The Memories Chapter 9

© Rosaliaaocha

Title : The Memories  | Author : dindareginaa | Genre : Angst, Married Life, Romance | Rating : PG-15| Main Cast : Bae Suzy, Kim Myungsoo | Other Cast : Find by yourself!

Bel mulai berdentang. Para jemaat di gereja sontak berdiri seraya bertepuk tangan dengan meriah. Pasalnya, dua sejoli yang berdiri di atas altar kini sudah sah menjadi pasangan suami istri,  setelah sebelumnya mengucapkan janji suci.

“Cium pengantinnya!” teriak lelaki berparas tampan yang sudah menjadi sahabat si pengantin pria selama beberapa tahun silam, Oh Sehun.

Kim Myungsoo mendesis mendengar teriakan Sehun. Sebenarnya siapa yang jadi pengantin prianya? Kenapa malah Sehun yang antusias? Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada gadis yang sedari tadi ada dihadapannya dengan senyum manisnya. Ia tersenyum simpul. Sekarang, gadis ini sudah menjadi miliknya seutuhnya.

“Berjanjilah bahwa kau tidak akan pernah meninggalkanku apapun yang terjadi. Tidak akan pernah.”

Gadis itu – Bae Sooji – mengangguk pasti. Ia kemudian memejamkan matanya perlahan saat Myungsoo mencium lembut bibir plumnya. Yang ia tahu,  setelah ini hidupnya tak akan pernah sama lagi.

Sooji mengusap kasar pipinya. Sedari tadi, air matanya tak kunjung berhenti. Ia mendengus kesal. Untuk apa ia menangisi lelaki seperti Myungsoo? Tiba-tiba saja  kejadian tadi terngiang dibenaknya. Ya Tuhan, Bae Sooji! Lupakan kejadian tadi!

“Nona, kita sudah sampai.”

Sooji tersentak begitu supir taksi berbicara padanya. Lelaki itu tampak terkejut mendapati kelopak mata Sooji membengkak, pertanda ia sedang menangis.

“Nona baik-baik saja?” tanya lelaki paruh baya itu, khawatir.

Sooji memaksakan seulas senyumnya, malas menjawab pertanyaan sang supir. Ia kemudian merogoh dompet yang ada didalam tas tangannya lalu mengeluarkan beberapa lembar uang puluhan ribu won.

“Ambil saja kembaliannya,” ujar Sooji. Tanpa berlama-lama, ia segera keluar dari taksi.

Myungsoo berlari kecil disepanjang lorong apartemennya. Ya, ia memang segera mengejar Sooji dengan mobilnya setelah kejadian itu. Myungsoo menekan password apartemennya cepat. Dengan segera, ia membuka pintu dan menerobos masuk.

“Sooji! Bae Sooji!” panggilnya.

Tak mendapat jawaban dari istrinya itu, Myungsoo segera masuk ke kamar mereka. Matanya membulat. Kosong! Tak ada siapa-siapa disana. Kemana gadis itu sebenarnya? Myungsoo tertegun. Jangan-jangan…

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Myungsoo segera membuka lebar lemari pakaian mereka. Dan benar saja. Tak ia dapati sehelai pun pakaian Sooji dari lemari tersebut.

Myungsoo mendengus kesal. Oh, Sooji! Kenapa kau pergi begitu saja? Setidaknya, izinkan ia menjelaskan semuanya padamu!

Tiba-tiba saja, pandangan Myungsoo beralih ke atas ranjang mereka. Ia mengernyit menemukan secarik kertas dari atas sana. Apa lagi ini?

Dengan malas, Myungsoo segera meraih kertas tersebut. Ia terbelalak kaget membaca deretan huruf hangul dari atas sana. Ini dari Sooji.

Aku pergi. Jangan cari aku. Pertemuan kita yang selanjutnya mungkin akan berada di pengadilan – Bae Sooji.

Myungsoo terduduk lemas diatas ranjang. Sooji berniat menceraikannya? Tak bisa dipercaya! Bukankah mereka berjanji akan sehidup semati?

“Jangan, Sooji. Kumohon…”

Soojung mengerang begitu bel apartemennya berbunyi. Ia lalu melirik ke arah jam weker yang terletak di atas meja disamping ranjangnya. Gadis itu mendengus kesal. Jam tiga? Makhluk seperti apa yang bertamu jam tiga pagi?!

Soojung segera beranjak bangun. Ia sibuk melipat tangan kemejanya, bersiap untuk menyembur siapa saja yang membangunkannya sepagi ini. Namun, ia terbelalak kaget begitu mendapati Sooji-lah yang menjadi tamu pertamanya.

