[Sadness on Monday] Love Will Set You Free

8_1435822730

Little Thief proudly present  

{Mark Tuan and Bae Suzy}     oneshot (3k+ words)

Angst, School-Life // PG

5th story (Final) of Sadness on Monday.

Ada berbagai hal yang tak dipahami Mark dalam hidupnya. Seperti ketika dia menatap rumah berlantai satu, dengan dinding biru yang sudah kusam, dengan tubuh membungkuk dan tatapan nanar. Kenapa harus dia? pikirnya pilu. Kenapa bukan yang lain? Kenapa bukan…aku? Aku mau menggantikan posisinya, karena aku cukup bodoh.

           Dengan tubuh limbung, dia berjalan agak membungkuk. Geriknya hari ini persis seperti orang yang sudah kehilangan jiwanya. Tubuhnya hanyalah hiasan tanpa arti. Mark memasuki rumahnya sendiri yang berada tepat di sebelah rumah biru kusam. Ketika mencapai ruang keluarga, dia mengempaskan tubuhnya ke sofa.

Mark bersandar pada punggung kursi dengan harapan itu dapat meredakan sakit dan beban di hatinya, namun nyatanya tidak. Dia malah tambah sakit lagi, seolah punggung kursinya ditusuki duri, dan bebannya ditambahkan dua kali lipat.

Bagaimana bisa juga, dia akan merasa lega kalau bersandar? Bagaimana bisa dia akan lega kalau mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskannya? Rasanya malah paru-parunya yang terbakar. Tapi ini sebanding, pikirnya pedih. Aku tak berhak atas hal yang indah.

Barangkali benda kotak kaca itu dapat meredakan sakit di hati dan bebannya.

Maka Mark berusia delapan belas tahun duduk ringkih, meringkuk di kursinya seperti bayi dalam rahim. Tangannya menggenggam erat sebuah bingkai, dan tidak ingin melepaskannya.

***

Dalam mimpinya, semuanya berkelanjutan.

Ada seorang gadis di kelasnya, yang seusia dengannya. Gadis itu cantik sekali, matanya bundar, surainya hitam panjang, dan tempat duduknya beberapa kursi di sisi sebelah kanan Mark. Namun dia tahu sejak awal gadis itu tidak disenangi—kecantikan bukan kriteria cukup agar dia dianggap menyenangkan.

“Mark, kumohon,” pinta Ibunya pada beberapa hari pertamanya di sekolah saat ia kelas sepuluh. “Aku sudah dengar tentang Suji dari Ibunya. Kau melihat dia ditindas teman-temannya, benar?”

Dia memandang kalut ke arah Ibunya. “Benar. Aku melihatnya.”

“Kau tidak berusaha mencegat orang-orang itu?”

“Tidak.” Mark menggeleng.

“Mark, dia teman masa kecilmu. Kalian tetangga. Bagaimana mungkin kau biarkan dia begitu? Dan juga, aku dan ibunya sudah bersahabat saat masih kelas dua sekolah dasar. Anaknya akan jadi urusanku juga. Tolong jaga Suji dengan benar.”

Esok paginya, Mark berangkat sekolah. Dia berpapasan dengan Suji, dan meliriknya barang beberapa kali. Kini, dia agak terkejut kala Ibunya bilang dia ditindas. Gadis ini jelas tak punya masalah. Dia cantik, semua orang suka senyumnya. Dia menyapa Mark ketika pandangannya bertemu, membuat Mark berpikir gadis ini pasti baik juga.

Namun dia bersikap tidak acuh. Segala hal tentang kenangan masa kecilnya bersama Suji sudah habis. Dia sering membaca cerita sepasang sahabat laki-laki, perempuan, berteman dari kecil, dan kemudian jatuh cinta. Mark tidak seperti itu. Walaupun dulu dia selalu bermain sepeda bersama gadis itu sampai sore, atau bermain air kolam dan bubur kertas, Mark beranggapan itu cuma kenangan kosong.

Saat dia sedang duduk-duduk, seluruh isi kelas ramai. Kuping Mark dengan tajam mendengarkan, dia tidak berminat menggosip. Menguping barangkali lebih baik. Mereka seru sekali membicarakan sesuatu, antusiasme tampak begitu tinggi di dalam ruangan kelas.

“Iya, aku melihatnya…”

“Ditampar begitu saja…”

“Rambutnya diacak-acak…”

“Dilempari telur, tepung, seperti mau dibuat kue saja…”

“Mengerikan!”

