji dan Areum berdiri.

“Myungsoo-ssi, sepertinya aku harus pulang.” Myungsoo mengangguk, lalu dilihatnya Areum yang kini sedang fokus dengan pemandangan di depannya. Sooji menarik tangan putrinya pelan—menyadari Areum kini sedang terdiam di tempat.

“Chakkaman Eomma, bukankah kau menyukai bintang dan langit malam? Jika kau masih betah untuk berlama-lama disini, tak  apa.” tutur Areum, Sooji tersenyum—Sooji memang menyukai langit malam, dimana hanya waktu malam yang mampu menghargainya—dengan malam ia bisa beristirahat tenang, ditemani kelip bintang yang indah.

“Tidak—jika Areum ingin pulang—“ Sooji menghentikan ucapannya seketika melihat Areum tersenyum—senyuman Areum menyihir keras kepala Sooji. Sooji kemudian duduk kembali di atas bukit, Areum juga. Myungsoo tersenyum melihat kedua perempuan ini.

“Ahjussi tidak pulang?” tanya Areum.

“Ne?” Myungsoo menggaruk tengkuknya.

“A—Aku juga masih ingin disini. Bolehkah aku bergabung dengan kalian?” tanya Myungsoo pada Areum dan Sooji, Areum mengangguk, menggeser sedikit posisi duduknya agar Myungsoo bisa duduk tepat di sampingnya.

“Ahjussi, bagaimana jika bercerita tentang pasien anak-anak yang nakal dan tidak mau makan?” Myungsoo tersenyum lalu menceritakan sesuai permintaan Areum. Di sela-sela kegiatannya bercerita, Areum dan Sooji tertawa mendengarnya ketika hal-hal yang terdengar lucu mengusik telinganya. Dan ini menjadi malam yang indah—indah sekali untuk Sooji—ia belum pernah merasakan kebahagiaan seperti ini.

Di rumah yang mewah dan megah, seorang wanita dengan glamour duduk di sofa putih gading di dekat kaca jendela berukuran raksasa, ia sesekali meneguk wine nya yang kini berada di genggamannya. Ia melirik handphone nya yang tergeletak bebas di meja—lalu handphone itu berbunyi.

“Bagaimana? Apakah kau sudah memikirkannya? Kita harus bekerja sama agar rencana kita berjalan dengan baik.” ujar wanita tersebut—Irene. Irene kemudian tersenyum—mendengar jawaban dari seberang sana.

“Baiklah, mereka tampaknya masih sangat betah di luar sana. Kita tidak dapat berbuat apapun, disaat semuanya menjaga mereka berdua.” jawab Irene kembali. Lalu ditutupnya sambungan telepon tersebut, tak lama kemudian Sooji dan Areum memasuki rumah, Irene tersenyum.

“Yimo!” seru Areum, Irene membuka tangannya, ia memeluk Areum yang melangkah ceria ke hadapannya. Sooji hanya tersenyum lalu duduk di samping Irene.

“Jadi bagaimana Sooji-ah? Apakah liburannya menyenangkan?” tanya Irene. Sooji mengangguk. Tapi—disaat ia ingin menjelaskan, Areum terlebih dahulu mencurinya.

“Tentu! Eomma sangat senang, terlebih—hem—aku dan Eomma bertemu dengan seorang Ahjussi yang pandai mendongeng. Ah—andai saja Ahjussi tersebut bisa lebih lama denganku.” ujar Areum. Sooji mengacak pelan rambut putrinya.

“Wah—sangat menyenangkan sekali sepertinya. Andaikan saja Yimo bisa ikut kesana.” ujar Irene, Irene melirik Sooji entah mengisyaratkan apa.

“Areum-ah, kau kembalilah ke kamarmu dan segeralah mandi—lalu makan malam. Jibsa Hong—“ seru Sooji. Tak lama kemudian seorang wanita muda menghampiri Sooji, lalu menuntun lengan Areum yang menuju ke  arahnya. Areum dan Jibsa Hong kini segera menaiki tangga, memasuki kamar Areum.

“Presdir Yang tadi menelpon kita, Sooji-ah… Ia masih ingin membicarakan soal penjualan saham. Ia ingin membeli saham dari kita, bagaimana menurutmu? Bukankah sangat menguntungkan?” tanya Irene pada Sooji, tatapan mata Sooji kini berubah menjadi tatapan yang sedikit mengelang.

