Oh My Ghost! Chapter 5

© Carissa Story

Title : Oh My Ghost!  | Author : dindareginaa | Genre : Comedy, Fantasy, Romance | Rating : Teen | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Suzy | Other Cast : Find by yourself!

Inspired by K-Drama Oh My Ghost and 49 Days

L baru saja keluar dari kamar inap Mark begitu ia melihat Jung Soojung berjalan melewatinya. L mengernyit heran. Apa yang gadis itu lakukan disini? Oh, bukankah dulu L juga sempat bertemu dengan gadis itu disini?

Deringan ponsel Soojung membuat lamunan L buyar seketika. L dapat melihat gadis itu merogoh tas tangannya dan mengambil ponselnya dari dalam sana.

“Oh, oppa!” seru gadis itu begitu mendengar suara dari ujung telepon.

Sepertinya itu telepon dari Choi Minho.

“Aku? Aku sedang ada di rumah sakit. Bibi tiba-tiba saja menghubungiku dan memintaku untuk menjaga Myungsoo. Mayat hidup seperti itu kenapa harus dijaga?” gerutu Soojung.

Ah. L mengangguk mengerti. Jadi, kekasihnya itu dirawat disini?

Soojung kemudian mengangguk kecil lalu memutuskan panggilan Minho. Gadis itu lalu masuk ke dalam kamar yang berada tepat di samping kamar Mark.

L menarik nafasnya perlahan. Ia penasaran seperti apa sosok Kim Myungsoo itu sebenarnya? Baiklah, apa salahnya melihat sebentar bukan?

Namun, baru saja ia berniat masuk ke ruangan itu dengan cara menembusnya, suara Sooji sudah terlebih dahulu menghentikannya.

“Apa yang kau lakukan?”

L tersentak. Ia sontak membalikkan tubuhnya, menghadap pada Sooji yang sudah berada dibelakangnya.

“Ti… tidak ada,” bohongnya. Ia tak mau mungkin jujur. Bisa-bisa, Sooji benar-benar menyangka bahwa ia menyukai Jung Soo Jung. Padahal, bukan gadis itu yang disukainya.

Sooji mendesis. “Kalau begitu ayo! Aku bisa terlambat bekerja nanti!”

“Ah, jadi kau sudah memutuskan untuk tidak mencari tubuhmu lagi?” tanya Sooji seraya mencuci piring di wastafel.

L mengangguk mendengar pertanyaan Sooji.

“Tapi, bukankah kau masih memiliki waktu sekitar sembilan belas hari lagi? Kenapa sudah menyerah?”

“Kurasa, tak ada gunanya lagi. Aku sudah mencari hampir seluruh rumah sakit di Seoul. Tapi, tetap saja tak ada perkembangan.”

“Maaf,” kata Sooji akhirnya menyesal.

“Untuk?” tanya L heran.

“Aku tidak banyak membantumu karena pekerjaan dan sekolahku.”

“Tidak apa-apa. Setidaknya kau sudah berniat membantuku.”

 “Jadi, apa rencanamu selanjutnya?”

“Oh?” L tersentak mendengar pertanyaan Sooji. Sebenarnya ia tak pernah memikirkan apa yang akan ia lakukan kalau sampai ia tak juga menemukan tubuhnya. “Aku akan tetap menjalani hidupku sebagai roh gentayangan. Bersamamu,” ujar L akhirnya setelah terdiam beberapa saat.

Kali ini giliran Sooji yang tersentak mendengar ucapan L. Bersamanya katanya? Kenapa memikirkannya saja membuat wajah Sooji memanas?

L mengernyitkan keningnya begitu Sooji tak juga membalas pertanyaannya. “Hei, kenapa diam?” tanya lelaki itu. Dilambaikannya kedua tangannya tepat dihadapan wajah Sooji.

Hal itu membuat Sooji tersentak. “Eh, tidak apa-apa. Ya! Sebaiknya kau pergi sana! Kau membuatku tidak konsentrasi bekerja!” gerutu Sooji, berusaha menutupi kegugupannya.

L mendengus kesal lalu segera menghilang.

“Hei, apa yang sedang gadis itu lakukan?” bisik seorang wanita paruh baya pada seorang lelaki disebelahnya.

