[2/2] Indiscreetly, Fondly

95-indiscreetly-fondly

Lovely, fondly poster belongs to Miss of Beat R

Final Chapter of

Indiscreetly, Fondly.

December 2015©

Miss A Bae Suzy and EXO Oh Sehun

with BTS Kim Seokjin, 4Minute Kwon Sohyun BTOB Yook Sungjae and Idol Jung Soyeon / Jessica | Alternate-Universe, Crack, Editorial’s Life, Family, Fluff, Friendship, Romance(?) | Two-shoots | PG 15 | Previous, here!

.

Sometime, you cannot deny a destiny that has been tied knot you down, secretly.

.

.

.

“Terimakasih sudah repot-repot mau membantu orang bodoh seperti saya. Dan maaf sudah membuat Anda berbuat sampai sejauh ini.”

“Bukan masalah, “ tukas Oh Sehun –pria yang membawa Suzy menuju rumahsakit Universitas Hongik untuk mendapatkan perawatan pada lengannya.

“Tapi saya sungguh merasa tidak enak.“

“Aku bilang itu tidak apa-apa. Lagipula aku tidak merasa repot juga, kok.”

“Ah begitukah?”

“Ya, dan satu lagi, cukup berbicara banmal saja kepadaku. Kupingku rasanya seperti mendengarkan siaran berita KBS pukul 9 pagi saja, tahu.”

Suzy pun tertawa kecil sembari menahan nyeri dari pangkal lengannya yang sudah dibebat oleh perban sampai ke ujung siku.

“Tetapi kita ‘kan baru bertemu. Saya rasa itu sedikit tidak sopan, bukan begitu?”

“Sedikit banyak, kau memang benar. Tapi entahlah, aku rasa suaramu itu terdengar tidak asing bagiku.” tutur Sehun seraya me-refresh ingatan tentang suara yang rasa-rasanya sering ia dengar melalui sambungan telepon.

“Ya??”

“Ah, bukan apa-apa. Jadi?”

“Bicara banmal-nya? Hm, baiklah. Anda bisa mulai lebih dahulu kalau begitu.”

“Aku sudah berbicara banmal kepadamu daritadi.”

.

.

“Sehun-ssi.”

“Oh, kau sudah selesai.” Sehun berkata kepada Suzy yang dijawab olehnya dengan anggukan. “Mengapa ada dua bukti pembayaran?”

“Yang satu untuk diriku dan yang satu lagi untuk kantor supaya uangku yang tadi diganti.” pungkas wanita yang sekarang sibuk memasukkan dompet ke dalam tas selempangnya.

Berkat ah tidak, kata itu terlalu cakap untuk musibah yang menimpa Suzy, tetapi gara-gara pangkal lengan kirinya yang bengkak dan terkilir, ia pun menjadi kesulitan mengemasi dompet dan dua bukti salinan transaksi ke dalam tas. Tidak tinggal diam, pria yang masih setia menunggui gadis itu pun mempermudah gerak lengan Suzy.

“Terimakasih, Sehun-ssi.”

Pluk!

ID card milik Suzy tiba-tiba hampir jatuh namun berhasil berhasil ditangkap oleh Sehun. Sekilas, pria dengan surai belah tengah itu mengamati logo yang ada pada ID card tersebut. Seungri Publisher, editor, Bae Suzy. Seketika, tercengang sudah pemuda Oh itu.

“Kau seorang editor buku?” tanya Sehun memastikan, sembari memberikan ID card-nya.

Hm, bisa dibilang begitu. Tetapi lebih tepatnya aku ini seorang penyunting dan bukan editor. Perlu digarisbawahi, perbedaan editor dan penyunting memang tipis tapi tetap saja berbeda.” jelas Suzy dengan nada yang terdengar gembira. Menutupi kesedihan di balik status sebagai penyunting bodoh di penerbitan.

“Buku apa yang sedang kausunting saat ini kalau boleh kutahu?”

Bunyi resleting yang ditutup terdengar. Gadis itu pun mengangkat kepala menghadap Sehun yang memandangnya cukup intens. Suzy mendehem; mengabaikan kuriositas Oh Sehun; meninggalkan loket administrasi menuju pintu keluar rumahsakit.

“Sebenarnya aku ingin sekali memberitahumu tapi aku tidak bisa. Aku tidak boleh melanggar yang namanya Kode Etik Penyuntingan. Maaf.” terang Suzy kepada Sehun dengan nada yang begitu menyesal.

“Ah, kau benar. Itu melanggar kode etik.” respon Sehun agak salah tingkah karena sudah melewati batas. “Jadi, sehabis ini kaumau ke mana? Perlu diantar?”

“Kau baik sekali, Sehun-ssi tapi tidak, terimakasih. Aku masih bisa naik bis seorang diri.”

“Meskipun dengan lengan yang sedang terluka?”

“Ya ampun, kau berlebihan sekali.” Suzy pun tertawa kecil menanggapi kecemasan tak beralasan yang ditunjukkan oleh Sehun. Pria yang baru ditemuinya 30 menit yang lalu. “Sudah ya, aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa!”

