The Memories Chapter 10

© Rosaliaaocha

Title : The Memories  | Author : dindareginaa | Genre : Angst, Married Life, Romance | Rating : PG-15| Main Cast : Bae Suzy, Kim Myungsoo | Other Cast : Find by yourself!

Sooji menatap kosong hot coffee yang kini ada digenggamannya. Sedari tadi gadis dihadapannya itu bercerita panjang lebar, tapi tak sedikitpun Sooji memberikan perhatian padanya.

Jung Soojung mendengus kesal, merasa tak dianggap oleh sahabatnya ini. Ia lalu melambaikan kedua tangannya di hadapan Sooji, membuat gadis itu tersentak.

“Eh? Apa?” tanya Sooji kebingungan.

Soojung menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau yakin, kau baik-baik saja?”

Sooji memaksakan seulas senyumannya. “Tentu saja. Kenapa tidak?”

“Bukankah kau yang mengajakku keluar, kenapa malah kau yang sepertinya tidak bersemangat?”

“Aku hanya… berpikir,” seru gadis itu akhirnya.

“Memikirkan apa? Memikirkan apakah yang kau lakukan sudah benar atau tidak? Sooji-ah, ini belum terlambat untuk kembali pada Myungsoo.”

“Kembali? Aku tidak mungkin kembali pada lelaki yang telah mengkhianatiku.”

“Kau tahu pasti bahwa Myungsoo tak mungkin melakukan hal itu.”

Kali ini, giliran Sooji yang mendengus kesal. Kenapa gadis ini tak sedikitpun berada di pihaknya? Ah, sudahlah. Ia tak ingin bertengkar sekarang.

“Hei, bukankah film yang ingin kau tonton akan segera dimulai? Ayo, kau tak ingin terlambat bukan?”

Soojung akhirnya hanya mengangguk. Ia tahu pasti bahwa Sooji hanya ingin mengalihkan pembicaraan. Setelah meletakkan beberapa lembar uang puluhan ribu won di atas meja, barulah keduanya pergi.

“Sooji-ah, kau tunggu disini dulu. Aku harus pergi ke toilet.”

Sooji hanya menggeleng-gelengkan kepalanya seraya memperhatikan Soojung yang berlari-lari kecil ke arah toilet, menahan agar air seninya tidak keluar. Kebiasaan buruk gadis itu! Bukankah lebih baik gadis itu buang air kecil saja di foodcourt tempat mereka makan tadi? Dasar!

Sambil menunggu Soojung, Sooji akhirnya memutuskan untuk melihat pernak-pernik lucu tak jauh dari tempatnya berdiri.

“Lucu sekali,” gumam Sooji saat dirinya berhenti pada sebuah etalase kaca yang berisi boneka-boneka berbagai bentuk. Kalau saja ia dan Myungsoo memiliki anak, Sooji tak akan segan-segan memborng seua benda-benda lucu yang ada di toko ini. Astaga, Bae Sooji! Apa yang sedang kau pikirkan? Bukankah hubunganmu dan Myungsoo akan segera berakhir? Kenapa kau malah memikirkan hal knyol begini? Sooji merutuki kebodohannya.

Baru saja Sooji akan mengambil sebuah boneka anjing dengan berwarna putih dengan bintik-bintik hitam ketika seseorang mendahuluinya. Sooji segera menoleh pada sosok tersebut. Namun, sedetik kemudian, ia membulatkan matanya.

“Choi Minho!”

Minho tersenyum begitu Sooji menyerukan namanya dengan nyaring.Ternyata gadis itu masih ramah terhadapnya.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Sooji heran. Tentu saja. Lelaki mana yang mau singgah ke tempat yang penuh dengan warna pink seperti ini?

“Aku? Aku hanya ingin membeli hadiah untuk keponakanku.”

“Maksudmu Choi Siwon? Wah, aku tak menyangka akhirnya dia memiliki anak dengan si kutu buku itu,” seru Sooji seraya mengingat Agnes, kakak ipar Minho yang keturunan Indonesia. Ia memang beberapa kali mampir ke rumah Siwon dan Agnes saat berkencan dengan Minho dulu.

