[Freelance] Kwajangnim Chapter 7

Title : Kwajangnim | Author : kawaiine | Genre : Angst, Family, Romance | Rating : PG-17 Main Cast: Kim Myungsoo, Bae Soo Ji, Choi Minho, Son Na Eun | Other Cast : Kim Soo Hyun,Lee Hyuk Jae [Eunhyuk] , Cho Kyuhyun,Choi Sulli, Kim Yoo Jung, Kim So Hyun, eTc

“This plot and story is pure from my mind. Sorry for typos, don’t be a siders and plagiator. Happy reading :*”

***

Sooji dan Myungsoo kini tengah menatap arsitektur megah dihadapannya, rumah yang sangat megah dan mewah, rumah pribadi Kim Soo Hyun, membuat Sooji dan Myungsoo menatap sekelilingnya.

“Kau tinggal sendiri Soo Hyun-ssi?” tanya Myungsoo, Soo Hyun menggelengkan kepalanya.

“Aku tinggal bersama ibuku, terimakasih telah datang kesini Sooji-ssi, Myungsoo-ssi.” ujar Soohyun, Myungsoo menyenggol lengan Soohyun.

“Aish, kami tentu saja harus menghadiri undangan darimu.” ujar Myungsoo. Sementara Sooji kini memandangi foto-foto keluarga Soo Hyun, tampaklah seorang bayi lucu sedang berada dalam gendongan wanita muda.

“Sajangnim, siapakah bayi ini?” tanya Sooji, Soo Hyun tersenyum.

“Dia adalah—“

BRAKK

“Aigoo maafkan kami yang terlambat Soo Hyun-ssi, makan siangnya belum dimulai kan?” tanya Eunhyuk yang seketika itu masuk berlari memeluk Soo Hyun, Soohyun tersenyum kikuk, Myungsoo dan Kyuhyun mendengus, diantara mereka bertiga hanya Eunhyuk yang kurang normal.

“Gwenchana, makanannya sudah siap. Ayo.” ujar Soohyun sembari berjalan kedepan, membimbing tamu-tamunya masuk kedalam ruang makan. Kyuhyun dan Myungsoo berdiri disamping Eunhyuk dan memukul bahu Eunhyuk pelan.

“Kau memalukan.” ujar keduanya, Eunhyuk tertawa lebar.

“Kemana ibumu Sajangnim?” tanya Sooji setelah makan siang berlangsung, Myungsoo tak hentinya menatap ruang makan rumah ini yang megah—sesekali ia bercita-cita akan membangun rumah seperti ini jika menikah dengan Sooji nanti,sementara Eunhyuk menatap para pelayan wanita yang mengantarkan makanan sembari tersenyum tanpa malu. Kyuhyun menggelengkan kepala.

“Dia masih berada dikantor pastinya, entahlah…Aku tak mengerti mungkin weekend saja dia banyak sekali pekerjaan.” Sooji mengangguk.

“Soo Hyun-ah…Soo Hyun-ah…” suara seorang wanita paruh baya membuat semua terhenti dari aktivitasnya, termasuk Eunhyuk yang kini tengah melahap ayam goreng raksasa.

“Eomma.” ucapnya, sementara Nyonya Kim memandang aneh pada Soo Hyun, banyak sekali orang disini.

“Mereka teman-temanku Eomma.” Nyonya Kim mengangguk.

“Annyeonghaseyo Nyonya Kim.”

“Baiklah, makan yang banyak agar kalian tetap sehat. Aku akan keatas.” ujar Nyonya Kim, Sooji dan yang lain tersenyum mendengarnya, Ibu SooHyun sangat baik sekali.

“Oh, Sooji-ah… Bisakah kau antarkan ini ke kamar ibuku? Berkas yang kita buat kemarin, ia harus mengeceknya.” ujar Soo Hyun, Sooji mengangguk. Sooji naik keatas lalu mengetuk pintu kamar Nyonya Kim,dan terdengarlah jawaban dari Nyonya Kim yang mempersilahkan Sooji masuk.

“Sooji-ah, kau sangat cantik sekali. Melihatmu aku selalu melihat diriku yang masih muda.” tawa Nyonya Kim, Sooji juga ikut tertawa.

“Kau masih terlihat cantik Nyonya Kim.” ujar Sooji, Nyonya Kim menarik tangan Sooji.

