[Freelance] Windmill Chapter 2/3

Title : Windmill | Author : kawaiine | Genre : Angst, Family, Marriage-Life, Romance | Rating : PG-17 Main Cast : Bae Sooji, Kim Myungsoo | Other Cast : Bae Irene, Aleyna Yilmaz a.k.a Han Areum (OC)

“Hello, I’m back with new ff, kkk… sorry for typos,bad story,and bad poster. Don’t be a siders and plagiator. Happy reading guys, hope you like it. Enjoy^^,”

Inspired by K-Drama Yong Pal.

“Ada sesuatu penting yang akan saya sampaikan, harap dibaca di bagian akhir ya readers,terimakasih :):)”

 

 

“Selamat Pagi…” Sooji tak bergeming dari tidurnya, ia hanya menyunggingkan senyum—menyahut suaminya yang kini tengah mengusap lembut rambut hitamnya. Myungsoo terkekeh pelan, mengingat malam sebelumnya yang sangat—entahlah, sulit di jelaskan dengan kata-kata, yang paling jelas—ia bahagia, sangat bahagia dapat melihat wanita yang dicintainya di pagi pertamanya menjadi seorang suami.

“Bangunlah…bukankah kau harus ke kantor?” Myungsoo tersenyum tanpa melepaskan dekapannya pada sang istri, Sooji tersenyum kembali.

Aniyo, aku mengambil cuti selama dua hari, Oppa.” jawab Sooji, ia menatap mata Myungsoo, Myungsoo mencium kening Sooji, mengusap rambut Sooji dengan perlahan.

“Apakah aku juga harus cuti?” tanya Myungsoo. Sooji mengangguk.

“Manager Min telah mengurusnya, Oppa.”

“Manager Min?”

“Dia adalah Managerku, tapi… Aku sudah memerintahkannya untuk mengurus cutimu.” Myungsoo tersenyum.

“Bagaimana dengan berjalan-jalan hari ini? Bukankah Areum libur sekolah?” Sooji mengangguk.

“Sooji itu memang sangat lemah dengan urusan cinta seperti yang kau bilang, jadi aku merekomendasikan keponakanku untuk menikahinya.” ujar Presdir Yang, Irene tertawa.

“Sebentar lagi kepemilikan saham akan berada di tanganku, jadi… Presdir Yang, kau tak perlu khawatir, aku akan menjual separuhnya kepadamu.” Presdir Yang mengangguk, Irene ini pandai menjanjikan apa yang belum tentu ia dapatkan.

“Jadi, apakah kau sudah menghubungi Dokter Ahn?” tanya Irene, Presdir Yang menatap Irene.

Seorang pria mendaratkan kakinya di atas permukaan tanah Gutamyeo Hospital, ia membuka kacamatanya. Lalu menerawang rumah sakit yang terpampang di hadapannya, ia tersenyum lalu segera memasuki ruang informasi.

“Chogi… Ada yang bisa kami bantu, Tuan?” tanya seorang resepsionis. Pria ini hanya merogoh sesuatu dalam sakunya lalu memberikannya kepada resepsionis tersebut.

“O—Oh, tunggu sebentar. Perawat Seo, tolong antarkan tuan ini ke ruangan Nyonya Irene.” ujar resepsionis tersebut. Wanita yang di sebut Perawat Seo ini kemudian menuruti perintah dari resepsionis tadi.

“Tuan, silahkan duduk disini. Nyonya akan segera datang.” ujar Perawat Seo, pria ini hanya mengangguk dan tersenyum. Tak lama kemudian Irene memasuki ruangannya dan pria ini membungkuk memberi hormat.

“Dokter Ahn?”

“Ya, aku adalah suruhan dari Presdir Yang.” ujar pria ini—Ahn Jae Hyun.

“Baiklah, kemari—aku akan menjelaskan apa yang harus kau lakukan untukku.”

Myungsoo dan Areum terduduk di halaman belakang, mereka sedang asyik bermain bersama ikan-ikan yang berada di kolam yang dihiasi dengan berbagai batu dan air mancur. Myungsoo sesekali melirik ke  arah rumah—mencari Sooji.

“Appa, lihatlah ikan berwarna orange tersebut… Ia sangat besar dan gemuk!” seru Areum, Myungsoo tersenyum—mengangguk.

“Guruku bilang, jika tubuh seorang wanita menjadi gemuk—wanita itu sedang hamil.” ujar Areum, Myungsoo tertawa mendengar ucapan putrinya.

“Jadi, apakah Jibsa Hong juga sedang hamil?” tanya Myungsoo pada Areum, Areum mengangguk mantap.

