[OS] Promise

tumblr_n4jp5gqZPz1s6o85ko1_500

Title: Promise | Author: Macchiato

Genre: Romance| Rating: G | Length: Oneshot

Main Cast: Bae Sooji, Kim Myungsoo

 

Pict from Tumblr

I don’t own anything besides the storyline

Promise

I’ll wait for you, no matter for how long it takes.

“Ini sepupuku, Sooji. Bae Sooji”

Myungsoo kecil tersenyum lebar. Dengan semangat disodorkannya tagannya untuk bersalaman dengan sepupu Sungyeol.

“Hai, Sooji! Senang bertemu denganmu!”

Gadis kecil berkuncir kuda itu ikut tersenyum, menunjukkan satu gigi depannya yang tanggal, dan menerima uluran tangan Myungsoo.

Saat akhirnya tautan tangan merekaterlepas, Myungsoo menatap Sooji lekat-lekat. Senyum masih terlampir di wajahnya.

“Sungyeol sering sekali bercerita tentangmu. Dan dia benar, kau cantik Sooji”

Pipi Sooji merona sedangkan Sungyeol tertawa mendengar pengakuan Myngsoo. Gadiss kecil itu kemudian bersembunyi di balik punggung sepupunya.

“Jangan menggodanya, Myung.”

Myungsoo menggaruk pipinya, “Dia memang cantik ‘kan?”

Sungyeol tersenyum kemudian menarik sepupunya agar tidak lagi bersembunyi di belakangnya. Tangannya menepuk perlahan kepala gadis yang lebih muda dua tahun darinya itu.

“Kau dengar itu, Sooji. Myungsoo bilang kau cantik, jadi kau harus lebih sering tersenyum, oke?”

Sooji menunduk memainkan jari-jari tangannya, rona merah belum juga hilang dari pipinya.

Myungsoo tertawa melihat Sooji yang salah tingkah.

“Jadi, Sooji, bagaimana hari pertamamu di Seoul?”

Sooji mendongak menatap Myungsoo yang juga sedang menatapnya dengan mata berbinar.

“Seoul indah kan?” Tanya Myungsoo lagi.

Kedua sudut bibir Sooji terangkat. Gadis kecil itu kemudian mengangguk menjawab pertanyaan Myungsoo.

Myungsoo kembali tersenyum lebar, “Selamat datang di Seoul, Sooji.”

Hey, Myungsoo oppa.

Usiaku 7 tahun saat kita pertama kali bertemu. Kau tahu oppa? Kau sangat terang saat itu. Terang dan menenangkan. Saat itu, untuk pertama kalinya aku bertemu seseorang yang tidak memandangku dengan tatapan meremehkan atau mengasihani.

Gomawoyo, oppa.

Gomawo, Sooji-ah,” ucap Myungsoo sambil menerima botol air pemberian Sooji.

Sooji tersenyum kemudian mengangguk kecil.

Myungsoo kemudian duduk di sebelah Sooji dan meneguk minumnya cepat-cepat. Begitu merasa sudah puas minum, disiramkannya air yang tersisa di botol ke kepalanya.

“Aaa segar sekali,” seru Myungsoo.

Sooji hanya tersenyum kecil melihat tingkah Myungsoo. Myungsoo selalu melakukan hal itu begitu selesai bermain bola. Tidak berbeda dengan Sungyeol.

“Kau tahu, Sooji-ah, aku memang kalah tapi itu karena mereka bermain curang! Mereka kasar sekali mainnya. Seandainya ada Sungyeol di sini pasti mereka tidak akan bertingkah”

Lagi-lagi Sooji hanya tersenyum menanggapi. Sungyeol memang tidak ikut bermain dengan Myungsoo sore ini karena ekskul pramuka yang diikutinya mengadakan camping dan pastinya Sungyeol ikut. Namja itu terlalu menyukai kegiatan alam dan tak mungkin melewatkannya.

“Myung! Ayo kerumahku, aku punya games baru!”

Sooji menolehkan kepalanya begitu mendengar sebuah suara yang meneriakkan nama Myungsoo dari seberang lapangan.

