[Freelance] We Are Not King and Queen Chapter 8 Final

Title : We Are Not King and Queen | Author : kawaiine | Genre : Historical, Marriage-Life, Romance | Rating : PG-17 Main Cast : Bae Soo Ji as Queen Soo Ji,Kim Myungsoo as Kim Myung Soo | Other Cast : Kim Do Yeon as Hee Bin (Selir Tk.1), Lee Min Ho

“This plot and story is pure from my mind. Sorry for typos, don’t be a siders and plagiator. Happy reading :*”

 

PS: Readers, ff Kwajangnim chapter 8 akan saya protect,yang mau password syaratnya sudah comment dari awal-akhir (chapter 7) dan untuk yang ingin mendapatkan password, hubungi saya melalui ig:@sookawaiine1013 | wp:baesukimyungsoo.wordpress.com | e-mail: abdinidrani@gmail.com | Facebook : Drani Abdini Rochmah. Silahkan hubungi saya ya, hitung-hitung tambah teman, thanks🙂

“Sooji, kau kah itu?” Myungsoo berjalan menghampiri gadis dihadapannya, ia menatap mata sang gadis dengan penuh kerinduan, kerinduan dan cinta yang mendalam. Sementara gadis itu hanya mengerutkan keningnya. Sorotan mata gadis ini yang terkesan sangat kesal tadi kini berubah—seolah sama merasakan apa yang dirasakan pria dihadapannya.

“Aku merindukanmu Sooji-ah…” kini wajah gadis ini dan Myungsoo nyaris sangat dekat. Dan…

“Eoh…” gadis ini terkesiap, membuat mulutnya terbuka sempurna, pria dihadapannya memeluk tubuhnya dengan erat,dan apa yang membuat gadis ini tak berniat melepaskan pelukan pria dihadapannya? Selain ia menyadari bahwa pria ini tengah menangis, ia juga merasa pernah merasakan hal ini sebelumnya—tapi…dimana? dengan siapa?

“Aku tahu kau masih hidup, aku tahu kau tak akan meninggalkanku seperti janji kita berdua dahulu,bukan? Kau tahu Daejun sangat merindukanmu, Inswan menangis setiap malam lagi-lagi karena merindukanmu, dan aku…kau dapat melihat bagaimana hancurnya hidupku tanpamu.” Myungsoo kini melepas pelukannya, berusaha menatap dalam manik mata gadis dihadapannya yang tak berucap apapun, hanya sorot mata gadis itu yang menjawab pertanyaan Myungsoo, gadis itu tak mengerti. Sebenarnya siapa pria ini? hal ini membuat gadis itu terdiam, perlahan matanya menatap pria dihadapannya, menatap pria yang benar-benar hancur pikirnya, lihat saja kumis beserta janggut yang menghiasi wajah tampan pria ini, dan—mata yang selalu sayu, yang tak sesuai dengan kulit putih wajahnya.

“Mengapa kau hanya terdiam? Apakah kau tak merindukanku?Apakah kau tak ingin bertemu dengan In Swan dan Daejun?Hm?” Myungsoo menggenggam erat tangan gadis dihadapannya, menariknya untuk mengikuti langkahnya, tapi—

“Sebenarnya kau siapa?” pertanyaan yang keluar dari mulut mungil gadis itu bukanlah sesuatu yang diharapkan Myungsoo—sama sekali bukan. Dan hal itu tentu saja membuat Myungsoo menghentikan langkahnya,melepas genggaman tangannya yang menggenggam erat tangan gadis itu. Serasa tak rela dilepaskan—gadis itu kini menatap sendu tangannya yang terlepas dari genggaman Myungsoo.

“K—Kau tak mengingatku?” tanya Myungsoo, gadis ini hanya menggeleng. Ia tak mengerti sebenarnya apa ini—hatinya merasa sangat tak enak ketika menggeleng seperti ini,sementara Myungsoo masih setia menatap matanya. Gadis itu kini melangkah,meninggalkan pria dihadapannya. Tapi—Myungsoo menahan tangannya.

“Kau benar-benar tidak mengingatku? Sedikitpun? Aku, Aku, Kim Myungsoo—suamimu, kau tak mengenalku yang sekian tahun menghabiskan waktu bersamamu? Hingga kita diberikan sebuah kepercayaan memiliki kedua malaikat yang menjadi pelengkap pernikahan kita, kau tak mengingat itu?” gadis ini hanya menggeleng—ia sama sekali tak mengenal pria dihadapannya.

“Kau sepertinya keliru—namaku Nami, Song Nami. Aku bukanlah wanita yang kau sebutkan tadi—bahkan aku belum menikah dan memiliki anak. Aku bukan Sooji-mu.” perkataan Nami, mampu membuat Myungsoo kembali mengecilkan hatinya—tapi kenapa ia sangat yakin bahwa gadis ini adalah Sooji.

“Dimana kau tinggal?”

“Aku tinggal di ujung perbatasan kaki gunung.Kau sebaiknya kembali kerumahmu Ahjussi.” Nami kini membalikkan badannya lalu meninggalkan Myungsoo yang berdiri mematung.

