[Chapter-8] High Society

Untitled-4n

mainactor

p  r  o  u  d  l  y    p  r  e  s  e  n  t  s

High   Society

a chaptered fanfiction with rating G

starring

| Suzy “Miss A” | L “Infinite’ | Suga “BTS”  | Irene “Red Velvet” |

| Krystal f(x) | Lay “EXO” | Seulgi “Red Velvet” | Chanyeol “EXO” |

~~~ between your happiness and other’s ~~~

.

“Kenapa aku tidak boleh tahu?” Tanya Yoongi lagi masih dengan nada datarnya. Jujur ia kaget mengetahui fakta yang baru ini, namun ia tidak buta dan cukup sensitif. Beberapa kali saat melihat reaksi Myungsoo dan mendapati pria itu menatap Suzy, Yoongi tahu ada sesuatu. Dan ternyata kecurigaannya memang benar. Karena waktu itu ia merasa semuanya baik-baik saja dan hanya perasaannya saja, Yoongi tak mempersiapkan dirinya untuk menghadapi berita ini. Sehingga sekarang ia merasa benar-benar kaget.

“Karena kami takut—“

“Takut aku marah?” Potong Yoongi cepat. Pria itu menghembuskan napas keras-keras. Sorot matanya menyiratkan ia terluka.

Man—“

“Kita berteman lebih dari delapan tahun! Dan kau kira aku akan marah?! Hanya karena Myungsoo suka Suzy?!” Seru Yoongi dengan suara tinggi. Fakta bahwa Myungsoo juga menyukai Suzy tidak membuatnya marah. Ia hanya kaget. Namun fakta ketika dua sahabat baiknya meragukan dirinya sendiri dalam bersikap dewasalah yang membuatnya marah. Ia bukan anak kecil yang langsung ngambek begitu tahu barang favoritnya direbut anak lain. Ia adalah remaja yang cukup dewasa untuk memahami perasaan sahabatnya sendiri. Meskipun kaget, ia tak heran kalau Myungsoo suka sama Suzy. Suzy really has that charms.

“Yoon—“

“Sikap kalian ini yang membuatku marah!!” Seru Yoongi frustasi sambil mengacak rambutnya kesal. Myungsoo dan Chanyeol bertukar pandangan cemas. Di antara mereka bertiga, Yoongi memang yang paling jarang meledak. Maka dari itu, ketika dia meledak keduanya selalu tak pernah bisa berkutik. “Kalian pikir aku anak kecil?! Astaga! Aku paham alasan Myungsoo menyukai Suzy. I am not six for godshake!”

“Aku tahu kita berdua salah,” Kata Chanyeol tidak enak. Ia dan Myungsoo benar-benar lupa fakta bahwa meskipun Yoongi yang terlihat paling konyol, ialah yang paling dewasa di antara mereka bertiga. Juga yang paling tenang dalam menghadapi masalah.

Mianhae,” Tambah Myungsoo cepat. Sekarang perasaan bersalahnya menjadi dua kali lipat. Ia masih merasa bersalah karena menyukai Suzy dan sekarang ditambah merasa bersalah karena salah menilai Yoongi yang merupakan sahabatnya sendiri selama delapan tahun.

Hening sesaat. Yoongi merebut botol minum Chanyeol dan menghabiskan air mineral di dalamnya dalam sekali teguk. Ia mengambil tempat di samping Chanyeol dan berusaha mengatur napasnya sekaligus meredakan amarah dan kekesalannya.

This only means we need to play fair, right?” Ujar Yoongi akhirnya. Myungsoo menghela napas lega. Ia baru sadar bahwa selama beberapa detik ia menahan napas karena khawatir dengan tanggapan Yoongi.

Chanyeol tersenyum sambil menepuk pundak Yoongi beberapa kali. Seperti biasa, Yoongi selalu bersikap dewasa. Ia hanya bisa berharap bahwa siapapun yang nantinya dipilih Suzy, tak akan membuat persahabatan mereka renggang.

***

Apakah Joohyun masih menyukai Myungsoo? Apakah Myungsoo juga suka sama Joohyun? Apakah mereka akan berkencan? Apakah—‘

Nunaaaa, aku lelah!”

Seruan manja Jackson menghentikan lamunan Suzy. Ia menoleh ke sampingnya dan terlihat Jackson yang lebih tinggi beberapa centi darinya sedang memasang wajah cemberut sambil menggoyang-goyangkan tangan Suzy. Suzy terkekeh lalu kembali menoleh ke arah Joohyun yang masih sibuk mencari jam tangan.

Nadooo,” Sahut Suzy mengikuti nada suara Jackson sambil ganti menggoyangkan tangan pemuda itu ke kanan dan ke kiri. “Ppali, bilang pada Joohyun agar cepat.”

Jackson terkekeh sambil melepaskan tangan Suzy dan berjalan mendekati Joohyun. Suzy kembali menghela napas panjang sambil merutuki pikirannya yang terlalu berlebihan. ‘Memangnya kenapa kalau iya?! Kau mau apa Bae Suzy?!’ pekiknya dalam hati.

Sejak mereka bertiga meninggalkan rumah tadi, perasaan kesal dan gatal terus membuat hati Suzy merasa tidak nyaman. Belum lagi Joohyun dengan ceria menanyakan pendapat Suzy tentang barang yang ia pilih. Mulut Suzy sudah gatal ingin mengatakan, ‘Just pick up anything! Namany juga kado! Suka-suka yang ngasih dong!’

Namun mengingat hubungan mereka yang sekarang sudah cukup normal layaknya sepupu biasa, meski sesekali sering beradu tarik urat, Suzy menghela napas panjang dan menelan kata-kata kasarnya dan sebagai gantinya memilih bungkam sambil menunjuk apa saja.

“Akhirnya dia selesai!” Seru Jackson lega sambil menari sedikit. Suzy tersenyum tipis dan mengangguk lega lalu berjalan menghampiri Joohyun.

“Kita makan ramen yuk,” Ajak Joohyun yang sesungguhnya merasa tidak enak karena sudah merepotkan Suzy dan Jackson. Ia tak punya pilihan lain, karena ayah Seulgi sedang pulang dan Joohyun tak ingin mengganggu waktu langka Seulgi bersama ayahnya. Ia juga tidak mungkin meminta ditemani Yoongi, bisa-bisa bukannya membantu mencari hadiah pria itu malah sibuk berlari dari kejaran fans. Chanyeol? Jangan ditanya. Hari Minggu pria itu selalu bangun siang dan pasti memilih bersama Soojung.

Jackson mengiyakan ajakan Joohyun dengan semangat sambil menggeret Suzy mengikuti Joohyun menuju ke restoran khusus ramen yang terletak di lantai teratas. Ketiganya berjalan bersamaan sambil sesekali tertawa menanggapi ocehan Jackson. Beberapa orang memandang mereka penuh kekaguman. Suzy menoleh ke samping kirinya, melihat Jackson yang begitu santai meskipun ia membuat puluhan pasang mata menoleh ke arahnya. Saat ia melihat ke samping kanan, ia mendapati Joohyun yang tertawa dengan anggun dan berjalan penuh percaya diri.

Ah jadi ini maksud perkataan Joohyun waktu itu,’ pikir Suzy. Di luar kehendak mereka, kemanapun mereka berjalan mereka akan selalu menjadi pusat perhatian. Menjadi spotlight. Meskipun Joohyun siang itu hanya mengenakan summer dress simpel berwarna biru muda, meskipun Suzy juga tampil sangat kasual dengan skinny jeans dan baby tee, dan Jackson bahkan hanya mengenakan t-shirt polos berwarna putih dan snapback hitam untuk menutupi rambutnya yang belum dicuci seminggu. Meskipun ketiga bersaudara itu hanya mengenakan pakaian sederhana, orang di sekitar mereka tidak buta. Mereka sadar bahwa barang yang dikenakan Suzy dan sepupunya berharga di atas sembilan ratus ribu won meski hanya sepotong kaus sederhana.