“Tidak, terimakasih! Aku mau pulang saja!” Kali ini teriakan Myungsoo yang terdengar. Sooji menyipitkan matanya berusaha memperjelas pandangannya pada seorang anak yang kini berlari-lari kecil menuju dirinya dan Myungsoo. Seorang namja kecil dengan baju berarna merah yang sudah penuh noda.

“Kau yakin, Myung? Aku punya FIFA terbaru!”

Myungsoo menggeleng, “Tidak. Aku mau pulang saja. Lagipula aku harus mengantar Sooji pulang.”

Pandangan mata anak itu kemudian beralih pada Sooji yang sedang sibuk menggigit bibir bawahnya.

“Memangnya dia tidak bisa pulang sendiri? Merepotkan sekali”

Tuk

Sebuah botol kosong mengenai kepala anak itu.

“Yya! Kau sengaja melemparku?”

“Pergi sana, Lee Sungjin. Kau menggangguku.

Namja kecil itu -Lee Sungjin- memberengut kemudian mengusap dahinya yang terasa sakit.

“Yya! Seharusnya kau berterimakasih aku mengajakmu. Daripada kau bermain dengan dia!” Seru Sungjin sambil menunjuk Sooji.

Sooji yang merasa dipojokkan hanya menunduk dan memainkan jari-jari tangannya. Sooji sakit hati mendengarnya namun Sooji tidak bisa mengelak, di sudut hatinya Sooji tahu dia sudah terlalu sring merepotkan Myungsoo dan seharusnya Myungsoo bisa memilih untuk tidak terjebak bersamanya.

Myungsoo bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Sungjin.

“Itu urusanku mau main dengan siapa” Teriak Myngsoo sambil mendorong bahu Sungjin dengan jari telunjuknya. Sungjin bergerak mundur. Sedikit terkejut melihat mata Myungsoo yang berkilat marah.

Sungjin membuka mulutnya hendak membalas umpatan Myungsoo namjn sedetik kemudian dikatupkannya kembali. Ditatapnya Myngsoo yang masih memasang wajah siap tempur padanya.

“Cih, Terserah kau saja, Kim Myungsoo!” Dengan decakan sebal Sungjin kemudian melenggang pergi, meninggalkan Myungsoo dan Sooji di pinggir lapangan yang sudah sepi.

Melihat punggung Sungjin yang sudah menjauh, Myungsoo akhirnya menghela nafas. Namja itu kemudia melangkahkan kakinya menghampiri Sooji.

“Ayo kita pulang, Sooji-ah.” Jawab Myungsoo sambil meraih tasnya namun sebelum tasnya terangkat sempurna, Sooji menahannya.

Wae?” Myungsoo menatap Sooji yang juga sedang menatapnya. Sooji diam, tidak mengatakan apapun dengan tangannya yang tetap memegangi tas Myungsoo erat. Myungsoo menghela nafas begitu melihat mata Sooji yang berkacaa-kaca. Perkataan Sungjin pastinya menyakiti hati Sooji. Myungsoo mengangkaat tangannya kemudian mengelus kepala Sooji perlahan.

“Jangan dengarkan Sungjin, Sooji-ah. Kau tidak sedikitpun merepotkanku, lagipula aku juga sudah berjanji pada Sungyeol untuk menjagamu.”

Hey, Myungsoo oppa.

Aku selalu menyukai saat-saat aku menunggumu bermain bola. Kau sangat keren di lapangan, oppa. Dan kau selalu menjagaku dari Lee Sungjin. Kau masih ingat dia ‘kan? Sungjin kecil yang selalu mengenakan kaos bergambar superman saat bermain bola bersamamu dan Yeol-oppa. Bagaimana kabarnya ya? Dia pindah saat usiaku 11 tahun ‘kan? Saat itu kau hampir menangis karena meskipun dia sering menggangguku dan kalian sering bertengkar, tetap saja kalian tim yang hebat saat bermain bola. Rasanya sudah lama sekali aku tidak melihatnya ah ani, sudah lama sekali aku tidak melihatmu bermain bola.

Gomawoyo karena selalu mau kurepotkan, oppa.

“Sooji!” Seru Myungsoo.

