[1/2] Indiscreetly, Fondly

95-indiscreetly-fondly

Lovely, fondly poster belongs to Miss of Beat R

.

Indiscreetly, Fondly.

December 2015©

Miss A Bae Suzy and EXO Oh Sehun

with BTS Kim Seokjin, 4Minute Kwon Sohyun and Idol/Designer Jung Soyeon / Jessica | Alternate-Universe, Crack, Editorial’s Life, Fluff, Friendship, Romance(?) | Two-shoots [1/2] | PG 15 | beside the story-line, i own nothing. |

.

Demi Tuhan, apa keajaiban di bulan Desember begitu mencintainya? Oh tentu tidak. Kalau iya keajaiban Desember begitu mencintainya, sudah pasti ia  akan terbebas dari bala petaka sepert ini….

.

.

.

Suzy terjaga dari tidurnya. Entah hal apa yang membangunkannya, gadis itu tidak terlalu memusingkannya. Bukan karena mimpi buruk yang membuatnya terjaga. Bukan juga karena distress yang mesti ia simpan sendirian lantaran deadline naskah yang mendekati tempo. Atau bukan pula kasbon sup tulang ikan tempo hari yang lalu di kedai milik Bibi Yoon saat makan siang. Tiga alasan absurd itu nyatanya bukanlah pemicunya.

Hanya saja, ia merasa seperti sesuatu yang tidak beres yang akan terjadi.

Di satu sisi gadis berzodiak Libra itu mencoba untuk tidak melihat jam di atas nakas dekat ranjang tidurnya. Suzy terlalu malas dan takut. Takut akan kenyataan yang akan membawanya kalau ia terlambat untuk berangkat ke kantor. Takut akan semprotan yang akan diterimanya dari ketua editor yang terkenal tidak kompromi dengan sebuah ketidaksempurnaan. Takut kalau waktu yang ada tidak lebih dari seratus duapuluh detik untuk bersiap diri menuju kantor–mencuci muka dan gosok gigi juga berpakaian seadanya–seandainya benar jika ia bangun kesiangan.

Tetapi pada akhirnya, gadis duapuluh lima tahun itu tetap melongok pada jam beker bercorak biru benhir dan putih di sampingnya. Raut acak-acakan sehabis bangun tidur pun sukses berkonversi jadi satu garis lurus yang dapat ditarik dari dahi lebar gadis itu.

Tck, aku masih punya lima jam untuk tidur. Sial.”

Pukul satu malam, dini hari.

***

Ruang tim penyuntingan Percetakan Seungri pada Senin pagi yang mendung dilanda kebakaran. Si jago merah dengan cepat mengobarkan api di dalam hati Editor Jung. Wanita yang diketahui sebagai finalis Putri Pariwisata Korea Selatan 2007 itu berwarna merah padam, melebihi buah paprika yang sudah masak. Beberapa anggota penyuntingan tidak kalah heboh. Dengan gaya ala CSI, mereka menelusuri tiap sudut meja hingga ke kolong-kolong dan empat pasang lemari berukuran sedang.  Di setiap sudut ruangan, mereka berusaha menemukan hard copy dari naskah novel yang mesti turun pada kurun waktu pekan depan.

Api yang terlanjur membara dan menghanguskan kesabaran Editor Jung bukan tidak bukan, berasal dari anak buah kesayangan Editor Jung. Naskah yang ada di dalam laptop Suzy mendadak tidak bisa dibuka. Kemudian dengan tidak sengaja, Suzy menghilangkan naskah hard copy novel tersebut. Dan yang lebih bodohnya lagi adalah ia tidak membuat salinan naskah yang dikirimkan oleh si penulis. Padahal ia sudah menyunting 80% isi dari novel yang akan turun cetakan pada pekan depan tersebut.

Kerutan di bawah garis mata Editor Jung bertambah dua garis, membuat wanita di awal usia tigapuluhan itu terlihat jauh lebih tua daripada usia yang sebenarnya. Dua personel tim penyuntingan pun akhirnya mengakhiri pencarian naskah tersebut dengan tangan kosong.

