[Freelance] We Are Not King and Queen Chapter 7

Title : We Are Not King and Queen | Author : kawaiine | Genre : Historical, Marriage-Life, Romance | Rating : PG-17 Main Cast : Bae Soo Ji as Queen Soo Ji,Kim Myungsoo as Kim Myung Soo | Other Cast : Kim Do Yeon as Hee Bin (Selir Tk.1), Lee Min Ho

“This plot and story is pure from my mind. Sorry for typos, don’t be a siders and plagiator. Happy reading :*”

***

Author POV
Pagi hari di Joseon terlihat sedikit mendung tanpa matahari, semua petugas dan para pengawal kerajaan masih setia bergelut dengan bagian hutan dan rumah penampungan yang kini rata dengan tanah. Myungsoo hanya terdiam, ia memandangi langit yang redup tanpa cahaya, pagi yang mendung dengan kesedihan—ia sedih, jelas sangat sedih. Ratunya hilang—istrinya hilang.

“Cheona—“ ujar pengawal Mun, Myungsoo menoleh dengan malas.

“Aku sudah tahu jawabannya, kalian pasti tak menemukan apa-apa.” Pengawal Mun tertunduk, Myungsoo bangkit dari duduknya. Ia kemudian berjalan ke belakang, hendak kembali ke istana, ini sudah satu bulan semenjak kepergian Sooji yang hilang entah kemana—dan satu bulan itu pula Myungsoo tertidur disini—di dekat rumah penampungan yang sama sekali tak berbentuk. Ia hanya mengantisipasi jika Sooji akan mengunjunginya di malam hari—tapi pada kenyataan yang ada, Myungsoo hanya bisa bertemu dengan Sooji disaat Myungsoo mulai merenda mimpinya dimalam hari. Myungsoo bahkan hampir lupa—melupakan tugasnya sebagai seorang ayah dari putranya bersama Sooji.

“Para warga masih setia berdo’a di kuil, Yang Mulia.” ujar pengawal Mun, Myungsoo mengangguk.

“Berikan dua koin pada mereka yang mendoakan istriku. Aku kembali ke istana dahulu.” jawab Myungsoo dingin. Pengawal Mun mengangguk mantap, siap menerima perintah dari Myungsoo. Pengawal Mun menghela nafasnya berat—memandang punggung Myungsoo yang semakin menjauh, merasa iba pada rajanya.

Semua pelayan istana di paviliun ibu suri kebingungan, termasuk ibu suri yang kini sedang menenangkan cucu keduanya—In Swan. Kepergian Sooji satu bulan kemarin memukul psikis In Swan—meskipun In Swan baru berusia sekitar tiga bulan tetapi ia cukup mengerti siapa yang mengurusnya, ia tahu persis bahwa itu bukanlah sentuhan seorang ibu yang ia rindukan. In Swan selalu menangis setiap hari.

“Apa yang terjadi Eommoni?” tanya Myungsoo yang seketika sampai di istana langsung mengunjungi paviliun ibunya.

“Entahlah—In Swan selalu menangis Cheona.” jawab Ibu Suri parau—ia juga merasakan kehilangan Sooji. Ibu Suri menatap wajah Myungsoo—wajah dimana yang dahulu selalu cerah ceria karena adanya Sooji, kini wajahnya padam dan mendung—dan lihatlah kumis serta janggut yang mulai tumbuh di usianya yang muda, padahal Sooji dahulu selalu mengingatkannya untuk tak menumbuhkan itu—geli rasanya ujar Sooji dahulu.

“Biarkan aku yang menggendongnya.” ujar Myungsoo, Ibu Suri kemudian menyerahkan In Swan ke pangkuan Myungsoo.

“Sssttt… Sudahlah sayang, jangan menangis lagi…” ujar Myungsoo, In Swan dengan ajaib berhenti dari kegiatan menangisnya. Ia menatap sang ayah dalam-dalam. Myungsoo kemudian tersenyum—menatap putrinya, tatapan In Swan sama dengan cara Sooji menatapnya. Semua pelayan istana dan ibu suri hanya menatapnya—menatap pasangan ayah dan anak yang sama sama merindukan Sooji, jangan heran jika ibu suri kini meneteskan air matanya.

kupu-kupu berterbangan, mencari bunga yang indah… meskipun bunga telah layu…kupu-kupu tetap berada di sampingnya.” Myungsoo sedikit bernyanyi—nyanyiannya dengan Sooji dua tahun lalu disaat Sooji menenangkan Dae Jun yang terserang penyakit cacar.

“Sooji-ah, bagaimana ini? Mengapa Dae Jun terus menangis?” ujar Myungsoo panik, Myungsoo sedang menggendong Dae Jun tapi Dae Jun hanya menangis keras, sementara Sooji sedang mencari-cari baju ganti Dae Jun.

