[Freelance] Love and Hurt Chapter 1

new

Title : Love and Hurt | Author : Keyindra Genre :  Family, Angst, Romance, Married-life | Rating : G | Main Cast : Myungsoo Infinite, Suzy Miss A as Bae Sooji and Go Hye mi , Soojung (fx), Woohyun Infininite, Irene Red Velvet | Other Cast : Find by yourself!

Disclaimer: 

This FF is owned by my self,  all cast borrow by GOD, The Family, Woolim Entertaiment, JYP Entertaiment and SM Entertaiment || inspirate by novel, K-drama, music, MV, and another FF || Dont copy paste them without my permission. So please don’t be a silent readers | | Sorry, for typo J

–***–

Pernikahan adalah bersatunya dua insan dalam sakralnya sebuah ikatan suci dihadapan Tuhan dan disaksikan oleh para jemaatnya untuk menjalani satu fase kehidupan baru.  Pernikahan itu tidak salah namun ketika kedua insan dihadapkan pada proses tersebut tanpa adanya cinta, alasannya hanya waktulah yang belum memberikan kesempatan untuk saling menerima dan membuka hati masing-masing. Namun apakah bisa cinta dipaksakan seiring dengan berjalannya waktu?, tentu mereka berdualah yang hanya bisa menjawabnya.

Suasana hening sepi masih terasa bagi dua insan yang tinggal bersama. Wanita itu tersenyum kecil berjalan memasuki sebuah ruangan bernuansa putih lantas membuka tirai jendela yang menjadi jalan masuk bagi sinar. Kemudian tangannya tergerak mengambil beberapa potong pakaian yang ia siapkan bagi pasangan hidupnya yang kini bersamanya. Wanita berumur 20 tahunan itu masih berkutat dengan beberapa pakaian untuk dilipat dan dimasukkan kedalam lemari. Ini merupakan rutinitas hariannya yang ia kerjakan setelah ia selesai dengan pekerjaan memasak serta membersihkan dirinya. Mata indah wanita itu melirik sosok yang kini masih terbang dalam alam mimpinya.

Wanita itu tersenyum kecil, inisiatifnya mengatakan jika tangan wanita itu harus menarik ujung selimut yang menjadi penghangat bagi sosok yang masih bergumul dengan mimpi semalam penuh, lalu beberapa detik kemudian muncullah sosok lelaki dengan mata masih terpejam. Membangunkan suaminya adalah salah satu kegiatannya meski tak sering ia lakukan.

“Kim Myungsoo..ini sudah pagi. Bangunlah!.”  Dengan malas pria itu menggeliat membuka matanya perlahan saat yang ia temui pertama kali adalah pandangan kesal sosok wanita yang bersama satu rumah dengannya selama satu tahun lebih itu.

“uuhhmmm…Kryss. beri aku waktu sebentar lagi.”

“Ini sudah pagi oppa. Apa kau mengerjakan pekerjaan kantor di rumah lagi hingga dini hari lagi?.” Soojung menatap kesal, tangannya menyilang mengamati Myungsoo yang justru menutup matanya kembali.

“hhmm..beri aku waktu 5 menit lagi Soojungie.” Hanya erangan pelan dan suara yang tidak jelas ketika lelaki bermarga Kim kini menelungkupkan kepala kembali dengan mata masih terpejam.

“kebiasaan buruk.” Wanita cantik berponi itu lantas mendesah pelan, mengecup sebelah pipi sang suami lalu membisikkan sesuatu lantas ia pergi menginggalkannya keluar, karena sama saja ia berada di dalam kamar jika orang bernama Kim Myungsoo tersebut tak mau membuka matanya.

“Mandilah dan lekas bersiap!. Aku tunggu di ruang makan. Makanan sudah siap.”

“hmmm…” sahut Myungsoo serak dengan mata masih terpejam.

**

Puluhan menit berlalu hanya ada suara dentingan sendok dan piring yang saling beradu dari seorang perempuan yang terduduk sendiri di ruang makan, sementara Myungsoo masih belum menampakkan batang hidungnya untuk keluar dari kamar.  Soojung menyuapkan suapan demi suapan sebelum seseorang yang ia kenal sibuk memakai arloji ditangannya dengan dasi yang belum sepenuhnya sempurna bertengger manis di leher.  Wanita itu menghentikan aktivitas makannya lekas mendekati Myungsoo.

“Kryss..” seolah memberi isyarat, Soojung mendekati Myungsoo yang masih kesulitan memakai dasinya, mengikat dan menantanya dengan benar. Wanita itu sudah terbiasa dipanggil dengan nama Amerika gadis tersebut.

“ada apa?. Sepertinya terlihat terburu-buru. Kau kenapa?. Tumben sekali hanya 20 menit untuk bersiap kerja?. Biasanya hampir satu jam aku menunggumu untuk bersiap, tapi sekarang kenapa cep..”

“Dewan Komisaris memintaku untuk segera mempertanggung jawabkan  laporan keuangan hasil penjualan produk bulan kemarin, dan kau tahu itu baru terselesaikan 50%.” Soojung mengangguk mengerti apa yang Myungsoo katakan.

“kau tidak sarapan?.”

Myungsoo menggeleng lekas mengambil gelas berisi susu untuk diminumnya secepat kilat. “aku sudah terlambat, aku berangkat..”

“Ya sudah. Hati-hati.. Jangan lupa makan siang. Jangan terlalu memforsir diri.” Myungsoo mengangguk mengerti, satu persatu omongan Soojung ia catat dengan baik dalam pikirannya. Dia mengecup singkat dahi Soojung sebelum ia melangkah pergi keluar rumah.

Soojung tersenyum lemah melihat kepergian Myungsoo yang semakin menjauh dari hadapannya. Satu tahun lebih membina rumah tangga dengan Kim Myungsoo semuanya terasa datar tanpa adanya sesuatu yang istimewa bagi hubungan antar keduanya. Ia tak tahu sampai kapan harus terjebak dalam rumah tangga hampa yang seperti sekarang ini. Tidak ada cinta diantara mereka berdua.

“aku harap kita berdua mempunyai suatu kejelasan hubungan berlandaskan perasaan masing-masing.” Soojung bergumam pelan ia lanjutan aktivitas sarapan paginya sebelum disibukkan dengan          bisnis fashionnya. Kalau boleh jujur ia jenuh dengan pernikahan yang ia jalani saat ini.