“Jibsa Hong gemuk dan ia pasti sedang hamil, Appa. Apakah Eomma akan seperti ikan ini? hamil lalu melahirkan banyak anak-anak.” jawab Areum, Myungsoo tersenyum—mengusap kepala Areum.

“Ya, Eomma akan hamil dan melahirkan, dan Areum akan segera memiliki seorang adik—ani, tiga orang mungkin.” tutur Myungsoo, membuat wajah Areum menjadi ceria—lebih ceria.

“Tiga orang adik?” Myungsoo mengangguk. Areum dan Myungsoo kini melirik ke  arah rumah, melihat Sooji yang berjalan ke  arah mereka, membawa sepiring kue dan minuman di atas nampan, membuat Areum memanggilnya berkali-kali dengan cepat.

“Eomma membuatnya sendiri?” tanya Areum, Sooji mengangguk—ia berbohong. Areum kemudian mengambil kue yang berada di piring, dan menciumnya.

“Ini buatan jibsa In, Eomma!” ujar Areum, membuat Sooji malu dan menundukkan kepalanya.

“Aigoo… jadi, untuk apa kau berlama-lama di dapur yeobo… jika kau hanya menonton Jibsa In saja?” Sooji tertawa, Myungsoo kemudian mencubit pipi Sooji gemas.

“Yaa! Oppa!” pekik Sooji, Areum hanya tertawa melihat tingkah kedua orang tuanya.

“Appa! Eomma itu sangat payah dalam memasak, bahkan—hanya memasak air saja Eomma tak bisa.”

“Ssssttt!” Sooji mengisyaratkan Areum untuk berhenti mengatakan keburukannya pada sang suami.

“Eomma bahkan tidak bisa membersihkan na—mmpp” ucapan Areum terhenti seketika Sooji membekap mulut Areum dengan telapak tangannya kemudian mencium pipi Areum bergantian lalu menggelitik badan Areum—membuat Areum memekik meminta tolong pada Myungsoo yang kini tertawa melihat kedua malaikat hatinya. Myungsoo tertegun—ia terpikir—bagaimana jika Sooji mengetahui rencananya meskipun Myungsoo memang mencintai Sooji—tetapi Sooji pasti akan marah besar. Sooji tak akan pernah memaafkannya—mungkin tak mau lagi berbicara dengannya.

“Appa!Appa!” Areum berteriak dengan suara lucunya—membuat Myungsoo tersadar kembali lalu memeluk kedua malaikatnya, mencium keduanya dengan penuh kasih sayang—lalu memeluknya lagi.

“Appa pasti sangat mencintai Eomma!” ujar Areum yang kini sedang berada dalam pelukan Sooji. Myungsoo tersenyum—mengangguk.

“Appa sangat-sangat mencintai Eomma.” jawab Myungsoo yang semakin mengeratkan pelukannya pada bahu Sooji.

“Bagaimana jika Eomma tidak mencintai Appa?” tanya Areum—pertanyaan yang aneh, membuat Sooji tertawa dan Myungsoo terdiam.

“Yaa! Sooji-ah mengapa kau tertawa?” tanya Myungsoo pada Sooji.

“Areum bertanya padamu Oppa. Jawablah.” tutur Sooji, masih dengan tertawa, Myungsoo tersenyum.

“Appa akan selalu mencintai Eomma, bagaimanapun keadaannya…” jawaban romantis dari mulut seorang Kim Myungsoo…membuat Sooji terdiam lalu menatap Myungsoo, membelai pipi Myungsoo.

“Berjanjilah akan selalu di sampingku, Oppa.”Myungsoo mengangguk.