“Semuanya hanya menonton! Aku ingin membelanya…”

“Kenapa dengannya?”

“Katanya dia kena bully begitu karena terlalu cantik…makanya senior iri padanya.”

“Gila! Mana ada orang cantik ditindas…”

“Kasihan sekali, ya, si Bae Suji itu?”

Kepala Mark terdongak tegak. Buru-buru ia melempar pandangan ke bangku Suji. Benar, bangku gadis itu sudah kosong. Beberapa buku tergeletak di mejanya, seolah jadi monumen kenangan terakhir sebelum acara penindasan entah di mana itu. Mungkin anak itu ditindas di toilet, setelah buang air tadi.

Napas Mark memburu. Dia menahan keinginan untuk menuju meja itu, membereskan buku di meja Suji, dan berjalan ke arah tempat kejadian perkara. Maju membelanya dengan gagah sebagai pria.

Tolong jaga Suji dengan benar, bisik Ibunya di kepala.

Mark memejamkan mata. Dia berusaha membayangkan hal buruk tentang Suji di kepalanya, entah kenapa. Ah, ya, dia ingat. Suji pernah membuat kepalanya berdarah karena salah sasaran lempar batu saat umurnya sembilan tahun. Dia hendak melemparnya seekor anjing, tapi batu itu menyerempet kepala Mark.

Tolong jaga Suji dengan benar, bisik Ibunya lagi. Bersamaan dengan itu, dia justru teringat saat Suji menyelamatkan telapak kakinya dari sebuah paku ban yang ada di jalan, saat umur mereka enam tahun.

Oke, baiklah.

Mark bangkit berdiri, melangkah terburu-buru. Pasti tidak sulit menemukan tempat kejadian. Cari saja tempat yang sedang dikerumuni. Dugaannya benar. Tempat kamar mandi sekarang sudah penuh oleh orang-orang yang seperti menonton acara sirkus.

Dengan gerakan kilat Mark berlari menuju kerumunan itu, menerobos hingga ke depan. Dia bisa melihat ring perkelahian sekarang. Namun betapa kecewanya dia, saat melihat Suji sudah diselamatkan salah satu guru. Keadaannya luar biasa kacau.

Seragamnya basah kuyup, kotor, wajahnya dilumuri bahan-bahan yang biasa dibeli Ibu Mark bila dia hendak membuat kue. Juga ada beberapa bercak lumpur dan tanah. Suji tidak menangis, walaupun kakinya bergetar saat berdiri saking merananya. Mark menatapnya selagi dia dipapah, dan melirik di sudut kamar mandi. Tiga orang cewek yang tubuhnya lebih besar dari Suji, wajah mereka seperti tampang orang tersudut dan tertangkap basah, dan tangan mereka dipenuhi tepung dan tanah.

Lidah Mark kelu. Dia mengikuti Suji dengan guru itu dan berbisik lirih sekali. “Suj?” sapanya untuk pertama kali setelah nyaris bertahun-tahun. Namun gadis itu tampak trauma, dia tidak menjawab.

Saat pulang, Mark kena luapan emosi Ibunya yang sangat luar biasa, membuat Mark terkejut Ibunya bisa berbuat begitu. Beliau benar. Urusan Suji juga akan jadi urusannya. Ketika pulang, karena merasa tindakan Mark menjijikan, dia marah luar biasa. Memukulinya, menamparnya, bahkan nyaris melempar vas bunga kepadanya. Bilang dia sungguh pengecut, tidak mau melindungi gadis itu, padahal sudah diperintahkan. Tapi Mark tidak membalas, dia memang sudah menduga hal seperti ini akan terjadi.

Esoknya, selama tiga hari, bangku Suji kosong.

***

Mark terbangun dengan mimpi yang sangat buruk. Dia menyadari peluhnya berkeringat. Menghela napas. Setelah tiga hari ini, keadaannya memang selalu begini selepas dia tidur.

Dengan limbung, dia berjalan menuju kamar mandi dan mencuci muka. Berusaha menyegarkan pikiran. Air membuatnya merasa lebih baik. Lalu dia berjalan ke dapur, hendak buat makanan. Sepertinya dia belum makan sejak kemarin malam, dan jam makan siang sudah berakhir sejak tadi. Namun niatnya urung saat melihat Ibunya duduk di meja ruang makan, tatapannya kosong. Dia mengaduk-aduk cangkir tehnya dengan sendok, tidak sadar bahwa logam itu terbalik—gagangnya yang dicelupkan ke dalam.

