[Oneshot] The Mysterious Affection

tma

November 2015©

Miss A Bae suzy and Actor Kim Woobin

Featuring slight appearance from several idols

AU, Fluff, Friendship, Life, School-life | Oneshot (3.663 words count!) | PG-15

beside the poster (really sorry for the lame poster T_T) and story-line, I own nothing! | better prepare your time to read! because this is a long-long yet so boring and cliche fiction ever :p

… Perasaan aneh, entahlah termasuk ke dalam definisi apa, aku hanya berpikir kalau gadis seperti Bae Suzy memiliki aura yang aneh.

.

enjoy reading!

Bae Suzy

Dalam sekejap kuap mengudeta pikiranku dari penjelasan gaya semu Matahari yang dijelaskan oleh Pak Lee. Aku jelas mengantuk. Setiap detik yang terbuang di dalam kelas ini aku anggap sebagai penghabisan waktu tiada guna. Pelajar setelah mengalami proses morfologi dari belajar membuat aku gila. Tidak habis pikir. Maksudku, apa kaidah dari mempelajari gerak semu Matahari dengan aku yang akan langsung bekerja sebagai pekerja informal nanti?

Kuliah tidak masuk ke dalam daftar program kehidupan seorang Bae Suzy. Universitas bukan sarang yang tepat bagi musang seperti Bae Suzy. Status sebagai mahasiswa menjelma sebagai problematika paling menyeramkan; ketika pinjaman studi perkuliahan menjadi beban yang lebih menakutkan dibandingkan kondisi deposit aparte yang hilang dibawa kabur teman. Begitu sekiranya pikirku terhadap ladang pendidikan yang dijadikan sebagai wadah revolusi mental negeri ini.

Sedikit banyak, memikirkan hal-hal yang mungkin terjadi di kehidupanku pada masa depan justru membikin aku jadi makin jiper. Entahlah. Atas pesimisme yang tidak tahu kudapat dari darah siapa–ayah atau ibu– aku ucapkan terimakasih. Karena atas keterbelakangan mental itu, atensiku tidak sepenuhnya tersita oleh sesuatu yang belum jelas wujudnya. Masih abstrak secara idiil. Secara streotip, aku termasuk ke dalam tokoh dalam sebuah cerita dengan pola penokohan paling sederhana yang pernah ada. Kosong melompong; minus impian; tergempur globalisasi; apatis tingkat kronis.

Sekelebat bayangan kilat menyambar lelangit kota. Hujan turun dengan deras. Gemuruh petir yang menyambar bagai nyanyian mesin karaoke yang sedang rusak. Sehingga terkadang membuat beberapa penghuni kelas yang telanjur mengarungi alam tidur kembali terbangun dengan air terjun di sekitar bibir. Menekuri aku satu persatu terhadap setiap persona yang tersedot kehadirannya di dalam kelas berukuran 20×15 meter ini, pada pukul satu siang.

Kim Junmyeon, sang ketua kelas, dengan patuh mencatat segala yang dianggap penting dari pemaparan Pak Lee. Decit bolpoin yang mengecup paksa permukaan kertas juga terdengar dari goresan bolpoin milik Park Jiyeon; siswi tercantik plus terpintar; figur nyata dari tokoh datar murid SMA pada drama-drama.

Sebagian dari populasi penduduk sekolah yang menjadi komunitas di dalam Kelas 2C ini menyeruput suguhan materi yang tahu-tahu sudah menyinggung sisi lain dari metafisika. Demi Tuhan, aku makin gila dengan segala subyek penjelasan dari Pak Lee. Sementara sisanya yang tidak begitu apet dengan sub ilmu alamiah ini justru terlarut ke dalam dunia pararel dari bagian kecil dunia tidak cerdas yang nyatanya tersembunyi secara gamblang dari alam semesta; tertidur pulas.

Lebih lanjut aku mengamati bahwa semua yang mengantongi titel siswa teladan selalu sibuk mencatat apapun yang diucap oleh guru di depan kelas. Entah itu penting atau tidak; tangan mereka tiada henti melukis buku catatan bersampul dan apik dengan konten materi pelajaran yang dijelaskan secara terucap. Meski aku dalam hati meyakini bahwa kegiatan itu akan berguna bagi kami. Kami yang malas mencatat dan menjadi ketar-ketir saat detik-detik menjelang ujian.