Delapan bulan kemudian…

Pagi ini pagi yang indah—selalu indah untuk Myungsoo, karena hari itu belum tiba. Ia masih diberi kesempatan untuk melihat Sooji, menatap Sooji pagi,siang, maupun malam. Setelah tiga bulan lalu, pamannya—presdir Yang, mengatakan bahwa perusahaannya di ambang kehancuran, jika Sooji belum mau menanamkan atau meminjamkan asset dan saham-sahamnya, perusahaannya akan hancur. Myungsoo tak tahu harus seperti apa menghadapi pamannya ini. Pamannya berkata padanya bahwa saham harus segera jatuh di tangan Irene, tapi Myungsoo tak menyanggupinya—Myungsoo tak mau mencelakai istrinya—dengan ide konyol pamannya yang jahat. Dengan datangnya dokter Ahn, yang beberapa bulan lalu mulai bekerja di rumah sakit tempat Myungsoo bekerja juga, tidak Myungsoo sangka bahwa Dokter Ahn juga seperti dirinya—melakukan ini demi kedua orangtuanya. Ayah dokter Ahn dan Myungsoo sama—dulu mereka memiliki penyakit kelainan hati,sehingga harus dioperasi, tetapi apalah daya—Dokter Ahn dan Myungsoo masih terlalu dini untuk mengerti, hingga keajaiban datang—keajaiban yang menuntut imbalan itu datang, Presdir Yang memiliki banyak kolega dokter di seluruh Negara, hingga ia menemukan pendonor yang pas untuk masing-masing ayah dari korbannya. Myungsoo sangat mencintai Sooji, meskipun ia tahu Sooji akan membencinya nanti, tapi Myungsoo tak peduli, ia tetap mencintai Sooji. Paksaan demi paksaan selalu menghantui Myungsoo akhir-akhir ini. Presdir Yang mengatakan bahwa zat-zat kimia yang telah berhasil dipadukan oleh dokter Ahn telah siap, artinya—Myungsoo harus segera melakukannya, meracuni Sooji. Dan ini tak mungkin Myungsoo lakukan, Myungsoo tak mungkin melukai Sooji—juga melukai buah hatinya yang ia tanam di rahim Sooji. Ya—tujuh bulan lalu, Sooji positif mengandung bayi Myungsoo, Areum sangat senang mendengarnya, ia sangat senang jika pulang ke rumah mendapati Sooji yang tengah bersantai,disitu Areum bisa bermain-main bersama perut buncit Sooji. Areum selalu berteriak gemas ketika perut Sooji bergerak-gerak, Sooji tidak mengambil cuti meskipun kandungannya kini memasuki usia ketujuh. Kehamilan Sooji benar-benar menciptakan suasana baru di rumah mewah ini, membuat kebahagiaan selalu terpancar di wajah Sooji,Myungsoo,dan Areum. Dan Myungsoo—tak mungkin menghancurkan kebahagiaan orang-orang yang ia cintai.

“Oppa…” Sooji menatap suaminya yang kini tengah memeluk dirinya dengan erat. Myungsoo yang sebenarnya sudah terbangun sedari tadi menoleh pada istrinya yang kini tersenyum manis, senyuman yang—entahlah, apakah bisa Myungsoo melihatnya lagi setelah Sooji tahu semuanya?

“Apakah ada sesuatu yang kau inginkan? katakanlah…” jawab Myungsoo sembari sesekali mengusap rambut Sooji.

“Aku ingin ke bukit angin Oppa, jebal…” ucap Sooji sembari membenarkan posisinya, ia berkata dengan wajah khasnya, aegyonya yang selalu muncul jika ia menginginkan sesuatu.

“Kehamilanmu sudah sangat besar,Sooji-ah… Kau tidak boleh—“ Myungsoo menghentikan ucapannya setelah ia merasakan Sooji yang kini tengah membelakangi dirinya, beginilah Sooji jika Myungsoo menolak permintaannya. Myungsoo kemudian memeluk Sooji, sedikit mencium leher Sooji yang terekspos bebas.

“Yaa! O—Oppa.” ucap Sooji susah payah, Myungsoo tersenyum nakal kemudian melanjutkan aktivitasnya, tangannya yang semula hanya terdiam kini bergerak bebas.

“Byeontae!” teriak Sooji sembari menepis lengan Myungsoo dan menghindar dari Myungsoo, Myungsoo hanya tertawa keras.

“Wae? Dahulu kau suka, kan?” tanya Myungsoo, Sooji menatapnya penuh amarah, Myungsoo kemudian tersenyum.

“Baiklah, kita ke bukit angin sekarang.” ujar Myungsoo, membuat Sooji menoleh padanya dengan tatapan bahagia lalu memeluk erat Myungsoo.

“Gomawo Oppa…”

Irene dengan tenangnya menyesap cokelat panas di halaman depan rumah mereka yang sangat luas, ia melirik sekilas Sooji dan Myungsoo yang sedang keluar dari pintu rumah, ia sedikit tersenyum sinis.

“Kau mau kemana?” tanya Irene, Sooji hanya tersenyum.

“Berjalan-jalan sedikit. Aku membutuhkan refreshing.” Myungsoo hanya bisa menuntun lengan Sooji yang kini tengah berjalan hendak memasuki mobil mereka, namun langkah Sooji terhenti.

“Oppa, aku lupa mengambil kamera, aku akan mengambilnya.” ujar Sooji, Myungsoo mendahului langkah Sooji.

“Biar aku saja Sooji-ah…” Sooji menahan langkah Myungsoo.

“Aku saja Oppa, jibsa Hong, kau temani aku kekamar.” ujar Sooji, Myungsoo hanya membalas dengan berkata hati-hati. Dan disaat yang bersamaan Irene menghampiri Myungsoo.

“Kau sudah tahu…kan? Dokter Ahn sudah selesai membuat racun itu…” ujar Irene,tangannya mengusap kerah kemeja yang dikenakan Myungsoo, Myungsoo hanya terdiam lalu menyingkirkan tangan Irene.