Mendengar ocehan Sooji, Minho hanya tertawa sekenanya. Dalam hati, ia menghina Sooji. Bagaimana bisa gadis itu pecaya pada ceritanya? Ia bahkan tak peduli dengan keponakannya itu. Bodoh sekali gadis ini!

“Bagaimana kabar suamimu?” tanya Minho tiba-tiba, nadanya berubah serius.

Mendengar pertanyaan Minho, Sooji memaksakan senyumnya. “Sebenarnya… aku akan bercerai dengan Kim Myungsoo.”

Minho membelalakkan matanya, pura-pura terkejut. “Bagaimana bisa?”

Sooji menarik nafasnya panjang sebelum akhirnya membuka suara,”Ceritanya panjang. Dia mengkhianatiku.”

Minho hanya bisa menahan senyumnya mendengar perkataan Sooji, hingga akhirnya ia mengalihkan pembicaraan, karena sepertinya Sooji benar-benar tak berniat membahas tentang Myungsoo. Baguslah. “Omong-omong, kau sendiri?”

“Tidak. Aku bersama Soojung. Tapi, gadis itu sekarang pergi ke toilet. Lama sekali,” gerutu Sooji.

“Sooji-ah!”

Mendengar suara nyaring Soojung, gadis itu segera menoleh. Soojung mengernyitkan keningnya melihat siapa yang kini berdiri dihadapan Sooji.

“Choi Minho?”

“Oh, Jung Soojung!” sapa Minho ramah, tapi tidak dengan Soojung. Gadis itu malah menarik Sooji ke arahnya, menjauh dari Minho, membuat Sooji menatap bingung.

Minho hanya tersenyum melihat sikap Soojung. Lelaki itu kembali berkata,”Omong-omong, lama tak berjumpa,” ujar Minho. “Padahal, aku sering bertemu dengan Sooji. Tapi, kenapa tak pernah sekalipun bertemu denganmu?”

Soojung kembali mengernyit heran begitu mendengar pernyataan Minho. Sering bertemu dengan Sooji? “Ah, maksudmu di acara reuni? Aku juga datang kesana!”

Minho tersenyum. “Bukan,” elaknya. Namun, sedetik kemudian ia kembali berkata,”Jangan bilang kalau Sooji belum cerita bahwa ia berkencan denganku dibelakang suaminya?”

“A… apa maksudnya?” tanyanya bingung. Pandangannya dialihkannya pada Sooji yang tampaknya juga terkejut dengan penuturan Minho. “Benar apa yang dikatakannya?”

Sooji tak menjawab. Ia hanya menundukkan kepalanya. Sepertinya apa yang dikatakan Minho memang benar. “Ya Tuhan, Bae Sooji! Aku tak menyangka pemikiranmu akan sesempit ini! Kau tidak tahu sesabar apa Myungsoo menghadapimu? Dan kau malah berusaha menceraikannya untuk sesuatu yang belum tentu dilakukannya? Harusnya Myungsoo yang melakukannya!”

“Soojung-ah…”

Baru saja Sooji berjalan mendekati Soojung, gadis itu sudah terlebih dahulu memundurkan langkahnya. “Lebih baik kau tidak usah berbicara denganku lagi.” Setelah menyelesaikan perkataannya, Jung Soojung segera pergi meninggalkan Sooji.

Sooji menatap kepergian Soojung dengan sendu. Kemudian, dialihkannya pada Minho yang kini menatapnya tanpa rasa bersalah.

“Kau sengaja?” tuduhnya langsung.

“Aku tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan,” sanggah Minho.

“Kau jelas tahu bahwa hubungan kita itu hanyalah kesalahan! Sekarang kau menghancurkan semuanya.”

“Sooji-ah…”

Sooji sontak menepis tangan Minho yang berniat merangkulnya. “Lupakan saja. Sekarang lebih baik kau pergi.”

“Tapi…”

“Pergi ku bilang!”

Minho mendengus mendengar Sooji mengusirnya. “Lihat saja. Kau pasti akan menyesal dengan semua ini,” ujarnya sebelum pergi meninggalkan Sooji yang masih terdiam ditempatnya.