 

“Tunggu sebentar, Cheona…” jawab Sooji santai, kemudian Sooji menghampiri kedua pria tercintanya. Sooji membawa Dae Jun ke pangkuannya, Sooji tersenyum menatap Dae Jun.

 

“kupu-kupu berterbangan, mencari bunga yang indah… meskipun bunga telah layu…kupu-kupu tetap berada di sampingnya.” Sooji bernyanyi—suaranya benar-benar indah menurut Myungsoo, bahkan Dae Jun kini tertidur dan tenang, Myungsoo tersenyum.

 

“Kau menyanyi? Syair apa yang kau nyanyikan Sooji-ah? Sehingga Dae Jun begitu tenang…” tanya Myungsoo, Sooji tersenyum menatap suaminya.

 

“Aku menciptakannya sendiri—Cheona.”

Bayangan dua tahun lalu itu melintas di pikiran Myungsoo, Myungsoo yang kini sedang bernyanyi dengan suara bergetar seadanya cukup dirundung kesedihan dan duka. Ia sangat terpukul—kepergian Sooji membuat hatinya sedih.

“Cheona…” ibu suri menatap Myungsoo, Myungsoo masih terus meneteskan air matanya. Semua pelayan istana juga tak kalah sedih, mereka juga merasa kehilangan—kehilangan Ratunya.

“In Swan sudah tertidur…” gumam Myungsoo, ia kemudian mencium putri tercintanya. Ibu Suri kemudian mengambil In Swan dari gendongan Myungsoo lalu menidurkannya. Myungsoo mengusap air matanya perlahan—ia mengambil nafas sejenak lalu bangkit berdiri.

“Dae Jun dimana?” tanya Myungsoo pada Ibu Suri.

“Ia sedang bermain di—di paviliun Ratu Sooji bersama pelayan-pelayan lainnya, Cheona.” Myungsoo mengangguk lalu keluar dari paviliun Ibu Suri.

“Abeojiii!!!” Dae Jun berlari menghampiri Myungsoo, Myungsoo dengan cekatan menggendong Dae Jun lalu menciumnya.

“Apakah sedang bermain?” tanya Myungsoo, Dae Jun mengangguk.

“Eommoni…” ucap Dae Jun, Myungsoo kemudian memeluk putra tercintanya, Dae Jun juga sama merindukan Sooji, ibunya.

“Bermainlah bersama Jo Sanggung, Eommoni akan segera pulang.” Dae Jun mengangguk lalu berlari kembali, Myungsoo menghela nafasnya—menatap paviliun yang selalu menjadi tempatnya bersama Sooji—tempat mereka berdua mencurahkan berbagai hal tentang kehidupan. Perlahan, Myungsoo melangkahkan kakinya menuju paviliun Sooji, siang ini ia ingin beristirahat disini—dimana Sooji selalu memanjakannya,memijat kepalanya yang berat,menghibur hatinya yang penat, dan menciumnya dengan kasih sayang—Myungsoo merindukan Sooji, lihatlah—bagaimana ia menatap bangunan paviliun Sooji dengan tatapan yang sayu, Myungsoo mendudukkan dirinya di tempat tidur, ia mengusap tempat tidur yang selalu menjadi tempatnya berbagi kasih dengan Sooji. Myungsoo melentangkan dirinya diatas tempat tidur, ia memejamkan matanya sesaat…

“Cheona, bagaimana jika aku menghilang dari kehidupanmu?” Malam ini—dua hari sebelum kejadian itu. Myungsoo masih setia menatap Sooji yang berada dihadapannya,ia menarik Sooji kedalam pelukannya, Sooji tersenyum,merasakan sentuhan damai Myungsoo.

 

“Kau sudah pernah berjanji tidak akan meninggalkanku,bukan?” tanya Myungsoo, ia mengusap rambut Sooji. Sooji tersenyum lalu mengangguk.

 

“Selama itulah aku percaya bahwa kau tidak akan pernah menghilang dari kehidupanku. Jika itu terjadi, aku berarti pria yang bodoh…” Sooji tersenyum kembali—tersipu.

 

“Jika kematian yang memisahkan kita?” tanya Sooji, Myungsoo melepaskan dekapannya, ia menatap Sooji tulus.

 

“Hanya itulah yang tak dapat aku ubah dan aku kembalikan. Andai saja aku bisa mengubahnya—aku akan membiarkan kita hidup bersama selamanya—tanpa mengerti arti kematian atau kematian itu seperti apa.” Sooji masih tersenyum, tangannya ia gunakan untuk menarik kepala Myungsoo, Sooji mencium pipi Myungsoo dan mencium bibirnya sekilas.

 

“Jangan pernah tinggalkan aku,Yang Mulia.”

