[Freelance/Oneshoot] Abnormal Parents Sequel 5

Title : Abnormal Parents | Author : @reniilubis| Genre :  Drama, Family | Rating : Teen | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Suzy, Kim Hyun Gi (OC)

Disclaimer:

All casts are belong to their self and God

Poster by        : rosaliaaocha@ochadreamstories

Happy reading~^^

Hyun Gi membuka matanya saat merasa seseorang mengetuk-ngetuk mejanya keras beberapa kali. Ia menguap, lalu mengangkat kepalanya dari atas meja. Hyun Gi mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu mendongak dan menatap Jong Soo yang sudah berdiri disisi mejanya.

“Apa tidurmu indah?” Itu sebenarnya sindiran secara halus yang sengaja dilontarkan Jong Soo pada Hyun Gi.

Hyun Gi mengucek-ngucek matanya kemudian memperhatikan sekeliling kelas yang mulai sepi karena sebagian besar siswa-siswinya sudah keluar kelas. Hyun Gi merenung sejenak. Tumben sekali ia merasa malas belajar dan memperhatikan penjelasan guru di depan, dan malah memilih tidur dengan santainya. Ia tak menyangka akan benar-benar tertidur dan terbangun—lebih tepatnya dibangunkan—saat pulang sekolah. Hebatnya, gurunya sama sekali tidak menyadarinya yang tertidur sejak tadi.

“Tak ku sangka siswa terpandai di kelas akan tidur saat pelajaran berlangsung.” Jong Soo kembali melontarkan ucapan-ucapan tajam, tetapi Hyun Gi hanya diam saja menanggapinya. Setidaknya ia masih bersyukur tidak ketahuan oleh sang guru. Bisa-bisa ia disuruh menemui guru BP dan bisa dipastikan surat peringatan akan melayang ke tangan orang tuanya. Appanya akan marah, dan dia akan mendapatkan hukuman. Dia bahkan tidak mau membayangkannya.

“Kau segera bersiap-siap sekarang atau aku akan meninggalkanmu.” Entah kenapa Hyun Gi merasa kalau Jong Soo terlalu cerewet hari ini. Apa itu hanya perasaannya saja karena efek dari bangun tidur?

Hyun Gi hanya mendengus. Ia merapikan buku-buku pelajarannya yang masih berserakan di atas meja, kemudian menatap malas Jong Soo yang tampaknya tidak sabar menunggunya berberes-beres.

“Kalau kau tidak suka menungguku disini, kau bisa menungguku di luar.” Jong Soo menatap Hyun Gi. Ia hanya mengedikkan bahu sekilas lalu berjalan keluar kelas. Hyun Gi yang melihat temannya itu hanya berdecak sebal. Bocah laki-laki itu berhasil merusak moodnya.

Hyun Gi menutup asal buku-bukunya dengan cepat lalu mengancingkan tasnya secara terburu-buru. Ia beranjak dari kursinya, berjalan cepat menuju pintu, dan sialnya kakinya tak sengaja menendang kaki meja dengan keras. Hyun Gi meringis sambil memegangi kakinya yang terasa berdenyut.

“Aish! Meja sialan!”

BRAKKK

Meja tak berdosa itu ditendang oleh Hyun Gi hingga bergeser beberapa meter dan berhenti saat menyentuh dinding. Anggap saja dia sedang terkena sial hari ini, dan sayangnya moodnya sangat sangat buruk untuk menahan segala emosinya. Ia merasa ingin marah-marah saja hari ini.

**********

Suara dentingan piano terdengar mengalun di seluruh isi rumah dengan penerangan temaram. Myungsoo dan Suzy—pasangan suami istri yang baru saja memasuki rumah mereka hanya saling bertatapan. Suzy kemudian tersenyum cerah sementara Myungsoo dengan senyuman kalem khasnya. Hyun Gi mereka telah memainkan musik yang luar biasa.

“Apakah kita harus menyapanya?” Suzy bertanya tapi dia secara mengendap melangkahkan kakinya melewati kamar khusus yang digunakan untuk grand piano—tempat Hyun Gi bermain piano sekarang.

Myungsoo menggeleng. Dia mengambil air mineral di dapur, menegakknya sampai habis. Itu sesuatu yang dia lakukan untuk menjaga pita suaranya. Myungsoo memberikan satu untuk Suzy juga.

