[Oneshoot] My My

Lee Jong Suk & Suzy Miss A

© Cafe Poster by: leesinhyo

Title : My My | Author : dindareginaa | Genre : Friendship, Romance | Rating : Teen | Main Cast : Lee Jong Suk & Bae Sooji | Other Cast : Mark Tuan, Choi Jinri, Jung Soojung

Read Also : MyungZy Version

EPILOG

Gadis itu mematut bayangannya di cermin. Dipakainya pita berwarna pink yang kemarin sempat ia beli saat pergi bersama ibunya di sebuah pusat perbelanjaan Seoul sebagai sentuhan terakhir. Ia tersenyum simpul. Penampilannya kini tampak sempurna.

Namanya Bae Sooji. Hari ini adalah hari pertamanya masuk SMA. Kenapa Sooji begitu antusias? Karena itu artinya Sooji sudah lepas dari panggilan bocah dan ia sudah memasuki tahap menjadi seorang gadis dewasa yang cantik. Kekeke.

Sooji segera berlari ke luar rumah. Ia tersenyum begitu mendapati seorang lelaki tampan sudah menunggunya di depan pagar rumahnya. Nama lelaki itu Lee Jong Suk. Usianya enam tahun diatas Sooji. Saat ini ia sedang berada pada semester akhir perkuliahannya. Dan ya! Tebakan kalian tepat sekali! Sooji memang menyukai Jong Suk yang adalah tetangga sekaligus sahabatnya sejak kecil. Dan itulah alasan Sooji selalu menanti hari dimana ia bisa memakai seragam SMA. Tapi sayangnya, Sooji selalu merasa bahwa Jong Suk hanya menganggapnya sebagai seorang adik. Tidak lebih.

Mungkin karena sejak Sooji lahir, Jong Suk selalu dipercayakan oleh kedua orang tua Sooji untuk menjaga anak semata wayang mereka. Lelaki itu bahkan sering memandikan Sooji sewaktu ia kecil. Membayangkannya saja membuat Sooji malu setengah mati!

Maka dari itu, keinginan Sooji paling besar tahun ini adalah: menjadi dewasa dan tentu saja menjadi kekasih Lee Jong Suk! Lihat saja! Ia pasti bisa menakhlukkan Jong Suk sebentar lagi! Sooji tersenyum  menunjukkan smirk-nya.

“Hei! Apa yang kau pikirkan?”

Sooji tersentak begitu mendengar pertanyaan Jong Suk. Ia sontak tersenyum salah tingkah. Entah kenapa, meskipun ia sudah sering berangkat sekolah bersama Jong Suk, jantungnya tetap saja berdegup kencang.

Melihat ekspresi wajah Sooji, lelaki itu mendesis. “Melamun lagi! Kalau begini, aku akan terlambat kuliah dan kau juga akan terlambat di hari pertamamu sekolah! Ayo!”

Sooji membulatkan matanya begitu Jong Suk memegang tangannya. Namun, gadis itu tak berkata apa-apa dan hanya mengikuti langkah Jong Suk. Bisa gawat kalau lelaki itu tahu bahwa Sooji kini sedang salah tingkah!

——————————————————————————–

Sooji memperhatikan sekelilingnya dengan seksama. Di dalam bus yang saat ini sedang mereka naiki, tak ada seorang pun yang tanpa pasangan. Semua penumpang tampak sedang menggandeng mesra kekasih hati mereka.

Sooji mendengus. Diliriknya Jong Suk yang kini sedang sibuk mendengarkan musik dari earphone-nya. Sooji lalu tersenyum begitu sebuah ide yang menurutnya brilian terbersit dibenaknya. Gadis itu kemudian menyisipkan tangannya ke tangan Jong Suk, menggandeng lelaki itu. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Jong Suk dan mulai memejamkan matanya.
Menyadari itu, Jong Suk hanya menggelengkan kepalanya lalu membelai lembut puncak kepala Sooji dengan sayang.

“Kau tidak bosan berangkat dengan lelaki itu setiap hari?”

Sooji yang baru saja tiba di sekolahnya segera menoleh ke arah Choi Jinri – gadis yang sempat beberapa kali sekelas dengannya saat SD dulu. Gadis itu ternyata  memperhatikan Sooji yang diantar oleh Jong Suk.

“Kenapa harus bosan?”

Jinri menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Sooji. “Kau setiap hari berpergian dengan seseorang yang bahkan tidak ada hubungan darah denganmu. Apa kau tidak lelah?”

Sooji tersenyum. “Tidak. Karena aku menyukainya.”