Myungsoo memejamkan matanya seraya mengingat kejadian itu—ya,ia pria yang bodoh tak mampu melindungi Sooji. Perlahan air mata Myungsoo lepas dari kendalinya, Myungsoo betul-betul merindukan Sooji. Merindukan istri yang amat sangat ia cintai.

“Ternyata kau yang meninggalkanku, Sooji-ah…” teriak Myungsoo dalam batinnya.

Nyonya Bae dan Tuan Bae kini terduduk di teras kamar Sooji, ini adalah satu bulan yang sangat melelahkan bagi Tuan Bae, ia harus kehilangan putrinya, putri kesayangannya, dan ia juga harus kehilangan keceriaan dari Nyonya Bae,Nyonya Bae selalu menangis setiap malam, mengingat putrinya yang entah dimana—Tuan Bae menatap istrinya, tatapan istrinya yang biasa teduh kini terlihat kosong dan sayu.

“Aku percaya Sooji baik-baik saja, aku tak percaya bahwa Sooji meninggal.” tutur Nyonya Bae.

“Sooji tidak meninggal—ia hanya hilang, beraninya pihak istana menyebutnya seperti itu, anakku tidak meninggal.” timpa Nyonya Bae sembari menangis, Tuan Bae memeluknya, Tuan Bae juga sejujurnya sangat tidak setuju tentang pihak istana yang menyebutkan Sooji telah meninggal, pihak militer dan biro penyelidikan positif mengira Sooji meninggal—dengan adanya bukti hanbok merah yang terbakar, dan Jo Sanggung membenarkan bahwa terakhir Sooji memakai hanbok merah. Dan ini—menjadi luka baru untuk Myungsoo—ia harus menerima kenyataan bahwa istri yang sangat ia cintai telah tiada.

“Aku sudah memutuskan tidak akan mencari seorang Ratu lagi. Aku hanya akan menikah jika Sooji kembali.” ujar Myungsoo ketika ia menghadiri pertemuan keluarga kerajaan, neneknya—Ibu suri tua hanya menatap nanar pada Myungsoo—begitupula dengan ibunya.

“Kau tidak memikirkan In Swan dan Dae Jun?” ya—In Swan dan Dae Jun juga membutuhkan seorang ibu—karena kasih sayang dari seorang nenek dan pengasuh itu jauh berbeda. Myungsoo menarik nafas dan menghembuskannya sangat—berat,sakit rasanya.

“Aku yang akan mengurus mereka, aku tak perlu seorang istri lagi untuk mengurus diriku maupun mereka, terkecuali jika Sooji kembali.”  jawab Myungsoo sembari berdiri lalu membungkukan badannya, memberi hormat pada semuanya,hendak keluar.

“Sooji sudah meninggal—Myungsoo-ah, ini tak mungkin terjadi.” kata-kata itu sungguh membuat Myungsoo terdiam mematung—matanya memerah menahan air mata.

“Ia masih hidup—didalam kehidupanku. Jangan pernah ada yang menyebutkannya ia meninggal.” timpa Myungsoo sembari keluar dari aula pertemuan, Myungsoo berjalan gontai diiringi para kasim dan pelayan—ia hendak mengunjungi biro penyelidikan, ia ingin melihat bukti dimana Sooji dikatakan telah tiada.

“Hanya dengan baju ini kalian dengan cepat menyimpulkan bahwa istriku meninggal?” ujar Myungsoo berapi-api.

“N—Ne, Cheona… karena menurut kesaksian yang ada Jungjeon Mama memakai pakaian ini.” ujar kepala Byun, Myungsoo hanya menatap pakaian yang telah setengah terbakar itu dengan nanar, ya—ia menyesali itu,menyesali pembangunan proyek di ujung sana—jika saja ia tidak membangunnya mungkin Sooji tidak akan terkena imbasnya,dan rakyat-rakyatnya juga.

“Jika kalian tidak dapat menemukannya, aku yang akan mencarinya sendiri.”

Myungsoo mengganti pakaiannya, ia kini tengah berjalan-jalan keluar, menghirup udara segar—udara yang sebenarnya sangat sesak jika ia yang menghirupnya—udaranya adalah kehadiran Sooji,tapi Sooji tak berada disini,itu yang membuat semuanya menjadi gelap gulita. Myungsoo berjalan-jalan ke daerah hutan—hutan dimana ia dan Sooji pertama kalinya bertemu—ia menatap sekeliling hutan tersebut.

“Apa yang kau lakukan Ahjussi?! Perbuatanmu sangat tidak sopan!” ingatan itu tengiang di telinga dan kepala Myungsoo—ia dapat jelas mengingat bagaimana wajah cantik yang pertama ia temui selama hidupnya, Myungsoo hanya tersenyum—tersenyum getir ketika mengingat itu semua.