“Mengapa kau sampai menghilangkannya tanpa menyalinnya terlebih dahulu? Tidak, mengapa kau bisa sampai menghilangkannya.” cecar Kim Seokjin dengan peluh yang membasahi belakang kemeja yang dipakai si pria, setelah mengobrak-abrik dua lemari.

“Hei, ini bukan sepenuhnya salah Suzy juga, Kak.”  bisik Kwon Sohyun pelan di belakang pundak Suzy. Gadis berponi depan itu pun segera mengahadap Editor Jung yang sudah naik-turun pitam sejak subuh tadi.

“Maaf tapi kali ini kami tidak bisa meng-cover-mu seperti biasa.”

“Tidak-tidak, aku yang harusnya minta maaf. Kalian justru membuatku semakin terlihat menyedihkan dan tak punya perasaan tahu. Tapi sungguh ini semua bukan salah kalian. Ini salahku dan aku akan mempertanggungjawabkannya.”

Sohyun mengangguk seraya meremas pundak Suzy pelan.

“Maaf, kami tetap tidak menemukannya, Editor Jung.”

Ouch, kepalaku sakit sekali..” rintih Editor Jung sembari memegangi serambi kepalanya dan memijatnya. “Bagaimana kita tidak memiliki salinannya?! Mengapa kalian semua teledor sekali, sih? Terutama kau, Bae Suzy!!”

Kepala gadis Bae itu pun tetap memaku bumi, enggan menatap balik netra Editor Jung yang mengilat kepadanya. Sungguh, sebenarnya ia juga tidak ingin ini terjadi kepadanya. Sungguh pula, Suzy sadar betul kalau ini semua adalah kesalahannya. Menghilangkan sebuah naskah tanpa sempat menyalinnya terlebih dahulu. Sungguh kesalahan yang sangat fatal bagi dirinya, sebagai seorang penyunting.

“Maafkan saya, Editor Jung. Kesalahan ini murni karena keteledoran saya jadi saya mohon agar Anda tidak menyalahkan Sohyun dan Kak Seokjin juga. Sungguh saya sangat menyesal sekali, tolong kali ini berikan saya kesempatan untuk menebusnya. Sa-saya akan menebusnya dengan cara apapun. Ya, saya akan – “

“Cukup.” potong Editor Jung sambil bertolak pinggang dengan tangan kanan yang masih memijat tengkuk kepala. “Menurutmu apa kaumampu meminta Kira untuk kembali mengirimi naskah ke mari? Alasan apa yang akan kaubilang kepadanya nanti, apakah mungkin kau akan berkata: Tuan Kira, apa Anda berkenan untuk mengirim naskah Anda kembali? Maafkan saya tetapi saya tidak sengaja telah menghilangkannya tanpa menyalinnya pula. Begitukah?!!”

Tertegun gadis itu sehingga tanpa sadar menatap lurus ke dalam bola mata gelap milik Editor Jung.

Dalam kondisi seperti ini permintaan maaf tentu saja tidak cukup dan tidak akan menyelesaikan apa-apa. Perkataan editornya barusan benar-benar tidak terpikir oleh Suzy. Bagaimana dengan reaksi Kira nantinya? Tentu saja penulis kawakan itu akan berpikir dua kali untuk mengirim naskah selanjutnya kepada mereka.  Kepercayaan kepada Penerbit Seungri untuk mencetak novel-novelnya akan lenyap; dia akan kabur ke penerbit lain, pastinya. Dengan kata lain, Penerbit Seungri sudah mengecewakan Kira. Ah tidak, tetapi Bae Suzy-lah yang mengecewakan penulis novel terkenal itu.

Anu, itu, yah, saya, “ respon Suzy terbata-bata. Ragu dengan jawabannya sendiri.

“Lihat ‘kan? Kau saja tidak yakin dengan usahamu ini.” simpul Editor Jung pasrah.

Di saat-saat genting dan mencekam, kebanyakan orang tidak dapat berpikir dengan jernih. Bukan bermaksud Suzy ingin mengecap Editor Jung seperti itu. Wajar saja apabila Editor Jung bereaksi seperti itu. Ini sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai ketua editor. Tetapi ini adalah tentang diri Suzy. Ayo berpikir! Cari solusi, Bae Suzy!