Mark mendekati Ibunya dan membetulkan posisi sendoknya, lalu mengaduknya sendiri. Dia tersenyum simpul, agak tersiksa. Mark mencicipi satu sendok teh, dan merasa teh itu sangat kemanisan. Mungkin Ibunya setengah sadar saat menambahkan gula.

Dia duduk di sebelah Ibunya, lalu mulai menyuapkan satu demi satu sendok teh ke mulut Ibunya. Itu yang dia lakukan bila beliau merajuk. Menyuapinya.

“Ibu jangan sedih begitu,” kata Mark, memandang cairan cokelat pekat yang ada di hadapannya. “Ibu tidak lebih berdosa daripada aku.”

“Urusan Suji juga urusanku. Kalian kuanggap lahir dari rahim yang sama denganku.”

Mata Mark berkaca-kaca. “Ini semua salahku.”

“Bukan salahmu,” kata Ibunya, meskipun suaranya tidak meyakinkan. “Aku juga akan jadi kau kalau begitu. Tindakan itu sangat keterlaluan. Aku sudah dengar laporan banyak yang mengadukan masalah Suji pada pihak sekolah, tapi yang menindasnya terus berdatangan. Penindasan buat Suji seperti sebuah tradisi baru.”

“A-aku tidak membelanya, padahal harusnya aku bisa,” kata Mark, menyuapi Ibunya satu sendok teh lagi. Namun walaupun teh itu masuk ke mulut beliau, rupanya sang ibu tidak menelannya dan membiarkan teh mengalir dari dagu, dan menumpahi bajunya.

Ibu Mark mulai terisak. “Kau lihat keadaan terakhirnya? Dia agak membiru saking parah demamnya.”

Mark terenyak, tidak sanggup lagi memegang cangkir teh. Dia takut cangkir itu jatuh dari tangannya, karena tangannya sekarang bergetar sangat hebat. Matanya berair. Dia beringsut memeluk Ibunya, yang kemudian terisak hebat, seolah baru saja ditinggal sesuatu yang sangat berarti.

“Aku ada di sana,” Mark memejamkan mata ketika ingatan itu mengalir di benaknya. “Aku juga ada saat dia sudah kritis, aku menolongnya saat masa kritis itu. Tapi tololnya aku, Bu, karena pertolonganku harusnya sudah diberikan jauh-jauh hari. Saat itu sudahlah tidak berguna lagi.”

Ibu memeluk kepala Mark, merasakan kepedihan yang sama. Dia sempat melihat Mark menggenggam bingkai foto masa kecilnya bersama Suji. Gadis itu terlihat begitu ceria…

***

Hari itu hujan. Mark menatap cemas ke arah jalanan dari pagar rumahnya yang tinggi. Dia terus menerus berjingkat demi melihat orang yang dicarinya ada. Tidak ada. Dan, hujan deras sekali, sudah seperti badai.

Maka tanpa bisa ditahan, dia keluar dari rumahnya. Dengan diguyur hujan, dia memasuki rumah keluarga Bae yang berada di sebelah rumahnya. Nyonya Bae, Ibu Suji, sekaligus sahabat Ibu Mark, tampak cemas. Dia menunggu Suji di ruang tamu, tubuhnya gemetar saking paniknya.

“Apa dia sudah pulang?” tanya Nyonya Bae, penuh harap.

“Belum,” kata Mark. Perasaan bersalah menderanya. “Mari kita tunggu saja Suji.”

Nyonya Bae mengangguk. Mark duduk di sebelahnya, mengusap punggung wanita paruh baya yang menurunkan kecantikan pada anaknya itu. Berusaha menenangakan. Namun wajah Nyonya Bae malah pucat pasi.

“Aku menemukan sesuatu di kamarnya,” kata Nyonya Bae, dengan suara agak berjengit dan bergidik. “Sangat…mengerikan.”

“Apa?”

Namun, rupanya, tidak sanggup bicara, jari Nyonya Bae yang bergetar menunjuk ke sesuatu di atas meja ruang tamu. Beberapa tumpukan kardus berwarna merah. Hati Mark mencelos. Diambilnya tumpukan itu, dan napasnya tertahan.