“Andai saja aku memiliki seorang putri,ah menyenangkan sekali jika aku bisa mengajaknya berjalan-jalan dan relaksasi di spa setiap minggu.Minggu depan kau mau kan?” Sooji mengangguk.

“Kau tunggu disini, yang kau bawa pasti berkas itu kan? Aku akan berganti baju dulu di kamar mandi, tunggu.” ujar Nyonya Kim. Sooji mengangguk lalu duduk di sofa, ia menatap kamar Nyonya Kim yang luas, dan matanya kembali tertuju pada foto bayi yang digendong oleh Nyonya Kim saat muda—Mungkin. Sooji kemudian melihat sebuah gelang melingkar di figura tersebut, gelang—gelang itu…ia pernah melihatnya. Ia hendak menyentuh gelang itu tetapi ia menghentikannya—ini tak baik meskipun rasa penasaran menyelimutinya. Ia kembali duduk dan menunggu Nyonya Kim, tak lama kemudian Nyonya Kim keluar dari kamar mandi dan menghampiri Sooji. Sooji menyerahkan berkasnya—tapi pikirannya terbang memikirkan—gelang itu.

Soohyun, Myungsoo,dan Eunhyuk juga Kyuhyun sedang berenang di kolam renang rumah Soohyun, Eunhyuk berteriak seperti tarzan kota, ia sangat senang diajak berenang. Menurut kisah hidupnya yang dipaparkan Kyuhyun, terakhir Eunhyuk berenang adalah pada saat ia kelas satu SMA. Nyonya Kim dan Sooji yang baru saja keluar dari dapur dan membawa makanan ringan tertawa melihatnya.

“Soohyun ternyata memiliki teman yang sangat lucu. Ah~ ini pertama kali aku melihatnya tertawa seperti ini.” ujar Nyonya Kim, Sooji mengerutkan dahinya. Nyonya Kim sadar bahwa Sooji membutuhkan penjelasan.

“Soohyun tak pernah tertawa seperti itu lagi semenjak kematian adiknya.” ujar Nyonya Kim, Sooji mengangguk,mengerti. Tak lama kemudian keempat namja itu naik dari kolam renang, Nyonya Kim kemudian menyuruh mereka memakan sushi dan beberapa kue.

“Oppa, cobalah ini.” ujar Sooji sembari mengangkat ikan salmon mentah yang dicelupkan kedalam kecap asin keatas, menyuruh Myungsoo mencobanya.

“Aish… kau lupa sepertinya, aku tidak suka daging yang masih mentah.” ujar Myungsoo, Nyonya Kim sontak menoleh.

“Kau ini aneh sekali Oppa, Eommoni, Abeoji, So Hyun dan Yoo Jung sangat menyukai ini, hanya kau yang tidak.” Nyonya Kim merasa ganjal.

“A—Ah, Sooji-ah, kau tak perlu memaksa namjamu untuk memakan itu, lagipula sushinya masih banyak.” ujar Nyonya Kim, Nyonya Kim lalu memberikan sepiring sushi pada Myungsoo, Myungsoo dengan cepat mengambilnya lalu memakannya dari atas, membuat nyonya Kim tak percaya.

“Terimakasih Nyonya Kim.” ujar Myungsoo tersenyum, Nyonya Kim menatapnya. Sooji merasa ada yang aneh.

“Ah~ Myung, bukankah kau akan segera melamar Sooji?” teriakan Eunhyuk membuat semua melirik pada Myungsoo dan Sooji, Myungsoo hanya tertawa. Sooji juga.

“Apa yang kau lakukan Oppa?” tanya Sooji, Myungsoo tertawa dan menyeringai. Wajahnya berubah menjadi serius.

“Maukah kau menikah denganku?” tanya Myungsoo pada Sooji dihadapan Nyonya Kim. Myungsoo dengan cepat mengulurkan tangannya, Eunhyuk menyerahkan sebuah kotak cincin ke tangan Myungsoo.  Myungsoo membukanya.

“Maukah?” tanya Myungsoo sekali lagi, Sooji terharu—ia hampir saja meneteskan air matanya. Nyonya Kim juga tanpa sadar tersenyum, ia teringat akan sesuatu—lamaran itu—ya,lamaran itu.

“Ya~ Apakah kalian sudah merencanakannya?” tanya Soohyun pada Eunhyuk dan Kyuhyun.