“Aku tahu, dan aku mohon… kita harus memberikan waktu sampai Sooji melahirkan anakku. Aku tidak mau menyakiti anakku. Kau juga tak mungkin tega menyakiti keponakanmu kan?” tanya Myungsoo, Irene hanya tertawa kecil.

“Baiklah, akan ku bicarakan ini dengan Presdir Yang. Dan  kau jangan lupa, kau menikah dengan Sooji karena paksaan, dan  kau tidak mencintainya dengan sungguh-sungguh,kan?” tanya Irene, Myungsoo hanya terdiam, Irene melanjutkan langkahnya kedalam ketika suara derap langkah Sooji terdengar.

“Oppa, ayo kita berangkat.” ujar Sooji, Myungsoo kemudian menuntun tangan istrinya.

Setelah dua jam perjalanan,Myungsoo dan Sooji kini tiba di bukit angin, Sooji tersenyum memandang sekeliling, sekilas tak ada yang berubah,tapi—satu yang menarik perhatian Sooji, ada pembangunan rumah di sekitar bukit angin.

“Waeyo?” tanya Myungsoo pada istrinya yang kini tengah sibuk memandang proses pembangunan tersebut, Myungsoo kemudian menarik Sooji untuk bersandar di bahunya, ia menggenggam tangan Sooji erat-erat lalu menciumnya.

“Pembangunan rumah itu merusak bukit angin,Oppa.” ujar Sooji, Myungsoo hanya tersenyum.

“Kau tidak menyukainya? Maksudku—kau tidak menyukai siapapun yang merusak bukit ini?”

“Ya, mereka merusak tempat kita Oppa.” ujar Sooji, Myungsoo terkekeh pelan.

“Kau tahu sesuatu tentang bukit angin?” Sooji menggeleng.

“Ini adalah bukit angin, jika seseorang berciuman di tempat ini…lalu kembali lagi ke tempat ini dan kembali berciuman, mereka tak akan pernah terpisahkan.” Sooji tersenyum, ia kemudian sedikit menjauhkan badannya dengan Myungsoo. Myungsoo kemudian menarik Sooji, menarik dagu Sooji lalu beralih menekan tengkuk Sooji dan melumat bibir Sooji perlahan, Sooji mengalungkan tangannya di leher Myungsoo, Myungsoo dengan cepat memeluk tubuh Sooji, setelah sepuluh menit—Myungsoo melepaskan tautannya dengan Sooji, mereka berdua menyunggingkan senyum, menikmati angin yang berhembus,nafas yang memburu.

“Aku tidak ingin berpisah denganmu—Oppa, tetaplah disampingku.” ujar Sooji, Myungsoo mengangguk mantap.

“Aku akan selalu bersamamu, apapun yang terjadi…” jawab Myungsoo,sebelum mereka kembali menautkan bibir mereka masing-masing—dan larut dalam persatuan cinta yang indah..

Irene memasuki ruangan besar di hadapannya, ruangan Presdir Yang. Ia dengan cepat duduk di sofa, lalu menatap Presdir Yang.

“Ku rasa kita harus mengubah konsep sebelumnya.”

“Maksudmu, Irene-ssi?”

“Ku rasa, Myungsoo sudah benar-benar mencintai Sooji, ia meminta padaku untuk menunggu sampai Sooji melahirkan. Bukankah ini menjadi penghalang baru?” Presdir Yang mengangguk, benar juga.

“Jadi, apa yang akan kau lakukan?” tanya Presdir Yang, Irene hanya tersenyum sinis.

Ruangan persalinan  Gutamyeo Group mendadak ramai oleh media, ya—siapa lagi yang melahirkan jika bukan Sooji. Bayi mungil perempuan ini sedang tertidur hangat di pelukan Sooji, Myungsoo tampak bahagia, ia berkali-kali mengusap lembut pipi putri pertamanya bersama Sooji. Sooji tersenyum.

“Chukkae…Oppa…” ucap Sooji, Myungsoo mengecup kening Sooji singkat sembari mengusap lengan Sooji.

“Gomawo, Sooji-ah… Ia sangat cantik—sepertimu.” Sooji tertawa pelan, Areum hanya bisa tersenyum melihat kedua orangtuanya, hidupnya semakin lengkap karena kehadiran adik kecilnya.

“Areum-ah…Adikmu cantik sekali, kan?” tanya Myungsoo, Areum mengangguk.

“Sangat cantik Appa, lihatlah semua yang berada pada dirinya sangat indah.” jawab Areum, Sooji kemudian memeluk Areum dan mengusap rambut Areum, Myungsoo juga memeluk Sooji dan Areum—jangan lupakan juga Sun Mi yang kini menjadi bagian baru kebahagiaan Sooji dan Myungsoo.