***

.

.

Entah bagaimana, suaranya terdengar tidak asing. Apa aku pernah mengobrol dengannya sebelumnya?

.

.

***

Jarum panjang menuntun jarum pendek menuju angka sembilan pada jam dinding Casio yang menemplok di dinding. Tik tok-tik tok, bunyi dari detak jarum jam yang bergerak itu membuyarkan lamunan Kim Seokjin.

“Haruskah aku menelpon Suzy dan menyuruhnya untuk mengecek email-nya sendiri? Ya, sepertinya aku harus.” pikir Seokjin.

Ponsel yang berada di atas mejanya pun segera ia setel ke dalam mode menghubungi Suzy. Nada sambung terdengar di ujung telepon. Namun sampai pada suara operator yang menyuruhnya agar menelepon beberapa saat lagi, gadis yang sudah Seokjin anggap sebagai adik kandungnya sendiri tak kunjung mengangkat panggilannya. Sekali lagi, Seokjin pun mencoba menghubungi ponsel Suzy. Namun sekali-dua kali mencoba, Suzy tetap tidak mengangkat.

“Ya Tuhan, ponselnya pakai tidak diangkat segala. Tck, dasar gadis ceroboh.” keluh Seokjin. “Aku yakin betul kalau naskah berbentuk soft copy itu dikirim melalui email. Jika gadis itu pintar sedikit, ia pasti akan berpikir ke situ dan segera mengecek inbox-nya. Ouch, benar-benar anak yang ceroboh.”

Sadar kalau mengeluh tidak akan menyelesaikan perkara yang satu ini, Seokjin segera mengetik pesan pada ponselnya. Dan setelah dirasa cukup, tombol send berwarna hijau terang pun dipilih oleh jemari Seokjin.

***

To: Suzy
From: Kak Jin
“Oi, cek inbox email-mu! ASAP!

***

Ditemani segelas hot hazelnut latte dan sepasang donat black choco almond dengan tiramisu square, Suzy menunggu kedatangan Kira. Menggunakan garpu kecil, Suzy menyendokkan sepotong donat persegi dengan saus tiramisu di dalamnya ke dalam mulutnya.

Laptop yang berada di dalam tas selempang cukup besarnya ia keluarkan dan ia tempatkan di atas meja kayu bercat putih mengilap. Begitu juga dengan ponsel yang disetel ke dalam mode diam. Mata Suzy kemudian menyipit tatkala melihat tiga panggilan tak terjawab dan sebuah pesan dari Seokjin.

Email, katanya?” Tanpa menunggu lebih lama lagi, gadis itu pun segera men-click ikon email pada ponselnya.

.

.

.

“Suzy?”

Sehun berjalan mendekat menuju gadis dengan setelan long john sleeve rajut berwarna abu-abu muda yang mengambil space tepat di samping jendela. Dengan ponsel yang masih menempel pada telinga, Sehun kemudian menyentuh pundak gadis itu.

“Apa yang sedang kaulakukan?” ujar pria itu tiba-tiba.

Astaganaga!” seru Suzy sambil memegang dada. “Se-sehun? Ya ampun, kau mengagetkanku.”

Tidak sempat menjawab sapaan sekaligus pertanyaan Sehun, keduanya pun diinterupsi oleh bunyi ponsel Suzy. Nada sambung yang terdengar oleh Sehun timbul seiring dengan dering panggilan masuk yang berasal dari ponsel milik gadis itu. Sekilas, sekelebat heran terpeta dengan jelas di atas wajah si pria berahang kukuh.

Pada ponsel Suzy pun, nama kontak Kira puntahu-tahu terpampang di atas layar telepon selular berukuran 5 inci yang dibarengi dengan alunan Étude Op. 10, No. 4 milik Chopin.

“Tunggu sebentar, “

Pip!

 “Halo, Kira?”

Nada sambung yang menghubungkan Sehun dengan nomor yang dipanggil seketika hilang dan digantikan oleh suara renyah seorang gadis yang entah bagaimana terdengar begitu familiar dan terasa sangat dekat dengannya.

Boom!

Pria itu lantas membeku di tempatnya berdiri. Seruan yang membumbung melalui serat-serat optik itu menyetrum saraf tepi Oh Sehun. Bilang saja ini berlebihan tapi memang kenyataannya seperti itu. Tangannya yang memegang ponsel pun turun dari telinga. Mengabaikan rangkaian fonem yang berhasil melewati zona akustis hingga menyentuh saraf sensoris milik Sehun.

Halo, Kira?

Suzy merasakan keganjilan dari telepon yang masuk dari penulis itu. Entah apa telinganya yang mengalami gangguan atau ponselnya yang rusak; barusan ia dapat mendengar gema suaranya sendiri dari panggilan Kira. Ia pun mencuri pandang ke arah Sehun yang mengamatinya tanpa ekspresi dengan ponsel yang menyala di tangannya.

“Editor Bae,

.

.

.

ini aku Kira.”

.

.

.

