Mistakes And Regrets #11

poster.jpg

Title: Mistakes and Regrets | Author: Macchiato

Genre: Friendship, Sad, Romance | Rating: PG – 17 | Length: Chaptered

Main Cast: Bae Sooji, Kim Myungsoo, Kim Sunggyu

Poster by animeputri

I don’t own anything besides the storyline

Chance?

 

Previous chapter: #1 | #2 | #3 | #4 | #5 | #6| #7 | #8| #9| #10

Warning! Yang bercetak tebal adalah flashback

 

Myungsoo mengaduk kopinya dengan malas. Sedari dia sampai di cafe ini hingga sekarang, tidak ada diantara dirinya dan Soojung yang membuka percakapan. Myungsoo menghela nafas dan memandangi lekat-lekat yeoja yang terlihat ‘terlalu’ sibuk dengan pastanya.

Wae?” Tanya Myungsoo. Disandarkannya punggungnya oada kursi dan dilepaskannya tangannya dari sendok kopinya kemudian tangannya bersedekap di depan dadanya.

Soojung akhirnya mengangkat wajahnya dan menata Myungsoo. Alisnya terangkat sebelah.

Myungsoo menghela nafas lagi dan memejamkan matanya.

Wae? Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa. Aku hanya mengajakmu makan siang seperti biasa. Memangnya kenapa?”

Mendengar penekanan kata ‘seperti biasa’ yang diucapkan oleh Soojung membuat mata Myungsoo kembali membuka. Seringaian muncul di bibirnya. Ditegakkan lagi punggungnya dan diletakkannya tanganna di atas meja. Pandangannya seluruhnya difokuskan pada Soojung.

“Seperti biasa katamu?”

Soojung sedikit menegang mendengar intonasi Myungsoo yang terdengar begitu tajam. Myungsoo berdecak kemudian melepaskan pandangannya dari Soojung. Amarah Soojung sedikit tersulut melihat sikap Myungsoo yang seakan meremehkan ucalannya.

“Kita memang ‘terbiasa’ makan siang bersama kan?” Lagi-lagi Soojung menekankan kata terbiasa.

Tatapan tajam Myungsoo kembali mendarat pada sepasang mata Soojung.

Yya! Jangan bercanda! Kita bahkan tidak saling berbicara sama sekali 3 bulan ini!”

Soojung sedikit terlonjak mendengar ucapan Myungsoo. Dirinya sedikit terkejut melihat Myungsoo yang tiba-tiba memekik.

Soojung mendesis, “Yya! Kau membentakku! Kejadian kemarin itu salahmu! Kau sendiri yang membuatku kesal padamu!”

Myungsoo memandang Soojung tidak percaya. “Salahku katamu?”

Soojung mengangguk, “Tentu saja salahmu! Jika kau langsung menurutiku dan tidak bertemu dengan Sooji sialan itu, aku-“

Brak!

“Jangan sebut dia sialan!”

Soojung benar-benar terkejut kali ini. Gebrakan Myungsoo pada meja, amarah yang jelas di kedua mata Myungsoo, dan ucapan Myungsoo yang begitu dalam benar-benar membuatnya terkejut dan sedikit terguncang. Soojung mengerjapkan matanya berusaha menahan panas di matanya yang tiba-tiba muncul.

“Kau membentakku?! Kau membentakku dan membela Sooji?! Wae? Dia memang sialan kan? Pembawa sial!”

“Kubilang berhenti menyebutnya begitu!” Intonasi Myungsoo bertambah tinggi mendengar ucapan Soojung yang lagi-lagi menjelekkan Sooji. Dia tidak peduli pada mata-mata yang mulai memperhatikan pertengkarannya dengan Soojung.

Soojung mengepalkan tangannya. Matanya menatap Myungsoo nyalang.

“Dia memang sialang, Myung! Lihat! Dia bahkan berhasil membuatmu bertekuk lutut padanya! Dia berhasil menjauhkan kau dariku!”

Rahang Myungsoo mengeras mendengar ucapan Soojung.Tatapan Myungsoo kemudian jatuh pada buku-buku tangan Soojung yang memutih akibat Soojung mengepalkan tangannya terlalu kencang. Soojung sangat kesal, Myungsoo yakin itu tapi Soojung juga membuatnya benar-benar kesal kali ini. Jika tidak ingat Soojung adalah yeoja mungkin Myungsoo sudah memukulnya.

Myungsoo menghela bafas berusaha mengontrol emosinya.

