[Oneshot] Yearningly

dedicated to our dearest sister and author, Miss of Beat R

happy birthday♥!yearningly

November 2015©

miss A Bae Suzy dan EXO Kim Jongin

Sebuah fan-fiction adaptasi dari Puisi karangan Gunawan Muhammad Di Antara Kanal

Alternate-Universe, Fluff, slice of Journalistic Life, Romance(?), slight!Politics | Oneshot (1.657 words count) | PG 15

.

….Lebih jelasnya, aku menamai perasaan yang hanya bisa muncul di dalam hatiku ini dengan perasaan tanpa nama. Benar-benar tanpa nama.

.

.

.

Aku dengar. Kita kenal
kegaduhan di aspal ini.
Kita tahu banyak hal.
Kita tahu apa yang sebentar.

.

Sepekan sudah lewat. Lazuardi menyongsong lelangit, seolah memayungi tiap sudut terkecil kanal-kanal yang bau pesing di tengah kota. Raungan, itu katamu, berbahasa Itali, lengkap dengan cengkok yang sulit kau mengerti dan diiringi dengan iring-iringan flute, tambourine, dan pianola yang meregas sunyi. Di bawah siraman mentari Venice, kita bermandi peluh. Berpacu dengan bau pesing dan bahaya tak kasat mata.

“Sst, sudah pukul berapa sekarang?”

“Tunggu, “ jawabku, mengecek jam tangan digital yang melingkari pergelangan tangan kiriku. “pukul dua siang.”

“15 menit lagi. Lihat saja, tikus-tikus busuk itu pasti akan datang. Benar ‘kan?”

E-eo, iya. Kita pasti akan menangkap mereka.”

“Hei, Kim Jongin, “ serunya kepadaku. Telunjuk gadis berkulit seputih porselen itu kemudian menyentuh dahiku sembari berkata: “Aku tahu ini tugas yang berat tapi bertahanlah, oke? Anggap saja kita sedang berperang hingga titik darah penghabisan. Dengan pejabat-pejabat itu sebagai musuh kita.”

Bukan main, kataku dalam hati. Tanpa pikir panjang aku pun mengiakan ceracap dari wartawan senior yang aku jadikan tandem dari jabatanku sebagai seorang kameramen. Ini mungkin pertama kalinya aku berpasangan dengan dia namun entah mengapa rasanya seperti aku sudah mengenal dia sejak lama. Rasa ketertarikan yang aku miliki kepadanya semenjak aku menginjakkan kaki di kantor berita Everyday News memang tidak terbantahkan. Dan itu bermula sejak aku melihat dia dikejar-kejar oleh para centeng pejabat yang kasusnya di-uncover olehnya.

Berani dan gila sekiranya cocok untuk perangai wartawan veteran wanita seperti dia. Gadis yang sembilan bulan lebih muda daripada diriku. Tipikal manusia yang tidak pantang menyerah meski satu kakinya telah dimakan oleh buaya sekalipun. Satu-satunya wanita yang aku kenal dan menyandang nama, Bae Suzy.

“Tentu saja. Aku bisa diandalkan dalam hal ini. Bersama Sunbae, hal ini pun akan menjadi mudah. Benar bukan?”

***

Satu menit lewat dari pukul dua siang dan gerombolan para pejabat yang dikenal oleh Suzy terlihat memasuki kanal dengan perahu. Mereka memakai setelan kasual. Kemeja berwarna pastel dengan celana bahan yang menyentuh batas mata kaki. Wajah mereka terlihat memerah; efek bermandikan sinar matahari musim panas kota Venice.

Seketika, kami segera memulai pergerakan atas air kami. Kamera yang sudah aku modifikasi, aku setel ke dalam mode power on. Wanita di sebelahku: si wartawan veteran, tanpa gugup memulai prolog siaran langsung kami di portal online kantor berita Everyday News.

Sejujurnya, tanganku agak gemetar. Mengingat kasus yang sedang kami liput ini adalah mega proyek pemerintah, yang nilainya ditaksir mencapai milyaran won. Oh Tuhan, jika kalian berpikir aku tidak memusingkan konsekuensinya nanti, kalian salah besar. Karena toh aku sudah tidak memiliki otak untuk berpikir bagaimana hasil akhir yang akan menimpa diriku.