Kim Myungsoo dan Jung Soojung dipertemukan dan menikah berdasarkan sebuah perjodohan antar orang yang menghantarkan mereka masuk ke dalam bahtera rumah tangga seperti ini, meski tanpa ada cinta mereka berbesar hati menerima perjodohan tersebut karena demi kedua orang tua mereka. Tepat 1 tahun yang lalu keduanya mengikat janji suci pernikahan di San Fransisco yang merupakan rumah kedua Soojung setelah Korea. Rumah tangga mereka berjalan seperti biasa tanpa ada pertengkaran atau masalah sedikitpun, bahkan tergolong monoton tanpa ada klimaks sedikitpun. Myungsoo yang notabene adalah kepala divisi pengembangan produk diperusahaan milik sang ayah tergolong workaholic sedangkan Soojung hanya bisa menyibukkan diri dengan urusan bisnis fashionnya sendiri tanpa terlalu memperhatikan perasaannya terhadap Myungsoo atau perasaan Myungsoo terhadapnya.

–***–

“iya aku tahu. Aku berjanji akan menjaga diriku baik-baik saja. Annyeong..”

Sambungan telepon selular itu ia putus begitu saja sebelum akhirnya perempuan cantik itu melangkah kasar dengan perasaan kesal akibat ceramah yang ia dapat mengganggu paginya. Selain itu sudah hampir setengah jam dirinya menunggu di halte bus.

“mereka pikir aku masih kecil apa?. Seenaknya saja.. ”

“Ya Tuhan.. Apakah harus setiap hari aku selalu mendapat masalah tak penting seperti ini?.”

Perempuan cantik itu masih saja mendumel tak jelas sebelum akhirnya kakinya melangkah masuk ke dalam bus meninggalkan tempatnya berdiri sebelum 20 menit kemudian ia sampai pada sebuah gedung pencakar langit di depannya. Wanita itu mendengus pelan menghembuskan nafas kasarnya, pasalnya hari ini adalah hari pertamanya bekerja. Baru saja ia menapakkan kakinya di depan gedung pencakar langit dihadapannya, jantungnya berpacu dengan cepat ketika arloji ditangannya menunjukkan jika waktu yang hanya tinggal beberapa menit saja. Langkah kakinya dengan reflek menuntunnya berjalan cepat untuk segera memasuki gedung.

Bruk!.

Suara dentuman kecil seakan beradu akibat dua orang manusia tengah bertabrakan cukup kencang. Yeoja itu terjatuh dengan posisi terduduk, kaki yang menjadi tumpuannya pun kini berdenyut pelan merasakan sesuatu yang aneh pada sepatu yang ia kenakan. Diliriknya sebentar ternyata terpampang jelas jika high heels yang ia kenakan terlihat patah walaupun tak patah semua tapi ini cukup membuatnya seperti merasakan kakinya tampak patah. Sungguh ini bukan acara untuk menyambut seseorang yang menjalanai hari pertamanya bekerja dengan keadaan seperti ini.

“auuhh..” erangnya pelan sembari mencoba berdiri namun cukup sulit untuk melakukannya.

kau tidak apa-apa nona. Lain kali berhati-hatilah!.” Sesosok pria rapi dengan pakaian jas lengkap mencoba menawarkan tangannya untuk membantu yang dengan kesal yeoja itu menerimanya. Tangan kekar itu begitu kokoh ketika mengulur membantu untuk berdiri.

“animida.” Ucapnya sedikit kesal karena akibat kejadian ini, mungkin saja seseorang yang menunggunya akan sedikit kecewa.

Pria itu kemudian berjalan pelan menjauhinya lalu tak jauh dari hadapannya beberapa orang telah menanti kedatangannya. Beberapa detik kemudian wajahnya menoleh kembali kearahnya sembari memasang wajah datar, hingga membuat gadis itu mau tak mau mengumpat dalam diam.

“Pria sialan!. Setidaknya bisakah kau meminta maaf akibat kesalahanmu?!.” Perempuan itu mengumpat kesal. Demi Tuhan masih ada sedikit ketidakrelaan akibat sepatu mahal yang ia pakai patah akibat bertabrakan dengannya. Tanpa mempedulikan siapa lelaki yang baru saja menimbulkan masalah dengannya lekas gadis tersebut berjalan pergi menjauh.

**

“Annyeong Haseo..”  Suara gadis itu memecah keheningan sebuah ruangan yang kini terdapat sesosok lelaki yang kini tengah berkonsentrasi dengan kertas-kertas di depannya. Agaknya ia kini terlihat sedikit  merinding melihat ekspresi hari pertamanya bekerja dan harus menghadapi lelaki yang menjadi atasannya kini, dengan tertatih dan menahan rasa sakitnya wanita itu berjalan sebisa mungkin akibat heels yang ia gunakan patah ujungnya.

“Go Hyemi-sshi?.” Lelaki bermarga Shim itu mencoba memastikan jika perempuan didepanya adalah benar pekerja barunya. Dengan pandangan mata menelingsik lelaki itu menatap Hyemi dengan tatapan penuh intimidasi.

“Nee?.” Wanita yang diketahui bernama Go Hyemi itu memaksakan senyumannya saat pandangan mata tersebut menelingsik dalam mengarah padanya.

“selamat datang di Whestin Chosun Group nona. Anda telat 15 menit dari jam masuk kantor dimana hari pertama anda bekerja!.”

Astaga! Ya Tuhan, ingin rasanya Hyemi mengeluarkan umpatan yang tak pantas pada dirinya kini taatkala baru pertama kali bekerja sudah membuat kesalahan. And then.. masalah kini bermula jika ia tidak bertemu dengan pria sialan yang menabraknya hingga mematahkan high heels nya, untung ia membawa cadangan sepatu, selamatlah Hyemi dihari pertamanya bekerja. But also..untuk saat ini sialnya lagi saat manager HRD sialan yang beberapa waktu lalu mewawancarainya kini menjadi atasnnya dengan omelan khas para pejabat sosialita.

Jwengsohamnida Kwanjangnim.” Ucapnya menundukkan badannya berkali-kali untuk meminta maaf. “aku janji tak akan mengulanginya dan akan bekerja dengan baik!.”

“baiklah. Sekarang kau ikut denganku!.” Perintahnya .

Cukup butuh waktu 2 menit bagi Hyemi berserta atasannya yang telah diketahui bernama Shim Changmin itu, dan kini mereka memasuki sebuah ruangan yang dikatakan besar dan terlihat seperti ruangan seorang bos besar. Pandangan Hyemi kini menangkap sosok lelaki yang tengah mempelajari beberapa kertas laporan dan satu tangannya yang lain kini sedang memncet tombol mesin untuk mencetak beberapa Hardcopy laporan.

“Annyeong haseo Myungsoo-sshi.”

“oh, Ne selamat pagi Changmin Kwanjangnim!.”

“Langsung saja Myungsoo-sshi. Saya merekomendasikan sesorang untuk menjadi pengganti sekretaris anda yang sebelumnya. Dia Go Hyemi.”

“oh..ne.” jawabnya datar.