Pikiran Suzy kembali teralih saat mereka sampai di lantai teratas mall. Restoran khusus ramen yang dimaksud Joohyun tadi adalah restoran bergaya outdoor yang terletak di rooftop mall. Beberapa tanaman plastik khas Jepang seperti bonsai dan bunga sakura menghiasi tempat itu, memberikan kesan Jepang yang kental.

Joohyun membawa Suzy dan Jackson ke sebuah meja berkapasitas empat orang yang teletak di tengah-tengah. Seorang pelayan membawakan buku menu dan satu per satu mereka menyebutkan pesanan mereka. Pelayan itu langsung kembali setelah mencatat pesanan mereka.

Jaa, nuna-ya apa kau tahu kenapa hari ini terlihat mendung?” Tanya Jackson dengan wajah jailnya ke arah Suzy dan juga Joohyun. Kedua gadis itu hanya bertukar pandang tak mengerti.

Melihat reaksi kedua kakak sepupunya Jackson terkekeh lalu berujar dengan ceria, “Karena hari ini mau hujan! Hahahahaha!!”

Mwoyaaa,” keluh Suzy sambil melempar sumpit yang sedang ia mainkan ke arah Jackson. Dengan gesit ia menghindari lemparan Suzy dan kembali tertawa terbahak-bahak.

Keumanhae, Suzy-ya, biarkan saja anak gila satu itu. Lihat nih, keren tidak?” Seru Joohyun sambil mengeluarkan sebuah jam. “Ini akan kuberikan pada Myungsoo,”

Suzy meneliti jam itu lalu mengangguk, “Bagus,” Jawabnya singkat lalu memutuskan untuk berpura-pura fokus dengan ponselnya.

“Kau masih suka pada dia?” Tanya Jackson ringan sambil mencoba mengenakan jam itu dan langsung dipelototi Joohyun. Dengan galak ia merebut jam itu dan meletakkannya dengan hati-hati ke dalam kotak.

“Yaaa gitu deh,”

Suzy merasa ototnya menegang seketika mendengar jawaban Joohyun. Kenapa ia tidak suka dengan jawaban Joohyun? Kenapa ia kesal melihat Joohyun sedang membungkus kotak jam itu? Kenapa dia merasa darahnya seakan mendidih?

Seorang pelayan datang menghampiri sambil membawa nampan besar berisi pesanan mereka. Jackson dengan semangat meraih ramen pesanannya dan mulai makan sambil bersenenandung, “I like ramen, You like ramen, we like ramen,”

Dan saat itu Suzy merasa kakinya lemas. Gerakannya mengaduk ramen dengan sumpitnya terhenti.

You like Myungsoo, idiot!’ Suara kecil dalam kepalanya menjerit.

***

Seulgi selesai berpakaian tepat saat jam di ruang tengah berdentang tujuh kali. Suasana rumahnya yang selalu sepi seperti tak berpenghuni membuat suara dari ruang tengah dengan mudah sampai ke kamarnya. Sambil bersenandung pelan, Seulgi meraih ponselnya dan tersenyum senang saat melihat ada pesan dari Yixing.

Ship and The Globe milik Little Sun, try it.’

Seulgi terkekeh sambil berjalan keluar kamarnya menuju ke ruang makan. Hari ini ayahnya baru saja datang dan ia senang sekali. Karena itu berarti untuk tiga hari ke depan dia bisa menikmati tinggal di rumahnya yang seperti kastil mati baginya. Sambil kembali bersenandung ia membalas pesan Yixing dan mulai membuka aplikasi khusus tempat men-download lagu.

You look happy,” Seru ayahnya yang juga sedang dalam perjalanan menuju ke ruang makan. Pria itu berjalan di samping Seulgi sambil merangkul putri sematawayangnya.

I am,” sahut Seulgi sambil tertawa dan mengambil posisi duduknya di meja makan yang jarang sekali ia tempati. Ia melihat ke sebrang dan seperti biasa mendapati kursi ibunya kosong.

Why? Do you already find your prince?” Goda Tuan Kang sambil mulai mengisi mangkuk nasi milik Seulgi dengan lauk yang terhidang di atas meja.

Seulgi baru saja hendak menceritakan tentang teman barunya ketika suara khas sepatu ibunya berhenti di ruang makan. Ia menoleh dan melihat Nyonya Kang dengan setelan kerjanya berdiri dengan pandangan tajam.

“Duduklah, kami sudah menunggumu,” Kata Tuan Kang dengan nada datar. Seulgi langsung menyimpan ponselnya dan menegakkan tubuhnya. Firasatnya tidak enak.

“Kau sedang apa di sini? Bukankah di Frankfurt lebih menyenangkan?” Seru Nyonya Kang dengan nada tinggi sambil bersedekap. Seulgi berdeham sekali untuk menghentikan pertengkaran yang sebentar lagi akan mulai.

“Kau ini bicara apa? Waktuku mepet sekali, lebih baik kita memanfaatkannya dengan baik.” Suara Tuan Kang mulai ikut meninggi. Seulgi yang sedari tadi mencoba santai dengan mulai makan meletakkan sendoknya setengah membanting.

“Kalau gitu pulang saja! Kau kan sudah punya yeoja lain di sana!”

“Kau ini bicara apa? Mana mungkini!”

Eomma, appa! Jebal!!” Teriak Seulgi frustasi.

“Diam! Sana masuk ke kamar!” Bentak Nyonya Kang galak. Seulgi merasa air mata sudah mulai memenuhi pelupuk matanya. Tak mau lebih menyedihkan lagi ia bangkit dan langsung menuju ke arah garasi.

PRANG!

Tepat sampai ia sampai di garasi terdengar suara pecahan beling. ‘Oh pertengkaran baru mulai,’ Batinnya sarkas sambil membanting pintu mobil. Oh ahjussi yang baru saja selesai dari kamar mandi jelas kaget melihat Seulgi.

PRANG!

Tahu apa yang sedang terjadi, tanpa banyak tanya pria itu masuk ke dalam mobil dan segera membawa sedan putih itu keluar dari mansion Kang.

Setengah jam kemudian, Seulgi sampai di depan sebuah ruko bertingkat tiga dan lansung masuk ke dalamnya setelah berpesan pada Oh ahjussi untuk menunggunya. Ia melangkahkan kakinya memasuki coffee shop dan langsung naik ke lantai dua, tempat sebuah toko musik berada.

“Piano-nya bisa kupakai tidak?” Tanya Seulgi dengan suara parau ke arah Jang Wooyoung, pemilik toko itu. Tanpa banyak komentar Wooyoung mengangguk sambil kembali menonton film di laptopnya.

Seulgi mendesah lega dan langsung menuju piano yang terletak di sudut ruangan. Piano yang selama empat tahun belakangan menjadi tempatnya mengeluarkan semua kesedihan. Seulgi yang tidak diizinkan untuk memiliki satu alat musik pun di rumah, merasa sangat beruntung saat ia berkenalan dengan Jang Jihyun, adik Wooyoung yang mengatakan bahwa ia boleh bermain musik sepuasnya di toko musik Wooyoung setelah Seulgi pernah membantu Jihyun mendapatkan tandatangan artis favoritnya.