“Bagaimana dengannya? Apa dia juga menyukaimu?”

Mendengar pertanyaan gadis itu, Sooji sontak terdiam. Sebenarnya, sebelum Jinri bertanya hal tersebut padanya, sudah ratusan – tidak – ribuan kali ia menanyakan hal yang sama pada dirinya. Apakah Jong Suk menyukainya? Apakah Jong Suk pernah setidaknya sekali pun melihat Sooji sebagai seorang gadis?

“Aku tidak tahu,” lirihnya kemudian.

“Kalau begitu tanyakan padanya!”

Sooji membulatkan matanya. Sebenarnya Sooji seringkali memikirkan hal tersebut. Tapi…

“Bagaimana caranya?”

“Kau tahu, hari minggu besok di taman kota akan diadakan pesta kembang api. Ajak dia! Dan kau bisa menyatakan perasaanmu padanya.”

Ah, benar juga. Kenapa tak terpikirkan olehnya? “Terimakasih, Choi Jinri! Kau benar-benar penyelamatku!” seru Sooji seraya memeluk gadis yang lebih tua beberapa bulan darinya itu dengan erat.

Jinri hanya tersenyum. Tak salah orang-orang menyebutnya sebagai pakar cinta.

“Apa? Pesta kembang api? Tumben sekali,” tanya Jong Suk heran begitu Sooji mengajaknya saat mereka baru saja sampai di depan rumah Sooji.

“Aku sudah lama ingin menyaksikannya, Oppa. Kumohon,” ujar Sooji memelas.

“Baiklah. Baiklah. Jam berapa?”

Sooji tersenyum begitu Jong Suk  menerima ajakannya. “Jemput aku jam 7. Jangan terlambat. Kau tahu, gadis paling tidak suka menunggu. Sampai jumpa besok, Oppa!”

Jong Suk hanya menggeleng-gelengkan kepalanya seraya memperhatikan Sooji yang sudah masuk kerumahnya. Ia baru sadar bahwa Sooji yang selama ini dikenalnya sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik.

Hari yang Sooji nantikan akhirnya datang juga! Hari minggu! Itu artinya hari ini ia akan berkencan dengan Jong Suk! Tapi, bisakah ia menyebut ini dengan kencan?

Sooji sangat antusias sekali dengan rencananya dengan Jong Suk hari ini. Buktinya, meskipun Jong Suk berjanji menjemputnya jam tujuh, tetapi gadis itu sudah bersiap dari jam lima tadi.

“Apa yang harus aku pakai?” gerutu Sooji seraya memandangi kumpulan bajunya yang berserakan di atas tempat tidur. Ia tak pernah sebingung ini dalam mengurus pakaiannya saat akan keluar bersama Jong Suk.

Akhirnya setelah bergelut dengan pikirannya selama kurang lebih dua puluh lima menit, Sooji memutuskan untuk memakai dress mini tanpa lengan dengan atasan berwarna putih serta rok mengembang berwarna pink yang panjangnya hanya menutupi lututnya.

Setelah selesai berpakaian, Sooji segera beralih pada wajahnya. Ia bahkan meminjam perlengkapan make up milik ibunya. Tentu saja hal itu dilakukannya secara diam-diam. Kalau ibunya sampai tahu, bisa-bisa Sooji dimarahi habis-habisan karena sudah memakai make up diusianya yang masih remaja. Huh! Padahal, bulan oktober nanti Sooji akan menginjak umur tujuh belas tahun! Itu artinya,  ia sudah dewasa.

Sooji lalu memoles wajahnya dengan bedak. Tidak perlu tebal, setidaknya bisa membuat kulit Sooji tampak lebih cerah. Setelah itu, ia memakai lipgloss berwana pink untuk membuat bibirnya tampak tidak pucat. Rambutnya yang panjang dan bergelombang ia biarkan tergerai.

Sooji lalu menatap tajam bayangannya di cermin dan tersenyum. Ia tampak cantik seperti biasa. Jong Suk pasti akan jatuh hati padanya!

Tapi… Sepertinya ada yang kurang. Tapi apa? Sooji kembali menatap bayangannya dengan lekat. Pandangannya jatuh pada dadanya.

Ia mendengus. Sooji baru sadar bahwa ia memiliki dada yang kecil. Bukankah anak lelaki lebih suka melihat ukuran dada yang besar? Teman-teman sekelasnya juga begitu. Terkadang, ia mencuri dengar pembicaran Oh Sehun dan Kim Jongin yang duduk tepat dibelakangnya. Husss! Mereka sering membawa majalah dewasa di kelas dan membicarakan ukuran dada! Ckck.

