[Freelance] It Must Be Love Chapter 12

Title : It Must Be Love | Author : @reniilubis| Genre :  Drama, Romance | Rating : Teen | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Suzy

Disclaimer: 

All casts are belong to their self and God

Poster by        : rosaliaaocha@ochadreamstories

Happy Reading^^

“Minho-ya, terima kasih sudah mengantarku pulang. Maaf kalau merepotkan.” Suzy tersenyum pada Minho yang sedang membukakan pintu untuknya.

“Tidak masalah. Aku senang melakukannya.” Minho tersenyum, lalu memperhatikan sebuah rumah yang tepat berada dihadapannya.

“Jadi, disini rumahmu?” tanya Minho, lalu merapatkan jaketnya.

“Ne. Kau bisa datang kapanpun kau mau.”

Saat Suzy dan Minho sedang berjalan menuju rumah, tepat saat itu Myungsoo keluar dari dalam rumah sambil membawa plastik besar yang penuh dengan sampah. Minho sangat kaget dengan kehadiran Myungsoo di rumah Suzy, sedangkan Myungsoo juga tak kalah kaget melihat Minho ada di depan rumahnya sekarang.

“Kim Myungsoo??!”

“Choi Minho??!”

*

*

*

Dan disinilah mereka bertiga sekarang. Di ruang tamu rumah Myungsoo dan Suzy. Suzy datang dengan membawa nampan berisi tiga gelas air minum. Suzy merasakan suasana tegang diantara keduanya, saling fokus menatap satu sama lain.

“Jadi Suzy, bisa kau jelaskan mengapa namja ini ada dirumahmu?” ucap Minho memulai percakapan. Ia butuh penjelasan sekarang.

“I-itu…”

“Kami ada hubungan persaudaraan. Jelas?” potong Myungsoo cepat sebelum Suzy sempat melanjutkan perkataannya. Minho yang tatapannya mengarah ke Suzy, kini menatap lurus ke arah Myungsoo yang duduk tepat dihadapannya. Myungsoo merasa kalau Minho pasti tidak akan percaya dengan mudahnya, melihat raut wajah Minho terlihat masih pelum puas akan jawaban Myungsoo tadi.

“Jadi, apa yang kalian lakukan di luaran sana sampai pulang larut begini, hm?” tanya Myungsoo balik mencoba mengintimidasi Minho, namun tatapannya beralih ke arah Suzy, menegaskan kalau pertanyaan itu juga ditujukan untuknya.

“Jadi selama ini Suzy menunggu jemputan pulang hingga larut malam, itu kau?” tanya Minho balik tak mau kalah dari Myungsoo.

Suzy hanya menundukkan kepalanya melihat adegan debat dua namja di depannya ini. Ia sama sekali tidak berniat untuk melerai mereka, apalagi mencoba bersuara. Ia kemudian menatap Myungsoo, lalu bergantian menatap Minho. Suzy menghela nafas. Lelah juga melihat mereka berdua. Tidak ada yang mau mengalah.

“Jadi selama ini Suzy tidak pernah menghubungiku untuk minta jemputan, itu karena kau?”

“Ck. Laki-laki mana yang tega melihat seorang yeoja menunggu jemputan di halte seorang diri hingga malam? Ya, seharusnya kau melakukan apa yang seharusnya kau lakukan. Saudara macam apa kau ini!” Dan perkataan terakhir Minho itu membuat emosi Myungsoo meledak, lalu dengan penuh amarah ia berdiri menghampiri Minho dan menarik kerah kemeja Minho.

Suzy sontak berdiri untuk melerai mereka, tidak menyangka akan begini jadinya.

“Myungsoo-ya, apa yang kau lakukan?” kata Suzy sambil menarik tangan Myungsoo yang siap memukul wajah Minho.

“Jangan pernah mencampuri urusanku!” kata Myungsoo dengan nada penuh emosi, lalu terpaksa melepaskan tangannya dari kerah kemeja Minho karena Suzy mencoba menariknya.

Minho yang sama sekali tidak takut dengan gertakan Myungsoo segera merapikan seragamnya yang sedikit berantakan akibat ulah Myungsoo, lalu tersenyum sinis pada Myungsoo.