Lelaki yang sedari tadi sibuk memperhatikan apa yang Sooji lakukan dari balik pintu hanya mengangkat kedua bahunya. “Entahlah. Sedari tadi yang gadis itu lakukan hanya berbicara sendiri.”

“Apa gadis itu sudah gila?”

 “Ehem.”

Keduanya tersentak begitu mendengar Tuan Bang berdeham. Mereka lalu menoleh ke belakang lalu meringis dan segera berlari kecil meninggalkan Tuan Bang. Melihat itu, Tuan Bang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Dasar! Bukannya bekerja malah mengintip!”

Sooji menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Ini sudah ke lima kalinya ia menguap sejak pelajaran Dosen Kang dimulai. Disampingnya, Mark menyikut lengannya. Sooji sontak menoleh. Lelaki itu segera menggeserkan secarik kertas kearahnya. Sooji mengernyit heran. Ia tersenyum begitu membaca tulisan di kertas tersebut.

Malam ini kau ada acara?

Sooji segera mengambil pena berarna hitam miliknya lalu membalas pesan Mark Tuan.

Tidak ada. Kenapa? Mau mentraktirku makan?

Hmm. Tidak juga. Hari ini ada film bagus di bioskop. Mau menonton bersamaku? Setelah itu kita bisa makan ke tempat favoritku. Bagaimana?

Hanya berdua?

Iya. Tidak masalah bukan? Kau tenang saja, aku tidak akan melakukan “sesuatu” padamu.

Melihat balasan Mark, sontak saja wajah Sooji memerah seperti kepiting rebus. Sesuatu?

Ya! Bukan itu maksudku! Baiklah kalau kau memaksa :p Tapi jangan terkejut melihat porsi makanku. Kekeke~

Baiklah~ Sampai jumpa nanti malam❤❤

Ckck. Sooji menggelengkan kepalanya melihat tanda hati di pesan Mark. Apa maksudnya?

 “Kau mau pergi kemana?”

Sooji tersentak begitu mendengar suara L tepat ditelinganya. Saat ini gadis itu sedang sibuk memilih baju yang akan ia kenakan untuk pergi dengan Mark jam tujuh nanti. “Ya! Kenapa kau suka sekali sembarangan masuk ke kamarku hah? Bagaimana kalau aku sedang berganti baju?” dengus gadis itu kesal.

L menggeleng-gelengkan kepalanya. Walaupun L adalah serang roh gentayangan, tetap saja ia lebih menyukai wanita yang berdada besar dan berbokong montok, tidak seperti Sooji. RA-TA! Namun, L tak menyuarakan pikirannya. Ia kembali mengulangi pertanyaannya. “Kau mau pergi kemana?”

“Aku? Aku akan pergi nonton bersama Mark. Setelah itu, kami akan pergi makan ke tempat favorit Mark. Sepertinya malam ini aku akan pulang sedikit terlambat. Jadi, jangan menungguku!”

Mendengar nama Mark disebut, L melengos. Mark lagi, Mark lagi! Apa sih istimewanya Mark? Lagipla, siapa yang berniat menunggunya? Percaya diri sekali!

“Ah, kebetulan sekali kau disini. Dari tadi aku bingung ingin memakai pakaian apa hari ini. Menurutmu mana yang bagus?” tanya Sooji pada L. Ditunjukkannya seluruh pakaiannya yang kini berjajar rapi di atas tempat tidur.

L menatap Sooji tak percaya. Apa? Gadis itu akan berkencan dengan lelaki lain dan dia malah meminta pendapat L tentang pakaian mana yang akan ia pakai? Yang benar saja!

“Pikir saja sendiri!” seru L seraya melengos pergi.

Sooji hanya mengernyitkan keningnya melihat tingkah L. Kenapa lelaki itu malah marah-marah? Seperti sedang datang bulan saja! Jadi, sebaiknya apa yang harus ia pakai?

Sooji tersenyum menatap bayangannya yang terpantul di cermin. Akhirnya setelah berkelut selama kurang dari lima belas menit, Sooji memutuskan untuk memakai mini dress berwarna biru langit miliknya dipadukan dengan bonnie bag berwarna merah. Rambutnya yang panjang digulungnya keatas denan tusuk pensil.