Sooji menolehkan kepalanya menuju sumber suara. Buku dipangkuannya ditutupnya begitu dia melihat Myungsoo di muka rumah. Sooji tersenyum kecil melihat Myungsoo yang kemudian menghampirinya dengan semangat.

“Harusnya kau tidak menungguku di teras Sooji. Cuaca sangat dingin hari ini” ucap Myungsoo sambil melepaskan topi rajut yang bertengger di kepalanya. Tak lama, topi rajut itu sudah mendarat di atas kepala Sooji.

“Lebih hangat ‘kan?” Ucap Myungsoo sambil tersenyum. Senyum yang menampilkan lesung pipi kesukaan Sooji. Sooji merasakan pipinya menghangat. Cuaca memang dingin hari ini tapi Myungsoo selalu menjadi mataharinya, menghangatkannya. Namun apa Sooji juga bisa membuat Myungsoo merasakan hal yang sama?

Sooji kemudian mengangkat kedua tangannya dan menangkup wajah Myungsoo. Dengan perlahan digosokkannya telapak tangannya pada pipi Myungsoo. Senyum Myungsoo melebar.

Geokjongma, Sooji. Aku itu namja. Namja itu harus tahan dingin, geutchi?”

Hey, Myungsoo oppa.

Kau tahu musim favoritku? Tentu saja musim dingin! Karena salju. Karena coklat hangat. Dan karena kau oppa. Kau membuatku merasa selalu hangat. Kau dan topi rajut merahmu.

Gomawoyo karena sudah menjadi matahariku, oppa.

“Perkenalkan, dia Bae Sooji sepupuku.”

Sooji tersenyum kecil kemudian membungkuk sopan.

Annyeong, Yura imnida”

Joneun Sohee imnida, bangapseumnida

“Minhyuk. Kang Minhyuk. Bangapseumnida

Sooji kembali membungkukkan tubuhnya begitu ketiga orang di depannya selesai memperkenalkan dirinya masing-masing. Sooji tersenyum canggung kemudian melangkah menuju dapur untuk menyiapkan suguhan bagi teman-teman Sungyeol.

“Dia Sooji yang selalu diceritakan, Myungsoo?”

Samar-samar Sooji dapat mendengar percakapan Sungyeol dan teman-temannya. Sooji yakin itu suara Minhyuk, satu-satunya suara namja-selain Sungyeol pastinya.

Sooji kemudian mendengar suara tawa Sungyeol.

“Dia cantik, pantas saja Myungsoo tergila-gila padanya.”

Masih samar tapi Sooji dapat mendengarnya. Senyum pun tidak luput dari wajah Sooji. Sedikit rasa bangga menyeruak di hatinya begitu tahu Myungsoo selalu mengingatnya dan selalu menyebutnya bahkan di sekolah.

“Apa dia tidak sekolah? Sekolahnya sedang libur?”

Lagi-lagi Sooji dapat mendengarnya. Dan pertanyaan itu begitu menohok hatinya. Sekolah merupakan sekian dari banyak hal yang tidak bisa Sooji lakukan karena kondisinya.

Sooji menghela nafas kemudian mengangkat baki berisi empat gelas minuman dan setoples cemilan dan membawanya ke ruang tengah.

Sooji berusaha memaksakan senyumnya, meletakkan bakinya di sebelah Sungyeol, kemudian ikut duduk di sebelahnya. Sooji dapat merasakan suasana berubah canggung tidak seperti beberapa saat yang lalu. Sooji tersenyum tipis, dia tahu akan begini. Sooji yakin, Sungyeol telah mengatakan sesuatu yang membuat salah satu gadis di depannya itu menunduk dalam-dalam.

Minhyuk berdeham pelan berusaha mencairkan suasana. Ditatapnya Sooji, seakan meminta bantuannya, yang hanya menanggapi dengan senyum tipis. Terlhiat sekali bahwa Minhyuk tiba-tiba berubah gugup.

“Yeol, err kau punya naruto edisi terbaru kan? Boleh aku meminjamya?” Tanya Minhyuk ragu.

Sungyeol mengerjapkan matanya, “Sejak kapan kau membaca naruto?”

“Kau punya ‘kan? Di kamarmu ‘kan pastinya? Ku ambil ya?” Jawab Minhyuk cepat sambil bangkit dari duduknya.