“Aku sama sekali tidak mencampuri urusanmu. Aku hanya ingin melindungi Suzy. Itu saja.” Minho berdehem sebentar lalu kembali bersuara.

“Lagi pula kenapa kalian tinggal serumah? Kalian hanya tinggal berdua saja?”

“Ya, kau!”

“Ya, kalian! Bisakah kalian berhenti? Ini sudah malam. Minho-ya, sebaiknya kau pulang saja. Besok aku akan menemuimu lagi.” Minho dan Myungsoo spontan menoleh ke arah Suzy secara bersamaan.

“Jangan pernah kau temui dia lagi.” Kata Myungsoo sambil menunjuk wajah Minho.

“Waeyo?” tanya Suzy.

“Mwo? Kau bilang apa? Apa hakmu melarang Suzy untuk bertemu denganku?” balas Minho tetap tidak mau kalah.

“Minho-ya, sebaiknya kau pulang saja, ne? Terima kasih sudah mengantarku pulang.”

“Baiklah. Kalau ada apa-apa kau hubungi aku, ne?” Minho berjalan menuju pintu sambil menatap Myungsoo dengan tatapan marah.

Myungsoo tampaknya tidak berniat untuk membalas perkataan Minho sama sekali. Ia hanya balas menatap Minho dengan tatapan yang sama, sampai Suzy menutup pintu dan menguncinya.

Suzy sama sekali tidak berani menatap wajah Myungsoo. Ia tahu kalau Myungsoo benar- benar marah saat ini. Ia berjalan menunduk menuju kamarnya, tidak berani mengajak Myungsoo berbicara ataupun hanya sekedar mengucapkan selamat malam seperti yang ia lakukan selama ini. Saat tangan Suzy menyentuh kenop pintu kamarnya, secara tiba-tiba Myungsoo menarik lengannya.

“Suzy-ya, mianhae.”

“Eoh? Kau meminta maaf untuk apa?” balas Suzy tidak mengerti. Ia tidak menyangka Myungsoo akan berkata seperti ini. “Myungsoo-ya, gwaenchana? Apa kau sakit? Wajahmu pucat, Myungsoo-ya.” Seru Suzy panik. Myungsoo tampak benar-benar pucat. Suzy mengangkat tangannya lalu menempelkannya di kening Myungsoo dengan punggung tangannya.

“Myungsoo-ya, badanmu panas sekali. Aku akan menghubungi dokter.” kata Suzy, lalu mengambil ponselnya dari dalam tas. Saat Suzy sedang membuka tasnya, Myungsoo menahannya.

“Aniya. Kau tidak perlu melakukannya. Aku baik-baik saja.”

“Tapi Myungsoo-ya, kau sakit.” Kata Suzy panik. Ia sangat khawatir pada Myungsoo. “Aku akan membawamu ke kamar.” Suzy meraih tangan kanan Myungsoo, meletakkannya di bahunya, lalu membawa Myungsoo ke kamar.

Sesampainya di kamar Myungsoo, Suzy merebahkan Myungsoo di ranjangnya secara perlahan, lalu menyelimuti Myungsoo.

“Myungsoo-ya, apa kau sudah makan?” tanya Suzy sambil meletakkan punggung tangannya di kening Myungsoo.

Myungsoo mengangguk lemah.

“Ya! Bagaimana bisa kau tiba-tiba sakit seperti ini padahal beberapa menit yang lalu kau baru saja adu mulut dengan Minho? Aish!” Suzy berakting seolah-olah sebagai eomma yang cerewet sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Myungsoo hanya tersenyum melihatnya.

“Myungsoo-ya, aku akan mengambil obat, ne?” Myungsoo refleks menahan tangan Suzy sebelum ia sempat beranjak.

“Ani. Jangan pergi.”

“Mwo?” tanya Suzy heran. “Apa maksudmu, Myungsoo-ya?”

“Ku bilang jangan pergi. Tetap disini. Arraseo?”

“Aku hanya mengambil obat. Aku akan segera kembali setelah mengambilnya.” Jawab Suzy sambil menyingkirkan tangan Myungsoo lalu berjalan perlahan.