Sooji kemudian mengambil beberapa helai tissue, menggumpalkannya lalu menyelipkannya ke dalam bajunya.

Ia tersenyum melihat bayangannya di cermin, kini dengan dada yang lebih besar. Tapi… Sooji menghembuskan nafasnya kasar. Rasanya aneh sekali! Tidak. Tidak. Lebih baik Sooji pergi dengan dada kecil saja. Bisa bahaya kalau gumpalan tissue itu jatuh saat ia sedang asik berkencan dengan Jong Suk!

Sooji lalu memutuskan untuk mengeluarkan tissue tersebut dari balik pakaiannya. Kembali ia menatap bayangannya di cermin untuk yang terakhir kalinya. Ya. Seperti ini lebih baik.

“Sudah lama menunggu?”

Jong Suk yang sedang asik duduk di teras depan rumah Sooji seraya memandangi bunga-bunga di taman yang kini mulai mekar sontak menoleh pada Sooji yang sudah berdiri di belakangnya. Lelaki itu mengernyit bingung. “Kau yakin akan pergi dengan pakaian seperti itu?” tanyanya memastikan.

Sooji yang mendengar pertanyaan Jong Suk sontak mengangguk. “Kenapa?” Sebenarnya ia sedikit kecewa dengan kesan pertama Jong Suk terhadap penampilannya. Padahal ia berharap Jong Suk akan memuji penampilannya.

“Tidak ada.” Jong Suk menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Hanya saja, bukankah kita hanya menonton pesta kembang api? Kenapa berpakaian bagus seperti itu?”

“Oh?” Sooji tersentak. Ia kemudian megalihkan pandangannya pada pakaian Jong Suk. Dan benar saja. Jong Suk hanya mengenakan celana jeans tiga perempat yang mempunyai robekan-robekan kecil di bagian pahanya dan juga kaos berwarna hitam serta jacket berwarna abu-abu kesayangannya. Sooji menarik nafasnya panjang. Sepertinya hanya ia yang antusias terhadap kencan ini.

“Kenapa diam? Ah, lupakan. Sebaiknya kita segera pergi. Kau tidak ingin ketinggalan pesta kembang apinya bukan?”

Sooji hanya mengangguk lesu seraya mengikuti langkah Jong Suk yang sudah berjalan mendahuluinya.

Sooji hanya memakan gulali yang Jong Suk belikan untuknya beberapa saat lalu dengan wajah masam. Ia menoleh pada Jong Suk yang kini sedang sibuk memperhatikan berbagai stan-stan permainan. Sepertinya Jong Suk tak peduli dengan kencan mereka. Lihat! Tak sekalipun lelaki itu menoleh  kearahnya.

“Hei, mau mencoba itu?”

Sooji sontak menoleh ke arah yang ditunjuk Jong Suk. Lelaki itu menunjuk ke sebuah stan permainan dimana kau harus melempar tepat mengenai kumpulan kaleng bekas yang sudah tersusun rapi. Pandangan Sooji kemudian beralih pada sebuah boneka babi berwarna pink yang cukup besar. Sooji sontak berjalan ke arah stan permainan tersebut.

“Bagus sekali,” gumamnya.

“Kau mau?”

Sooji menoleh ke arah Jong Suk yang sudah berada disampingnya. Gadis itu segera tersenyum dan mengangguk, seakan melupakan kekesalannya terhadap Jong Suk beberapa saat lalu.

“Baiklah kalau begitu. Aku akan memenangkannya untukmu,” Jong Suk mulai menegangkan urat-urat tangannya, bersiap meluncurkan aksinya. Jong Suk lalu menyerahkan selembar uang ribuan won pada si penjaga stan.

“Jika kau ingin memenangkan boneka babi itu, kau harus melemparkan bolanya sebanyak tiga kali tanpa meleset sedikitpun,” ujar lelaki yang mungkin lebih tua beberapa tahun dari Jong Suk itu seraya menyerahkan bolanya.

“Tidak masalah,” ujar Jong Suk yakin lalu menerima bola tersebut. Jong Suk tersenyum simpul dan segera mengambil kuda-kuda untuk melempar bola. Dan…

BRUK.

Sooji sontak bertepuk tangan begitu bola yang Jong Suk lemparkan tepat pada sasaran. Seperti yang ia duga, Jong Suk memang pandai dalam hal seperti ini. Dan tak perlu menunggu lama lagi bagi Jong Suk untuk kembali melempar bola dan kembali mengenai kumpulan kaleng tersebut.