“Kau lelah?” Myungsoo bertanya lalu menghempaskan bokongnya di sofa—tepat di sebelah Suzy.

Suzy menghabiskan air mineralnya. Memejamkan matanya dan menikmati permainan musik anaknya. Waltz yang indah—permainan music klasik yang Myungsoo rasa begitu teliti. Suzy sendiri merasa musik itu begitu manis—terasa seperti bocah kecil mereka sedang jatuh cinta ketika menyampaikan lagu itu. Mereka adalah seniman dan musik adalah bagian hidup mereka. Myungsoo tahu, dan ia rasa Hyun Gi mereka sungguh punya bakat menjadi seniman musik klasik.

“Tidak terlalu. Aku punya banyak stamina untuk menari semalaman.” Suzy terkekeh. Dia tahu maksud Myungsoo, dia suka Myungsoo yang romantis seperti ini. Perilaku suaminya itu memang misterius—menyebalkan terkadang.

Myungsoo bangkit, mengulurkan tangannya dengan sedikit membungkukkan tubuhnya di hadapan Suzy. Suzy mengerling tapi dia menyambut uluran tangan itu. Membiarkan Myungsoo menuntun tubuhnya ke tengah ruangan dan menarik tubuhnya ke dalam dekapan Myungsoo. Myungsoo melingkarkan tangan kirinya ke pinggang Suzy dan menggenggam tangan kiri Suzy dengan tangan satunya.

Sementara Suzy melingkarkan tangan kanannya ke bahu Myungsoo. “Kau ingin tarian Waltz?” Suzy bertanya. Dia lupa-lupa ingat tarian itu. Dia bahkan tak pernah berlatih ballet lagi—dia hanya melakukan itu untuk melenturkan tubuhnya dulu.

“Biarkan saja tubuhmu yang merasakan apa yang kuinginkan.” Myungsoo berbisik. Suzy bergidik geli, Myungsoo tepat berbicara di titik sensitifnya, membuatnya terbuai. Mata mereka bertemu. Suzy bisa merasakan deru nafas Myungsoo yang tenang.

Dan sebuah melodi yang indah dari permainan piano sang anak, membuat Myungsoo lebih merapatkan tubuhnya terhadap Suzy. Langkah mereka mulai bersahutan, membuahkan senyuman di wajah Suzy. Gerakan tubuh Suzy seolah tertuntun sendirinya oleh musik indah yang terdengar, sementara gairah tarinya meningkat karena Myungsoo yang seolah memancingnya.

Suzy suka diperlakukan seperti ini.

Ketika Myungsoo menyentuhnya dan menuntun tubuhnya untuk meliuk sesuai irama. Suzy bahkan tak segan jika dia harus melingkarkan kaki kirinya ke atas pinggang Myungsoo, sementara Myungsoo menjauhkan tubuhnya, menyentuhkan telapak tangannya sepanjang paha Suzy dan menahan berat badan Suzy dengan lengannya.

Wajah mereka berdekatan dan Suzy berhasil mencuri kecupan di bibir Myungsoo. Membuat Myungsoo melepas pegangannya di kaki Suzy, memutar tubuh Suzy lalu memeluknya dari belakang dan mengecupi punggungnya. Mereka masih menikmati musik yang mengalun lembut. Membuat gerakan yang sesuai tempo.

Hingga musik berhenti dan Myungsoo sukses mengangkat kedua kaki Suzy untuk melingkar di pinggangnya. Membuat Suzy benar-benar memeluk bahu Myungsoo agar dia tidak jatuh. Kecupan manis di terima Suzy di bibirnya kali ini. Mereka saling menatap, menyalurkan cinta yang memang meluap di hati keduanya.

CLEK—

Ruangan berubah menjadi terang benderang.

“Aku sudah bilang, bisakah kalian lakukan di kamar kalian saja?” Hyun Gi berbicara ketus.

BRUUKK—

Dan Myungsoo sukses menjatuhkan Suzy karena kaget. Seolah ia tertangkap basah sedang memperkosa istri tetangga oleh ketua RT.

“KIM MYUNGSOO SIALAN! AAAAA SAKIT! PINGGANGKU!” pekik Suzy.

“Maaf.” Myungsoo mengulurkan tangannya dan langsung ditepis Suzy. Myungsoo tak mengerti, bukan hanya pinggang dan bokongnya yang sakit. Ia juga kehilangan harga diri di depan Hyun Gi kalau begini ceritanya. “Salahmu yang gemukan!”—sumpah demi Tuhan! Myungsoo tak sengaja mengucapkan dialog haram itu.