Dap!

Lutut Suzy membentur bumi. Di depan Editor Jung dan dua personel tim penyuntingan, Bae Suzy berlutut. Lebih pasrah Bae Suzy juga daripada atasannya itu. Kalau ditanya bagaimana perasaan Suzy sekarang, tentu saja sangat kacau. Seperti puzzle yang acak-acakan dan terbakar sampai hangus sehingga tidak bisa disusun lagi.  Bayangan kegagalan sebagai seorang penyunting pun sudah menghantui di depan mata. Sebagai orang yang diberi tanggung jawab, ia pun musti bisa untuk menjaganya.

Sohyun dan Seokjin tercekat di tempat. Dengan gestur yang memberitahukan kalau Suzy baik-baik saja, Sohyun dan Seokjin mundur. Menjadi agak segan untuk menyuruh rekan kerjanya itu berdiri. Suzy tidak ingin kedua sahabatnya itu terseret masalah yang ditimbulkan olehnya.

Biarkan saja ia menjatuhkan harga dirinya untuk satu kali ini saja. Persetan dengan harga diri yang dimiliki. Apa karena harga diri, Suzy akan lepas tanggung jawab? Oh tentu saja tidak. Ia akan memberikan semua yang ada pada dirinya demi profesi ini. Harga diri bukanlah satu-satunya yang tersisa. Di dalam gadis itu masih ada yang namanya keteguhan, kemauan, dan kerja keras.

“Editor Jung, saya akan bertanggung jawab. Saya akan meminta Kira untuk mengirim kembali naskahnya. Tidak peduli bagaimana caranya, saya pasti bisa melakukannya. Maka dari itu tolong beri saya waktu, saya mohon.” pinta Suzy kepada Editor Jung melalui nada suara yang tegas. Seratus delapanpuluh derajat berbeda dengan keraguan yang timbul sebelumnya.

Wanita bernama lengkap Jung Soyeon itu kembali menghela napas dengan berat; terdengar makin pasrah.

“Bae Suzy, ah kau benar-benar. Jujur saja, untuk saat ini aku tidak bisa membantumu. Aku tidak yakin. Tetapi mungkin aku hanya bisa meminta keringanan waktu tidak lebih dari sebulan untuk penerbitan novel ini.”

“Tiga minggu, beri saya waktu selama itu dan dalam kurun waktu itu saya pasti bisa mendapatkan dan menyunting naskah Kira. Saya mohon, percayalah kepada saya.” pungkas Suzy dengan percaya diri.

Mendengarnya tentu membuat ketiga orang yang berada di dalam ruangan lantai 26 itu sukses terdiam. Pemanas ruangan yang menyelimuti atmosfer di pagi yang dingin itu sudah hilang keberadaannya. Digantikan dengan suasana mencekam dan menggigil, persis seperti tanda-tanda angin tifun akan datang.

“Hei, apa kau gila? Bagaimana mungkin kaubisa menghubungi Kira yang terkenal misterius itu?!” Kecaman Sohyun memecah hening.

“Suzy, apa kau yakin? Katakan, apa yang bisa kami bantu? Apa perlu aku menelepon Kira sekarang?” tawar Seokjin membuntuti pertanyaan Sohyun.

“Iya, apa kau yak – eh, tunggu dulu. Hei, Kak Seokjin! Kau sudah gila juga?!”

“Baik. Tiga minggu lagi, aku tunggu naskahnya di mejaku.” putus Editor Jung dengan nada final.

Masih dalam posisi berlutut, Suzy mengerdipkan mata dan menatap Editor Jung tidak percaya. Tepukan di atas bahu yang diberikan oleh Seokjin pun menyadarkan Suzy dari keterdiaman.

“Editor Jung..”

“Tunggu apa lagi? Cepat bangun dan segera hubungi Kira!”

***

Suzy mengira kalau menghubungi Kira akan sesulit prediksinya namun ternyata tidak.