“Kim Myungsoo sajangnim.”

Myungsoo tersentak begitu merasakan Sehun yang duduk disampingnya menyikut lengannya. Ia dapat merasakan seluruh manusia yang berada di ruang rapat kini menatapnya bingung. Tentu saja. Ini pertama kalinya bagi Myungsoo untuk terlihat tidak fokus saat rapat penting.

“Ah apa?” tanya Myungsoo begitu tersadar.

“Mereka menanyakan pendapatmu,” bisik Sehun tepat di telinga Myungsoo.

“Maaf sepertinya rapatnya kita tunda dulu,” ujar Myungsoo akhirnya.

Semuanya mengangguk lalu satu persatu mulai meninggalkan ruangan tersebut. Myungsoo menarik nafasnya panjang lalu menatap sehelai kertas yang sedari tadi ada di genggamannya.

Sooji mendengus kesal begitu mendengar suara operator dari ponselnya. Sooji menatap kesal ke arah benda persegi panjang itu. Ini sudah kelima kalinya ia menelepon Soojung, tapi tetap saja operator yang menjawab. Apa gadis itu benar-benar marah padanya? Ini pertama kalinya Soojung berteriak padanya.

Sebaiknya ia memasakkan masakan favorit Soojung nanti. Biasanya, dengan begitu marahnya akan hilang. Walau Sooji sendiri tidak terlalu yakin. Baiklah, sekarang harus dari mana ia mulai? Sooji menatap sayur mayur yang terpampang di sepanjang etalase supermarket. Baru saja ia berniat mengambil kubis begitu seorang gadis mendahuluinya dan memasukkannya ke dalam keranjang miliknya.

Sooji sontak menatap sang gadis. Namun, begitu menyadari siapa yang kini berada dihadapannya, raut wajahnya sontak berubah.

“Sooji-ssi, lama tak berjumpa,” Irene tersenyum, menyapa Sooji ramah.

Sooji hanya diam. Ditatapnya Irene tajam. Bermuka dua sekali gadis ini. Setelah menghancurkan rumah tangganya, gadis ini masih  bisa tersenyum padanya? Yang benar saja! Ah, sudahlah. Lebih baik ia pergi saja.

“Tunggu.”

Sooji sontak menghentikan langkahnya begitu mendengar perkataan Irene.

“Ada yang ingin kukatakan padamu.”

Sooji terdiam. Sedetik kemudian, ia mengangguk. “Ikuti aku.”

Sooji menatap malas ke arah Irene. Pasalnya, sudah lebih dari lima belas menit mereka ada di cafe yang letaknya tak jauh dari supermarket, tapi yang Irene lakukan hanyalah bermain dengan kuku jarinya!

Sooji baru saja akan beranjak berdiri begitu Irene mulai membuka suaranya.

“Malam itu… tak ada yang terjadi antara aku dan Kim Myungsoo.”

Sooji membelalakkan matanya mendengar ucapan Irene. “Apa maksudmu?” tanyanya.

“Yang malam itu terjadi adalah aku memasukkan obat tidur ke dalam minumannya dan membawanya ke hotel.” Irene tersenyum sebelum akhirnya melanjutkan,”Tapi, sepertinya, meskipun ia tengah terlelap , ia tetap memikirkanmu, ia bahkan menyebut namamu berkali-kali. Dia benar-benar mencintaimu.”

Sooji mengepalkan kedua tangannya. Benar-benar merasa bodoh. Bagaimana mungkin ia tidak percaya pada suaminya sendiri. Ingin rasanya Sooji menampar Irene saat ini juga, tapi ditahannya sebisa mungkin. Setidaknya gadis itu sudah mau mengakui semuanya.

“Kau… Kenapa kau melakukan semua itu?”

“Aku mencintai suamimu. Ia lelaki yang sangat baik. Kau beruntung memilikinya. Awalnya, aku tak berpikir sampai sejauh itu. Tapi, seorang lelaki bernama Choi Minho menghampiriku dan menyuruhku untuk melakukan semua itu.”