“Aku menjauhimu bukan karena Sooji, Jungie.”

“Lantas karena apa?! Jangan terus-terusan membelanya!”

Myungsoo kembali mendaratkan tatapan matanya pada Soojung.

“Ini permintaanmu, Jungie. Kau lupa?”

Soojung tersenyum sinis, “Apa?! Jangan bercanda! Aku tidak per-“

“Kau memintaku memilih Jungie. Kau atau Sooji. Dan seperti yang kau lihat…. aku sudah memilih.”

Hening.

Lagi-lagi Soojung terkejut mendengar ucapan Myungsoo. Dia tidak menyangka Myungsoo benar-benar memilih Sooji bukan dirinya. Soojung membuka mulutnya hendak membalasa ucapa Myungsoo namun kemudian mengatupkannya kembali, Soojung seakan kehabisan kata-kata. Kepalanya seakan terasa kosong dan kakinya mendadak lemas. Yeoja itu kemudian menundukkan kepalanya, “Kau bercanda.”

“Tidak. Aku tidak bercanda.”

Soojung memejamkan matanya, melewatkan detik-detik dalam keheningan. Berusaha mencerna apa yang baru saja Myungsoo katakan. Soojung akhirnya menghela nafas kemudian kembali menegakkan kepalanya. “Kau memilih Sooji dibanding aku, Myung? Dibanding aku yang merupakan temanmu sejak kita balita? Aku, yang mengenalmu nyaris seumur hidupmu?” Ucap Soojung bergetar.

“Ya. Aku memilih Sooji dibandingkanmu Jungie. Sepertimu yang memilih Minhyuk dibandingkan aku.”

Soojung terbelalak mendengar ucapan Myungsoo. Senyum sinis kemanangan tercetak di bibirnya.

So this is about your crush on me, huh? Jadi alasanmu mendekati Sooji adalah agar aku cemburu? Geuman, Myung. Kau berhasil.”

Rahang Myungsoo kembali mengeras mendengar ucapan Soojung.

“Kau salah sangka nona Jung. Aku sama sekali sudah menyingkirkan perasaanku padamu. Aku menyukainya. Aku menyukai Sooji.”

“Jangan berbohong!” Pekik Soojung lagi.

“Ani, aku tidak berbohong. Mungkin kau yang berbohong, Jungie.”

Mata Soojung menyipit, “Apa maksudmu?”

“Mungkin kau yang berbohonh Jungie. Mungkin sebenarnya kau yang memiliki perasaan padaku. Mungkin sebenarnya Kang Minhyuk hanya pelarian bagimu. Karena buktinya kau begitu tidak rela aku memilih Sooji. Jujur sa-“

Byur

Belum Myungsoo menyelasaikan kalimatnya, dirinya merasakan hantaman air tepat ke wajahnya.

Didepan Myungsoo, Soojung berdiri dengan gelas kosong di tangannya, gelas yang tadinya berisi jus jeruk miliknya. Matanya menatap Myungsoo dengan tatapan berkaca-kaca dan disertai dengan kilatan amarah.

“Jaga mulutmu, Myungsoo.”

Soojung meletakkan gelas kosongnya di meja kemudian melangkahkan kakinya keluar dari cafe meninggalkan Myungsoo.

Myungsoo menghela nafas kemudian menyentuh rambutnya yang terasa lengket.

Good job, Myung.” Bisiknya pada diri sendiri.

Kriet.

Myungsoo mendongakkan kepalanya begitu mendengar suara kursi di deapnnya –kursi yang baru saja ditinggalkan Soojung- bergeser. Matanya seketika membulat namun sedetik kemudian senyum miring tersungging di bibirnya.

“Oraemaniya, hyung.”

Namja di depan Myungsoo tersenyum kecil, “Drama siang yang menegangkan sekali, Myung. Aku beruntung sekali bisa menyaksikannya.”

Soojung terisak dalam dekapan Minhyuk. Tangisnya tak kunjung berhenti semenjak dirinya menginjakkan kakinya di studio kekasihnya itu. Alasannya tentu saja karena ucapan Myungsoo.

Minhyuk, yang tidak tahu menahu mengenai alasan Soojung menangis tidak bertanya apapun dan hanya memeluk Soojung erat, berharap dapat menyalurkan kekuatannya pada Soojung.

Setelah sekian lama menangis dan menyembukin wajahnya di dekapan Minhyuk, akhirnya Soojung mengadahkan wajahnya dan menatap Minhyuk.