Suzy menatap Myungsoo keji. Dia berusaha menggapai dinding dan berhasil untuk berdiri.

BUGHH—

Sebuah tinju melayang tepat di wajah Myungsoo.

“LANCANG SEKALI KAU MENGATAIKU GENDUT! DASAR IDIOT!”

“Bodoh sekali.” Gumam Hyun Gi yang memilih masuk ke kamarnya. Membiarkan appanya menenangkan eommanya—entah apapun caranya. Appanya selalu mempunyai ribuan cara.

*

*

*

Suzy mengerjapkan matanya beberapa kali. Sinar matahari yang menerobos masuk melalui jendela kamarnya membuatnya merasa silau dan ia perlu untuk membiasakan matanya dengan cahaya itu. Suzy bergerak bermaksud untuk menyamankan posisi tubuhnya, namun—

“Akhh!” Suzy terpekik. Rasanya sungguh sakit. Daerah sensitifnya terasa ngilu bahkan hanya untuk bergerak sedikit saja. Suzy menggeliat tak nyaman. Ia menyibak sedikit selimut tebalnya, dan tidak terlalu kaget saat menyadari tubuh polosnya tanpa sehelai benangpun. Ia masih mengingat dengan jelas kalau semalam ia dan Myungsoo sedang ‘bermain’, tapi ia tidak tahu pasti kapan mereka selesai melakukannya.

“Kau sudah bangun?” Myungsoo baru saja keluar dari kamar mandi. Dengan tubuh yang topless dan rambut yang masih basah, menambah kesan bahwa pria itu adalah pria yang sempurna.

Suzy meringis pelan. Bagian sensitifnya kembali berdenyut.

“Apa yang kau lakukan pada tubuhku, bodoh?” Teriak Suzy garang. Ia menatap tajam Myungsoo, namun Myungsoo hanya tersenyum tipis. Tidak merasa bersalah sama sekali.

“Hanya bersenang-senang.” Jawabnya enteng. “Kau bahkan pingsan di ronde ke-7. Tidak asik sekali.” Myungsoo berjalan menuju lemari pakaian. Tidak memperdulikan Suzy yang kini sudah emosi. Setidaknya Myungsoo tidak perlu merasa khawatir kali ini. Suzy tidak bisa berjalan, jadi istrinya itu tidak akan sanggup menjambak rambutnya atau memukul wajahnya saat ini.

“Sialan sekali! Aku tidak bisa berjalan, bodoh! Kau harus bertanggung jawab!” Ini bahkan masih pagi tetapi Suzy sudah berteriak-teriak seperti orang hutan. Aish! Kalau saja dia bisa berjalan, sudah bisa dipastikan ia akan menjambak rambut Myungsoo hingga botak. Ini benar-benar sakit.

Myungsoo menatap Suzy lembut. Ia berjalan mendekati Suzy, duduk di tepi ranjang tepat disebelah Suzy.

“Jadi, mau berapa hari kau tak ku izinkan untuk berjalan?” Myungsoo menyeringai. Dia suka membuat Suzy tidak berdaya.

“Aku tidak bisa berjalan, Myungsoo-ya. Bagaimana aku bisa pergi bekerja?” Suzy tidak takut sedikitpun pada ancaman ataupun gertakan Myungsoo. Percayalah, Myungsoo tidak akan tega menyakitinya.

“Kau bisa minta libur hari ini.” Myungsoo mendekatkan wajahnya dengan wajah Suzy. Suzy tak bergeming ditempatnya. Ia menatap bola mata Myungsoo tanpa berkedip.

Sebuah kecupan lembut diberikan Myungsoo di bibir Suzy. Suzy menahan tengkuk kepala Myungsoo saat kepalanya hendak bergerak. Kecupan itu berubah menjadi lumatan-lumatan kecil. Tak berapa lama kemudian, Myungsoo melepaskan tangan Suzy yang menahan tengkuknya, lalu melepaskan pagutan bibir mereka. Myungsoo mengelus kepala Suzy lembut.

“Aku akan membawakanmu sarapan.” Myungsoo bangkit dan keluar dari kamar. Suzy masih tetap diam ditempatnya.

“Dasar pria brengsek!” Umpatnya saat Myungsoo sudah keluar kamar.