“Eonni, bukankah aku sudah membicarakan ini padamu? Eomma dan Appa sangat berharap kita dapat menjaga perusahaan dengan baik, bukan dengan cara menjualnya kepada orang lain.” jawab Sooji, Irene menghela nafasnya—adiknya ini sangat sensitive jika berbicara masalah ini—masalah saham terbesar yang Sooji pegang.

“Sooji-ah, jika kita menjual sepertiga dari saham kita, Presiden Yang tidak mampu menandingi perusahaan kita dan kemajuannya. Tidak akan pernah. Kau harus—“ ucapan Irene menggantung seketika dilihatnya Sooji kini berdiri.

“Aku tidak akan pernah menjual saham, sepertiga, setengah, atau berapapun itu. Aku sangat menghargai Eomma dan Appa yang dahulu membangun perusahaan dengan susah payah. Kita tak boleh menjualnya begitu saja.” ujar Sooji. Irene menarik tangan Sooji untuk duduk, tapi Sooji menepisnya.

“Jika pembicaraan kita hanyalah ini dan ini saja, aku tak akan pernah lagi berbicara denganmu, Eonni.” Sooji kini berjalan keatas, menaiki tangga—meninggalkan Irene yang kini tengah tersenyum licik sembari bergumam dalam hati.

“Kau memulai pertarungan terlebih dahulu—Sooji.”

 

Di toilet rumah sakit, Myungsoo melepaskan masker yang membungkus separuh wajahnya, ia menghembuskan nafas pelan dan mencuci tangannya yang berlumuran darah—ia sudah selesai mengoperasi seorang pasien dengan penyakit jantung. Myungsoo mengelap keringat di kepalanya, ia kemudian keluar dari toilet. Dilihatnya kepala bagian bedah, kepala Hwang.

“Kerja bagus, Dokter Kim. Aku belum pernah melihat proses operasi yang begitu cepat dan tepat seperti yang dilakukan olehmu.” ujar Kepala Hwang, Myungsoo tersenyum.

“Ini juga berkat team ku. Aku tidak akan berhasil tanpa mereka.” Kepala Hwang tersenyum lalu menepuk bahu Myungsoo pelan.

Tak lama kemudian ponsel Myungsoo berdering, ia kemudian meraihnya.

“Yeoboseyo samchon, wae?”

Myungsoo kini berada di rumah pamannya, ia meneguk wine yang dihidangkan. Lalu sesekali menatap sang paman yang—entahlah, mencurigakan sekali.

“Aku ingin kau bekerja sama denganku. Kau tahu kan darimana ayah dan ibumu hidup? Kau juga tak mungkin melupakan seseorang yang telah menyekolahkanmu hingga kau menjadi seorang dokter sekarang,keutchi?”

“Ah, mana mungkin aku melupakannya. Jadi, apa yang ingin kau lakukan paman?” tanya Myungsoo, pamannya ini tersenyum.

Pagi hari menjelang, Myungsoo terbangun dari tidurnya, bayang-bayang tadi malam bersama Sooji dan Areum di bukit angin terekam dan terulang jelas di memorinya—yang membuat mimpinya tadi malam menjadi indah, tapi…ada suatu hal yang mengerikan—yang membuat ia termenung. Sesekali Myungsoo bertanya kedalam hatinya… Mampukah aku melakukannya?

Sooji tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kantornya. Tidak—kantornya berada di rumah ini. Ia hanya akan mengecek keadaan rumah sakit dibawah pimpinan Direktur Go. Sooji kini memasuki kamar putrinya—kamar bernuansa pink dengan wallpaper bunga dan kupu-kupu. Sooji melirik sekilas Areum yang kini tengah protes dengan tatanan rambut yang diberikan Jibsa Hong, Sooji tersenyum kecil.

“Seperti ini saja, lebih cocok untukmu sayang.” ujar Sooji sembari melipat poni Areum ke bagian belakang lalu menjepitnya. Sooji merapikan pakaian sekolah Areum, lalu menuntunnya menuju ruang makan, disana Irene sudah menunggu mereka. Sooji dan Areum kemudian menarik kursi dari dalam meja, merekapun duduk dan sarapan bersama-sama.