Myungsoo lekas menghentikan aktivitasnya sejenak dan berbalik arah, memalingkan wajahnya menghadap sosok dimana kedua orang tersebut berada didekatnya. Mata hitam lekat Myungsoo menangkap sosok gadis yang kini juga memandangginya secara seksama dari atas hingga bawah begitupun sebaliknya. Sosok Hyemi pun tak kalah kaget dengan siapa yang kini berdiri didepannya kini.

“kk..kau..” mendadak Hyemi terbelalak kaget dengan siapa kali ini ia bertemu. Tak salah lagi lelaki yang berjalan menghampiri mereka adalah lelaki yang sudah menabraknya dan membuat kakinya sakit untuk berjalan dan berakhir dengan keterlambatan kerja hari ini. Astaga!, hari ini Go Hyemi sudah menerima 3 kali keberuntungan. Yeah, keberuntungan sial. Pertama, kakinya sakit karena seseorang, yang kedua manager HRD sialan itu sudah menceramahinya, dan yang terakhir adalah sosok lelaki yang menabraknya tadi pagi adalah yang akan menjadi atasannya kini.

Namun perhatiannya kini membuyar seketika saat ia dikagetkan oleh pukulan kecil dari seorang Shim Changmin. Seolah ia memberi tanda jika jangan mempermalukannya.

“jangan mempermalukanku!. Ppaliwa!! Perkenalkan dirimu!.” Bisiknya penuh penekanan yang membuat Myungsoo terkekeh sendiri.

“Ah Ne.. Joneun Go Hyemi Imnida sekretaris baru anda dan mulai hari ini akan bekerja dengan sangat keras. Bangapseumnida.” Hyemi membungkuk berkali-kali. Sedikit kikuk ia melihat atasan barunya kini, tetapi Hyemi seolah-olah bersikap biasa saja agar tidak terlalu tegang.

“baiklah Myungsoo-sshi, Go Hyemi adalah sekretaris baru anda yang saya pilih dari puluhan wanita yang mendaftar untuk..”

“Ne Arraseo Changmin Kwanjangnim. Kau bisa kembali ke ruanganmu.” Sebelum terjadi pidato panjang yang akan dikemukakan oleh Shim Changmin, Myungsoo terlebih dahulu memotong omongan tersebut dengan mempersilahkan lelaki itu untuk keluar ruanganannya secara halus. Lagi dan lagi Kim Myungsoo memasang wajah datar nan dinginnya.

“bukankah kau yang tadi pagi?.” Jujur, Myungsoo tak suka basa-basi.

“Ne?.” Buru-buru Hyemi memalingkan pandangannya saat lelaki yang diketahuinya bernama Myungsoo itu memandangnya secara seksama.

 “Baiklah..selamat datang Go Hyemi-Sshi. Semoga kau betah di sini untuk bekerja. Perkenalkan aku Kim Myungsoo yang sekarang akan menjadi atasanmu.

“Dan untuk kejadian tadi pagi aku minta maaf.” Lanjutnya, Myungsoo mengulurkan tangannya tanda memperkenalkan diri, dengan senyuman khasnya wanita mana yang tak terpesona dengan senyuman tampan nan mematikan tersebut. Pupus sudah umpatan-umpatan Hyemi saat melihat pria itu secara seksama. Garis-garis wajah lelaki itu membuat mata wanita mana yang tak terpesona.

Mata Hyemi memandang lelaki itu sejenak, ia bawa kepalanya dari menunduk lalu menengadah ke atas menatap sosok lelaki tampan beriris hitam tersebut. Hyemi terdiam untuk beberapa detik memperhatikan secara seksama siapa itu Kim Myungsoo sebenarnya. Terlepas dari pertemuannya yang berakibat sial bagi Hyemi, apakah ia pernah melihat lelaki itu sebelumnya?.

Entahlah sepertinya Hyemi tidak tahu pula.

“ne..Gamshamida

–***–

Soojung melepas apron memasaknya taatkala semua sudah tertata rapi dan cantik di dalam meal box berwarna hitam tersebut. Ia menggigit bibir bawahnya pelan, rasa keraguan menghinggapi dirinya. Apakah dirinya harus memberikan atau tidak makan siang untuk Myungsoo—Suaminya. Ya sudahlah, meski ragu akhirnya ia putuskan untuk pergi sebentar untuk bertemu suaminya, dengan langkah cepat Soojung segera bergegas untuk menghantarkannya. Entahlah, Soojung tak tahu kenapa ia bisa peduli terhadap Myungsoo. Ia hanya ingin menjalani kehidupan rumah tangga selayaknya dan menjadi istri yang berbakti pada suaminya meski cinta tak ada diantara mereka berdua.

Setengah jam pun berlalu. Soojung langkahkan kakinya memasukki salah satu gedung pencakar langit dimana Myungsoo bekerja. Tangannya sudah hafal dengan tombol lift yang akan menghantarkan dirinya menuju dimana suaminya bekerja.

“ada yang bisa dibantu nona?.”

Soojung terlonjak kaget saat sebuah suara perempuan mengagetkannya dari belakang sedangkan tangannya memegang gagang pintu ruangan Myungsoo. Perempuan tersebut kemudian tersenyum ramah menatap Soojung.

“Ne?. Aku sedang mencari Myungsoo Kwanjangnim?. Kenapa beliaunya tidak ada?.”

“Myungsoo Kwanjangnim masih ada meeting. Mungkin sebentar lagi akan selesai.” Soojung mengangguk tanda mengerti.

“kau siapa?.”

“ah, ne. Joneun…” belum sempat wanita itu memperkenalkan diri, Soojung merasa ada yang memanggilnya—suara yang tak asing baginya.

“Soojung.” Panggil sebuah suara yang tak asing di telinganya. Soojung menoleh ketika pria itu datang menghampirinya.

“Myung..” ia tersenyum kecil, lantas menghampiri Myungsoo.

“ada apa?. Kenapa datang kemari?.”

“kau sudah makan siang?. Aku membawakanmu bekal makan siang. Makanlah!. Jangan memforsir dirimu.” Jelas Soojung.

“kau seharusnya tak perlu repot-repot seperti ini. Aku takut itu akan mengganggu acara mendesainmu.”

Soojung tersenyum kecil, meski sedikit dipaksakan tapi setidaknya Myungsoo mau menghargai apa yang di buatnya. Monoton. Soojung sadar jika kehidupan mereka berdua jauh dari kata romantis. Myungsoo dengan aktivitasnya begitu begitula dengan Soojung, mereka berdua lebih suka terlibat dengan pekerjaannya masing-masing. Kedua insan tersebut terlalu dingin hanya sekedar untuk saling berbicara dan hanya akan berbicara seperlunya saja. “tidak apa-apa. Lagipula aku akan berangkat ke kantor setelah ini. Ini Makanlah!.”

“Gomawo..Hati-hati dijalan.”

