Almost [Chapter 1]

almost-kapin

Bae Sooji x Kim Myungsoo

presented by Kapin with Hurt, Friendship, Romance, & AU

General ; Chapter ; Amazing poster by Kryzelnut

All cast are belong to God, but this fanfiction is mine.

COMING SOON <— (You must read this before read the story)

“Lempar bolanya!”

“Bodoh, kau bisa mendribble bolanya tidak sih?!”

“Yyak, Jungkoook kenapa kau memasukannya ke ring mu sendiri huh?!”

Myungsoo hanya tertawa tanpa suara ketika mendengar anak didiknya saling berteriak satu sama lain dikelompok yang sama di lapangan. Hari ini Myungsoo membagi kelas 2-3 dalam 2 kelompok dalam pelajaran olahraga. Myungsoo menggantikan Jongin yang tidak dapat hadir dikarenakan sedang sakit. Padahal Myungsoo bukan guru olahraga namun karena ia juga salah satu pelatih basket di sekolah, jadi ia diminta untuk menggantikan nya.

Sekolah tempat Myungsoo mengajar ada milik sunbae–nya dikampus dulu. Pemiliknya adalah Kim Kang In dan Cho Kyu Hyun yang bekerja sama, mereka mengetahui kejeniusan otak Myungsoo lalu memintanya untuk membantu di sekolah yang sedang mereka kembangkan.

Kang In dan Kyuh Hyun juga meminta beberapa teman dan junior mereka untuk mengajar di sekolah yang mereka dirikan, sebut saja Kang Seulgi, Kim Jongin, Kim Ryewook, Lee Donghae dan lainnya.

Walaupun sekolah tersebut baru didirikan namun sekolah ini sudah mendapatkan predikat sekolah favorite dan unggulan dikarenakan sarana dan prasarana yang menunjang serta para pengajar yang terbaik dibidangnya.

Termasuk Kim Myungsoo yang mendapatkan predikat lulusan terbaik dijurusannya.

Sekolah ini memiliki sistem yang berbeda dari sekolah kebanyakan yang ada di Korea. Seperti waktu belajar, yang biasanya sampai jam 10 malam namun khusus kelas 1 dan 2 hanya sampai jam 5 sore. Untuk kelas 3 jam belajarnya dari jam 7 pagi hingga 10 malam untuk persiapan masuk universitas.

Myungsoo sudah mengajar di sekolah ini selama satu setengah tahun. Banyak suka duka yang ia alami, seperti bertemu dengan murid nakal dan baik, pendiam dan cerewet, pintar atau setengah pintar. Tapi dibalik kesulitan yang ia alami selama mengajar, Myungsoo sangat mencintai pekerjaannya sebagai guru.

Myungsoo mengawasi anak didiknya dari bawah pohon rindang di sudut lapangan. Perhatiannya teralihkan ketika ponsel didalam saku celana trainingnya bergetar.

From : Sooji

Oppa apa kau bisa meneleponku? Ini penting.

Myungsoo tersenyum lebar ketika melihat pesan diponselnya berasal. Bae Sooji, pujaan hati yang mengisi hari–harinya kurang lebih selama 3 tahun terakhir.

Dengan lincah jemari Myungsoo menekan layar diponselnya, menekan angka–angka yang akan menyambungkan dirinya dengan Sooji. Ponsel persegi panjang itu didekat ke telinganya, tak sampai 2 kali nada panggilan teleponnya diangkat.

Yeobseo?”

Oppa, bisakah kau membantuku nanti malam? Ada tugas kantor yang aku bawa dan itu banyak sekali! Rasanya aku ingin membakar semua kertas itu, sayangnya kertas itu bernilai milyaran won.” Keluh Sooji dengan sekali tarikan napas.

Bicara Sooji yang panjang dan cepat ditambah suara desahan frustasi yang terdengar membuat Myungsoo terkikik. Sooji terbiasa bicara layaknya kereta api, cepat.

Sooji memang wanita mandiri tapi sayang ia selalu cepat mengeluh. Sooji dapat mengeluh tentang pekerjaan yang bahkan belum ia kerjakan.

Myungsoo mengangguk, walaupun ia tahu Sooji tidak dapat melihatnya.

“Tentu saja. Aku akan membantumu sayang.”

“Benarkah? Oh, terima kasih my sunshine!” Pekik Sooji senang.

“Kau jangan lupa makan siang yah. Aku mencintaimu, Kim Myungsoo.” Lanjut Sooji.