Demi Tuhan, apa keajaiban di bulan Desember begitu mencintainya? Oh tentu tidak. Kalau iya keajaiban Desember begitu mencintainya, sudah pasti ia  akan terbebas dari bala petaka sepert ini.

Saat ia menelepon Kira yang diketahuinya adalah seorang pria–terbukti dari vois yang didengar oleh Suzy karena terpaksa harus menelepon demi kepentingan penyuntingan naskah–untuk bertemu secara empat mata, tidak mendapatkan halangan sama sekali. Dengan satu ajakan, Kira setuju untuk bertemu dengan Suzy di sebuah kafe pastry terkenal di Hongdae, dekat Universitas Hongik.

“Yakin, tidak butuh bantuan kami?” tanya Sohyun memastikan.

“Tentu saja.” jawab Suzy dengan percaya diri. “Aku akan bertanggung jawab. Kalian cukup percaya dan berdoa saja untukku, oke. Dan untuk Kak Seokjin, sungguh kau tidak perlu menghubunginya. Biar aku saja yang bicara langsung kepadanya. Aku yakin dia pasti akan mengerti.”

“Tetapi mengapa pula sih kau tidak memintanya mengirim melalui email saja? Kau malah sampai repot-repot begini.”

Lelaki penyuka warna merah jambu itu hening sejenak. Berusaha mencerna kuesioner Kwon Sohyun.

“Hei, itu namanya profesionalitas dalam kode etik, Kwon Sohyun.” sahut Seokjin sambil menatap Sohyun tidak percaya. “Seorang penyunting harus bisa menjaga keprofesionalan dalam bekerja. Dan dalam hal ini karena Suzy ditunjuk sebagai penyunting dari Kira, dia musti bertemu langsung dengan Kira.”

“Meski kita semua tidak tahu bagaimana identitas dan rupa Kira yang serba misterius itu?”

 “Well, tentu saja.”

“Teman-teman.” seru Suzy sambil menggoyangkan kedua telapak tangannya. “Aku mungkin akan terlambat, aku harus pergi. Dan kejadian yang tadi; tolong jangan sampai ada orang lain yang tahu. Aku percaya kepada kalian, oke?”

“Percayakan pada kami.”

“Baik, terimakasih atas bantuan kalian. Aku pergi!

Sepeninggal Suzy, Seokjin termenung kembali di depan pintu ruangan penyuntingan. Sohyun pun lekas kembali menuju meja kerjanya yang tidak disusul oleh Seokjin. Dalam diam, pria tinggi itu berpikir cukup keras yang diakhiri dengan helaan napas (pada pagi hari ini, menghela napas dengan pasrah di kantor ini sedang menjadi trend).

.

.

“Tunggu, bukannya dia juga mengirimi naskah dalam bentuk soft-copy kepada gadis itu via email…”

.

.

Suhu yang menyentuh angka -6 derajat Celsius di ibukota tidak menyurutkan semangat Bae Suzy untuk menjemput naskah milik Kira. Setelah berhasil mengatur pertemuan–yang menurutnya terasa sangat ganjil karena sampai berhasil–dengan Kira pada hari ini juga, Suzy pun segera mengatur haluan menuju salah satu kafe pastry yang letaknya tidak jauh dari pusat jalan utama Hongdae.

Keadaan demografis Hongdae yang di kiri-kanannya dipenuhi jejeran toko berbagai jenis dipadati oleh para warga. Mereka yang datang ke Hongdae kebanyakan adalah muda-mudi Seoul. Variasi produk yang dimulai dari produk kecantikan, fashion, hingga makanan menjadi andalan Hongdae yang bisa ditemukan tanpa perlu usaha. Produk-produk berharga kaki lima sampai bintang lima dapat dengan mudah ditemukan di sini. Mencuci mata dengan sekedar berkelilingin Hongdae pun cukup mengasyikkan. Namun maksud dan tujuan Suzy datang ke sini tentu bukan untuk itu.

“Kau memang idiot, Bae Suzy. Mengapa kecerobohanmu tidak hilang-hilang, sih?” rutuk Suzy kepada dirinya sendiri.

