Boyfriend Distrees (Oneshot)

9d709733542b1d539951925fcf6af689

 

Boyfriend’s Distrees

a fiction by 01100100

[Infinite] Kim Myungsoo [miss A] Bae Suzy

AU, Romance, School-life, Slight! FluffPG-13Oneshot

A/N. This fanfic officially mine. Officially by my imagination and inspired by Kurumatani Haruko’s Comic, with the same title.

.

“Jadilah kekasihku! Aku pasti akan membuatmu bahagia..”

.

“Jadilah kekasihku! Aku pasti akan membuatmu bahagia..”

Pernyataan lelaki dengan tindikan ditelinga kirinya juga dengan seragam lusuh dan berantakan itu berhasil membuat Suzy membulatkan matanya. Gadis itu tidak pernah membayangkan jika orang paling menakutkan disekolahnya itu barusaja memintanya untuk menjadi kekasihnya. Kim Myungsoo—lelaki itu—kini tengah menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan dan juga jangan lupakan wajahnya yang penuh luka lebam buah hasil dari kegiatan rutin yang ia jalani—berkelahi.

“Apa yang kau katakan Kim Myungsoo?”

Myungsoo melangkah maju untuk memperkecil jarak diantara keduanya. Ia lantas mendekatkan wajahnya pada wajah Suzy. “Menurutmu?” lelaki itu menatap lekat wajah gadis dihadapannya yang kini hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya.

Suzy menatap dalam mata Myungsoo. Gadis itu mencoba mencari kebohongan dimata lelaki itu. Namun yang ditemukannya adalah sarat keseriusan yang terpancar jelas dari mata lelaki itu. Dan.. Wajahnya merah padam

“Sampai jumpa besok, Su-ah.”

“Su-ah?”

“Itu panggilan sayangku…untukmu.” Setelah mengatakan itu Myungsoo kemudian pergi meninggalkan Suzy yang tengah menatap kepergiannya bingung dengan mulut yang sedikit terbuka.

 

***

 

“Kim Myungsoo!”

Myungsoo yang hendak menyalahkan mesin motornya segera menolehkan kepalanya kesumber suara dan mendapati Suzy yang tengah berlari menghampirinya.

“Jam pelajaran belum usai. Kau mau kemana?” Suzy menatap Myungsoo dengan tatapan penuh selidik.

“Temanku menghubungiku. Ia butuh bantuanku.”

“Berkelahi lagi?” Myungsoo hanya diam dan memilih untuk menyalahkan mesin motornya.

“Aku ikut.”

Myungsoo segera menolehkan kepalanya kearah gadis yang sudah satu bulan ini telah menjadi kekasihnya itu. “Bodoh. Apa yang kau katakan?”

“Aku—“

“Kembalilah kekelas. Aku akan segera kembali. Dan jangan membolos pelajaran!”

Dalam sekejap saja Myungsoo sudah pergi meninggalkan gadis itu dan memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Suzy memutarkan kedua bola matanya malas dan menatap kepergian lelaki itu dengan jengah.

“Jangan membolos pelajaran? Tck.”

 

***

 

Suzy segera melangkahkan kakinya keluar kelas ketika mendengar bel tanda pulang berbunyi. Gadis itu menghembuskan nafasnya kasar dan terus berjalan menyusuri koridor sekolah.

“Suzy-ah..”

Suzy mendongakkan kepalanya dengan malas ketika mendengar suara yang kini sudah sangat familiar ditelinganya, terlebih orang itu memanggilnya dengan nama yang berbeda dari yang orang lain lontarkan ketika memanggilnya.

Myungsoo menghampiri Suzy yang hanya menatapnya diam. Perasaan cemas langsung menghinggapi gadis itu dengan cepat ketika Myungsoo menatapnya dengan lekat.

“Apa kau terluka?” Suzy segera menempelkan telapak tangannya pada pipi kiri Myungsoo dan menelusuri wajah lelaki itu.

Myungsoo menggelengkan kepalanya. “Tidak.”

Suzy menghembuskan nafasnya lega. “Syukurlah..”

“Karena ada Myungsoo kita bisa menang. Bukan begitu Sungjong-ah?”

Suzy menolehkan kepalanya kearah belakang tempat Myungsoo berdiri. Karena terlalu cemas dengan keadaan Myungsoo membuatnya tak sadar bahwa ada dua orang lelaki yang ia ketahui merupakan teman Myungsoo berdiri dibelakang lelaki itu.

“Umm. Dan bagimana jika kita rayakan kemenangan ini?”