Pemanas ruangan secara otomatis mengaktifkan fungsinya. Hawa dingin yang dibawa secara sepaket oleh hujan angin barusan akhirnya dibui oleh kemunculan kalor yang mengudara.

“Bae Suzy!”

Kepala yang sedari tadi mengacu pada jendela di sebelah kiri menengok ke asal seruan. Pak Lee dengan angkuh menatapku. Sengit kudapati saat kedua mata kami bersobok pandang. Oh matilah aku! Pasti prosesi melamun yang menjadi kudapan siang saat mata pelajaran Astronomi tadi berlangsung terjaring patroli mata Pak Lee.

“Saya, Pak!”

Tak ayal aku menyahut setenang mungkin. Meredakan greget karena takut diceramahi olehnya nanti. Sugesti melayang pada jejeran ruang pikiranku; siap-siap digempur oleh pertanyaan tidak masuk akal kau, Bae Suzy!

“Kau mendengarkan penjelasanku mengenai alam semesta dengan baik, bukan?” pancing Pak Lee dengan pertanyaan retoris.

Ini bukan pertanda baik. Saliva yang tidak dapat dikontrol bahkan oleh diriku sendiri tiba-tiba terasa seperti formalin yang membekukan tenggorokan. Entah apa yang akan dilakukan oleh pak guru kolot satu ini, aku pasrah saja. Gelengan kepala tanpa sadar menunjukkan kealpaan yang aku punya di depan khalayak dan Pak Lee.

“Kalau belum mengerti tolonglah berhenti melamunkan hal yang tidak penting. Fokus saja pada mata pelajaran kali ini. Dan hal ini idak hanya berlaku bagi Bae Suzy saja tetapi kalian semua! Mengerti?”

“Mengerti, Pak!!”

Perlahan, semua mata yang tertuju kepadaku dalam sejemang kembali ke sarang masing-masing. Lumayan lega aku menghembuskan udara dari mulut. Tuhan kali ini membantuku terlepas dari jeratan batman ala Pak Lee yang terkenal garang di kalangan murid kelas 2.

Akan tetapi tanpa disadari ada sepasang obsidian yang sedari tadi tidak meloloskan pandangan terhadapku. Pandangannya begitu tajam dan menusuk. Seolah-olah aku ini lembu dan ia adalah hyena dengan insting memburu yang meningkat karena terdesak rasa lapar.

Mata tajamnya; pancaran mengecilkan; air muka yang keruh macam kolam teratai yang tidak pernah dikuras; Kim Woobin yang mencecar punggungku dengan mata sipit seramnya.

***

Kim Woobin

Kehidupan berjalan seperti biasa. Namun hanya saja aku yang berubah. Juga musim yang sebentar lagi akan menginjakkan kaki di altar bernama musim dingin. Lelangit serasa runtuh; petir dan kilat berlomba-lomba untuk menunjukkan taring di mega mendung. Guyuran hujan di awal musim dingin kembali menyambangi kota. Semerbak aroma tanah basah mengimbuhi turunnya hujan pada kisaran pukul satu siang hari ini.

“Fenomena Astronomi merupakan fenomena alam yang berkaitan dengan gerak, posisi, dan keadaan benda-benda langit. Di antara fenomena Astronomi tersebut adalah gerhana, fase purnama, meteor maupun bintang meledak. Sementara itu, fenomena Astronomi yang sangat akrab dengan kehidupan kita sehari-hari, dan bahkan boleh sangat jadi nyaris kita abaikan adalah terbit-tenggelamnya matahari.”

Suaramu juga ikut tenggelam, Pak Lee, ocehku dalam hati. Gelegar petir di luar sana seolah bersorak tidak suka terhadap pemaparan yang diberikan oleh Pak Lee barusan. Bibirku membikin sudut jenaka; membenarkan personifikasi cuaca yang mendukung sebagian besar intuisi penghuni kelas 2C ini terhadap materi Astronomi kali ini.

Bagiku fenomena alam yang patut mendapat pehatian khusus dari khalayak khusus adalah punggung melengkung yang menjorok di hadapanku. Punggung milik gadis agak malas bernama Bae Suzy ini anehnya mendistorsi pikiranku. Satu tahun setengah aku sekelas dengan Suzy dan dalam kurun waktu segitu selalu pemandangan punggung melengkung ini yang aku dapat.