“Soojung-ah…”

“Hei, apa yang terjadi?” tanya Soojung heran begitu Sooji menghambur ke dalam pelukannya dengan berlinang air mata.

“Myungsoo… Kim Myungsoo…”

“Baiklah. Sebaiknya kita masuk dulu. Aku tidak mau diusir dari sini karena membuat keributan jam segini,” canda Soojung. Ia lalu menggandeng Sooji masuk ke dalam apartemennya.

“Sudah tenang?” tanya Soojung pada Sooji begitu gadis itu menghabiskan air mineral – yang beberapa saat lalu Soojung ambilkan – dengan sekali teguk.

Sooji mengangguk kecil.

“Sudah bisa cerita?”

Sooji terdiam. Tiba-tiba saja, bayangan kejadian tadi kembali terngiang di benaknya. Ia menarik nafasnya panjang. “Myungsoo… Dia selingkuh.”

Mendengar perkataan Sooji, sontak saja membuat Soojung membuka lebar mulutnya. Myungsoo? Selingkuh? Tidak mungkin! Soojung tahu pasti sebelum Sooji, Myungsoo tak pernah berkencan dengan gadis manapun sebelumnya. Jadi, bagaimana bisa Myungsoo selingkuh? “Sooji-ah, aku tahu kau tidak ingat dengan masa lalumu, tapi, asal kau tahu saja, Myungsoo bukan tipe lelaki yang mudah sekali tergoda dengan gadis-gadis centil.”

“Tapi, aku melihatnya tidur dengan gadis lain, Soojung-ah!”

Soojung membulatkan matanya. Benarkah? Kalau begitu, lain lagi ceritanya. “Jadi, apa rencanamu selanjutnya?”

“Aku sudah memutuskan untuk menceraikannya.”

“Sooji-ah, tidak baik mengambil keputusan terlalu cepat begini. Kenapa tidak tanya baik-baik dengan Myungsoo? Aku yakin sesuatu yang buruk pasti terjadi dengannya.”

Sooji menggeleng. “Tidak. Keputusanku sudah bulat. Maka dari itu, ku mohon. Izinkan aku tinggal disini beberapa hari. Dan tolong. Jangan katakan pada Myungsoo kalau aku disini.”

Soojung menatap Sooji iba. Kalau sudah begini, ia tak ada pilihan lain selain menuruti permintaan gadis itu. Tiba-tiba saja ponsel Soojung berdering. Ada panggilan masuk.

“Tunggu sebentar,” ujar Soojung. Gadis itu segera meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja yang ada dihadaannya. Matanya membesar. Dari Myungsoo. Panjang umur sekali lelaki itu. Baru saja dibicarakan, lelaki itu sudah langsung menghubunginya. Apa Myungsoo punya indra ke enam?

“Dari siapa?”

Perkataan Sooji membuat lamunan Soojung buyar seketika. “Ah, Myungsoo,” jawab Soojung.

Mendengar itu, Sooji segera menatap lekat Soojung. Kedua tangannya ia satukan didepan dada, memohon pada Soojung dengan wajah memelas. Kalau sudah begitu, Soojung tidak akan sanggup menolak permintaan gadis itu. Ia kemudian segera menekan tombol dial.

“Halo, Myungsoo,” serunya membuka pembicaraan. “Ah, Sooji?” Soojung langsung melirik kearah Sooji. Gadis itu masih menatapnya dengan tatapan memelas. Soojung menarik nafasnya panjang sebelum akhirnya menjawab. “Aku tidak tahu. Dia tidak menghubungiku sejak terakhir kali kami bertemu. Memangnya ada apa?” tanyanya hati-hati.

Lelaki di seberang telepon tak menjawab. Myungsoo malah segera mematikan panggilannya dengan Soojung.

Soojung menoleh pada Sooji. “Suaranya terdengar kacau. Ia benar-benar mengkhawatirkanmu.”

Sooji hanya diam mendengar pernyataan Soojung. Ia tak peduli. Bukankah Myungsoo yang membuat semua kekacauan ini?

Myungsoo melangkah lunglai di sepanjang lorong kantornya. Ia bahkan tak menggubris para karyawan yang sibuk menyapanya. Lelaki itu terlalu sibuk memikirkan dimana Sooji berada.

Karyawan yang melihat kedatangan Myungsoo hanya mengernyit heran. Tak biasanya lelaki itu lesu seperti ini. Myungsoo bahkan tak berpakaian rapi seperti biasanya. Kemeja merah yang tak dimasukkan, dasi hitam yang longgar serta rambut yang acak-acakan. Apa yang terjadi dengan atasan mereka?