“Kalau kau pergi aku akan semakin sakit.” Kalimat Myungsoo barusan sukses menghentikan langkah Suzy dan membuatnya mematung hingga beberapa saat. Jantungnya berdegup kencang, dan wajahnya mulai memerah. Suzy menghela nafas sejenak, menguatkan mentalnya untuk melihat Myungsoo dengan keadaan normal. Ia kemudian berbalik dan menghampiri Myungsoo, lalu tersenyum manis seperti biasanya.

“Arraseo, aku tidak akan pergi kemana-mana.” Kata Suzy lembut sambil membenarkan letak selimut Myungsoo.

Myungsoo tersenyum, lalu meraih tangan Suzy dan menggenggamnya erat. Suzy yang tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Myungsoo hanya menatap namja itu dengan tatapan bingung, namun tidak berniat untuk menolak genggaman hangat Myungsoo.

“Suzy-ya, mianhae…” kata Myungsoo pelan. Ia menatap tepat ke manik mata Suzy, membuat Suzy seperti terhipnotis dengan tatapan menusuk Myungsoo.

“M-mwo?” tanyanya gugup, sama sekali tidak mengerti. “Kau sudah mengatakan itu sebelumnya. Sebenarnya ada apa, Myungsoo-ya?”

“Mianhae karena aku selalu menyakitimu. Aku tidak bisa melindungimu. Aku tidak bisa membuatmu bahagia. Aku sama sekali bukan namja yang pantas untukmu.” Myungsoo mengeratkan genggamannya, seolah takut Suzy akan pergi meninggalkannya. Myungsoo tidak bisa lagi menutupi perasaannya yang sebenarnya. Ia sangat menyayangi Suzy bahkan mencintai yeoja itu. Ia mengaku kalah. Suzy berhasil menakhlukkannya. Suzy sukses membuatnya jatuh cinta kepadanya. Suzy sukses membuatnya selalu memikirkannya setiap hari tanpa henti. Suzy sukses membuat jantungnya berdegup kencang setiap kali Suzy menunjukkan senyuman manisnya. Dan Suzy berhasil membuatnya terbakar api cemburu saat ia dekat dengan namja lain, hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

“Myungsoo-ya, apa yang kau katakan?” pertanyaan Suzy sukses membuyarkan lamunan Myungsoo dan membuatnya kembali ke alam sadarnya.

“Suzy, katakan yang sejujurnya padaku. Apa yang kau rasakan selama tinggal bersama denganku?”

“N-ne? Aku baik-baik saja, Myungsoo-ya. Aku senang tinggal bersamamu. Bahkan aku tahu kalau kau sama sekali tidak ingin tinggal bersamaku.” Kata Suzy mencoba menahan air matanya yang memaksa keluar. Ia selalu saja cengeng bila berhadapan dengan Myungsoo. Suzy ingin sekali mengatakan kalau ia menyuJonghyun Myungsoo dari pertama mereka bertemu, namun takut itu akan membuat Myungsoo marah.

“Suzy-ya, kau percaya padaku, kan?”

Suzy mengangguk mantap, lalu menatap Myungsoo yang sedang mencoba untuk duduk.

“Kalau kau percaya padaku, tetap bersamaku apapun yang terjadi. Arraseo?”

Suzy yang sangat terharu dengan setiap kata yang diucapkan Myungsoo otomatis menganggukkan kepalanya. Ia tidak mampu lagi untuk berkata-kata ataupun menggerakkan tubuhnya. Ia terlalu bahagia hingga tidak sadar air matanya menetes terlalu banyak menandakan bahwa ia benar-benar bahagia.

Myungsoo yang merasa ingin menangis juga segera memeluk tubuh Suzy dengan erat. Ia baru tahu kalau mencintai seseorang dengan tulus seperti ini rasanya. Ia bahagia. Sungguh bahagia.

“Myungsoo-ya, badanmu sangat panas. Aku juga bisa merasakannya.” kata Suzy sambil sesenggukan. Ia semakin mengeratkan pelukannya mencoba berbagi rasa sakit dengan Myungsoo.

