Real or not Real

ronr

–Real or not Real–

flcevtp

Bae Suzy | Oh Sehun

General Audience — Angst

Inspired by ‘Real or Not Real’ game in THG: Mockingjay P2


Masih terdengar suara batuk dari kamar pasien bernomor 209 itu.  Suara yang menandakan dia masih hidup dari penyakit kronisnya. Para perawat dan penjenguk baik kenal maupun tidak sudah terbiasa dengan suara batuknya. Mereka baru terheran jika raungan tenggorokannya itu tak terdengar sama sekali.

“Aku mau pulang!”seru pasien di kamar VIP itu ke lawan bicaranya.

“Tidak bisa! Kau dirawat saja penyakitmu terus memburuk, bagaimana nanti di rumah?!”balasnya sambil membawakan makan siang ke meja makan si pasien.

“Aku sudah muak dengan pemandangan tembok putih ini! Kau pikir aku tidak kesakitan saat diinfus begini? Aku juga banyak urusan kampus yang harus kuurusi! Skripsiku harus ku–“

Pasien yang tadi tengah meluapkan emosinya terpaksa mengurungkan niatnya kembali. Tenggorokannya kembali meraung dan memuntahkan darah bertubi-tubi. Merah dengan hitam mendominasi–berbeda dari biasanya. Dilihat pacarnya yang kini membersihkan wajahnya di kamar mandi. Dirinya langsung memetik tisu di meja sampingnya, diusapkan tisu tersebut ke bibirnya. Aku tak mau dia tahu, pikirnya.

See? Kau masih ingin pulang juga dengan keadaanmu seperti itu?”tanya si lawan bicara lalu membalikkan badannya ke arah si pasien.

Disembunyikan tisu yang tadi seputih kulitnya kini semerah darahnya saat kekasihnya berjalan mendekat ke arahnya. Jujur saja, kekasihnya saja mengira kalau dirinya hanya terkena radang paru-paru. Itu hanya kebohongan belaka sang pasien agar kekasihnya tidak perlu khawatir.

“Kau yakin kau hanya terkena radang paru-paru saja? Ini sudah hari yang ke-28 kau menetap di sini. Kau pikir aku tidak mau mengajakmu keliling taman? Kau bilang sendiri kan kalau dokter memintamu tidak boleh keluar ke tempat terbuka? Ayolah, jujur saja,”tanya si kekasih.

Si pasien pun hanya meremas selimutnya erat. Dirinya hanya menundukkan kepalanya agar tidak terlihat jika dirinya tengah menangis. Justru dia ingin mengatakan yang sebenarnya, namun dia tidak mau melihat kekasihnya mengkhawatirkannya. Waktu yang ia miliki, ia tahu tak banyak lagi. Mungkin dalam hitungan hari–bahkan hitungan detik lagi.

Haish. Bagaimana caranya aku menjawab semua pertanyaanmu? Kau tadi bertanya denganku seperti Eminem. Bagaimana kita bermain real or not real game? Peraturan seperti biasa, tidak berbohong sedikit pun.”

Okay. Dimulai dariku ya?”tanya si kekasih.

“Kau sakit radang paru-paru, real or not real?”

Not real,“si kekasih yang mendengar jawaban lawan biacaranya pun hendak kembali bertanya langsung dipotong oleh si pasien.

“..kau mencintaiku, real or not real?”tanya si pasien sambil menatap kekasihnya dengan mata berkaca-kaca.

Real, of course real,“jawab si kekasih kemudian menggenggam tangan si pasien yang dingin erat.

“Kau juga mencintaiku, real or not real?”

Real,”jawabnya sambil terisak.

“..giliranku, kan? Kau–“

Lagi, si pasien harus mengurungkan niatnya untuk menanyakan sang kekasihnya. Dadanya tiba-tiba seperti tertiban batu besar, berat dan sakit yang tidak bisa diungkapkan. Kepalanya seperti dipukul oleh ratusan kepalan tangan, tak tahan lagi dirinya menopang kepalanya itu.

Tenggorokannya kembali meraung–namun raungannya lebih parah daripada biasanya. Darahnya mulai mengalir kembali melalui mulut kecilnya. Hidungnya pun juga ikut mengeluarkan darah segarnya. Sang kekasih pun terus meneriakki nama si pasien berkali-kali sambil menekan tombol yang menghubungkannya ke ruang perawat. Perawat pun tak kunjung datang saat itu.

“Suzy! Bertahanlah!”

“Aku.. tidak apa-apa,”jawab si pasien yang bernama Suzy itu terbata-bata.

“Hei, Sehun. Tadi giliranku belum selesai kan?”

“Kau, pernah berjanji padaku akan tetap setia tak peduli apapun–“

Tenggorokannya kembali meraung lebih keras.

“–yang terjadi. Real or not real?”

Sehun–sang kekasih–langsung mengeratkan bibirnya dengan bibir Suzy–yang sudah tertutupi darahnya. Mereka hanya memenjamkan mata mereka, berharap ciuman ini bukan ciuman terakhir.

Sehun lalu memisahkan bibirnya dari Suzy, “real, no matter what,“sambil menatap wanita tercintanya dalam.

Suzy yang mendengar jawaban dari kekasihnya kemudian mengusap pipi Sehun guna menghapus air matanya. Suzy tahu, kini sudah saatnya dirinya meninggalkan Sehun. Tak ada lagi tembok putih yang setia menjadi pemandangannya. Tak perlu repot-repot lagi  menyelesaikan skripsi. Sebentar lagi dia akan bebas mengelilingi taman yang paling indah. Tugasnya sudah selesai.

I love you. This is real, jadi tak perlu kau tanyakan lagi ini real atau tidak,”ucap Suzy sambil terisak, kemudian menunjukkan senyumnya yang paling cantik dari semua senyuman yang sudah dilihat Sehun selama ini.

Senyuman yang paling indah itu pun menjadi senyuman terakhir yang diberikan si pasien untuk si kekasih.

“Senyummu, is that real or not real?”tanya Sehun sambil memeluk tubuh si pasien yang sudah tak bernyawa dengan erat sambil menangis dan meneriakki nama Suzy berkali-kali.

FIN

flcevtp’s storyline

18 responses to “Real or not Real

  1. omo…sedih banget baca ff ini…kebetulan aq termasuk hunzy shipper…sering baca ff hunzy sad ending hiks…hiks…hiks….
    tapi ceritanya bagus banget…ditunggu next ff nya…

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s