[Freelance] Windmill Chapter 3/3

Title : Windmill | Author : kawaiine | Genre : Angst, Family, Marriage-Life, Romance | Rating : PG-17 Main Cast : Bae Sooji, Kim Myungsoo | Other Cast : Bae Irene, Aleyna Yilmaz a.k.a Han Areum (OC)

“Hello, I’m back with new ff, kkk… sorry for typos,bad story,and bad poster. Don’t be a siders and plagiator. Happy reading guys, hope you like it. Enjoy^^,”

Inspired by K-Drama Yong Pal.

Myungsoo masih setia memandang Sooji yang tertidur di ruangan ini, yang membuat Myungsoo sangat bersedih karena Sooji menghilang dari hari-harinya dua bulan kebelakang ini. Myungsoo menggenggam jari tangan Sooji, ia dengan perlahan mencium tangan Sooji, menciumnya penuh kelembutan.

“Kau tak perlu cemas dan khawatir, aku akan segera menyelamatkanmu.”

Sara itu—suara yang Sooji kenali, Sooji sedang terperangkap disebuah belenggu, belenggu yang entah apa namanya, Sooji kemudian meraba dinding-dinding penyangga yang terbuat dari sesuatu yang amat keras dan tak bisa dihancurkan.

“Oppa, kau kah itu? Oppa?” jawab Sooji didalam sana.

“Maafkan aku yang tak berguna menjadi suamimu, aku bahkan tak bisa melakukan apapun ketika kau seperti ini karena ruang gerakku terbatas, aku merindukanmu—Sooji-ah, aku akan melindungimu, tak peduli apapun, aku akan melindungimu, aku tak akan membiarkan siapapun melukaimu, melukai keluarga kecil kita.” ujar Myungsoo. Ia kini dengan lega menyatakan cintanya pada Sooji setelah ia mengungkap semuanya, mengungkap tujuannya menikahi Sooji dahulu, tapi—Myungsoo juga tak menutup kenyataan pada Sooji bahwa ia mencintai Sooji saat pertama kali mereka bertemu disana,dibukit angin.

“Aku akan segera membangunkanmu. Dan aku akan membawamu pergi dari sini.” ujar Myungsoo. Sooji menangis didalam sana.

Irene melangkah dengan santai memasuki ruangan aula pertemuan tersebut, ia kini menjadi pemegang saham semua perusahaan yang Sooji kelola selama ini, ada sedikit rasa kasihan pada Sooji di hati Irene, disana banyak sekali kolega-kolega yang menghadiri, menyalami Irene satu persatu, dan sebagian mengucapkan turut berduka atas apa yang menimpa Sooji, Irene—ya, Irene menyebar rumor bahwa Sooji tiba-tiba jatuh sakit sehingga hakim-hakim dan notaries juga menyetujui pemindahan hak saham. Disana, Presdir Yang sedang berdiri di samping Irene.

“Haruskah kita membuang orang yang sudah tak terbangun?” ujar Presdir Yang, Irene tersenyum lalu mengangguk.

“Ya, sepertinya harus seperti itu, menyingkirkan orang-orang yang tak berguna itu sangat diharuskan.” ujar Irene, Presdir Yang mengangguk.

“Aku akan segera mengurusnya, apakah harus Dokter Ahn?”

“Biarkan aku yang melakukannya.” Presdir Yang terperangah, Irene yang akan membunuh Sooji.

Dokter Ahn memasuki ruangan dimana Sooji berada dan Myungsoo yang berada disana, Dokter Ahn ini dokter yang pintar, ia dengan cepat mengeluarkan sebotol cairan putih bening, zat yang ia kolaborasikan dengan kecerdasan Myungsoo.

“Aku tak menyangka akan secepat itu.” ujar Myungsoo, Dokter Ahn tersenyum.

“Aku tak ingin menimbun dosaku, aku merasa bersalah melakukan ini semua, dan aku adalah dokter yang tak mungkin membunuh pasien bukan?” Myungsoo mengangguk.