Sudah genap sepuluh hari kelahiran Sun Mi, Myungsoo hanya bisa terdiam di ruangannya—disini pula ia harus mempertimbangkan keputusan yang sangat berat. Ia sudah meminta kesempatan sampai Sooji melahirkan, tapi waktu seperti berlalu lebih cepat, kini Sooji sudah melahirkan dan itu artinya ia harus sesegera mungkin melaksanakan perintah pamannya, atau—ayah dan ibunya akan mati sia-sia di tangan jahat pamannya.

“Dokter Kim.” seru perawat Dam, Myungsoo masih melamun.

“Dokter Kim.” ini kedua kalinya Perawat Dam memanggil, Myungsoo kini tersadar dari lamunannya, ia menatap perawat Dam.

“Nyonya ingin bertemu dengan Anda, Nyonya Irene.” ujar perawat Dam, Myungsoo kemudian mengangguk, mempersilahkan Irene masuk. Dan Irene kini berada tepat di hadapannya, duduk dengan tersenyum manis.

“Bagaimana? Apakah kau siap melakukannya?” tanya Irene, Myungsoo terdiam—menundukkan kepalanya.Irene tertawa.

“Kau seperti anak ayam yang kehilangan induknya Myungsoo-ssi…tampak bingung sekali.”

“Tenanglah, kau tak perlu meracuni istrimu sendiri.” ujar Irene, membuat Myungsoo mendongakan kepalanya.

“Ne?”

“Bukankah aku sangat baik padamu? Aku tak akan membiarkan kau meracuni Sooji sekarang, aku tahu kau masih berbahagia dengan kelahiran putrimu. Aku juga seorang wanita dan seorang bibi yang baik untuk keponakanku, aku telah membicarakan ini dengan Presdir Yang, tenanglah…” ujar Irene, Myungsoo hanya menatapnya tak percaya.

“Apakah kau sedang menjebakku?” Irene tertawa keras.

“Jalani hidup dengan baik, Myungsoo-ssi. Pada saatnya tiba kau harus betul-betul siap.” ujar Irene sebelum meninggalkan ruangan Myungsoo. Ia menyunggingkan senyum sinisnya.

Myungsoo terdiam kembali setelah kepergian Irene dari ruangannya, ia sedikitnya bisa bernafas lega. Tapi, itu bukan berarti Sooji aman. Myungsoo kemudian meraih handphonenya, dilihatnya beberapa email yang masuk melalui handphonenya, ia kemudian membaca salah satu email, lalu mengerutkan dahinya.

“Wae? Mengapa mendadak sekali… Perawat Dam.”

“Ne, Dokter Kim?”

“Apakah besok ada jadwalku mengisi materi disebuah seminar di Ulsan?” tanya Myungsoo, Perawat Dam kemudian meraih papan dadanya, ia membaca sekilas lalu mengangguk.

“Benar, Dokter Kim. Esok hari Anda ada seminar di Ulsan. Semua permasalahan tiket dan akomodasinya sudah dipersiapkan dan sudah dikirimkan melalui e-mail.”

“Tapi, apakah menurutmu ini tidak terkesan mendadak?” tanya Myungsoo kembali, Perawat Dam menggeleng.

“Menurutku tidak, Dokter… karena mereka mengirimkan pengajuan sekitar dua hari lalu. Dan Direktur Go yang meng-accnya.” Myungsoo mendengus kesal, ia masih menikmati harinya sebagai seorang ayah. Ia selalu merindukan Sooji, merindukan Areum,merindukan Sun Mi yang selalu menantinya dirumah, menunggunya pulang dari rumah sakit.

“Appa! Appa!” seru Areum ketika Myungsoo turun dari mobilnya didampingi Manager Sung yang kini memegang tas Myungsoo. Myungsoo dengan cepat menggendong Areum kedalam pelukannya.

“Apakah kau menunggu Appa?”

“Aniyo—bukan hanya aku, tetapi Eomma dan Sun Mi juga menunggumu.” jawab Areum, Myungsoo kemudian segera melanjutkan langkahnya. Ia melirik Sooji yang sedang asyik memakaikan baju tidur pada Sun Mi di kamarnya. Myungsoo menurunkan Areum, ia kemudian melangkah perlahan, dan—memeluk Sooji dari belakang.

“Sun Mi Appa.” gumam Sooji, ia tahu betul Myungsoo yang selalu memeluknya ketika pulang kerja. Myungsoo tersenyum lalu mencium pipi Sooji.

“Mandilah, Oppa.” ujar Sooji sembari mengusap kemeja yang dikenakan Myungsoo.