Bae Suzy selalu mengambil kursi kosong yang anehnya selalu berada tepat di depan mejaku. Dia bukan tipikal siswa teladan atau pembuat onar. Bukan juga yang suka mencari sensasi atau genit ke sana-sini untuk mencari perhatian. Hanya saja Suzy yang aku tahu adalah seorang siswi dengan aura yang aneh dan tidak terdefinisikan.

.

Awal Semester 3. Setengah tahun yang lalu.

“Kim Woobin.” panggil Suzy, sapu ijuk di tangannya kemudian diserahkan kepadaku.

“Apa ini?”

“Sapu.”

Jawaban dari gadis Bae ini membikin kedua mataku berputar malas. Nenek-nenek juga tahu kalau ini sapu. Maksudku, apa maksudnya sapu yang diberikan kepadaku. Mengapa di ujung senja seperti ini, saat penghuni kelas telah mengosongkan kelas dan kembali ke habitat atau urusan masing-masing, aku justru ditahan olehnya dengan sebatang sapu dan satu buah kain pel dengan ember berisi air yang sudah dicampur cairan pembersih beraroma pinus. Dengan presensi seorang Bae Suzy pula.

“Jangan pura-pura tidak tahu kalau jadwal piketmu itu hari ini.” oceh Suzy tanpa melihat ke arahku.

Kedua alis mata aku naikkan. Sapu yang tergenggam di tangan aku jatuhkan ke sembarang tempat.

“Kau saja yang piket hari ini.”

Gadis itu bergeming di ujung barisan dekat pintu. Gerakan menyapu kolong lacinya tidak berhenti meski aku jelas menolak untuk melakukan piket kelas hari ini.  Melihat hal itu aku pun jumawa dibuatnya karena tidak ada respon berarti dari Suzy.

Saat ujung sepatuku hampir menyentuh ujung pintu kelas, kain pel yang tadinya terdiam di tempatnya melintang tepat di hadapanku. Aku menatap Suzy dengan tatapan yang mengecilkan, berharap membuatnya gentar. Namun yang kuhadapi justru:

Berhenti berpolah menyebalkan seperti ini dan lekas kerjakan tugasmu sebelum kain pel ini kupakai untuk membersihkan debu di dalam otakmu.

Mata gadis itu menyala terang seperti bola api muntahan gunung meletus. Aku terkesiap. Dorongan dari kain pel terhadap tubuhku pun sukses menyudutkanku hingga ke papan tulis. Aku tak menyangka betapa besar kekuatan gadis yang kelihatannya lemah ini. Aku tidak tinggal diam. Kain pel yang menahanku kutekan kuat-kuat namun anehnya usahaku malah tidak ada hasilnya.

“Badanmu besar tapi otakmu kecil. Sudahlah cepat kerjakan tugasmu. Jangan buat aku kesal, Kim Woobin.”

.

Semenjak saat itu, persepsi yang aku punya terhadap Suzy berubah total. Tadinya aku berpikir kalau dia sama saja seperti siswi kebanyakan namun setelah aku melihat sisi lain darinya aku berpikir kalau gadis itu bukan gadis biasa. Semakin aku memerhatikannya semakin banyak kesan gelap yang aku dapat. Dia itu misterius. Abstrak dan pilon. Ah pokoknya setelah aku dikasih lihat sisi menyeramkan dari dirinya, aku harus berhati-hati dalam mengambil langkah.

“Bae Suzy!”

Seruan Pak Lee seketika mengambil alih. Gemuruh petir di luar sana pun menyusul. Punggung yang sedari tadi melengkung tiba-tiba menegak seperti lidi sapu. Gadis itu, Bae Suzy pun menatap lurus ke arah Pak Lee yang menatap balik dirinya dengan sorot penuh permusuhan.

“Saya, Pak!”

“Kau mendengarkan penjelasanku mengenai alam semesta dengan baik, bukan?”