“Baik, kita lakukan sekarang.” Myungsoo  melepas infusan yang  terpasang di tangan manis Sooji, ia menatap wajah istrinya yang damai, ia juga mematikan seluruh sensor yang menempel di tempat tidur Sooji, Myungsoo melirik pada Dokter Ahn dan mengangguk. Dokter Ahn kemudian menuangkan zat itu di infusan yang mengalir di tangan Sooji. Myungsoo kembali memasang infus di tangan istrinya, Dokter Ahn menarik nafas berat.

“Semoga ini berhasil.”

[Flashback]

Myungsoo memasuki ruangan kerja dokter Ahn dimalam hari setelah ia tahu bahwa Dokter Ahn adalah seorang dokter yang tak pernah pulang kerumah. Ia kemudian memasukinya dengan perlahan-lahan, ini menyangkut nyawa istrinya.

 

“Oh, Dokter Kim.”

 

“Aku tak suka basa-basi, aku hanya ingin kau melepaskan kerja samamu dengan pamanku.”

 

“Pamanmu?”

“Yang Jae Ho. Tolong lepaskan kerjasamamu. Aku mohon, selamatkan istriku.” ujar Myungsoo, ia kemudian berlutut dihadapan Dokter Ahn, Dokter Ahn mengerutkan dahinya.

 

“Aku tahu kau butuh untuk biaya hidup orang tuamu disana, aku akan memberikannya padamu dengan tabunganku yang tersisa, kau harus tahu siapa Sooji, Sooji adalah pemilik saham terbesar disini, Sooji pemilik rumah sakit ini. Dia istriku—“

 

“Aku juga tahu kau melakukan ini karena merasa berhutang budi pada pamanku, tapi—aku mohon, nyawa istriku lebih penting dari ini semua. Kami masih memiliki seorang bayi, ia membutuhkan Sooji.” Dokter Ahn memutar otaknya, ya—ia memang merasa berhutang budi pada presdir Yang.

 

“Apa yang harus aku lakukan?” tanya dokter Ahn membuat Myungsoo mendongakkan kepalanya, ia amat senang dokter ini akan membantunya.

 

“Bangunlah Dokter Kim, ini sungguh tak pantas.” Myungsoo bangkit dari tempatnya.

 

“Aku tak mengetahui zat apa yang kau pakai untuk membius istriku hingga tertidur seperti itu, aku hanya ingin istriku terbangun.”

 

“Lalu? Kau akan membiarkan istrimu dalam bahaya? Jika ia terbangun, Irene dan pamanmu akan membunuhnya.”

 

“Tidak, aku ingin ia setengah tertidur dan setengah sadar.” Dokter Ahn memutar otaknya.

 

“Baiklah, aku akan melakukannya, dengan syarat kau juga ikut meracik zatnya bersamaku.” Myungsoo mengangguk.

Itu adalah kilas balik percakapan Myungsoo dan dokter Ahn empat bulan lalu, dan dalam waktu empat bulan itu pula mereka berusaha membuatkan zat kimia untuk Sooji, dan kini mereka sedang menunggu hasilnya, tubuh Sooji bergetar hebat, bibirnya juga bergetar, tetapi matanya terpejam, Myungsoo menatap dokter Ahn, Dokter Ahn tersenyum, seraya berkata ini baik-baik saja, obatnya bereaksi dengan baik. Tapi ini sudah lima menit tubuh Sooji bergetar, Dokter Ahn juga panik, ia memutar infusan Sooji, mencoba mengalirkan cairan itu lebih banyak pada tubuh Sooji. Myungsoo memegang bahu Sooji, ia terlihat sangat khawatir.

“Sooji-ah, Sooji” Sooji tak kunjung membuka matanya. Tapi Myungsoo tak kehabisan akal.

“Sooji!! Sooji!! Kim Sooji!! Bangunlah! Buka matamu!” bentak Myungsoo, tapi dengan itu tubuh Sooji berhenti bergetar, dan mata indah itu sungguh terbuka—Dokter Ahn menghembuskan nafasnya lega, sangat lega. Terlebih dengan Myungsoo…

“Oppa…” lirih Sooji, Myungsoo mengangguk lalu memeluk rindu istrinya, menciumnya dengan penuh kerinduan. Dokter Ahn tersenyum lalu keluar dari ruangan tersebut, ini bukan ranahnya.