Uap keluar dari mulutnya meskipun ia sudah memakai setelan berlapis-lapis. Muffler yang melilit di leher, Suzy tarik hingga menutupi separuh wajah sebatas bibir. Pertengahan Desember yang sudah di depan mata pun menandakan cuaca yang semakin ekstrim. Suhu yang semakin menurun tak pelak menghasilkan lapisan es di atas jalan. Dan kalau sudah begini tentu saja kita harus berhati-hati kalau tidak mau, terpeleset.

“Harusnya yang aku pelihara itu hewan peliharaan seperti kucing bukannya kebodohan dan kecerobohan. Uh, aku benar-benar malu pada diriku sendiri. Ya Tuhan!”

Setelah sebulan penuh begadang tiap malam untuk menyunting naskah milik Kira, semuanya jadi terbuang sia-sia. Hilangnya naskah tanpa sempat menyalinnya terdahulu adalah kebodohan yang fundamental. Satu-satunya yang bisa disalahkan tentu saja gadis itu. Tapi mau bagaimana lagi? Beras sudah menjadi teokbokki.

Penyesalan adalah hal yang sia-sia. Seberapa banyak Suzy menyesal kalau tidak melakukan sesuatu; naskah yang hilang itu tetap tidak akan merangkak untuk kembali lagi. Entahlah. Ia sendiri tidak mau tahu bagaimana naskah yang ia momong selama hampir satu bulan itu mendadak tidak bisa dibuka dan kembarannya lenyap ditelan bumi. Padahal, sudah jelas kalau naskah dalam bentuk hard-copy itu tidak berkaki.

Begitu juga dengan perasaan gadis itu. Perasaan gadis itu tentu saja kacau balau tak bersisa–ingat ‘kan, bahkan Suzy sampai menggadaikan harga dirinya–lantaran pekerjaan yang sangat dicintainya berada di ujung tanduk. Kalau ia tidak berhasil menyelesaikan perkara yang satu ini, mari katakan sayonara untuk riwayat Suzy sebagai penyunting.

Terlalu sibuk dengan perasaannya sendiri tanpa sadar membuat Suzy sedikit lupa kalau ia tengah berada di tengah jalan. Dan karena itu, ia pun tidak menaruh atensi pada kontur jalanan sekitarnya. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, di pertengahan Desember menjelang Natal dengan cuaca yang semakin ekstrim; di atas jalan yang terlapisi oleh lapisan es; berhati-hatilah dalam melangkah. Sebab kalau tidak, kau akan…

Sutt!

.

Dag!

…terpeleset dengan tidak anggun. Sepatu lars yang dipakai oleh Suzy pun sukses menginjak lapisan es yang licin sehingga membuatnya tergelincir karena tidak bisa menahan keseimbangan tubuh. Bokongnya jatuh mencium lantai terlebih dahulu. Orang-orang di sekitar melihatnya sekilas namun tidak berniat untuk membantunya atau apalah. Dalam hati, Suzy pun mengutuk individualisme warga Korea yang semakin menjadi, khususnya untuk para remaja. Terakhir, ia juga menyumpahi dirinya sendiri akibat list kebodohan dirinya yang bertambah.

“Uh, Nona! Apa kau baik-baik saja?” tanya seorang pemuda dengan suara yang begitu pelan. Pemuda itu pun berjongkok di hadapan Suzy yang masih terduduk seperti pengemis di tengah jalan. “Anda mau dibantu untuk berdiri?”

“Tidak terimakasih. Saya bisa berdiri sendiri.“ tolak Suzy halus sambil berusaha bangkit.

Rasa nyeri pun mewarnai permukaan bokong hingga ke ubun-ubun gadis itu. Namun karena alas karet sepatu larsnya kembali menyentuh permukaan jalan yang begitu licin, Suzy pun kembali terjerembap dengan tidak elegan. Kali ini pangkal lengan Suzy yang mendarat lebih dahulu. Pangkal lengan sebelah kiri si gadis pun terkilir karena menahan beban yang tidak wajar dari tubuhnya sendiri.