Sebelum sempat Myungsoo membalas ungkapan cinta Sooji sudah menutup teleponnya. Myungsoo tersenyum kecut, Sooji selalu begitu ketika ia meminta bantuan Myungsoo, ia akan sangat manis tetapi jika keinginannya sudah terpenuhi maka ia akan segera memutuskan sambungan teleponnya.

“Aku juga mencintai mu, Bae Sooji.” Gumam Myungsoo seraya tersenyum kecut.

∞∞∞

“Tuan Kim!”

Myungsoo menoleh ketika seseorang memanggilnya, membuat ia menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ruang guru. Belum sampai memegang gagang pintu tangannya terhenti diudara. Myungsoo dapat meilhat Kang seonsangnim menghampirinya dengan berlari kecil.

Sunbae, apa kau bisa membantu ku?” Tanya Seulgi dengan napas terputus–putus ketika ia sudah berdiri di samping Myungsoo.

Myungsoo memutar bola matanya malas ketika melihat wajah Seulgi yang memelas seraya menangkup kedua tanganya di depan dada tanda memohon.

“Ada apa?” Tanya Myungsoo enggan.

“Begini, hari ini ada konseling yang harus aku berikan kepada seorang murid hingga malam hari sedangkan aku tidak membawa kendaraan berhubung rumah kita satu arah. Bisakah aku menumpang denganmu?”

“Berapa lama kau akan memberikan konseling?” Tanya Myungsoo terdengar ragu.

Padahal hari ini Myungsoo sudah menyusun rencana untuk berendam air hangat serta menjemput pujaan hatinya Sooji di kantornya lalu membantu Sooji menyelesaikan tugasnya.

“Tidak akan lama kok. Tolong bantu aku, kau tahukan keuangan ku sedang menipis. Bahkan aku selalu minta ditraktir Jongin sunbae ketika makan siang. Ongkos pulang ku sangat lumayan, jika aku pulang malam dengan kendaraan umum.”

Myungsoo memasang wajah seolah–olah sedang berpikir membuat Seulgi meremas kedua tangannya gugup.

“Baiklah.”

Wajah Seulgi seketika cerah ketika mendengar sesuatu yang ia ingin dengar.

“Terima kasih, sunbae!”

∞∞∞

To : Sooji ♥

Maafkan aku sayang. Aku akan datang terlambat karena Seulgi memintaku untuk menemaninya melakukan konseling. Setelah aku mengantarnya pulang aku akan ke apartementmu.

From : Sooji ♥

Baiklah. Tapi setelah selesai kau harus segera ke apartementku Oppa. Aku hampir gila dengan kertas–kertas ini. Jangan terlalu baik dengan Seulgi, ia dapat salah mengartikan kebaikanmu.

To : Sooji ♥

Apa kau sedang cemburu? Astaga, benar kau sedang cemburu? Ekekekek

From : Sooji ♥

Berharap saja dalam mimpimu kalau aku cemburu, tuan Kim.

To : Sooji ♥

Baiklah sekarang aku akan memimpikanmu.

From : Sooji ♥

OPPAAAAAAAAA!

Myungsoo tertawa dan hampir saja terjungkal kebelakang sofa karena membaca pesan Sooji yang menggemaskan. Ia dapat membayangkan wajah kesal Sooji yang menggemaskan membuat ia ingin mengemut pipi tembamnya itu.

Ia mengigit bibir dalamnya agar tawanya tak pecah. Konseling baru saja dimulai ia tidak mungkin menggangu konseling tersebut dengan tawanya.

Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam ketika Myungsoo masih asik memainkan rubik pemberian Sooji dari dalam tasnya. Myungsoo merebahkan tubuhnya di sofa yang berada didalam ruangan Seulgi dan menjadikan tangan sofa menjadi bantalannya.

Ruangan ini dibagi menjadi dua, ruang tamu yang terdapat sofa panjang dan kursi kecil beberapa tanaman hias yang mempercantik ruangan dan sebuah ruangan tertutup yang disekat oleh kaca–kaca buram. Ruangan tersebut adalah ruangan konseling memang sengaja dibuat tertutup agar para murid dapat meluapkan apa yang mengganjal dihatinya.

Myungsoo hampir mati kebosanan menunggu Seulgi menyelesaikan tugasnya sebagai konselor sekolah memberikan konseling kepada siswa-siswa yang bermasalah. Untung saja ia menemukan rubik pemberian Sooji di dalam tasnya.

Saat Myungsoo fokus memecahkan rubik menyatukan warna yang sama, terdengar suara pintu yang dibuka. Dari ujung ekor matanya ia dapat melirik seorang murid perempuan keluar dari ruangan khusus konseling, Myungsoo mengendikan bahunya tanda tak peduli.