Gadis itu tanpa ragu menggelengkan kepala. Desah meremehkan aku keluarkan.  Satu tangan kuangkat ke atas meja; menopang leherku yang tiba-tiba terasa berat mendengar ocehan Pak Lee selanjutnya. Yakni:

“Kalau belum mengerti tolonglah berhenti melamunkan hal yang tidak penting. Fokus saja pada mata pelajaran kali ini. Dan hal ini tidak hanya berlaku bagi Bae Suzy saja tetapi kalian semua! Mengerti?”

Mengatakan itu, Pak Lee menatap ke seluruh penjuru kelas. Kami semua pun mengembik; mengiakan advais pak guru kolot yang satu itu. Tiba-tiba, sorot mata Pak Lee tertuju sebentar ke arahku kemudian teralihkan pada buku paket yang berada di bawah dagunya.

Aku meluruskan pandangan. Leherku pun tiba-tiba berasa kaku. Kepada punggung yang kembali membulat di hadapanku, aku menatapnya. Laksana hujan paku, aku menabur tatapan tajam pada punggung milik Bae Suzy.

Entah mengapa, semenjak hari di mana dia berbuat semena-mena kepadaku, aku jadi menaruh prasangka buruk kepadanya. Menurutku di balik kesederhanaan yang coba ditunjukkan olehnya justru adalah topeng yang ia pakai untuk menutupi sisi kelamnya. Sisi sesungguhnya yang tidak pernah dijamah oleh orang lain yang ada pada diri Bae Suzy.

***

Bae Suzy

Mata ketiga yang aku pasang di punggungku melihatnya lagi; Kim Woobin yang diam-diam selalu melihatku dnegan sorot matanya yang tajam. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh laki-laki itu. Apa itu karena dahulu aku sempat membentaknya karena tidak mau melaksanakan tugas piket? Tidak mungkin. Setahuku yang aku lakukan kepadanya tidak bisa dibilang membentak karena seingatku aku berbicara dengan nada yang pelan tanpa penekanan.

Rasanya punggungku seperti ditikam oleh ribuan paku kecil. Menggerakkannya saja membikin aku jadi pegal. Oh Tuhan, apakah Kim Woobin, si pembuat onar namun otaknya cukup encer, tidak lelah memelototi punggungku? Apa yang sesungguhnya membuat dia penasaran dengan punggungku ini?

Kalau aku ingat-ingat lagi, aku tidak pernah membuat masalah dengan Woobin dan anggota gengnya. Yang ada aku justru menghindari mereka. Menghindari masalah. Hidupku sendiri sudah penuh dnegan sekelumit problema. Oleh sebab itu, aku paling tidak suka berkonfrontasi.

Hujan di luar masih belum mereda. Penjelasan Pak Lee kemudian berakhir tepat setelah bel pulang sekolah berdering. Meski dering melengkingnya tersamarkan oleh gemuruh petir di angkasa kelabu. Kepulan uap dari mulut para penghuni kelas berbaris tepat di udara. Sebagian sibuk berceracau mengenai betapa membosankannya pelajaran terakhir di hari Rabu ini.

Ransel merah marun yang kusimpan di dalam laci kutarik pegangannya. Namun belum sempat aku bangkit dari kursi, seseorang menahan blazer seragamku. Menengok aku dan Woobin melepaskan jemarinya dari blazer yang aku pakai.

“Mau kabur ke mana? Hari ini jadwal piket kita.” pungkas Woobin.

“Oh, hari ini jadwal piket Woobin dan Suzy.” timpal Junmyeon dari mimbar guru. Si ketua kelas pun melihat ke arah kami secara bergantian kemudian membenarkan letak kacamatanya. “Tolong kerjakan dengan benar piket kelas hari ini. Kuserahkan kelas pada kalian. Selamat bekerja.”

“Oke, Pak Ketua Kelas!” imbuh Woobin bersemangat. Tangannya meninju udara. Tampangnya pun dibuat seceria mungkin dengan kedua mata yang dipaksa membentuk secarik eye-smile. Oh, aku ingin muntah melihatnya.

“Woobin-a, kami duluan ya.” seru Hyungsik, teman satu geng Woobin dari pintu. “Kalau terjadi sesuatu lagi, segera hubungi kami. Oke?!” tambahnya dengan melirik diriku sekilas.

“Aku akan mengatasinya sendiri, kau tidak usah khawatir. Sudah sana cepat pulang!”