“Apa kau ingin sakit juga sepertiku, eoh?” seru Myungsoo sambil mengeratkan pelukannya juga. Namun tiba-tiba tersadar lalu melepaskan pelukannya.

“Ya, Suzy! Kau tidak boleh sakit. Biar aku saja yang sakit, arraseo? Kau tidak boleh sakit.”

“Mwo? Aniya, biarkan aku merasakan apa yang kau rasakan juga, Myungsoo-ya~” kata Suzy sambil mencoba meraih tubuh Myungsoo lagi berusaha untuk memeluknya.

“Ya, ya! Apa yang kau lakukan? Ooh~ apa kau ketagihan memelukku, hm?” tanya Myungsoo mencoba menggoda Suzy sambil tersenyum jahil.

“M-mwo? Apa yang kau pikirkan? Ya!” teriak Suzy kesal lalu bangkit dan segera keluar dari kamar Myungsoo. Myungsoo menyebalkan. Padahal itu adalah adegan teromantis yang pernah terjadi dalam hidupnya, tapi Myungsoo merusaknya begitu saja. Bahkan ia belum pernah seromantis ini saat dulu berpacaran dengan Jongin. Ngomong-ngomong tentang Jongin, Suzy sama sekali tidak melihat namja itu lagi semenjak insiden penculikan dirinya. Tapi itu malah lebih baik, kalau bisa ia tidak melihat namja itu lagi selamanya.

Myungsoo yang melihat tingkah menggemaskan Suzy hanya tertawa terbahak saat Suzy sudah menghilang dari hadapannya.

**********

Suzy berjalan di koridor kampus sendirian. Ia baru saja berniat untuk pergi ke kantin, namun langkahnya terhenti saat tidak sengaja matanya melihat Jongin dan Jonghyun sedang berjalan ke arahnya. Suzy dengan cepat segera mencari tempat persembunyian sebelum Jongin ataupun Jonghyun melihatnya. Dengan berlari tergesa-gesa, Suzy melihat kesana-kemari untuk mencari tempat  bersembunyi. Saat ia melihat sebuah ruangan kosong, sepertinya ruang musik, tanpa membuang waktu lagi ia langsung memasuki ruangan itu, menutup pintunya lalu menguncinya. Suzy mengintip dari jendela dan bernafas lega saat Jongin dan Jonghyun tidak terlihat di sekitar sini. Suzy membalikkan badannya lalu terduduk begitu saja dilantai. Ketakutan itu kembali menyergapnya. Ia mulai terisak, tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi kalau Jongin memukan dirinya disini.

Suzy mengangkat kepalanya, lalu mengeluarkan ponselnya saat merasa benda itu bergetar. Ia langsung mengangkat panggilan itu saat ia melihat nama Minho tertera dilayar ponselnya.

“Minho-ya…hiks…tolong aku. Ku mohon.” Isaknya dengan suara bergetar.

“Aku di ruang musik sekarang. Ku mohon cepat tolong aku. Hiks…”

*

“Jadi begitu?” kata Minho sambil memberi tissu lagi pada Suzy yang masih menangis. “Kenapa kau baru mengatakannya sekarang, Suzy-ya?” Minho memegang bahu Suzy, merasa bersalah karena tidak bisa melindunginya.

Minho sudah mendengar semuanya dari Suzy. Tentang masa lalu mereka, tentang Jongin yang masih mengejar-ngejar Suzy, dan tentang Jongin yang menculik Suzy beberapa minggu yang lalu. Ia marah, ia emosi. Ingin sekali rasanya ia menghabisi namja sialan itu, namun Suzy melarangnya. Suzy tidak mau sesuatunya menjadi lebih buruk oleh karena dirinya.

“Suzy-ya, kalau kau bertemu dengan namja itu lagi, berjanji padaku kau akan menghubungiku, arraseo?”

Suzy mengangguk sambil tersenyum. Tangisnya mereda karena Minho sukses membuat perasaannya nyaman saat berada di dekatnya. “Gomawoyo~”

Suasana seketika sepi. Masing-masing larut dengan pikiran mereka masing-masing. Saat ini mereka sedang berada di koridor yang kebetulan sangat sepi, padahal hari masih sore.