Titik-titik salju mendadak mengguyuri jalanan, pukul sepuluh pagi tepat waktu Seoul.  Anomali cuaca yang tidak masuk hitungan aplikasi AccuWeather yang tersetel secara otomatis pada ponsel Suzy sontak membuat gadis ceroboh itu –secara aklamasi, kami setuju menyebutnya seperti itu –tidak percaya pada ramalan cuaca kali ini.

Jangankan hal itu; pada kenyataan yang kini sedang membentangkan kedua sayap di depan matanya secara langsung (re: Kira adalah Oh Sehun, pria yang baru ditemuinya secara langsung dalam kurun waktu tidak lebih dari 3600 detik yang lalu), rasanya sulit sekali untuk dipercaya.

Keduanya masih membisu. Terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing atau mungkin terlalu terkejut dengan kenyataan yang baru mereka temui pada pertengahan Desember ini. Pria yang menempatkan bokongnya tepat di atas kursi yang terletak di depan Suzy itu memilih untuk memilin permukaan cangkir hot caramel macchiato miliknya yang masih mengepulkan asap. Sibuk memilah-milah awalan dari obrolan yang tepat untuk dirinya dengan gadis yang sok sibuk mengutak-atikkan jemari pada touchpad HP Spectre miliknya sambil sesekali mencuri pandang ke arahnya.

Bagaimanapun juga hal yang hanya bisa mungkin terjadi pada novel-novel ataupun skenario drama yang ada di televisi menimpa diri seorang Bae Suzy. Ketika dua tokoh utama –entahlah, apa Suzy dan Sehun memang tokoh utama dalam cerita ini –dipertemukan dan dipermainkan oleh yang namanya takdir atau kebetulan. Tentu saja hal ini terhitung tidak masuk akal dan baginya tak ada jalan lain selain mempercayainya.

Sekali lagi, gadis itu mencuri pandang kepada Sehun yang sedari tadi masih mengunci rapat-rapat mulutnya. Enggan membuka obrolan ataupun memberi sepatah-dua patah kata mengenai identitas Kira yang dimilikinya. Mendehem Sehun pada akhirnya, memergokki aksi curi-curi pandang Suzy.

“Jadi, kau adalah Kira.”

“Dan kau, Editor Bae. Bae Suzy.” sahut Sehun. “Penyunting sekaligus orang yang menghilangkan naskah hard copy novel terbaruku.”

Bel yang terletak di pintu masuk kafe bunyi berdencing-dencing. Mengantar kepergian pengunjung kafe pastry yang belum terlalu ramai di kala brunch time masih berlaku. Jendela kafe bergaya Victoria tersebut diisi dengan figura dari tumpukan salju yang mulai menggenang di sudut-sudut jalan di luar kafe. Salju yang turun lebih cepat daripada musim dingin terdahulu tak pelak ikut-ikutan membawa angin muson untuk hati Suzy. Dirinya seperti terombang-ambing di tengah lautan yang sedang mengamuk.

“Benar –ah tidak juga.” bantah Suzy seketika. Ia pun lekas mengesampingkan ultrabook yang menjadi penghalang dirinya dengan Sehun. “Maksduku, aku tidak sengaja menghilangkan naskahnya. Kemudian aku masih memiliki naskah soft copy-nya. Hanya saja, aku..”

“Hanya saja?”

Anu..”

“Apa?”

File-nya mendadak tidak bisa dibuka! Aku bingung dan frustasi! Aku kecewa kepada diriku sendiri.” ceracap Suzy sambil memukul pelan meja. Napasnya mendadak naik-turun. Dengan keterpanaan pada air muka Oh Sehun, dia pun mengamati gadis yang siap meledak kapan saja di hadapannya.

Asal kautahu saja ya, aku sudah menyunting naskahmu hampir sebanyak 80%. Kurang lebih selama satu bulan aku selalu melewatkan waktu makan malam dan bergadang sampai dinihari, aku mengabaikan ajakan untuk kumpul dengan teman-temanku. Hanya untuk apa? Hanya untuk naskah ini. Aku mengorbankan semua hal yang ada pada diriku untuk menyunting naskahmu namun tiba-tiba file-nya tidak bisa dibuka dan semua orang pun menyudutkanku. Memang ini murni kesalahanku, kecerobohanku sebagai manusia. Namun apa kau juga mengetahuinya? Hasil jerih payahku menguap ke udara dan hilang begitu saja. Sia-sia sudah semua usahaku. Kau, apa kau mengerti? Huh? Kira-ssi? Ah, tidak. Tetapi, Penulis Oh.” semprot gadis itu dengan intonasi yang meninggi kepada pria yang menatapnya lamat-lamat.

Masa emosional gadis itu mengalami kelabilan. Napasnya masih disertai tarikan tidak teratur. Perlahan tapi pasti, Suzy pun mengontrol emosi dalam hatinya. Tidak, dalam situasi seperti ini ia tidak boleh bertindak bodoh lagi. Dan, menyalurkan kemarahannya kepada Oh Sehun yang dalam kasus ini berperan sebagai korban yang dirugikan tentu bukanlah pilihan yang baik. Melainkan sangat buruk.