“Tanganku! Jangan sampai terkiliri, kumohon! Ya Tuhan!” lirih gadis itu sembari merasakan nyeri di sekujur pangkal lengannya.

“Nona, sepertinya lengan Anda terkilir. Biar saya bantu antar ke rumahsakit terdekat.” tawar pemuda tanpa nama yang masih berada di situ.

“Ya? Tidak-tidak, terimakasih. Saya bisa mengurusnya sendiri. Sebaikanya, Anda pergi saja.”

“Tetapi inflamasi pada lengan Anda bisa bertambah parah kalau tidak segera ditangani. Mungkin, juga akan menghambat pekerjaan Anda.”

Mendengar rincian yang satu itu tiba-tiba tubuh Suzy melemas seperti ayam dimasak presto. Tulang-tulang yang menyangga tubuh gadis itu menghilang. Bisa dibilang ia bernasib serupa dengan Harry Potter yang diobati oleh Prof. Gilderoy Lockhart pada seri Harry Potter ke-2: Harry Potter and the Chamber of Secret, saat bermain quidditch.

“Oh tidak! Naskahnya, Editor Jung, pekerjaanku” seru Suzy agak kalap. “Tidak, aku tidak boleh kehilangan pekerjaan dan menjadi pengangguran! Ya Tuhan! Aduh, lenganku sakit sekali!”

Orang-orang yang melintasi jalan tersebut pun menoleh ke arah mereka berdua. Raut wajah pemuda berkulit cenderung pucat itu tiba-tiba berubah warna menjadi kemerahan. Bingung sekaligus heran dan tidak tahu harus berbuat apa-apa.

“Mengapa hidupku jadi kacau begini? Ibu!! Aku mau pulang, “ ceracap Suzy tanpa memerdulikan tatapan orang-orang untuknya.

“Nona, sebaiknya Anda segera bangun dari sini. Biar saya bant – “

.

Tes, tes, tes.

Pemuda itu pun mematung menatap wanita yang tiba-tiba menangis di hadapannya. Airmata turun di kedua pipi Suzy. Dalam sekejap, aliran keristal itu mengalir dengan deras. Tidak ada lagi racauan yang keluar dari mulut gadis itu. Frustasi seakan-akan tergambar begitu jelas pada setiap isakan yang mulai terdengar.

Orang-orang yang melihat mereka sontak melayangkan pandangan kepada pemuda yang masih berada di dekat Suzy. Pandangan-pandangannya kurang lebih bisa didefinisikan sebagai:

“Dasar pemuda brengsek!”

“Bodoh atau apa sih pemuda itu? Mengapa hanya diam saja melihat pacarnya menangis?”

“Dia pikir dia itu hebat bisa membuat seorang wanita menangis.”

“Hei, kau bodoh atau apa? Di saat wanitamu sedang menangis apa kau hanya berdiam diri saja?”

“Ya??” Wajah pemuda itu pun sontak menjadi kebingungan. “T-tapi dia bukan pacarku.”

“Apa kaubilang? Sudah membuat seorang wanita menangis dan sekarang kauberani bilang kalau dia bukan pacarmu?!”

Pemuda jangkung itu menghela napas. Tanpa mau mendebat ucapan orang di sekitarnya, ia lekas membantu Suzy berdiri dari duduknya. Dengan sigap, ia pun memapah Suzy yang masih meratapi kisah sedihnya di hari Senin. Membiarkan gadis itu meluapkan emosi sebanyak-banyaknya melalui airmata yang tidak berhenti mengalir.

***

To be continued.

36 responses to “[1/2] Indiscreetly, Fondly

  1. Pingback: [2/2] Indiscreetly, Fondly | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  2. wah keren nih, pemilihan kata2nya tidak biasa lucu dan menggemaskan..ko aq baru baca ya…???ceritanya menarik banget apalagi beras sudah menjadi ttopokki hahaha,,,,,

  3. Aduh kakak ga kuat banget bahasanya
    Demografi, fundamental adanya di pelajaran geografi sama pkn itu kayaknya haha
    Inflamasi apa pula?
    Storyline nya bagus menurutku, tapi bahasanya membuatku bingung-,- maafkan^^v

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s