“Aku yakin kau Sooji.” batin Myungsoo, ia menyunggingkan senyumnya lalu mengikuti Nami dari belakang. Merasa ada sesuatu yang mengikutinya, Nami kemudian berbalik ke belakang. Myungsoo menghentikan langkahnya.

“Hei! Ahjussi kau mengikutiku?” tanya Nami pada Myungsoo, Myungsoo hanya tertawa.

“Aku ingin dekat denganmu. Bolehkah? Aku akan mengantarmu kerumah dan memastikan bahwa kau baik-baik saja.” Nami kemudian mendelikkan matanya, membuat Myungsoo semakin gemas melihatnya. Nami kemudian melanjutkan langkahnya. Diikuti dengan Myungsoo yang berjalan dibelakangnya.

“Jika kau tak mengingat apapun tentang kita, aku akan membantumu mengingat apa yang pernah kita lakukan dimasa lalu.” batin Myungsoo. Myungsoo berjalan dengan tenang, ia kemudian menghentikan langkahnya. Nami tetap melanjutkan langkahnya. Tak lama kemudian Nami sampai pada tujuannya.

“Jadi, disini rumahmu?” tanya Myungsoo, Nami mengangguk.

“Kau pergilah Ahjussi, untuk apa kau mengikutiku.” ujar Nami, Myungsoo mengangguk tersenyum.

“Aku akan pulang.” tutur Myungsoo, Nami hanya terdiam.

Pengawal Mun masuk kedalam ruangan Myungsoo setelah Kasim Yang mengatakan bahwa Myungsoo memanggilnya. Pengawal Mun memberikan hormat terlebih dahulu sebelum ia duduk dihadapan Myungsoo.

“Aku ingin kau menyelidiki rumah kecil di kaki pegunungan. Jika kau tahu siapa wanita yang tinggal disana kau akan terkejut dan tak percaya.” ujar Myungsoo, Pengawal Mun mengerutkan dahinya.

“Sooji—wanita itu mirip dengan Sooji, tetapi ia tak mengingatku sama sekali. Dan sepertinya ia tinggal bersama kedua orang tuanya. Ia berkata bahwa ia bernama Song Nami.”

“Jadi, kemungkinan besar Yang Mulia Ratu Soo masih hidup dan ia sepertinya hilang ingatan.” sambung Myungsoo, Pengawal Mun mengangguk.

“Aku akan melaksanakan perintahmu Yang Mulia.”

“Ingatlah untuk bekerja dengan teliti tanpa menimbulkan kecurigaan untuk warga disana.”

Myungsoo menghampiri Daejun setelah dirasa Daejun bosan dengan permainannya, ia menatap Daejun dan mensejajarkan tingginya dengan sang putra kesayangannya.

“Kau bosan?” tanya Myungsoo, Daejun mengangguk.

“Bagaimana jika kita berjalan-jalan keluar, hem?”

“Ayo, Abeoji. Cepat, cepat…” ujar Daejun, Myungsoo lalu menggendongnya dan menuju ruangannya untuk mengganti baju.

Pengawal Mun berjalan-jalan sedikit di kaki pegunungan, ia tengah menatap desa terpencil disana, pakaian yang lusuh dan hanya beberapa yang memakai pakaian layak. Pengawal Mun membulatkan matanya setelah ia melihat sesuatu yang ia cari selama ini.

“Jungjeon Mama?” gumamnya setelah melihat gadis itu melangkah riang sembari membawa beberapa keranjang buah.

“Ku dengar, Song Man menemukan gadis itu di danau. Dan itu disaat yang bersamaan dengan Nami yang meninggal dunia karena tertusuk oleh pengawal Jepang.” Pengawal Mun tersenyum mendengar percakapan singkat warga yang tak sengaja melintas—ini kabar baik untuk Myungsoo.

Myungsoo menuntun Daejun untuk masuk kedalam sebuah kedai penjual sup kaldu ayam terkenal. Disana Myungsoo duduk dengan tenang, menatap putranya.

“Kau merindukan Eommoni?” tanya Myungsoo hati-hati.

“Tentu saja, Abeoji… Aku sangat merindukan Eommoni.” jawab Daejun, Myungsoo tersenyum.

“Pesananmu Tuan.” ujar sang pelayan kedai, Myungsoo kemudian memakan sup tersebut bersama Daejun. Tak lama kemudian Pengawal Mun datang setelah menerima pesan dari Kasim Yang bahwa Myungsoo berada di kedai sup kaldu ayam. Myungsoo menatap pengawal Mun lalu menyuruh Pengawal Mun menahan ceritanya dahulu sampai ia masuk ke istana.

“Nami-ah… Antarkan ini pada Ayahmu.” Nyonya Song berteriak dari dalam membuat Nami yang sedang terdiam diluar dengan segera menyahut dan masuk kedalam, diraihnya bungkusan kain berwarna putih tersebut.

“Kau tahu jalan ke perbatasan kan?” tanya Nyonya Song, Nami mengangguk.