Untuk saat ini, aku hanya ingin menikmati prosesnya. Hanya prosesnya.

“Selamat siang dari Venice, Italia. Saya Bae Suzy, Reporter Everyday News akan memberikan laporan langsung mengenai kasus pencucian uang salah satu mega proyek pemerintah tahun ini. Di mana salah satu tender mencurigakan yang dimenangkan oleh salah satu perusahaan properti BUMN memakan dana segar dari pemerintah sebanyak 2,5 milyar won.”

Mengandalkan dukungan dari CEO kami, yang kebetulan adalah mantan reporter kantor berita swasta semi nasional yang sudah memiliki nama, Suzy begitu percaya diri dalam menjalani profesi kewartawanan hingga saat ini. Tak terhitung berapa banyak kejadian gila yang selalu mengancam nyawa gadis itu. Termasuk dengan apa yang tengah dilakukan olehnya dan aku.

Suzy memberi tanda kepadaku. Kemudian, aku pun diam-diam menyoroti perahu yang berisi para pejabat tingkat tinggi yang menduduki Goeryeo[1] yang tengah berbincang hangat. Beruntung mereka tidak menyadari kehadiran kami.

“Menurut narasumber yang bisa dibuktikan kebenarannya, di kota ini mereka telah melakukan kesepakatan tender yang nantinya akan menangani pembangunan jembatan Buyeong. Seperti yang sudah menajdi rahasia publik bahwa pembangunan jembatan Buyeong selalu mengalami masalah dari tahun 1994. Di mana jembatan itu tidak pernah bertahan lama; bahkan runtuh sebelum selesai dibuat. Maka dari itu, kami di sini akan mengungkit kebenaran tersebut agar menjadi bahan pertimbangan. Ah tidak. Tetapi menjadi sebuah acuan pemerintah untuk berupaya lebih giat dan sungguh-sungguh dalam membina infrastruktur dan sumber daya manusia negeri ini di masa mendatang.” tutur Suzy tanpa secuil keraguan. Wajahnya yang menghadap kamera tersenyum tipis.

Boleh aku tambahkan persepsiku terhadap seorang Bae Suzy. Gadis itu terlihat lebih keren ketika dia sudah beraksi di depan kamera sebagai seorang reporter sejati – heol[2], bahkan aku tidak tahu hakikat dari reporter sejati itu apa tapi ya sudahlah – ketika mengutarakan visi-misinya dalam sebuah kesatuan fakta.

Dia pernah berkata kepdaku bahwa untuk menjadi reporter sejati itu lebih daripada sulit. Butuh banyak pengorbanan dan ‘mau berani kotor’. Namun di balik itu semua, yang paling mahal adalah sebuah kejujuran. Sampai sekarang dia bisa bertahan karena dia tidak pernah menjual kejujuran yang ia miliki kepada siapapun. Kejujuran yang menjadi tunas awal seorang reporter sejati.

“Sudah selesai, ” tukasnya sembari memasang topi baseball untuk menutupi surai legamnya dari terjangan sinar UV. “ayo kita pindah ke lokasi selanjutnya.”

“Baik.”

Setelah memastikan kamera sudah aku setel ke dalam mode power off, aku menyimpan benda tersebut di dalam tas selempang yang aku pakai. Lewat masa bertugas, aku mencoba untuk menikmati suasana yang tidak bisa aku rasakan ketika aku sudah berada di Seoul nanti.

Siang di hari musim panas kota Venice tidak begitu terik. Sepoi-sepoi angin pun aku rasakan membelai surai semi brunette milikku.

Di kiri kita kanal menyusup dari laut. Di jalan para kelasi menikmati suguhan gelas Sauvognon Blanc. Sebuah percakapan yang tidak kami mengerti terekam. Jari Suzy menandai ketukan pada pinggir jembatan yang kami lalui. Wangi sotong berbumbu yang dibakar melintasi penghidu kami. Menimbulkan gelenyar di dalam perut kami.