Oppa. Kau mencintaiku kan?”

Pertanyaan Soojung membuat Minhyuk tersenyum tipis. Dipeluknya lagi Soojung dan diciuminya puncak kepalanya berkali-kali.

“Menurutmu?” bisiknya perlahan.

“Kau mencintaiku.” Bisik Sojung pelan.

Kang Minhyuk tersenyum, tangannya kemudia perlahan menyentuh kedua belah pipi gadis yang menyembunyikan wajah cantiknya di dadanya. Ditariknya perlahan kepala gadis itu agar matanya menatapnya. Ketika akhirnya minhyuk dapat melihat kedua iris kekasihnya, tangannya kembali bergerak mengelus pipi yeoja itu perlahan.

Wae?”

Soojung tersenyum tipis kemudian menepelkan dahinya pada dahi Minhyuk.

“Apa aku mencintaimu, oppa?”

Minhyuk tertawa, kemudian mencium bibir yeojanya itu sekilas membuat rona merah menjalar di pipi Soojung.

Ne. Kau mungkin tidak mengakuinya agashi. Tapi aku tahu, Jung Soojung mencintai Kang Minhyuk.”

“Kopi?”

“Kau tahu, aku baru saja makan, hyung.”

Woohyun hanya mengedikkan bahunya, dan dengan santai memesan dua cangkir kopi pada pelayan café.

“Saat dua orang sedang melakukan pembicaraan penting, biasanya mereka minum kopi. Pahit dan juga manis, konsumsi tepat menahan emosi yang mungkin saja muncul.”

Myungsoo mendengus. Woohyun belum berubah, pikirnya. Masih dengan segala filosofi yang sebenarnya tidak terlalu bermakna.

Woohyun terkekeh melihat wajah Myungsoo yang seakan meremehkan ucapannya, “Wae? Aku benar kan? Semua orang butuh minum saat bicara dan menurutku kopi pilihan tepat.”

“Memangnya kita mau bicara apa?”

Woohyun tersenyum, “Menurutmu?”

Myungsoo kembali mendengus, “Jangan bertele-tele, hyung. Kau menyeretku ke sini padahal tahu aku baru saja selesai makan di resto sebelah dan aku masih harus kembali ke kantor”

“Kau harus berterima kasih padaku, setidaknya kau tidak perlu memakai baju lengket yang tersiram jus jeruk.”

Kali ini Myungsoo menghela nafas, “Geurae. Gomawoyo, hyung. Jadi? Apa yang mau kau bicarakan?”

“Silahkan menikmati.”

Woohyun tersenyum kecil kecil ketika pesanannya tiba dan mengucapkan gomawo pada pelayan. Tangannya kemudian meraih cangkir kopinya dan mengaduknya perlahan.

Hyung. Aku masih harus bekerja.” Myungsoo semakin tidak sabar.

Woohyun terkekeh, “Geurae, mian. Pembicaraan ini tidak boleh terburu-buru.”

“Kalau ini soal Sunggyu hyung, Aku menyerah. Dia bahkan menganggapku tidak ada saat terakhir kali kami bertemu.”

Woohyun tersenyum kecil, “Bukan. Bukan soal Sunggyu hyung. Sedikit menyinggung dia mungkin tapi utamanya bukan.”

Alis Myungsoo mengkerut, “Lalu?”

“Sooji. Tentu saja, Sooji. Memangnya pembicaraan mengenai apa lagi yang layak menyita waktumu selain Sooji?”

Myungsoo kembali ke kantornya dengan muka masam, pembicaraannya dengan Woohyun tadi membuat kepalanya berdenyut dan hati tak tenang. Belum lagi atasannya yang mengomel dengan keterlambatan Myungsoo kembali ke kantor. Dan sesiangan itu, Myungsoo duduk di kursinya dengan tatapan menunduk dan tangan yang setiap beberapa menit sekali mengacak – bahkan menarik- rambutnya sendiri. Laptopnya dibiarkan terbuka dan tidak ada design yang disentuhnya sama sekali.

Begitu jam menunjukkan pukul 5 sore –jam pulang kantor- Myungsoo bergegas meraih tasnya dan bergegas pulang sebelum kepalanya semakin panas.

Drrrrt drrttt

Getaran ponsel di atas meja mengalihkan konsentrasi Sooji dari dokumen di tangannya.

Dengan malas diraihnya ponselnya.