Itu ratusan surat teror yang pasti Suji ambil dari lokernya. Banyak sekali, maka Mark tidak heran bila surat itu bisa ketahuan dengan cepat. Tumpukan itu berisi banyak sekali hinaan yang menyakitkan—semuanya sama, mereka menginginkan Suji jadi buruk rupa.

Dan tepat saat itu, pintu diketuk dengan lemah. Mark terlonjak, namun jantungnya juga hendak meloncat keluar. Dia lebih cepat dari Nyonya Bae, langsung melesat secepat cahaya menuju pintu. Mark membuka pintu dan tampaklah Suji berdiri. Dia sudah seputih kertas, basah kuyup dari atas sampai bawah, bahkan air hujan pun membuat seragamnya agak terawang. Mark mengabaikan hal ini, karena Suji berkata lemah, “Hai. Aku pulang.”

“Ha—“

Namun sebelum sempat menyelesaikan balasan sapaannya, Suji sudah limbung dan terkulai pingsan. Dia akan terjatuh ke lantai kalau Mark tidak menangkapnya ke pelukannya dengan sigap. Nyonya Bae menjerit, memanggil Ibu Mark. Dia membawa Suji ke kamarnya, mengganti pakaiannya, dan memanggil tenaga medis.

Mark merasa tidak berhak melakukan apapun, maka dia hanya menunggu di ruang tamu. Dia sudah tahu segala hal itu. Tentang Suji. Tentang kenapa dia pulang dua jam lebih terlambat daripada dirinya, kenapa dia pulang saat hujan deras, kenapa dia pulang dengan keadaan seputih kertas.

“Aku tahu, Bu,” bisik Mark lirih pada Ibunya, yang kini menggenggam tangannya dan duduk di sebelahnya di sofa.

Ibunya menoleh. “Tahu apa?”

“Kenapa…Suji jadi begitu,” ucap Mark setengah hati. “Ada komplotan di sekolah, mereka berduabelas orang, laki-laki dan perempuan, dan sangat membenci Suji demi seluruh alam semesta yang ada. Aku…aku…a-aku mendengar mereka berencana menaruhnya di lapangan di hujan badai seperti ini, sampai dia sakit dan lemas,” Mark melihat ekspresi Ibunya, dan buru-buru menambahkan, “tapi Ibu jangan pukuli aku. Aku sudah berusaha mencoba.”

Dengan sangat perlahan, dia menyingkap sedikit kausnya dan memperlihatkan beberapa luka memar yang hitam-ungu menyeramkan di perutnya yang umurnya baru beberapa jam. Ekspresi sang Ibu melunak, dan menjadi luar biasa khawatir. Tangannya kini bergerak, dia hendak menyentuh memar itu, namun Mark berteriak nyaring sebelum dia bisa melakukannya.

“Aku tidak apa-apa!” tangkasnya. “Ini bukan masalah besar bagiku. Aku tidak apa-apa, sungguh, ini tidak membuatku sakit. Kita harusnya mencemaskan Suji sekarang. Dia lemah fisik, aku tahu itu. Aku tidak apa-apa.”

“Lalu…?” tanya Ibunya lagi. “Setelah kau dipukuli…?”

Mark menghela napas. “Aku tidak berani lagi karena mereka sepertinya hendak memukuliku sampai mati. Beberapa anak maju untuk membela Suji, mereka dapat perlakuan yang sama dari anak laki-laki itu. Suji juga berteriak agar tidak usah mencemaskan dirinya. Kami—kami melihat dia dibawa ke halaman belakang sekolah, aku bahkan tak tahu apa yang akan terjadi padanya.”

“Lalu…” Mark menyeka airmata dengan punggung tangannya. “Dia datang padaku. Langsung pingsan. Aku bahkan tidak bisa berbuat apa-apa.”

“Kau sudah lakukan hal baik dengan tidak menindas siapapun, apalagi perempuan, my son. Apalagi membelanya dan rela kena pukulan. Aku bangga padamu,” kata Ibunya dengan senyum menenangkan. Memeluk Mark erat.

Malam itu, Mark izin bermalam di rumah keluarga Bae untuk menjaga Suji di kamarnya. Dia bersumpah tidak akan melakukan apapun selain duduk di kursi sebelah tempat tidurnya. Wajah Suji pucat pasi dalam cahaya lampu tidur yang kekuningan, dan Mark merasa seperti sudah membunuh seseorang yang penting.