“Rayakan?” Myungsoo menaikan sebelah alisnya heran dan menatap temannya itu.

“Aku setuju Sungjong-ah! Dan juga bagaimana jika Suzy juga ikut?”

Suzy menolehkan kepalanya kepada lelaki yang ia ketahui bernama Sungyeol itu dengan terkejut. “Aku?”

Myungsoo melirik tajam kearah Sungyeol. “Apa? Tidak.” Kemudian ia segera mengenggam erat tangan Suzy dan beranjak pergi meninggalkan kedua temannya yang hanya menatapnya bingung. “Ayo kita pulang.”

Keduanya kemudian berjalan menyusuri koridor sekolah yang telah sepi, dengan Myungsoo yang masih menggenggam erat tangan Suzy.

Suzy melirik sekilas lelaki disampingnya yang kini hanya diam dengan mata yang menatap lurus kedepan. “Kenapa kita tidak ikut dengan mereka untuk merayakan kemenangan kalian?”

“Mereka berdua itu mudah sekali berkelahi..”

“Lalu?” Suzy menatap Myungsoo dengan sebelah alis yang terangkat keatas.

Myungsoo segera menolehkan kepalanya kearah gadis itu. “Tentu saja itu akan membahayakanmu.” Myungsoo menatap Suzy dengan tidak sabar.

Mwo?” Suzy segera menatap Myungsoo yang kini sudah kembali memfokuskan pandangannya kedepan.

“Aku tidak mungkin membawamu ketempat yang dapat membahayakanmu….”

Suzy terdiam mendengar pernyataan yang dilontarkan Myungsoo. Mulutnya terkatup rapat. Myungsoo menghawatirkanku

Ahh, aku lapar.” Myungsoo menolehkan kepalanya kearah Suzy. “Kau belum makan, bukan? Ayo kita pergi makan.”

 

***

 

“Kau suka makanannya?” Myungsoo menatap Suzy yang barusaja menghabiskan makanannya.

“Umm,” Suzy menganggukkan kepalanya dengan senyum manis yang terukir dibibir merahnya.

Myungsoo ikut tersenyum mendengar pernyataan gadisnya itu. “Baiklah. Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang sekarang.”

Keduanya kemudian beranjak dari kursi yang mereka duduki dan segera melangkahkan kaki keluar dari tempat makan itu.

“Kau ingin mengantarku pulang sekarang?”

Myungsoo menganggukkan kepalanya. “Tapi ini masih…”

“Tidak. Ini sudah malam. Dan bukan waktunya untuk seorang gadis berjalan-jalan.” Myungsoo segera memotong ucapan Suzy dan menolehkan kepalanya kearah gadis itu. Lelaki itu menatap gadisnya yang kini terdiam.

“Kau tidak mau aku mengantarmu pulang?”

Suzy segera menatap wajah Myungsoo dengan dingin. “Aku tidak mengatakan itu.” Suzy lantas melangkahkan kakinya pergi mendahului Myungsoo.

Myungsoo segera mengikuti Suzy dan mencoba mensejajari langkahnya dengan gadis itu. “Aku hanya—“

“Dimana motormu?” Suzy bertanya tanpa menolehkan wajahnya pada Myungsoo.

Wae?”

“Tidak bisakah kau mengantarku menggunakan—“

“Aku tidak akan pernah mengantarmu dengan motor.”

Suzy menatap jengkel Myungsoo. “Barang hanya se—“

“Kita sudah sampai.”

Suzy mengedarkan pandangannya kesekitar. Myungsoo benar, mereka berdua kini tengah berdiri tepat didepan gerbang besar rumahnya.

“Naik motor dibelakang itu berbahaya. Harus berapa kali aku bilang itu padamu?” Myungsoo menatap tak sabar gadisnya itu.

“Tap—“

Suzy menghentikan ucapannya ketika bibir tebal Myungsoo sukses mendarat dibibirnya. “Jika kukatakan tidak, tetap tidak.” Myungsoo melumat bibirnya pelan dengan mata yang menatap gadis itu. Suzy membalas lumatan Myungsoo dan matanya juga balas menatap lelaki itu.

Myungsoo kemudian memejamkan matanya dan terus melumat bibir Suzy semakin dalam. Tangan lelaki itu menekan tengkuk Suzy untuk memperdalam ciuman keduanya.

Suzy merasakan rasa asin dibibirnya ketika Myungsoo semakin dalam menciumnya. Kemudian Suzy sadar jika rasa asin itu berasal dari sudut bibir Myungsoo yang sedikit mengeluarkan darah. Mata Suzy lantas menelisik wajah Myungsoo dan menyadari bahwa luka lebam diwajah lelaki itu bertambah dari sebelumnya.