Mata Sooji membulat. Choi Minho? Ya Tuhan! Harusnya ia tak lupa bahwa Minho adalah tipe lelaki yang akan melakukan apapun untuk memenuhi keinginannya. Kau bodoh, Bae Sooji! Bodoh!

“Aku… harus pergi,” Sooji beranjak berdiri dengan tubuh gemetaran.

“Sooji-ssi, kau baik-baik saja?” tanya Irene khawatir begitu dilihatnya wajah Sooji memucat. Gadis itu bahkan hampir jatuh kalau saja Irene tak segera menahan lengannya.

“Aku baik-baik saja,” ujar Sooji, melepas pegangan Irene. “Aku harus pergi.”

Irene mengangguk mengerti. Ya. Ia mengerti bagaimana perasaan Sooji saat ini. Ia pasti merasa bersalah sekali. “Sampaikan permintaan maafku pada Myungsoo,” teriak Irene pada Sooji yang sudah menjauh.

Irene kebali terduduk. Ia merasa lega setelah mengakui segalanya. Sekarang, ia tak perlu merasa bersalah lagi. “Ibu, kau pasti bangga padaku bukan?”

“Ibu! Ibu! Ku mohon, bertahanlah!”

Irene tak henti-hentinya terisak seraya mendorong brankar sang ibu yang kini bergerak menuju ruang operasi.

“Maaf, Anda tidak boleh masuk,” ujar seorang perawat, menahan Irene.

Irene mengepalkan kedua tangannya lalu bersandar di pintu. “Ku mohon, selamatkan ibuku.”

Nyonya Park – Ibu Irene mengidap penyakit leukimia stadium akhir. Sebenarnya sudah berkali-kali Irene menyuruh ibunya melakukan operasi, tapi wanita paruh baya itu selalu menolak. Alasannya? Ia selalu mengatakan bahwa ini adalah hukuman Tuhan padanya.

“Bagaimana keadaan ibuku, Dok? Apa operasinya berhasil?” serbu Irene langsung begitu dokter keluar dari ruang operasi.

Dokter Han menggeleng lemah. “Kami tak bisa berbuat banyak. Sebaiknya, kau temui ibumu. Ia ingin berbicara denganmu.”

Irene menarik nafasnya panjang sebelum akhirnya mengumpulkan kekuatan dan membuka pintu. Irene memaksakan senyumnya begitu dilihatnya ibunya kini menatapnya dengan tersenyum.

“Ibu…”

“Irene-ah…”

“Ibu, jangan banyak bicara.”

Nyonya Park menggeleng lemah. “Aku ingin berbicara untuk terakhir kalinya dengan putriku.”

Mendengar ucapan sang ibu, sontak saja tangis Irene pecah. “Kenapa ibu tak mengatakan apa-apa pada lelaki itu?”

“Siapa? Ayahmu?”  Wanita itu lagi-lagi tersenyum tipis. “Dia mungkin ayahmu, nak. Tapi bukan suamiku. Aku adalah wanita yang sangat jahat. Aku hampirsaja menghancurkan rumah tangga lelaki yang bahkan tidak mencintaiku. Mungkin ini sudah jalan Tuhan untukku. Maka dari itu, kau jangan seperti ibumu. Aku tidak ingin anakku disebut sebagai wanita murahan. Cukup ibu, Irene.”

“Ibu…”

“Berjanjilah, kau akan hidup sebagai wanita baik. Berjanjilah, Nak.”

Sooji mendengus kesal begitu begitu taksi yang ia tumpangi terjebak macet. Dikeluarkannya kepalanya ke luar endela. Ya Tuhan! Kenapa macet sekali?

“Apa tidak ada jalan pintas lagi?” tanya Sooji pada sang supir.

“Tidak ada, Nona. Kalaupun ada, kita juga tidak bisa kemana-mana. Seperti yang kau lihat, kita sudah diapit oleh mobil.”

Sooji menarik nafasnya panjang. Ia kemudian mengeluarkan uang puluhan ribu wn dari dala tasnya. “Ambil saja kembaliannya,” seru Sooji. Gadis itu kemudian segera keluar dari taksi dan berlari sekuat tenaga. Ia harus bertemu dengan Myungsoo. Harus!