“Maaf tadi aku tidak seharusnya berteriak kepadamu, Penulis Oh.” ucap Suzy selanjutnya diiringi dengan helaan napas bernada pasrah.

“Hei, tidak apa.” ujar Sehun seraya menghentikan jemari yang sedari tadi bermain dengan bibir cangkir minuman yang belum disentuhnya. “Perasaanmu itu wajar, kok. Sangat manusiawi. Akan tetapi jangan salahkan aku kalau aku tak mengerti dengan apa yang kaurasakan sekarang; sejujurnya aku juga pernah berada di posisimu. Menjadi satu-satunya pihak yang disalahkan. Menjadi tersudutkan.”

Cukup ganjil bagi seorang yang terkenal tidak mau tahu sama sekali dengan urusan orang lain–cenderung tertutup, malahan–seperti Oh Sehun yang sekarang malah mencoba meringankan beban yang menimpa Suzy. Penyunting yang selama ini bekerja untuknya selama kurang lebih empat tahun ia menulis. Satu-satunya penyunting yang ajaibnya seperti mengerti jalan pikiran Oh Sehun atau yang lebih dikenal dengan nama pena Kira.

Namun perbuatan Sehun ini tidak bisa dibilang sok ikut campur, mengingat naskah yang menjadi bala petaka bagi Suzy dan yang lainnya adalah miliknya.

“Jadi, apa yang akan kaulakukan sekarang jika aku memberikanmu draft novelku? Menyuntingnya dalam kurun waktu selama tiga minggu; seperti yang kaujanjikan; kukira itu agak riskan.”

“Entahlah. Tetapi mau bagaimana lagi? Hanya itulah satu-satunya jalan yang tersisa.”

Melihat laptop di hadapannya sontak Sehun teringat sesuatu. Dan ia pun menjentikkan jemari.

“Bukankah aku juga mengirimkan naskah dalam bentuk soft copy via email kepadamu. Kau tidak ingat?”

Email? Memangnya begitu? Oh, tunggu-tunggu.” Suzy menjalankan pedal memorinya untuk mengilas-balik ingatan mengenai email dan naskah dari Kira. Mendadak, ia pun membulatkan dan membekap mulut dengan tangannya sendiri. “Astaga! Pantas saja tadi Kak Seokjin berbicara tentang email!”

Segera mungkin, ia menggeser jemari pada touchpad ultrabook-nya yang begitu responsif. Sejurus kemudian, ekosistem Windows 10 yang menyapanya segera ia bawa menuju browser. Membuka surel miliknya dan mengecek laman inbox dari satu bulan yang lalu. Seketika mata gadis itu hampir berpindah tempat dari sarangnya.

“Ah, Ibu.. Kenapa aku bisa menjadi sangat bodoh seperti sekarang, sih. Ya Tuhan, apa buyutku itu memang seorang Jepang atau Korea utara. Menjengkelkan sekali. Aduh rasanya aku ingin menangis sekarang juga.” cerocos Suzy dengan satu telapak tangan yang menutupi wajah. “Penulis Oh, sungguh maafkan aku karena membuatmu mengalami kejadian yang tidak mengenakkan hati seperti ini.”

Layar laptop touchscreen yang bisa diputar seratus delapanpuluh derajat itu kemudian Suzy perlihatkan kepada pemuda yang masih bercokol di depannya dengan secangkir hot caramel macchiato yang mencumbu tenggorakannya dengan likuid hangat dan manis itu.

“Kukira, masih ada satu masalah lagi yang belum terselesaikan.” lanjut Sehun setelah melihat surel berisi draft novel ketiganya yang dikirim pada akhir Oktober tersebut.

“Soal apa?”

“Inti dari masalah ini.”

“Aku?” tukas Suzy langsung dengan menunjuk dirinya sendiri. Kemudian ia menggeleng seraya mengecilkan dirinya sendiri. “Semua masalah yang timbul akibat perbuatanku; aku bisa membereskannya. Kau tidak usah khawatir.”

Ehei, bukan dirimu. Tetapi file yang tidak bisa dibuka itu. Setelah aku pikir-pikir kembali semua ini berawal dari file yang tidak bisa dibuka. Kemudian kau mencari salinan naskahnya bermaksud untuk menyunting ulang naskahku yang sayangnya malah kaulupa sudah menyimpannya di mana.” jelas pemuda itu.

“Oh benar juga. Astaga, aku pasti terlihat benar-benar bodoh ya di matamu, Penulish Oh. Sampai-sampai hal sekecil itu aku tidak tahu.”

Senyum tipis menghiasi wajah pemuda berahang kukuh dengan setitik tahi lalat tipis di dekat tulang pipi itu.

“Menurutku itu terlihat menarik bagiku.”

“Ya?”

Salah tingkah tiba-tiba datang dan mendera Sehun setelah berceracap tanpa berpikir terlebih dahulu. Demi mencairkan rasa kikuk yang muncul secara mendadak di dalam dirinya, Sehun mendehem. Berharap mampu mengalihkan fokus Suzy yang kini gantian melihatnya dengan tatapan penuh keingintahuan.