Seulgi duduk di atas kursi kayu kecil itu dan membuka penutup tuts lalu mulai memejamkan matanya, bersamaan dengan jemarinya yang menari lembut di atas tuts hitam putih itu. Dalam beberapa detik kemudian, ruangan itu sudah dipenuhi dengan alunan musik sendu.

“Bukankah dengan uang sakumu harusnya kau bisa membeli piano seperti ini dan membawanya ke kamar?”

Seulgi kaget sekali begitu ia selesai dengan lagu pertama dan membuka mata ia mendapati Yixing sudah duduk menyilangkan kaki di hadapannya sambil menyesap cokelat panas. Ia mendengus pelan sambil kembali memainkan sebuah lagu, “Dan setelah itu pianonya dibanting oleh ibuku ke jalanan.”

“Woah, ibumu kuat sekali,” Sahut Yixing sambil meletakan cangkir lain berisi cokelat panas di atas piano dan memberi kode ke Seulgi untuk meminumnya. Seulgi tertawa pelan sambil menggumamkan terimakasih dan mulai menyesap minumannya. “Selain musik, cokelat juga bisa menenangkanmu,”

Yixing yang tadi sedang asyik memanfaatkan wifi gratis di coffee shop di lantai satu kaget begitu melihat sosok Seulgi berjalan tergesa ke lantai dua. Seulgi yang duduk di hadapannya kali ini terlihat berbeda dengan Seulgi yang di sekolah, namun persis sama dengan Seulgi yang ia lihat beberapa waktu lalu di toko ini juga. Melihat bekas air mata di pipi Seulgi dan mata sembap gadis itu, Yixing tahu betul pasti dia sedang sedih. Belum lagi lagu yang dimainkan Seulgi bernada sendu dan begitu lembut.

Hal terakhir itu yang membuat Yixing entah mengapa mentraktir gadis itu secangkir cokelat panas. Kemampuan bermusik Seulgi, selera musiknya, dan juga bagaimana gadis itu mengekspresikan dirinya lewat musik membuat Yixing merasa tertarik dan sepeti menemukan seseorang yang sama dengannya.

Lamunan Yixing buyar saat Seulgi mulai kembali menekan tuts. Kali ini Yixing tersenyum tipis karena ia tahu betul lagu itu.

“Aku suka lagu ini, tapi tidak pernah tahu judul atau penyanyinya,” Kata Seulgi sambil terus melanjutkan permainannya.

Love Knots,” Sahut Yixing. “Judulnya Love Knots. Salah satu soundtrack drama yang disukai Soojung dan Suzy.”

Seulgi tertawa mendnegar jawaban Yixing, “Kau juga suka drama rupanya,” Seulgi tak pernah menyangka akan mendengar Yixing menjawab judul lagu yang dua tahun belakangan ia sering mainkan. Yixing hanya mendengus lalu terkekeh pelan.

“Kau sedang sedih?” Tanya Yixing tanpa sadar. Pria itu refleks menggigit bagian dalam bibirnya karena terlalu ikut campur.

“Orangtuaku bertengkar. Lagi.” Jawab Seulgi tanpa sadar. Pandangannya teralih ke luar jendela. Gemerlap kota Seoul terlihat dari kejauhan.

“Jangan terlalu memikirkan masalah orang tua. Belum tentu mereka memikirkan kita,” Sahut Yixing ringan. “Kau masih muda, lebih baik have fun sajalah. Aku tidak tahu masalah kedua orang tuamu. Tapi aku yakin cukup parah. Karena kau sampai sesedih ini. Percayalah bukan hanya kau yang mengalami itu, jadi jangan dipikirkan.”

Seulgi tersenyum. Sekarang ia tahu kenapa Suzy dan Soojung senang sekali bercerita bahwa Yixing adalah yang paling enak diajak curhat. Karena nasihatnya selalu ringan dan simpel. Belum lagi cara berbicaranya yang lucu pasti membuat kita tersenyum.

“Ck, jangan senyum seperti itu. Bahaya.”

Seulgi mengerutkan keningnya bingung. ‘Maksudnya?’

***

“Woah, aku tidak pernah tahu di Seoul ada tempat ini,” Seru Yixing takjub. Di tangannya terdapat ponsel Soojung yang menampilkan foto saat Chanyeol menyatakan perasaannya kemarin. Sore itu sepulang sekolah kebetulan ketiganya tidak ada kegiatan dan akhirnya mereka memutuskan untuk hang out bersama di coffee shop Yixing sambil menunggu jam kerja pria itu.

Soojung terkekeh pelan sambil menyesap vanilla late miliknya, “Aku juga tidak tahu.”

“Ck, siapa yang memotret?” Tanya Suzy sambil mengagumi foto-foto yang diambil secara candid itu. Ia yakin yang mengabadikan momen itu bukan orang sembarangan, dilihat dari fokus gambar juga raut wajah Soojung dan Chanyeol yang sangat terlihat jelas di foto itu.

“Tidak tahu juga,” Jawab Soojung jujur. Sesungguhnya ia tidak tahu bahwa kemarin ada orang yang mengabadikan momen itu. Ia sendiri kaget saat pagi-pagi melihat Chanyeol sudah mengirimkan email berisi foto-foto itu.

“Keren, iyakan Suez?” Seru Yixing sambil menoleh ke arah Suzy. Pria itu mengerutkan keningnya bingung melihat Suzy sudah tidak lagi memperhatikan foto Soojung, melainkan melamun sambil menatap langit sore yang sudah dipenuhi oleh semburat jingga.

“Suez!”

Panggilan Soojung membuat Suzy tersadar. Gadis itu mengalihkan pandangannya kembali ke arah Soojung dan Yixing.

“Kau kenapa?” Tanya Yixing yang sudah menebak bahwa sahabatnya itu sedang ada pikiran. Terlihat saat di kelas tadi Suzy hanya melamun dan saat di kantin ia tidak protes meskipun Yixing mengambil telurnya.

Suzy menggigit bibirnya sambil menunduk. Haruskah ia menceritakan perasaannya saat ini? Bagaimana kalau akhirnya mereka menyuruh Suzy untuk mendukung Joohyun? Tapi kalau ia tidak bercerita ia juga tidak tahu harus berbuat apa.

“Joohyun itu menyukai Myungsoo,” Suzy akhirnya memilih membuka mulut. Ia memang paling tidak bisa tahan untuk tidak bercerita ke Yixing dan Soojung.

“Terus masalahnya apa?” Tanya Soojung yang nampaknya belum mengerti. Gadis itu tidak jadi menghabiskan rainbow cake yang ia pesan. Ia meletakkan kembali sendok di tangannya dan memilih fokus ke arah Suzy.

“Kau suka Myungsoo kan?” Lagi-lagi Yixing menebak pikirannya dengan tepat. Suzy melirik ke arah Yixing, ‘Apa Yixing ini hantu?’ rutuknya dalam hati.

“Bukannya kau suka sama Yoongi?” Pekik Soojung kaget. Jelas-jelas beberapa minggu yang lalu Suzy bilang akan memberi Yoongi kesempatan.

Suzy menghela napas panjang. “Tadinya aku sudah mencoba untuk memberi Yoongi kesempatan. Dan aku lumayan menyukainya. Hanya saja kalian kan tahu beberapa minggu ini dia sibuk. Dan aku lebih dekat dengan Myungsoo.”

“Kau tahu dari mana Joohyun suka sama Myungsoo?” Tanya Soojung cepat. Ia memang pernah mendengar gosip itu dulu, namun ia kira itu hanya rumor iseng yang beredar karena Myungsoo bersahabat dengan Joohyun.

“Joohyun yang bilang.”

“Jadi sekarang kau merasa bersalah?” Tebak Yixing lagi. Dan lagi-lagi tepat sasaran. Suzy menunduk sambil mengangguk pelan.