Nami melangkahkan kakinya dengan gusar ketika ia berada di gerbang yang terbuat dari bebatuan membentuk Gua, ia menerawang sekelilingnya, tangannya bergetar, bungkusan dari kain itu kini jatuh, Nami dengan cepat mengambilnya lalu ia kembali melangkah, tapi langkahnya seakan terhenti oleh sesuatu.

Ia merasa pernah ke tempat ini sebelumnya.

“Ah!” pekik Nami, tangannya kini terulur memegang kepalanya, kepalanya teramat sakit. Matanya terpejam, mulutnya sedikit terbuka. Ia mengingat sesuatu.

“Apa yang kau lakukan Ahjussi? Perbuatanmu sangat tidak sopan!”

Nami tersentak begitu melihat selintas bayangan itu didalam pikirannya, ia yakin ia pernah kemari bersama seseorang, tidak—ia pernah kemari bertemu seseorang.

Dan bayangan sang pria muncul, dengan baju bangsawan berwarna merah dan Gat (topi) berwarna hitam.

”Nuguya? Siapakah pria itu?” gumamnya. Ia melangkah dengan langkah ringan , langkah kecil yang menyimpan derita.

Myungsoo menuntun Daejun untuk berjalan mengunjungi rumah singgah yang sedang dalam perbaikan. Myungsoo tersenyum ketika dirasa Daejun sangat menikmati perjalanannya. Ia juga tersenyum dan sedikit melamun ketika melihat seorang wanita berjalan dengan langkah yang menyedihkan, wanita berbaju merah muda dan coklat yang lusuh—Myungsoo menatapnya.

“Eommoni?” ujar Daejun, Myungsoo menghampiri gadis itu. Bertanya apakah ia baik-baik saja—wajahnya pucat dan tampak menderita—menyimpan luka, menyimpan kerinduan yang dalam.

“Aku baik-baik saja, nuguseyo?” tanya Nami pada Daejun, Daejun mengerucutkan bibirnya.

“Ah—dia putraku. Istriku—Sooji sangat mirip denganmu, sehingga ia mengira bahwa kau adalah ibunya…” Myungsoo menatap tak percaya pada pemandangan dihadapannya—Nami berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Daejun—memeluk Daejun, mengusap kepalanya penuh kasih sayang—matanya terpejam merasakan kerinduan seorang anak yang merindukan ibunya—teramat merindukan ibunya.

Nami tak tahu kelancangan macam apa ini—memeluk seorang putra orang lain—tapi ia merasakan pernah memeluknya seperti ini. Matanya yang terpejam bukan semata merasakan kerinduan—ia mengingat sesuatu—ia pernah memeluk Daejun—sepintas bayangan memeluk Daejun di sebuah kamar dimalam hari kembali merasuki pikirannya.

“Eommoni—bogosshippeoyo…” tutur Daejun, Nami mengangguk, mengeratkan pelukannya. Myungsoo tersenyum—kehangatan menjalar di hatinya.

“Kau sudah mengingatnya?” tanya Myungsoo pada Nami—Nami mengangguk—menangis. Pandangan matanya menatap Myungsoo—memohon untuk membantunya mengingat apa yang telah hilang kembali.

“Dia adalah yang disangka putri dari Song Man, Jungjeon Mama memiliki kemiripan dengan Song Nami—seorang gadis yang tewas tertusuk panah orang jepang ketika melakukan penyerbuan di desa.” Myungsoo tersenyum—berita yang dibawakan Pengawal Mun benar-benar menenangkan hatinya.

“Aku ingin melihat wanita itu—“ ujar Ibu Suri, Myungsoo terkejut.

“Bawalah wanita itu ke istana… kau bilang wanita itu hilang ingatan,kan? Siapa tahu dengan datangnya ia kemari—ia dapat mengingat kembali apa yang ia lakukan disini.” sambung Ibu Suri—membuat Myungsoo kembali tersenyum lebar.

“Cheona—tapi ada baiknya kita mengadakan pertemuan dengan keluarga Song esok hari—agar lebih jelas asal usul kejadian itu.” Myungsoo mengangguk.

Myungsoo merentangkan tubuhnya disamping Inswan yang bergerak dalam tidurnya—Myungsoo memainkan tangan Inswan—menciumnya perlahan. Ia juga memeluk Daejun yang tertidur di samping Inswan—Myungsoo tersenyum…

“Kau ini Sooji—bukan Nami. Jika kau adalah Nami yang tak mengenal kami—kau tak akan merasakan apapun sewaktu Daejun memelukmu.”

 

“Kepalaku selalu sakit ketika bayang-bayang itu melintas…” tuturnya—Myungsoo menghentikan langkahnya—Nami juga. Sementara Daejun tertidur di pangkuan Nami.

 

“Aku akan membantumu mengingat kembali siapa dirimu.” Nami tersenyum, memindahkan Daejun ke pangkuan Myungsoo—mereka berpisah tepat di gerbang belakang. Nami merasa pernah disini sebelumnya. Ingatannya kembali melayang—nafasnya tak beraturan—matanya terpejam, tangannya ia gunakan untuk meremas hanbok lusuh yang ia kenakan—menahan sakit.


“Nami-ah Gwenchana?” pertanyaan Myungsoo ia hiraukan—matanya masih terpejam dengan lekat.