“Ah, tapi aku mencintainya!”

*

Hyun Gi menghela nafas untuk yang ke sekian kalinya. Ia melirik malas ke arah meja di sebelahnya, tempat Jong Soo yang kini sedang tertidur dengan pulas. Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Murid-murid yang lain sudah bergegas berbondong-bondong keluar kelas. Hyun Gi segera membereskan buku-bukunya. Sesekali melirik ke arah Jong Soo, memastikan apakah bocah itu sudah bangun atau belum. Setelah mengancingkan tasnya, Hyun Gi bangkit dan menghampiri meja Jong Soo. Suara dengkuran halus yang keluar dari mulut Jong Soo terdengar teratur. Hyun Gi bukan tipe orang yang sabar untuk membangunkan orang yang tertidur.

Berdecak sekilas, ia melirik lagi Jong Soo yang masih tidak bergerak.

BRAKKK

Dengan santainya Hyun Gi menendang meja Jong Soo dengan keras, hingga mejanya bergeser dan—

BRUGH

Suara seseorang yang terjatuh ke lantai terdengar. Hyun Gi mematung ditempatnya. Sungguh, ia tidak bermaksud untuk menendang meja itu dengan keras. Ia bahkan tidak menyangka kalau tendangannya sekeras itu. Oh~ Lee Jong Soo yang malang~

Jong Soo segera terbangun dengan tidak elitnya. Ia berusaha berdiri, lalu menatap Hyun Gi tajam.

“Kalau tidak ikhlas tidak usah bangunkan aku!” Pekik Jong Soo murka. Ia menepuk-nepuk celananya yang kotor. Tentu saja kesal. Wajah tampannya mencium lantai begitu saja. Tidak bisakah Hyun Gi membangunkannya dengan cara yang lebih manusiawi? Jong Soo bersungut.

“Ups! Aku sengaja.” Demi wajah Kim Myungsoo yang tampan, bisakah Jong Soo membunuh Hyun Gi detik ini juga? Wajahnya sungguh menyebalkan. Tampangnya tidak merasa bersalah sama sekali. Setidaknya ia meminta maaf atas tindakan kriminal yang baru saja dilakukannya.

“Maaf.” Ujarnya akhirnya. Jong Soo mendelik tajam. Ia segera membereskan buku-bukunya yang dibantu oleh Hyun Gi untuk menebus kesalahannya tadi. Ia akui dirinya memang keterlaluan, tapi itu menyenangkan.

Mereka berjalan beriringan menuju pintu, hingga—

BRUGH

Mereka saling tatap. Bayangkan saja kini mereka sedang berdempetan di tengah akses jalan keluar kelas karena berjalan secara bersamaan membuat keduanya tersangkut. Pintu itu hanya bisa dilewati oleh satu orang saja, tetapi mereka memaksa melewatinya bersamaan.

“Aku duluan. Menyingkirlah.” Ujar Hyun Gi datar. Jong Soo menatap Hyun Gi tajam. Ia berdecih.

“Aku duluan.” Katanya tak mau kalah.

Akhirnya keduanya mundur secara bersamaan. Berhenti sejenak, lalu kembali berjalan dan—

BRUGH

Lagi-lagi mereka tersangkut karena mencoba keluar secara bersamaan. Mereka berdua sama-sama tidak mau mengalah.

“Ya, Lee Jong Soo! Menyingkirlah!” Hyun Gi mulai kesal. Apa Jong Soo sedang mengajaknya bermain sekarang?

Jong Soo mendesah. Akhirnya ia yang mengalah. Jong Soo mundur beberapa langkah, memberikan akses untuk Hyun Gi agar keluar duluan. Keduanya berjalan beriringan menuju gerbang sekolah.

“Aku tidak akan mengizinkanmu bertemu Jong Ae besok.” Ujar Jong Soo tiba-tiba. Nadanya terkesan mengancam. Hyun Gi cepat menoleh ke arah Jong Soo.

“Wae?”

Jong Soo hanya diam. Melirik sekilas pada Hyun Gi yang kini memasang tampang ingin marah.

“Aku akan menculik Jong Ae kalau begitu.” Hyun Gi memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Jong Soo hanya meliriknya malas.

“Izinkan aku bertemu dengannya besok atau aku akan menculiknya.” Jong Soo tahu Hyun Gi hanya bercanda. Jong soo hanya menanggapinya dengan gumaman-gumaman tidak jelas. Dia sedang malas meladeni Hyun Gi.