“Kenapa juga kau harus merasa bersalah? Suka itu hak asasi setiap orang!” Sambar Soojung tidak sabaran. “Belum tentu juga Myungsoo suka dengan Joohyun.”

“Suzy juga pasti dilema Soojung-a, dia baru saja dekat dengan sepupunya dan fakta ini bisa saja membuat mereka bermusuhan.” Kata Yixing tenang sambil meremas pundak Suzy yang duduk di sampingnya. Suzy menoleh ke arah Yixing dan tersneyum tipis. ‘Yixing neo jjang!’

Soojung mendesah pelan dan kembali meneguk vanilla late-nya. Kalau dipikir-pikir ini juga berat untuk Suzy. Di satu sisi, Suzy baru saja bisa akrab dengan saudaranya dan tidak mau bermusuhan, karena bermusuhan dengan keluarga sendiri itu tidak enak. Di sisi lain ia tidak bisa menyukai Myungsoo tanpa membuat pertengkaran dengan Joohyun. Apalagi Joohyun adalah tipe that prncess yang jauh dari kata dewasa dan mau memahami.

Suzy menghembuskan napas panjang dan meletakkan kepalanya di atas meja sambil kembali memandangi langit sore di luar.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam saat Suzy menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Seharian ini, Suzy merasa otaknya blank dan tidak tahu harus berbuat apa. Maka untuk yang pertama kalinya dalam dua bulan belakangan ia mengerjakan pekerjaan rumahnya di rumah.

Setelah merapikan buku-bukunya, Suzy berjalan menuju ke arah jendela. Ia memandang ke langit yang terlihat cerah dengan beberapa bintang menghiasi. “Langit sangat cerah malam ini,” gumamnya.

Tiba-tiba Suzy tersenyum senang. Mata awasnya menangkap taman bermain kecil yang terletak di tikungan dekat rumahnya. Tanpa berpikir panjang ia meraih jaketnya dan berlari keluar.

***

Myungsoo memetik asal gitarnya tanpa minat. Ia sedang berada di taman bermain kecil yang terletak di tikungan tak terlalu jauh dari rumahnya. Malam itu Myungsoo yang tak bisa mengenyahkan bayangan Suzy dari kepalanya memutuskan untuk mencari udara segar. Dan sekarang di sinilah ia, duduk di atas ayunan sambil memetik asal gitarnya. Sesekali pria itu menghela napas panjang.

“Kalau tidak bisa main gitar, jangan sok,”

Suara familiar seorang yeoja membuat Myungsoo tersentak. Dengan cepat ia berdiri dan membalikkan badannya. Sontak kedua matanya membulat kaget.

Di hadapannya kini terlihat Suzy berdiri santai dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam jaket. Dengan langkah ringan gadis itu menghampiri Myungsoo dan duduk di ayunan di samping Myungsoo.

“Kau kenapa ada di sini?” Tanya Myungsoo setelah bisa mengendalikan keterkejutannya. Dia kembali duduk di ayunan dan memangku gitarnya.

“Mencari udara segar,” Jawab Suzy berusaha terlihat sebiasa mungkin. Beberapa menit yang lalu begitu ia sampai di taman setelah memohon pada penjaga agar diizinkan keluar, mata awasnya menangkap punggung familiar Myungsoo yang terlihat sedang memainkan gitar. Dan Suzy bersusah payah untuk menyembunyikan senangnya.

“Oh,” Sahut Myungsoo pendek. Di dalam tubuhnya sedang terjadi perdebatan serius. Apakah tidak apa-apa untuk senang karena bertemu secara tidak sengaja dengan Suzy di taman? Apakah ia boleh menikmati pertemuan itu? Dan saat teringat bahwa Yoongi sendiri yang bilang bahwa mereka bisa bersaing secara sehat, Myungsoo merasa bisa bernapas lega.

“Pinjam gitarmu dong, lebih baik aku yang main.” Seru Suzy sambil merebut gitar cokelat di tangan Myungsoo dan mulai memetik senar itu, menghasilkan melodi ringan yang enak didengar.

“Kau bisa bermain gitar?” Seru Myungsoo takjub.

“Bisa dong. Yixing yang mengajarkan,” Jawab Suzy ceria. Mendengar nama Yixing disebut Myungsoo tanpa sadar mendengus. Ia kembali merebut gitar yang dipegang Suzy. “Huh, memangnya kau bisa?” Seru Suzy kesal karena Myungsoo menghentikan keasyikannya.

“Bisa. Memang cuma Yixing yang bisa?” Seru Myungsoo sambil mulai memetik gitar. Dengan lihai jemarinya memetik senar. Ia berdeham pelan sambil mulai bernyanyi.

Girl it’s really good to see you come around
I know you been lost, I’m glad you got found
Cause I’ve been a little lost myself

Found an old picture of you in my phone
Got a new feeling now I won’t let go
Till I can, I can tell you for myself

Why don’t you stay for a while
It’s been too long since I’ve smiled
There’s too few people I trust
I won’t ask you for too much
Good conversation and such
And if I’m being honest

From time to time
You cross my mind
Good company is hard to find
From time to time
You cross my mind
So stay with me
Just for the night

Suzy yang tadinya asyik mengayunkan kakinya perlahan-lahan berhenti begitu mendengar suara Myungsoo. Ia memberanikan dirinya menoleh dan menatap mata pria itu. Kata-kata yang dinyanyikan Myungsoo entah mengapa membuatnya senang. Ditambah sorot mata Myungsoo yang begitu tulus dan bersungguh-sungguh. ‘Is it okay to think that he doing this on purpose?’ Batin Suzy.

Sambil menyanyi dan memetik senar gitarnya, Myungsoo memandang mata Suzy sungguh-sungguh. ‘This song is for you Suez,’ Batin Myungsoo.

***

Gomawo ahjussi, siang ini aku akan bersama Soojung. Jadi tidak perlu menunggu, nanti kuelpon,” Kata Suzy ke arah Kwon ahjussi sebelum menutup pintu.

Sambil bersenandung pelan, Suzy melangkahkan kakinya menuju ke dalam bangunan sekolah. Senyum terlihat menghiasi wajah cantiknya. Gadis itu merasa ini pagi terbaik sepanjang hidupnya. Ia bisa berjalan dengan santai tanpa perlu memikirkan pekerjaan rumah karena semalam ia telah menyelesaikannya. Ia juga tidak perlu stres karena hari ini tidak ada acara sama sekali dan jadwalnya hanya menemani Soojung ke panti asuhan. Ditambah, semalam ia tidur dengan mimpi indah karena bertemu dengan Myungsoo.

“Suzy-ah!!”

Suzy sudah hendak tersenyum lebar saat otaknya mencerna suara yang tadi menyerukan namanya. Dan detik selanjutnya ia merasakan senyum menghilang dari wajahnya. Suara yang memanggilnya tadi bukan milik Myungsoo.

“Woaah, sudah lama sekali tidak bertemu denganmu di gerbang!” Seru Yoongi ceria sambil mensejajarkan langkahnya dengan milik Suzy. Dalam hati ia bersyukur karena tadi ia ikut mobil ayahnya sehingga dapat berpapasan dengan Suzy di gerbang. Jujur ia sangat merindukan gadis itu.

Suzy berusaha mengontrol ekspresi wajahnya lalu terkekeh pelan, “Suruh siapa jadi idol eoh?” Sahutnya sambil melirik Yoongi lalu tertawa karena wajah pria itu berubah mendung. Beberapa minggu yang lalu, Suzy mungkin akan merasa senang dan deg-degan jika berdekatan dengan Yoongi. Namun karena absennya pemuda itu di kehidupannya selama beberapa minggu membuat perasaan Suzy ke Yoongi menjadi datar lagi. Membuat Suzy kembali melihat Yoongi sebagai sahabatnya sekaligus menutup kesempatan bagi Yoongi untuk masuk ke dalam hatinya dalam arti sebagai pria. Dan juga hatinya sekarang bukan miliknya lagi.