“Sooji-ah…” seru Myungsoo sembari mencium pipi Sooji bergantian.

“Kau baik-baik saja?” tanya Myungsoo—ya, ini pertanyaan bodoh.

“Aniyo—aku tidak baik-baik saja Oppa, aku merindukanmu, merindukan anak-anakku. Aku sangat terkejut, kejadian ini begitu tiba-tiba…” ujar Sooji, ia menangis, Sooji menangis dipelukan Myungsoo, membuat rasa bersalah Myungsoo semakin besar.

“Maafkan aku atas kejadian ini, aku tak berguna sebagai suamimu Sooji-ah, maafkan aku… Atas pengakuanku, aku—“ ucapan Myungsoo terhenti seketika Sooji menyuruhnya diam.

“Aku sudah mengetahui semuanya Oppa, gokjongma…” ujar Sooji, membuat dahi Myungsoo berkerut.

“Aku mendengarnya didalam sana… Dan aku sama sekali tidak marah kepadamu, aku hanya sedikit kesal, mengapa kau tidak mengatakan itu dari awal, jika kau mengatakannya mungkin aku tak akan seperti ini, kita berdua akan melawan kakakku dan pamanmu.” ujar Sooji, Myungsoo menunduk.

“Mianhae…”  Sooji tersenyum, wajahnya terlihat semakin cantik.

“Oppa, dapatkah kau meyakinkanku bahwa ini bukanlah sebuah mimpi?” pinta Sooji, Myungsoo tersenyum menyeringai. Lalu ia meraih tengkuk Sooji dan menciumnya dengan lembut, ciuman yang selalu ia rindukan, ciuman itu—ciuman yang kini beralih menjadi sesuatu yang terasa lebih.

Keesokan harinya Irene memasuki rumah sakit, ia memasuki ruangan dimana Sooji berada disana, Sooji yang kini tertidur—tepatnya melakukan acting, sesuai yang diberikan Myungsoo bahwa ia harus berpura-pura ketika orang-orang mengunjunginya.

“Selamat pagi, adikku yang cantik.” Irene mengusap dan membelai rambut hitam Sooji, dan disana pula berada Myungsoo yang tengah bersembunyi—menguping pembicaraan Irene dengan istrinya.

“Maafkan aku yang telah merebut semuanya darimu, saham semuanya telah berpindah di tanganku.” ujar Irene dengan nada bicara yang sangat merendahkan, membuat Sooji yang berada dalam alam bawah sadarnya ingin berteriak bahwa Irene tak akan bisa—tak akan pernah bisa menjualnya.

“Aku tak akan sering mengunjungimu—bahkan, aku tak akan bertemu denganmu lagi mungkin. Ah—itu adalah salah satu cara agar kau tak mengganggu kebahagiaanku.” Irene berbisik di telinga Sooji kali ini.

“Lihat nanti malam, aku akan datang untuk terakhir kalinya dan memotong urat nadimu. Dan memberi penghormatan terakhir kepadamu.” ujar Irene, membuat Sooji dibawah sana ketakutan—jelas saja ketakutan. Dan jangan heran dengan Myungsoo yang kini membelalakkan matanya, ia tak mungkin membiarkan ini terjadi, tak mungkin. Irene dengan cepat keluar dari ruangan Sooji, Myungsoo dengan cepat berlari ke  arah Sooji, membangunkan Sooji.

“Dia akan membunuhku, Oppa…” ujar Sooji, tangannya bergetar, ketakutan—Myungsoo dengan cepat meraih tangan Sooji—meyakinkan Sooji dan memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

“Dia tak akan pernah bisa membunuhmu, tak akan pernah bisa.” Myungsoo memeluk Sooji, memeluk tubuh istrinya yang kini menangis ketakutan.

“Aku dan Dokter Ahn akan memastikan bahwa kau akan baik-baik saja, jangan khawatir.”

Dokter Ahn menyeka wajahnya—ia baner-benar tidak tahu harus bagaimana setelah mendengar penjelasan Myungsoo.