 

“Bersihkan jalan, Yang Mulia Ratu akan lewat.”

 

“Wajahnya tidak cantik seperti Yang Mulia Ratu Soo.”

 

“Aku tak menggoda Yang Mulia.”

 

“Ayo—kita pulang.”

 

Bayangan ia yang berdiri memakai hanbok berwarna putih bersih dengan seorang pelayan tua disampingnya kembali hadir, dan ia juga dapat merasakan sebuah tangan melingkar di tangannya dan menariknya untuk pergi—seperti saat ini. Myungsoo menggenggam tangan Nami.

 

“Cheona—“ Myungsoo menatap Nami yang kini membuka matanya, tubuhnya melemah—tersungkur kebawah—

 

“Kau yang menarikku di Gua? Kau yang memegang tanganku dan mengajakku pulang? Kau—Kau Yang Mulia-ku?” tanya Nami—Myungsoo mengangguk—menatap dalam mata Nami.

 

“Cheona—“ Nami memeluk Myungsoo, ia mengingatnya—mengingat pria ini. Myungsoo tersenyum.

 

“Sebagian lagi—kau akan mengingat semuanya, Sooji“

 

Nyonya Song dan Tuan Song duduk di hadapan pengawal Mun, tak lupa juga dengan Myungsoo yang berada disana. Pengawal Mun menyelidik—menatap pasangan tua ini. Sementara Sooji berada dalam kamar, memeluk kakinya. Ia takut tidak bisa keluar dari sini—pasalnya Nyonya Song sedang berada dalam tekanan dan sedang depresi berat karena kematian putrinya.

“Kalian siapa?” tanya Nyonya Song.

“Aku—biro penyelidik kerajaan yang sedang menyelidiki tentang hilangnya Jungjeon Mama—Ratu kami.”

“Lalu, mengapa kalian mengunjungi rumahku?” tanya Nyonya Song. Tuan Song yang sudah tahu akan hal ini hanya diam.

“Kalian memiliki seorang putri?” tanya Myungsoo.

“N—Ne, putri kami bernama Song Nami.”

“Sayangnya—Nami adalah ratu-ku. Ibu Negara ini.” tutur Myungsoo, Nyonya Song kini menggebrak lantainya dengan telapak tangan—apa-apaan ini?

“Ia putriku! Mana mungkin kalian mengatakan hal seperti itu! Yeobo, jelaskan pada mereka!” tutur Nyonya Song berapi-api. Tuan Song menatap Myungsoo. Sementara Nyonya Song kini bangkit berdiri, meninggalkan mereka.

“Maaf, Tuan—istriku mengalami depresi semenjak kematian Nami. Aku menemukan dia di danau—kepalanya terluka sangat parah, lima hari ia tidak sadarkan diri. Dan pada saat itu istriku menganggap bahwa dia adalah putri kami. Maafkan kelancangan kami—Tuan.” tutur Tuan Song.

“Jangan khawatir—Tuan Song. Aku berterimakasih karena kau merawat istriku dengan baik.” tutur Myungsoo. Tuan Song menundukkan kepalanya lalu ia tersentak dan menatap Myungsoo.

“N—Ne? Istrimu? Berarti—Kau adalah—Omo, Maafkan aku Yang Mulia—aku pantas mati tak mengenalimu.”

“Tak apa—Tuan Song.”

“Baiklah—aku akan memanggil Nami—maksudku, Jungjeon Mama.” tutur Tuan Song.Myungsoo tersenyum.

“Jungjeon Mama—anda bisa keluar sekarang.” ujar Tuan Song dibalik pintu, merasa tak ada sahutan—ia mengulanginya lagi.

“Jungjeon Mama—“

Myungsoo bangkit dari duduknya ketika ia merasa sesuatu yang mengganjal dihatinya. Mengapa sangat lama ketika memanggil Sooji.

“Aku akan membuka pintunya.” tutur Pengawal Mun, Myungsoo mengangguk—ada yang tak beres.

“Jungjeon Ma—“

Pengawal Mun, Myungsoo, dan Tuan Song membelalakkan matanya—Sooji tak ada disana. Mereka dengan cepat berlari keluar—menyadari Nyonya Song juga tak ada di rumahnya.

“Kau lari ke hutan—aku lari kearah sini.” tutur Myungsoo, Pengawal Mun mengangguk.

Dan disaat yang bersamaan—

Sooji tengah berlari bersama Nyonya Song didalam hutan. Tangannya terikat, mulutnya disumpal dengan kain putih yang melingkar. Kain yang mengikat tangannya menjuntai panjang, Nyonya Song dengan kalap menarik juntaian kain tersebut—mengendalikan Sooji semaunya.

“Ah!” Sooji tersungkur, kakinya tak mampu lagi menahan sakit yang mendera—sandal jerami yang ia gunakan tak mampu diajak berkompromi.

“Ya! Anak nakal, jika kau tidak menuruti perintah ibumu, kau akan mati!” tutur Nyonya Song, Sooji menggelengkan kepalanya.