“Apa kau merindukanku?” Tanya Yoongi sambil bergelayut manja di tangan kanan Suzy. Membuat Suzy mendengus lalu tertawa.

“Aku malah sedih melihat kau datang sekarang,”

Terlihat seulas pout di wajah Yoongi. “You are so meanie,” Sahut Yoongi sambil melipat kedua tangannya di depan dada, berpura-pura ngambek.

Suzy tertawa lagi lalu menggeplak bagian belakang kepala Yoongi, “Singkirkan wajah itu, tidak imut sama sekali!”

“Aaaaah Suzy-aaa,” Seru Yoongi dengan nada manja sambil memasang aegyo. Tahu betul tindakannya membuat Suzy merasa geli.

“Menjijikan.”

“Suzy-aaa, Suzy-aaaa,”

“Sekali lagi dan kau akan berakhir di rumah sakit Hankook.” Kata Suzy sambil melemparkan death glare-nya ke arah Yoongi, membuat pria itu tertawa puas karena berhasil membuat Suzy mengeluarkan death glare yang menurutnya cantik itu.

Tak lama kemudian keduanya sampai di koridor sekolah yang tidak terlalu ramai. Yoongi memindahkan tasnya ke depan lalu mengelurkan sesuatu dari dalam backpack-nya. Cup plastik dengan merek ice cream mochi ternama yang terlihat menggiurkan.

“Suez kau mau?” Tawar Yoongi sambil mengulurkan sebuah sendok plastik. Saat membelinya di swalayan tadi, Yoongi memang sengaja meminta sendok dua, tahu betul Suzy tidak akan menolak tawarannya.

Betul saja, kedua mata Suzy refleks membulat dan ekspresi senang terlihat di wajahnya saat gadis itu meraih sendok dari Yoongi. Yoongi tersenyum melihat binar yang terlihat dari kedua mata Suzy lalu membuka penutup cup dan mengantonginya.

“Kyaaa mochiii!!” Seru Suzy girang sambil mengambil sesendok dessert khas Jepang itu dan langsung memakannya.

“Enak?” Tanya Yoongi yang langsung dijawab dengan anggukan semangat dari Suzy. Pria itu tersenyum sambil mulai ikut makan. Membuat Suzy tersenyum memang bukan hal yang terlalu sulit.

“Ah harusnya kita memakan ini di kelas,” gumam Suzy tanpa sadar teringat salah satu adegan di drama di mana tokoh utamanya sangat menyukai ice cream mochi.

Yoongi terkekeh, “Makan sekali hisap karena bel masuk berbunyi.”

Suzy sontak menghentikan langkah kakinya mendengar ucapan Yoongi. “ASTAGA KAU MENONTON DRAMA ITU JUGA?!!!” Seru Suzy semangat, mengetahui bahwa Yoongi juga menyukai drama itu.

“Manager nuna selalu menonton itu di manapun.” Sahut Yoongi yang diam-diam dalam hati berjanji tidak akan lagi mengutuk manager-nya yang sering menonton drama. Karena ternyata kebiasaan manager-nya itu membuat Suzy bisa tersenyum dan memekik dengan semangat.

Suzy tertawa lalu mengulurkan tangannya mengajak Yoongi untuk melakukan high five. Keduanya lalu berjalan bersisian menuju kelas sambil membahas drama itu.

Nde, aku juga gemas sekali melihat Jiwoo yang hatinya seperti es itu!” Seru Suzy semangat sambil mengacungkan sendok plastik yang ia pegang ke udara. “Dia itu bisa saja bersikap biasa…”

“Kalau memang dia ingin keadaan seperti biasa,” Potong Yoongi cepat, membuat Suzy membulatkan matanya dan memekik senang.

“Itu dia! Belum lagi si Jun itu! Dia itu…”

“Bodoh sekali karena lebih percaya perkataan Gill daripada hatinya sendiri.” Lagi Yoongi memotong cepat membuat Suzy kembali memekik senang dan mengajak Yoongi high five.

Tak lama kemudian keduanya masuk ke kelas, masih tertawa membahas adegan-adegan konyol dan tidak masuk akal dalam drama. Tidak sadar bahwa ada sepasang mata yang menatap mereka kesal.

“…dan kau tahu apa? Meskipun Kang Dae itu sangat manis dan so sweet aku tetap mendukung Chaera bersama— Omo! Sendok terakhir!!”

Yoongi hanya tersenyum melihat tingkah Suzy yang duduk di sebrangnya. Seperti biasa gadis itu bercerita dengan ekspresif dan kehilangan fokus dengan cepat karena hal lain. ‘Ini alasan kenapa aku memilih masuk meskipun semalam practice sampai jam tiga pagi dan sore sudah ada jadwal lagi.

Jaaa pabwa Yoongi-sii, potongan terakhir!!” Seru Suzy ceria sambil menyendok potongan kecil di dasar cup dengan penuh penghayatan dan mata berbinar. “The most delicious part of this heaven’s gift will be given to Miss Bae Su—

SET!

Tepat ketika sendok plastik itu bergerak menuju mulut Suzy, sebuah tangan mencengkram pergelangan tangan Suzy dan memakan bagian-terenak-dari-kado-surga itu.

Selama beberapa detik Suzy merasa otaknya blank. Bagian yang selalu menjadi favoritnya menghilang dengan kecepatan kilat ke dalam mulut—

“YYAA! KIM MYUNGSOOOO!!!” jerit Suzy kesal sambil melempar cup di tangannya ke arah Yoongi dan meraih buku teks Biologinya lalu berlari ke arah Myungsoo yang sudah kabur duluan ke bagian depan kelas.

Yya! Neo—“ Suzy sudah hendak mengeluarkan umpatan saat tiba-tiba bel masuk berdering dan para siswa mulai menuju ke tempat masing-masing. Dengan kesal Suzy berjalan ke tempatnya setelah sebelumnya meluapkan amarahnya dengan menendang kursi Myungsoo.

“Hahahahaha”

Di depan kelas Myungsoo tertawa dengan puas sambil membungkuk. Kedua matanya berair dan tawanya tak mau berhenti. Seraya memegangi otot perutnya yang mulai kram karena tertawa, Myungsoo berjalan kembali ke tempat duduknya.

Gwencanha, Suzy-ya nanti kita beli lagi,” Kata Yoongi sambil tersenyum manis dan mengacak rambut Suzy pelan lalu kembali ke tempat duduknya.

“Dasar anak—“

Keumanhae, Jung ssaem sudah di depan. Kau tidak mau mengurangi point-mu lagi kan?” Suara santai Soojung membuat Suzy cemberut dan meletakkan kepalanya di atas meja. Seperti anak kecil ia memajukan bibirnya dan melempar pandangan kesal ke arah Soojung yang sedang asyik mengoles lip balm.

“Hari ini kita praktik pengambilan nilai pembacaan puisi bahasa Inggris. Semua tolong kumpulkan teks puisi yang telah kalian pilih dan maju berdasar….”

***

Woaah, donkatsu-ida!!!”

Suzy yang tadinya berjalan sambil bergandengan dengan Soojung melepas lengan gadis itu dan berlari ke arah antrian yang belum terlalu panjang, mengingat mereka berdua keluar lima menit lebih dahulu sebelum bel istirahat berbunyi.