“Aku duluan.” Jong Soo berjalan menjauhi Hyun Gi yang sedang menunggu jemputannya di depan gerbang sekolah. Hyun Gi yang melihat itu hanya menggeram kesal. Jong Soo memang menyebalkan.

“Ya!” Teriaknya keras, tapi sama sekali tidak digubris oleh Jong Soo. “Aish! Dasar sok tampan!”

**********

Hyun Gi menekan-nekan tombol PSP nya dengan tak sabaran. Sesekali tubuhnya bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti euforia permainan yang sedang ia mainkan. Tak berapa lama kemudian, Suzy masuk dan mendekat ke arah tempat tidurnya. Suzy selalu saja memasuki kamarnya dengan seenak jidatnya tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Suzy juga melarang Hyun Gi mengunci kamarnya dengan alasan agar dia bisa setiap saat makuk ke kamarnya.

“Hyun Gi-ya~” Suzy mendaratkan pantatnya tepat disebelah Hyun Gi.

“Hm.” Balas Hyun Gi singkat. Ia hampir saja kalah melawan musuh—di PSP nya saat Suzy mulai memeluk tubuhnya. “Ah, waeyo, eomma?” tanyanya tergesa-gesa. Dan kata ‘GAME OVER’ tertera di PSP nya. Hyun Gi mendengus kesal.

“Myungsoo belum pulang.” Ujar Suzy dengan nada manja. Hyun Gi memutar bola matanya malas. “Apa dia berselingkuh di belakangku?”

“Aku akan membantu eomma membunuh appa kalau itu sampai terjadi.” Suzy tersenyum lebar. Ia mengacak rambut Hyun Gi gemas.

Suara bel apartemen mereka terdengar. Hyun Gi bangkit dan berjalan keluar kamar untuk membuka pintu. Suzy mengekori dari belakang.

“Hyung!” Hyun Gi membungkuk sopan untuk menyapa Jongin yang berdiri di ambang pintu. Jongin tersenyum lebar sambil mengacak rambut Hyun Gi.

“Masuklah, Jongin.” Suzy mempersilahkan.

“Aku membawa banyak makanan. Ayo kita makan bersama.” Jongin menenteng beberapa kantung makanan dan meletakkannya di atas meja makan. “Myungsoo hyung belum pulang?” tanyanya sambil membuka beberapa bungkusan.

“Dia akan lembur sepertinya.” Suzy menyiapkan minuman untuk mereka bertiga.

“Woah~ kelihatannya enak sekali~” Hyun Gi mencomot salah satu daging yang menggiurkan dengan sumpit. Ia makan dengan lahap. “Hyung, gomawoyo.”

“Aku akan sering-sering membawanya kalau kau yang minta.” Jongin mulai melahap makanannya.

“Suzy-ya, aku permisi ke toilet sebentar.”

Suzy dan Hyun Gi masih melahap makanan mereka sampai sebuah suara benda terjatuh terdengar.

PRANGG

Suzy terdiam sejenak, sama persis seperti Hyun Gi. Ia berlari ke arah sumber suara dan melotot tak percaya saat melihat benda kesayangannya kini sudah berubah menjadi kepingan-kepingan tak berguna. Astaga, itu guci langka nan unik yang ia beli dengan harga mahal di Jepang. Dan Jongin menghancurkannya?

“Ya!” Suzy menghampiri Jongin yang terlihat ketakutan.

“Aku tidak sengaja. Aku hampir terpeleset tadi.” Jongin mencoba membela diri.

SRETT

Suzy menarik kerah baju Jongin.

“Kau tidak tahu betapa sulitnya mendapatkan benda itu?”

BUGH

“AAAA.” Hyun Gi berteriak. Eommanya mengamuk lagi. Satu pukulan mendarat di wajah tampan Jongin dengan sempurna.

“Maafkan aku. Aku akan segera menggantinya.”

“Eomma! Sudah hentikan. Kenapa berlebihan sekali?”

“TUTUP MULUTMU!” Hyun Gi menunduk. Apa eommanya sebegitu marahnya? Bagaimana kalau Jongin tidak mau datang dan membawakan makanan yang banyak lagi?