“Apakah kau sudah mandi?” tanya Myungsoo, Sooji mendengus sebal—ia tahu persis suaminya.

“Jangan berpikiran macam-macam Oppa, aku baru saja sepuluh hari melahirkan Sun Mi.” jawab Sooji sembari berbisik—Areum ada disana, bersama Sun Mi. Myungsoo hanya tertawa.

“Baiklah, aku akan mandi.” ujar Myungsoo yang kemudian mencium singkat bibir Sooji. Sooji tersenyum.

“Aku akan menyiapkan makan malam untukmu Oppa.”

“Jibsa In yang memasaknya kan, yeobo?” Sooji mendelik, Myungsoo kemudian setengah berlari memasuki kamar mandi.

Sooji dengan lahap memakan sup jagung kesukaannya, Myungsoo tak hentinya tersenyum melihat Sooji yang lahap. Myungsoo kemudian membuka pembicaraan.

“Yeobo, besok aku harus pergi ke Ulsan. Aku akan mengisi seminar disana.” ujar Myungsoo, Sooji menghentikan aktivitasnya—sedikit tak rela…

“Berapa lama?” tanya Sooji posesif. Myungsoo terkekeh.

“Hanya dua hari,sayang.” Sooji mengangguk.

“Aku bisa saja membatalkan kepergianmu Oppa, bagaimana?” tawar Sooji, Myungsoo menggeleng.

“Meskipun rumah sakit itu milikmu…bukan berarti aku melupakan kewajibanku sebagai seorang dokter, yeobo.” Sooji tersenyum, Myungsoo juga.

“Hati-hati disana,Oppa.” Myungsoo mengangguk.

“Kabari aku jika sudah sampai disana Oppa.” ujar Sooji sembari melepaskan pelukannya pada sang suami, Myungsoo kemudian mengecup kening Sooji, ia beralih pada Sun Mi yang kini masih tertidur lelap di pangkuan jibsa Hong.

“Baik-baik bersama Eomma-mu,sayang.” Sooji tersenyum.

“Aku pasti menjaganya Oppa.” jawab Sooji. Waktu keberangkatan pun tiba, Myungsoo dengan cepat melangkah meninggalkan keluarga kecilnya. Sebelum ia masuk kedalam pesawat—dilihatnya Sooji yang kini tengah melambaikan tangannya pada Myungsoo—lambaian tangan yang—entahlah, seperti Myungsoo tak akan pernah bertemu dengannya lagi… tapi, Myungsoo menepis pikiran itu jauh-jauh.

Irene memasuki kamarnya lalu meraih handphone di dalam tas kecilnya setelah dirasa handphone itu bergetar berulang kali.

“Ya, akan segera aku laksanakan.” ujar Irene, ia kemudian membawa sebotol kecil air putih—air putih yang sangat berharga sepertinya. Ia kemudian menuruni tangga lalu menuju ke dapur, ia kemudian menuangkan air didalam botol tersebut kedalam teko yang akan diantar ke kamar Sooji. Lalu Irene pergi—meninggalkan dapur dan dengan cepat juga meninggalkan rumah ini.

Sooji turun dari mobil mewahnya, ia kemudian berjalan berdampingan dengan Sun Mi yang berada dalam gendongan jibsa Hong, Sooji menyuruh Jibsa Hong untuk menidurkan Sun Mi. Sooji naik ke atas—kedalam ruangannya, ia memeriksa beberapa berkas miliknya—Sooji mengusap tenggorokannya. Ia terlalu haus. Sooji kemudian menuangkan air tersebut kedalam gelasnya—dan meneguk air itu hingga habis. Sooji kembali pada pekerjaannya, ia tiba-tiba merasa pusing—badannya bergetar hebat. Hingga ia berteriak sangat keras.

Seluruh pelayan dirumah mewah ini berlari dengan cepat menuju ruangan Sooji, mereka mengecek keadaan Sooji—Sooji yang sekarang sedang terduduk di kursi, dengan pandangan mata yang kosong—lalu menatap pada para pelayannya.

“Presdir, apakah anda baik-baik saja?” tanya Jibsa Hong, Sooji menoleh pada Jibsa Hong.

“Dimana Eomma? Apakah pesta ulang tahunku akan segera dimulai?” Jibsa Hong mengerutkan dahinya—ucapan Sooji ini terasa ganjil sekali, terakhir kali Sooji merayakan ulang tahun adalah ketika usianya menginjak duapuluh tahun. Sooji kemudian tertawa, membuat Jibsa Hong semakin heran, dan pelayan yang berada diruangan Sooji heran. Sooji kemudian menangis, badannya bergetar kembali, menahan rasa sakit dan pusing yang melanda tubuhnya.