“Irene akan melakukannya, ia yang membunuh Sooji.”

“Kau harus membujuk pamanku agar kau yang melakukannya.”

“Ya, sepertinya aku harus menghubungi pamanmu kembali.” ujar Dokter Ahn, Dokter Ahn kemudian meraih ponselnya, dan ia menelpon paman Myungsoo setelah paman Myungsoo mengatakan bahwa Irene yang akan membunuh Sooji dengan sendirinya.

“Biarkan aku yang membunuh Sooji.” ujar dokter Ahn pada Presdir Yang disana.

“Irene—“

“Aku tak akan membiarkan wanita cantik itu mati dengan luka yang tidak teratur. Bukankah aku yang membiusnya? Aku juga yang akan membunuhnya.” bohong Dokter Ahn, presdir yang kemudian menutup teleponnya lalu menghubungi Irene, dan jawaban dari Irene membuat dokter Ahn dan Myungsoo merasa menang.

“Jadi, aku akan berpura-pura membunuhnya… Kau harus segera menyiapkan helikopter untuk membawa pergi istrimu, setelah itu—mereka hanya akan kupersilahkan masuk ketika Sooji telah keluar dari ruangan. Bagaimana?” tanya dokter Ahn, Myungsoo mengangguk

“Terimakasih telah membantuku.” Dokter Ahn tersenyum

Malam hari tiba, Irene dan Presdir Yang dengan sesegera mungkin memasuki rumah sakit dan menuju ke ruangan Sooji, disana Dokter Ahn tengah bersiap dengan pisau bedah ditangannya. Membuat Presdir Yang dan Irene yakin begitu saja bahwa dokter Ahn akan segera melakukan yang terbaik. Irene menyeringai puas, selain menikmati kekayaannya sekarang ini, ia telah berhasil menjual seluruh saham pada perusahaan-perusahaan besar di Korea maupun di Negara lain—hal yang mustahil untuk dilakukan menurut Sooji. Presdir Yang dan Irene keluar dari ruangan, setelah semua dirasa cukup aman, Myungsoo muncul dari persembunyiannya, melepas infusan Sooji, dan mengangkatnya menuju blankar tersembunyi, wajah Sooji memucat—ya, memucat. Sooji terkena kanker hati setelah proses diracuni tersebut, kanker hati akut, selama empat bulan ini Myungsoo dan Dokter Ahn lah yang mengobatinya ditengah ketidak sadaran Sooji.

“Cepatlah, cepat.” ujar dokter Ahn, Myungsoo kemudian membuka lift tersembunyi yang dulu ia lalui bersama Areum atas informasi dari perawat Song. Myungsoo kemudian memasuki lift dan turun kebawah, dibawah sana tampaklah jibsa In, dan pelayan lainnya dari rumah Sooji yang sudah menyiapkan mobil untuk membawa mereka. Myungsoo menghubunginya tadi siang. Dan didalam sana, Dokter Ahn menaruh sebuah boneka berukuran seperti Sooji dan menidurkannya di tempat tidur Sooji, Dokter Ahn keluar dari ruangan, ia menemui presdir Yang serta Irene.

“Selesai, ini tak membutuhkan waktu lama.” ujar Dokter Ahn.

“Kerja yang bagus, Dokter Ahn.” ujar Presdir Yang, Dokter Ahn kemudian membungkuk memberi hormat lalu segera masuk ke ruangannya, ia dengan cepat embereskan barang-barang pentingnya. Ia dengan cepat lari menuju keluar rumah sakit, dan menaiki taksi yang sudah ia pesan beberapa saat lalu, ia kini menuju perjalanan ke bandara, hendak meninggalkan korea.

Irene memasuki ruangan Sooji dengan Presdir Yang, mereka tak lupa tertawa keras saat melihat darah berada disana.

“Akhirnya kau tak akan mengambil kebahagiaanku lagi, Sooji-ah.” ujar Irene.

“Kau akan menjadi orang paling kaya, Irene-ssi. Chukkae.” ujar Presdir Yang, Irene tersenyum.