Ketika tangannya bersentuhan dengan lengan Suji, dia berjengit. Tubuh kecil itu sekarang panas sekali.

“Aku minta maaf,” gumam Mark, kini sepenuhnya merasa bersalah setelah bertahun-tahun pemahaman itu tidak datang. “Harusnya aku melindungimu bahkan sejak hari pertama itu…kupikir kau hanya masa laluku yang sudah pergi…aku mempertahankan gengsi dan egoku…”

Namun Suji jelas tidak mendengarkan, dia tertidur dengan mata terkatup rapat. “Kau tak perlu begini karena aku,” gumamnya lagi, menyeka airmata sekali lagi dengan punggung tangan. “Aku benar-benar minta maaf.”

“Ya.” Tiba-tiba, suara itu membalasnya.

Mark nyaris terperanjat, namun dia melihat mata Suji terbuka dengan berat. Entah bagaimana dia bisa terbangun. Bola matanya berputar-putar tidak searah, membuat Mark jadi sangat khawatir. “Kau sudah mau menyelamatkanku, tadi, kan?” tanya Suji dengan suara yang sangat lirih, Mark nyaris tidak mendengarnya.

“Ya, tapi anak-anak itu, mereka keterlaluan…”

“Aku sudah tiga tahun seperti itu dengan mereka,” Suji berkata dengan nada sedikit meracau. “Tak perlu dikhawatirkan, kan? Aku baik-baik saja.”

“Tapi—“

“Sungguh, setidaknya dengan peristiwa itu, kau bisa mengenaliku lagi,” kata Suji, kini senyum terpulas di wajah pasinya. “Kau bisa duduk seperti ini di sebelahku, kan?”

Mark menangis, tidak merasa malu Suji melihatnya. Untuk pertama kali, dia merasa ingin melindungi gadis itu, gadis yang sudah dipercayakan sang Ibu kepadanya. Dia menggenggam tangan Suji dan mengecup punggung tangannya, lalu menangis lagi.

“Aku bersumpah akan jadi pelindungmu, selepas kau sembuh. Tak akan ada yang bisa mengganggumu.”

Namun gadis itu bergeming mendengar perkaaannya. “Ya. Tapi aku mau tidur,” kata Suji, sangat parau. “Nyanyikan aku sesuatu. Satu bait saja.”

Mark mengembuskan napas, dan menyanyikan satu bait lagu pertama yang muncul di kepalanya.

If you’re ever feeling lonely
If you’re ever feeling down
You should know you’re not the only one ‘cause I feel it with you now
When the world is on your shoulders and you’re falling to your knees
Oh please
You know love will set you free

            Mark bernyanyi seakan dia sedang bersumpah. Dia bersumpah akan menemani Suji, berada di sisi gadis itu, melindunginya, ketika dia sudah sembuh. Segala beban Suji malam itu menjadi miliknya juga. Dia menyanyikannya dengan hati tersayat, dan menangis lagi.

“Suaramu bagus sekali,” kata Suji, sedikit tersengal. “Cukup merdu.”

Mark merasa senang dipuji begitu. Dia bersumpah dengan sepenuh hatinya. Namun dia tidak menyadari juga bahwa bibir Suji agak membiru karena demam itu perlahan menggerogoti tubuhnya.

Esok paginya, Mark terbangun dengan kepalanya terkulai di sebelah Suji, tangan terletak di atas selimutnya. Dia mengerjapkan mata dengan kantuk, dan tersenyum melihat Suji tertidur dengan pulas di tempat tidurnya.

Mark beranjak keluar kamar, kembali ke rumahnya untuk sarapan. Dia bolos sekolah demi mengetahui kabar perkembangan Suji. Lagipula, dia sudah muak dengan sekolah. Mark hendak kembali saat selesai sarapan, namun baik Ibu Suji maupun Ibu Mark melarangnya. Suji pasti butuh istirahat dan tak ingin diganggu siapapun sekarang.

Saat itu jam sarapan sudah selesai, dan Suji belum juga bangun. Mark mulai cemas. Dia memutuskan menunggu kabar dengan membaca kumpulan novel bahasa Inggrisnya, tapi perhatiannya tidak fokus. Saat dia makan siang dengan setengah hati, dia hendak membawakan sepiring untuk Suji, namun ibunya bilang dia belum juga bangun.