“Dasar Suzy,” gumam Soojung sambil menggeleng pelan dan melipat kedua tangannya. Ia mempercepat langkahnya menuju Suzy dan hendak berteriak saat sebuah tangan kokoh melingkari lehernya, membuat badannya refleks membungkuk.

“Nona Jung, kau membolos juga rupanya,” Seru Chanyeol sambil berpura-pura menjitak puncak kepala Soojung dan menguatkan ‘pitingan’nya,

Soojung terkekeh dan dengan membalas dengan aegyo, “Soojungie-dda donkatsu johaeyo Oppa~~~~

Chanyeol tertawa dan menghadiahi kekasihnya sebuah kecupan di puncak kepala. “Kajja! Aku bisa gila kalau kau kembali ber-aegyo.” Soojung ikut tertawa lalu menarik tangan Chanyeol untuk ikut mengantri.

Sementara Soojung dan Chanyeol baru memasuki antrian, Suzy sudah tidak bisa menahan air liurnya melihat potongan donkatsu yang disajikan. Ia kini berada di belakang beberapa orang yang sedang mengambil nasi dan sup sebagai menu wajib makan siang kantin.

“Apakah masih lama?” gumam Suzy tidak sabar. Kedua kakinya tidak bisa diam sedari tadi sementara tangannya menggenggam erat-erat tempat makan besi di tangannya. Sejak ia memasuki antrian tadi, kandung kemih di dalam tubuhnya sudah mengirimkan sinyal tanda harus segera dikosongkan. Namun Suzy tidak ingin ke toilet dulu karena bisa-bisa ia harus mengantri berkali lipat lebih lama lagi nanti.

“Kau mau pipis? Sini biar aku yang ambilkan makananmu.”

Suzy refleks membalikkan tubuhnya saat sebuah tangan meraih tempat makannya dan mendorongnya pelan keluar barisan. “Woah! Kim Myungsoo! Astaga terimakasih Tuhan kau muncul di saat yang tepat. Thankyou very much mate!!” Seru Suzy cepat sebelum ngacir ke arah toilet. Karena tawaran Myungsoo tadi ini ia jadi melupakan kejadian potongan terakhir ice cream mochi tadi.

Myungsoo melihat sosok Suzy yang menghilang sambil tersenyum. Gadis satu itu ada saja kelakuannya. Seperti tadi ketika menu makan siang di kantin tersebar di grup angkatan mereka, dengan semangat Suzy menarik Soojung untuk menyelinap ke kantin lebih dulu lima menit sebelum pelajaran Hwang ssaem selesai. Gadis itu juga seperti biasa sudah melupakan keisenganna tadi pagi, meskipun Myungsoo tetap harus waspada karena Suzy bisa saja membalasnya lebih nanti.

Tak lama kemudian Suzy sudah kembali ke kantin dengan senyum di wajahnya. Saat itu suasana kantin sudah mulai ramai dengan siswa lain. Ekor mata Suzy bahkan mendapati Yixing yang sedang mengambil potongan donkatsu dan sosok teman lainnya yang duduk melingkar di kursi bundar di tengah ruangan.

“Kau dari mana Suez?” Tanya Yixing saat ia selesai mengambil makanan. Keduanya berjalan bersisian menuju tempat duduk yang telah dihuni dengan teman mereka. Suzy hanya terkekeh sambil menunjuk toilet di sisi lain ruangan.

Yogi!” Soojung berseru sambil melambaikan tangan ke arah Yixing dan Suzy.

Arra, suara pekikanmu saat melihat foto Mino terdengar dari tempat mengantri,” sahut Yixing datar dan mengambil tempat di kanan Yoongi bersamaan dengan Suzy yang duduk di sisi kiri Yoongi. Soojung kontan langsung protes bersama dengan Joohyun, teman satu fandom-nya.

“Suez makananmu,” kata Myungsoo sambil membuka pembungkus sumpit untuk untuk Suzy dan membersihkannya dengan cepat. Suzy menerima sumpit dari Myungsoo dengan senang dan langsung menyoba donkatsu. Sedangkan Myungsoo kembali menuangkan saus di tempat makan Suzy tepat di atas donkatsu-nya dan menaburkan garam di sup Suzy.

Gomawo Myungie!!!” Seru Suzy senang dan mulai fokus makan.

Myungsoo tersenyum dan melakukan tugas terakhir yaitu membuka penutup botol mineral dan meletakkannya di depan makanan Suzy. Menghabiskan banyak hari bersama Suzy membuat Myungsoo dengan mudah menghapal kebiasaan gadis yang selalu menyedot perhatiannya itu. Membersihkan sumpit, mencoba menu utama tanpa diberi saus (kalau makanannanya digoreng, kalau makanannya direbus dia akan mencoba kuahnya terlebih dahulu), lalu menuangkan saus untuk menambah rasa pedas, mencoba sup yang selalu ditambahi garam, dan terakhir minum terlebih dahulu sebelum mulai makan.

Setelah Suzy meneguk air mineralnya dan mulai makan, Myungsoo pun kembali melanjutkan makan sambil sesekali menyahuti obbrolan yang sedang berlangsung di meja itu yang penuh dengan pekikan Joohyun dan Soojung serta seruan protes Yixing yang makanannya selalu dicuri Suzy.

Yoongi yang terapit di antara Yixing dan Suzy terkekeh lalu melerai keduanya dengan memberikan setegah donkatsu-nya ke tempat Suzy dan setengah nasinya ke Yixing. “Gwencanha, aku juga toh harus diet,”

Suzy tersenyum senang dan memamerkan eyesmile-nya ke arah Yoongi, “Gomawoo Yoongi-a!!”

Yoongi tersenyum lalu meneguk air putihnya. Ia baru saja hendak membalas ucapan Suzy saat ia melihat Myungsoo yang duduk di samping Suzy dalam diam mengambil wortel yang terdapat dalam sup Suzy dan sebagai gantinya memberikan kentang di supnya. Suzy yang wajahnya menunjukkan gejala ingin protes karena sup yang diterimanya berisi penuh dengan wortel langsung tersenyum sambil menepuk pundak Myungsoo beberapa kali.

Tanpa sadar Yoongi tersenyum sedih. Ia bahkan belum tahu sampai sedetail itu tentang Suzy, ditambah lagi sepertinya akan kembali sulit untuk mendekati Suzy. Mengingat Myungsoo memiliki intensitas lebih tinggi bersama Suzy.

Senyum sedih juga terlihat di wajah Joohyun yang merasa iri. ‘Dia mengenalku lebih lama tapi dia tidak sadar bahwa aku juga membenci wortel,’ Dengan enggan gadis itu menggeser mangkuk supnya ke arah Yixing yang dengan cuek langsung menerimanya dan menghabiskannya dalam sekejap.

***

Sabtu pagi itu mansion keluarga Bae terlihat sepi seperti biasa. Beberapa tukang kebun terlihat sedang mondar-mandir di taman, menyiangi dan merawat tanaman di sana yang meskipun sangat indah jarang dinikmati oleh si pemilik sendiri. Para supir terlihat sedang mencuci mobil-mobil yang biasa dipakai para anggota keluarga Bae dan memanasi mobil lain yang keseringan hanya berada di dalam garasi super luas itu. Sedangkan kesibukan berarti terlihat di dapur, para koki nampak sedang berkutat membuat es krim untuk disajikan kepada nona dan tuan muda yang berada di ruang tengah.