Myungsoo sekarang hanya memperdulikan bagaimana ia bisa cepat sampai di apartement Sooji.

Sunbae?”

Myungsoo mengalihkan pandangannya dari rubik ketika ia mendengar Seulgi memanggilnya.

“Ayo, kita pulang!”

∞∞∞

 

Myungsoo menepati janjinya untuk membantu mengerjakan beberapa berkas yang harus Suzy serahkan besok kepada Sehun, walaupun ia harus datang larut malam. Myungsoo datang terlambat karena harus terlebih dahulu mengantar Seulgi kerumahnya.

Saat ia tiba di apartement Sooji masih memakai pakaian kantor lengkap dengan rambut megar dan acak-acakan seperti nenek sihir. Oh, jangan lupakan mata sembabnya mengartikan bahwa Sooji sudah menyerah dengan tumpukan kertas sialan itu.

Mulut Myungsoo menganga lebar manakala melihat kondisi ruang tengah yang bisa dikatakan tidak baik–baik saja. Banyak kertas berserakan di meja dan di lantai. Sooji menggandeng Myungsoo mengajaknya ke dapur untuk lebih dahulu makan malam bersama sebelum bertempur dengan tumpukan kertas. Sooji memasak makanan favorite Myungsoo, yang membuat Myungsoo lebih semangat untuk membantu Sooji.

“Apa ada lagi selain ini?” Tanya Myungsoo seraya merapikan tumpukan kertas bernilai milyaran won tersebut.

Suzy menggeleng. Matanya hampir tertutup dan kepalanya nyaris terantuk ujung meja, untung saja Myungsoo segera menahan kepala Suzy dengan tangan kirinya. Myungsoo menyandarkan kepala Suzy kedadanya, tangan kirinya merengkuh tubuh Suzy agar semakin merapat kedalam pelukannya. Myungsoo menyandungkan sebuah lagu dan membelai kepala Suzy yang membuat Sooji semakin terlelap dalam tidurnya.

“Tidur yang nyenyak, Bae Sooji. Aku akan selalu menjaga mu sampai kapanpun.”

Myungsoo mencium puncak kepala Sooji agak lama, menyalurkan rasa sayangnya kepada Sooji.

∞∞∞

“Oppa!”

Myungsoo menoleh saat hendak mengeluarkan mobil untuk berangkat ke kantor appanya, seseorang memanggilnya dari arah seberang rumahnya. Myungsoo melihat seorang yeoja yang rambutnya dikepang dua melambaikan tangannya dengan semangat.

Myungsoo membalas lambaian tangannya seraya tersenyum simpul.

“Oppa, kau mau kemana?”

Dahi Myungsoo berkerut ketika mengingat sesuatu.

“Yya, Yeri-ssi kau tidak masuk sekolah? Hari inikan hari rabu, seharusnya kau masuk sekolah bukan?”

Yeri  menggigit bibir dalamnya ketika ia ketahuan membolos oleh Myungsoo. Ia begitu  bodoh melupakan bahwa Myungsoo tetangganya itu juga guru di sekolahnya.

“Aku sedang sakit.” Yeri menunjukan wajah memelas dan mengeluarkan suara serak, yang sayangnya terlalu terdengar jelas bahwa suara serak itu dibuat-buat.

Myungsoo memicingkan matanya lantas mendorong dahi Yeri dengan telunjuknya.

“Dasar anak nakal. Seharusnya kau tidak boleh membolos, kalau sampai ketahuan Kang seonsangnim ia bisa marah besar.” Kata Myungsoo menaku–nakuti Yeri seraya pergi meninggalkannya yang berdiri mematung.

Langkah Myungsoo terhenti ketika Yeri mengapit lengan kirinya.

“Mau apa kau?” Tanya Myungsoo heran.

“Kau pasti ingin mengantar dokumen paman Kim yang tertinggal bukan? Boleh aku menumpang hingga ujung jalan?”

Yeri melihat amplop coklat yang berada digenggaman tangan kanan Myungsoo.

“Kau mau pergi kemana? Dengan siapa?” Tanya Myungsoo seperti menginterogasi pelaku kriminal.

“Kau ini seorang guru bukan polisi, oppa. Aku ingin pergi ke toko buku bersama temanku untuk membeli komik keluaran terbaru.”

“Aku ini gurumu, kau adalah tanggung jawabku. Jika sesuatu terjadi padamu, pasti aku yang disalahkan.”