“Sooji-ah! Sooji-ah!” Teriak Myungsoo, Sooji mendengarnya—ia ingin berteriak tetapi tak mampu—sumpalan di mulutnya terlalu kuat. Nyonya Song dengan cepat menarik Sooji kembali. Sooji kemudian dengan cepat menggerakkan tubuhnya—menjatuhkan norigae kupu-kupu diatas rumput—sebelum Nyonya Song mengklaim dirinya kembali—menarik Sooji semaunya,berlari lagi.

“Eoh?” Myungsoo meraih Norigae di atas rumput. Ia kemudian dengan cepat berlari—ini milik Sooji.

“Yeobo!” bentak Tuan Song pada Nyonya Song, Tuan Song tahu ini tempat yang paling Nyonya Song suka, sebuah tebing dimana dibawahnya adalah sungai yang cukup dalam. Nyonya Song memundurkan langkahnya. Sooji memekik tertahan—menggelengkan kepalanya.

“Yang Mulia! Disini!” tutur Pengawal Mun ketika berada disana,didekat Tuan Song, Myungsoo dengan cepat menghampiri—ia terbelalak begitu melihat Sooji yang hendak didorong oleh Nyonya Song diatas tebing ini kebawah.

“Jika kalian berani mendekat—aku akan mendorong anak ini!”

“Tidak! Yeobo! Jangan lakukan itu! Nami kita sudah mati, ia adalah ratu kita—Jungjeon Mama. Ia bukan Nami. Kumohon, lepaskan dia.” tutur Tuan Song. Nyonya Song menatap dengan pandangan kosong kedepan—tersungkur ditanah.

“Nami—uri Nami sudah tak ada?” tanyanya, Tuan Song mengangguk. Sementara Sooji hendak melangkah maju ketika dirasa Nyonya Song melepaskan tali yang menjuntai. Myungsoo hendak mendekat pada istrinya.

“Kubilang jangan mendekat!” Myungsoo terdiam. Sooji menatapnya—Nyonya Song dengan cepat berdiri,berbalik arah,menatap Sooji garang—Sooji takut akan hal ini.

“Lalu, kau siapa? Mengapa kau menyamar menjadi Nami-ku? Hah?” Sooji memundurkan langkahnya ketika Nyonya Song maju dan berjalan ke arahnya, Sooji melihat ke belakang—sekitar tiga meter lagi itu adalah—Jurang yang berisi sungai dibawahnya.

“Tidak! Tidak!” Myungsoo melangkah dengan cepat, tapi…

“Beraninya kau menyamar menjadi Nami-ku!”

“AAAAAA!!!” Sooji menjerit, jeritannya menggema di seluruh hutan—tubuhnya terjatuh—hendak terjatuh kebawah, sementara Myungsoo dengan cepat menghampiri tepi tebing—beruntung tali yang menjuntai itu kini tersangkut, Myungsoo meraihnya, Tuan Song meraih Nyonya Song yang kini hendak mendorong Myungsoo.

“Sooji—“

“Cheona—“

“Kita akan meloncat kebawah bersama.” tutur Myungsoo dengan suara pelan—Sooji menangis—antara takut dan sedih, ia mengangguk. Myungsoo dengan cepat meloncat, tali yang menjuntai itu terlepas begitu saja. Membuat Myungsoo dan Sooji terjatuh kebawah—

BRUUUSHHH

Air sungai dibawah menciprat keatas, Myungsoo memeluk Sooji didalam air, Pengawal Mun tak kalah cemas—ia dengan cepat turun kebawah—hendak menghampiri Sooji dan Myungsoo.

Myungsoo memeluk Sooji, menggapai air untuk mencapai keatas—Sooji membuka matanya—menatap Myungsoo, Sooji kemudian mengingat sesuatu, ia tenggelam—sama seperti kejadian itu. Sooji membulatkan matanya, mulutnya terbuka menahan nyeri di kepalanya, Myungsoo mendekapnya sembari terus mencari jalan untuk menggapai permukaan. Sooji ingat—ia terakhir tenggelam disekitar sini,disungai ini. Myungsoo dengan cepat mencapai ke permukaan, ia meraih Sooji, menggendongnya.

“Hhhh…Hhhh…” Myungsoo bernafas terengah-engah saat menggapai permukaan sungai dan kini ia berjalan diantara batu-batu yang menghubungkannya dengan daratan. Myungsoo mendudukkan dirinya disebuah batu didarat. Myungsoo menatap Sooji yang berada dipangkuannya. Sooji duduk disamping Myungsoo, ia menangis.

“Cheona…” Myungsoo menatap Sooji, Sooji dengan cepat memeluknya erat.

“Sooji-ah…” Myungsoo membalas pelukan gadisnya tak kalah erat.

“Kau mengingat sesuatu?” tanya Myungsoo, Sooji mengangguk. Sooji melepas pelukannya dengan Myungsoo.