Setelah merasa penampilannya sudah cukup sempurna, ia segera keluar dari kamarnya.

“Aku pergi dulu,” pamit Sooji pada Sangmoon dan L yang kini sedang asik bermain playstation – seperti biasanya. Tentu saja yang main hanyalah Sangmoon, sedangkan L memperhatikan lelaki itu dengan wajah ditekuk.

“Hmm,” gumam Sangmoon, sedangkan L berpura-pura tak mendengar ucapan Sooji.

Melihat itu Sooji hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu segera berlalu pergi. Setelah memastikan Sooji sudah benar-benar pergi, L menghentakkan kedua kakinya.

Ya! Kenapa kau tidak melarang kakakmu pergi? Bagaimana kalau sesuatu terjadi padanya?”

Sangmoon mendesis. “Memangnya apa yang akan Mark hyeong lakukan padanya? Tenang saja, Mark hyeong adalah lelaki yang bisa dipercaya. Kalau kakak pergi bersamamu, baru aku khawatir,” gumam Sangmoon seraya mengecilkan suaranya di kalimat terakhir, membuat L tak bisa begitu jelas mendengar perkataannya.

L melipat kedua tangannya di depan dada. Pokoknya kalau Sooji tak juga pulang dalam waktu kurang dari dua jam, L akan memaksa Sangmoon untuk menelepon Sooji dan menyuruh gadis itu pulang. Lihat saja!

“Sudah lama menunggu?”

Mark menatap kagum ciptaan Tuhan yang kini sudah berada dihadapannya. “Kau cantik sekali,” ujarnya tulus.

“Kau mau terus memujiku atau langsung menonton kedalam?”

Ucapan Sooji membuat Mark tersenyum salah tingkah. “Ayo.”

Sooji dan Mark akhirnya memutuskan untuk menonton film romantis. Sebenarnya Sooji bukanlah tipe gadis penyuka film romantis, hanya saja karena ini permintaan Mark, Sooji juga tak ingin membuat lelaki itu tersinggung.

Di sepanjang pemutaran film, mereka juga tak banyak bicara. Keduanya sibuk memperhatikan layar besar dihadapan mereka sambil sesekali mencomot popcorn dan meminum soda yang mereka beli sebelum menonton.

Hingga tiba dipertengahan film, Sooji malah tertidur! Untungnya, gadis itu terbangun sesaat sebelum film tersebut selesai. Yang ia tahu, si pemeran utama wanita akhirnya meninggal karena mengidap penyakit leukimia stadium akhir, meninggalkan kakak lelakinya yang juga cinta pertamanya. Akhir yang sangat membosankan!

Setelah selesai menonton, keduanya segera pergi mencari makan. Sesuai dengan janji Mark, lelaki itu mengajak Sooji ke tempat favoritnya, Naryangjin Seafood. Di tempat ini, kalian bisa memilih makanan apa saja selagi masih golongan seafood. Dan tentunya seafood yang masih segar-segar. Tempatnya dekat dengan laut, maka dari itu membuat pemandangan tampak lebih indah.

“Wah,” gumam Sooji kagum.

“Bagaimana? Kau suka?”

Sooji sontak mengangguk. Saat ini mereka sedang berada di sebuah pndok yang berhadapan dengan laut selagi menunggu pesanan mereka. “Darimana kau tahu tempat seperti ini?”

“Aku sering pergi kesini jika sedang ada masalah. Dan kau adalah rang pertama yang ku beri tahu tempat rahasiaku.”

Sooji tersenyum mendengar perkataan Mark. Selanjutnya, keduanya kembali terdiam begitu pesanan mereka datang. Sambil menyantap hidangan, Mark membuka pembicaraan dengan leluconnya yang mengocok perut hingga membuat Sooji meneteskan air matanya.

Sebenarnya, tujuan Sooji mengiyakan ajakan Mark kali ini adalah untuk memastikan bagaimana perasaannya terhadap Mark. Dan setelah petualangan panjang mereka hari ini, sepertinya perasaan Sooji pada Mark tidaklah lebih dari seorang sahabat. Menyenangkan memiliki sahabat seperti Mark, maka dari itu Sooji tak mau kehilangan sahabat seperti Mark hanya karena cinta.