 

From: Kim Myungsoo

Dinner?

 

Senyum kecil tersungging di bibir Sooji. Singkat dan Padat. Selalu seperti itu pesan dari Myungsoo, tidak berubah sama sekali. Sooji melirik jendela besarnya, langit memang sudah temaram. Sooji kemudian menatap jam yang mekingkat di tangan kirinya, jam 7 tepat.

“Pantas saja aku lapar”, bisik Sooji pelan.

“Lapar, sajangmim?”

Sooji terlonjak, matanya membulat begitu menemukan Sunggyu berdiri di seberang mejanya.

“Yy..ya! Kau mengangetkanku! Sejak kapan kau di sini?”

Sunggyu terkekeh pelan, “Kau memang tidak peka ya.”

Sooji memberengut, “Bukan aku yang tidak peka, tapi kau yang tidak punya aura.”

“Tidak punya aura?”

Senyum miring muncul di bibir Sunggyu, kakinya perlahan membawanya memutari meja Sooji dan membuatnya berdiri di samping kursi Sooji. Dengan sekali sentak diputarnya kursi Sooji membuat gadis itu kini menghadap ke arahnya.

“Tidak punya aura katamu?”

Sooji bernafas dengan susah payah begitu Sunggyu membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke arahnya.

Helaan nafas hangat Sunggyu menyentuh wajahnya. Sooji dapat melihat pantulan dirinya di mata Sunggyu. Sooji memperhatikan bagaimana hidung Sunggyu yang mancung, garis rahangnya yang tegas, dan bibirnya yang kemerahan.

Sooji tidak berkedip dan membuat Sunggyu mati-matian menahan tawanya.

“Aku tau aku tampan, sajangnim. Tolong, jangan lupa bernafas.”

Sooji yang seakan baru saja tersadar, mengedipkan matanya berkali-kali begitu mendengar bisikan Sunggyu yang terdengar begitu dekat dan nafasnya yang membawa aroma peppermint.

Sooji membuka mulutnya namun sedetik kemudian menutupnya kembali, Sooji tidak tahu harus bicara apa.

Sunggyu tersenyum puas, ditegakannya tubuhnya kemudian diusapnya kepala Sooji lembut, “Ayo makan dan pulang. Woohyun bisa membunuhku kalau membiarkanmu lembur lagi.”

Sooji menggelengkan kepalanya, berusaha mengembalikan kewarasannya.

“Ah, ne, busajangnim.”

“Oppa. Panggil aku, oppa. Sekarang sudah lewat jam kantor, Sooji.”

Rona merah menjalar di pipi Sooji, “Ne, oppa.”

Myungsoo meremas ponselnya, berharap dengan melakukan itu pesan yang ditunggu segera sampai. Sudah hampir 30 menit dan Sooji belum membalas pesannya, membuat Myungsoo penasaran dan kelimpungan.

Drtt…

Dengan cepat Myungsoo membuka pesan yang masuk.

 

From: Sooji

Mian. Aku sudah ada janji.

 

Myungsoo kembali meremas ponselnya sebelum menjatuhkan dirinya ke atas kasur. Dipejamkannya matanya, “Bae Sooji, do I still have a chance?”

“Kau menyukai Sooji.” Itu sebuah pernyataan bukan pertanyaan.

Myungsoo terdiam dan tidak langsung menjawab. Pukulan Woohyun di masa lalu masih menjadi mimpi buruknya. Myungsoo masih ingat dengan jelas wajah penuh amarah Woohyun akibat Myungsoo meninggalkan Sooji waktu itu.

“Kau menyukai Sooji dan mendekatinya lagi saat ini.” Tambah Woohyun lagi.

Myungsoo menghela nafas, “Waeyo? Hyung ingin melarangku?”

Woohyun tertawa, “Kau kekanakan sekali ya. Berbeda sekali dengan Sunggyu hyung.”

“Jangan bandingkan aku dengan dia.”

“Wah bagaimana tidak membandingkan. Kalian jelas-jelas bersaudara dan kini ada tali merah lainnya, Sooji”

Myungsoo tahu itu karena itu dia berusaha semampunya untuk mengontrol ekspresi wajahnya.

Woohyun menyentuh sendok kopinya lagi, mengaduknya meskipun isinya kini kurang dari setengahnya.

“Aku tidak akan melarangmu mendekati Sooji, tentu saja tidak. Itu bodoh dan kekanakan. Sooji sudah dewasa dan dia pasti sudah dapat membedakan mana namja brengsek dan namja yang memang patut mendapat perhatiannya.”