Ya, tanda-tanda kehidupan di mansion itu memang hanya terlihat di ruang tengah, tempat di mana dua orang sepupu sedang asyik bermalas-malasan di depan TV plasma 52 inch. Bae Suzy dengan ceana pendek dan oversized t-shirt bergambar teddy bear asyik mengobrol melalui aplikasi chatting di smartphone-nya sambil duduk berselonjor di sofa berbentuk L itu. Sedangkan Wang Jackson yang masih mengenakan piamanya menggelung dirinya sendiri dengan selimut tipis di sisi lain sofa sambil mengganti chanel TV terus menerus.

Yya, pilih lah satu acara dan tontonlah. Jangan mengganti-gantinya seperti itu!” protes Suzy yang sudah asyik memakan es krim dari ahjumma dan melepaskan sejenak smartphone-nya.

Tanpa protes Jackson menghentikan aktivitasnya dan memilih menonton acara musik di salah satu chanel. Dengan enggan ia beranjak dari posisinya dan duduk bersila sambil mulai memakan es krimnya sendiri. “Nuna-ya,”

Suzy diam-diam tersenyum. Dugaannya benar, Jackson sedang ada masalah, makanya bersikap seperti itu. “Wae?”

“Apa yang harus kulakukan kalau aku menyukai dua orang pada waktu yang sama?”

“Pilih salah satu,” Jawab Suzy santai dan langsung disambut lemparan cushion dari Jackson. “Yya!” Seru Suzy sambil mengusap puncak kepalanya.

“Kalau aku tahu aku juga tidak akan bertanya!!!” Seru Jackson gemas sambil memakan es krimnya lagi. Cokelat yang terkandung dalam es krim itu mau tak mau sedikit merelakskan pikirannya.

“Menurutku kau harus tanya hatimu. Mana yang paling membuatmu tersenyum, dan mana yang paling membuatmu sedih ketika kalian tidak bersama. Tentukan mana yang akan membuatmu lebih sedih saat melihatnya bersama pria lain.”

Jackson mengangguk dan menggumamkan terimakasih sambil memberikan sesendok es krim ke arah Suzy sebagai tanda terimakasihnya. Suzy sontak tertawa dan mengacak rambut Jackson pelan.

“Astaga!! Apa kalian belum mandi?!” Teriakan heboh dengan nada ekspresif itu memenuhi ruang TV keluarga Bae, membuyarkan atmosfer penuh kasih sayang dalam waktu sepersekian detik.

Tanpa harus menoleh, Suzy dan Jackson sudah tahu sapa pemilik suara itu. Keduanya dengan kompak melambai dan berseru,

“Pagi Joohyun,”

“Pagi nuna,”

Joohyun melepas tasnya dan melempar asal benda itu ke karpet. Sambil berkacak pinggang ia berdiri di tengah-tengah ruangan, menghalangi acara musik di TV dari penglihatan kedua sepupunya. Senyum cerah terlihat di wajah Joohyun yang sudah mengenakan pakaian olaraga pas badan lengkap dengan sepatu berwarna senada.

Solma..” Jackson bergumam dengan ekspresi horor di wajahnya. Hanya ada satu olahraga yang membuat Joohyun tersenyum senang karena sangat efektif membantunya menjaga bentuk tubuh.

“Ayo kita pilates!”

***

Getaran halus benda persegi panjang hitam di atas nakas membuat Myungsoo berpaling dari buku teks tebal yang ada di pangkuannya. Pria bermata sipit itu meraih ponselnya dan menempelkannya ke telinga sebelah kiri.

Wae?”

“Myungsoo-ya! Nanti malam menginaplah di rumahku,” suara ceria Yoongi di sebrang sana terdengar jelas meskipun ada keributan khas lokasi shooting sebagai latarnya.

Myungsoo mengerutkan keningnya bingung, “Kukira kau sudah berhenti mengunjungi klub,” kata Myungsoo sambil terkekeh pelan. Sejak mereka mengenal ‘klub’ alasan Yoongi mengajaknya menginap bukan lagi bermain playstation sampai subuh.

“Eiis, selama aku comeback ini aku juga sudah bosan dengan tempat itu. Aku butuh kau untuk membantuku mengerjakan tugas. Detailnya nanti saja, aku harus ke stage.”

Klik. Sambungan terputus.

Myungsoo hanya menggelengkan kepalanya dan meletakkan kembali ponselnya. Ia sudah maklum dengan tingkah Yoongi yang selalu mendadak dan jarang beserta penjelasan. Ia kembali fokus ke arah buku teksnya, menghabiskan waktu sampai janji temunya dengan kakak keduanya.

***

Oh my god,”

Oh my god,”

“Ooooh sudahlah tidak perlu berlebihan seperti itu,” seru Joohyun santai sambil menggandeng kedua tangan sepupunya dan menggiring mereka ke arah cafetaria di lantai bawah.

Ketiga sepupu Bae itu baru saja menyelesaikan dua jam penuh teriakan Suzy dan Jackson yang baru pertama kali melakukan pilates. Dan seperti kebanyakan pemula lainnya, keduanya sekarang merasakan tubuh mereka yang tidak cukup lentur itu terasa sakit di beberapa tempat. Joohyun sendiri tidak bisa menahan tawanya lagi dan berkali-kali meminta maaf sambil membawa mereka ke cafetaria. Ia berusaha mengembalikan mood Suzy dan Jackson dengan menyogok keduanya brunch ala Amerika.

“Waah, jadi selama ini kau membayar mahal hanya untuk ditarik-tarik seperti itu?” Ujar Suzy sambil bergidik ngeri membayangkan sesi pilates-nya yang sama sekali tidak ingin ia ulang dikemudian hari.

Joohyun terkekeh sambil menyodorkan segelas orange juice ke arah Suzy. “Cantik itu butuh pengorbanan,”

Nuna-ya, kau tidak perlu meragukan gen keluarga Bae yang mengalir dalam tubuhmu,” sahut Jackson, entah menyindir atau memuji. Namja yang biasa pecicilan itu kini diam tak berkutik di sofa sambil memijat pundaknya. Joohyun tertawa dan menyumpalkan sandwich tuna ke mulut Jackson.

Mianhae, minggu depan aku tidak akan mengajak kalian ke tempat itu lagi,” kata Joohyun sungguh-sungguh sambil meringis pelan.

Suzy tertawa dan mengangguk, “geurae, sebagai gantinya kau yang ikut kami wall climbing minggu depan.”

Mwo?!

“Yaa!! Aku setujuu!!” Seru Jackson senang dan ber-toast ria dengan Suzy lalu tertawa senang melihat wajah cemberut Joohyun. Di kepala gadis itu sudah terbayang panas matahari yang akan merusak perawatan kulitnya.

Diam-diam Suzy bersyukur bisa bertemu kembali dengan keluarganya. Seumur hidupnya, ia belum pernah merasakan memiliki saudara perempuan atau pun seorang adik. Kehadiran Yixing sebagai figur seorang sahabat dan kakak tentu berbeda dengan Jackson, begitu juga kehadiran Joohyun yang jauh berbeda perannya dengan Soojung. Bersama Joohyun yang serba bertolak belakang sifat dan minatnya membuat Suzy merasakan seperti memiliki sosok saudara perempuan seperti di dalam film atau novel-novel. Perbedaan antara Soojung dan Joohyun membuat Suzy menghabiskan waktu bersama keduanya dengan cara yang berbeda pula. Bersama Joohyun, Suzy melakukan dan merasakan banyak kegiatan baru yang tidak pernah menarik minatnya. Jujur, Suzy menikmati itu semua. Tanpa sadar ia menikmati selera humor Joohyun dan bagaimana mereka menghabiskan waktu bersama sebagai anggota keluarga Bae, belajar menjadi princess yang tangguh dan tidak diremehkan oleh orang lain, dan masih banyak lagi.