“Biarkan aku memberikan ingatan ini kembali.” ujar Myungsoo, tubuh Sooji menegang, wajah Myungsoo mendekat pada wajahnya—tangan Myungsoo menarik pipi Sooji lalu menekan tengkuknya setelah Myungsoo berhasil menautkan bibirnya diatas bibir Sooji—melumatnya perlahan, begitu pula dengan Sooji, ia tak menolak—ia rindu ciuman ini…

Nyonya Bae duduk di teras kamar Sooji, ia mengusap teras ini—teras yang biasa ia duduki bersama Sooji,menghabiskan waktunya bersama Sooji. Nyonya Bae menangis—inilah yang ia lakukan setiap hari,menunggu Sooji datang kembali. Sakit sekali mendengar kenyataan bahwa Sooji sudah tidak ada. Shiyoung dan Dara yang berada disamping Nyonya Bae hanya dapat menunduk sedih, mereka juga merindukan Sooji.

“Sooji-ah…”

“Eommoni…” pintu gerbang kayu itu terbuka, menampilkan Sooji dengan pakaian lusuh disana, bersama Myungsoo. Myungsoo tersenyum, memandang Sooji yang berlari menghampiri ibunya. Nyonya Bae, Shiyoung dan Dara menatapnya.

“Sooji-ah?”

“Noona?”

“Eonni?”

“Ini aku, Eommoni… “ Nyonya Bae menatap Sooji yang berada dihadapannya, mengusap wajah Sooji penuh sayang, dan berakhir dengan memeluk Sooji penuh rindu.

“Sudah kukira kau masih hidup Sooji-ah…. Kau tidak mati. Kau tidak mati…” Nyonya Bae menangis memeluk Sooji semakin erat, Sooji juga menangis, Shiyoung dan Dara menghampiri Myungsoo. Myungsoo tersenyum melihat pemandangan dihadapannya.

“Sooji…” Tuan Bae menyerukan namanya, Sooji kemudian menghampiri Tuan Bae, menangis di pelukan Tuan Bae.

Myungsoo menuntun Sooji masuk kedalam istana, Sooji tersenyum. Pakaiannya sudah lebih baik, ia menggantinya dirumahnya tadi, dibelakangnya Nyonya Bae dan Tuan Bae bersama Shiyoung dan Dara mendampingi. Disamping mereka para pelayan dan menteri kerajaan memberi hormat.

“Ini rumah kita yang sebenarnya, Sooji-ah…” Sooji mengangguk.

“Itu, itu Jungjeon Mama…” ujar pelayan Dapur istana, pelayan bagian jahit juga berada disana, mereka berjajar memberi hormat ketika Sooji masuk, Sooji tersenyum kearah mereka. Setelah tiba di aula pertemuan keluarga kerajaan, Sooji menunduk memberi hormat pada ayah dan ibu mertuanya.

“Jungjeon Mama…”

“Daebi Mama, Cheona…” ujar Sooji, ia kemudian masuk kedalam aula.

“Ceritakan pada kami, Jungjeon Mama…” Sooji menatap Myungsoo, Myungsoo mengangguk.

“Jadi, pada saat itu…”

[FLASHBACK]

Sooji menggendong bayi laki-laki itu, ia menimangnya penuh sayang. Suasana di rumah singgah ini tampak tenang.

 

“Jungjeon mama, baju anda berlumur darah karena bayiku.” tutur sang ibu. Sooji kemudian meletakkan Jae Hoon di pangkuan ibunya.

 

“Aku akan mengganti bajuku. Tapi—sepertinya aku tak membawa baju.” tutur Sooji.

 

“Jungjeon Mama, aku membawa baju ganti—tetapi aku tak yakin kau mau memakainya.” Sooji tersenyum.

 

“Bolehkah aku meminjamnya? Aku tak akan ragu memakainya.” sementara ayah Jaehoon dengan cepat membuka kain bungkusan itu, menyerahkan baju berwarna merah tersebut ke tangan Sooji.

 

“Terimakasih.” jawab Sooji. Ia kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar ganti, dengan cepat Sooji mengganti bajunya. Ia terkejut begitu mendengar pelayan Oh yang berteriak diluar. Sooji berlari, meninggalkan baju tersebut disana.

 

“Pelayan Oh, apa yang terjadi?” tanya Sooji, ia juga membelalakkan matanya ketika melihat seorang pelayan mati dihadapannya.

 

“Jungjeon Mama, anda harus cepat melarikan diri dari sini.”

 

“Pelayan Oh, selamatkan dahulu Jaehoon dan kedua orangtuanya. Cepat. Kalian harus lebih dulu meninggalkan tempat ini!” tutur Sooji, Pelayan Oh mengangguk, ia menggendong Jaehoon.

 

“Nyonya, kita harus segera pergi dari sini.”

 

“Tuan, kau gendonglah ibu Jaehoon. Cepat.” ujar Sooji, Ibu Jaehoon menatap Sooji.

 

“Jungjeon Mama…” Sooji mengusap lengan Ibu Jaehoon.

 

“Selamatkan diri kalian.” ujar Sooji, Ibu Jaehoon mengangguk.

 

“Cepat! tak ada waktu lagi!” pekik Pelayan Oh, dengan cepat mereka berlari. Sooji juga berlari ke hutan, tapi seseorang yang berdiri tegap dihadapannya menahan dirinya.

 

“Siapa kalian?” tanya Sooji. Ia hanya menyunggingkan senyumnya. Sooji dapat menebak bahwa ini bukan penduduk asli Korea. Pria itu membuka kertas buram yang berada ditangannya,membandingkan dengan wanita dihadapannya.