“Hm, “ desah Suzy sembari menepuk perut. “aku jadi lapar. Sepertinya aku ingin makan seafood. Pizza seafood atau sepinggan seafood macaroni dengan saus pedas, menurutmu lebih enak yang mana?” tanya Suzy, meminta pendapatku.

“Yang mana saja asalkan bisa dimakan.” jawabku dengan cepat dan asal.

Aish, kau ini tidak menarik sekali, sih. Sekali-sekali kau harus memilih, antara ini dan yang itu. Begitulah seharusnya kau dalam menjalani kehidupanmu. Aduh, kau ini benar-benar.” cetus gadis itu sambil menggeleng kemudian menepuk ringan ujung pundakku.

Dibilang seperti itu, aku meresponnya dengan tertawa kecil. Mengerutkan dahi. Menggaruk bagian belakang kepala. Berlaku seperti orang kikuk yang tidak mampu menjawab pertanyaan super sulit. Dahiku seketika meluruskan serat epidermis-nya. Retina di dalam mataku pun melepas fokus kepada sosok wanita di depanku yang sudah berjalan mendahuluiku.

Aroma khas laut dan pesing seakan-akan langit siang yang berubah menjadi malam. Sebuah percakapan yang tak dihendaki barusan memang selalu singgah ketika aku bersama dengan Suzy.  Anehnya, aku tidak dapat mengelak darinya. Di balik ketidaksamaan antara kami, selalu dia yang berhasil memegang kendali.

Esok mungkin tak akan lazuardi seperti sekarang. Mengangkut ribuan massa kapas yang biasanya menyiangi hari. Langit memamerkan birunya. Burung camar menandai kekuasaannya. Sama halnya dengan Suzy yang selalu berurusan dengan ketidakadilan. Dia begitu protektif terhadap kaum proletar dan kaum tani. Obsesinya menjadi seorang reporter sejati tidak terbantahkan. Tidak menggubris dia terhadap aral melintang yang selalu meghalau lajurnya. Selama kebenaran berpihak kepadanya, bagi Suzy tidak mungkin untuk memilih jalan mundur.

“Jongin-a, “panggil Suzy tanpa menoleh kepadaku. Langkahnya masih menyesaki jalanan yang dilapisi teraso hampir di seluruh jalanan kota.

“Iya?”

“Kau baik-baik saja, ‘kan.”

Intonasinya menurun. Itu tandanya Suzy tidak bertanya tapi menyatakan sesuatu. Aku pun menjengit, membenarkan pernyataannya.

Sunbae, tidak ada yang perlu dicemaskan. Percayalah, semuanya akan baik-baik saja.”

Eo, benar. semuanya akan menjadi baik-baik saja seperti biasanya. Kau benar, Jongin-a.”

Aku menyejajarkan langkah dengannya. Membawa akumulasi keberanian yang setiap waktu dipupuki oleh kata-kata motivasi dari Suzy. Aku ingin membagikan keberanian yang selalu ia sebarkan. Layaknya seorang junior yang ingin menyemangati senior.

“Itu ‘kan yang selalu kaubilang kepadaku. Jika kaupercaya, semuanya akan baik-baik saja.”

Suzy menoleh sambil menyelipkan rambut ke dalam selipan telinga dengan ibu jari. Kepalanya menjengit. Matanya tersenyum.

“Wah, sekarang kau jadi terlihat menarik di mataku, Jongin-a.” goda Suzy kepadaku sambil menyenggol bahuku pelan. “Tentu saja, kalaukaupercaya semuanya akan menjadi baik-baik saja. Hidup ini sendiri sudah dipenuhi oleh hal-hal rumit jadi yang perlu kaulakukan untuk menikmatinya adalah menjalaninya. Buat semuanya jadi sederhana.”

“Menjalaninya dengan sederhana. Begitu ‘kan maksudmu?” responku kilat.

“Dengan sederhana saja tidak cukup. Tidak semua kehidupan yang dijalani akan mulus seperti segelas benang yang sedang dibentangkan. Terkadang kau akan menemukan kekusutan kalau tidak hati-hati memintalnya.”

“Kekusutan itu timbul tidak hanya dari benang dari itu sendiri. Ada campur tangan dari orang yang membentangkan. Tangan yang melakukan itulah yang harus hati-hati.”