Sungyeol menghela nafas kemudian ikut bangkit mengikuti Minhyuk.

“Yya, kau kira aku akan membiarkanmu mengobrak-abrik kamarku?”

Sooji tersenyum mendengar nada sarkastik dari ucapan Sungyeol. Sepupunya itu memang paling tidak suka kamarnya dimasuki tanpa izinnya. Melanggar privasi katanya.

“Ehem”

Sooji mengangkat sebelah alisnya, menatap heran Gadiss berambut coklat kemarahan yang duduk di depannya.

“Kau bersekolah dimana, Sooji-ssi?”

Tenggorokan Sooji tercekat. Bagaimana cara menjawabnya?

“Yya, Lee Yura, berhenti menanyakan hal itu” Gadis lainnya, yang berambut hitam panjang, mendengus sebal namun tidak mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang dibacanya.

“Aku ‘kan hanya ingin tahu” jawab Yura

“Myungsoo selalu membicarakannya, awalnya kukira Bae Sooji itu hoobae kita tapi ternyata bukan. Melihatnya di rumah saat ini berarti kau tidak sekolah tadi, geutchi? Apa kau sakit? Atau sekolahmu libur? Dimana sekolahmu?” tanya Yura bertubi-tubi.

Sooji tahu, Yura pasti bingung melihatnya berada di rumah menyambut mereka meski saat ini bukan hari libur. Apalagi ditambah fakta bahwa sekolah Sungyeol, YJS Hig School, merupakan sekolah terdekat di kawasan rumah Sooji, yang berarti Sooji tidak mungkin tiba lebih dulu dari mereka jika memang Sooji bersekolah di tempat lain. Sooji menghela nafasnya kemudian menggeleng pelan.

Waeyo?”

Sooji diam. Bingung. Jari-jarinya bertaut. Dibukanya mulutnya namun ditutupnya kembali.

Sooji kembali menghela nafas. Telunjuknya kemudian terangkat menunjuk mulutny sendiri kemudian disilangkannya kedua tangannya di depan dadanya.

Sedetik.

Dua detik.

Yura mengerjapkan matanya berkali-kali sedangkan Sohee masih sibuk dengan bukunya dan terlihat tidak peduli.

“Astaga” decak Yura. Gadis itu kemudin memposisikan lagi dirinya untuk melanjutkan tugasnya.

“Aku tidak menyangka Myungsoo menyukai seorang gadis cacat”

Hey, Myungsoo oppa.

Kau tahu kalau aku menyukaimu ‘kan?

Aah, lagipula siapa yang bisa tidak menyukaimu, oppa? Kau sempurna. Kau tampan, pintar, dan ramah.

Tapi.. kau juga menyukaiku juga ‘kan oppa? Bagaimanapun kondisiku? Apapun kekuranganku?

Kau dan Yeol oppa selalu membuatku merada menjadi gadis paling beruntung di dunia. Kau selalu berhasil membuatku merasa aku baik-baik saja meskipun aku tidak bisa bicara.

Gomawoyo, karena sudah menyukaiku, oppa.

Sooji menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, berusaha memperluas pandangannya. Namun nihil, Myungsoo tetap tidak tertangkap retinanya. Ssoji menghela nafas. Angin malam November mulai membuat giginya bergemeletuk, menggigil. Sekali lagi Sooji bertumpu pada ujung jari kakinya dan menenggakkan kepalanya agar dapat melihat melewati kerumunan orang-orang. Sooji harus menemukan Myungsoo. Harus.

Tapi sayangnya Sooji tidak bisa berteriak.

Sooji merasa hatinya tiba-tiba mencelos. Bagaimana jika Sooji tidak bisa menemukan Myungsoo? Bagaimana jika Myungsoo tidak bisa menemukan Sooji?

Kekuatan di kedua kakinya tiba-tiba menghilang. Gadis itu kemudian menyeret kakinya mejauhi kerumunan, mencari lokasi yang lumayan sepi kemudian menyenderkan punggungnya pada dinding pembatas Sungai Cheonggyecheon. Sooji menggigit bibir bawahnya, pikirannya mulai panik dan ketakutan mulai menyerangya.