 

“Sudah kuduga, kau adalah Ratu negeri ini.” Pria itu mendekat, Sooji semakin mundur, menjauh, tubuhnya terhempas di gua pertemuan pertamanya dengan Myungsoo.

 

“Apa maumu?”

 

“Ikuti kami ke Jepang, dan mengurus negeri kami disana.”

 

“Aku tak akan pernah mau melakukan itu!”

 

“Pangeran Hyeosang dan Menteri Yoon kalah melawan taruhan diantara kami. Dan mereka menjadikanmu sebagai jaminannya! Kau harus ikuti kami!”

 

“Mereka menjual informasi negeri ini kepada kalian? Oh—tidak, aku tak akan pernah mau mengikutimu.” tutur Sooji, pria itu didampingi kedua pengawal. Sooji bergerak gelisah.

 

“Tangkap dia!” Sooji dengan cepat berlari, sebelum berlari ia melepas dwikkoji yang ia kenakan. Sooji berlari dengan cepat, ia melihat batu berukuran besar dihadapannya, dengan cekatan ia melempar kedua pengawal dan pria itu.

 

“Ahh!” pekik kedua pengawal dan pria itu, batu tersebut menghantam kepala mereka sehingga mereka kesulitan mengejar Sooji. Sooji berlari semakin cepat, matanya bergerak kesana kemari, mencari apapun untuk menyelamatkan dirinya. Dan itu—ada panah diujung sana, entah milik siapa. Sooji dengan cepat meraihnya, beruntung Tuan Bae pernah mengajarkannya memanah.

 

Sooji dengan cepat meraih panah tersebut, ia kemudian menarik anak panah dengan busurnya, dan mengarahkan pada pengawal-pengawal itu, mata teduhnya berubah menjadi tajam.

Dan—

BLESSSH

Panah itu menembus, masuk tepat di bahu kedua pengawal tersebut, Sooji juga tak lupa memanah si pria tadi, tapi dengan cepat mereka melepas anak panah yang berada di tubunya. Sooji mendesis frustasi, ia dengan cepat lagi berlari setelah dirasa mereka masih mampu mengejarnya. Dan Sooji menghentikan langkahnya ketika ia berada di tepi tebing—

 

“Kau tak akan bisa pergi lagi. Lebih baik kau menyerahkan diri pada kami., atau mati.” ujar pria itu, Sooji mendelik. Tak ada pilihan lain, daripada ia harus mengabdi pada Negara yang bukan ranahnya—

 

“Lebih baik aku mati.” kata-kata Sooji membuat pria itu terperangah, dan kedua pengawal tersebut juga melakukan hal yang sama, mereka terkejut begitu melihat Sooji yang melompat kebawah.

Sooji mengusap Daejun dan Inswan yang berada dipangkuannya, Daejun yang tertidur dipaha kanannya, Inswan dipangkuannya, dan Myungsoo yang tertidur dipaha kirinya. Sooji tersenyum, akhirnya keluarganya lengkap kembali. Si kecil Inswan tersenyum padanya.

“Saatnya kau tidur, sayang…” Sooji menimang Inswan, ia juga tak lupa mengusap Daejun dan Myungsoo bergantian, Sooji tersenyum senang, sangat senang. Ini sudah malam, Sooji juga cukup lelah hari ini, ia kembali memasak dengan pelayan dapur istana, ia juga menjahit baju seragam untuk warganya yang bersekolah di sekolah umum.

Sooji menidurkan Inswan perlahan diranjang kecilnya, tanpa berniat mengganggu Daejun dan Myungsoo yang tertidur. Sooji mengusap kedua prianya, ia mencium mereka satu persatu, Sooji menggendong Daejun lalu menidurkan Daejun disamping Inswan. Sooji kemudian mengusap kepala Myungsoo, mencium bibirnya singkat lalu tersenyum.

“Dapatkah kau menambahnya lagi?” tutur Myungsoo, Sooji tertawa.

“Kau belum tidur, Yang Mulia?” tanya Sooji, Myungsoo dengan cepat bangkit lalu duduk,menatap Sooji.

“Bagaimana bisa sementara aku masih merindukanmu.” Sooji tertawa ketika melihat wajah Myungsoo yang menyeringai—ia tahu maksudnya.

“Hem—Inswan dan Daejun sudah tidur rupanya, bagaimana jika kita pindah ke kamar sebelah?” usul Myungsoo, tangan kekarnya mengusap bahu Sooji, jemarinya mengusap leher Sooji.

“Jangan lakukan itu~Cheona…” tutur Sooji berbisik, Myungsoo terkekeh.

“Baiklah, aku akan melakukan ini!” ujar Myungsoo, ia menggendong Sooji kedalam pangkuannya, Sooji tersenyum seraya melingkarkan tangannya di leher Myungsoo.