Myungsoo melepaskan tautan bibir keduanya. Matanya menatap mata Suzy dalam. “Jangan pergi kemanapun setelah ini.”

“Kau juga. Langsung pulang, bahaya jika—“

“Bodoh. Mana mungkin bahaya.”

“Tck.” Suzy menatap jengah kearah Myungsoo. “Juga jangan berke—“

“Aku pulang.” Myungsoo lantas mengecup kilas kening Suzy dan melangkahkan kakinya pergi.

Suzy hanya menghembuskan nafasnya berat seraya menatap kepergian Myungsoo.

 

***

 

“Kenapa kau tidak pernah mau memboncengku dengan motormu?.”

Myungsoo menatap Suzy dengan mulut penuh makanan. Yah, keduanya kini tengah menyantap makanan yang dibawa Suzy diatap sekolah. “Tubuhmu berbeda dengan tubuhku.”

Suzy mengerutkan dahinya tanda heran. “Maksudmu?”

“Itu akan membahayakanmu nanti…” Myungsoo kemudian melanjutkan makannya dengan lahap.

“Tck. Apa bedanya? Kita ini sama-sama manusia.”

“Berbeda.”

Suzy menatap kesal kearah Myungsoo. “Kalau begitu, mungkin aku akan mengikuti tes untuk mendapatkan SIM.”

Myungsoo membulatkan matanya menatap Suzy. “Apa maksudmu hah?”

“Agar aku dapat mengikuti kemanapun kau pergi. Juga agar kau tidak terus berkelahi jika tidak ada aku.”

Myungsoo meletakkan sumpitnya kasar dengan mata yang menatap tajam Suzy. “Tidak. Aku tidak mengizinkannya.” Myungsoo mengatakan kalimat itu dengan sangat dingin.

Menyadari perubahan nada bicara Myungsoo ia lantas menatap lelaki itu dengan jengah. “Mengapa kau selalu melarangku?” Suzy sedikit menaikan nada bicranya.

Myungsoo mengalihkan pandangannya kesembarang arah.“Karena kau seorang putri…”

Mwo?” Suzy menatap heran Myungsoo yang mengatakan kalimatnya dengan sangat pelan.

“Bukankah seorang putri harus dijaga dan berada dalam pengawasan? Anggap saja semua larangan yang aku berikan padamu semata-mata untuk menjagamu…”

Suzy terdiam mendengar pernyataan yang dilontarkan Myungsoo. Kemudian ia menarik sudut bibirnya membentuk sebuah seringaian kecil.

Mwo? Aku tidak dengar…”

“I..Intinya aku tidak mengizinkannya.”

Myungsoo segera beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu yang menghubungkan jalan untuk kembali ke koridor dekolah. “Jangan pernah melakukan sesuatu yang membuatku cemas…”

BRAKK. Pintu atap sekolah itu terbuka dengan kerasnya dan muncul dua orang dari balik pintu itu.

“Lee Sungjong? Lee Sungyeol?” Myungsoo menatap heran kearah dua orang temannya itu. Nafas keduanya tersengal-sengal.

“Myungsoo-ah..cepat bantu kami.” Sungjong menatap Myungsoo dengan penuh harap.

Myungsoo menganggukkan kepalanya. “Nde.”

Suzy segera beranjak dari duduknya dan berlari ketempat Myungsoo berdiri. Gadis itu kemudian meraih tangan Myungsoo. “Hari ini…kumohon jangan bekelahi lagi.”

Myungsoo menatap dalam gadis didepannya yang juga menatapnya. Ia kemudian melepaskan tangan Suzy dari tangannya dan segera meninggalkan gadis itu.

“Aku pergi…”

“Jangan terluka…”

Sebelum tangannya berhasil meraih pegangan pintu, Myungsoo kembali memutarkan badannya kearah Suzy. Ia kemudian mendekati gadis itu lalu…

Cuup. Myungsoo mendaratkan bibirnya tepat diatas bibir milik gadis itu. Hanya sekedar menempelkan, tdak ada pergerakan dari keduanya. Myungsoo kemudian menjauhkan wajahnya dari Suzy. “Bodoh—jangan cemaskan aku.”

Lelaki itu kemudian pergi dengan setengah berlari dan dalam sekejap tubuhnya hilang dibalik pintu.

 

***

 

You’re my only one way…
ojing neoreul wonhae naega
ni gyeoute isseume kamsahae

Suzy yang tengah membaca buku dikamarnya segera mencari letak dimana ia menempatkan ponsel miliknya ketika mendengar ponselnya tersebut berbunyi.