Ditatapnya lagi kerumunan di depannya yang sedang menyaksikan festival lampion. Menimbang-nimbang apakah kembali ke kerumunan untuk mencari Myungsoo adalah pilihan tepat. Salahnya memang yangtidak menururi Myungsoo untuk selalu memegangi tangannya. Salahnya memang, mengikuti lampion berbentuk cicada raksasa tanpa peduli Myungsoo mengikuti di belakangnya atau tidak. Salahnya memang, memaksa Myungsoo untuk datang ke festival seperti ini, acara ramai yang biasanya Sooji hindari. Sooji mengeratkan jaket dan syalnya. Pandangannya mulai mengabur seiring bulir air matanya yang menggenang. Gadis itu kemudian menundukkan kepalanya dan terisak pelan.

Yyaa, jangan menangis.”

Sooji sedikit tertegun begitu merasakan sebuah tangan yang megusap pipinya. Tangan yang kemudian menghapus bulir-bulir air matanya. Tangan yang kemudian mengangkat wajahnya.

Kim Myungsoo.

Tangis Sooji semakin kencang begitu melihat Myungsoo yang kini beediri di depannya, dengan pluh yang bercucuran di dahinya.

Uljima” bisik Myungsoo. Namja itu kemudian merengkuh Sooji dalam pelukannya. Menepuk pelan pundak gadisnya yang berguncang karena menangis. Gadis yangmembuatnya berkeringat mencarinya di tengah musim dingin. Gadis yang membuatnya berlari seperti kehilangan kewarasan.

Mian, Sooji-ah. Kau pasti ketakutan.” Myungsoo mempererat pelukannya, tahu bahwa yang Sooji butuhkan saat ini adalah keyakinan bahwa dirinya sudah ditemukan.

Uljima. Aku di sini. Seperti janjiku, Sooji, aku pasti akan selalu menemukanmu”

Hey, Myungsoo oppa.

Kau tahu siapa yang kebih hebat dari Sherlock? Tentu saja kau, oppa!

Kau selalu berhasil menemukanku bahkan di tempat ramai sekalipun.

Aku selalu merasa takut pergi ke tempat ramai tapi kau yang membuatku berani melawan rasa takutku, oppa. Kau yang berjanji akan selalu menemukanku. Kau selalu berhasil membuatku merasa aman, oppa.

Gomawoyo, oppa. Saranghae.

Sooji duduk diam. Membiarkan semilir angin memainkan rambutnya. Membiarkan angin yang terasa menusuk kulitnya. Matanya terpejam. Hanya tedengar gesekan ranting dan nafasnya yang berirama.

“Kau benar-benar membiarkan aku pergi, Sooji-ah?”

Sooji tersenyum kecil. Pertanyaan yang sama yang sudah dilontarkan Myungsoo berulang kali.

Sooji dapat mendengar Myungsoo yang kini meghela nafas.

“Kau yakin akan baik-baik saja tanpaku?” Kali ini suara Myungsoo terdengar bergetar.

Sooji akhirnya menolehkan kepalanya. Menatap Myungsoo yang terlihat frustasi. Gadis itu kemudian tersenyum kecil sebelum memeluk Myungsoo erat. Mendengarkan detak Myungsoo untuk kesekian kalinya dan mungkin untuk terakhir kalinya. Menghirup dalam-dalam aroma bergamott kesukaannya.

Sooji merasakan tangan Myungsoo yang bergerak mengeratkan pelukan mereka. Myungsoo yang kemudian menciumi puncak kepalanya bertubi-tubi. Myungsoo yang kemudian tertawa sumbang tepat di telinga Sooji.

“Kau curang nona Bae. Kalau begini, akan makin sulit untuk kita berdua bukan?”

Hey, Myungsoo oppa.

Namja matahari. Namja beraroma bergamott. Namja bertopi rajut merah. Nae namja.

Oppa… berapa lama kau selalu di sekitarku? Sepuluh tahun, geutchi? Dimulai saat aku berumur 7 tahun dan kini usiaku hampir 18 tahun. Dimulai saat kau masih berseragam sd dan kini kau yang akan bergelar dokter.