“Terimakasih, Oppa!” ujar Sooji senang seraya memeluk erat boneka  babi yang Jong Suk berikan kepadanya.

Jong Suk hanya tersenyum simpul. “Ayo.”

Keduanya akhirnya memutuskan untuk berkeliling-keliling sambil menunggu pesta perayaan kembang apinya dimulai. Sooji menundukkan kepalanya. Sebelah tangannya kini memegang dadanya. Ia bisa merasakan bahwa jantungnya kini berdetak sangat cepat. Apa lebih baik ia menyatakan perasaannya pada Jong Suk sekarang? Ya, sebaiknya begitu saja. Baru saja Sooji berniat membuka suaranya begitu seorang gadis memanggil nama Jong Suk.

“Lee Jong Suk!”

Mendengar namanya disebut, Jong Suk sontak menoleh ke sumber suara. Ia tersenyum begitu mendapati gadis tersebut kini berjalan menghampirinya.

“Jung Soojung!”

Sooji mengernyitkan keningnya begitu gadis bernama Soojung tersebut berada dihadapan mereka. Diperhatikannya gadis tersebut dari ujung rambut hingga kaki. Cantik. Dan dewasa – tentu saja. Itu yang Sooji pikirkan begitu melihat sosok Soojung. Apa seperti ini tipe ideal seorang Lee Jong Suk?

Sooji tak bisa menahan rasa kesalnya begitu Jong Suk dan Soojung asik bercengkrama sambil sesekali tertawa, entah karena candaan yang dilemparkan Jong Suk atau pun sebaliknya. Sooji kini merasa sedang menonton drama romantis komedi dengan ia sebagai figuran.

Ini pertama kalinya Sooji merasakan seperti ini. Ia kesal dan marah tapi tak tahu harus melakukan apa. Sooji tak suka ada gadis lain yang dekat dengan Jong Suk selain dirinya.

Sooji tersentak begitu Soojung menoleh pada dirinya. Mungkin ia baru sadar bahwa sedari tadi Sooji  menjadi obat nyamuk di antara mereka. Gadis itu tersenyum. Manis. Dan Sooji benci mengakui itu!

“Dia siapa? Pacarmu? Kenapa kau tak mengenalkannya padaku?”

Gadis itu menyikut lengan Jong Suk, berniat menggoda lelaki itu.
Mendengar pertanyaan Soojung, sontak saja wajah Sooji memanas. Sepertinya Sooji harus menarik perkataan kasarnya erhadap gadis ini.

“Ah, tidak. Dia adikku.”

Rasanya seperti ada petir yang menyambar diri Sooji. Rasanya sakit. Sesak. Sooji rasanya sulit sekali bernafas seolah-olah seluruh pasokan oksigen telah direbut darinya. Sooji mengepalkan kedua tangannya erat. Berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis.

“Ah, benarkah? Bodoh sekali aku,” gerutu Soojung. Tiba-tiba saja gadis itu tersentak begitu seorang gadis memanggil namanya.

“Sepertinya aku harus pergi. Temanku sudah menunggu. Sampai jumpa besok, Jong Suk-ah.”

Jong Suk mengangguk kecil lalu melambaikan tangannya paa bayangan Soojung yang mulai menjauh. Jong Suk kemudian menoleh pada Sooji yang kini menundukkan kepalanua. Alis lelaki itu terangkat sebelah. Heran melihat sikap Sooji.

“Sooji-ah, kau baik-baik saja?”

Sooji menghembuskan nafasnya perlahan sebelum akhirnya mengangkat kepalanya. Jong Suk membulatkan matanya begitu menyadari kedua pipi bulat Sooji kini telah basah.

“Kau… menangis?” tanya lelaki itu ragu.

Sooji tersenyum simpul. “Aku… menyukaimu, Oppa.”

DUAR! Suara kembang api mulai terdengar, membentang cantik di atas langit yang berarna gelap.

Jong Suk menatap Sooji tanpa berkedip. Ia tak menyangka bahwa gadis yang selama ini ia anggap sebagai adiknya sendiri ternyata menyukainya. Jong Suk menarik nafasnya panjang sebelum akhirnya berkata,”Ma…af.”

Sooji mengerang begitu merasakan sinar matahari mulai masuk melalui celah-celah jendela kamarnya. Gadis itu sontak membuka matanya perlahan. Sooji lalu duduk diatas ranjangnya. Diarahkannya pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Kamarnya kini tampak seperti kapal pecah. Sangat berantakan. Gumpalan tissue berisi lendir menjijikkan dari hidungnya berserakan dimana-mana.