Myungsoo membuka dwikkoji yang menggulung rambut Sooji, membuat kepangan dirambut Sooji terlepas, rambutnya terurai sempurna, membuat Myungsoo menyelipkan rambut Sooji kebelakang telinganya. Myungsoo mendekat, mencium kening Sooji lalu beralih mencium pipi kirinya, dan berakhir mencium leher Sooji, Sooji sedikit mengernyitkan dahinya bersamaan dengan matanya yang terpejam, tangan Myungsoo meraih otgeoreum hanbok Sooji dan melepaskannya.

“Aku mencintaimu…”

“Na ddo saranghae…”

Myungsoo dan Sooji duduk dikursi kebesarannya, mereka tampak menikmati pertunjukkan yang berada dihadapannya. Sooji dan Myungsoo saling bertatap, tak lupa dengan Daejun yang berada disamping Myungsoo, Inswan yang berada dipangkuan Sooji.

“Kau yang melatih mereka semua?” tanya Myungsoo, Sooji mengangguk.

“Apakah kau bisa menari seperti itu? Hanya dihadapanku.” Sooji tertawa—pipinya memerah ketika Myungsoo menggodanya.

“Kau ada-ada saja, Cheona…” Sooji tersenyum. Myungsoo tertawa.

“Eommoni, apakah adik bayiku disana baik-baik saja?” tanya Daejun, Sooji mengangguk.

“Dia baik-baik saja, Daejun-ah… Jangan khawatir.” jawab Sooji, Daejun tersenyum lebar.

“Myungsoo menggenggam tangan Sooji, Sooji kemudian menerahkan Inswan ke pangkuan Jo Sanggung. Tangan Myungsoo bergerak mengusap perut Sooji.

“Terimakasih atas segala kebahagiaan yang kau berikan untukku.” Sooji tersenyum haru, matanya berkaca-kaca, ia bersumpah—akan menjaga kebahagiaan ini agar tetap utuh—demi rakyatnya, Myungsoo, Daejun, Inswan, dan bayi kecil yang sedang tumbuh didalam rahimnya.

_END_

Annyeonghaseyo, lama engga update… maaf ya ngebuat kalian nunggu. Hehe, Okay… ff ini End alias udahan, heheu, apakah ada yang kecewa dengan endingnya? hihi… berharap tidak ada. FF Kwajangnim dan FF ini akan sama-sama end di chapter 8 dan menjadi ff terakhir yang aku tulis di Wp ini. FF-FF lain karyaku akan aku post di Wp pribadiku. Jadi, buat yang masih pengen baca-baca karyaku yang lain silahkan kunjungi aja ya. Dan—untuk password ff kwajangnim, bisa hubungi aku lewat kontak yang udah ada diatas ya. Terimakasih atas kerjasama kalian ya readers (baca : yang sering comment dan like) selama aku jadi Author di Wp ini😀 See you in other FF…🙂

Comment+Like Jangan lupaaaaa😀

48 responses to “[Freelance] We Are Not King and Queen Chapter 8 Final

  1. Omo happy ending senangnya…. ditengah alur cerita udah was was takut sad ending tpi untunglah happy ending gomawo author telah menciptakan ff yg ok bgt ini hehehe

  2. wah suka sukaa… happy ending… alurnya keren… pake sooji dibawa nyonya song segala keren deh

  3. wah daebakkk.. keren
    aq bca dr part 1 sampai 8 mlai mlam sampai pagi…
    author berkaryalah anak bangsa sangattt romantiisssss😆

  4. Yayaya saya senang akhirnya menjadi happy ending😀
    semoga kebahagiaan mereka akan tetap terjaga.🙂

    ceritanya jjang unnie🙂 cheer up untuk karya-karya selanjutnya.t

  5. ini ff terkeren soal kerajaan dinasti jeseon yg pernah ku baca.
    konfliknya pas dan filnya dpt bgt berasa ge nonton drama.author jjjaanGG!!!
    omoo..mereka nambah aegi..ohh..pasangan kyeopta..
    andai mereka bener real.ngk kebayang sesempurna apa anak mereka..pasti wah ya..
    di tunggu karya selanjutnya ya thorrrr…FIGHTING!! #BoW^^

  6. Sebnernya kasian jg c sm psgan suami istri song ini, biar gmnnjg mrka jg ortu yg ditinggal.mati anaknya.. kl disini hukumnya org dg gangguan mental ga bs digugat ga tau hukum disana kaya apa..tp aku yakin Suzy itu baik dan pemaaf..

  7. Ini chap akhir bner2 bikin sport jantung d.. aku smpet khawatir bgmna mereka bertahan, ujian silih berganti menerpa mereka..
    Tp gambaran mereka sekeluarga lg berkumpul bner2 bikin adem d.. Aplg pas keluarga kecil Suzy melepas rindu sm Suzy..
    Scene Myung l, daejoon dan inswan tidur dipangkuan Suzy bner2 hangat bgt..

  8. Dan Myung ttp seneng ngegodain Suzy nih..
    Haha.. Smgt trus mpe bikin kesebelasan MyungZy..
    Hehehe..
    Suka sm endingnya, kesanya gak maksa dan hangat..
    Raja yg baik bs memimpin negrindg baik, suami yg baik bs memimpin keluarga dg baik..
    Dan itu smua ga lpas dr peranan sang istri..

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s