“Areum-ah, hari ini Eomma tidak akan bisa menjemputmu, biarkan Choi Ahjussi yang menjemputmu, ne?” Areum mengangguk dan tersenyum pada Sooji. Sooji mengusap puncak kepala Areum.

“Kau akan mengadakan kunjungan ke rumah sakit?” tanya Irene, Sooji mengangguk.

“Ya, aku ingin melihat perkembangannya dibawah pimpinan Direktur Go. Apakah ia masih membedakan pasien VIP dan pasien biasa—atau tak memperhatikan pasien biasa.” ujar Sooji, Irene tersenyum.

“Direktur Go bukanlah orang yang seperti itu Sooji-ah…” Sooji tersenyum lalu meraih jaketnya yang berada di kursi. Kemudian ia dengan cepat meninggalkan ruang makan. Areum telah selesai memakan rotinya, Sooji menuntun lengan Areum, Irene kemudian tersenyum licik.

Myungsoo kini berada di ruangan ICU, dilihatnya para perawat yang sedang bergerumul di meja informasi. Perawat Song lalu melirik Myungsoo dan memanggilnya.

“Kim Uisanim!” Myungsoo dengan cepat menghampiri Perawat Song.

“Pasien Young Jae keadaannya sudah stabil. Aku sangat bersyukur, ku kira ia tak akan selamat.” Myungsoo hanya tersenyum lalu menepuk pelan bahu perawat Song.

“Baiklah, jaga dia Noona.” Myungsoo berjalan lurus keluar ruangan ICU, Perawat Song mengulas senyumnya. Perawat Song adalah salah satu perawat yang paling dekat dengan Myungsoo semenjak Myungsoo bekerja disini.

“Ku dengar, Presdir akan datang hari ini. Ia akan melakukan kunjungan.” sayup-sayup suara itu terdengar—menghentikan langkah Myungsoo. Ingatan itu kembali.

[FLASHBACK]

“Kau tahu, aku sedang mengumpulkan beberapa perusahaan yang akan menginvestasikan sahamnya di perusahaanku. Semua perusahaan bersaham kecil sudah mendaftar, tapi—untuk perusahaanku itu sangat kurang. Aku butuh perusahaan yang besar.” Myungsoo melipat dahinya—tak mengerti.

 

“Di tempatmu bekerja—Kau tahu siapa pemiliknya?” Myungsoo menggeleng.

 

“Bae Sooji. Ia adalah Presdir dari Gutamyeo Group.” Myungsoo tercekat—jantungnya terhenti seketika mendengar nama itu—ia tak yakin bahwa itu adalah Sooji, wanita yang di temuinya di bukit angin. Ia kemudian percaya dengan mudahnya—karena foto itu—foto kartu keanggotaan Sooji.

 

“A—Apa yang harus aku lakukan?” ujar Myungsoo, pamannya hanya terkekeh, membuat Myungsoo heran.

 

“Kau tak akan pernah seberuntung ini jika bukan denganku. Kau harus mendekati Sooji atau menikahinya. Wanita itu—dan membujuknya agar mau menanam saham di perusahaanku—atau sahamnya ku beli.” Myungsoo menggeleng—ini tak mungkin ia lakukan, menikahi Sooji dengan dasar bisnis dan paksaan dari pihak lain.

“Wae? Kau akan menjadi pria paling bahagia karena memiliki gadis itu—selain kaya raya, kau akan menjadi orang yang dihormati di rumah sakit. Kau baru saja bekerja dua bulan disana, tapi kau telah mampu memikat hati Presdir, kau akan beruntung dengan menikahinya.” Myungsoo terdiam sejenak—masih berpikir.

 

“Kau tahu kan jika melanggar perintahku? Apa yang akan terjadi pada ayah dan ibumu disana?” Myungsoo mengangguk, ia kemudian menyetujui—menyetujui perjanjian itu.