“Aku ini sudah dewasa oppa. Aku bisa menjaga diri ku sendiri.” Kilah Yeri seraya menyeret Myungsoo ke garasi.

“Kenapa tidak minta antar oppa-mu saja?”

“Hari ini oppa ada jadwal di kampusnya. Lagipula kau seperti tidak tahu saja oppa memperlakukanku seperti apa. Ia kan sangat membenciku.”

“Jangan katakan bahwa oppa membencimu, ia sangat sayang pada adiknya yang nakal satu ini. Baiklah aku antar. Tapi jika terjadi sesuatu bukan tanggung jawabku.” Kata Myungsoo menyerah seraya masuk kedalam mobil.

Yeri tersenyum senang membuat matanya melengkung.

From : Sooji♥

Jangan lupa makan siang, my sunshine.

“Cih!”

Mereka sudah dalam perjalanan ketika Yeri mendengus saat tanpa sengaja ia membaca pesan yang baru masuk dari Sooji di ponsel Myungsoo.

“Kau kenapa, huh?” Tanya Myungsoo kepada Yeri yang mendengus seraya tetap fokus menyetir menatap jalan didepan.

“Kau seperti anak kecil. Bagaimana bisa Sooji eonni kekanak-kanakan seperti itu. Ia menyebut mu apa? My sunshine? Astaga, bahkan aku sudah lama sekali tidak memakai panggilan itu kepada namjaku. Seperti anak sekolah dasar saja.” Ejek Yeri seraya tersenyum sinis.

“Walaupun terdengar kekanakan tapi aku menyukainya setiap Sooji memanggilku seperti itu. Aku merasa dibutuhkan.” Myungsoo tak dapat menahan senyumnya saat ia menceritakan Sooji kepada orang lain.

Tanpa Myungsoo sadari Yeri tersenyum kecut.

Entah setiap Myungsoo tersenyum atau tertawa ketika bercerita tentang Sooji membuat dada Yeri nyeri dan sesak.

“Tunggu sebentar, kau bilang tadi mau ke toko buku?”

Myungsoo menoleh sekilas memperhatikan penampilan Yeri yang menurutnya terlalu berlebihan jika hanya untuk pergi ke toko buku.

“Ya, memang kenapa?” Tanpa sadar Yeri menjawab pertanyaan Myungsoo dengan ketus.

“Yyak! Kenapa kau jadi ketus begitu?”

“Kau pasti berbohong. Mana ada orang pergi ke toko buku dengan penampilan seperti ini?”

“Oppa, hentikan mobilnya. Aku turun disini saja.”

Myungsoo menghembuskan napasnya kesal, Yeri tak menjawab pertanyaannya. Myungsoo menepikan mobilnya sesuai permintaan Yeri.

“Terima kasih, oppa.”

Yeri menutup pintu mobil Myungsoo sedikit keras meninggalkan Myungsoo yang menatapnya aneh.

Sementara itu di tempat lain Sooji tidak henti hentinya tersenyum seraya menatap layar ponselnya.

From : Myungsoo–soo ♥

Jangan lupa makan siang. Aku mencintai mu, honey.

“Myungsoo akan datang?” Tanya seseorang yang membuat senyuman di wajahnya memudar tergantikan wajah kesalnya.

“Bukan urusan mu.” Kata Sooji kesal lalu menjulurkan lidahnya kepada Sehun.

“Bukan salah ku kau hari ini harus lembur. Tapi salahkan perusahaan Xiumin hyung yang membuat kita harus kerja lembur.”

“Kau dan Xiumin oppa sama saja. Tidak bisa melihat aku bahagia sedikit saja. Hari ini Myungsoo oppa sedang libur, aku dan ia bahkan sudah merencanakan kencan romantis tapi karena kau makan siang di luar bersama saja tidak bisa.” Keluh Sooji.

“Undang saja Myungsoo untuk datang lalu kita bisa makan siang bersama. Aku juga sudah lama tidak bertemu dengan Myungsoo.” Kata Sehun memberikan ide, namun ia masih saja menatap fokus lembaran-lembaran kertas bernilai milyaran won di tangannya.

Sooji menggeleng lemah.

“Tidak bisa. Hari ini ia akan bertemu dengan ayahnya lalu makan siang bersama dengan beberapa kolega ayahnya.”

“Walaupun Myungsoo bekerja sebagai guru namun ayahnya tetap menyiapkan Myungsoo sebagai penerus perusahaan–nya.” Lanjut Suzy seraya memutar–mutarkan ponselnya.