“Hey, Kim Myungsoo! Apa yang terjadi denganmu?” tanya Sehun heran begitu melihat kedatangan Myungsoo.

“Hari ini aku sedang tidak ingin diganggu. Tolong batalkan semua janjiku,” seru Myungsoo seraya berjalan melewati Sehun dan masuk ke ruangannya.

Sehun hanya memandangi punggung Myungsoo dalam bingung. Tak biasanya Myungsoo seperti ini. Pasalnya, semenjak menikah dengan Sooji, suasana hati Myungsoo selalu baik. Apa ini ada hubungannya dengan Sooji? Tapi kenapa?

“Tuan Kim sudah datang?”

Sehun tersentak kaget mendengar suara nyaring milik Irene ditelinganya. Sehun tak menjawab. Ia hanya mengangguk.

Melihat itu Irene tersenyum lebar. Ia segera berjalan ke arah ruangan Myungsoo. Disaat seperti ini, yang Myungsoo butuhkan adalah sosok penyemangat.

“Hei! Myungsoo sedang tidak ingin diganggu sekarang!” teriak Sehun.

Namun, gadis itu tak peduli. Ia segera membuka pintu ruangan Myungsoo, bahkan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

Myungsoo sedang sibuk dengan pikirannya saat pintu ruangannya terbuka. Biasanya manusia paling lancang yang tidak pernah mengetuk pintu ruangannya adalah Oh Sehun. Ia mendengus kesal. Dasar Oh Sehun! Bukankah ia sudah mengatakan tidak ingin diganggu siapapun? Itu terkhusus dirinya!

Myungsoo mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk. “Hei, kau tak mengerti ucapan…ku?”

Myungsoo menatap tak percaya dengan apa yang ada dihadapannya ini. Irene Bae? Dari sekian banyak makhluk di muka bumi ini, Irene adalah manusia yang paling tak ingin ia temui saat ini! Dan… tunggu dulu! Gadis itu bahkan tak mengetuk pintu terlebih dahulu! Lancang sekali!

“Tuan Kim, aku mengerti apa yang…”

“Keluar.”

Irene membulatkan matanya mendengar perintah Myungsoo. Apa? Keluar? Tapi, bukan itu yang harusnya Myungsoo katakan padanya.

“Ah, benar,” ujar Myungsoo teringat akan sesuatu. “Untungnya kau datang. Aku jadi bisa memberikannya secara langsung padamu.” Myungsoo segera mengambil sebuah amplop putih dari dalam laci mejanya dan memberikannya pada Irene.

“Apa ini?” tanya gadis itu. Entah kenapa perasaannya jadi tidak enak begini.

“Ini gajimu bulan ini. Dan besok kau tidak perlu datang kesini lagi. Sekarang, keluar!”

“Ta… tapi kenapa?”

Myungsoo menatap Irene tak percaya. Kenapa katanya? “Karena kau, hidupku jadi kacau! Kalau kau tidak membawaku ke tempat itu, semuanya tak akan jadi begini!” geram Myungsoo.

“Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Myungsoo langsung pada Irene ketika Myungsoo kebali lagi ke kamar hotel tersebut.

“Kau mabuk. Maka dari itu aku memutuskan untuk membawamu kesini,” bohong Irene tanpa merasa bersalah.”

“Tapi, kenapa harus disini?! Kau bisa membawaku pulang atau paling tidak ke rumah Oh Sehun!”

“A… aku… Aku juga mabuk dan aku tidak bisa berpikir jernih saat itu.”

Myungsoo menatap Irene tak percaya. Ia yakin ada sesuatu yang gadis itu sembunyikan darinya. “Kau berbohong bukan? Aku tahu pasti bahwa kau tidak mabuk semalam! Apa yang kau sembunyikan sebenarnya?!”

“Benar! Aku melakukannya semata-mata hanya untuk menghancurkan hubunganmu dengan gadis itu! Aku mencintaimu, Kim Myungsoo!”

Myungso membulatkan matanya. Apa? Jadi, semua ini rencana busuk Irene? Dan ia dengan bodohnya masuk ke perangkap gadis itu? Tak bisa dpercaya! “Kau benar-benar gila!”

Baru saja Myungsoo membalikkan badannya, langkah lelaki itu terhenti begitu Irene memeluk erat punggungnya.

“Jangan pergi. Kumohon.”

Myungsoo mengepalkan kedua tangannya lalu segera menepis kasar pelukan gadis itu, membuat Irene terjatuh. 

