Band-aid

bandaid

Band-aid

flcevtp

Bae Suzy | Kim Myungsoo

General Audience – School Life

100% Bae Suzy’s Point of View

Saat itu mentari tengah berjalan pulang ke tempat asalnya. Lingkungan sekitar universitasku penuh dengan orang-orang berwajah lelah setelah menghadapi ujian akhir semester barusan. Aku memandang setiap tangan sahabatku yang kini sedang menggelayut pelan bersama tangan pasangan mereka masing-masing. Senyuman mereka seakan malu tetapi dibalik itu aku tahu mereka menyembunyikan gejolak kebahagiaan mereka yang tak mampu diekspresikan.  Aku yang menyaksikannya pun ikut tersenyum saja.

“Tunggu apalagi? Ayo nyatakan!”

“Kepada siapa?”tanyaku pura-pura bodoh.

“Myungsoo!”

Aku segera menutup mulut Soojung dengan telapak tangan kananku erat sambil memberinya tatapan maut. Bagaimana jika dirinya mendengar apa yang kita bicarakan? Habis riwayatku nanti!

Kulihat Soojung tidak sendiri saat itu, ada Jongin di sebelahnya sedang tertawa melihat perilaku kekanak-kanakan kami. Soojung dan Jongin sudah mulai berpacaran sejak setahun yang lalu – dengan bantuanku sebagai ‘mak comblang’.

“Apa aku harus membantumu untuk menyatakannya kepada hyung-ku?”tambah Jongin dengan smirk khasnya.

Ya, Myungsoo—lelaki yang kusukai—adalah kakak Jongin. Aku mulai mengetahuinya malah setelah aku memperkenalkannya dengan Soojung. Bodoh, pikirku mengingat hal itu. Aku dengan blak-blakan bercerita saja tentang perasaan yang sudah kupendam kepadanya. Setelah Jongin dan Soojung menjalin hubungan, Jongin dengan wajah polosnya berkata, “sebenarnya, Myungsoo-hyung adalah hyung-ku sendiri!” Setelah itu, aku jarang berbicara kepadanya menahan malu.

“Awas saja jika kau benar-benar menceritakan itu kepada hyung-mu. Kubuat hubunganmu kandas dengan Soojung habis-habisan!”ancamku.

Jongin dan Soojung kemudian dengan wajah memohon memintaku untuk tidak melakukan sesuai ancaman yang kuberikan. Aku pun hanya menertawakan mereka sambil memeluk mereka berdua gemas. Tak mungkin aku seperti itu! Aku yang memeluk mereka tentu bisa melihat pemandangan di belakang punggung mereka, dan kulihat sesosok yang tengah memandangiku dengan tatapan hangatnya. Aku pun yang baru menyadarinya hanya bisa menyunggingkan senyum canggungku kepadanya.

Kim Myungsoo – he is FREAKING looking at me!

***

Yah, Suzy, makan ramyunmu!”

Teriakan Soojung berhasil mengeluarkanku dari dunia lamunanku sendiri. Aku masih memikirkan betapa hangatnya dia melihatku tadi sore. Aku masih memikirkan bisa-bisanya dia menatapku sehangat itu. Bagaimana jika dia melihatku sejak percakapan kami tadi? Bagaimana jika dia sudah tahu apa yang kita bicarakan? Bagaimana—

“Hyung, sedang apa kau di sini?”tanya Jongin kepada seseorang dengan terkejut.

Aku pun melihat kursi depanku hanya diisi dengan Soojung dan Jongin. Lalu aku melihat ke arah orang yang diajak bicara oleh Jongin dengan hati-hati. Tidak mungkin itu dia!

“Wae? Eomma tidak memasak hari ini, lalu cuaca juga hujan. Aku ingin makan makanan yang hangat,”jawab Myungsoo dingin.