Setelah menyelesaikan makan malam mereka, Mark mengajak Sooji berkeliling-keliling sebentar. Tapi, karena sudah hampir larut malam, keduanya akhirnya memutuskan untuk pulang.

 ∞

L melirik jam yang tergantung kokoh di dinding berwarna putih itu. Ia mendengus kesal. Jam sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam, tapi Sooji tak juga menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan segera pulang. Tiba-tiba saja ia membayangkan bahwa kini Sooji dan Mark Tuan sedang bermesraan.

“Tidak boleh!”

Sangmoon yang – masih – asik bermain playstation kesayangannya sontak tersentak kaget mendengar seruan L yang tiba-tiba. “Ya! Apanya yang tidak boleh?”

Menyadari bahwa ia menyerukan pikirannya, L merutuki dirinya sendiri. “Tidak ada,” L terkekeh. “Hei, kenapa kakakmu tidak pulang juga?! Cepat hubungi dia!”

“Biarkan saja dia. Aku tak ingin mengganggu kencannya dengan Mark hyeong.”

Kencan? Entah kenapa memikirkannya saja membuat darah L naik sampai ke ubun-ubun. Tidak bisa dibiarkan! Aha! L tersenyum begitu menemukan ide untuk membuat Sooji pulang.

“Aduh… Aduh…”

Sangmoon melirik ke arah L sekilas. “Kau kenapa?”

“Perutku sakit. Cepat hubungi kakakmu!”

Mendengar itu, Sangmoon menggelengkan kepalanya. “Kau itu hantu, bodoh! Mana bisa sakit!”

Rasanya sekarang seperti ada palu besar yang memukul kepalanya. Bodoh! Ia baru sadar bahwa sekarang ia seorang roh. Mana mungkin bisa sakit. L lalu mendengus kesal. Lebih baik ia keluar saja sambil menunggui Sooji. Lelaki itu pun segera pergi meninggalkan Sangmoon. Sedangkan Sangmoon hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah L.

“Kenapa ia tak bisa menyembunyikan rasa cemburunya itu?”

“Terima kasih, Markeu,” ujar Sooji saat ia dan Mark sudah turun di halte bis dekat rumah gadis itu.

Mark mengangguk. “Kau yakin tak ingin ku antar sampai depan rumah?” tanya lelaki itu kemudian.

“Hmm. Lagipula, rumahku tidak jauh lagi dari sini. Kau tidak usah khawatir. Kalau begitu aku pulang dulu. Sampai jumpa besok, Markeu!” Sooji melambaikan tangannya seraya pergi meninggalkan Mark.

Melihat itu, Mark hanya tersenyum. Ia kemudian merogoh saku celananya dan mulai menghubungi seserang.

“Paman, kau bisa jemput aku sekarang.”

Sooji melangkah ringan seraya bersenandung riang. Yah meskipun ia sempat tertidur di pertengahan film, tapi petualangannya dengan Mark hari ini tidak begitu buruk. Sudah lama sekali ia tidak refreshing seperti hari ini. Apalagi semenjak kedua orangtuanya meninggal di sebuah kecelakaan mobil, membuat Sooji sejak hari itu memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi tulang punggung keluarga. Jadi, mana mungkin Sooji memiliki waktu untuk menyegarkan otaknya.

Saat sedang asik dengan pikirannya, Sooji tersentak kaget begitu melihat seorang roh sedang berjalan lunglai dengan kepala tertunduk – siapa lagi kalau bukan L.

“Hei, apa yang kau lakukan disini?”

Mendengar seseorang bertanya padanya, L sontak mengangkat kepalanya. Ia melengs melihat siapa yang kini berdiri tepat dihadapannya.

Ya! Kenapa kau baru pulang jam segini hah?”

Sooji sontak saja terkejut mendengar teriakan L padanya. Ada apa dengan lelaki itu hari ini? Kenapa sedari tadi dia marah-marah terhadap Sooji?

“Bukan urusanmu!” seru Sooji kesal.

“Tentu saja itu menjadi urusanku! Mulai sekarang, kau tidak boleh dekat dengan lelaki manapun apalagi Mark Tuan. Mengerti?”