Lama ya oppa? Lebih dar setengah usiaku.

Kau bagian penting dalam hidupku, oppa. Tanpamu, cerita hidupku hanya kanvas tanpa warna. Tanpamu, aku hanya Bae Sooji yang kasat mata. Tanpamu, aku Bae Sooji yang tidak mengenal cinta.

Gomawoyo, oppa.

Aku bersyukur pada Tuhan telah memberiku kesempatan untuk mengenal Kim Myungsoo.

Kau mengajariku banyak hal, oppa. Tentang hidup dan mimpi. Tentang janji yang harus ditepati. Kau berjanji akan menjadi seorang dokter bedah yang handal bukan? Kau harus menepatinya, oppa.

Na do. Aku akan menepati janjiku untuk selalu mendukungmu. Untuk selalu mengirim doaku di setiap langkahmu.

Kau juga pernah berjanji untuk selalu menemukanku ‘kan oppa? Aku akan menjanjikan hal yang sama untukmu.

Kali ini aku yang akan menemukanmu oppa. Kali ini biarkan aku yang mencarimu. Kali ini biarkan aku yang menyusulmu.

Tapi kau harus menunggu. Kau mau menunggu kan oppa?

Saranghaeyo, oppa

Myungsoo menyeduh kopinya kemudian menyesapnya perlahan. Shift malam di ruang ICU bukanlah perkara mudah. Myungsoo harus bersusah payah melawan rasa kantuknya.

Namja itu meraih selembar roti dan memakannya langsung tanpa menggunakan topping apapun. Kakinya kemudian membawanya menuju kamarnya yang terlihat berantakan. Sudah sebulan Myungsoo dipindah tugaskan ke NYU Medical Center tapi dirinya belum sempat juga merapihkan barang-barangnya. Dengan helaan nafas, Myungsoo mulai membongkar kardus-kardus yang masih tersegel.

Di kardus ketiganya, Myungsoo menemukan tumpukan kertas dan foto. Semua yang berhubungan dengan Sooji. Dengan senyum getir Myungsoo menarik selembar kertas kemudian membacaanya. Kertas yang sudah menguning dan terkoyak di beberapa bagian. Kertas yang memberinya kekuatan di tahun-tahun pertama kepindahannya ke Amerika.

“Kau memintaku menunggu, Sooji-ah. Harus berapa lama lagi aku menunggu?”

dr. Kim, you could go home now. You look miserable. I will ask dr. Jung to replace you for your shift.”

Myungsoo menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal, “I-“

“It’s okay. Everyone needs a break. Tonight is Christmas Eve anyway. You better go home and enjoy your holiday.”

Myungsoo tersenyum kaku, kemudian membungkukkan tubuhnya sedikit. Kebiasaan Koreanya yang tidak hilang.

Thank you, dr. Grey

Wanita paruh baya yang merupakan kepala tim Myungsoo itu kemudia melangkah terburu meninggalkan Myungsoo yang masih sibuk dengan cangkir kopinya.

Tak lama berselang, pintu yang baru saja dilewati dr. Grey kembali mengayun terbuka.

“Yya! Kau curang sekali. Kau diberi izin pulan oleh dr. Grey ‘kan?”

Myungsoo menatap gadis di depannya sambil tersenyum kecil.

“Curang katamu? Kau bahkan sudah mengambil cutimu minggu lalu.”

“Tapi tetap sa-“

“Aku berjaga malam tiga hari berturut-turut ini, Jung Soojung. Tentu saja aku layak mendapatkannya.”

Gadis itu mempoutkan bibirnya kemudian mengentakkan kakinya.

“Tapi kenapa harus aku? Aku sudah ada janji malam ini.”

Myungsoo terkekeh pelan, “Mungkin karena kita sama-sama dari Korea.”

“Yya! Aku lahir dan besar di California!”

“Tapi tetap saja, margamu Jung!” seru Myungsoo.

Dwesso! Kau menyebalkan!”

Myungsoo kembali terkekeh melihat tingkah menggemaskan Soojung.

“Jadi, apa rencanamu?”

Myungsoo mengangkat sebelah alisnya, tak mengerti.