Aku bukannya tidak mengerti dengan arah pembicaraan dua sejoli dari komplotan brengsek barusan. Tatapan sekilas Hyungsik kepadaku sesungguhnya sudah menjelaskan sedikit banyak makna dari pesan yang ia berikan kepada Woobin. Hanya saja, apakah sebegitu berbahaya diriku di mata mereka? Memang apa yang sudah aku perbuat sampai-sampai Hyungsik memberi peringatan kepadaku. Juga, sebenarnya apa yang Woobin beritahu kepada temannya itu mengenai diriku secara empiris?

“Oi!”

Seruan itu menginterupsi. Aku menoleh ke samping. Woobin juga menoleh kepadaku. Tangannya pun menyodorkan sapu itu. Aku masih berpikir keras sehingga mengabaikan sodoran alat transportasi penyihir itu. Tidak mau ambil pusing, Woobin pun hanya meletakan sapu bergagang hijau itu di samping meja.

Teman satu aparte yang dahulu membawa kabur deposit kami pernah mengatakan ini kepadaku: “Ketika kaumulai berpikir keras, hasil yang keluar biasanya tidak bagus. Jadi, berhenti berpikir dan lakukan saja.”

***

Kim Woobin

15 menit kami membersihkan kelas dalam diam. Baik Suzy maupun aku tidak ada yang memulai percakapan. Tidak mau sih, lebih tepatnya. Pikiranku berkata bahwa aku harus waspada terhadap gadis yang satu itu.

Seujujurnya, aku juga tidak mengerti mengapa aku bisa sebegitu cemas dan curiga terhadap Bae Suzy. Atau mungkin ini yang pertama bagiku; dibentak oleh seorang gadis. Diberikan perlawanan oleh seorang gadis. Bahkan, sampai dipojokkan ke papan tulis oleh seorang gadis seperti Bae Suzy. Ibu kandungku saja bahkan tidak pernah berbuat sekasar itu kepadaku. Berlebihan memang, tapi justru itulah yang aku rasakan.

Gemuruh petir dan sambaran kilat masih menyertai gerimisi kecil yang turun. Penghangat yang terletak di sudut belakang ruang kelas aku naikkan suhunya lantaran udara menggigil yang mulai menjilati sekujur tulang; tak ubahnya suasana yang diselimuti oleh eksistensi para Dementor di langit Hogwarts. Kelas yang terletak di lantai dasar ini pun membawa aku pada lapangan sepakbola yang kosong. Melalui jendela yang beruap aku melontarkan pandangan.

“Oi, aku sudah selesai menyapu. Tolong kauangkat kursi-kursi ini ke atas meja supaya aku bisa mengepel lantai.”

Seruan dari Suzy membikin aku segera bangkit dari meja yang aku alihfungsikan sebagai kursi. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia pun mengangkat kursi untuk ditempatkan di atas meja, di barisan tempat duduk dekat pintu.

“Kau sudah selesai.”

“Iya. Sekarang bantu aku untuk mengangkat kursi-kursi ini.”

“Oke.”

.

Kecemasan yang aku punya memang berlebihan. Waktu 15 menit sebelumnya, selain aku gunakan untuk membersihkan kelas, aku juga berpikir. Tidak seharusnya aku berprasangka buruk kepada Suzy. Ketika aku berkata, mungkin saja, ini karena perasaan aneh yang selama ini suka mengganggu; aku jadi ragu terhadap frasa mungkin saja itu.  Perasaan aneh, entahlah termasuk ke dalam definisi apa, aku hanya berpikir kalau gadis seperti Bae Suzy memiliki aura yang aneh.

Masih dalam diam, aku mengangkat satu persatu kursi ke atas meja yang berada di barisan dekat jendela. Enggan untuk membayar atensi pada perasaan aneh yang aku rasakan kepada Suzy maka tanpa sadar aku membanting kursi ke atas meja. Tak pelak menimbulkan bunyi yang keras.  

“Hei, pelan-pelan saja. Bisa rusak kursinya nanti.” tegur Suzy langsung kepadaku. Dia pun menggeleng melihat tingkahku.

Sepersekian detik Suzy berkata begitu, petir pun lekas menyambar. Dentumannya pun sampai menggetarkan jendela kelas kami. Juga hatiku yang tiba-tiba menjadi lumpuh karena tatapan gadis itu untukku. Mirip seperti tatapan Ibu Tiri dalam dongeng Putri Salju.