Kening Sooji berkerut mendengar perkataan L. “Kenapa tidak boleh?”

L mendengus mendengar pertanyaan konyol Sooji. “Masih tak mengerti juga? Aku menyukaimu! Mulai hari ini, kau jadi kekasihku!”

Baru saja Sooji berniat membuka mulutnya untuk merespon pernyataan L yang tiba-tiba, gadis itu sontak membulatkan matanya begitu merasakan sentuhan lembut di bibir tipisnya. L menciumnya!

Beberapa detik kemudian, L menjauhkan bibirnya dari bibir Sooji. Ia tersenyum begitu melihat Sooji tersdiam mematung dengan wajah yang memerah.

Ya! Memangnya aku sudah mengatakan bahwa aku juga menyukaimu?!”

Gadis itu segera pergi meninggalkan L. L yang masih berada pada posisinya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ternyata seorang Bae Sooji juga bisa salah tingkah.

“Sepertinya aku datang disaat yang tidak tepat”

Mendengar suara berat yang sudah tak asing lagi ditelinganya, L sontak menoleh. “Hyeong…”

“Jadi, bagaimana? Apa kau sudah menyerah?” Baekhyun mulai membuka pembicaraan saat ia dan L sudah duduk di sebuah ayunan yang berada di taman yang tak jauh dari rumah Sooji.

“Sepertinya aku tidak boleh menyerah sekarang. Aku mulai menemukan tujuanku untuk hidup. Aku ingin hidup dengan Sooji.”

Baekhyun tersenyum mendengar perkataan L. Keduanya kembali terdiam untuk beberapa saat hingga L kembali bersuara.

Hyeong, kenapa aku bisa mencium Sooji?”

Baekhun terdiam beberapa saat lalu kembali tersenyum. “Mungkin karena kau memang ditakdirkan untuknya.”

Atau mungkin karena waktumu yang sudah tidak lama lagi.

“Benarkah?” tanya L. Ia jadi tak sabar ingin segera menemukan tubuhnya.

Disamping itu, Baekhyun hanya menatap L iba. Ia tak tahu bagaimana reaksi L mengetahui kenyataan yang menyakitkan ini.

“Selamat pagi.”

Wajah Sooji langsung berubah begitu ia mendapati L sedang duduk di meja makan, menemani Sangmn yang tengah sarapan. Tiba-tiba saja ia teringat kejadian semalam.

“A… aku pergi kuliah dulu!” seru Sooji gelagapan lalu pergi meninggalkan kedua makhluk tersebut.

Melihat itu, Sangmoon hanya menatap heran kepergian kakaknya. “Kenapa wajahnya memerah begitu?”

L hanya terkekeh mendengar komentar Sangmoon.

“Hari ini, saya akan berikan tugas kelompok untuk kalian. Satu kelompok dua orang. Kelompoknya akan saya bagikan.”

“Semoga kita satu kelompok ya,” harap Mark pada Sooji.

Sooji hanya tersenyum mendengar ucapan Mark.

Dosen Kim pun mulai membacakan nama setiap anggota kelompok.

“Kelompok 13 Mark Tuan – Choi Jinri. Kelompok 14 Bae Sooji – Jung Soojung.”

Mark melengos begitu mendengar namanya disebut oleh Dosen Kim. “Kita tidak sekelompok,” ujarnya lesu.

Sooji hanya mengangguk mengiyakan lalu menoleh ke arah Soojung yang kini tersenyum ke arahnya.

“Bagaimana kalau kita kerja kelompok hari ini dirumahku? Kau bisa bukan?” tanya Soojung pada Sooji saat keduanya sudah keluar dari kelas.

“Baiklah. Lagipula, hari ini aku tidak bekerja.”

“Kalau begitu, tunggu disini ya. Aku akan menelepon supirku dulu.”

Sooji mengangguk mengerti lalu menatap punggung Soojung yang mulai menjauh.

“Kenapa melamun begitu?”

Sooji tersentak kaget begitu menyadari bahwa L kini sudah berada disampingnya. Kenapa lelaki itu suka sekali muncul tiba-tiba seperti hantu? Oh, tunggu! Bukankah lelaki itu memang hantu?!