“Baiklah, kita lihat wajahnya terakhir kali.” ujar Irene, ia membuka kain penutup yang ia kira Sooji berada disana, dan ia terkejut melihatnya.

“Apa-apaan ini?” seru Irene panik. Presdir Yang juga.

“Apa yang dilakukan Jae Hyun? Aku akan mengejarnya.” ujar Presdir Yang, suasana kini berubah menjadi tegang, Irene terkejut bukan main, dan ia bernafas dengan tak tenang, sesekali ia berteriak mengamuk, lalu tersungkur dibawah, tak lama kemudian teleponnya berdering.

“Irene-ssi, atas penjualan saham-mu, aku memutuskan untuk mengambil kembali uangku,dokumen yang kau kirimkan tidak lengkap.” Irene semakin kebingungan, ia lalu segera menghubungi telepon rumah, sama sekali tak ada yang mengangkat teleponnya. Dan telepon dari pemilik-pemilik perusahaan itu terus berlanjut, membuat Irene pusing.

Sementara Sooji dan Myungsoo kini sudah berada dalam mobil menuju perjalanan ke padang rumput dimana helikopter yang akan mereka tumpangi kokoh terparkir, Myungsoo perlahan mencium rambut Sooji, dilihatnya wajah Sooji yang memucat, Sooji bernafas pelan, di belakang Jibsa In dan Areum  cemas melihat keadaan Sooji, begitu pula dengan Sun Mi—ia terus menangis.

“Jibsa In, Jibsa Hong, kau tak lupa membawa flashdisk dan file-file penting perusahaan kan?” tanya Myungsoo.

“Tidak tuan, kami telah melaksanakan sesuai perintah anda.” Myungsoo mengangguk, dan kini sampailah mereka di tempat tujuan, Myungsoo menggendong Sooji memasuki helikopter, Jibsa In, Jibsa Hong,dan anak-anak menyusul.

“Kita akan ke bukit angin.” ucapan Myungsoo membuat Sooji terbangun, matanya yang berat kini terbuka sempurna.

“Oppa…”

“Aku akan membawamu kesana, kau suka?” tanya Myungsoo, Sooji mengangguk lemah.

“Tuan, apakah kita tidak sebaiknya membawa Presdir ke rumah sakit terlebih dahulu? Aku khawatir akan kondisinya.” ujar Jibsa Hong.

“Aku akan memeriksanya setelah kami sampai di bukit angin.”

“Eomma…” ucap Areum yang kini berada disamping Sooji, memeluk Sooji, dengan mata terpejam Sooji juga mendekap Areum. Satu jam berlalu, kini mereka sudah menepi di atas bukit angin. Myungsoo memapah Sooji karena permintaan Sooji yang ingin berjalan disana. Myungsoo membawa Sooji kedalam sebuah rumah sederhana di atas bukit angin, rumah yang cukup untuk dihuni beberapa orang.

“Ini…” ucapan Sooji terpotong setelah Sooji menatap wajah Myungsoo yang tersenyum.

“Rumah yang ku bangun untukmu. Untuk kebahagiaan keluarga kita nantinya.”

“Oppa…” lirih Sooji, ia kemudian menghambur ke pelukan Myungsoo, air matanya turun dari kedua pelupuk matanya, ia sangat takut bahwa setelah ini ia tak akan pernah bisa merasakan sensasi menempati rumah barunya bersama Myungsoo.

“Aku membangunnya semenjak menikah denganmu.” Sooji mengangguk.

“Gomawo…” Myungsoo memeluk Sooji, mengusap bahu istrinya. Myungsoo kemudian menyuruh Jibsa Hong dan Jibsa In membawa anak-anak kedalam.

“Aku ingin berjalan-jalan kesana.” ujar Sooji, Myungsoo menggeleng.

“Aku akan menggendongmu.” Sooji mengangguk.