“Mianhaeyo Soohyun-ssi, kami mendengar kabar bahwa rumahmu sangat bagus dan Myungsoo berinisiatif untuk melamar Sooji di rumahmu.” ujar Eunhyuk dan Kyuhyun, Soohyun tertawa.

“Maukah kau menjadi istriku? Menemani suka dukaku,mengurusku dan anak-anak kita…dan—menyambut hari tua, bersamaku?” ujar Myungsoo sekali lagi kesekian kalinya, Sooji terharu, iapun mengangguk. Nyonya Kim semakin teringat pada saat itu—ia pernah mendengar ini. Ia pernah di posisi Sooji. Myungsoo perlahan memasangkan cincin putih di jari manis Sooji, membuat pemakainya kegirangan dan ketiga orang disana memekik senang, Nyonya Kim juga tersenyum, Myungsoo memeluk Sooji.

“Gomawo, Oppa.”

Naeun melangkahkan kakinya bimbang didepan pintu apartemen Myungsoo, ia hendak menjelaskan sesuatu pada Myungsoo dan juga Sooji, namun berkali-kali ia menekan bel tak ada jawaban. Hingga tibalah Sooji dan Myungsoo yang tengah berjalan menuju apartemennya, Sooji dan Myungsoo sedikit bercanda tawa,tapi pemandangan didepan membuat keduanya diam.

Sooji menuangkan the kedalam gelas kosong, ia menyajikannya pada gadis dihadapannya. Sooji memandang kosong pada Naeun, begitu pula dengan Myungsoo.

“Maksud kedatanganku kesini adalah—aku ingin meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi pada kalian berdua.” ujar Naeun, Sooji mengulas senyumnya.

“Aku tahu lagipula Minho yang menyuruhmu, keutchi?” Naeun mengangguk.

“Jika hidupmu terus dipengaruhi orang lain, kau tidak akan pernah menemukan siapa sebenarnya dirimu.”  tutur Sooji, Naeun menatap Sooji, sesekali menatap jari tangan Sooji yang disana melingkar cincin.

“Ah~, ne… Sekali lagi aku meminta maaf padamu Oppa, dan juga kau Sooji-ssi.” Sooji dan Myungsoo mengangguk. Tak lama kemudian Naeun pamit pulang.

Sooji dan Myungsoo masih duduk di sofa ruangan tv Myungsoo, Myungsoo menggeliat manja lalu menidurkan kepalanya di atas paha Sooji, posisi yang paling ia sukai.

“Aku akan melamarmu. Sepulang Eomma dan Appa dari Seonbichon, aku akan mendatangi kedua orangtuamu.” Sooji tersenyum,mengangguk.

“Terimakasih telah selalu sabar menghadapiku—Oppa.” ujar Sooji, Myungsoo mengangguk.

“Terimakasihi diri selalu mengerti akan diriku Sooji-ah.” Sooji mengusap rambut Myungsoo, mencium pipi Myungsoo manja.

Pagi ini Ibu dan Ayah Kim baru saja datang dari Seonbichon, mereka membawa bungkusan besar, oleh-oleh dari nenek Myungsoo. Myungsoo yang tengah sarapan bersama kedua adiknya dan Sooji sontak menoleh.

“Eommaaaaa!! Appa!!” pekik kedua adik Myungsoo, Myungsoo hanya tersenyum melihat tingkah dongsaengnya.

“Kau sudah kembali Eommonim, Abeoji.” ucap Sooji seraya memberi hormat, kemudian Ibu Kim memeluk putrid-putrinya termasuk Sooji.

“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu Eomma,Appa.”

“Kami akan menikah.” ujar Sooji dan Myungsoo bersamaan.

“MWO?” pekik keempat orang dihadapannya.

“Ka—kalian masih terbilang baru mengenal—Myung—ah mana mungkin…”

“Aish Appa! Eomma, aku mohon lamarkan Sooji untukku nanti malam.” ujar Myungsoo, Ibu dan Ayah Kim saling menatap lalu mengangguk.

“Baiklah.”

“Baguslah kalian akan menikah,setidaknya kalian akan memisahkan diri dari sini lalu berhenti meracuni pikiran kami.” ucap So Hyun, Sooji dan Myungsoo mengernyitkan dahi, Apa maksudnya?

“Mereka selalu berciuman disini, Eomma. Appa.” ujar Yoo Jung, membuat Myungsoo harus menutup mulut Yoojung dan tersenyum kikuk, ayah dan ibu Kim hanya menatap mereka dengan tatapan galak.