“hmm..” Soojung mengangguk tanda mengerti lalu langkah tersebut semakin lama semakin menjauh meninggalkan Myungsoo yang masih memandanginya. Jika saja ia dapat memutar waktu, ia ingin kembali pada masa lalu dimana ia dapat menolak pernikahan itu. Sungguh ia tersiksa melihat Soojung yang seperti ini, Soojung terlalu baik untuk dirinya.

–***–

                Hiruk pikuk kota New York, kota dengan perndapatan perkapita paling terbesar dunia itu membuat tertegun untuk beberapa saat. New York benar-benar padat dan ramai, semua orang terlihat begitu sibuk bahkan pada musim salju seperti ini. Sebuah termometer dinding raksasa menunjukan suhu 14 fahrenheit atau minus 10 derajat celcius kurang lebih. Lelaki itu masih setia memandangi setiap keramaian kota yang tersaji di depan matanya lewat jendela besar sebuah rumah sakit ternama di New York.

                “oh God, dengan suhu yang serendah ini mereka masih saja tetap giat bekerja bahkan ini menjelang akhir pekan.” Lelaki itu mencibir dari jendela besar rumah sakit tersebut. New York memang tak jauh dari penduduknya yang workaholic.

                “hey Nam Woohyun!. What are you doing and saying?.” Pria itu berbalik lalu menghembuskan napas panjang ketika mendapati seorang perempuan kini masuk ke dalam ruangannya. Ia dapat melihat sahabatnya tersenyum cerah menyapanya. Wanita itu berjalan mendekatinya  dengan tangan kanannya menyodorkan sesuatu yang hangat untuk diminum.

                “nothing. hanya memandangi kehidupan saja.” Lelaki itu terkekeh kecil, sedetik kemudian ia mengambil gelas berisi kopi yang masih mengeluarkan kepulan asap.

                “thank you Rene..Cappuchino?.’”

                “hmmm..” jawab wanita itu sekenanya.

                “what’s wrong Nam Woohyun?.” Pria itu tak menjawab, hanya lemparan sebuah senyuman kecil yang Woohyun berikan pertanda ia memang sedang ada sesuatu.  “tak adakah yang ingin kau jelaskan Nam Woohyun-sshi?.” Desaknya kembali.

                Woohyun mulai duduk di sofa memandang wanita tersebut. Ia menghela napas sebentar, kemudian menyampaikan maksudnya itu dengan perlahan. “aku akan kembali ke Korea dalam waktu dekat ini.” ucapnya pelan.

                “what?!.” Serunya tak percaya.

                “rumah sakit ini dan Seoul menjalin bekerja sama dan menawariku untuk bekerja 1 tahun disana. Jika aku tidak cocok maka aku akan kembali ke New York.”

                “and the you will go back Korea.” Tanyanya lagi kali ini nampaknya sedkit ragu. .

                Woohyun mengangguk, ia menyesap cappuchinonya kembali seraya menerawang langit sore dari jendela besar rumah sakit tersebut. Tujuh tahun hidup di Amerika membuatnya seolah lupa dengan keadaan kampung halamannya. Woohyun tak munafik jika kehidupannya kini belumlah terasa indah, meski karir yang ia capai tergolong cemerlang, jika ia belum dapat menata hatinya hingga kini. Ia hanya takut jika kembali ke Korea maka kenangan itu akan kembali.

                “Woohyun-aa. Gwenchana?.” Woohyun terdiam. Ya, ia sadar jika ini bukanlah hal yang mudah untuk ia lakukan.

                “hey Rene, just brifiely it’s not long time. And then, I’ll back again.” Woohyun memaksakan senyumnya, terkekh kecil seolah mencairkan suasana.

Wanita itu menghembuskan napas agak panjang, sedetik kemudian ia menatap nanar lelaki bermarga Nam tersebut “Aniyo bukan itu, tapi kejadian itu Woohyun-aa…..kejadian itu..”

“Ren…Bae Joo Hyeon. Kejadian itu sudah lama dan tak mungkin aku selamanya pergi. Aku ingin menyelesaikan semuanya. Aku memang mencintai Sooji, tapi takdir kami memang tidak bersama. Lagipula aku tak mau selamanya lari dari masalah yang ku hadapi.” Woohyun membalikkan badan. Ia mendesah berat, sebenarnya  masih ragu dengan keputusannya ini. Tapi bagaimanapun juga, ia tidak mau hidup dengan dihantui rasa trauma yang begitu membekas di hati serta pikirannya.

“Kapan kau akan kembali ke Korea?.”

                “2 minggu dari sekarang.”

–***–

                To: Jung Soojung.

                Terima kasih atas kiriman makan siangnya.

                Aku pulang telat hari ini. Jangan Menungguku!.

               

                Myungsoo usap slide ponselnya untuk kesekian kali dan membaca kalimat pendek tersebut,  sebelum akhirnya ia memastikan untuk mengirimkannya pada sosok diseberang sana. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, namun tampakanya Myungsoo enggan untuk beranjak dari kursi kerjanya dan tetap menyibukkan dirinya dengan berbagai kertas-kertas.

Lelaki baca sekali lagi pesan yang baru saja ia tulis sebelum ia sending dan mengunci layar slide ponselnya.Lama ia berkutat dengan pemikirannya, otaknya terlalu sibuk memikirkan hal-hal yang terjadi setahun lebih ini bersama Soojung. Soojung gadis baik dan cantik, tak seharusnya ia hidup bersama dengannya dan hingga hari ini rasa cintanya tak muncul sama sekali terhadap Soojung . Soojung dan dirinya hanyalah korban dari kedua orang tua mereka.

            “sajangnim..sajangnim..Gwenchanaseo?.” suara itu akhirnya membuyarkan lamunan Myungsoo tentang Soojung, jantung Myungsoo rasanya ingin lepas taatkalan ia mendapati sosok perempuan yang kini sedang tepat dihadapannya.

Merasa ada yang mengganggunya mata sipit lelaki itu melirik tajam siapa yang kini berbicara padanya. Lamunannya pecah saat ia mendapati seorang gadis yang belum genap 24 jam kini berada tepat didepannya dengan satu tangan mengibas-ibas pada wajah Myungsoo. “bisakah kau tak mengagetkanku tiba-tiba?!. Apakah kau punya sopan santun heh?. Setidaknya ketuklah pintu dulu sebelum kau masuk!.”

                “ah..ne. jwengsohamnida. Saya sudah mengetuk pintu berkali-kali.” Sesalnya, ia tundukkan kepalanya, badannya membungkuk meminta maaf. Jujur ia takut dimarahi—tak berani menatap wajah Myungsoo dan yakin 100% jika kini atasannya akan segera menyemprotnya di hari pertamanya bekerja.

                “ada apa Hyemi-sshi?.” Kali ini Myungsoo menurunkan nada bicaranya. Akhir-akhir ini mood nya sedang naik turun, entahlah ia tak tahu karena apa.”