Para dokter dan perawat di rumah sakit kini berjajar dari depan hingga belakang, sebuah mobil mewah menepi dengan mulus, lalu dibukanya pintu mobil tersebut. Seorang wanita keluar dari sana dengan rok selutut berwarna hitam dan kemeja senada. Kulitnya putih bersih—bibirnya merah akibat lipstick, wajahnya sangat manis dan cantik—polesan make up tidak tampak disana. Sooji—wanita ini kini berjalan di koridor, menyapa semua karyawan rumah sakit yang tersenyum ramah dan menunduk. Sooji memperhatikan satu persatu wajah dari karyawan-karyawannya. Dan ia terpaksa menghentikan langkahnya—ketika dirasa ia mengenali seseorang—orang itu—pria itu yang ia temui di bukit angin.

“Myungsoo-ssi?” semua karyawan dan barisan direktur menoleh ke  arah Myungsoo.

Sooji menuangkan teh kedalam gelas dengan anggun. Melihat siapa yang di hadapannya—mereka saling melemparkan senyum.

“Kau ternyata bekerja disini.” ucap Sooji, Myungsoo tersenyum.

“Aku tak menyangka kau adalah pemilik rumah sakit ini Sooji-ssi.”

“Tapi—bukan berarti kau harus menjaga jarak denganku. Kita—teman bukan?” jawab Sooji. Myungsoo tersenyum, mengangguk.

“Jika lebih dari itu?”

“Apa maksudmu?”

“Aku tahu ini terlalu cepat…tapi—aku menyukaimu. Seseorang berkata padaku bahwa cinta yang murni itu adalah ketika kau menatapnya lalu mampu mengungkapkan isi hatimu kepadanya dengan cepat.”

Sooji tersenyum mendengar ucapan Myungsoo.

“Lalu, mengapa kau tidak mengatakannya saat pertama bertemu denganku?”

5 Bulan kemudian…

Sooji tengah menarik nafasnya gugup, dalam balutan gaun pengantin putih harapannya, bersama dengan gaun putih tersebut—ia juga menggantungkan harapan pada pria yang kini menjabat tangannya di atas altar, berharap pria tersebut dapat membahagiakannya bersama Areum. Dalam waktu perkenalan yang terbilang singkat ini—Sooji dan Myungsoo sudah saling mengerti satu sama lain, dan jangan lupakan Areum sebagai point penting yang mendasari pernikahan Sooji juga Myungsoo. Irene terlihat sangat bahagia di pernikahan Sooji dan Myungsoo. Myungsoo—pria ini sangat bahagia menikahi gadis cantik yang kini sedang memagut kecil bibirnya, bersama dengan pagutan ini—ia melupakan segalanya,melupakan pamannya yang bersikeras untuk menyuruhnya menikahi Sooji—tak peduli dengan ucapan pamannya, Myungsoo mencintai Sooji dari ketulusan hati yang dimilikinya—Myungsoo menyayangi gadis yang ditemuinya pertama kali di bukit angin. Sooji—gadis ini sangat mencintai pria yang kini tengah menelusuri inchi demi inchi titik terbaik di tubuhnya, Sooji tak pernah menganggap Myungsoo berbohong karena perasaannya. Ia juga mencintai Myungsoo—Myungsoo yang mengucapkan kata-kata cinta di sela-sela permainannya,membuat Sooji semakin larut dalam kuasanya.

Pagi hari ini, Irene tersenyum senang, melangkah ceria kedalam sebuah ruangan dan duduk disana. Ia tersenyum penuh kemenangan.

“Apa yang aku katakan kemarin, ini soal mudah.”

_TBC_

Annyeong, kembali sama ff baru…semoga suka yaa… We Are Not King and Queen sama Kwajangnim lagi dalam proses… Jangan lupa RCL Terimakasih🙂

56 responses to “[Freelance] Windmill Chapter 1/3

  1. Walaupun myungsoo mencintai sooji tapi tetap aja ada motif dibalik pernikahannya, meskipun ia telah melupakannya…

  2. aku pikir masalahnya saat mereka jadian ternyata saat mereka menikah..
    kasian suzy sama myungsoo
    apa myungsoo bakalan di peras oleh pamannya ~
    aku pikir jalan ceritanya kaya yongpal ternyata beda yaaa ~ hhehe

  3. irene dendam sama sooji yaa…
    yah, terlepas dari myungsoo disuruh pamannya untuk nikahin sooji tapi mereka berdua saling mencintai… ‘
    belom ada konflik berarti nih.. next

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s