You’re my only one babe…
himdeun sesang soge sarangeralke
haejun—

Setelah menemukan letak ponselnya tersebut ia segera meraihnya dan segera menggeser pola berwarna hijau pada layar ponselnya.

“Yeoboseyo?”

Bae Suzy?”

“Nde?”

Cepat pergi kerumah sakit dekat sekolah. Myungsoo terluka parah.

Suzy menjatuhkan ponselnya begitu saja. Setelahnya gadis itu segera melangkahkan kakinya menuruni tangga dan berlari keluar rumah. Bahkan ia tidak sadar jika kakinya tidak menggunakan sendal atau alas kaki apapun, pikirannya kalut. Yang ada diotaknya hanyalah bagaimana keadaan kekasihnya, Myungsoo.

 

***

 

“Kim Myungsoo…”

“Bae Suzy…” Myungsoo menatap kaget melihat Suzy yang tengah menatapnya dari letak pintu. Dibelakang gadis itu berdiri kedua temannya—Sungyeol dan Sungjong.

Gadis itu kemudian melangkahkan kakinya mendekat kearah Myungsoo yang kini tengah menatapnya dengan perban yang menempel dikepalanya juga pada pelipis kirinya.

“Apa yang terjadi?”

“Kami berkelahi dengan keras. Lalu Myungsoo menjadi umpan untuk musuh kami dan lari.” Sungjong menjelaskan apa yang terjadi kepada Suzy.

“Karena tergesa-gesa mengendarai motornya..akhirnya Myungsoo terjatuh dengan keras. Berkat Myungsoo, kami selamat.” Sungyeol melanjutkan penjelasan Sungjong kepada Suzy.

“Bagai—“

“Kenapa dia datang kesini?” Myungsoo menatap kdua temannya dengan dingin. “Siapa yang menghubunginya? Lukaku ini ringan. Bukankah sudah kubilang jangan menghubunginya?” Nada bicaranya sedikit meninggi.

Myungsoo lalu mengalihkan pandangannya kearah Suzy. “Kau tahu ini jam berapa? Bahaya keluar larut malam seperti ini!” Mata lelaki itu menatap tajam kearah gadis didepannya.

“Tapi—“

“Hei kalian! Cepat antar dia pulang!”

Sungyeol dan Sungjong saling berpandangan. Kemudian Sungjong mendekati Suzy. “Bae Suzy.. kajja, biar kami antar—“

“Tidak.”

Suzy menatap tajam kearah Myungsoo. “Apa maksudmu Kim Myungsoo?” gadis itu kemudian menarik nafasnya dalam. “BAGAIMANA JIKA INI DAPAT BERAKIBAT FATAL UNTUKMU KIM MYUNGSOO?!” Gadis itu kini tengah menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Kedua mata gadis itupun telah memerah.

Myungsoo menatap kaget mendengar triakan Suzy yang dilontarkan untuknya. Matanya menatap gadis itu khawatir. “Aku tidak apa-apa..”

Suzy menatap tidak percaya kearah Myungsoo. “Kim Myungsoo bodoh..” gadis itu mendesis, pandangannya mulai kabur akibat genangan air mata yang menumpuk dipelupuk matanya yang siap jatuh kapan saja.

“Sudahlah.. Jangan cemaskan aku. Lebih baik kau pulang, ini—“

“Baik, aku akan pulang dan tidak akan menemuimu lagi.”

Setelah mengatakan itu Suzy langsung berlari keluar kamar rumah sakit itu dan pergi meninggalkan Myungsoo yang tengah membulatkan kedua matanya.

“Suzy-ah..Tungg—argghh”

Myungsoo segera memegang kepalanya yang mendadak terasa sakit.

“Jangan terlalu banyak bergerak Myungsoo-ah!” Sungjong mencoba membantu Myungsoo membenarkan posisisnya.

“Apa yang kalian lakukan? Cepat kejar dia! Jangan biarkan gadis itu pulang sendirian!”

 

***

 

One Week Later…

Suzy tengah berjalan sendirian menyusuri koridor sekolah yang sepi. Sudah satu minggu ini gadis itu telihat sedikit murung. Sudah satu minggu berlalu juga semenjak ia menjenguk Myungsoo dirumah sakit, dan itu terkhir kalinya ia melihat lelaki itu.

Gadis itu terus melangkahkan kakinya dengan kepala yang terus ia tundukkan. Ia kemudian melirik sekilas jam dipergelangan tangan kanannya. Masih pukul delapan.. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk duduk dibangku panjang yang terletak disisi koridor sekolahnya.