                “ini laporan yang anda minta dari bagian tim research and development yang anda minta tadi sore. Semuanya sudah selesai Sajangnim.” Hyemi mengutuk dirinya jika tindakan tadi yang tak sengaja lakukan pada Myungsoo, daripada ia selalu salah tingkah untuk menghadapi Kim Myungsoo lebih baik ia keluar saja dari ruangananya.

                Myungsoo memijat pelipisnya ketika merasakan pening dikepalanya, ia lantas mengangguk lantas membiarkan wanita itu keluar dar ruangannya.

                “maafkan aku Go Hyemi-sshi.” Lirihnya.

                **

                Dengan usaha yang semaksimal mungkin, kaki Hyemi akhirnya bisa melangkah ke halte bus terdekat dari tempatnya bekerja. Hyemi mendudukkan dirinya di tempat duduk panjang yang ada di halte bus tersebut. Kebetulan suasana sedang sepi, Hyemi melirik keadaan di sekitarnya lantas menselonjorkan kakinya di atas kursi panjang halte bus tersebut—memijat kakinya secara perlahan. Sungguh saat ini ia merasakan nyeri di kakinya akibat insiden tadi pagi. Demi Tuhan, sudah cukup ia tersiksa menahan nyeri dikakinya seharian. Ia urungkan kalimat umpatannya yang akan keluar jika Myungsoo adalah tersangka yang menabraknya dan membuat kakinya sakit adalah Myungsoo—atasannya kini. Hyemi melirik arloji yang bertengger manis ditangannya—hampir jam 9 malam, ia rasa bus terakhir akan lewat sebentar lagi. Merasa nyeri dikakinya sedikit mereda, Hyemi merogoh sesuatu yang ada di dalam tas. Merasa ada sesuatu yang salah di dalam tasnya, Lekas Hyemi merogohnya lebih dalam lagi tapi nihil, benda tipis panjang sebagai alat komunikasi itu tak berada di dalam tas Hyemi.

                “astaga!. Dimana aku meletakkannya?. Apa jangan-jangan tertinggal?.” Hyemi meruntuki dirinya sendiri jika dirinya adalah salah satu manusia terceroboh di dunia. Dan kini ia harus memastikan jika ponselnya masih tertinggal di dalam kantor.

                Demi Tuhan Hyemi kini berjalan sangat lambat hanya untuk kembali ke meja kerjanya. Rasanya butuh waktu berpuluh menit hanya untuk sampai pada lantai 20, dan itu terbayarkan ketika ia berhasil menemukan benda selular yang ia cari. “kau terlalu ceroboh Go Hyemi.” Hyemi terkekeh kecil lantas ia paksakan kakinya kembali keluar dari kantor. Tak butuh waktu lama baginya untuk sampai di depan pintu lift, hingga untuk belasan detik kemudian pintu lift terbuka dan menampakkan sosok tak terduga bagi Hyemi.

                ‘Astaga, mimpi macam apa ini..’

                Untuk beberapa menit kedepan Hyemi mau tak mau harus bersamanya lagi—bersama atasannya. Kim Myungsoo sajangnim. Tak ada percakapan diantara mereka berdua yang ada hanyalah kebisuan yang terasa sunyi senyap. Hyemi mencoba mengutak-atik ponsel selualarnya, berharap ada pesan atau panggilan telepon yang masuk agar setidaknya ia tidak hanya berdiri mematung sepert orang bodoh bersama dengan atasannya—Kim Myungsoo, setidaknya hingga pintu lift terbuka. Namun rasanya mata Hyemi terlalu gatal hanya untuk melirik pria di sampingnya kini. Seolah Tuhan mengabulkan doa nya, pintu lift terbuka hingga Hyemi bisa selamat dari atasan berwajah datar tersebut.

“aku permisi dulu Sajangnim.” Hyemi membungkukkan badannya berkali-kali tanpa melihat wajah Myungsoo lantas melesat pergi.

Sebisa mungkin Hyemi mempercepat langkahnya keluar dari perusahaaan, meskipun rasa sakit mendera dikakinya benar-benar tak dapat ditoleransi, yang ia pikirkan sekarang hanya segera pulang. Hyemi tahu jika Myungsoo ada dibelakangnya, namun ia harus memperlebar jarak antara dirinya dengan pria yang beberapa meter ada dibelakangnya. Alasannya sederhana, ia tak mau malu dan salah tingkah di depan Kim Myungsoo.

“Go Hyemi-sshi!.” Panggil Myungsoo dengan suara yang menggema disekitar lorong kantor, beruntung kantor sepi untuk malam ini jadi tidak ada karyawan yang memandanginya. Hyemi tak terusik oleh panggilan Myungsoo, ia tetap berjalan cepat untuk segera pulang.

“aku memanggilmu Go Hyemi-sshi!. Tidakkah kau mendengarnya?!.” Panggil Myungsoo sekali lagi dengan suara tak kalah lantang. Hyemi mematung diam berhenti, Kim Myungsoo meneriakinya secara lantang.

“Berhenti sekarang!, dan ikuti aku!.”

Mendengar ucapan Myungsoo, firasat Hyemi memburuk berubah tak enak. Ia menoleh kebelakang mendapati Kim Myungsoo berjalan kearahnya dengam tatapan dingin itu. “Sssaa…jjjangnim..”

**

Masih sama-sama terdiam, keduanya diam membisu. Tak ada kalimat untuk memecah keheningan diantara mereka berdua. Yang ada hanya ada gerakan tangan yang cukup telaten dan wadah berisikan handuk untuk mengusap luka memar dipergelangan kaki Hyemi. Hyemi masih bergumul dengan pikirannya, sementara Kim Myungsoo masih berkonsentrasi dengan pijatan menggunakan minyak di kaki Hyemi.

“Sajangnim..aa..paaa..yang and lakukan?.” Ujar Hyemi pelan. Dengan ragu ia mencoba membuka percakapan meski tenggorokannya tercekat tertahan, tak bisa mengeluarkan kata-kata dan tentunya menutupi kegugupannya.

“apa kau terlalu bodoh atau bisu untuk berbicara?. Seharusnya kau mengatakan padaku jika akibat insiden tadi pagi kakimu terkilir seperti ini. Jadi aku tidak dicap sebagai atasan yang buruk memperkerjakan sekeretarisnya untuk lembur dalam keadaan sakit seperti ini.” sahut pria itu dengan fokus masih pada kedua kaki Hyemi.

“sssaa..jjangnim..”

“nde?..” Mendadak Hyemi merasakan suatu gemuruh yang mendera dari dalam dirinya ketika Kim Myungsoo tersenyum dengan manisnya, garis-garis wajah tampannya seolah menyihir Hyemi yang masih tetap memandanginya. Lelaki itu dengan sabar dan telaten membasuh handuk dan bergelut dengan pekerjaan mengobati kakinya.