Siang hari, Sooji tampak sedang tertawa menatap layar ponselnya. Soo Hyun hanya menatapnya dari kejauhan.

Sooji Eomma : “Malam ini Myungsoo Oppa dan keluarganya akan datang kerumah, aku akan dilamar. Eomma baik-baik saja kan?”

Sooji :“Tentu saja, kami akan menyiapkan yang terbaik. Eomma baik-baik saja chagi-a, jangan khawatir.”

Sooji tersenyum, membuat Soohyun penasaran, dengan cepat ia menghampiri Sooji.

“Apa yang membuatmu begitu bahagia?”

“Aish, Sajangnim. Mengagetkan saja. Aku sedang chatting bersama Eomma, malam  ini Myungsoo Oppa akan melamarku.” ujar Sooji, Soohyun mengangguk.

“Semoga lancar.” ujar Soohyun, sedikit ada rasa sakit.

“Ehm—sajangnim, tentang foto yang waktu itu kutanyakan padamu…”

“Oh—dia adalah adikku.” jawab Soohyun, Sooji mengangguk.

“Bagaimana dengan makan siang bersama?” tawar Soo Hyun.

“Call!”

Malam hari sudah tiba—kini Myungsoo dan keluarganya sedang sibuk merias diri, Myungsoo yang mengenakan jas dan kemeja berwarna hitam dan putih itu tampak tampan, rambutnya dirapikan menggunakan pomade termahal yang ia beli di salon pria. Myungsoo tampak puas dengan penampilannya.

“Ayo, berangkat!” ujar Myungsoo, semua mata tertuju padanya.

“Omo—apakah dia Oppaku?” tanya Yoo Jung pada So Hyun, So Hyun menggeleng.

“Myung, kau tampan sekali, aku melihat diriku sewaktu hendak melamar ibumu dulu!—eih.” ujar Ayah Kim, Ibu Kim kini mendengus, keluarga ini selalu penuh dengan komentar.

“Ayo, kita akan terlambat jika kalian memandangku seperti itu.” ujar Myungsoo.

Myungsoo dan keluarganya kini menepikan mobil di halaman rumah mewah, yang tak lain adalah rumah Sooji, mobil sedan jadulnya itu tampak tak cocok dengan keadaan rumah yang sangat mewah ini—membuat Yoo Jung dan So Hyun menatap sekeliling.

“Rumah Sooji Eonni bagus sekali, tapi mengapa ia lebih suka tinggal di apartemen yang sempit?” tanya Yoo Jung.

“Mungkin dia lebih senang tinggal di apartemen sempit—“ jawab So Hyun cuek, mereka kini menuruni mobil, dilihatnya para pelayan yang membungkukan badan memberi salam, disana pula terlihat Nyonya dan Tuan Bae yang sedang berdiri menyambut.

“Senang bertemu denganmu Tuan, Nyonya.” ujar Ibu dan Ayah Kim, Nyonya dan Tuan Bae menyambut balik.

“Jibsa Yoon, tolong panggilkan Sooji.” ujar Nyonya Bae, Jibsa Yoon menaiki tangga menuju kamar Sooji, tak lama kemudian Sooji keluar dengan rambut yang terurai panjang, make up yang tak berlebihan, dan baju dress hitam selutut juga high heels berwarna senada, membuat Myungsoo memandangnya takjub.

Sooji kini terduduk di antara ibu dan ayahnya, Myungsoo tersenyum pada Sooji, Sooji juga.

“Jadi, tujuan kami kemari adalah kami ingin melamar Sooji, untuk putra kami.” ujar Ayah Kim, Nyonya Bae tersenyum dan mengusap tangan Sooji.

“Apa pekerjaanmu, Myungsoo-ssi?” tanya Tuan Bae, Sooji dan Nyonya Bae merasa ada sesuatu yang ganjil dalam pertanyaan tuan Bae, terkesan merendahkan…

“Aku adalah seorang teknisi di kantor milik Tuan Choi.” jawab Myungsoo.

“Teknisi?” tanya tuan Bae, ia tertawa terbahak-bahak, semua memandangnya sinis, termasuk kedua adik Myungsoo—apa-apaan si botak tua ini?—Ini So Hyun yang berbicara.