Angin di malam hari bertiup menyejukkan, membuat kedua manusia ini masih betah berlama-lama mengenang masa lalu yang sempat mereka lalui bersama-sama. Myungsoo menatap Sooji disampingnya—menatap wajah pucat itu, bibirnya yang pucat—serta mata yang menghitam dibawahnya. Myungsoo tahu istrinya tidak dalam keadaan baik-baik saja, ia tahu—karena kanker hati bukan masalah yang main-main. Myungsoo sedang berusaha mencari pendonornya, pendonor yang bersedia menyerahkan hatinya untuk kehidupan Sooji. Perlahan Sooji membuka matanya, ia menangkap Myungsoo yang tengah menatapnya, Sooji juga menatap Myungsoo lalu mengulurkan tangannya membelai wajah Myungsoo—wajah sosok suami yang sangat ia cintai.

“Jangan bersedih, Oppa…” ucap Sooji, Myungsoo menggeleng, tapi matanya tak dapat menyembunyikan bahwa kesedihan kini sedang menyelimutinya.

“Kau menjadi jelek jika bersedih…” gurau Sooji, Myungsoo tersenyum lirih.

“Maafkan aku yang selalu menyusahkanmu.” ucap Sooji, ia menatap Myungsoo dalam-dalam. Myungsoo menggeleng.

“Kau bekerja keras demi menyelamatkanku. Meskipun aku tahu orangtuamu dan Orang tua Dokter Ahn yang menjadi taruhannya.” ujar Sooji, Myungsoo menggeleng keras—ia tak mampu berkata-kata, tenggorokannya terasa sakit jika Sooji berkata seperti ini—sungguh menyayat hati Myungsoo. Tidak—tidak Sooji, orangtuaku baik-baik saja, ingin ia mengatakan ini namun ia tak mampu, ia hanya memberi ruang kebebasan untuk Sooji berbicara lebih.

“Aku tak pernah meragukan cintamu, meskipun kau menikahiku karena paksaan, tapi aku tahu cintamu tidak palsu…” ucap Sooji, kini air mata sempurna turun dari kedua mata Sooji, dan Myungsoo…

“Maafkan aku, aku sangat tak berguna menjadi istrimu. Aku tak bisa mengurusmu dan anak-anak dengan baik.” lanjut Sooji, Myungsoo menggeleng.

“K—Kau…” lirih Myungsoo, ia tak mampu melanjutkan kata-katanya seiring dengan tangan Sooji yang melemah dan turun begitu saja dari pipi Myungsoo, tapi mata Sooji masih terbuka dan ia menatap Myungsoo.

“Kau adalah istri dan ibu yang baik, aku tak pernah menyesal menikah denganmu. Aku mencintaimu—sungguh mencintaimu Sooji-ah…” tutur Myungsoo, Myungsoo kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Sooji. Ia menciumnya, mencium bibir Sooji—dengan mata yang basah, begitu pula Sooji, pertahanannya semakin melemah, perlahan kepala Sooji turun kebawah, terkulai sempurna di dada bidang Myungsoo. Myungsoo menggerakkan tubuh istrinya menyerukan nama Sooji, namun tak ada sahutan dari Sooji, sepatah katapun tidak…

Sebuah ambulance melaju kencang di jalan raya, ambulance tersebut kini berhenti di sebuah rumah sakit—Gutamyeo Hospital. Myungsoo dengan cepat mendorong blankar Sooji kedalam, dilihatnya Irene yang masih berada disana, Irene yang dengan gontai melangkah, ia menyaksikan dengan pemandangan lemah bagaimana adiknya yang terbaring membutuhkan perawatan. Pikiran Irene kalut—semua perusahaan yang menjadi relasi dengan Gutamyeo Group perlahan mulai membatalkan kerja sama, Irene tak menyangka akan seperti ini jadinya, ditambah dengan Presdir Yang yang bunuh diri tadi malam karena kebangkrutan perusahaannya.

“Ia membutuhkan donor hati segera, jika tidak malam ini ia tak akan pernah bisa selamat.” Myungsoo mengacak rambutnya, kemana lagi ia harus mencari pendonor yang cocok dengan Sooji.

“Aku yang akan mendonorkannya.” ujar seorang wanita kacau disana, Myungsoo menoleh.

“Biarkan aku, Myungsoo-ssi.”