 “terima kasih..” ujar Hyemi kikuk. Ia berusaha menutupi semua kegugupannya.

Pria itu tersenyum tipis lalu mengangguk pelan. “ya. Sama-sama.”

–***–

                “Jung Krystal?.”

                Suara panggilan terdengar seperti bisikan jika tangan seseorang tak menyentuh pundaknya pelan, mungkin gadis bermarga Jung itu tak akan mendongak menatap siapa yang memanggilnya dan tentu saja masih tetap berkonsentrasi dengan beberapa kertas dan sketsa-sketsa gambar yang ber-deadline.

                “waeyo?.” Respon Soojung dengan wajah datar.

                “Kryss. Apa kau sibuk?. Bukankah desain pakaian itu akan diproduksi 3 bulan kedepan?.”

                Soojung mengernyit bingung—sepertinya ia mencium gelagat aneh dari seorang wanita yang menurutnya mengganggu itu. “ada yang kau perlukan padaku Miss Son?.”

                “jawab dulu pertanyaanku.” Mohonnya.

                “tidak terlalu juga, deadline kita untuk mengeluarkan model desain baru akan di produksi 3 bulan kedepan. Jadi daripada waktuku terbuang sia-sia lebih baik aku memperbaiki desain ulang model pakaian yang akan diluncurkan. Adalagi Miss Son Naeun?. Sekarang jawab pertanyaanku?. Apa yang kau butuhkan dariku?.”jelasnya sambil tetap fokus dengan pensil dan lembar-lembar sketsa tersebut.

“Emmm… Sebenarnya aku ingin…. Minta.. tolong.” Jawab perempuan yang diketahui bernama Naeun tersebut sedikit terbata.

                “ bisakah kau tidak berbelit-belit Son Naeun-sshi?.” Soojung yang jengah menatap bosan Naeun yang bertele-tele.

                “temani aku ke rumah sakit. Aku ingin check-up kandungan.” Pinta Naeun dengan wajah memelas.

                Demi Tuhan!. Ingin rasanya Soojung tidak masuk kerja hari ini jika endingnya ia bertemu dengan orang yang selalu memasang wajah bodoh jika ada maunya. Apakah Naeun ditelantarkan oleh suaminya?.

                “Kau punya suami kan?. Kenapa tidak kau suruh saja suamimu yang tampan itu?!.” Tanya Soojung malas. “sepertinya aku sibuk hari ini.” sahutnya kembali.

                “Suamiku pergi ke Jepang untuk urusan cabang baru perusahaan. Apa kau akan setega itu pada temanmu jika hal ini terjadi padamu Kryss?. Aku mohon Jung Soojung.” Pinta Naeun mencakupkan kedua tangannya di depan dada.

                “suamiku dan suamimu jelas berbeda!.”

                “Ayolah Kryss, sebentar saja…” Mohon Naeun dengan wajah memelas yang membuat Soojung semakin muak melihatnya.

                **

Diam dan diam hingga bosan melanda dan akhirnya berujung dengan perasaan kesal masih menghinggapi Soojung. Wanita itu terlihat biasa saja dari luar namun ia merasakan jika kini dirinya telah diperalat Son Naeun untuk duduk diam menunggu dirinya yang sudah 20 menit berlalu untuk pergi ke toilet.

“sebenarnya apa maunya wanita itu?.” Masih dengan perasaan kesalnya Soojung akhirnya melangkah pergi sejenak, setidaknya Son Naeun telah mendapat nomor antrian yang cukup lama masih ada sekitar 15 orang yang mengantri, dan Soojung bukanlah tipikal orang bodoh yang hanya duduk diam diperalat oleh Son Naeun untuk mengantrikannya.

“Son Naeun keterlaluan!.” Umpatnya sekali lagi. Diantara umpatan-umpatan kecil yang dilayangkan untuk rekannya itu, tiba-tiba pandangan Soojung berpusat pada seorang pasangan suami istri yang terlihat mesra didepannya. Mungkin mereka memeriksakan kandungan sang istri mungkin.

Miris. Itulah kondisi Soojung saat ini. ironi memang, jika biasanya kehidupan pasangan setelah menikah adalah menantikan kehadiran buah hati mereka. Berbeda dengan Soojung, tak pernah terbesit dalam pemikiran wanita itu tentang anak bersama dengan Myungsoo. Jangankan memikirkan tentang anak, Soojung sendiri tak pernah tahu perasaan Myungsoo terhadapnya meski mereka tinggal satu atap. Soojung menghembuskan napas panjangnya daripada ia terbawa oleh perasaannya sendiri lebih baik ia pergi, setidaknya mengganjal sedikit perutnya tidak maslah bukan.

–***–

                “Nam Woohyun…”

                Suara panggilan lelaki dari arah berlawanan membuat Woohyun menghentikan aktivitas mencuci tangannya setelah ia melepas baju operasi yang baru saja ia kenakan akibat terkena darah. “nde?. Musun il-iya?.”

                “Gamshamida untuk hari ini, kerja bagus. Aku belum pernah menangani kasus seperti itu jika tidak mungkin ibu dan bayi akan meninggal akibat serangan jantung mendadak. Kerjamu sungguh cepat dan tepat.”

                Woohyun tersenyum mengangguk. “tidak usah terlalu sungkan, Itu sudah tugasku menjadi dokter kandungan.” Sedetik kemudian ia melangkah keluar dari operating room yang satu jam lalu ia gunakan.

                “aku hanya menangani keselamatan ibu dan bayinya. Untuk selanjutnya itu akan menjadi urusanmu Dokter Lee Howon-sshi.

                Kedua lelaki itu tertawa, pertemanan yang indah masih terjalin setelah 5 tahun berlalu hingga kedua sahabat tersebut akhirnya dipertemukan kembali.

“mau minum kopi bersama?.” Tawar lelaki itu.

                “apakah ada alasan untuk menolak?.” Woohyun tertawa kecil, sebuah tinjuan kecil dilengannya ia dapatkan dari sahabat yang sudah 5 tahun tak ia temui.

Tanpa mau menunggu lebih lama, mereka berdua langsung menuju cafe disekitar rumah sakit. Mata lelaki bermarga Lee memandang sekitar mencari temapat kosong untuk dapat digunakan. Sementara Woohyun masih berurusan dengan seseorang diseberang sana yang tengah mengomel karena dirinya.

                “kau–?.” Namun sebelum ucapan Howon dilanjutkan, Woohyun mengangguk mengerti dan mengiyakan maksud sahabatnya tersebut, lantas ia berjalan mengantri dengan ponsel masih bertengger manis ditelinganya dan tentunya kekehan-kekehan kecil saat ia menerima panggilan akibat omelan-omelan dari teman perempuannya itu.