Myungsoo selama hilangnya Sooji menjadi pria yang rapuh, namun tetap menjalankan tugasnya sebagai kepala dari negaranya, ia perlahan berjalan menuju gua batu dimana dulu ia menarik Sooji dan membungkam mulut Sooji untuk pertama kali, tempat pertemuan pertamanya. Ia mengusap dinding gua tersebut—rasanya sangat dingin, dingin dan hampa sehampa hatinya saat ini.  Perlahan Myungsoo menatap sekeliling,dan—

“Apa ini?” gumamnya pelan setelah melihat sebuah dwikkoji merah berbentuk kupu-kupu dan bunga, Myungsoo dengan cepat meraihnya—ya,ini adalah dwikkoji yang ia berikan pada Sooji, dwikkoji yang hanya ada satu di Joseon, dwikkoji yang menjadi lambing cinta pertamanya pada Sooji.

“Sooji-ah, Sooji-ah” ujar Myungsoo sembari berlari mengitari hutan tersebut, ia kini bersumpah akan memecat semua anggota biro penyelidikan dan biro militer kerajaan, bagaimana bisa mereka tidak menemukan apapun disaat kesaksian benda ini sangat berguna.

“Apa yang kalian lakukan di hutan? Sehingga tak satupun dari kalian menemukan dwikkoji ini? Dwikkoji yang dikenakan Sooji, yang selalu ia kenakan jika memakai hanbok berwarna merah!” ujar Myungsoo, biro penyelidik dan militer kerajaan hanya menunduk takut.

“Maafkan kami, Yang Mulia, kami akan segera menyelidiki kembali.”

“Ya, kalian akan segera menyelidiki dengan tim yang baru, Pengawal Mun, kau harus mengganti orang-orang yang akan melakukan penyelidikan. Lakukan dengan cepat dan tanpa kesalahan.” ujar Myungsoo sembari keluar dari ruangan biro penyelidik.

Ini sudah memasuki bulan keempat sejak hilangnya Sooji, dan lagi-lagi tim biro penyelidikan belum bisa menyimpulkan sesuatu yang membuat Myungsoo bahagia, tapi—hanya satu yang membuat Myungsoo yakin bahwa Sooji masih hidup dan ia—mungkin baik-baik saja. Myungsoo kini berjalan-jalan kepasar, melihat keadaan rakyat-rakyat yang berjualan disana, sangat damai dan tenteram, dan Myungsoo, ia sangat suka membelikan norigae kupu-kupu untuk ia simpan dikamar Sooji. Ia kini sedang memilih norigae yang sangat unik, berbentuk kupu-kupu dan bulatan yang sangat terpahat sempurna, Sooji akan menyukainya—batinnya.

“Maaf tuan, itu sudah dipesan.” ujar penjualnya. Myungsoo sangat menyayangkan, padahal Sooji akan menyukai ini.

“Ah~sayang sekali, aku padahal akan membayarnya dengan harga yang tinggi.” ujar Myungsoo, dan tiba-tiba suara seorang gadis menyadarkannya.

“Kau pria yang kaya tapi tak berarti kau bisa mengambil sembarangan apa yang telah dipesan orang lain, Ahjussi.” suara itu—suara yang dirindukan Myungsoo, suara yang sangat ia senangi. Myungsoo menoleh pada gadis itu, ia kemudian menghampirinya, gadis itu mengerutkan dahinya—ada apa dengan pria ini? Mengapa pria itu menatapnya penuh kerinduan? Siapa sebenarnya gadis ini?

“Sooji—Sooji, kau kah itu?”

_TBC_

Ah~ akhirnya part ini beres juga hehe, siapa yang kangen ff ini? Hihi, gimana menurut kalian chapter ini? Makin bosenin ya? ckck, okeydeh jangan lupa RCL ya, oh iya author juga nulis ff baru di wp pribadinya author, semoga kalian disini yang udah follow wp author atau sengaja kunjung-kunjung baca juga yaa, jangan lupa comment sama Like nya hehe, terimakasihhh~

54 responses to “[Freelance] We Are Not King and Queen Chapter 7

  1. Sedih bgt ngeliat anak2 myungzy pd bersedih krna kehilangan Suzy.. Dan Myung jg terpukul bgt..
    Aku jg yakin Suzy blm meninggal.. Kn mayatnya blm ditemukan, otomatis blm mati..
    *jawaban ala drama korea..
    Hehe..

  2. Aduh cobaan mereka bnyk bgt c jd suami istri..
    pertama Suzy yg ga bs balik ke istana gr2 c rubah licik.. c rubah udah ga ada, mlh tentara jepang yg nyerang bkn Suzy lupa ingetan..

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s