***

Bae Suzy

Catat baik-baik. Rabu 18 November, 2015. Pukul dua lewat lima puluh menit, waktu di mana aku sangat ingin cepat-cepat bisa keluar kelas lantaran perilaku aneh yang dilakukan oleh Kim Woobin.

Pertengahan November di kota Seoul diselimuti oleh awan mendung. Hujan gerimis masih menyertai. Angin dingin pun menyergap masuk melalui serat-serat tipis dari jaket yang aku pakai. Aku mengeluh kedinginan. Uap putih muncul kemudian. Seketika, saat aku melongok ke samping, Kim Woobin tahu-tahu sudah berdiri di tepat di sebelahku.

Mata sipit seramnya tidak bosan untuk melihat ke arahku. Tidak tahan karena perilaku menyeramkannya itu, sekarang aku pikir dia itu seorang maniak karena tatapan ambigu yang sering ia berikan kepadaku.

“Oi, Bae Suzy!”

Seruan Kim Woobin kepadaku tak urung menghentikan kegiatanku untuk membuka payung. Menoleh dengan enggan aku kepadanya.

“Ada apa?”

Anu, itu, “ kata Woobin sambil menyelamkan jemari ke dalam saku celana seragamnya.  “Maaf, “ lanjutnya dengan suara yang pelan.

Tungkaiku tanpa sadar berjalan mendekati Woobin. Wajahku pun aku buat seakan-akan aku begitu tertarik dengan katanya barusan.

“Kau barusan bilang apa? Aku tidak dengar?” pancingku. Sebenarnya aku tahu dia tadi berkata maaf. Tetapi alasan apa ia berkata itu aku tidak tahu. Oleh sebab itu sengaja aku memancingnya supaya memberikan penjelasan sekalian.

“Kautahu, “ Woobin berucap masih dalam suara yang pelan. “anu, pokoknya maaf saja.” tukas bocah itu kemudian menghembuskan napas dengan kasar. Dan belum sempat aku membuka mulutku, ia pun sudah menyelonong pergi.

“Hei!!! Kim Woobin!”

Setelah berteriak seperti itu, aku pun tak lekas mengejarnya seperti dalam adegan drama. Aku malah membiarkannya lari tunggang langgang seperti kijang yang dikejar oleh cheetah di padang Afrika. Karena dalam hitungan ketiga, Kim Woobin akan kembali ke sini. Aku tahu itu.

***

Kim Woobin

“Hei!!! Kim Woobin!”

Teriakan Suzy ditangkap oleh kedua rungu aku punya. Aku merutuki kebodohan yang barusan aku perbuat. Mengapa aku mesti lari pula?

Aku sadar kalau aku salah. Dan ini adalah pertama kalinya aku menyadari kesalahanku. Maksudku selama aku hidup, tidak sedikit aku berbuat kealpaan atas dasar khilaf. Aku tidak suka mengakui kesalahanku. Namun entah mengapa, ada sesuatu yang menggerakkan hatiku. Dan itu ketika aku berhadapan dengan seorang seperti Bae Suzy.

Baru setengah jalan pelarianku dari halte depan sekolah, aku meraba kantong celana seragamku. Mataku terbelalak. Kemudian aku pun menyadari bahwa aku kehilangan benda yang selalu aku bawa ke mana-mana.

Hahaha.” Aku tertawa sarkatis sambil membayangkan betapa jatuhnya harga diriku di depan Suzy.

Lesu, aku berjalan kembali ke halte depan sekolah. Tempat aku meninggalkan jimatku dan Suzy yang pasti tertawa sampai mati karena tingkah konyolku.

“Ah, mengapa rasanya aku seperti habis mengutarakan perasaanku ya? Padahal ‘kan aku hanya berkata maaf kepadanya.”

Langkah yang membawa aku kembali ke halte depan sekolah, aku percepat. Kemudian, aku mendapati Suzy masih berdiri di sana ditemani sebuah payung di tangan kirinya dan, oh tidak! Itu jimatku, di tangan kanannya.