“Presdir, minumlah ini. Kau harus minum terlebih dahulu.” ucap Jibsa Hong, Sooji kemudian meneguknya kembali—tegukan kedua. Sooji jatuh pingsan, semua pelayan panik bukan main. Jibsa Hong memerintahkan seluruh pelayan menelpon ambulans untuk membawa Sooji ke rumah sakit. Tak lama kemudian Sooji dibawa kedalam ambulans, disana Areum berdiri mematung—tak mengerti apa yang terjadi, mengapa Eommanya masuk kedalam ambulans,dalam keadaan tertidur.

“Eomma! Eomma!” Areum berlari, ia baru saja pulang sekolah. Ia hendak memasuki ambulans, tapi Jibsa In menahannya atas perintah Jibsa Hong, Jibsa Hong menyuruh Areum untuk naik mobil saja. Areum meronta, ia tidak mau, air mata mengalir begitu saja di pipi mulusnya.

“Agasshi, kita akan menyusul kesana sebentar lagi.” ujar Jibsa In, Areum mengangguk lalu memasuki mobil. Ia sempat melihat Jibsa Uhm yang sedang menggendong Sun Mi—Sun Mi yang malang.

“Apa yang terjadi pada Presdir?” tanya perawat Song, Jibsa Hong hanya menggeleng. Tiba-tiba seorang dokter yang berjaga di ambulans tadi datang.

“Ia terkena gagal hati akut. Ia perlu di dialysis, cepat!” perawat Song dengan cepat memindahkan Sooji. Sooji sebetulnya sempat sadar, ia melihat langit-langit rumah sakit—tapi ia seperti melihat langit lapisan ketujuh—langit yang sangat tak adil baginya jika keputusan langit memutuskan ia harus secepat ini meninggalkan orang-orang yang ia cintai.

Jibsa Hong dengan panik menekan tombol telepon di rumah sakit, ia mencoba menghubungi Myungsoo. Myungsoo yang sudah mengetahui semuanya. Myungsoo kini sadar kepergiannya ke Ulsan hanyalah tipu daya pamannya. Ia kini berlari—berlari hendak meninggalkan Ulsan.

“Sooji-ah…” lirih Myungsoo.

Sooji kini berada dalam sebuah ruangan besar, segalanya serba transparan. Dengan kaca-kaca display yang menampilkan sistem kerja tubuhnya dan otak Sooji. Ini ruangan tersembunyi di lantai VIP. Irene sudah ada disana—bersama Presdir Yang,Direktur Go, dan Dokter Ahn. Sooji kini hanya terbaring—mengenakan pakaian putih panjang yang anggun. Rambutnya tergerai—ia tampak cantik meski tertidur seperti ini.

“Aku akan memulai pemberian dosisnya, dosis tinggi untuk pasien ini.” ujar Dokter Ahn. Yang lain hanya mengangguk.

“Pastikan ia tak akan pernah bangun…” ujar Irene, Dokter Ahn mengangguk mengerti.

Seorang perawat masuk kedalam, membisikkan sesuatu pada Irene, membuat Irene menggelengkan kepalanya.

“Maaf, tapi anda tak diizinkan memasuki ruangan ini.” ujar perawat tersebut, Jibsa In memekik kesal.

“Tidakkah anda tahu? Gadis kecil ini adalah putri dari Presdir, putri kesayangannya. Jadi, izinkan kami masuk atau aku akan menelpon keamanan untuk menyelesaikan ini.” ujar Jibsa In, dilihatnya Areum yang tengah menundukkan kepalanya sedih, ia tak diizinkan bertemu dengan Sooji, padahal ia ingin sekali memeluk Sooji, bertanya pada Sooji apakah Sooji baik-baik saja.

Sudah dua jam Jibsa In, Jibsa Hong dan Areum berada di depan ruangan yang tak memiliki izin akses masuk. Dan pada jam ini juga, Myungsoo berlari kedalam lantai VIP setelah mengetahui Sooji yang kini berada dalam ruangan tersebut. Myungsoo berlari hendak memasuki ruangan itu, namun kedua pengawal tersebut hanya menahan Myungsoo.

“Aku suami Bae Sooji—Kim Sooji. Jadi, tolong izinkan aku masuk!” ujar Myungsoo, Areum dengan cepat turun dari kursi yang ia duduki, ia meraih ujung kemeja Myungsoo, menatap Myungsoo dengan tatapan takut.

“Appa, Eomma…” gumam Areum, membuat pemberontakan Myungsoo berakhir. Ia menatap iba sang putri.

“Eomma akan baik-baik saja, sayang…percayalah.” ujar Myungsoo, ia mensejajarkan tingginya dengan Areum lalu memeluk Areum. Myungsoo kemudian menyuruh Jibsa In dan Jibsa Hong pulang, bagaimanapun Sun Mi disana.