“Oh kau boleh juga.” respon Suzy sambil menatapku takjub kemudian tersenyum ringan.

Tetapi seketika, air muka gadis itu berubah jadi agak sedikit keruh. Telunjuknya pun diangkat untuk menuding ujung hidungku.

“Barusan kau berbicara banmal kepadaku. Kau juga tidak memanggilku sunbae.”

“Ya? A-aku tidak begitu kok, Sunbae.” dalihku, membuang pandang ke seluruh penjuru kota “Mungkin itu hanya perasaan Sunbae saja.”

“Tidak, aku mendengarnya sendiri kok.” Suzy bersikukuh sambil menyeruduk bahuku lagi. Kali ini lebih keras.

“Ah, apa Sunbae sudah lapar? Sepertinya restoran yang menjual macaroni itu di depan sana. A-ayo kita segera ke sana saja.”

Demi mengalihkan perhatian dan membungkam kuriositas Suzy, aku pun segera lekas menyeret seniorku itu menuju salah satu restoran dengan tulisan macaroni dan pasta dalam bahasa Inggris. Tangannya dengan cepat aku raih.

“Hei, Kim Jongin!”

Lebih jelasnya, aku menamai perasaan yang hanya bisa muncul di dalam hatiku ini dengan perasaan tanpa nama. Benar-benar tanpa nama.

Di sudut kanal tempat kami bertaruh nyawa demi sebuah berita, perasaan tanpa nama itu lagi-lagi merebak di dalam hatiku. Telapak jemari yang aku punya terasa kasar namun ketika dibawa untuk menggegam telapak tangan Suzy yang permukaanya begitu halus, saraf tubuhku terasa lumpuh.

Peduliku mengatakan untuk tetap diam sampai indikasi yang jelas akan sensasi yang menyertai itu timbul dengan sendirinya. Biarlah sampai langit yang memberikan aku jawaban dengan penuh pengayaan.

Sehela napas terbuang; di atas teraso yang tidak merata; aroma macaroni udang; hal yang begitu banyak terjadi di antara kami selama masa dinas ini; aku tahu perasaan ini akan tetap ada dan hidup. Asalkan itu bersama dengan senior bermata jernih dan indah itu, Bae Suzy.

.

Tapi kau tahu aku akan melepasmu di sudut itu,
tiap malam selesai, dan aku tahu kau akan pergi.

“Kota ini,” katamu, “adalah jam
yang digantikan matahari.”

2012

.

.

TAMAT


Happy birthday, ardani❤

Selamat hari lahir, Ardan! Aku berdoa kamu tetap sehat, tambah cantik, pintar, dimudahkan segala urusan dan pekerjaannya, ditambah lebih banyak rezekinya, dan semakin sayang sama kita❤ hahaha, once again, happy belated bday my sister! Thank you for ur 19 years’ existence in this world and lets not stop here! Saranghaja

a/n:

semoga suka sama kado sambalado(?) ini ya dan❤ maafkan aku, lagi-lagi aku menghancurkan fantasi Joinginisme kamu dengan menampilkan sisi Kai yang cenderung baper di sini, wkwkwk. Anyway, feel free untuk komplen mengenai kualitas menulis saya yang semakin di bawah standar dan romance yang saya ambil cenderung berakhiran failed-romance. but still, thank you sudah menyempatkan mampir di sini. see you in another fict❤😀


Catatan Kaki:
Goeryeo[1]: MPR/DPR-nya Korea selatan
heol[2]:'Aduh!' dalam tuturan bahasa Korea

9 responses to “[Oneshot] Yearningly

  1. Happy Birthday Ardani… ^^ sehat &sukses yaa…

    Suzy jadi wartawan berjiwa patriotik.. oho. Ditemani sang kameramen tampan. Klop dah.. meski banyak resiko , mereka tetap teguh menjalankan amanah..
    Nice story…. ^^
    Jhoa…

  2. Kak Xia… hebat…
    Happy birthday jg buat kak Ardan/meski telaaaat hehe…
    Sayangnya ga tau nih perasaan Jongin bersambut atau tidak? Sengaja kita dibikin penasaran

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s