Maka sore tiba ketika sang dokter datang ke rumah untuk memeriksa demam kronisnya. Mark sedang tertidur dengan mulut terbuka, tangannya memegang novel History of the Rain milik Nial Williams ketika Ibunya menjerit nyaring dan dia terisak, suaranya seperti terputus-putus.

Mark terbangun dengan sangat kaget, sampai novel karya Williams itu terlempar ke dinding dan terpental. Dia mendekati Ibunya yang terduduk lemas di lantai teras rumahnya. “Ada apa, Bu?” tanyanya cemas.

Ibunya menggelengkan, menangis lagi. Mark susah payah membantunya berdiri. Namun dia melepaskan Ibunya lagi ketika wanita itu berbisik lirih, “Suji…”

Mark dengan secepat kilat berlari ke rumah keluarga Bae. Rumah itu kini ramai oleh tenaga medis. Hati Mark mencelos, serasa ada yang membuat sebuah lubang dalam di perut dan hatinya. Tubuhnya bergejolak tak enak. Dia menghampiri Nyonya dan Tuan Bae yang duduk di sofa, dan bertanya. “Ada apa?”

Namun orangtua Suji itu hanya menggeleng, rupanya tak sanggup mengatakan apa yang sedang terjadi. Lubang di hati Mark semakin dalam. Dia berlari ke ruang kamar Suji yang tadi pagi masih ditempatinya, namun seorang perawat menghadangnya. “Maaf, Anda tidak bisa.”

“Aku harus tahu apa yang terjadi,” katanya, wajahnya membara panas karena khawatir.

“Ini bukanlah sesuatu yang menyenangkan…”

“Aku harus tau!” dia meraung.

Perawat itu menatapnya dengan iba, dan seolah hendak menyampaikan pesan agar dia kuat di dalamnya. “Dia meninggal…pukul tiga pagi ini. Demam itu merusak seluruh tubuhnya, dan sayangnya tidak ditangani dengan intensif.”

“Tidak…”

Entah darimana, tiba-tiba Ibunya menghambur ke arahnya dan menahannya agar tidak merosot di lantai. “Semua sudah berlalu, Mark…”

“Tidak, aku baru saja bersumpah padanya!” ronta Mark dengan suara melengking.

“Tak ada yang bisa kau lakukan, Sayang, kau hanya bisa menangisinya…”

“Aku menemaninya semalam, aku bersumpah menjaganya! Dia meninggal bahkan saat aku tidur di sebelahnya! Betapa teganya dia!” dia berkata tersengal, suaranya melebihi batas kemampuannya. “Dia berbicara padaku jam satu pagi! Tidak mungkin sekarang! Dia—dia…”

Namun lidahnya kelu, tidak sanggup lagi berkata-kata, karena Ibunya sudah menangis lagi di telinganya, berguncang hebat. “Dia sudah pergi…kau tak bisa menyangkalnya,” bisik Ibunya penuh pengertian.

Airmata menetes dari mata Mark, dia jadi merasa begitu dramatis dan cengeng. Tapi semua ini tidak mungkin benar. “Dia…dia berkata bahwa dia baik-baik saja…” dia berkata amat sangat lirih, sehingga tak yakin sang ibu mendengarnya.

Tapi Mark menghadapi kenyataan pilu bahwa begitu banyak orang yang menyembunyikan rasa sakit di dalam diri mereka. Berkata bahwa semuanya baik-baik saja, padahal tidak. Seperti gadis itu semalam…

Mark ikut menangis dalam rengkuhan Ibunya. Sejak hari itu, hidupnya tidak lagi sama. Gadis itu tidak pernah lagi ada.

Gadis dengan kecantikan yang luar biasa…

***

Pria berusia tiga puluh tahun itu memandang rumah kosong dengan cat biru kusam, yang sudah ditinggalkan pemiliknya lima tahun lalu. Pemiliknya sepasang suami istri. Tadinya mereka punya seorang anak perempuan, namun anak itu sudah meninggal.

Mark berusia tiga puluh menatapnya dengan sendu.

Dia sedang menatap rumah itu lamat-lamat, merasakan Suji yang sedang mengikat tali sepatu di teras, hendak bersiap berangkat sekolah. Namun sebuah suara menginterupsi renungannya.

“Hai,” katanya. “Aku sudah tak lama pulang.”

Mark menoleh ke sumber suara, yang tepat ada di telinga kanannya. Matanya membelalak besar. “Suji?”