Sooji tertegun. Tiba-tiba saja kejadian semalam kembali terputar rapi dibenaknya.

Aku hanya menganggapmu sebagai adik kecilku. Tidak lebih.

Ah, ternyata semalam ia telah ditolak oleh Jong Suk. Sekarang, bagaimana ia bisa bertemu dengan Jong Suk? Sooji akhirnya memutuskan untuk segera mandi. Ia harus berangkat sekolah cepat agar tak bertemu dengan Jong Suk.

“Sooji sudah pergi?”

Jong Suk mengernyitkan keningnya begitu Ibu Sooji mengatakan bahwa anak gadisnya sudah berangkat sekolah beberapa saat lalu. Tumben sekali Sooji tak menunggunya? Apa karena kejadian semalam?

“Ah, kalau begitu aku pergi dulu, Bi.”

Jong Suk membungkukkan badannya sebelum akhirnya pergi dari rumah Sooji.

Jong Suk mendengus kesal. Ini sudah seminggu Sooji menghindarinya. Gadis itu tak pernah mengangkat teleponnya dan juga membalas pesannya. Gadis itu hilang bagai di telan Bumi. Setiap kali Jong Suk pergi ke rumah Sooji, gadis itu selalu tidak ada di rumah. Maka dari itu, hari ini Jong Suk memutuskan untuk menemui Sooji disekolahnya. Harus!

“Kau baik-baik saja?”

Sooji yang sedang asik melamun seraya bertopang dagu diatas mejanya tersentak begitu mendengar pertanyaan Choi Jinri. “Eh, apa?” tanyanya.

Jinri menarik nafasnya panjang lalu menggeleng-gelengkan kepalanya begitu melihat tingkah Sooji. “Kau baik-baik saja?” Jinri mengulangi pertanyaannya.

“Tentu saja. Kenapa aku harus tidak baik-baik saja?”

Jinri hanya menatap iba Sooji. Ia tahu gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Apalagi karena kejadian seminggu yang lalu. Ya, Sooji menceritakan semuanya. Termasuk saat Jong Suk menolak dirinya.

“Oh iya, kudengar kita kedatangan murid baru,” ujar Jinri kemudian berusaha mencairkan suasana.

“Benarkah?” tanya Sooji, berpura-pura untuk tertarik dengan topik pembicaraan Jinri.

Gadis berambut sebahu itu mengangguk. “Pindahan luar negri. Dan katanya lelaki ini sangat tampan! Siapa tahu kau bisa melupakan Jong Suk.”

Sooji hanya tersenyum simpul. Melupakan Jong Suk? Apakah bisa ia melakukannya?”

Kelas yang tadinya sempat ricuh tiba-tiba saja sepi bak kuburan begitu melihat Guru Kang – salah satu guru killer di sekolahnya – masuk. Lelaki paruh baya itu tak sendiri. Ia masuk diikuti oleh seorang lelaki yang cukup tampan. Sepertinya ia murid baru yang diceritakan Jinri tadi. Sooji bisa merasakan semua teman-teman gadisnyasibuk membicarakan si lelaki tampan, membuat Guru Kang harus memukul meja agar kelas tenang kembali.

“Baiklah, perkenalkan dirimu,” suruh Guru Kang.

Lelaki tampan itu mengangguk. “Perkenalkan, namaku Mark Tuan. Senang bertemu dengan kalian.”

Setelah lelaki bernama Mark itu memperkenalkan dirinya, Guru Kang menyuruhnya duduk di kursi kosong yang berada tepat di belakang Sooji. Pelajaran akhirnya segera dimulai.

“Bae Sooji!”

Sooji yang baru saja berniat untuk pulang karena jam pelajarannya sudah berakhir sontak saja menoleh ke belakang. Ia mengernyit heran begitu si murid baru tersenyum padanya. Anak baru itu memanggilnya? Benarkah?

“Ehmm… Ya?”

Mark Tuan terkekh begitu melihat ekspresi Sooji. “Hei! Kenapa kau kaku begitu? Kau tidak ingat aku? Aku ini Mark! Mark Tuan!”

Sooji masih menatap lelaki tampan itu dengan bingung. Ya, ia tahu nama lelaki itu Mark Tuan. Tapi… tunggu dulu! Sepertinya Sooji tak asing dengan nama itu. Kedua matanya kemudian membulat begitu teringat sesuatu. “Ah, Markeu!” sapanya.