Anu, boleh aku pinjam laptop-mu sebentar?”

“Tentu, “

Laptop pabrikan Amerika Serikat yang begitu tipis dan ringan itu pun segera berpindah tangan menuju Sehun.

“Di mana kau menyimpan file-nya?”

Local Disk D dalam folder My World, sub-folder Kira. Judulnya draft #4.”

Tanpa banyak bicara, Sehun segera memerintahkan jemarinya membuka file berisi naskah novel keempatnya yang diberitahukan oleh Suzy. Setelah tombol enter ditekan sebuah notification box berisi pesan kalau file tidak bisa dibuka muncul di layar.

Laptop-mu memakai password?”

“Ya.”

“Sebelum atau sesudah kau menyunting ini apa kau melakukan perubahan pada sistem laptop-mu?” tanya Sehun.

Eung, biar aku ingat..” sahut Suzy sembari mengingat-ingat. “Tidak juga. Ehei, aku tidak mengerti apa-apa soal sistem komputer atau apalah itu.”

“Yakin?”

“Memangnya apa yang terjadi?”

“Aku juga dulu pernah mengalami kejadian serupa; file-ku mendadak tidak bisa dibuka.” ungkap pria itu. Jemarinya tidak tinggal diam; lantas ia pun menggerakan kesepuluh jemarinya di atas touchpad; meng-click ikon foto seorang pria yang diketahui adalah Kaneki Ken-1 sebagai foto profil administrator pada ikon Windows; membawanya pada laman berisi menu Control Panel.

Laptop-ku diproteksi dengan password. Pada suatu hari aku mengganti password yang lama dengan yang baru lantaran teman-teman kantorku memiliki tangan yang iseng.”

Ehei, diproteksi oleh password? Apa mungkin dalam laptop-mu ada video porno?” ceplos Suzy sambil memberikan tatapan menjatuhkan kepada Sehun.

“Ya?? Bu-bukan begitu.”

“Siapa tahu juga begitu. Bukankah semua pria seperti itu?”

“Lupakan saja yang tadi.” balas Sehun. Kerah kemeja yang dibungkus oleh sweter tiga warna itu pun sok-sok dibenarkan letaknya. Melepas kecanggungan yang ditimbulkan dari tuduhan tak beralasan Suzy kepadanya. “Jadi maksudku, setelah aku mengganti password, aku membuka file yang sebelumnya aku simpan; mendadak file tersebut tidak bisa terbuka; singkatnya, setelah aku otak-atik sendiri dengan mengubah kembali password baru dengan yang lama, file-nya bisa dibuka lagi. Jadi, pertanyaannya; apa sebelumnya kau mengganti password-mu?”

Pemanas ruangan yang menyala dan ada di tiap sudut kafe perlahan membangkitkan ingatan Suzy pada kejadian dua hari yang lalu, saat akhir pekan. Film blur yang berputar di dalam otak Suzy kemudian mengingatkan kepada adik laki-lakinya yang merupakan penggemar berat Kira. Bae Sungjae yang saklek; bocah laki-laki bermulut besar yang suka melakukan leaking secara diam-diam; oknum yang berusaha membaca draft novel keempat Kira.

Dahi yang tertutup sepotong poni itu pun mengerut tak sabaran. Pada kumpulan uap yang mengepul dari ujung mulutnya, Suzy melabuhkan pandangan. Sebelum beralih pada refleksinya pada kedua iris hijau zamrud kelabu kepunyaan Sehun.

.

.

.

Dua hari sebelum tanggal 21 Desember, 2015.

Seluruh anggota keluarga Bae berkumpul di ruang tengah sembari memakan buah yang sudah dikupas oleh Nyonya Bae. Dengan muka ditekuk Suzy melahap dua potong buah apel sekaligus, sembari menguliti Sungjae dengan tatapan sengit.

“Kakak, anu, yang tadi aku tidak sengaja. Maaf..” ucap Sungjae pelan.

“Membaca draft novel yang belum diterbitkan lalu membocorkannya, kaubilang tidak sengaja? Huh?” Suzy memukul kepala Sungjae menggunakan garpu. “Dasar berandal!”

“Ah! Sakit, Kak!” Sungjae mengeluhkan nyeri akibat ciuman garpu yang memukul telak kepalanya. “Ibu, tolong hentikan Kakak yang sudah berubah menjadi kaum Sparta ini! Tuh, lihat!” adu bocah lelaki itu kepada Nyonya Bae yang sudah malas mengurus tingkah laku kedua kakak beradik yang gemar bertengkar ini.

Oi, Bae Suzy, bisa tidak pekerjaanmu tidak dibawa ke rumah satu hari saja?”

“Andai aku bisa, aku pasti sudah melakukannya, Bu. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah konsekuensinya.”

Menyikapi tingkah laku kedua anaknya, Tuan Bae memilih untuk menutup mulut rapat-rapat; hanya membuka mulutnya kalau diminta. Membiarkan urusan kecil tersebut terselesaikan dengan sendirinya.