“Kenapa kau ada disini?”

Sebuah suara yang berasal dari sisi kiri koridor berhasil membuat gadis itu mendongakkan kepalanya.

“Kim Myungsoo?”

Suzy membulatkan matanya ketika melihat sosok yang sangat dirindukannya seminggu ini tengah menatapnya protektif. Namun segera gadis itu merubah tatapannya menjadi sedemikian biasa dan mulai beranjak dari duduknya kemudian segera melangkahkan kakinya pegi.

“Bukan urusanmu.”

Myungsoo segera melangkahkan kakinya mendekat pada Suzy dan langsung menarik pergelangan tangan kiri gadis itu.

“Suzy-ah…”

Gadis itu terdiam sejenak saat merasakan tangan Myungsoo mengenggam pergelangan tangannya. Namun tak berapa lama ia kemudian menghempaskan tangan lelaki itu.

Myungsoo menatap gadis yang kini tengah berdiri membelakanginya. Matanya kemudian terbelalak kaget ketika menyadari bahwa lutut gadisnya itu dibalut sebuah perban yang ia tahu masih baru.

“Lututmu..” Myungsoo kemudian membalikkan tubuh Suzy untuk menghadapnya. Myungsoo segera berlutut didepan Suzy dan tangannya terulur untuk menyentuh perban dilutut gadis itu.

“Ini kenapa? Apa yang terjadi selama aku tidak ada?” matanya menatap cemas kearah Suzy.

“Ini bukan apa-apa..” Suzy kemudia mencoba membalikkan tubuhnya, namun Myungsoo sudah terlebih dahulu menahannya.

“Katakan padaku apa yang terjadi!” Myungsoo sedikit menekan nada suaranya.

“Aku..aku terjatuh saat mengikuti tes untuk mendapatkan SIM.”

Myungsoo membulatkan kedua matanya. “MWO?”

Lelaki itu lantas berdiri dan menatap tajam kearah Suzy. “Apa yang kau lakukan hah? Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu? Itu akan sangat membahayakanmu!”

“Sesuatu itu telah terjadi! Kau tak lihat huh? Tapi buktinya aku masih baik-baik saja. Aku bisa menjaga diriku sendiri! Dan aku tidak akan mati!” Amarah gadis itu meluap begitu saja, matanya membalas tatapan tajam Myungsoo.

“Apa yang kau katakan Suzy-ah?” Myungsoo mengucapkan kalimatnya dengan begitu pelan, wajahnyapun kini menampakkan kemurungan.

“Iya! Aku tidak akan ma—“

“Hentikan ucapanmu! Jangan pernah lontarkan kata itu lagi!”

WAE?”

“KARENA AKU TIDAK AKAN PERAH MEMAAFKAN DIRIKU SENDIRI JIKA SAMPAI HAL ITU TERJADI PADAMU!”

Suzy membulatkan matanya ketika Myungsoo berteriak dengan lantangnya didepan wajah gadis itu. Kini ia melihat lelaki itu terduduk lemas dilantai dengan wajah yang ditundukkan.

“Myungsoo-ah?”

“Jangan pernah katakan itu lagi..kumohon.”

Tangan gadis itu kemudian terulur untuk menyentuh kedua pipi Myungsoo. Matanya menatap nanar kearah lelaki itu.

“Maafkan aku..”

Myungsoo kemudian mendongakkan kepalanya menghadap Suzy. “Aku akan berhenti.”

Suzy mengerutkan dahinya heran. “Mwo?”

“Aku akan berhenti naik motor dan..berkelahi.” Myungsoo menatap dalam langsung kemata Suzy.

Senyum manis terukir dibibir gadis itu. Suzy kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Myungsoo. Ia menatap lama mata Myungsoo pada jarak yang sangat dekat. Tak berapa lama kemudian, bibir gadis itu telah mendarat mulus pada bibir Myungsoo.

“Aku percaya padamu.”

-FIN-

Finally.
Sebelumnya fic ini sudah pernah aku pst diblog pribadiku, dgn cast Taehyung. Jai ini bisa dibiliang sebagai myungzy vers. Please always to leave your riview and comment guys;)) trims♥

33 responses to “Boyfriend Distrees (Oneshot)

  1. Awalnya kupikir myungsoo itu agak egois karena dia nggak mau bikin suzy khawatir tapi dia tetap suka berkelahi. Tp pada akhirnya Myungsoo mau ngerubah kebiasaan buruknya buat Suzy dan buat dirinya sendiri. Salut buat myungppa.

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s