Mark tersenyum lega begitu Sooji mulai mengingatnya. Mark Tuan adalah sahabat Sooji sewaktu sekolah dasar. Mereka sempat sekelas beberapa kali. Dan Sooji selalu saja menjadi pahlawan Mark. Mark Tuan dulunya berukuran sangat besar maka dari itu ia sempat dijuluki Big Mark. Dan saat Mark di bully oleh teman-teman mereka, hanya Sooji yang menjadi penolongnya. Mungkin karena penampilan Mark yang berbeda – lelaki ini sangat tampan – Sooji tak mengingatnya.

“Hei, kenapa kau berubah menjadi tampan seperti ini?”

Mark hanya tersenyum malu mendengar ucapan Sooji. “Setelah ini kau mau kemana?” tanya lelaki itu kemudian.

“Pulang.”

“Baiklah. Kalau begitu ku antar kau pulang. Banyak hal yang ingin kuceritakan padamu. Rumahmu masih di tempat yang lama bukan?”

Jong Suk yang baru saja sampai disekolah Sooji segera mengedarkan matanya mencari sosok gadis cantik itu. Jong Suk melirik arlojinya sekilas. Ah, seharusnya Sooji sudah pulang sekarang. Jong Suk tersenyum begitu melihat Sooji baru saja keluar dari kelasnya. Baru saja Jong Suk berniat untuk memanggil gadis itu namun diurungkannya begitu melihat Sooji kini sedang asik bercengkrama dengan seorang lelaki yang asing bagi Jong Suk. Siapa lelaki itu? Kekasih Sooji? Memikirkannya saja membuat Jong Suk kesal. Sedetik kemudian, Jong Suk membulatkan kepalanya. Ya, Tuhan! Lee Jong Suk! Sekalipun dia adalah kekasih Sooji, itu tidak ada urusannya denganmu! Jong Suk akhirnya memutuskan untuk berjalan menghampiri Sooji.

“Bae Sooji!”

Mendengar namanya dipanggil, Sooji sontak  menoleh. Ia mengernyit heran begitu menyadari Lee Jong Suk kini sudah berada dihadapannya. “Oppa… Kenapa kau disini?”

Ada apa dengan pertanyaan Sooji? Gadis itu seolah tidak suka dengan kehadirannya? Apa ia mengganggu pembicaraannya dengan lelaki ini?!

“Siapa?”

Jong Suk menoleh ke arah lelaki yang harus ia akui tampan itu.

“Tetanggaku.”

Jong Suk membulatkan matanya mendengar pernyataan Sooji. Apa? Tetangga? Jong Suk bahkan mengatakan bahwa Sooji adalah adiknya di depan Soojung. Dan Sooji? Apakah di mata Sooji, Jong Suk hanyalah sekedar tetangga?

“Apa yang kau lakukan disini, Oppa?” Sooji mengulangi pertanyaannya.

“Aku hanya sekedar lewat. Maka dari itu aku sekalian menjemputmu. Aku tak tahu bahwa kau sudah mempunyai teman pulang,” Jong Suk melirik kesal ke arah Mark.

“Jadi, sekarang kau mau kemana? Anak kecil tidak boleh keluyuran!”

Sooji mendengus kesal menengar perkataan Jong Suk. Bahkan setelah ia duduk di bangku SMA, di mata Jong Suk ia hanyalah seorang anak kecil! Menyedihkan!

“Sepertinya dia tidak menyukaiku ya?”

Mark melirik ke belakang, tepatnya pada Lee Jong Suk. Lelaki itu memaksa untuk mengantar Sooji pulang meskipun ada Mark. Katanya Jong Suk takut kalau Sooji tidak pulang ke rumah dan malah pergi keluyuran! Konyol sekali!

“Biarkan saja dia,” ujar Sooji menahan kesal.

Mark hanya tersenyum. “Omong-omong, kau bertambah cantik sejak terakhir kali kita bertemu.”

Jong Suk hampir saja memuntahkan makan siangnya begitu mendengar gombalan murahan Mark. Jadi hanya sebatas itu kemampuan lelaki itu?

“Kau juga,” jawab Sooji. “Siapa yang sangka kalau seorang Mark Tuan bisa berubah menjadi tampan seperti ini? Teman-teman kita dulu pasti menyesal karena telah mengucilkanmu.”

“Tapi sebenarnya aku begini karenamu,” ujar Mark akhirnya. Wajahnya berubah menjadi serius.