“Kau tahu? Seorang ayah selalu ingin memberikan yang terbaik untuk putrinya.” Myungsoo mengangguk.

“Meskipun putriku adalah seekor kuda, ia harus memakan rumput untuk bertahan hidup. Begitu, kan?” tanya Tuan Bae, Sooji mengepalkan tangannya, Nyonya Bae memeluk Sooji. Myungsoo menahan amarahnya, ia tak menyangka akan direndahkan seperti ini.

“Sooji tetaplah Sooji, Sooji bukan seekor kuda seperti yang kau bicarakan, Tuan. Aku akan berusaha semampuku menghidupinya.” ujar Myungsoo, Ibu Kim yang merasa tersindir segera berdiri, membuat ayah Kim kaget dan kedua adik Myungsoo menariknya untuk duduk.

“Myungsoo~ya, kau tak tahu artinya apa? Ayah Sooji menolak lamaranmu. Ayo, kita pulang. Yeobo, kita pulang sekarang juga!” ujar Ibu Kim, Ibu Kim kini menarik tangan anak-anak dan suaminya. Membuat Sooji sedikit menangis dan memeluk Nyonya Bae.

“Baguslah jika kau tahu kesimpulannya.” jawab Tuan Bae.

“Nyonya, Tuan, maafkan perkataan suamiku—ah, aku ibunya Sooji, aku harap kalian tidak mempermasalahkan ini lebih jauh, aku menyetujui lamaran dari Myungsoo—“ ujar Nyonya Bae, tapi Tuan Bae dengan cepat menarik Nyonya Bae dan menyuruhnya berhenti berkata.

“Ayo, Myungsoo~ya, tak pantas berharap seperti ini.” ujar Nyonya Bae. Tapi So Hyun enggan beranjak dari tempatnya.

“Kami memang orang miskin, kami tak punya harta apapun yang bisa dibanggakan. Tapi, kami memiliki harga diri, yang tak mungkin orang-orang dapat memilikinya, termasuk putrimu Tuan. Putrimu yang selalu mengadu atas ketidaknyamanannya dirumah ini. Sebelum kau berbangga hati dan sombong atas memiliki Sooji Eonni, kau sebaiknya memperbaiki hatinya terlebih dahulu.” ujar So Hyun, membuat Sooji mematung ditempat, dan Nyonya juga Tuan Bae yang merasa tenggorokannya tercekat, Sooji kemudian hendak menghampiri Myungsoo, So Hyun menahan Sooji.

“Lebih baik kau urus kedua orangtuamu Eonni, kami permisi. Eomma dan Appa membutuhkan istirahat yang lebih, setelah beristirahat mereka bisa terbangun dan melupakan semua ini.” ujar So Hyun

“Tapi—Hyunnie—“

“Aku baik-baik saja, kami baik-baik saja, Myungsoo Oppa baik-baik saja. Gokjongma.” Sooji mematung, menatap Myungsoo yang menatapnya penuh dengan haru, seolah berkata “Aku sangat sakit, Sooji.”

“Kami permisi.” ujar So Hyun, keluarga Kim kini meninggalkan kediaman Sooji, dilihatnya ibu Kim yang kini tengah menangis , begitu pula ayah Kim yang terlihat kecewa, Myungsoo menyetir mobil—mengambil alih.

“Jangan berhubungan lagi dengan keluarga itu, jangan kembali lagi ke apartemenmu!” ujar Tuan Bae, membuat Sooji kini bangkit lalu berlari ke kamarnya—hatinya sakit, ia merasa sangat bersalah pada keluarga kedua yang selalu menerimanya dan berbagi canda dengannya.

“Yeobo—“ ujar Nyonya Bae, Tuan Bae menatapnya.

“Kau keterlaluan.” timpa Nyonya Bae, Tuan Bae mengerutkan dahinya, keterlaluan apanya—pikirnya.

Nyonya Bae kini menghampiri kamar Sooji, ia dapat mendengar isakan keras keluar dari sana, Sooji menangis sangat keras, hatinya sangat terluka karena seorang ayah yang tak mengerti perasaannya, yang bahkan mengurusinya saja tidak pernah.

“Sooji-ah…” ujar Nyonya Bae, Sooji bangkir lalu memeluk ibunya, Nyonya Bae menciumi putrinya—berharap Sooji sedikit tenang.