“Suez! Lihat ini!! Besok ada kelas memasak Italia, coba yuk!!” Seru Joohyun sambil menunjukan layar smartphone-nya, membuat Suzy melongo kaget.

“Memangnya untuk apa kita belajar memasak Italia?”

“Yah kau bisa menikmati masakan Italia besok sedangkan aku akan menikmati waktu bersama chefchef tampan dan muda itu besok,” sahut Joohyun sekenanya.

The more I know her, the more I feel wrong to love him. It feels like I just snatched Chanyeol from Soojung,’

***

Jam menunjukkan pukul tiga subuh saat Myungsoo kembali ke kamar Yoongi setelah mengeluarkan cairan kandung kemihnya. Pria bermata sipit itu menggeleng takjub melihat sahabatnya masih bertahan merangkum buku teks sejarah yang terbuka lebar di atas meja belajar. Setelah beberapa tahun, baru kali ini Myungsoo melihat Yoongi begitu bersungguh-sungguh mengerjakan tugas.

“Kau masih bertahan?” Goda Myungsoo sambil menghempaskan tubuhnya di kasur Yoongi yang sudah lebih dulu dihuni oleh tubuh jangkung Chanyeol. Temannya yang satu itu sudah k.o sejak dua jam tadi, tepat ketika Myungsoo kembali mengalahkannya di jalur balap dalam TV plasma di kamar Yoongi. Dengkuran halus Chanyeol menjadi satu-satunya musik latar malam itu.

“Aku terpaksa masih bertahan.” Kata Yoongi sambil menahan kantuk. Seperti robot ia membalik buku teks sejarah di atas meja dan langsung merangkum kalimat-kalimat yang sudah diberi stabilo biru oleh Myungsoo.

“Kau kan bisa tidak masuk, dari dulu juga kau sudah mendapat dispensasi,” sahut Myungsoo sambil memiringkan tubuhnya ke arah jendela, bersiap tidur.

No no no. Aku ingin masuk. Dan karena itu aku butuh tugas ini selesai. Apa kau lupa segalak apa pak tua itu kalau sudah menyangkut pekerjaan rumah?”

“Tidak aku belum lupa. Kalau aku jadi kau, aku lebih baik tidur dan menyiapkan tubuhku untuk kegiatan selanjutnya,”

“Dan membiarkanmu mempunyai kesempatan lebih banyak untuk mewarnai hari Suzy?” Sindir Yoongi dengan nada menggantung di ujung kalimat. Pertanyaan itu terdengar santai dan sarat akan canda, namun Myungsoo mendengarnya sebagai petir di siang bolong. Ia merasakan pang di hatinya dan sangat sakit.

I am sorry mate,”

“Hey, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membahas ini?”

“Tetap saja. Bagaimana kalau salah satu dari kita dipilih oleh dia nantinya?”

Then it will be the time to look who is the childish one and what this past 8 years means,” jawab Yoongi santai.

Myungsoo mendengus, “Shit. When were you started being so mature?”

“Sejak ketika aku—Shit! I am bleeding!!” Jawaban Yoongi terpotong oleh kehebohan pria itu sendiri saat melihat darah segar menetes dari hidungnya. Dengan histerisnya yang khas, ia berlari ke arah kamar mandi dan menyebabkan kegaduhan yang membuat Myungsoo tersenyum tipis.

Melihat bagaimana Yoongi bekerja sekeras itu membuat Myungsoo kembali merasa bersalah. Kalau saja ia tidak jatuh cinta pada gadis itu mungkin Yoongi akan dengan tenang menjalankan aktivitasnya dan beristirahat dengan cukup. Tapi ia tidak bisa berkata apa-apa, Suzy memang gadis yang berbeda. Menyukainya memang merupakan perjuangan tersendiri.

‘How if later it’s me who can be mature enough to face her choice? How if later it’s me who screw this 8-years-friendship? How if later it’s me who always cause problem?’

to be continued…


Hello guys! I know this is A SUPER-MEGA-LATE-UPDATE and for those reason I want to say sorry *deep bow*

Cerita High Society mungkin akan selesai dalam beberapa chapter dan aku akan mulai lagi dengan another story dan beberapa kumpulan oneshoot. Jadi di sini aku minta maaf sedalam-dalamnya karena aku ngerasa banget fanfic ini secara teknis masih SANGAT KURANG. Aku tahu banget itu. Alur kecepetan, kalimat gak koheren, konflik gak jelas, gak ada klimaks, resolusi juga kesannya terlalu dibuat-buat, dan yang jelas sangat jauh di atas ekspektasi kalian. Maka dari itu aku sangat minta maaf yang sebesar-besarnya.

Seperti yang aku bilang kemarin, cerita bakal mulai terfokus dengan Suzy-Myung-Joohyun-Yoongi. Karena memang empat orang itu fokus utamanya. Dan aku juga sangat berterimakasih buat kalian readers yang udah mau baca, menghargai, dan bahkan berkomen ulang untuk menanyakan kelanjutan. Jujur aku terharu. Aku minta maaf untuk update yang telat jujur aku minta maaf:”)

Saat ini aku bener bener butuh dukungan kalian buat lanjutin chap2 terakhir. Ngeliat statik view sampai 600 dengan komen yang gak sampe 100 bikin aku sedih:”) Jujur aku masih mau nge-post update-an karena aku sayang sama kalian readers yang always komen di sini. Tapi yasudahlah ya, aku gak bisa ngomong apa-apa. Mungkin memang karya aku aja yang sebenernya terlalu jelek buat kalian siders yang bahkan ga bisa ngasih aku tombol like atau sepatah kata atas tanggapan kalian dalam cerpen ini”)


Buat proyek selanjutnya aku mau ngeluarin oneshoot yang saling berkesinambungan(?) dengan tajuk Late Night sebagai tanda kalau oneshoot itu mengisahkan cerita yang sama dan berhubungan. Di proyek itu aku bakal kasih pairing Suzy x Sehun. Sedangkan MyungZy bakal kembali jadi pairing di proyek chaptered ku yang bakal berputar di genre romance, family and friendship hehehe😀

tumblr_ncnta5k0pp1qfbo1xo1_1280

70 responses to “[Chapter-8] High Society

  1. Waaaaa…. akhirnya…. setelah sekian lama makasih byk ya thor…
    Hebat si Yoongi bijak bgt, suka sm karakterx yg 💪.
    Mmg ff ttg yoongi x suzy sgt jarang mgk baru ini malah hehhe…. berhubung daku myungzy shipper jd aq berharap Suez memilih Myung pd akhirnya 😍
    Gomawo ….. 🙆

  2. kadang kasian juga liat yoongi.dia tetap kekeh ke sekolah cuma buat bisa sama suzy…….
    semoga endingnya akan membuat semuanya bahagia dan tetap suzy harus sama myungsoo kekekeke

  3. Sambil nunggu part 8 keluar baca ulang part ini hehehe…
    Kasian Yoongi dia bnr2 sayang sm Suez… yp Myung juga.
    Suez ga enak ati sm Joohyun…
    Jadi siapa yg bakal dipilih Suez…
    Dukung dua2nya

  4. WUUUUUAAA akhirnya dilanjut jugaaa
    weee suzy myungsoo plis jangan ada yg mundur sama perasaannya sendiri
    myungzy jjang!
    yoongi sama joohyun ajaaa wkwk
    nextnya ditunggu pake banget fighting

  5. Min, ayo lanjut chapter nya.. bagus lho min ff nya.. Q baca nya senyum2 sndiri lho.. Come on! Fighting!

  6. Ceritanya bagus!!!
    Dilanjut ya thor…
    Baca cerita ini dari awal sampai chap ini,isinya ngaduk-ngadukin hati mulu…
    Baper…

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s