“Apa? Karenaku?” tanya Sooji kebingungan.

Lelaki itu mengangguk. “Kau tidak ingat apa yang kau katakan padaku saat aku bertanya lelaki seperti apa yang ingin kau nikahi?”

Sooji menggeleng.

“Kau mengatakan bahwa kau ingin menikahi pangeran tampan seperti yang ada di dongeng-dongeng. Maka dari itu aku bertekad untuk menjadi pangeran tampan yang kau impikan.”

“Ya Tuhan, Mark! Bukankah itu sudah lama sekali! Aku bahkan sudah lupa!”

Mark tersenyum. “Jadi, bagaimana? Maukah kau menjadi putri impianku?”

Sooji menatap Mark tanpa berkedip. Ia tak menyangka Mark sudah menyukainya sejak lama. Baru saja Sooji membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Sooji begitu Jong Suk berdeham, membuat Mark dan Sooji sontak menoleh ke belakang.

“Sooji-ah, kita sudah sampai. Sebaiknya kau masuk! Cepat! Bibi akan marah kalau tahu bahwa kau keluyuran!” Jong Suk mendorong tubuh Sooji pelan, memaksa gadis itu untuk masuk ke pekarangan rumahnya.

Sooji melemparkan tatapan mautnya pada Jong Suk. Demi apapun! Kenapa lelaki itu menyebalkan sekali? Apa ia salah makan? Dan lagi, bercerita dengan Mark tidak termasuk kategori keluyuran! Tak ingin membuang energi dengan berdebat dengan Jong Suk, Sooji akhirnya mengalah. “Kalau begitu sampai jumpa besok, Mark.”

Mark tersenyum seraya melambaikan tangannya pada Sooji. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Jong Suk yang kini menatapnya tanpa rasa bersalah. Baru saja Jong Suk berniat pulang ke rumahnya yang berada tepat didepan rumah Sooji, namun perkataan Mark menghentikannya.

Hyeong, kau menyukai Sooji?”

Jong Suk sontak saja membalikkan badannya begitu mendengar pertanyaan Mark. “Menyukainya? Kau gila? Sooji sudah ku anggap seperti adikku sendiri.”

Mark tersenyum menunjukkan smirk andalannya. “Baguslah kalau begitu karena aku menyukainya dan aku harap kau tak mengganggu kami lagi.”

Usai menyelesaikan kata-katanya, Mark segera melengos pergi, meninggalkan Jong Suk yang terdiam ditempatnya.

Jong Suk mendengus kesal. Sudah sedari tadi ia berbaring di atas ranjang kesayangannya, tapi lelaki itu tak juga tertidur! Ia bahkan sudah mengganti posisi tidurnya lebih dari 10 kali! Entah kenapa kata-kata Mark masih terrngiang di kepala Jong Suk. Apa iya Jong Suk menyukai gadis itu?

Sadar akan pikiran konyolnya, Jong Suk segera terduduk di ranjangnya. Ia menepuk-nepuk kedua pipinya. Sepertinya ia sudah gila sekarang! Ah, lebih baik ia mencari angin saja diluar. Siapa tahu setelah itu ia akan tertidur pulas nantinya.

Jong Suk menggosokkan kedua tangannya. Dirapatkannya jaketnya. Kenapa malam ini dingin sekali? Lelaki itu tersenyum begitu kakinya membawanya ke sebuah taman bermain yang berada tak jauh dari rumahnya.

Dulu, ia dan Sooji sering kali bermain bersama disini. Mereka bahkan bermain hingga sore membuat baik Jong Suk atau pun Sooji dimarahi kedua orang tua mereka. Meski pun perbedaan umur mereka cukup jauh, tapi itu tak membuat Jong Suk dan Sooji canggung. Mungkin karena setiap hari Jong Suk menghabiskan waktunya bersama Sooji hingga ia duduk di bangku kuliah membuat rasanya ada yang aneh jika sehari saja ia tak bersama gadis itu.

“Oh.”

Jong Suk tersentak begitu mendapati Sooji sedang duduk sendiri di ayunan. Melihat itu, Jong Suk tersenyum. Ia segera berjalan menghampiri Sooji.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Jong Suk. Lelaki itu segera duduk di ayunan kosong yang berada di sebelah Sooji.

Oppa…” lirih Sooji. Ia tak menyangka akan bertemu dengan Jong Suk disini.

“Aku tanya, apa yang kau lakukan disini?”

“Hanya… mengenang masa lalu,” jawab gadis itu.