“Ada apa ini?” Sebuah suara menginterupsi keributan itu. Ternyata Myungsoo sudah pulang. “Apa yang kau lakukan? Lepaskan Jongin.” Ujar Myungsoo yang langsung dilaksanakan oleh Suzy. Sebuah tatapan tajam ditujukan Suzy secara gratis ke arah Jongin.

“Maafkan aku.” Jongin memajukan bibirnya.

“Myungsoo-ya, barang kesayanganku dihancurkan oleh Jongin.” Adu Suzy pada Myungsoo. Mereka berjalan untuk kembali ke meja makan. Hyun Gi sudah kembali makan dengan tenang, melupakan keributan tadi begitu saja.

“Kita akan membelinya yang baru.” Balas Myungsoo tenang. Ia meneguk habis air mineral yang ada di tangannya.

“Tapi guci itu sangat sulit untuk didapatkan. Harganya juga sangat mahal.” Tak ada yang membalas perkataan Suzy. Semuanya larut dengan makanan mereka. Bahkan Jongin tidak mau mencari ribut lagi dengan Suzy. Pipinya sudah membiru akibat pukulan Suzy tadi.

“Myungsoo-ya~” Suzy memulai aksinya. Perasaan Hyun Gi mulai tidak enak.

“Myungsoo-ya~”

“Hm.” Myungsoo hanya bergumam membalasnya.

“Myungs—umph!” Suzy membelalakkan matanya. Apa-apaan ini? Myungsoo menciumnya di depan Hyun Gi dan Jongin? Ini memalukan sekali!

“Aku sudah selesai.” Ujar Hyun Gi ketus. Ia bangkit berdiri dan meninggalkan meja makan. Orang tuanya itu suka sekali mengumbar-umbar kemesraan mereka. Membuat nafsu makannya hilang saja.

Jongin hanya bergerak kikuk. “Bisa kalian pindah ke kamar saja?” Katanya hati-hati.

Akhirnya Myungsoo melepaskan pagutan bibir mereka.

“Kalau kau masih berbicara terus, aku akan menyumpal bibirmu lagi.” Wajah Suzy memerah. Jongin sudah menganga.

“Aish! Sebaiknya kalian pindah saja ke kamar. Nafsu makanku langsung hilang melihat kalian berciuman disini.” Jongin berdecak kesal. Ia meneguk air minumnya dengan tak sabaran.

“Baiklah.” Myungsoo tersenyum jahil. Ia menatap Suzy dengan tatapan menggoda. “Jadi, kau siap untuk tidak bisa berjalan besok pagi?”

BUGH

Suzy mendaratkan tinju andalannya ke wajah Myungsoo.

“Dasar mesum!”

-END-

 

 

Note: Annyeonggggg~ I’m back! Ini sequel 5 dan bakalan jadi sequel terakhir. Dan maaf ini pendek banget >.< Tapi, setelah ini aku akan kasih teaser untuk project tahun 2016. Yap, Abnormal Parents Series akan segera dirilis tahun depan dan akan berchapter. Suzy hamil, Hyun Gi punya adik dan ya sesuai sama permintaan para readers tercinta~^^ Baiklah, komen yang sebanyak-banyaknya yaa~ aku masih berharap komennya bisa tembus sampe 100 kkkkkk~ Makasih yang setia menunggu dan berkenan membacanya. Yang mau minta password atau mau temenan sama aku, bisa hubungin aku di sini ya (email: syahrenilubis44@gmail.com, twitter: @reniilubis, line: reniilubis) Oke, bye~ See you next year~ SARANGHAEYOOO~^^

76 responses to “[Freelance/Oneshoot] Abnormal Parents Sequel 5

  1. Awal2nya romantis banget, dansa bareng eh ujung2nya berantem lgi-_-
    emg keluarga ini penuh dgn warna warni wkwkwk
    yaampun hyun gi keterlaluan banget, jong soo sampe jatuh gitu:|
    Aigoo myung apa yg kau lakukan sma suzy sampe nggk bisa jln gitu^^
    Jongin yg sabar ya wkwkwk

  2. makin lama myungsoo makin mesum deh kayaknya… mesra2anya nggak liat2 tempat lagi.. kan kasian sama jong in yg ngeliat langsung kemesraan mereka…
    apalagi hyun gi.. tu anak pasti pikirannya ternodai deh sama perbuatan myungzy..
    walaupun pemikiran hyun gi udah dewasa tapi dia juga masih anak2..

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s