Soojung yang duduk di seberangku pun menahan tawa sambil melihatku. Aku meremas bajuku erat menahan grogi. Kulihat dirinya tengah menarik kursi sebelahku lalu mendudukinya. Myungsoo kemudian membentuk lengkungan di bibirnya sambil menatapku dengan maksud menyapaku. Aku hanya menundukkan kepalaku sedikit sebagai tanda hormat. Kemudian kulihat Jongin dan Soojung yang kini tambah menahan tawanya sambil menatapiku.

Behold everyone, Kim Myungsoo is sitting beside me right now!

 

***

“Aku kenyang!”seru Myungsoo.

Bagaimana tidak? Aku tidak tahu dia tadinya frustasi karena ujian akhir semester yang membuat otaknya meleleh sehingga mengharuskannya untuk memakan sebanyak mungkin atau apalah itu. Dia sudah menghabiskan 3 mangkuk ramyun dengan cepatnya! Aku yang daritadi curi pandang memandangi dirinya memakan ramyun dengan lahapnya sudah membuatku kenyang dengan 1 porsi saja.

“Habis ini kalian mau ke mana?”tanya Myungsoo.

“Aku dan Soojung akan kencan setelah ini. It’s Saturday-night, you know?”

“Ah, kencan ya. Kapan aku bisa punya pacar, ya?”tanyanya lagi.

Sekarang, bodoh! Aku di sampingmu ini siap untuk menjadi pacarmu!

“Kapan lagi kalau tidak sekarang? Kalau kau nanti sudah punya, mungkin kita bisa double-date* nantinya,”jawab Jongin sambil menatapku sekilas di kata terakhir.

“Oh ya, oppa. Bisakah kau mengantarkan Suzy pulang? Aku dan Jongin ‘kan mau kencan berdua, tapi Suzy tidak bisa ikut kami. Untung ada Myungsoo oppa. Bisa ‘kan?”tanya Soojung.

Aku pun terkejut dengan pertanyaan Soojung. Kulihat tangan mereka menepuk satu sama lain dari bawah meja. Langsung kuinjak kaki mereka masing-masing yang dibalas ringisan mereka pelan.

“Ah, tidak usah repot-repot. Aku bisa naik bus nantinya. Di dekat sini ada stasiun bus kok. Ja—“

“Tidak apa-apa, kau ikut saja di mobilku.”

Shit. Ada apa dengan hari ini sebenarnya?!

 

***

Kami berempat keluar dari kedai ramyun itu. Soojung dan Jongin berjalan ke arah kiri karena Jongin memparkirkan mobilnya di sana. Soojung yang tadinya berjalan dengan Jongin membalikkan tubuhnya menuju ke arahku dan membisikkan di telingaku.

“Semoga berhasil!”bisik Soojung, lalu kembali ke Jongin dan melambaikan tangannya ke arah kami—Myungsoo dan aku tentunya—.

Aku dan Myungsoo berjalan ke arah kanan jalan menuju di mana Myungsoo memparkirkan mobilnya. Kesunyian mengikuti kami selama perjalanan ke arah mobilnya. Kebetulan dia meletakkan mobilnya cukup jauh dari kedai ramyun karena banyak juga yang makan di kedai tadi.

Jalanan beraspal itu kuakui sudah lama tidak dirawat, sehingga aspalnya sudah terkikis sedikit demi sedikit sehingga jalan tersebut menjadi cukup kasar. Ditambah dengan hujan yang cukup besar tadi yang mengguyur daerah Gangnam ini. Lalu aku memakai sandal jepit yang cukup licin untuk jalan di tempat seperti ini. Nice.

“Hati-hati, Su. Jalanan ini cukup licin. Nanti kau—“

Bruk. Peringatan yang diberikan Myungsoo kini menjadi kenyataan. Jalannya yang kasar dan basah, sandal jepitku yang murahan, ditambah kecerobohanku, kini aku sudah mendarat dengan manis di jalan itu. Kulihat benda cair berwarna merah sudah mengucur di lutut dan pergelangan kaki kananku.

Yah, Suzy! Kau tidak apa-apa? Baru saja kuperingatkan!”