“Apapun yang kau lakukan, kau tidak akan bisa memisahkan aku dengan Sooji,” ujar Myungsoo sebelum pergi.

“Harusnya kau berterima kasih padaku! Karena aku, kau terbebas dari gadis itu! Aku mencintaimu, Kim Myungsoo. Cintaku bahkan lebih besar darinya.”

Ya, Tuhan! Gadis ini sudah gila! Ia tak menyangka Irene yang semula ia anggap seperti adiknya sendiri ini melakukan hal konyol untuk menghancurkan hubungannya dengan Sooji. “Keluar atau ku panggil bagian keamanan?”

Irene mengepalkan kedua tangannya. Ia kemudian segera pergi meninggalkan Myungsoo.

Sehun yang melihat gadis itu keluar dari ruangan Myungsoo mengernyit heran. “Apa yang terjadi?” tanyanya begitu melihat Irene kini sibuk membereskan barang-barangnya. Namun, sedetik kemudian ia membulatkan mulutnya melihat mata Irene yang mulai basah. “Kau menangis?”

Gadis itu tak menjawab. Ia tetap sibuk dengan perlengkapannya, tak memperdulikan semua mata yang kini memandanginya bingung. Setelah selesai, barulah ia pergi.

Sehun menatap bingung pungung Irene yang mulai menjauh. Ia kemudian berjalan ke arah ruangan Myungsoo. Namun, Sehun membulatkan matanya begitu melihat Myungsoo menangkupkan wajahnya diatas meja dengan tubuh bergetar. Lelaki itu… menangis.

“Hei, ada apa denganmu?” tanya Sehun khawatir seraya menghampiri lelaki itu.

Myungsoo mengangkat kepalanya. Dengan mata yang mulai memerah, lelaki itu memaksakan senyumannya. “Aku tidak apa-apa.”

“Jangan bohong! Aku sangat mengenalmu! Apa ini ada hubungannya dengan Sooji?”

Sebelum Myungsoo menjawab, salah seorang karyawan Myungsoo sudah mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Masuk,” suruh Myungsoo.

“Maaf menganggu, Tuan. Ada kiriman dari Pengacara Lee,” ujar wanita tersebut seraya menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat pada Myungsoo.

Sehun mengernyitkan keningnya bingung. Pengacara Lee? Sepertinya ia pernah mendengar nama itu sebelumnya. Oh, bukankah itu pengacara keluarga Sooji? Jangan-jangan…

“Myungsoo-ya, mungkinkah itu…”

Myungsoo yang baru saja selesai membaca kertas yang ada didalam amplop sontak mengangguk. “Ya. Sooji ingin bercerai denganku.”

TO BE CONTINUED

59 responses to “The Memories Chapter 9

  1. Ulah minho lagi,irene kok jg mau2nya disuruh,ya karna cinta itu buta kali jd dia berusaha menghalalkan berbagai cara

  2. Ya andweeee suzy jangan cerai huaaaa:( myungsoo jadi tambah frustasi harus gimana irene dan minho nih gara2nya wuahhhh daebak minta dihajar kkk

  3. houh… capek banget di hati bca part ini

    suzy cpet bnget ngmbil kptusan

    soojung sbg shbt yg baik hrusnya tau mna yng trbaik buat shbt

    irene GR bnget msuk ruangan myungsoo, mlah d ksih pesangon, myungsoo jjjjanng😀

  4. aigo myungsoooooo aku ongin nangis bareng kamu, sooji sakit sih tp dia juga hrus pertimbangin sbelum ambil kputusan, stidaknya dnger penjelasan myungsoo,,, tp keduanya tdk ada yg salah, myungsoo yang dijebak dan sooji yang tidak tahu apa apa saat dia berusaha memperbaiki hubungab dengan myungsoo dan mengingat masa lalunya dia harus di kejutkan dengan kejadian itu. yang salah ya peran antagonis disini minho dan Ssi irene. dan salut ma myungsoo yang ngasih tindakantegas ke irene,

  5. Duh, kok jadi ikutan berair matanya.. Sooji kenapa gak mau dengerin Myungsoo dulu. Apa dia gak ngerasa aneh tb2 dpt pesan suruh ke hotel. Apa dia gak kepikiran myungsoo dijebak..
    Tapi kalo lagi gak berpikiran dingin, Sooji mana bisa berpikir kesitu..
    Myungsoo sedih bgt… Bgus tuh rubah dipecat.. Gak tahu diri soalnya..
    Gimana cara biar Sooji mau dengerin myung yah??

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s