Suzy tidak berkata apa-apa. Tahu-tahu, dia pun melempar jimat yang dia pegang kepadaku. Dengan sigap, aku pun segera menangkapnya. Belum sempat aku berucap terimakasih, Suzy lekas berceracap:

“Di jaman sekarang ternyata masih saja ada yang percaya terhadap hal-hal takhayul.“ katanya sambil menunjuk seutas anyaman tali berwarna cokelat dengan bandul bertuliskan aksara Cina dengan dagunya.

“Kau salah persepsi. Ini bukan seperti jimat yang kaukira.”

“Lalu apa?”

“Ini benda peninggalan mendiang ayah.” jawabku.

“Nah, kalau begitu kau juga salah persepsi; mengenai diriku.” pungkas Suzy.

Aku memandang Suzy dengan pilon. Selanjutnya, rasa bersalah menghampiriku.

“Penilaianmu terhadapku itu sepenuhnya salah. Aku bukan seperti yang kaupikir selama ini. Karakter yang kaubuat terhadapku tanpa tahu seluk-beluk juga luar-dalam diriku pasti kaudapat dari pengalamanmu selama denganku ‘kan. Wah, “ Suzy kemudian menarik napas dalam-dalam dan mendesah panjang. “seharusnya aku tidak berbuat sebegitu kasar kepadamu saat itu. First impression yang kaudapat dariku, pasti sangat buruk.”

Rahang aku buat untuk tidak jatuh dari tempatnya. Mendengar penuturan Suzy barusan rasanya tubuhku seperti dibuang dari ujung air terjun Niagara hingga mencapai dasar kemudian ditarik ke atas lagi dan kembali dijatuhkan dari ketinggian beribu-ribu meter di atas permukaan tanah. Apalagi saat menyadari bahwa kecemasanku itu tidak terbukti benar adanya. Kekhawatiran yang tidak beralasan dan kecurigaan tidak masuk akal yang sering aku tujukan kepada gadis itu pun terbukti tidak benar sama sekali.

Deru bis umum di tengah gerimis kota membelah keheningan di antara kami. Suzy lantas tidak berkata apa-apa lagi. Mulutku serasa terkunci. Rasanya aku mesti meminta maaf kepadanya lagi setelah penjelasan Suzy tadi. Kemudian tanpa ba bi bu lagi, aku pun segera menyusul gadis itu yang sudah masuk ke dalam bis berwarna hijau muda di depan kami.

T-cash yang melekat di cover belakang ponsel aku tempel pada sensor yang terletak di tiang dekat pintu masuk. Suzy sudah duduk di dalam bis sambil menghadap jendela di sebelah kanan. Jimat pemberian ayah aku genggam dengan erat. Suzy pun nampak biasa-biasa saja dengan kehadiranku. Senyuman yang ia petakan di atas wajahnya terkesan arbriter.  

“Kalau begitu, mari berteman!” seruku agak tertahan. “Bae Suzy, ayo kita berteman!”

“Apa kaubilang? Ya ampun, kau itu payah sekali.” tanggap Suzy bahkan tanpa melihat ke arahku.

Tiba-tiba, bis hijau yang mengangkut kami berhenti di halte pemberhentian. Kemudian, aku pun segera mengambil tempat kosong di samping Suzy. Tanpa gentar, aku pun mengulangi permintaanku. Permintaan supaya Suzy mau berteman denganku.

***

Bae Suzy

Seperti adegan klise dalam drama anak sekolah yang pernah aku lihat, aku berakting sok jual mahal kepada Kim Woobin. Entahlah. Menarik sekali rasanya bila menggoda Kim Woobin. Sudut-sudut bibirku rasanya tidak berhenti berkedut bila aku mendapati ekspresi kesal yang dipertontonkan oleh Woobin. Raut wajah terkejut akibat pola tingkahku. Bahkan, wajahnya yang jarang tersenyum itu, entahlah, terkadang aku penasaran.

Titik-titik air berkumpul di bawah pinggir jendela bis yang aku tumpangi. Jalanan protokol yang diguyur hujan aku kasih pandangan. Sengaja aku menghindar untuk tidak mengamati persona bocah laki-laki jangkung yang sudah duduk di sebelahku.

“Maaf, aku sudah berburuk sangka kepadamu. Maka dari itu, ayo kita berteman. Oke?” tukas Woobin lagi.