“Eomma… Bagaimana jika Myungsoo Oppa tidak mau menerimaku lagi? Bagaimana jika ia tidak ingin bertemu denganku lagi? Eotthokkaeyo Eomma, Eotthokkae? ucap Sooji, air mata masih mengalir di kedua pipinya.

“Myungsoo pria yang baik—Aku yakin ia tidak seperti itu…”

Myungsoo emmandang langit malam di balkon apartemen seorang diri, ia tersenyum—mengingat wajah Sooji. Lalu ia sedikit menghembuskan nafas kesal mengingat kejadian tadi yang menimpanya. Ini benar-benar memalukan—ya, ia mungkin mengambil langkah salah dan terlalu cepat.

“Myungsoo-ah…” ucap Ayah Kim, Myungsoo melirik pada sumber suara.

“Kemarilah—kemari, aku tahu perasaanmu.” ujar Ayah Kim, Myungsoo lalu menghampiri ayahnya dan memeluk ayahnya—ia menangis keras, ayah Kim menepuk punggung Myungsoo, berusaha menenagkannya, ya—itu adalah pertama kalinya mereka direndahkan oleh keluarga orang lain, Ayah Kim memahami perasaan Myungsoo kali ini—ia juga sedikit menangis…menyesal…

“Kau seharusnya tidak terlahir di keluarga seperti kami Myungsoo-ah…”

Pagi hari Sooji tampak tak bersemangat, ia memasuki kantor dengan langkah gontai, Soohyun yang menyadari Sooji tak seperti biasanya hanya memandang aneh pada Sooji.

“Hey, setelah lamaran seharusnya kau senang.” ujar Soohyun, Sooji memandang orang disebelahnya, ia kemudian menatapnya berkaca-kaca. Membuat Soohyun bertanya-tanya

“Wae? Waeyo Soo—“ ucapan Soohyun kini terhenti ketika Sooji menangis dan berhambur ke pelukannya, menangis keras. Soohyun mengusap rambut panjang milik Sooji.

“Uljima…” Soohyun memeluk balik Sooji, setelah dirasa cukup Sooji kemudian menceritakan semuanya.

“Ah! Myungsoo pasti terluka…” ujar Soohyun, Sooji membenarkan.

“Eotthokkae Sajangnim? Jika Myungsoo Oppa tidak mau bertemu lagi denganku? EO-TT-HO-KK-AE  Sajangnim Eotthokkae? Ujar Sooji terisak, Soohyun mengusap air mata Sooji.

“Myungsoo tidak seperti itu Sooji-ah, jika dia benar-benar mencintaimu—dia tidak akan marah karena hal ini.”

“Jinja?” tanya Sooji, Soohyun mengangguk.

“Bersabarlah Myung.” ujar Kyuhyun, Myungsoo masih menenggelamkan wajahnya di tangannya, ia menunduk dalam di atas meja.

“Dasar pria tua Bangka, akan kuhajar jika ia melalui jalan ini.” ujar Eunhyuk, Kyuhyun lagi lagi harus menggelengkan kepalanya.

“Dan itu tak mungkin hyung, Tuan Bae tak mungkin berkunjung keruangan teknisi.” ujar Kyuhyun.

“Jika kau lelaki yang benar-benar mencintai Sooji, kau tidak akan menyerah karena ini Myung.” ucap Kyuhyun, Myungsoo kini mendongakkan kepalanya keatas.

“Kau benar, hyung.”

Malam hari ini Myungsoo pulang telat, Ia melajukan motornya—matanya sedikit mengantuk. Ia kemudian melajukan motornya dengan tingkat kefokusan yang rendah belum lagi ditambah dengan pikirannya tentang Tuan Bae dan Sooji, dan…

BRUKK

Myungsoo menabrak sebuah pohon besar di persimpangan jalan, ia jatuh kebawah—tersungkur darah mengalir di kepalanya, ia juga terpental sekitar beberapa meter, para pengguna jalan dan warga yang berada disana langsung memanggil polisi juga ambulans, dan salah satu wanita paruh baya turun dari mobilnya setelah melihat keramaian tersebut.

“Eoh—apa yang terjadi disini?”

“Anak muda ini menabrak pohon—dan…” Nyonya Kim langsung berlari menghampiri korban, ketika helm korban dibuka ia terkejut.

“Bawa ia kedalam mobilku, segera!” ujar Nyonya Kim

“Tapi ambulans akan segera datang, Nyonya.”