Minho menatap Suzy lalu tersenyum.

“Suzy-ya, aku akan mengantarmu pulang.” Katanya lalu mengacak rambut Suzy pelan.

Suzy balas tersenyum menandakan kalau ia sama sekali tidak keberatan dengan tawaran Minho.

“Kajja kita ke kantin. Aku sangat lapar.” mereka berdiri lalu beranjak dari kursi itu dan berjalan menuju kantin.

Suasana kantin pun tidak seramai biasanya, tetapi masih terlihat penuh bila diperhatikan dengan sekilas.

Myungsoo menatap kedatangan Suzy dan Minho dengan tatapan datar, belum terpikir akan melakukan apa. Ia mengernyit heran saat tanpa sengaja ia melihat mata Suzy yang sedikit memerah dan membengkak pertanda ia baru saja menangis. Ia ingin sekali menghampiri mereka berdua dan bertanya apa yang dilakukan namja tinggi itu sehingga membuat Suzy menangis, namun di urungkannya niatnya saat Suzy melihat ke arahnya dan tersenyum. Myungsoo menatapnya masih dengan tatapan datarnya. Ia tahu persis kalau Minho tahu dirinya ada disini dan sedang memperhatikan mereka, tetapi tampaknya ia sengaja berpura-pura tidak menyadarinya. Malas memperhatikan mereka lebih lama lagi, ia kemudian mengajak Sungyeol dan Sungjong untuk masuk ke kelas.

Suzy yang melihat Myungsoo pun sedikit heran, namun akhirnya mengerti bahwa ia pasti marah melihat dirinya kini sedang bersama Minho. Suzy tetap tersenyum kepada Myungsoo, namun Myungsoo tetap menunjukkan ekspresi dinginnya.

“Ya, apa benar kalian saudara?” tanya Minho tiba-tiba sambil menyeruput minumannya.

“Eoh?” respon Suzy kaget. “Kau sudah mendengarnya sendiri dari Myungsoo.”

“Aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu.” Ujar Minho santai lalu memasukkan sesendok penuh nasi ke dalam mulutnya. Ia kemudian menatap Suzy, menunggu gadis itu bersuara.

“Ne. Kami ada hubungan persaudaraan.”

“Tapi kenapa dia ada di rumahmu? Bahkan aku tidak melihat orang tuamu di rumah.” tanya Minho mendesak, ingin tahu yang sebenarnya.

“Dia hanya tinggal sementara karena orang tuaku sedang pergi keluar kota. Jadi dia di suruh untuk menjagaku.” Jawab Suzy lalu memberanikan diri menatap Minho yang sepertinya tidak puas dengan jawabannya. “Aku serius.” Katanya lagi meyakinkan.

“Arraseo…”

*

“Myungsoo-ya, makan malam sudah siap.” Teriak Suzy dari dapur sambil meletakkan sendok di atas meja.

Tak berapa lama kemudian Myungsoo datang lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Suzy.

“Apa Minho yang mengantarmu tadi?” tanya Myungsoo memulai percakapan. Ia makan dengan lahap tanpa melihat ke arah Suzy.

“Ne.” Jawab Suzy singkat. Ia merasa canggung sekarang. Tidak tahu harus berkata apa lagi.

“Apa kau tidak suka kalau pulang bersamaku?” tanya Myungsoo lagi tanpa melihat Suzy. Ia tetap saja menekuni makannya tanpa mengangkat kepalanya.

“Aniya. Bukan begitu, Myungsoo-ya. Hanya saja saat aku menuju halte, Minho selalu saja sudah terlebih dahulu di sana menungguku. Aku merasa tidak enak bila harus menolaknya.” Ujar Suzy menjelaskan. Dia sungguh bingung dengan sikap Myungsoo belakangan ini, dan sama sekali tidak bisa menebak apa yang di pikirkan namja itu.

“Mulai besok kau tunggu aku di taman saja. Tidak perlu menunggu di halte lagi. Arraseo?”

“Mwo? Waeyo, Myungsoo-ya?” tanya Suzy benar-benar bingung.