                “Nerd isn’t your style Irene…okay, see you next time, I’ll call you again” ucap Woohyun terakhir kali sebelum ia menutup panggilan selularnya, berjalan menuju meja cafe.

Kini kedua lelaki itu duduk saling berhadapan menikmati suasana sore dimusim gugur yang indah dengan iringan hujan yang akan sedikit mereda.

“aku tak menyangka jika dirimu akhirnya kini kembali ke Korea. Bagaimana kabar New York?.” Ucap Howon memulai percakapan

“New York baik-baik saja tanpamu Howon-aa.” Woohyun meminum caramel macchiato-nya terkekeh kecil menatap sahabatnya itu dengan mata dan tangan yang masih berfokus pada slide ponsel selular yang digenggamnya.

“Nugunde?.”

“Our Friends. Irene Bae. And then maybe she’ll back to Korea next time. Sepertinya ia akan menyusul untuk kembali ke Korea.”

“Irene?. Bae Joohyeon?.” Howon mengernyit bingung memastikan kebenarannya, jika Bae Joohyeon atau Irene adalah orang yang dikenalnya. Sudah lama ia tak mendengar kabar mengenai gadis itu sejak insiden 5 tahun berlalu yang melibatkan Woohyun, sahabatnya.

                “apa kau bersama dengan Joohyeon di Amerika?.” Selidik Howon.

                Woohyun mengangguk kembali meminum caramel macchiato-nya membenarkan ucapan Howon. Ia menghela napas panjang lantas memandang Howon dengan tatapan yang berubah menjadi sendu. “semenjak kejadian itu. Aku memutuskan untuk kembali ke Amerika memulihkan psikologisku dan memulai hidup baru disana, dan Irene-lah yang membantuku selama ini.”

Howon mendengarkan dengan seksama, ia sebenarnya belum terlalu paham dengan hubungan mereka berdua. Seolah mengalihkan pembicaraan, Howon memutuskan tak mamu memperpanjang pembicaraan tentang Irene. “apa kau berencana menetap di Seoul?.”

                “entahlah. Aku belum memikirkannya kembali.”

                Howon mengangguk mengerti, bagaimanapun ia tahu kondisi Woohyun. Trauma akan kejadian yang pernah dialaminya Woohyun membekas di hati dan pikirannya. Lelaki itu kembali fokus menatap Woohyun yang masih serius memperhatikan hujan dari kaca jendela cafe.

                “Howon-aa..bisakah aku meminta tolong?.  1 minggu lagi adalah peringatan 5 tahun kematian Sooji. Aku ingin memperingatinya.” Howon menghentikan aktivitasnya menatap lekat Woohyun.

“Woohyun-aa... Ttaa—pi.. kau yakin?.”

Woohyun mendesah berat, sebenarnya ia masih ragu dengan keputusannya ini. Tapi bagaimanapun juga ini sudah hampir 5 tahun berlalu, ia tak mau hidup seperti dihantui oleh trauma seperti ini. “aku tak bisa hidup seperti ini terus-terusan Howon-aa.rasanya  seperti aku kabur dari masalah yang harusnya ku hadapi. Lagipula ini sudah 5 tahun berlalu dan sejak kematian Sooji aku belum pernah mengunjunginya. Aku terlalu menutup mata dan tidak menerima kenyataan.” Jawabnya yang disertai dengan senyuman sedikit dipaksakan.

“aku hargai keputusanmu Hyung.”  

 

                **

               

                “Mochachino satu.” Pesannya, ia membaca seluruh menu berbagai jenis sajian kopi yang setidaknya dapat menenangkan pikirannya. Belum sempat wanita itu mencari tempat duduk, tiba-tiba suara nyaring khas dari ponselnya terdengar. Tangannya segera cepat bekerja segera ia merogoh tasnya lalu mencari ponselnnya lalu menggeser slide ponselnya untuk menjawab panggilan tersebut.

‘Sebuah nomor telpon internasional.’

 

“Krystal Jung?. Oh no, Jung Soojung?.” Soojung mengernyit heran, mencerna suara siapa yang ia dengar. Panggilan internasional dari seorang perempuan, nomor siapa yang menghubunginya saat ini.

“yes miss,”

“Krystal Jung. Long time no hear your voice. Do you remember me?.” Soojung mengangkat alis, seseorang ini mengenal dirinya. Ia mencerna baik-baik suara yang ia dengar puluhan detik yang lalu.

“KK..kau?.” Tanya Soojung memastikan.

“akhirnya kau mengingatku..ini aku Krys. Lama tak bertemu?. aku merindukanmu.” Kekehnya.

hey, what’s up?. What happen with you?. Tumben sekali menghubungiku?.” Soojung masih berkonsentrasi dengan ponselnya dengan mata melirik pada karyawan cafe, kapan ia akan dipanggil untuk mendapat minumannya.

“aku akan kembali ke Korea dalam waktu dekat ini.”

Soojung tak terlalu menggubrisnya, ia kini mencoba mencari sesuatu dari dalam tas nya. Ia yakin jika sudah membawa dompetnya tadi. Sifat ceroboh yang Soojung miliki membuatnya harus mengeluarkan seluruh isi tas di dalamnya termasuk beberapa lembar kertas bergambar yang ia sematkan dalam buku agenda miliknya. “oh, nee..”

“Nona Jung Krystal..” panggil tersebut menyadarkan Soojung jika Moccachino yang pesan telah siap, lekas Soojung berdiri merapikan semuanya secara terburu-buru.”

“Gamshamida..” Soojung tersenyum membalas karyawan cafe tersebut. Sementara sesorang diseberang sana yang masih berkutat dengan panggilan seluler mendumel tak jelas saat Soojung sama sekali tak meresponnya. Soojung masih repot dengan barang yang dibawanya kini—barang yang ia keluarkan semua dari dalam tasnya.

“ah..ne..ne.. kapan kau akan kembali Ren?.” Soojung kembali meletakkan sambungan telepon seluler ditelinganya dengan menjepit ponsel dengan bahunya karena kedua tangan kini penuh untuk memegang sesuatu.

“aku akan kembali setelah dari San Franccisco.”

“Arraseo..ada angin apa kau kembali ke Seoul?.” Soojung tak menatap sekitarnya apalagi pemandangan didepannya. Wanita itu masih berkonsentrasi dengan pembicaraannya, sementara satu tangan yang lainnya mencoba memasukkan buku agenda miliknya ke dalam tas. Hingga..

 

Kreekkk….

 

Soojung terlonjak seketika saat dirinya kini tanpa sengaja mengenai sesuatu didepannya, atau lebih tepatnya seseorang yang saat ini dihadapannya. Gelas minuman yang ia pegang meluap mengenai sosok pemuda didepannya. Lebih tepatnya mengenai bagian perut dan melebar hingga ke bagian dada pakaian yang dikenakan oleh pemuda tersebut. Tak hanya itu, tabrakan kecil itu juga mengakibatkan semua yang ia pegang jatung hingga menyebabkan semua berserakan di lantai cafe, kecuali gelas Moccachino yang ia pegang dengan volume isi gelas tinggal setengahnya.