“Ayah..” rengek Suzy kepada lelaki paruh baya pemilik kelas Taekwondo nomor satu di Seoul itu. “Tolong hentikan anak nakal itu untuk tidak mengangguku! Inilah alasan mengapa aku jarang pulang ke rumah setiap akhir pekan; Sungjae selalu menggangguku!”

Sang ayah hanya merespon aduan putri sulungnya dengan menggelengkan kepala.

“Bohong! Kakak bohong, Yah.”

Ish, bocah kurang ajar!”

“Kalau tidak ingin Sungjae mengacau, kunci saja laptop-nya.” ujar Tuan Bae sebelum melahap satu potong apel dengan mata yang fokus menonton acara Infinity Challenge pada saluran TV MBC.

“Percuma, dia sudah tahu password-nya.” balas Suzy acuh.

“Ganti password-nya. Jangan biarkan berandal itu mengetahuinya. Beres ‘kan?” Tuan Bae menatap putrinya sembari melempar satu usulan yang pasti.

Dengan mata yang berbinar, Suzy pun berterimakasih kepada sang ayah dan segera meluncur ke kamar. Menyalakan ultrabook miliknya dan lekas mengaplikasikan saran brilian sang ayah.

“Kakak, jangannn!!!”

Haha, rasakan kau Bae Sungjae!”

.

.

.

Menjelang pukul satu siang, recovery file yang berhasil diretas kembali oleh Sehun pun selesai Suzy sunting sampai bab ke-20 yang merupakan bab penutup dari novel rekaan pemuda itu. Mengenai sesi final penyuntingan, Sehun memilih untuk menyerahkan dan memercayakan kepada Suzy –penyuntingnya. Raut lelah serta tubuh yang pegal-pegal lantaran mesti duduk berjam-jam dengan bergelas-gelas kopi pun terbayar sudah dengan satu sentuhan penuh penekanan pada ikon save dalam program Microsoft Word 2013. Sebelum memastikan kalau Suzy telah menggandakan file tersebut.

Selayaknya permen kapas yang manis dan ringan, perasaan Suzy tentu seratus persen lebih baik dari empat jam yang lalu. Tanpa mencederai jadwal yang sudah dibuat oleh timnya, pekan depan pun novel keempat Sehun akan tetap turun cetak.

Kondisinya pun berubah menjadi sayonara-2 pada SP-3 yang akan dilayangkan kantor untuknya dan hajimemashite-4 untuk kembalinya kepercayaan Editor Jung dan teman-teman penyunting di kantor. Membayangkannya saja pun tak pelak membuat Suzy jadi geli sendiri sembari memasang senyuman bak bunga sakura yang bermekaran di tengah salju.

“Ya ampun, dirimu yang senyam-senyum sendirian seperti itu mengerikan sekali.” cibir Sehun setelah menandaskan gelas terakhir hot caramel macchiato miliknya.

“Oh, sorry. Kautahu, aku hanya terlalu bahagia.” Suzy pun menghentikan kegiatan senyam-senyumnya dan lekas membenahi perkakas yang berserakan di atas meja. “Tapi kalau dipikir-pikir lagi ini semua berkat bantuanmu, semuanya. Jadi, thank you very much, Kira alias Oh Sehun!”

Dibilang seperti itu tak pelak membuat kedua daun telinga Sehun memerah. Lelaki itu pun merasa tidak enak karena sesungguhnya dia tidak berbuat banyak. Namun begitu, Sehun memilih untuk bungkam dan tersenyum simpul menanggapi semuanya.

“Jadi, apa yang akan kaulakukan sehabis ini?” tanya Sehun.

Sejenak, gadis itu terlihat berpikir kemudian berkata, “kembali ke kantor untuk menyerahkan naskah ini kepada editorku. Oh, kupikir kalau naskahnya tidak ada masalah, lusa akan kukirim cetakbiru novelnya.”

“Tidak perlu!” seru Sehun tiba-tiba.

“Lho, ada apa? Bukannya kita sudah terbiasa seperti itu.” ucap Suzy dengan mimik wajah penuh tanya.

“Oh bukan apa-apa.” balasnya seraya mengangsurkan jemari untuk menggaruk lehernya yang tidak terasa gatal. “Jam berapa kau akan menaruh cetakbirunya di loker?”

Sesuai perjanjian yang dibuat oleh keduanya –antara penulis misterius dan penyunting, untuk keperluan final review, setiap cetakbiru dari novel Sehun akan diletakkan oleh gadis itu dalam loker umum yang tersedia di stasiun kereta bawah tanah Yeouido.

“Jam sepuluh pagi. Aneh sekali kau bertanya soal itu, kan nanti akan kukabari via SMS. Ada apa, sih?”

Ruam merah yang berawal dari kedua daun telinga Oh Sehun menyebar pada kedua pipinya. Melenyapkan kecurigaan yang ditujukan Suzy kepadanya, dia pun lekas menyibukkan diri dengan membantu membereskan peralatan bekerja Suzy.