Ini sudah memasuki tengah malam, semua akses menuju VIP ditolak, apalagi terhadap ruangan yang diisukan bahwa Sooji berada disana. Myungsoo berdiri di atas balkon VIP bersama Areum, ia kemudian dapat melihat dengan jelas orang-orang yang gila harta baru saja keluar dari ruangan Sooji.

“Areum-ah, ayo ikut Appa!” ujar Myungsoo, ia kemudian melangkahkan kakinya menuju ruangan ICU, ia mencari-cari Perawat Song.

“Aku tadi sempat ikut mengantarnya tetapi melalui lift yang berada didalam parkiran.” ujar Perawat Song, Myungsoo mengangguk—ia kini tahu akses menuju istrinya. Ia dengan cepat berlari memasuki lift yang berada di dalam parkiran, Myungsoo sebetulnya tidak tahu, begitu banyak ruang tersembunyi, hingga ia sampai pada tempat dimana ia bisa melihat—istri yang begitu ia cintai terbaring kaku. Terbaring dan lemah tak berdaya—dengan tampilan digital display yang berada di kaca transparan. Ia memandang sedih pada istrinya yang kini tertidur—begitu cantik.

“Tadi pagi…kau masih setia menemaniku sarapan…berbicara denganku…” ujar Myungsoo, ia menggenggam tangan istrinya yang dihiasi dengan infusan, Areum terduduk di kursi dekat Sooji berbaring.

“Tapi, mengapa sekarang kau seperti ini? Kau tertidur begitu cantik, yeobo…” tutur Myungsoo kembali, ia mengusap matanya.

“Wajahmu pucat…mereka bilang kau terkena gagal hati akut. Aku memang bukan ahli yang bisa menyembuhkan segalanya…tapi, aku akan selalu berada di sampingmu… bagaimanapun keadaanmu…” Myungsoo mengecup lengan istrinya, Areum menatap ayahnya dengan tatapan sedih, ia kemudian turun kebawah—menghampiri sang ayah.

“Appa…” seru Areum pelan, Areum mengusap mata Myungsoo yang basah, Myungsoo tersenyum.

“Mengapa Appa mencintai Eomma?” Myungsoo tersenyum,menggeleng.

“Eomma tidak bisa memasak…” Myungsoo menatap putrinya.

“Eomma tidak bisa menjahit.”

“Eomma tidak bisa memasak nasi yang enak…”

“Eomma tidak bisa mencuci, menyeterika, dan merapikan rumah…”

“Mengapa Appa masih mencintai Eomma?” tanya Areum.

“Karena bagi Appa, itu hanyalah sebuah kiasan… kemampuan itu hanyalah sebuah kiasan. Namun, fakta yang ada bahwa Appa sangat mencintai Eomma-mu, Appa tak peduli apapun… yang Appa inginkan hanyalah—ia bisa menjaga hatinya, maupun hati Appa yang Appa titipkan padanya.” Areum mengangguk, Myungsoo mengusap kening istrinya, ia merapikan rambut Sooji.

“Kau tak suka rambutmu berantakan, aku akan merapikannya untukmu.” ujar Myungsoo pada Sooji yang terbaring kaku, ia kemudian merapikan rambut Sooji dengan perlahan. Myungsoo pun mencium dahi Sooji.

“Bangunlah Sooji-ah… Aku akan berusaha apapun untukmu… supaya kau  terbangun dan dapat mengingatku kembali.” ujar Myungsoo.

“Aku akan menceritakan semuanya padamu, Sooji-ah…meskipun aku tak tahu apakah kau masih mampu menerimaku,atau tidak.”

“Pada awalnya…”

“Appa!” seru Areum ,Myungsoo menghentikan perkataannya.

“Aku mohon… bawa Eomma kemana saja, selamatkan Eomma.”

_TBC_

Annyeong, ada yang kangen sama ff ini?Oke, mengenai pengumuman penting… aku udh punya blog sendiri, jadi kayanya nanti setelah tamat W;r;nt King and Queen,Kwajangnim,sama Windmill aku ga akan nulis lagi disini. Jadi, buat para readers silahkan kunjungi blog aku ya baesukimyungsoo.wordpress.com, Oke, makasih buat semuanya.

 

 

 

 

43 responses to “[Freelance] Windmill Chapter 2/3

  1. astaga apa segitu terobsesinya irene dengan harta sampai dia harus melakukan hal yg bsa membuat adiknya mati? ckckkckc:/

  2. jahatnya irene… tuan yang jugaa…
    jadi racun buat sooji tuh menyebabkan kegagalan hati dan lupa ingatan kah?
    myungsoo cepet selamatin sooji

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s