“Apa rencanamu di malam natal ini? Kau tahu kau bisa ikut dengan Claire, dia akan me-“

Myungsoo mengangkat tangannya, meminta Soojung berhenti. Tentu saja Myungsoo tau apa yang akan Soojung rekomendasikan padanya. Kencan buta. Kegiatan membosankan yang manfaatnya sangat minim.

Soojung mendengus, “Lantas? Mau menghabiskan waktumu dengan surat-surat berhargamu lagi?”

Myungsoo tersenyum getir, “Ide bagus, Jungie.”

Soojung menatap Myungsoo prihatin, “Kau harus mulai move on, Myungsoo-ya.”

Myungsoo tertawa, “Geurae? Aku seharusnya sudah melupakannya. Tapi aku terlalu mempercayainya, Jungie. Aku percaya bahwa dia akan menepati janjinya, bahwa dia akan menemukanku.”

Myungsoo menggosok-gosokkan tangannya yang sudah tertutup sarung tangan. Udara New York malam ini memang menembus angka negatif. Myungsoo mempercepat langkanya melewati kerumunan Rockefeller Center, lokasi pohon natal yang gaungnya terdengar dimana-mana.

Sampai di depan pohon natal raksasa itu, Myungsoo terdiam. Natal ke limanya tanpa Sooji. Senyum tipis terukir di bibirnya, dipejamkan matanya perlahan untuk menangkan hatinya. Tiba-tiba dirasakannya hangat di kedua pipinya yang membuatnya serta merta membuka matanya.

Di hadapannya, berdiri seorang gadis bersyal merah marun. Matanya yang coklat menatap Myungsoo dalam-dalam. Perlahan, sudut bibir Myungsoo terangkat. Tangannya kemudian menggenggam tangan si gadis yang masih menempel di pipinya.

“Hai” bisik Myungsoo serak

Gadis itu tersenyum, menampilkan rona merah kesukaan Myungsoo.

“Hei, Sooji”

Tangan Myungsoo kemudian meraih pinggang ramping gadis itu, menariknya dalam pelukannya.

“Aku tahu kau akan menemukanku”

 

-FIN-

Annyeong! Aku bawain OS lagi. Ditunggu RCLnya yaa

Mian for any typos

Gomawo :3

 

 

 

 

 

 

Advertisements

29 responses to “[OS] Promise

  1. Daebakkk… ngena ke hati… oho…
    Sesuai janji, mereka menepatinya, dengan penuh keyakinan, bahwa hari itu akan tiba…
    Jhoaaa…. ^^

  2. Astaga thorr aku terharu lohh baca nya #lebay. Ksian yah zyeonn selalu direndahin sm orang lain untung nya ada myungppa dan yeol oppa good job dehh buat mrk berdua (y) cerita nyajuga bagus kok thor 😀 tpi aku butuh sequel kyk nya hehehehe

  3. Ceritanya sangat sangat mengharukan…kesel bgt sampe pengen nangis d bagian teman nya yoel ngeremehin sooji karna keurangan nya,,,salut bgt sm myung yg masih menjaga cintanya buat sooji meskipun sooji g sempurna dan jrak memisahkn mreka, msh ada g y namja ky myung d zman sekarang yg milih pacar bukan hanya karena fisik doang? 🙂

  4. Sukaaaaaaa~
    Akhirnya mereka bertemu lagi :’))))
    Mau nunggu berapa tahun pun kalau emang jodoh bakal dipertemukan.
    Aku suka ceritanya thor, kesetiaan mereka berdua, saling percaya satu sama lain dan yang terpenting myungsoo bisa nerima suzy apa adanya ♥

  5. Wiiih keren ceritanya ih sangat menyentuh
    Sooji benar2 beruntung memiliki myungsoo yg super duper setia dan myungsoo sangat beruntung memiliki sooji yg mau berusaha dgn segala kekurangannya aigoo So romantic
    Ditunggu karya lainnya author-nim

  6. Suzy beruntung punya myung yang nerima apa adanya dan menjaga suzy..
    Suka sama kesetiaan mereka dan rasa kepercayaan mereka jd myung suzy bisa bersatu lagi

  7. Pingback: Promise | Splashed Colors & Scattered Words·

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s