Empat hari menjelang Natal, kekacauan yang timbul akibat kecerobohan Suzy lenyap bak ditelan asap berkat bantuan Oh Sehun. Sebenarnya, Suzy ingin memberikan lebih daripada ucapan terimakasih kepada Sehun yang sudah membantunya. Namun sayangnya, ia tidak tahu harus melakukan apa. Sebelum bisa memberikan ucapan terimakasih yang layak untuk Oh Sehun, Suzy pikir ia musti bisa berbenah diri dahulu. Kecerobohan yang ia miliki, uh, ia ingin mengurangi dosis itu dalam kehidupannya.

Pun dengan kejadian tidak terduga yang datang menerjang gadis itu seperti teka-teki silang yang memenuhi otaknya. Bertemu dengan Kira dan Oh Sehun dalam waktu yang bersamaan tidak termasuk dalam sesuatu yang bisa disebut ekspektasi selama ia hidup.

Hening yang membelengu keduanya pun dipecahkan oleh lonceng pintu kafe yang bergemerincing. Dua pikiran anak manusia itu pun sibuk menjalankan kemudi untuk melanjutkan perjalanan menuju tujuan masing-masing yang entahlah, mungkin berbeda. Saking bahagianya, nyeri akibat bengkak pada pangkal lengan kiri Suzy pun tidak terlalu ia pusingkan.

“Maaf sudah banyak merepotkanmu dan aku jamin kejadian ini adalah yang terakhir kalinya. Aku tidak akan mengulanginya lagi.”

Menanggapinya, Sehun berjengit.

Eung kalau begitu aku pergi dulu. Kau tidak perlu mengantarku, “ tahannya kepada Sehun yang sudah bersiap beranjak dari kursi, mengikuti dirinya. “Aku bisa sendiri, kok. Bukankah kau juga harus bekerja?”

Tidak mau terkesan terlalu memaksa, Sehun pun membiarkan nalurinya mengalah sejenak. Entah kenapa, rasanya ia begitu gatal ingin mengantar gadis itu sekali saja –atau mungkin berkali-kali.

“Semoga harimu menyenangkan.” Suzy pun menundukkan kepala singkat. “Merry early christmast, “ pamitnya.

“Kau juga, ya. Sampai bertemu lagi.”

“Sampai bertemu lagi?”

.

.

***

.

.

Dua hari sebelum Natal, dan sehari menjelang malam Natal di dalam ruang penyuntingan Penerbit Seungri.

Mendekati libur panjang Natal tahun ini, kantor redaksi Penerbit Seungri terasa begitu damai. Berbagai deadline yang sebelumnya kerap mencekik para pegawai pun mulai menguar ke udara. Seiring dengan lumayan banyak proyek akhir tahun yang rampung sesuai perencanaan.

Begitu juga dengan novel keempat Kira (alias Sehun) yang akan turun cetak pada minggu depan. Setelah berhasil mendapatkan kembali the lost file yang sempat tidak bisa dibuka tersebut, Suzy langsung menyunting sisa naskah yang langsung dibantu oleh Sehun di tempat.

Cetakbiru dari novel keempat Sehun yang berjudul Bliss Memory terbungkus rapi dalam kotak kecil bersampul cokelat tua. Sesuai rencana, pagi ini Suzy akan mengantarkan cetakbiru tersebut kepada Kira.

“Oh, Bae Suzy, “ panggil Editor Jung dengan setumpuk map di lengan kirinya. Dia pun berjalan sambil menatap kotak yang diapit lengan kanan Suzy. “kau belum berangkat. Sudah jam berapa ini?”

“Maaf tadi saya harus mengganti perban lengan saya, Editor Jung.” balas Suzy sambil memamerkan senyum kepada editor cantik tersebut.

“Ah, begitu, “ cicitnya.

“Baik, saya permisi dulu, Editor Jung.”

“Ya, tunggu dulu.” tahan Editor Jung sebelum melanjutkan langkah menuju ruangannya. Dengan raut wajah yang lunak, ia pun menghampiri anak buahnya yang cukup bekerja dengan keras hingga sampai pada saat ini. “Kau sudah bekerja dengan sangat baik, Suzy-a. Jangan sampai cedera lagi, ya.”

“Editor Jung, “ Suzy menelaah baik-baik ucapan editornya barusan.

Satu sapuan hangat pun menyapa pundak kanannya. Masih dengan raut wajah keibuan yang jauh dari keganasan, Editor Jung meninggalkan Suzy yang masih terpana menuju ruang kerjanya.

Perasaan gadis itu lagi-lagi mengalami satu fase terbaik dalam hidupnya. Penguatan yang diberikan oleh Editor Jung mungkin salah satu penyebabnya. Nyeri yang masih menghantui pangkal lengan kiri Suzy pun tak digubris keberadaannya.