Myungsoo berdecak kecil mendengar sarkasme yang keluar dari mulut Woohyun.

Woohyun tertawa melihat reaksi Myungsoo, “Wae? Tersinggung? Memang benar adanya kan?”

Tangan Myungsoo sedikit mengepal mendengar ucapan Woohyun.

Woohyun tersenyum kecil, “Tapi seperti yang kubilang tadi, aku tidak berhak melarangmu mendekati Sooji jika Sooji sendiri tidak keberatan dengan keberadaanmu. Aku hanya memintamu untuk bersikap seperti seorang gentleman kali ini. Kau bisa pergi sebelum masuk terlalu dalam, Myung. Aku tidak akan membiarkan Sooji kembali mengalami hal yang sama.”

Myungsoo menghela nafas, “Aku menyesalinya, hyung. Aku menyesal menyakitinya dulu. Aku menyukai Sooji ani nan geunyoreul saranghae. Aku tahu akan sulit meyakinkannya sekarang tapi aku tidak akan mundur.”

Woohyun kembali tersenyum mendengar jawaban Myungsoo, “Kau tahu kalau Sooji menyukai Sunggyu hyung kan?”

Bibir Myungsoo kelu. Tentu saja Myungsoo tahu. Sooji menmag tidak bercerita langsung bahwa dia menyukai busajangnimnya tapi hanya dari beberapa pertemuan saja, Sooji selalu mengelu-elukan busajangnim –yang ternyata adalah hyungnya sendiri.

Woohyun terkekeh, “Dilihat dari reaksimu, sepertinya kau tahu”

“Sooji itu lucu bukan? Dia seperti buku yang terbuka, mudah sekali dibaca. Saat senang ataupun sedih.”

Woohyun menutup matanya, menahan gejolak emosi yang tiba-tiba melandanya. Bagaimanapun Sooji adalah sepupu kesayangannya, adik kecilnya. Dan mengingat masa-masa saat Sooji begitu menderita tentu saja menyakitinya juga.

“Enam tahun lalu, kepergian ayahnya dan kenyataan soal ibu tirinya tentu saja membuat Sooji terpukul namun kepergian Sungyeol lah yang membuat Sooji terguncang. Dia terus menangis. Kau tahu apa yang selalu dia ucapkan saat dia menangis? ‘Mereka membenciku. Mereka bilang ini semua salahku. Mereka bilang aku pembawa sial.”

Woohyun menghela nafas, matanya kemudian menatap Myungsoo yang masih bungkam.

“Dan kau tidak ada di sana, Myung. Tidak di sampingnya saat itu. Kau bahkan tidak menjenguknya sama sekali..”

“Ah, ani kau datang menjenguknya untuk mengucapkan perpisahaan”

“Aku –“

Woohyun mengangkat tangannya meminta Myungsoo tidak melanjutkan ucapannya, “Sooji merasa bersalah pada semua orang. Pada keluarga Sungyeol dan pada Soojung. Dia tahu kau akan memilih menemani Soojung, tapi pernahkah terfikir di kepalamu, Sooji benar-benar membutuhkanmu saat itu? Kau pergi, Myung, kau menolaknya lagi di keadaan terburuknya.”

Woohyun menghela nafas, “Semenjak hari itu, semenjak kau meninggalkannya, Sooji berhenti menangis. Dia memang tidak lagi mengeluarkan air mata tapi matanya kosong. Tidak ada lagi binar di matanya. Tidak ada lagi senyum hangat di bibirnya. Sooji selalu mengatakan dia baik-baik saja tapi matanya menyiratkan luka.”

Woohyun kembali menatap Myungsoo. Memperhatikan bagaimana kedua tangan namja itu mengepal dan buku-buku jarinya yang memutih.

“Aku ingat malam itu, hari ulang tahun Sooji ke-16. Kau tahu apa yang dia minta sebagai kadonya padaku? ‘Bawa aku pergi dari sini, oppa. Sakit, di sini terlalu menyakitkan’. Aku masih ingat dengan jelas bagaiman Sooji memohon pada kedua orang tuaku untuk membawanya pergi dari Korea.”