Egoku tiba-tiba mengalah kemudian bibirku pun berucap, “kalau ingin mengajak seseorang untuk berteman, bukan begitu caranya. Dan, tidak usah meminta maaf. Toh, aku tidak menganggapnya sebagai sebuah masalah.” responku, dengan setia masih mengabaikan untuk melihat Woobin.

“Jadi?”

“Apa?”

Kupikir, berteman dengan Woobin tidaklah buruk-buruk amat. Malah sebenarnya aku merasa sedikit tersentuh lantaran ini baru pertama kalinya ada seseorang yang mau menjadikanku sebagai teman. Pasalnya, semenjak aku dikhianati habis-habisan oleh temanku yang membawa kabur deposit aparte kami dulu, aku jadi begitu menutup diri terhadap lingkungan. Menaruh kepercayaan terhadap orang lain menjadi sia-sia pikirku. Tak ayal, gaya hidup individualis aku pilih lantaran upaya untuk proteksi diri.  Makanya orang pun enggan kalau berdekatan denganku. Aku begitu misterius dan menyeramkan, pikir mereka. Astaga, padahal aku tidak seperti itu, kok.

“Rumahmu di mana?” tanyaku kepada Woobin dengan tiba-tiba.

“Ya?”

“Aku bertanya; rumahmu di daerah mana?”

Dari refleksi yang terpantul di jendela bis, aku dapat melihat ekspresi terkejut Woobin. Tanpa sadar, aku pun mengikik geli melihatnya.

“Aku tinggal di Gaepo.” jawab Woobin agak kaku.

“Gaepo-dong? Wah, sepertinya kau anak orang kaya. Apa kau seorang chaebol?” tukasku.

“Tunggu dulu, “ serunya sembari menghadapkan badan ke arahku. “Mengapa kau mena – “

“Woobin-a, “

Iris bocah lelaki jangkung itu melebar ketika aku memanggilnya seperti itu. Lantas aku pun segera berubah sikap 180 derajat menjadi sok akrab dengannya. Perubahanku itu pun sukses mencetak raut terkejut sekaligus tidak percaya Woobin yang tak ayal membuat kedua sudut bibirku berkedut jenaka.

TAMAT


a/n:

maafkan atas kemampuan menulis saya yang mengalami degadrasi T_T setelah sebulan lebih vakum ga nulis ff dan beralih nulis laporan, tulisan saya jadi makin amburegeul gini ya. huhu. anyway, dengan munculnya ff Woobin-Suzy ini sekaligus mendeklarasikan(?) dukungan saya terhadap drama comeback Suzy yang proses shooting-nya akan segera berjalan dalam waktu dekat. huhu. untuk dorihwaga, saya akan usahain untuk segera buat supporting fict-nya supaya bisa di-post sesegera mungkin.

dan untuk teman2 yang udah baca sampai notes ini, saya ucapkan, CONGRATULATIONS and THANK YOU VERY MUCH! VERY SARANGHAE! haha😀

Dorihwaga and Bae Suzy, Fighting!❤

9 responses to “[Oneshot] The Mysterious Affection

  1. Daebakk.. aku suka… woo bin manis disini… tingkah anak SMA ada ada aja ya.. memang tidak baik berprasangka buruk sebelum mengenal lebih dalam. Tampak luaran belum tentu sama dengan yang didalam…
    Nice story…
    Jhoa..
    Ditunggu karya selanjutnya..
    Fighting.. ^^

  2. Bagus… sebenarnya aku rada ga mudeng dengan bahasanya yang terlalu intelek bgt hwhehe… tapi sangat menghibur di akhir akhirnya…
    Woo bin orang nya terlalu berlebihan dalam menyikapi sesuatu , tapi aku menyukainya…
    Aku jadi senyum senyum sendiri baca yang akhirnya, kira kira ada sequelnya kah?
    Soalnya aku mulai tertarik dengan pasangan satu ini karena tau mereka bermain drama bersama…
    Plis sequel ya?

    • halo^^
      wah intelek dari mananya ya, omong-omong? padahal bahasa yang saya pakai masih sangat begitu standar’-‘)/
      tetapi sekali lagi terimakasih atas review-nya. ah, sayang sekali untuk sekuel saya ngga bisa berjanji tapi mudah-mudahan kalau saya ngga malas (haha) akan saya buat🙂
      sekali lagi, teirmakasih yaa

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s