“Cepat!!” tak  ada pilihan lain, ahjussi-ahjussi tadi hanya menuruti perintah Nyonya Kim, Nyonya Kim melihat Myungsoo yang teruduk lemah di kemudi belakangnya, ia dengan cepat memacu mobil menuju rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit…

Sooji berjalan cepat menuju rumah sakit setelah mendapat kabar dari Nyonya Kim bahwa Myungsoo kecelakaan, disusul juga oleh Ibu Kim dan Ayah Kim juga kedua adik Myungsoo. Sooji dan keluarga Myungsoo juga Nyonya Kim hanya terdiam—menunggu dokter yang keluar memeriksa Myungsoo.

“Apakah ada keluarga dari korban?” tanya dokter tersebut, Ibu Kim, ayah Kim, dan kedua adik Myungsoo sontak berdiri.

“Pasien membutuhkan donor darah, ia kehabisan banyak darah.” ujar Dokter tersebut.

“Apa golongan darah Myungsoo, uisa-nim?” tanya sooji panik.

“Pasien memiliki golongan darah AB dengan rhesus positif, kami tak memiliki stoknya dan pendonor golongan darah ini sangat langka.” ujar Dokter tersebut.

“Periksa golongan darah kami, Dokter.” ujar kedua orang tua dan adik Myungsoo, dokter sesegera mungkin menyiapkan tempat untuk pemeriksaan darah, namun hasilnya nihil…

“Diantara keluarga tidak ada yang cocok dengan pasien. Kalian semua memiliki rhesus positif, yang dimana tidak dapat didonorkan kepada pemilik rhesus negative.” Ibu Kim, Ayah Kim, dan kedua adik Myungsoo pun frustasi.

“Chogiyo—aku memiliki golongan darah AB dengan rhesus negative,kau bisa mengambil darahku untuk kesembuahan pasien.” Ibu Kim kini menoleh pada wanita paruh baya seusianya, begitupula dengan ayah kim—ia tampak tidak asing.

“Baiklah, ikuti kami Nyonya, kami tak memiliki banyak waktu.” ujar dokter tersebut, Nyonya Kim kini berjalan mengikuti dokter tersebut.

Setengah jam berlalu.

“Sooji-ssi, aku pamit dahulu. Soohyun pasti menungguku.” ujar Nyonya Kim, Sooji mengangguk.

“Hati-hati dijalan, Nyonya.” Nyonya Kim tersenyum  dan memberikan hormat pada keluarga Myungsoo, keluarga Myungsoo berterimakasih atas kesediaan hati Nyonya Kim. Dan Ayah Kim menatap Nyonya Kim.

“Nyonya—Nyonya Kim Mi Rae, dompetmu tertinggal!” ujar seorang perawat yang mengejar Nyonya Kim. Ayah Kim membulatkan matanya.

“Mi—Mi Rae? Kim—Kim Mi Rae?”

_TBC_

gimana chapter ini? CL nya ditunggu yaa hehe 🙂 terimakasih~

88 responses to “[Freelance] Kwajangnim Chapter 7

  1. Aisi jincha ! Disaat myungzy akan menyempurnakan kebahagiaannya pasti ada saja cobaan nya. Itu ayah suzy laki2 kan? Tapi dia sangat gila harta sama halnya seorang yeoja !

    Aigoo myungsoo, semoga tidak terjadi apa-apa padanya. Dan ia bisa lekas sembuh. Suzy pasti sangat terpukul atas kondisi myung.

    Aku sangat yakin sekarang KIM MYUNGSOO ADALAH ADIK KANDUNG KIM SOOHYUN ! Apa yang akan dilakukan Tn. Bae jika mengetahui hal ini?

  2. Kemungkinan besar adikk soohyun itu myungsoo.. tapi bagaimana bisa?katanya adik soohyun meninggal? Tapi kayanya tn.kim tau sama kim mirae yah?
    Ikhh appa suzy angkuh banget sih, mentang2 dia bnyak uang dan inget! Uang itu juga ga luput dari kerja keras suzy, yah meskipun mereka dama2 kerja di perusahaan tn.choi -_-

  3. Yah ayah suzy pabo pabo pabo..
    sok kaya..
    ugh..
    yakin pasti myungsoo adik nya soohyun kan??

    Thor minta pw ch 8 nya..
    Pleaseeeeeeeee… 😣😣

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s