“Arraseo?” tanya Myungsoo lagi menegaskan. Kali ini ia mengangkat wajahnya untuk melihat Suzy. Memperlihatkan Suzy bahwa ia serius dengan kata-katanya.

Suzy yang selalu merasa terhipnotis dengan tatapan mematikan Myungsoo otomatis menganggukkan kepala pertanda ia mengerti.

“Ne…” jawab Suzy sambil menundukkan wajahnya menahan tangis. Ia benar-benar tidak mengerti dengan sikap Myungsoo belakangan ini. Apalagi semenjak ia dekat dengan Minho. Apa yang salah dengan pertemanannya dengan Minho? Hanya Minho satu-satunya temannya di kampus, tapi bahkan sekarang Myungsoo melarangnya untuk dekat dengan namja itu lagi. Suzy menatap Myungsoo lagi, namun tampaknya Myungsoo tidak menyadari wajah menyedihkan Suzy. Namja itu tetap saja fokus dengan acara makan malamnya.

Setelah acara makan malam mereka selesai, Suzy masuk ke dalam kamarnya dengan keadaan diam. Begitu pula dengan Myungsoo. Suzy merasa bahwa Myungsoo kembali dengan sifat dinginnya seperti dahulu. Sesampainya di kamar, Suzy kembali berpikir. Sedari tadi ia memutar otaknya, namun sama sekali tidak menemukan alasan mengapa Myungsoo bersikap seperti itu. Ia sempat berpikir kalau Myungsoo cemburu dengan kedekatannya dengan Minho, namun Suzy tersadar itu tidak mungkin terjadi mengingat Myungsoo sama sekali tidak menyukainya.

Suzy duduk di tepi ranjangnya, lalu menatap ke luar jendela. Ia kemudian mendongakkan kepalanya ke atas, menikmati indahnya langit malam ini.

“Apa Myungsoo cemburu?” monolognya pada diri sendiri. “Aniyo, itu tidak mungkin. Bahkan Myungsoo tidak manyukaiku. Aish! Apa yang ku pikirkan?” Suzy memukul-mukul kepalanya, merutuki kebodohannya sendiri.

“Myungsoo-ya, kalau saja kau menyukaiku…”

Di tempat lain, tepatnya di kamar Myungsoo, seorang namja tampan sedang duduk di kursi sambil menatap langit. Ia berpikir dan merenungi tentang sikapnya terhadap Suzy. Apa ia terlalu keras pada Suzy? Myungsoo melakukan itu semata-mata hanya untuk melindungi Suzy. Jujur saja, ia sangat cemburu melihat kedekatan Suzy dengan Minho. Bahkan Suzy bisa sedekat itu dengan Minho, tetapi tidak dengan dirinya walaupun mereka tinggal dalam satu rumah. Myungsoo menghela nafas kasar, lalu membuka jendelanya untuk menikmati udara sejuk malam itu. Memandang langit lebih menarik menurutnya dari pada tidur di kasur.

“Suzy-ya, aku menyayangimu…”

*

*

*

Keesokan harinya, Suzy menunggu Myungsoo di taman kampus. Sudah hampir 30 menit lamanya ia menunggu, namun namja itu belum datang juga. Bahkan lagu di playlist ponselnya sama sekali tidak mengurangi rasa bosannya. Suzy kemudian berdiri sambil memperhatikan sekitarnya yang sudah mulai sepi, kemudian matanya melebar saat melihat Jongin sedang berjalan di salah satu koridor dekat taman. Seketika Suzy langsung panik. Secepat mungkin ia segera berlari kencang meninggalkan taman, namun sialnya Jongin melihat dirinya.

“Ya, Suzy!” teriak Jongin yang sangat jelas sekali terdengar oleh Suzy. Jantung Suzy mulai berdegup kencang. Air matanya mulai menetes perlahan. Ia sama sekali tidak menghiraukan panggilan Jongin, terus berlari secepatnya untuk menghindari Jongin sejauh mungkin.