“Aku memang sudah memaafkanmu karena aku menghormati Sunggyu hyung. Tapi untuk menerimamu di sisi Sooji,aku masih berfikir dua kali. Aku memang tidak melarangmu mendekatinya tapi aku harap kau menyadari posisimu, Myung. Aku tidak segan melakukan apapun agar Sooji tidak lagi terluka dan itu termasuk menjauhkanmu dari Sooji”

Myungsoo menghela nafasnya dan menundukkan kepalanya begitu mendengar kalimat final yang diucapkan Woohyun. Myungsoo selalu tahu dia sudah melukai Sooji tapi mendengarnya dari sudut pandang berbeda tentu saja membuatnya merasa semakin bersalah. Dan membuatnya semakin ingin merengkuh Sooji. Myungsoo kembali menghela nafas kemudian menatap balik Woohyun yang sedang memperhatikannya.

“Aku mencintainya hyung. Entah sejak kapan. Entah aku yang bodoh karena baru menyadarinya atau memang aku baru merasakannya. Dan tenang saja, hyung. Aku tidak berencana melakukan kesalahan yang sama. Aku mencintainya, alasan itu cukup bagiku untuk menjaganya dengan caraku.”

 

-TBC-

Annyeong! Masih ada yang inget ff ini? Kalo lupa monggo dibaca lagi hehe

Mian updetnya lama banget, gabisa nyalahin kuliah juga sih tapi ya intinya kurang bisa manage waktu jadinya ga semua bisa kepegang, termasuk ff ini

Anyway, ini new chapternya mistakes and regrets

Semoga ceritanya ga makin aneh atau kemana-mana dan tetep enak dibaca

Dan yang buat nunggu moment Myungzy, just wait, mereka bakal datang dengan kecepatan penuh sebentar lagi

Kenapa kayanya lama banget?

Aku sering bilang di awal emang alurnya ini lambat tapi aku juga ngerasa kok words per chapter aku tuh pendek-pendek jadi walapun ini udah nyentuh chapter 11 isinya masih dikit

Dan aku juga gamau buru-buru moment Myungzy karena aku pengennya Myung ngelewatin orang-orang terdekat Suzy dulu, berusaha dapetin kepercayaan Woohyun, misalnya

Buat dapetin maaf tuh ga gampang, mungkin Suzy udah maafin Myung tapi orang terdekat Suzy yang tahu semenderita apa Suzy waktu itu pasti ga mudah maafinnya kan? itu filosofiku sebenernya

Dan jangan tanya kenapa scene Sunggyu begitu mendebarkan *aku aja kali ya haha

Aku masih kena bapernya Infinite Effect nih *boasting dikit kkk dan astaga Kim brother bikin megap-megap kemarin

Maaf jadi curhat gini haha, maaf juga buat typosnya c:

Comment juseyo, kritik pedas pun aku terimahehe. Gomawo #bow

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

66 responses to “Mistakes And Regrets #11

  1. myung udh diberi warning tuh sm woohyun, sikapnya emng kterlluan sih dlu, woohyun jd antipati sm myung krn tkut nnti nykiti sooji lg, suka sm scenenya sunggyu sm sooji, ap sunggyu jg suka sm sooji?

    mf thor bru coment dipart ini, bru punya email, gpp kn?

  2. walaupun sempet lupa sm cerita part sebelumnya tp ff ini emg ga pernah mengecewakan. selalu bagus sm seru. alurnya jg ga terkesan maksa. baguss. johaa. suka jg cara yg dibuat agar myung nyesel. semua dpt porsi masing2 pas tersiksa kkkk. ditunggu part selanjutnya

  3. Mewek hiks :’v plis thor, buat myungsoo frustasi/bunuh diri dulu dg kedekatan suzy dg sunggyu. Biar greget :v

  4. Pingback: Mistakes and Regrets #11 | Splashed Colors & Scattered Words·

  5. Woohyun adalh kakak terbaik sooji🙂 dan aku bisa merasakan ketulusan myungsoo melalui kata2nya, aku percaya dia tlah berbh dan menyesali perbuatannya pada sooji di masa lalu. Tpi biarkan sekarang sooji bahagia bersama sunggyu, aku jga sangat berharap nantinya sooji bakalan sama myungsoo, tpi aku jga gak rela kebahagiaan sooji bersama sunggyu hrus berakhir. Yah memang sih aku pengen banget buat myungsoo itu jadi kacau sekacau kacaunya(nah loh?) karna sooji..
    Dan untuk soojung, entahlah harus berkata apa untuk dia, yah aku sma berharap dia segera sadar keegoisannya itu menyakiti banyak orng!

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s