Namun yang dilihatnya pasti hanya halusinasi, karena gadis itu berjalan dengan senyum di bibirnya yang tidak biru. “Kau sudah menjagaku dengan benar,” katanya, lalu menatap rumah kecil di hadapannya.

“Ah, ya…benar.” Kata Mark. Apa ini nyata?

“Terimakasih lirik lagumu, itu mengantarkanku ke tidur panjang yang sangat menenangkan,” ujarnya lagi.

“Sungguh?”

“Ya.” Kata Suji. Kini dia beranjak merentangkan lengan, dan memeluk Mark. Dia membalasnya. Mark memejamkan matanya, dia tidak lagi menangis, namun mimpi—atau setengah mimpi ini tetap saja membuat lubangan besar di hatinya.

Perlahan, gadis itu menghilang.

Mark mengembuskan napas. Tubuhnya jadi sedikit lebih bungkuk. Dia menatap ke sekitarnya, pandangannya mulai mengabur, berkaca-kaca. Dia berjalan ke taman yang berjarak beberapa langkah kaki saja dari rumahnya dengan Suji. Menatap hamparan rumput tua yang usianya lebih tua daripada dirinya.

Mark tersenyum luruh memandang taman itu. Dilihatnya, sepasang anak kecil, lelaki dan perempuan, bermain bunga-bunga dan dedaunan. Laki-laki kecil itu mengambil salah satu bunga dandelion, dan berteriak, “Suji, ayo kita tiup bunga ini!”

Yang dipanggil mengangguk semangat, ikut mengambil satu tangkai.

Dalam benak Mark, serbuk bunga dandelion itu berterbangan, disapu angin, dan menari-menari ceria di udara…disambut tawa senang kedua anak kecil di bawah mereka. Seorang laki-laki dengan rambut cokelat, dan,

Seorang gadis dengan kecantikan luar biasa….


HALO SEMUA! Akhirnya, SoM bisa selesai juga. Ini adalah seri paling emosional yang pernah kubuat, karena bikinnya pas malem-malem, setelah Airplane (menurutku). Gimana menurut yang lain?

Dan untuk lirik lagu yang dinyanyikan Mark namanya Love Will Set You Free, dinyanyiin Kodaline, dan jadi judul cerita ini karena menurutku pas banget.

Dan untuk ingetin aja, cerita ini aku nggak bermaksud menambahkan unsur romance. Tapi terserah kalian, kalau memang beranggapan begitu.

Sampai ketemu lagi di seri berikutnya, Love on Friday!😀

19 responses to “[Sadness on Monday] Love Will Set You Free

  1. Nyesekkkk. Huehhh. Aku gak kuatt… *lambaikantangankekamera. Author sukses bikin aku mewek.. Jujur walaupun aku bukan markzy ship tpi aku merasa nyaman bacanya.. Good job👍 ceritanya baguss bgt! Bikin pembaca terhanyut dalam kesedihan.. #halah

  2. Sedih sekali…. baca nya sampe berkaca kaca. Kasus bully dikalangan remaja senior high school memang mengerikan… sampai menghilangkan nyawa korbannya…
    Kasian suzy, karna terlalu cantik dan sempurna, dia dibenci…
    Cerita yang mengharukan…
    Joha…
    Jarang2 ada ff markzy…
    Ditunggu karya selanjutnya…
    Fighting.. ^^

  3. ii yaampuunn ini sedihhh.. kenpa orang orang begitu keji hanya karena dia sangat cantik.
    dan pihak sekolah juga selama tiga tahun ia sekolah dan diperlakukan seperti itu tidak ada tindakannnya.
    mark sudah berusaha tapi kenapa suzy ga pindah sekolah aja.
    dan ia sudah tenang sekarang

  4. omg menyebalkan kenapa suzy harus dibully sampa seperti itu hanya karena dia cantik -.-
    issh kenapa engga ada yang berani???
    menyebalkan poor suzy eon 8((((
    ditunggu ffkamu yg lainnya ya hwaitingg😀

  5. annyeong authorr q reader baru disini salam kenal
    kasian suzy kenapa juga suzy harus d bully cm gara2 dia cantik.
    author jjjangggg
    next ff fighting

  6. Ini galau gakuaaat… udah lama gak baca ff dan begitu baca kebetulan langsung dapet yg beneran bagus! Aku gatau Mark siapa haha tapi suka… bisa dibayangin kok. Suka~

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s