“Sekali ini saja aku ingin berguna menjadi kakaknya.Kumohon” ujar Irene, Myungsoo mengangguk.

“Baiklah, kita tak punya waktu banyak.” ujar Dokter Heo.

“Aku yang akan mengoperasinya, Dokter Heo, kau bantu saja aku untuk mengambil hati dari pendonor.” ujar Myungsoo. Kini semua ruang operasi telah disiapkan, operasinya akan segera dimulai, Dokter Heo menyuruh ahli anestesi untuk membius Irene, sesuai permintaan Irene, bahwa jantungnya juga akan ia donorkan untuk seorang wanita tua yang mengidap gagal jantung.

“Maafkan aku, Sooji-ah…” itulah kata-kata terakhir Irene yang muncul dari logikanya sebelum garis lurus tergambar dari sistem layar. Myungsoo memejamkan matanya.

“Terimakasih dan selamat jalan, noona.

Dan kini giliran Sooji, Myungsoo dengan cekatan mengoperasi istrinya, ia dengan teliti menjahit setiap bagian dalam tubuh Sooji.

“Tekanan darah dan detak jantung normal.” ujar ahli anestesi, Myungsoo mengangguk lalu segera menuntaskan operasinya, setelah selesai, Myungsoo menjahitnya kembali, menutup jahitan.

“Kau bekerja keras Dokter Kim.” ujar Dokter Heo dan yang lainnya. Myungsoo tersenyum.

“Aku akan membawanya ke ruang perawatan. Dan ia akan bangun segera mungkin.” ujar perawat Song, Myungsoo mengangguk.

Pagi hari menjelang, sinar matahari mulai menerobos masuk melalui bilah-bilah jendela, hal ini membuat wanita cantik mengerang dalam tidur damainya setelah hari kemarin melalui hari yang sangat berat. Ia menelisik ruangan dengan matanya, dan tersenyum—ketika menatap sosok suaminya yang tertidur lelap menjaganya.

“Oppa…” Sooji mengusap rambut Myungsoo penuh kasih sayang. Sementara Myungsoo hanya tertidur lelap—Sooji tahu Myungsoo sangat lelah. Dan tak lama kemudian perawat Song masuk kedalam, lalu memeriksa keadaan tubuh Sooji.

Dua jam kemudian, Myungsoo terbangun dari tidurnya, ia merasa aneh—semalam ia tertidur dengan duduk di samping tempat tidur Sooji, ia memandang sekeliling, dan ia dnegan cepat menghampiri Sooji yang kini tengah menunggunya.

“Kau sudah bangun Oppa.” ujar Sooji, Myungsoo tersenyum, berjalan menghampiri Sooji, dan memeluknya.

“Aku merindukanmu.”

“Aku juga sangat merindukanmu.”

“Kau yang memindahkanku?” Sooji menggeleng,

“Para satpam dan petugas yang memindahkanmu tidur disana, aku tahu rasanya sangat sakit jika tertidur dengan duduk seperti itu.” Myungsoo terkekeh pelan, ini masih seperti mimpi.

“Dapatkah kau membuktikan padaku bahwa ini bukan mimpi?” pinta Myungsoo, Sooji tertawa kecil lalu dengan cepat mencium hangat bibir Myungsoo, dan Myungsoo melumat lembut bubur Sooji, ciuman kerinduan yang selalu mereka curahkan bersama. Myungsoo mendekap Sooji tanpa melepaskan ciumannya, sementara—

“Jibsa In, sepertinya kita salah waktu.”

“Sunmi-ah, Areum-ah, kita mengunjungi Eomma nanti siang saja.”

_END_

Semoga suka sama endingnyaaa🙂 Comment+Like juseyo😀

38 responses to “[Freelance] Windmill Chapter 3/3

  1. aku kira suzy bakal meninggal T,T irene disaat keputusasaannya untung dia menjadi orang yg berguna kasian sihh hehe
    akhirnya happy ending ^^

  2. Syukur deh happy ending. Syukur juga Irene mau donorin hatinya buat Sooji. Iyalah dia yang buat adiknya sendiri jadi gitu.

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s