Jong Suk mengangguk mengerti. Untuk beberapa saat mereka terdiam, hingga akhirnya Jong Suk memutuskan untuk memulai pembicaraan. “Waktu cepat sekali berlalu ya. Aku tidak menyangka bocah sepertimu kini sudah beranjak dewasa.” Jong Suk mengacak-ngacak lembut puncak kepala Sooji.

Sooji terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata,“Oppa, tak bisakah sekali saja kau memandangku sebagai seorang wanita? Aku lelah setiap hari mendengar kau hanya memanggilku sebagai gadis kecil. Aku… sudah dewasa. Setidaknya kalau kau tidak bisa menyukaiku, jangan pernah anggap aku masih kecil.”

Sooji beranjak berdiri, lalu bersiap untuk pergi. Namun, baru saja gadis itu melangkah, ia terperanjat begitu Jong Suk menarik lengannya, membuat gadis itu jatuh ke pelukan Jong Suk. Sooji membulatkan matanya, tak mengerti dengan sikap Jong Suk.

“Maaf,” ujar Jong Suk kemudian. “Aku tidak menyangka kata-kataku bisa menyakitimu. Jujur, sebenarnya aku tidak bermasksud seperti itu. Tentu saja aku tahu bahwa kau bukan lagi Sooji kecilku. Kau adalah seorang wanita… dimataku.”

Sooji tertegun mendengar kalimat Jong Suk yang terakhir. Benarkah?

“Aku menyukaimu. Sangat. Aku sudah terbiasa hidup denganmu. Maka dari itu, saat kau menghilang selama seminggu belakangan ini, aku hampa. Kosong. Aku juga tidak suka melihatmu tertawa bersama lelaki lain. Terkhusus lelaki barat itu. Hanya aku yang boleh melihat tawamu dan juga senyummu. Karena aku menyukaimu.”

Sooji menahan nafasnya begitu Jong Suk melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Sooji, menghadap pada Jong Suk. Sooji menundukkan kepalanya, tak berani menatap mata elang lelaki itu.

Jong Suk tersenyum simpul. Ia lalu mengangkat kepala Sooji. “Berarti sekarang kita pacaran karena aku tahu kau tak mungkin menolakku!”

Sooji mempoutkan bibirnya. Apa-apaan tetangganya ini! Tapi, benar apa yang dikatakannya. Sooji tak akan bisa menolak Lee Jong Suk. Sooji tertegun begitu melihat Jong Suk mendekatkan wajahnya ke wajah Sooji. Mungkinkah ini… ciuman pertamanya? Sooji segera memejamkan matanya seraya mengepalkan kedua tangannya. Namun, gadis itu membuka matanya begitu Jong Suk menciumnya di keningnya, bukan di bibirnya. Sooji menatap wajah Jong Suk.

“Selanjutnya saat kau menginjak usia 17 tahun nanti.” Jong Suk terkekeh. “Ayo! Sebaiknya kita pulang. Kau bisa sakit nanti kalau keluar terlalu lama,” Jong Suk menggandeng lengan Sooji.

Sooji tersenyum simpul lalu mulai mengikuti langkah Jong Suk. Ia jadi tak sabar menunggu umurnya bertambah beberapa bulan lagi. Kekeke~

 ∞

EPILOG

“Jadi kau berkencan dengan Jong Suk hyeong?”

“Iya.”

“Padahal aku sengaja jauh-jauh datang dari Amerika hanya untuk melihatmu!”

“Maaf. Bagaimana kalau sebagai gantinya kau berkencan saja dengan Choi Jinri? Bukankah dia juga cantik?”

“APA? CHOI JINRI yang cerewet itu? Kau lupa bahwa dialah yang paling semangat saat mem-bully-ku dulu? Lebih baik aku menjadi perjaka tua saja dibandingkan dengan gadis penyihir itu!”

THE END

 

20 responses to “[Oneshoot] My My

  1. Puk puk mark.. sini sini sama aku aja.. gak nolak kok.. haha…
    Dada rata. Ngakak pas bagian ini.. suzy berusaha banget, udah total banget dandannya, eh jongsuk biasa2 aja…
    Seneng, happy ending… oho…
    Nice story…
    Joha…
    Ditunggu karya selanjutnya…
    Fighting.. ^^

  2. Walah… jongsuk ternyata…. baru jg mau deket sm Mark, br sadar kalo suka.
    Pdhl sebenarnya ngarep jadian dulu sm Mark gitu biar Jongsuk tambah keki hehe…
    Yg penting happy ending
    Makasih ya kak Dinda

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s