“Jwengsohamnida.. jwengsohamnida..” Ucapan perminataan maaf itu Soojung ucapkan berkali-kali dengan sangat menyesal, ia bereskan semua barangnya yang tercecer dilantai dengan cekatan lantas memasukkannya kembali ke dalam tas. Sadar akan kesalahannya, Soojung lekas berdiri memandang pemuda di depannya yang masih berusaha membersihkan noda kopi dari bajunya.

Jeongmal jwengsohamnida.” Gadis itu meminta maaf lagi bermaksud mengurangi noda kopi yang memenmpel pada baju pemuda tersebut dengan tissue. Namun baru saja Soojung meraih kemeja  tangannya ditahan oleh pemuda tersebut.

Gwenchana..lain kali berhati-hatilah.” Balas pemuda tersebut. Lelaki muda itu tersenyum kecil memandang Soojung.

“animida…aku yang salah. Jadi sudah sewajarnya aku yang bertanggung jawab tuan.” Soojung yang memandang pemuda itu merasa tak enak dengan sikapnya sendiri.

Baru saja Soojung merasakan tak enak hati pada seseorang akibat kesalahnnya, sekarang ia harus di hadapkan pada kondisi yang tidak tepat—ponselnya berdering berkali-kali menandakan jika ada panggilan masuk lagi. Merasa kondisi tidak tepat, Soojung lantas menggeser tombol reject yang ada pada slide ponselnya tanpa melihat. Namun na’as ia salah menggeser slide dari me-reject menjadi menerima panggilan.

“Jung Krystal!!.” Ucap seseorang di telepon, yang ternyata adalah suara Naeun yang ia kenal.

Demi apapun juga ia meruntuki sifat ceroboh dan bodohnya kembali, dan sekarang karena ia salah menggeser slide ponsel terdengarlah suara pekikan Naeun yang membuat moodnya semakin memburuk. Dengan salah tingkah Soojung mengakat panggilan tersebut.

“nona!. sepertinya ada yang mencarimu. Sepertinya ada yang mencarimu.”

“tt..aappii..tuan..” belum sempat Soojung melanjutkan kalimatnya, lelaki itu tahu jika Soojung sedang terburu-buru.

“tidak apa-apa. Ini hanya kecelakaan kecil.”

Sepeninggal Soojung, lelaki itu tersenyum kecil ia memandang kepergian Soojung yang semakin menjauh keluar dari Cafe, sementara dirinya kembali berjalan menuju meja yang telah didudukinya sekitar 30 menit yang lalu. Baru berapa langkah, lelaki itu menginjak sesuatu. Langsung saja ia mengangkat kakinya, ketika ia mendapi sebuah buku agenda yang telah diinjaknya. Tanpa berpikir panjang, ia langsung mengambil benda itu, dan membalikkan badannya. Ya Tuhan, ia yakin jika buku agenda itu milik perempuan tadi yang menabraknya, sementara gadis tersebut pasti belumlah terlalu jauh meninggalkan Cafe.

Dengan gerak cepat ia berikan kode pada sosok yang dihampirinya kini jika ia harus segera pergi mengejar Soojung yang telah menjatuhkan buku agendanya sendiri.

“ada apa Hyung?.”

“Howon-aa..aku pergi dulu, sepertinya ada sesuatu yang haus aku kembalikan.”

**

            “Chogiyo!!.”

               

Soojung menghentikan langkahnya mendadak taatkala ada suara lain yang ia dengar selain suara Son Naeun yang masih bercakap ditelinganya. Sepertinya ada yang memanggilnya, tapi kenapa ia tak melihat seorang yang memanggilnya. Sepanjang jalan dari Cafe terdekat di rumah sakit, Soojung tak henti-hentinya mengumpat dalam diam dan mengutuk Son Naeun yang selalu merepotkan dirinya, bahkan gelas cup yang berisi moccachino yang kini hanya setengah saja akibat menumpahi orang sekarang menjadi sasarannya untuk menumpahkan kemarahan.

                “Jung Krystal!!.” Baru saja Soojung akan mengakhiri panggilanyya, tiba-tiba Naeun memanggilnya setengah berteriak. Hal ini kontan membuat Soojung menempelkan kembali ponselnya.

                “ya!. Bisakah kau tidak berteriak!. Aku akan segera kembali!.” Dengan perasaan kesal akhirnya Soojung menutup panggilan tersebut ketika lampu hijau bagi pejalan kaki menyala.

               

“Agashi!.” Teriak pemuda itu kembali.

                Soojung terdiam, suasana hatinya sedang buruk. Kali apa lagi?. Kepalanya ia tolehkan ketika ia mendapati sosok lelaki tengah berlari dari kejauhan menghampiri dirinya. Lelaki itu semakin mendekat kearahnya ketika tanpa Soojung sadari lampu hijau untuk pengemudi jalan menyala. Menyadari hal tersebut, dengan cepat lelaki itu menarik pergelangan tangan Soojung untuk menghindar. Namun…

 

                BRAAKK…

               

–TBC–

Next Part:

                “sebenarnya ada apa denganku?.”

                “Go Hyemi..” wanita yang lucu.

__&__

“apa yang sebenarnya terjadi?. Siapa sebenarnya diriku ini?.”

                “Hyemi-aa..”

                __&__

“Krysss…” Suara lirih nan bergetar itu memanggilnya.

                “apa pedulimu Kim Myungsoo?!.”

                 __&__

                “Sooji—aa!!..”

                “aniyo Woohyun-aa, Sooji telah tiada, dia buka Sooji Hyung!.”

               

Annyeongg Yeorobun….

Ini FF pertama ku di blog ini, baru nemu blog ini langsung coba nulis heheee.

Sebnarnya aku tidak terlalu PD buat nulis hee..

Jadi jangan heran yang kalau masih author amatiran….

Sorry for Typo, karena saya hanya manusia biasa yang sudah mencoba untuk teliti.

Ya menskipun tulisannya cukup amburadul, tapi saya mohon setidaknya ada satu atau dua kalimat sebagai komentarnya..

Sekian

Thanks guys..

44 responses to “[Freelance] Love and Hurt Chapter 1

  1. penasaran sama ceritanya . . soo ji meninggal, kenapa? woohyun trauma karena apa? bingung🙂
    semangat nulisnya thor, di tggu next partnya ya . . hehe🙂

  2. Annyong author🙂, apa sebenarnya hubungan antara sooji dan hyemi? Apakah hanya memiliki wajah yg sama atau hyemi itu sbenarnya adalah sooji? D tunggu lanjutan nya ya author…fighting

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s