Perasaan tulus yang biasanya tercurah melalui kata-kata sederhana justru adalah yang terbaik di atas segalanya. Tidak perlu muluk-muluk mengucapkan pujian-pujian setinggi langit ataupun bahasa yang begitu lembut. Terkadang, ketulusan itu justru tersirat dengan jeals pada ujaran yang cenderung kasar dan tidak penting. Pun dengan kebiasaan Editor Jung yang kadang memaki anak buahnya; sesungguhnya beliau itu adalah seorang wanita yang lembut hatinya, pikir Bae Suzy semenjak hari ini.

Berlama-lama menikmati gempita dalam hatinya mendadak membuat Suzy lupa mengambil mantel yang memeluk kursi kerjanya. Lagi-lagi, dia lupa dan itu adalah indeks dari seribu macam kecerobohan seorang Bae Suzy.

Sepatu lars setumit yang dipakainya menimang langkah menuju meja kerja yang terletak di sudut ruangan. Nyeri pada pangkal lengan kirinya berangsur-angsur reda sehingga mampu membuat tubuh Suzy yang sudah dua hari selalu kaku itu agak rileks. Tiba-tiba, sepasang rungu pemberian Tuhan milik Suzy pun menjaring derap sepatu yang mencucuh permukaan lantai karpet ruang kerja tim penyuntingan.

Sejumput wewangian mint sontak menyandera udara di sekitar Bae Suzy. Sejenak mengingatkannya kepada seseorang yang ia kira memiliki aroma seperti ini. Namun, gadis itu tidak mau ambil pusing. Pokoknya, pagi ini cetakbiru novel keempat Sehun (Suzy lelah menyertakan ‘alias Sehun’ sehabis Kira..) sudah harus dikirim. Titik.

“Hei, mau pergi ke mana?”

“Pergi ke stasiun Yeouidooo-aaaahhh!!!!

Kotak berisi cetakbiru novel Oh Sehun jatuh ke lantai; berkedip mata ala gerakan slow motion; bibir terbuka lebar; raut wajah seputih vampire Cina lengkap dengan lemas yang menyerang sendi-sendi pergerakan tubuh Suzy; Oh Sehun yang berdiri sambil melambai kepadanya. Tangan kanan Suzy lantas terayun menuju perban yang membebat pangkal lengan kirinya, memukulnya pelan.

Argh! Sakit! Ini bukan mimpi!!” seru Suzy kalap. “Ya, kau Oh Sehun!”

Kepada lelaki bersetelan kemeja panjang dengan sweter hijau zamrud sebagai luaran, mata gadis itu kehilangan fokusnya. Oh Sehun, pria berahan kukuh namun agak kikuk itu perlahan beringsut menuju kotak yang terjatuh dan memungutnya.

Dengan santai plus senyuman sehangat pemanas ruangan yang sedang bekerja, Sehun pun berkata, “Aku datang untuk mengecek sampel novelku.”

“Ta-tapi ‘kan aku – “ Dengan tergagap Suzy membalas.

Melihatnya, pria denan tahi lalat di pipi itu sontak membawa jeamrinya untuk menutupi tawa kecil yang dicurahkan oleh bibirnya. Tidak tahan dengan tingkah laku ceroboh Bae Suzy kali ini.

“Dan kau, Bae Suzy,” potongnya seketika; memotong sejengkal jarak yang memisahkan mereka. “berhentilah jadi gadis ceroboh tapi menggemaskan seperti ini.”

TAMAT.


Kaneki Ken-1: tokoh utama laki-laki dalam serial anime Tokyo Ghoul.

Sayonara-2: selamat tinggal (bahasa Jepang)

SP-3: surat peringatan

Hajimemashite-4: halo (bahasa Jepang)


(ayo, masih pada inget ff abal ini, ndak? ;))

saya tahu, ff ini benar2 jauh dari kata romance dan menyimpang dari genre yang sudah ada, huhu, untuk itu saya minta maaf. tapi well, yang pasti terimakasih buat dukungan Teman-teman pada chapter sebelumnya sehingga final chapter ini bisa dirilis sekarang (meskipun rada telat ya) anyway, saya tahu ending-nya ini apalah banget ya tapi gatau kenapa saya malah lebih suka ending yang seperti itu ;; dan bagi yang kurang srek sama ending-nya, silakan jujur aja di komentar, saya mah open orangnya🙂

and for Bae Bae Suzy, fighting for your drama, dear!!

and for you all, once again thank you for loving Indiscreetly, Fondly and see ya in another fict!

23 responses to “[2/2] Indiscreetly, Fondly

  1. Aduh kakak bahasanya emang something banget
    Anomali, aklamasi itu apa?
    But yeah overall this is good fic, tapi aku expect nya comedy, dan ga terlalu dapet feel comedy nya tapi kalo fluff masih dapet lahh
    Thats all authornim, thank you for this good fic, have a nice day

    • Halo Okta🙂 haha aklamasi itu pernyataan sepihak sedangkan anomali adalah hal ganjil.hehe.
      iya, padahal aku juga niat nulis Rom-com eh tapi ajdinya fluff failed gini. huhu.
      anyway, makasih banyak sudah baca fict ini🙂 god bless you too.

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s