“Selamat siang, dunia. Astaga, hari ini mood ku benar-benar sedang baik, bahkan di level sangat baik.” Kata Soo Jung sembari mengibaskan rambut panjangnya berjalan ciri khasnya, angkuh.

Soo Jung datang dengan membawa sedikit kericuhan seperti membuka pintu ruangan Sehun tanpa mengetuknya lebih dulu lalu membuka pintu sedikit kasar sekarang ia sedang berjalan menuju meja Sehun untuk mengambil sesuatu.

Belum sempat meraih gagang cangkir, seseorang sudah mengambilnya terlebih dahulu.

“Ini kopi ku, ambil kopi mu sendiri di pantry sayang.”

“aww!”

Belum sepat Sehun mencicipi kopi miliknya, kepalanya terlebih dahulu dipukul dengan beberapa dokumen yang berada diatas mejanya oleh Soo Jung. Sehun mengerang kesakitan.

“Dasar nenek sihir.” Umpat sehun kesal.

Astaga, tidak cukup dokumen itu membuat pening kepalanya saja dengan membacanya kini Soo Jung menambahkan denyutan dikepalanya.

“Terima kasih atas pujiannya, sayang.”

Soo Jung berjalan menjauh dari meja Sehun lalu menjatuhkan bokongnya di sofa tepat di sebelah Sooji. Soo Jung mencicipi kopinya sedikit, lalu meletakkan cangkir tersebut di meja depan sofa.

“Kau kenapa?”

Soojung merubah posisi duduknya, memiringkan tubuhnya menghadap Sooji menopang kepalanya dengan tangan kanan yang berada di atas kepala sofa.

“Myungsoo tidak bisa datang untuk makan siang bersama.”

Sehun menjawab pertanyaan Soo jung seketika wajah Sooji semakin menekuk.

Soojung menggangguk seraya membulatkan bibirnya membentuk huruf o.

“Hey, bagaimana kalau kita makan siang bersama dekat kantor paman Kim? Kita sudah lama tidak makan siang bersama kan?”

“Itu ide bur—“

“Jangan membantah ideku Oh Sehun. Ide yang selalu dikatakan oleh Jung Soo Jung selalu ide paling baik. Kau tahu itukan.”

Soo Jung menoleh ke belakang menatap Sehun mengintimidasi seakan–akan mengatakan katakan–ya–untuk–setiap–ideku–atau–aku–akan mengecat–rambutmu–menjadi–warna–pelangi.

Sehun mengusap wajahnya kasar, ia kembali kalah telak oleh tatapan Soo Jung yang selalu mengintimidasinya.

“Baiklah. Ayo, kita makan siang didekat kantor paman Kim dan lupakan kertas–kertas ini.”

Sehun beranjak dari kursi kebesarannya menuju pintu ruangannya meninggalkan dua gadis yang sedang memekik senang sambil ber-high five lalu mengikuti Sehun dibelakang.

Tanpa Sooji sadari ponselnya bergetar menandakan sebuah pesan masuk.

From : 08234XXXX

Hai. Apa kabar mu, Bae Sooji?

♥TBC♥

P.S. : Selamat Malam Minggu, muah!

29 responses to “Almost [Chapter 1]

  1. yeri menyukai myung makanya dia ketus kalo myung udah cerita tentang sooji apalagi di tambah dgn muka nya yg senyum senyum. siapa yg sms? apa orang yg menyukai sooji? atau cuma teman lama aja.

  2. Waah ff baru yeaay
    Hmm br part 1 dan myungsooji sdh merasakan yg namanya kebahagiaan apakah slnjutnya justru dtg hal2 yg tdk diinginkan dlm hubungan mereka? Oh nooo
    Dan siapa itu yg sms sooji? Semoga aja yeoja bkn namja dan bkn org yg berpotensi ngerusak hubungan mereka aigoo aku nething sekali nih
    Ditunggu part 2 nya ne

  3. Akhirnya ff ini dipublish juga… ya Tuhan… aku seneng bangetttt… bahkan dari teaser nya aja aku masih ingat dengan jelas… bakalan nyesek nih… apalagi diawal teasernya myungsoo bakalan melupakan sooji dan berubah lebih sibuk terhadap yeri… ahhh… penasaran tapi gak siap patah hati? #nahloh..
    Ditunggu kelanjutannya Authornim…
    Fighting… ^^

  4. Wahhhh kayanya seulgi sma yeri suka sma myung tpi sayangnya myung udah jdi milik uri suzy wkwkwkwk
    Itu siapa yg sms suzy? Mantannyakah?
    Oke next chapter ditunggu ne authorrr
    Fighting!!!🙂

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s