Suzy berbelok ke kanan, lalu bersandar di dinding. Nafasnya tersengal-sengal diakibatkan karena ia berlari kencang diselingi dengan tangisan. Suzy terduduk begitu saja di lantai. Air matanya terus mengalir semakin deras, dan ia semakin merasa takut. Suzy dengan perlahan memberanikan diri untuk mengintip, meyakinkan diri bahwa Jongin sudah tidak mengikuti dirinya lagi. Suzy bisa sedikit bernafas lega saat ia tidak mendengar suara teriakan Jongin lagi. Namun air matanya terus saja mengalir dengan deras. Ia benar-benar takut sekarang. Dengan tergesa-gesa, Suzy mengeluarkan ponselnya mencoba untuk menghubungi Myungsoo, namun air matanya kembali lolos begitu saja dari pelupuk matanya saat bola mata indahnya melihat dengan jelas sepasang kekasih sedang berciuman mesra di salah satu koridor tidak jauh dari tempatnya duduk sekarang. Ia menjatuhkan ponselnya begitu saja.

Bukan karena mesranya mereka berciuman yang membuat Suzy tidak mampu lagi untuk berkata-kata, tetapi ia dengan jelas mengenal siapa namja yang sedang berciuman dengan seorang yeoja itu.

“M-Myungsoo-ya….”

“MPHH!!” Suzy sedikit meronta saat seseorang membekap mulutnya dengan kuat, kemudian menyeretnya menjauh dari tempat itu.

T

B

C

Note: Annyeonggggg~ masih ada yang ingat ff ini ga? Huhuhu pasti udah pada lupa ya sama jalan ceritanya karena ff ini ngaret update selama 2 bulan >< aduhhhh maapkanlah sayaaaaa hehehehe Kalo kalian lupa sama ceritanya, silahkan dibaca dari awal lagi sebagai referensi(?) kkkkkk~ baiklah baiklah, silahkan kasih komentarnya yaaa! Aku harap kalian masih ingat sama ff ini hehe SARANGHAEYOOO~^^

37 responses to “[Freelance] It Must Be Love Chapter 12

  1. Myungsoo minta dijitak yaaaa. Suzy udah nungguin ternyata dia enak-enakkan kisseu. Aiiish Suzy diculik lagi tuh, kzl sama Myungsoo!

  2. ige boya ? myung bilang sayang sma suzy tpi dy ciuman sm cewek lain *aduh itu oasti bereffek ke aku* trus itu yg ngesekep mulutnya suzy sypa ? jong in kah ? aduh thor suka banget pas myung bilang dia tambah sakit klo ditinggal udh ada tanda tanda ni. pokoknya ditunggu updateannya thor fighting.

  3. Omo jangan” suzy ketangkep lagi sama jongin ,jika bener aigoo akankah suzy kembali berhasil kabur dari jongin?
    Dan untuk myungsoo apakah semua yg ia katakan adalah kebohongan,katanya suka dan cinta sama suzy tapi sekarnag apa yg dia lakukan “berciuman” disaat dia sendiri justu menyuruh suzy untuk menunggu di taman dan bahkan suzy telah menuggu selama setengah jam ckckckk
    Atau ciuman itu hanya sekedar salam perpisahan?tapi meskipun begitu kenapa salam perpisahan harus dgn ciuman?dan lagi kata suzy ciuman mereka terlihat sangat mesra jika begitu bukankah berarti myungsoo telah mempermainkan suzy?bisakah myungsooo menjelaskan itu dan jika pun bisa apakah suzy akan mendengerkan penjelasan itu?
    Huft entahlah yg jelas aku merasa kesal saja pada myungsoo.

  4. Ckck geu namja :@ dia melarang suzy dekat dengan minho tpi dia malah berciuman dengan yeoja lain ;> dia harus di beri pelajaran :>

  5. Myungsoo ciuman ma naeun kah? Ihhh.. nappeun…
    Suzy ditangkep lg? Sm jongin?
    Astaga.. ni bener2 mnguras emosi..

    Myung knp gk jujur aja sm suzy. Suzy itu lemot. Hrus dikasih tau bru sadar..

  6. Hdeh ….. Si tukang leh ugha kisseu sama siapa ….
    Heolssssssssss
    1_sama …. Kai juga pernah ciuman ma Kai ……

    Ckckckckkckck

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s