Myungsoo langsung membantuku bangun dan membopongku menuju mobilnya dengan langkah kakinya yang cepat. Kulihat tangan kanannya memeluk pinggang kananku dengan eratnya dan tangan kiriku menggantung di daerah pundaknya. Diriku pun bisa mendengar deru nafasnya karena amat dekatnya jarak wajahku dengan wajahnya.

Ini, bukan mimpi, ‘kan?

 

***

Kulihat Myungsoo yang baru keluar dari sebuah supermarket menuju sebuah meja kursi yang kami duduki membawa sebuah kantung plastik bening. Bisa kulihat dari kejauhan ada sebuah botol kecil yang menyerupai obat merah dan 1 pak berisikan plester di dalam kantung tersebut.

Myungsoo langsung menduduki kursi di sebelah kananku, lalu mengangkat kaki kananku ke pangkuannya. Dia mengeluarkan semua isi kantung tersebut di meja asal.

“Tahan sebentar,”

Kulihat Myungsoo meneteskan obat merah di kedua lukaku tersebut. Perih? Tak usah ditanya. Kupejamkan mata dan bibirku erat serta mengadahkan kepalaku ke atas. Kemudian Myungsoo mengambil 2 bungkus plester dari 1 pak itu lalu mengeratkannya ke lukaku.

“Sudah!”serunya, “sayang ya. Kedua kakimu yang putih harus ternodai luka tersebut.”

“Gomawo, sunbae,”jawabku.

Sunbae? Tidak usah memanggilku seperti itu, panggil saja Myungsoo oppa sudah cukup.”

Setelah kalimat terakhir itu, kesunyian kembali membatasi kami. Kulihat Myungsoo di sebelahku sedang memainkan handphonenya, kedua tangannya menumpu di kakiku yang masih berada di pangkuannya. Aku hanya memakai celana selutut, dan Myungsoo menempatkan tangannya di daerah tulang keringku.

Kulitku dan kulitnya bersentuhan untuk pertama kalinya!

“Kau yang dulu sekolah di Seoul High School, ‘kan?”tanya Myungsoo sambil memandangi handphonenya.

“Iya,”

“Kau itu murid teladan kan pas kita SMA dulu? Tak kusangka aku harus memberikan posisi biasaku kepadamu. Kukira aku bisa mendapat gelar itu lagi 3 tahun berturut-turut,”terangnya yang ditutup dengan ketawa kecil.

Myungsoo sudah menjadi sunbae ku sejak aku SMA, aku kelas 1 dan dia sudah kelas 3. Aku menyukainya sejak lomba siswa teladan yang diadakan sekolah kami diselenggarakan. Sikap tegas, cermat, cerdas, baik, semuanya!

“Kau dulu juga pernah berhubungan dengan Chanyeol, ‘kan?”tanyanya sambil menatapku lekat.

“Ah? Tidak, Chanyeol sunbae memang tetanggaku dari aku kecil. Tetapi aku baru dekat dengannya saat SMA. Sebatas teman saja,”

“Kukira dia pacarmu.”

Deg. Pertanyaan dan perkiraannya yang disebutkan secara tiba-tiba membuat jantungku seakan berhenti tiba-tiba. Apalagi pemikirannya yang terakhir.

“Kau punya pacar?”tanyanya lagi.

“Tidak sun—“

“Kalau begitu, would you be my girlfriend?”

FIN

*double-date: 2 couple yang pergi kencan berbarengan.

–flcevtp’s storyline

29 responses to “Band-aid

  1. Akhirnya cinta suzy terbalaskan.. dari apa yang diutarakan dan ditanyakan myungsoo malah bikin aku berfikir kalo myungsoo dari dulu juga selalu merhatiin suzy, atau bahkan sudah lebih dulu menyukai suzy.. hihihi..
    Nice story Authornim…
    Myungsoo dan suzy manis banget…
    Ditunggu karya selanjutnya…
    Fighting.. ^^

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s