“Aku tidak melamun!”

L mengangguk mengerti. “Lalu, kenapa malah diam disini? Jangan bilang kau mau pergi dengan Mark Tuan?!” tuduhnya langsung.

“Tentu saja tidak. Aku akan pergi ke rumah Soojung untuk kerja kelompok. Kenapa? Kau cemburu?” Sooji menahan senyumnya.

“Iya! Maka dari itu aku akan mengawasimu sampai ke rumah gadis itu. Siapa tahu kau berbohong padaku.”

Sooji menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tak menyangka bahwa ternyata L itu pencemburu sekali.

“Sooji-ah, ayo! Supirku sudah menunggu!”

Sooji lalu mengangguk dan mulai mengikuti langkah Soojung.

“Wah, rumahmu besar sekali ya,” seru Sooji kagum begitu ia tiba di rumah Soojung yang bak istana. Ternyata benar gosip yang beredar bahwa Soojung bukanlah berasal dari keluarga sembarangan. Pantas saja ia bisa mendapatkan anak pengusaha tersukses di Korea.

Soojung tersenyum mendengar ucapan Sooji. Disampingnya, L hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kampungan sekali.”

Sooji melemparkan  tatapan mautnya mendengar ejekan L, membuat lelaki itu terkekeh. Entah kenapa ia suka sekali menjahili Sooji. Tapi, kenapa rumah gadis ini terasa tidak asing? Oh, mungkin itu hanya perasaannya saja.

“Omong-omong bukankah ini pertama kalinya kita berbicara meskipun kita selalu sekelas di pelajaran Dosen Kim?”

Sooji mengangguk. Ini memang pertama kalinya Sooji berbicara pada Soojung. Ia pikir, Soojung adalah anak orang kaya yang sombong. Ternyata gadis itu ramah juga. Buktinya ia tak segan-segan mengajak Sooji ke rumah mewahnya.

“Ini kamarku,” seru Soojung begitu mereka sudah berada dihadapan sebuah pintu berwarna coklat muda yang terletak di lantai dua.

Soojung kemudian mempersilahkan Sooji masuk. Kembali gadis itu terkagum. Kamar Soojung benar-benar luas! Mungkin lima kali lebih luas dari kamar Sooji.

“Tidak perlu sungkan. Anggap saja rumah sendiri.”

Sooji mengangguk kemudian duduk di sebuah sofa di kamar Soojung, setelah sebelumnya dipersilahkan terlebih dahulu.

Sooji kembali menatap sekeliling kamar Soojung. Hingga akhirnya pandangan gadis itu terhenti pada sebuah pigura foto. Soojung sedang tersenyum bahagia bersama dengan seorang lelaki yang sangat tampan. Tunggu. Sepertinya Sooji pernah melihat lelaki tersebut sebelumnya. Matanya membulat seketika. Bukankah ini… L? Sooji sontak melirik kearah L. Dan benar saja. Lelaki itu juga tampak terkejut dengan apa yang dilihatnya.

“I… Ini siapa?” tanya Sooji dengan gelagapan.

Soojung melirik ke arah yang ditunjuk Sooji lalu tersenyum. “Dia Kim Myungsoo,  tunanganku.”

Rasanya seperti ada yang menyambar tubuh Sooji sekarang. Tunangan?

“Hey, kau mau kemana?” tanya Sooji pada L yang langsung berlari setelah mendengar penuturan Soojung.

Soojung yang mendengar teriakan Sooji yang tiba-tiba tentu saja terlonjak kaget. “Aku? Aku hanya ingin mengambil bukuku.”

Sooji hanya memaksakan senyumnya pada Soojung lalu menatap bayangan L yang telah menghilang. Ia menghembuskan nafasnya perlahan. Sepertinya ia bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Lebih baik kita mulai saja belajarnya.”

TO BE CONTINUED

63 responses to “Oh My Ghost! Chapter 5

  1. Uri suzy kasihan,, kayak nya dia bakal galau karena myung tunangan soojung. Suzy jgn nyerah.

  2. Akhirnya myungsoo tau jg dy tunangan nya soo jung … Jd myungsoo dh pcrn sm sooji eon huaaaaaaaaaaa ….

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s