Sooji berusaha mengatur deru nafasnya yang kini sedang berkejar-kejaran. Akhirnya! Ia kini sudah berada di seberang sebuah gedung pencakar langit – kantor Myungsoo.

“Ah, itu Myungsoo!” seru Sooji saat melihat Myungsoo sedang bertelepon tepat dihadapannya. Baru saja Sooji ingin memanggil lelaki itu, Myungsoo sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil yang berhenti dihadapannya – mobil Sehun mungkin.

Sial! Sooji menggerutu dalam hati. Sooji lalu melirik ke arah lampu lalu lintas. Masih merah. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Sooji segera menyebrang. Ia berniat enghentikan apapun yang lewat dari seberang untuk menyusul Myungsoo. Namun, tanpa ia sadari, lampu yang semula berarna merah itu kini berganti menjadi hijau. Para pengendara mobil sontak membunyikan klakson mereka begitu melihat ada seorang gadis yang menurut mereka gila sedang menyebrang tanpa memperdulikan lampu hijau.

“AWAS!”

Mendengar teriakan seseorang, Sooji sontak menoleh ke arah kanannya. Matanya membulat begitu melihat sebuah mobil berwarna hitam melesat kencang kearahnya. Sedetik kemudian, tubuh Sooji terlempar ke seberang jalan.

“AAAAHHH!” beberapa gadis dengan seragam sekolah sontak berteriak melihat apa yang baru saja terjadi.

“Cepat panggil ambulans!” teriak serang lelaki yang berada tak jauh dari Sooji.

“Kim… Myungsoo,” lirih Sooji sebelum akhirnya memejamkan matanya.

TO BE CONTINUED

70 responses to “The Memories Chapter 10

  1. Huhhh terhura bacanya soalnya suzy akhirnya menyadari bahwa keputusan nya mo cerai sama myungsoo salah,karna nyatanya myung itu gag pernah selingkuh,thanks to irene yg udah mau jelasin apa yg sebenernya terjadi,di saat suzy mo minta maaf,suzy malah kecelakaan kan nyesek bgt bacanya,semoga kecelakaan ini bisa membuat suzy ingatan nya kembali,amin

  2. Suzy ah jinjja kecelakaan lagi:( sebenernya aku setuju apa kata soojung suzy tuh udah kelewatan sama myungsoo:( kenapa jadi gasuka sama minho disini rasanya ingin mukulin minho aigo jinjja

  3. suzy waegerue????ap myungso ng’ tahu???thoooorrrrr minta pwnya jeballllllll!!!hiks…hiks…hiks…

  4. oh brsa cpet bnget part ini

    minho muncul cba pdkt lgi ma suzy, tpi trus irene mncul mnjlaskan smuanya ma suzy, dan suzy pun tau sbnarnya

    oh nooo suzy kclkaan lgi… klau pkran gag tnang emg gag bsa brpkir jrnih, knpa gag telp myungsoo aj sie suzy… smga suzy gag knpa2… dan sgra ingt lgi

    soojung emg ska mledak2 ya emosinya😀

  5. ketika sebuah penyesalan datang di akhir dan tak mudah menutup penyesalan otu, seperti yang harus di lalui sooji, tidak mudah dan bahkan bertaruh nyawa,,, moral valuenya jjang,

  6. Maksih buat eommanya Irene yang menyadarkan putrinya. Akhirnya Irene yang jujur sendiri ma Sooji perihal Myungsoo.. Baguslah. Paling gak satu kesalahpahaman selesai.. Dan ketika Sooji mau menemui Myungsoo, malah kecelakaan lagi. Apa setelah ini ingatannya akan kembali?
    Wahhh..

  7. salam kenal,aku reader baru.ceritanya keren abis.salut sama authotnya yang bikin cerita kaya gini.dan buat suzy sedih banget dia kecelakaaan

    #author kalau boleh aku minta pwnya .trima kasih
    itu udah ada cerita selanjutnya belum/

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s